Senin, 15 Maret 2010

Fanfic The Future and the Past 3

-------------------------------------------------------------------------------------------------
THIRD SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Yushin: Uhm Tae Wong, Kim Tae Wong as KNG brother
Kim Seo Hyun : Jung Sung Mo: Kim Sung Mo (as Kim Nam Gil and Uhm Tae Wong father)
Young Mishil: UEE: Kim Yoo Jin (Mishil legal daughter)
Young Bakui: Joo Sang Won as Wolya brother (real name: Seo Sang Won)
Alcheon: Lee Seung Hyo (memakai nama asli di FF)
Kim Chun Chu: Yoo Seung Ho (memakai nama asli di FF)
-------------------------------------------------------------------------------------------------
─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

“Benarkah Kak Yo Won akan membantuku?” Tanya Sang Won sambil berlari kecil menghampiriku. Aku mengangguk dan tersenyum. Ia tertawa lebar sambil mengucapkan terimakasih dengan tulus. “Terimakasih, aku tahu Kak Yo Won pasti bisa memahami kalau pertandingan ini sangat penting artinya bagiku. Dan tanpa memandang kalau yang meminta bantuan Kakak adalah Kak Yoo Jin, aku yakin tanpa dia yang meminta pun, Kak Yo Won akan bisa memahami maksudku…”

“Aku tahu itu,” aku tertawa sambil menenteng buku-buku yang akan kukembalikan ke perpustakaan. “Walau rasanya agak bete karena dia yang minta,” gumamku.

”Aku sudah bilang kalau aku akan minta tolong sendiri pada Kak Yo Won. Tapi, Kak Yoo Jin menawarkan diri dan memaksa. Aku tidak bisa apa-apa...” ia mengangkat bahu lalu buru-buru membantuku membawa buku. ’Biar kubawakan,” katanya sambil memindahkan seluruh beban ke tangannya. ”Sekali lagi terimakasih, Kak Yo Won...” ia pamit pergi setelah kami tiba di perpustakaan.

Sang Won anak yang baik, itulah salah satu penyebab mengapa aku setuju membantu. Kalau sekedar untuk memenuhi kepuasan Yoo Jin, mana mau aku disuruh-suruh begitu saja? Begitu ingat telah melupakan sesuatu, aku buru-buru memanggil Sang Won. ”Wig!!” ujarku berteriak. ’Aku tidak punya wig untuk menutupi rambutku!!”

Sang Won tertawa jenaka lalu menaikkan salah satu tangannya dan mengacungkan jempolnya. ”Beres! Akan kusiapkan!!” serunya sambil berlari ke arah ruangan kelasnya. Nampaknya ia punya urusan lain. Yah, dan hal semacam ini bukan hal yang sulit. Sedikit banyak aku tahu, menjadi lelaki memang tidak mudah. Tapi bukankah, hal tersebut sangat menantang?

”Hai, Yo Won!” Kakak kembarku, Ye Jin menepuk pundakku sambil tersenyum riang. “Kenapa tadi kulihat Sang Won bersamamu?” ia melihat kea rah tempat Sang Won berbelok pergi. “Jangan bilang kau ada hati padanya…”

“Ya ampun, kau ini!!” aku sering sebal karena ia selalu menggodaku untuk hal remeh semacam itu. “Kau sendiri habis darimana? Membantu Kak Tae Wong lagi? Atau membantu OSIS?” tanyaku sambil memandang penampilannya yang selalu terlihat modis.

“Aku baru saja diminta membantu mendata anak-anak baru yang berminat masuk ke klub karate…” ia mengetok-ngetok pundaknya yang pegal. “Cukup banyak juga ya, peminatnya… Mungkin karena pelatihnya tampan kali ya?” ia bertanya sambil tersenyum penuh arti. Aku tertawa menanggapi kalimatnya.

”Jangan bilang kalau kau tertarik pada Kak Tae Wong...” aku tertawa sambil memberikan buku yang kupinjam ke petugas perpustakaan. Ye Jin sudah menjabat sebagai manajer klub karate sejak bulan lalu. Dan tidak ada salahnya, memang. Dia sangat cocok dengan pekerjaan semacam itu. Namun aku seringkali bingung. Aku saja merasa mengurus tugas OSIS repotnya setengah mati, apalagi kalau ditambah dengan menjadi manajer klub seperti Ye Jin.

”Kau akan membaca buku-buku tebal itu hari ini?” Ye Jin memandangi buku yang kupeluk dengan mata membelalak kaget. Ye Jin adalah tipikal gadis yang pandai, namun ia tidak begitu suka membaca buku. Sedikit berbeda denganku, karena aku suka sekali membaca buku. Dan lebih aneh lagi, walaupun kembar, wajah kami sama sekali tidak mirip. Hanya ada satu kemiripan kami. Tanda lahir berbentuk bulan sabit di belakang telinga kami.

”Tentu saja, akhirnya aku bisa juga meminjam buku ini...” seruku sambil tersenyum puas. ”Kemarin ada yang meminjamnya, tidak tahu siapa. Dan oh, ada yang mau kuceritakan padamu. Tapi, nanti saja deh...” semburku.

Ye Jin mengerutkan kening dengan bingung. ”Kau bicara terlalu cepat Yo Won, aku sama sekali tidak paham. Tapi baiklah, ayo kita bicara nanti saja. di rumah. Setelah jam istirahat ini, aku harus kembali ke ruang OSIS...”

Aku mengangguk paham. Tentu saja aku akan ikut rapat itu. Sebagai anak kelas dua, kami akan merekomendasikan beberapa teman kami sekaligus beberapa anak baru untuk menggantikan anggota OSIS yang sudah berhenti masa jabatannya sekaligus yang dinilai tidak layak digunakan karena tidak memberikan kontribusi apapun. Dan seringkali hal ini sangat berat, banyak iri hati dan protes dimana-mana. Dan disanalah kesulitannya. Kuharap ketua OSIS kami yang baru, Kak Lee Seung Hyo bisa mengambil keputusan secara bijaksana.




”Sudah mencatat semuanya, Yo Won?” tanya Kak Seung Hyo sambil menatapku. Aku mengangguk mengiyakan. Kak Seung Hyo cukup berdedikasi sebagai ketua. Dan aku juga puas dengan pemilihan anggota OSIS kali ini. Terlebih dengan pemilihan Kak Sang Wook sebagai ketua seksi olahraga dan adiknya, Sang Won sebagai wakil. Dan lebih puas lagi karena yang ditunjuk sebagai wakil ketua OSIS adalah murid yang meraih peringkat tertinggi dalam tes masuk sekolah ini, Yoo Seung Ho.

”Oke, kalau begitu, kita akhiri rapat hari ini sampai di sini. Harap besok kita semua bisa hadir tepat waktu karena kita akan mulai menyusun agenda kegiatan apa saja yang akan kita selenggarakan selama satu tahun jabatan kita ke depannya...”

Setelah Kak Seung Hyo menutup rapat, semua segera bubar dengan tertib. Kulihat Ye Jin masih asyik mengobrol dengan Kak Seung Hyo, jadi kuputuskan untuk meninggalkan mereka berduaan. Di saat-saat semacam ini, naluriku untuk menjahili orang rasanya tiba-tiba muncul.

Aku melingkari buku agendaku dengan tinta merah di tanggal minggu depan. Tinggal beberapa hari lagi menuju pengalamanku dalam menyamar sebagai lelaki. Tidak kuduga hari itu akan menjadi hari yang mengubah hidupku.


─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─
“Baru pulang, Nam Gil?” Tanya Papa sambil menurunkan Koran yang dibacanya begitu melihatku. Aku mengangguk. ”Ada yang mau Papa berikan untukmu,” ujar Papa sambil berdiri dari duduknya dan menggerakkan kepalanya, seolah memintaku mengikutinya.

Aku berjalan mengikuti Papa ke arah garasi. Di sana pria itu memberikan sebuah kunci padaku. “Ini kunci mobil ini,” ia membuka kain penutup mobil itu. Sebuah mobil sport berwarna hitam. Hmm.. harus kuakui, seleranya bagus. “Mulai hari ini, mobil ini milikmu...” ujarnya.

“Terimakasih, Pa...” ujarku sambil tersenyum “Modelnya keren,” sahutku. Aku segera mencoba membuka pintunya dengan girang. Ketika kuelus joknya, dengan segera aku tahu mobil ini masih baru.

“Kalau Papa memberikan ini, apa tidak masalah bagi Mama?” tanyaku sambil menatapnya ragu. Sejenak sinar matanya terlihat hangat.

“Mamamu kelewat keras padamu. Dan aku kelewat lama tidak berbincang denganmu. Bahkan kedatanganmu ke sini sama sekali tidak dirayakan...”

”Oh,” aku tertawa sinis. Ulangtahunku saja sejak kecil tidak dirayakan, untuk apa aku berharap kedatanganku akan dirayakan? Toh ada atau tidaknya aku di sini sama sekali tidak ada pengaruh baik untuk Mama. ”Tidak apa-apa,” jawabku sambil berusaha menekan nada sinis dalam suaraku. Biar bagaimanapun, aku akan tetap menunjukkan sopan santunku.

”Hati-hati,” ujar Papa sambil menepuk pundakku lembut. Aku membalasnya dengan senyuman terimakasih.

”Sudah menemukan universitas yang tepat?” tanya Papa sambil menatapku tiba-tiba. ”Sekadar informasi, Tae Wong kuliah bisnis di Universitas A. Dan saat ini ia juga menjabat sebagai instruktur karate sementara di West High School...”

”Oke, thanks...” jawabku sambil diam-diam berpikir bahwa universitas itulah yang harus kuhindari nantinya. Aku ingin memulai kehidupanku dengan lebih baik lagi, dan pelan-pelan, aku ingin melepaskan diri dari mereka, dari perasaan benci mereka dan dari dendam dalam dadaku. Cukup sudah kebencian menggerogotiku.

Malam itu aku membuka situs-situs universitas terkemuka dan dengan kesal aku menyadari. Tae Wong cukup cerdik untuk memilih universitas A. Karena selain merupakan salah satu dari sekian universitas ternama, kualitas dan kredibilitasnya juga tinggi. Dan selain itu, lokasinya tidak jauh dari rumah. Dengan kesal kuhempaskan diriku ke kasur.

”Baiklah, siapa takut?” pikirku sambil memencet tombol download dan sejurus kemudian, form pendaftaran itu sudah ku print dan sedang kuisi di mejaku. Tae Wong mungkin bisa masuk ke sana, dan kenapa aku tidak bisa? Lagipula walau menyebalkan dan suka ikut campur, dan walau tidak pernah bersikap seperti kakak, ia tidak pernah berlaku kasar padaku.

Sebuah rencana berputar di otakku. Rasanya baru saja tadi aku memutuskan untuk membuang kebencianku. Tapi, setiap menutup mataku, yang terbayang di otakku hanya perlakuan kejam yang kuterima semenjak kecil.

Rasanya mustahil kalau otakku tidak dipenuhi dengan keinginan untuk membalas dendam. Dan kalau balas dendam pada orangtua begitu berbahaya, kenapa tidak pada anaknya? Aku punya kemampuan, dan aku tahu itu. Akan kubuktikan kalau aku bisa lebih daripada Tae Wong. Dan mereka tidak punya alasan untuk merendahkanku. Sedikitpun!

----to be continued---

Tidak ada komentar: