Kamis, 18 November 2010

Kamis, 07 Oktober 2010

Devious Journal Entry

Devious Journal Entry

  • Sep. 18th, 2010 at 1:16 PM

My opinion. Memories=Time to appreciate

My opinion. Memories=Time to appreciate

My opinion. Memories=Time to appreciate

  • Aug. 22nd, 2010 at 9:00 AM

Memories=Time to appreciate

I remember many detail of my childhood,
(although maybe I've forgot some too...)

Like my playgroup teacher,
song I sang at child,
moment when I won fashion show on Kartini Day,
exchanged gift at Christmas on elementary school period,
my friends at junior high school,
teacher, group, things I shared at Senior High School
and so~....many more..
etc etc bla bla bla

I used to tell a story, and many friends of mine, seemed surprised because I had a lot of story to tell..
And they often say, "Wow, You're so lucky because you can have more experience than other..."
Or they say, "Your life seems so colorful"

Well, I guess they're right, but.. actually, It's not about I'm so lucky or what. This is about memories..
And this is all about time

All of us have same time every day. Each week has seven day and we do have 24 hour per day,
So, what's the difference?

I guess it's about the way you appreciate every moment you spent with someone

For example, me, myself
I usually think about what others think about me,
And I usually keep wondering, "If I do this... what will they think?"
And I also see the way they would react to me

So, that is from me

It's not like that I'm trying to be your teacher, teaching you to appreciate time wisely, but, I just wanna share my thought

Every small; little things, can give u happiness unexpectedly, If you realize
And try, just try, to realize that actually, you have so many thing, instead of what you don't have
Maybe you can find that all of you guys, actually have more happier and funnier and even nicer experience more than I have

Enjoy your life

Jesus love you

Jumat, 17 September 2010

Art: dress designs for friends

This one is for Kak Maria, she's truly kind and really patient when taught me how to work ^^

This one is for c Yuli, who first taught me how to think logic on computer programs
This last one is for cc Ingrid, my very first friend at work!!

Sabtu, 28 Agustus 2010

my latest art at deviantart





















I love Vampire knight manga
And this one, consisted of three page, made by me...
I made this before The ballroom chapter's out (before chapter 53's out)
(sorry for the plain color and sorry too because I kinda lazy on drawing background, so it's look too... plain, maybe, yeah, it's plain)

Hope you enjoy







Kamis, 12 Agustus 2010

my feeling^^

I'm truly glad and happy that my fan fiction on Kimnamgil website..
( http://kimnamgilfansindonesia.ning.com/ )

got many good responses from all the sister's there

More than 1000 recent comments and that's all thanks to my best sisters there^^ *hugs and many2 loves to you...*

Here's the prove...(I made a snapshot at the forum and cropped the part that I'm on it...)

Tears on my face, and all thanks to you guys... you are so lovely, never expected that I can get 1157 comments

Fanfic The Future and the Past 45

-------------------------------------------------------------------------------------------------
FORTY FIFTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Ho Jae: Go Yoon Hoo (memakai nama asli di FF)
Bakui: Jang Hee Woong (memakai nama asli di FF)
Kim Yong Soo : Park Jung Chul(nama asli): Jung Yong Soo (nama di FF)
lady Ma Ya (King Jinyeong's wife) : Yoon Yoo Sun (Ibu dari Yo Won dan Ye Jin, memakai nama asli di FF)
General Ga Baek: Seo Bum Shik (memakai nama asli di FF)
Yeom Jong
-------------------------------------------------------------------------------------------------

─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

“Dia akan lumpuh selamanya…” tukas dokter itu sambil membetulkan letak kacamatanya.

Aku memandang pria yang sudah merenggut nyawa Nam Gil dari kaca luar. Sekujur tubuhnya terbalut perban. Luka bakarnya terlihat parah dan beberapa hantaman merusak saraf penggeraknya.

Dari surat kabar dikatakan kalau Pamannya, Seo Bum Shik langsung tewas di tempat saat mesin mobil mereka komplikasi dan menabrak pembatas jalan, berulang kali terguling sampai akhirnya meledak.

“Kurasa itu karena tembakan yang dilakukan Nam Gil di mesin mereka… Kukira meleset, ternyata tidak… Pria itu akan lumpuh selamanya. Menyedihkan…”

Perasaanku sudah membeku. Bahkan ucapan Yoon Hoo yang mengasihani mereka tidak membuatku tersentuh. “Mereka pantas mendapatkannya,” ujarku dengan suara dingin dan kaku.

“Ya, dalam keadaan seperti itu, lebih baik mati daripada cacat seumur hidup…” Yoon Hoo menepuk pundakku dan Ye Jin yang berdiri di sebelahku merangkulku lembut.



Seoul, dua tahun kemudian…

─Lee Yo Won, Seoul, 2010─

“Yo Won, kau sudah siap?” tanya Ye Jin sambil mengintipku. “Oh, waw, kau cantik sekali, Yo Won…”

“Thanks, tapi aku sebetulnya masih malas pergi…” balasku sambil menghela nafas panjang.

Hari ini adalah hari pernikahan Baek Do Bin dan Park Ri Chan. Mereka mengatakan kalau kedatanganku ke sana sama seperti kedatangan Nam Gil sendiri. Terpaksa aku menerima undangan mereka, walaupun rasanya seperti membuka luka lamaku.

“Kau masih mengingatnya?”

“Aku tidak mungkin melupakannya. Sampai kapanpun…”

“Kau cantik Yo Won. Dan pria di dunia ini ada ribuan…” Ye Jin memelukku dan menepuk pipiku lembut. “Sudah saatnya kau bergerak maju…”

“Entahlah, Ye Jin…” jawabku, meraih tasku dan pergi.

Ye Jin ada kencan hari ini dengan Yong Soo dan sudah sepantasnya aku tidak mengajaknya. Sebagai gantinya, aku meminta Yoo Jin, adik Nam Gil menemaniku. Semenjak kepergian kakaknya, kami jadi sangat dekat.

Entahlah, sampai detik ini aku tidak bisa menyebutnya kematian. Aku percaya ia masih ada di sampingku, dan semua ini hanya mimpi buruk. Oleh karena itu, aku hanya mampu menyebutnya… ‘kepergian’, bukan ‘kematian’.

“Hai Yo Won, kau cantik…” puji Yoo Jin sambil memelukku dan menunjukkan mobil tunangannya padaku.

“Ke Hotel Grand Hyatt Seoul…” ujar Yoo Jin sambil tersenyum pada si supir yang tidak lain tidak bukan adalah Kak Sang Wook yang dimintanya untuk mengantar kami.

“Maaf merepotkan Kak Sang Wook…” ujarku berbasa-basi.

“Tidak apa Yo Won… kebetulan searah dengan jalanku ke apartemen adikku…” jawabnya sambil tersenyum kasual. Yoo Jin mengedipkan mata dan mereka tertawa bersama.

Aku masih tidak bisa melihat kebahagiaan semacam itu. Ada rasa sakit mendalam saat melihat keakraban orang di sampingku dengan pasangan mereka masing-masing. Rasanya… entahlah, terlalu menyakitkan. Aku tidak boleh iri, aku tahu itu. Sebagai gantinya, rasa sakit mendalam menusuk hatiku.

“Sudah sampai, dan selamat bersenang-senang Yo Won… Dan Yoo Jin, ingatlah aku kalau ada cowok tampan di sana…” canda Sang Wook sambil melajukan mobilnya.

“Kuharap kami tidak membuatmu sakit hati, Yo Won…” ujar Yoo Jin sambil memandangku dengan sepasang mata bulatnya. Senyumannya terlihat resah.

“Tidak apa-apa, Yoo Jin… aku paham kok…” jawabku, berusaha menenangkannya. Tentu saja aku berbohong.

“Semoga pestanya menyenangkan! Lihat, tempatnya semewah ini, pasti makanannya lezat!” seru Yoo Jin sambil melangkah dengan gembira. Aku mengiringinya sambil tersenyum.

“Yo Won, sebentar, aku ke toilet dulu untuk merapikan dandananku ya…” ujar Yoo Jin sambil tersenyum manis.

Aku berdiri di samping pintu, kemudian berbisik pada Yoo Jin. “Aku cari minum dulu…” ia menjawab ya dan kemudian kakiku bergerak ke tempat minuman. Rasanya tiba-tiba haus sekali.

“Ups, maaf…” ujarku kaget, ketika mendadak tanganku menyentuh tangan seorang pria saat kami bermaksud mengambil gelas yang sama.

Tanganku mendadak terasa aneh. Tidak mungkin, tetapi… rasanya sentuhan itu begitu familiar… rasanya… aku mengenalnya… Pelan, kuangkat kepalaku dan jantungku nyaris lepas melihat pria di depanku begitu mirip dengan Kim Nam Gil.

“Nam Gil?” tanyaku, nyaris pingsan dan tidak mempercayai penglihatanku sendiri. Tanganku berusaha mengingat sentuhan sekilas tangannya di kulitku. Rasanya begitu nyata… ini bukan mimpi…

Alisnya yang tebal bertaut bingung, namun senyumannya tetap seramah biasanya. Kalimat berikut yang meluncur di bibirnya membuat nafasku terhenti beberapa detik.

“Apa aku mengenalmu?”







─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

Wanita cantik di depanku tersenyum kaget. Ia memandangku dari atas sampai ke bawah. “Kau… Kim Nam Gil?” tanyanya lagi.

Ada yang salah dengan wanita ini. Suaranya… wajahnya… gerak-geriknya… semuanya menimbulkan sensasi aneh di dadaku. Rasanya begitu sulit mengambil nafas saat ia berdiri di depanku dan menatapku dalam-dalam.

“Benar, kalau tidak salah memang itu namaku…” jawabnya. “Tapi Nam Gil, cukup Nam Gil saja…”

Aku masih berusaha mengingat sentuhan tangannya di kulitku. Rasanya seperti kejutan listrik. Seperti biasanya… kepalaku terasa sakit lagi… Selalu saja begini tiap kali ada peristiwa kecil yang terasa tidak asing denganku.

Aku mengenali sentuhan itu. Entah bagaimana aku cukup yakin dengan pikiranku itu. Dan melihatnya, mendnegar suaranya, tenggorokanku terasa panas. Aneh, aku merasa… ingin menangis saat membalas tatapan matanya.

“Yo Won, ternyata kau di sini…!!” seru seorang gadis cantik sambil menghampirinya. Gadis ini juga memandangku dengan kaget. “Kak Nam Gil?!” serunya kaget.

“Kau mengenalku?” tanyaku lagi. Kali ini mereka berdua terdiam.

“Apa yang terjadi?” tanya gadis itu pada wanita pertama.

“Dia bilang namanya Nam Gil. Itu saja… dan dia bertanya apa aku mengenalnya atau tidak. Yoo Jin, mungkin aku gila, tapi.. rasanya dia benar-benar Kim Nam Gil…”

“Yo Won, kalau dia tidak mengenalmu, berarti dia memang bukan kakak… Tapi, ada berapa orang yang nama dan wajahnya sama di Korea?”

Namanya… Yo Won… dadaku berdentam keras mendengarkan nama itu. Dan Yoo Jin… rasanya aku sering mendengarmya. Entah di mana.

“Selamat datang, Yo Won…” ujar seorang pria di belakangku. Aku mengangguk hormat ke arahnya dan tersenyum. “Kalian sudah bertemu, rupanya…”

“Baek Do Bin, mungkin kau bisa jelaskan padaku ada apa ini sebenarnya…” ujar wanita itu dengan suara tegas dan dalam.

“Dia Kim Nam Gil, aku menyelamatkannya, dari kebakaran yang dibuat Yeom Jong. Dan ingatannya hilang, karena tembakan di pelipisnya dan gumpalan darah akibat pukulan-pukulan keras di kepalanya…”

Dadaku berdebar keras mendengar penuturan Baek Do Bin. Selama dua tahun terakhir, bekerja dengannya sebagai general manager di perusahaan miliknya, ia merahasiakan identitasku karena tiap kali menceritakannya, kepalaku terasa sakit seperti mau meledak.

Apakah… aku mengenal wanita ini seperti halnya ia mengenalku? Jantungku terus berdebar. Ada amarah yang tidak bisa kusembunyikan saat mendengar nama Yeom Jong disebutkan. Kenapa?

“Yo Won!” Yoo Jin berteriak kaget saat melihat wanita bernama Yo Won mendadak limbung.

Sebelum wanita itu jatuh pingsan, aku keburu menangkapnya. Dan detik itu juga, bagai sambaran petir, kepalaku terasa sakit luar biasa.

“Arrgh…” erangku sambil memegangi kepalaku.

“Ada apa? Kenapa dia?” Yo Won menatapku bingung dengan matanya yang berkaca-kaca. “Baek Do Bin! Kenapa dia!?”

“Selalu begitu setiap kali aku berusaha mengingatkannya akan masa lalunya…”

“ARRGGHHH!!” sakit kepalaku bertambah hebat ketika Yo Won menyentuhku dan memelukku. Aku mengerang dan bergerak liar dalam pelukannya. Sakit kepala menghentak-hentak kepalaku seperti akan memecahkannya.

“Seseorang, tolonglah dia… hentikan.. kau sudah tidak eprlu mengingatnya.. Lupakan… lupakan saja aku…” serunya dengan air mata tertahan.

Tanganku terangkat menghapus air matanya. Ia memandangku ragu sebelum akhirnya menyebutkan sebuah nama… “Bi Dam…”


Berbagai ingatan merembes masuk ke otakku. Rasanya menyakitkan seperti pukulan-pukulan berkali-kali di kepalaku.

Suara-suara bergantian mengisi kepalaku.

“Kau sudah tamat, Kim Nam Gil….”

“Kau sudah janji Nam Gil.. kau akan pulang…”

“Maafkan aku, Yo Won…”

“Kak Nam Gil!!”

“Aku mencintaimu…”

“Bi Dam…”

“Deok Man…”

Dan detik itu, kepalaku terasa ringan, pemandangan berputar dan segalanya menghitam.


─Lee Yo Won, Seoul, 2010─

“Kapan dia akan sadar?” tanyaku pada Dokter jaga di klinik itu. Untunglah tidak sulit menghubungi Hee Wong. Yoo Jin terus bersamaku dan dialah yang mengucapkan salam pada Baek Do Bin dan Ri Chan lalu mengucapkan pamit pada mereka.

Dalam sekejap Hee Wong dan Yoon Hoo, serta Yong Soo dan Ye Jin sudah berkumpul di tempat itu.

“Dia akan sadar ketika obat penenangnya habis… mungkin sekitar dua tiga jam lagi…”

“Maafkan aku karena merusak kencanmu, Ye Jin…” ujarku sambil menatap Ye Jin.

Saudariku menatapku simpatik dan tersenyum. “Sudahlah, yang penting semuanya baik-baik saja. Dan ternyata dia masih hidup…”

Tiga pria itu memandang Nam Gil yang terbaring tidak sadar dengan ekspresi senang. “Jadi dia masih hidup, brengsek Baek Do Bin tidak cerita apapun.,. Tetapi, syukurlah…”

“Ya, hebat juga Do Bin…” puji dua lainnya. “Dan syukurlah, dia masih hidup…”

Yong Soo menatapku dan tersenyum. “Soal kenangan, kalau dia masih tidak bisa mengingatnya, kau buat saja yang baru bersamanya…”

“Aku tahu itu,” jawabku menyetujui. Kenyataan kalau dia masih hidup adalah hal terindah dalam hidupku.

“Pengunjung dpersilakan masuk…” ujar perawat itu. Aku mengangguk dan mempersilakan Yoo Jin dan sahabat Nam Gil masuk, namun mereka menolak dan menyuruhku segera masuk.


Nafasnya terdengar teratur, walaupun wajahnya masih terlihat pucat. Nam Gil pria yang kuat. Belum pernah aku melihatnya begitu menderita seperti tadi. Seolah kepalanya akan pecah tadi. menyedihkan…

Aku menyentuh tangannya dan mengusapnya pelan. “Kau janji… kau akan pulang… Mungkin terlambat dua tahun, tetapi kau memenuhinya… terimakasih, Nam Gil…” air mata meluncur turun dari pipiku.

Tiba-tiba sebuah tangan mengusap pipiku lembut dan menghapus air mataku. “Kau masih saja cengeng, Yo won…” ujar suara itu.

Aku memandang raut wajah di depanku dengan mimik tidak percaya. “Kau… mengingtku… Nam Gil?” tanyaku dengan suara bergetar.

“Maaf, Yo Won…” tangannya bergerak menyusuri tulang pipiku. “Mungkin terlambat, tetapi… aku sudah pulang….”

Aku memeluknya dan menangis sesunggukan di pelukannya. Nam Gil tersenyum dan ia mengusap punggungku, berusaha meredakan tangisku. “Maaf membuatmu menunggu lama…”

“Lama sekali, tahu…” balasku setengah mengomel.

“Kalau begitu, apa kuucapkan sekarang saja?” tanyanya sambil mencium dahiku lembut. “Aku… ingin menikahimu, Yo Won…”

Mataku kututup perlahan dan bibirnya menekan bibirku lembut. Awalnya bibirnya hanya menyentuh bibirku bagai sapuan ringan marshmallow. Namun, ketika tanganku kulingkarkan di lehernya, ciumannya bergerak semakin mendalam dan semakin menuntut.

Dentang lonceng kebahagiaan berkumandang di kepalaku. Saat menoleh ke samping, wajahku serta merta memerah melihat Yoo Jin, Ye Jin, Yong Soo, Hee Wong dan Yoon Hoo bersorak dari kaca rumah sakit.

Nam Gil tertawa dan memelukku sambil mengeluarkan tanda victory dengan jarinya. Kali ini kami takkan terpisahkan lagi, selamanya, selamanya, dan selamanya. Aku tahu itu…





TAMAT



Note: fyuhh... finally, it's done...

Fanfic The Future and the Past 44

-------------------------------------------------------------------------------------------------
FORTY FOURTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Ho Jae: Go Yoon Hoo (memakai nama asli di FF)
Bakui: Jang Hee Woong (memakai nama asli di FF)
Kim Yong Soo : Park Jung Chul(nama asli): Jung Yong Soo (nama di FF)
lady Ma Ya (King Jinyeong's wife) : Yoon Yoo Sun (Ibu dari Yo Won dan Ye Jin, memakai nama asli di FF)
General Ga Baek: Seo Bum Shik (memakai nama asli di FF)
Yeom Jong
-------------------------------------------------------------------------------------------------
─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

“Yong Soo? Bagaimana keadaan di sana?” Yoon Hoo melakukan hal yang sama denganku, menggunakan handsfree dan tidak melepaskan pandangannya dari mobil di depan kami. Mereka memasukkan sejumlah bagasi dan bersiap pergi. “Di rumah itu tampaknya tidak ada perubahan? Oke, ya, kami sudah menemukan mereka. Kalian segeralah kemari. Tempatnya di….”

“Mereka bergerak…”

“Kalian menyusullah selagi sempat…” ucapan Yoon Hoo terputus begtiu saja. Ia segera meraih motornya dan menghidupkan mesin. Sebisa mungkin kami menjaga jarak.

Tidak lama giliran ponselku yang bergetar. “Do Bin?” sebuah suara menjawabku dari seberang.

“Tampaknya penerbangan mereka sejam lagi. Kalian sudah menemukannya?” tanya Do Bin.

“Ya, sekarang ia berada di pom bensin yang jaraknya sekitar 200 meter dari bandara…” Do Bin menyarankan diri untuk ikut dan aku tidak sempat menjawabnya karena pria itu sudah bergerak lagi. “Nanti kuhubungi lagi…” ucapnya saat memutuskan teleponnya.

“Mereka ke sana…” Yoon Hoo mengikuti petunjukku. Pria itu pandai memanfaatkan jalan-jalan sempit untuk mencapai tempat tujuannya. Tampaknya rencana ini sudah mereka siapkan dari dulu.

“Jalan buntu!!” tukasku dan Yoon Hoo bersamaan. Dari belakang, suara deruman mobil mengejutkan kami. Yoon Hoo memandangku dengan wajah pucat pasi.

“Kita terjebak…” ujarku dengan suara bergetar.

“Bukan, dia yang menjebak kita… Ternyata dia tidak sebodoh dugaanku…” suara Yoon Hoo terdengar panik, namun ia mengusahakan eskpresinya tetap tenang.

Mobil itu berhenti di depan sudut jalan dan menghalangi kami kabur. Aku berpandangan dengan Yoon Hoo, dan kami berdua bergerak turun dari motor. Dua orang Seo Bum Shik turun dari mobil dan mengamati kami dengan senyuman menyeringai.


─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

“BLAMMM!!!”

“Ye Jin! Kalau tutup pintu pelan-pelan, dong…” gerutuku sambil menghembuskan nafas kesal. “Perasaanku lagi nggak enak nih!!”

“Perasaanku juga nggak enak, Yo Won. Sorry…” sahut YeJin sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur. “Apa yang mereka lakukan sekarang?”

“Tidak tahu. Kita hanya bisa menunggu kabar dari mereka…” jawabku dengan perasaan campur aduk. “Kenapa sih sementara para pria maju ke medan perang, para wanita hanya bisa menunggu dengan perasaan kacau setengah mati?”

“Tidak tahu, Yo Won...” ucapan Ye Jin terhenti saat melihat wajahku. “Ya ampun, coba lihat wajahmu! Kau seperti hantu!!”

“Aku memang akan jadi hantu kalau ia pergi meninggalkanku….”

“Sama denganku…”

─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

“Akhirnya aku bisa membalas sakit hatiku, Kim Nam Gil…” ujar Yeom Jong. “Seharusnya kau tidak perlu membantu Do Bin…”

“Kau yang seharusnya tidak perlu merusak hidup orang lain. Dan kau membunuh orang hanya supaya kau bisa melarikan diri…”

“Itu bukan urusanmu. Dan sekalian kukenalkan, Pamanku, Seo Bum Shik yang ternyata juga pernah sakit hati padamu…”

“Bahumu tidak sakit lagi kan?” tanyanya sambil tersenyum culas. “Tapi hatiku masih sakit dan jujur saja, melihatmu, darahku semakin mendidih…”

“Terimakasih untuk salamnya yang hangat…” jawabku sambil meludah ke tanah di depan mereka. “Kau menjebakku karena menyadari aku mengintaimu?”

“Aku menyadarinya dari pom bensin…” Yeom Jong tertawa culas. “Dan temanmu, apa aku kenal? Oh, ya, dia si pria di asrama dulu… Hmm… aku tidak punya dendam padanya, tetapi sayang sekali, dia berada dalam posisi tidak tepat…”

“Kalian pecundang…” ujar Yoon Hoo. Ia mengeratkan kepalan tangannya dan memandang dua pria di depannya dengan berani.

“Kau jangan gegabah. Sebaiknya kau melarikan diri dan membantuku memanggil bantuan…” bisikku ke Yoon Hoo begitu dua pria itu saling mendiskusikan cara terbaik membunuhku, kalau aku tidak salah dengar.

“Mereka hanya berdua…” protes Yoon Hoo sambil setengah berbisik.

“Pria macam mereka tidak akan bergerak hanya dengan dua orang. Dengarkan aku, begitu aku maju dan menyerang mereka, kau lari dan memanggil bala bantuan. Percayalah, larimu sangat cepat…”

“Tapi Nam Gil…” Yoon Hoo terlihat mencemaskan keadaanku.

“Dengarkan saja aku. Dan kemudian, kalau ada sesuatu yang terjadi padaku, kau berikan ini pada Yo Won…” secepat kilat kuselipkan sebuah surat ke saku jaket hitam Yoon Hoo. “Kau harus ingat janjimu pada Rae Na…”

“Hati-hatilah Nam Gil…” ujar Yoon Hoo sambil menatapku dengan pandangan serba salah. Ia bersiap di tempatnya, menunggu aba-aba dariku.

“Halo? Kalian ke sini sekarang…” ujar Yeom Jong di teleponnya.

Secepat kilat kakiku kulangkahkan ke arah mereka. Memanggil bawahan pasti butuh waktu. Dan waktu adalah hal terpenting untuk membantu Yoon Hoo pergi dari sini.

“Brengsek!!” ujar Yeom Jong saat tendanganku mengenai perutnya. Seo Bum Shik membekukku dari belakang dan begitu kuputar tubuhku, kakinya malah menghantam keponakannya sendiri.

“Pergilah, Yoon Hoo!!” seruku begitu tanganku menahan kerah baju Yeom Jong dan menjatuhkan pukulan bertubi-tubi ke arahnya. Dalam waktu yang sekejap itu, pistol Yeom Jong kutembakkan ke mesin mobilnya.

“Tembakanmu meleset, Nam Gil!!” seru Seo Bum Shik puas. Ia menghantamku dan secepat itu pula kubalas pukulannya.

Yoon Hoo berlari pergi dengan langkah lebar dan memanjat kap mobil lalu melompat lari dari lorong kami. Bafasku berangsur lega ketika sosoknya tidak lagi terlihat.

“Jangan biarkan dia lolos!!” seru Seo Bum Shik. “Mana anak buahmu!!” serunya gusar pada Yeom Jong. Ia berlari namun kuhempaskan tubuhku menubruknya.

“Lepaskan! Lepaskan aku!!” serunya kalap. Dengan gusar ia meraih benda apapun untuk melempariku. “Yeom Jong! Kejar! Kejar temannya itu!”

Yeom Jong menggosok kepalanya dan menggerakkannya. Ia terlihat sempoyongan dan dengan mudah terjatuh ketika kakiku menjegalnya. “Aku tidak akan biarkan kalian melukainya…” seruku marah.

“Kalian! Lama sekali kalian datang!!”

Wajahku memucat melihat beberapa pria bertubuh besar datang ke hadapanku. Jumlah mereka sekitar 10 orang. Kalau kondisiku baik, mungkin aku masih bisa menghadapi mereka.

Tapi, selain keadaanku terjepit, kondisiku juga tidak lagi prima. Apakah keputusanku menyuruh Yoon Hoo pergi adalah keputusan yang salah? Tidak. Tidak. Ini adalah masalahku sendiri. Dan aku… harus bisa mengatasinya sendiri. Maafkan aku, Yo Won… mungkin… aku tidak bisa pulang…

Pria itu mengepungku dan memukuliku. Aku membalas sekuat tenaga tetapi tenagaku semakin habis sementara jumlah mereka semakin bertambah. Akhirnya aku kalah dan semakin terdesak. Tubuhku dioper ke kiri dank e kanan, dan dihadiahi pukulan di sekujur tubuhku.

“Kau tamat Nam Gil…” Yeom Jong mengeluarkan tawanya yang licik. Ia menjentikkan jarinya dan beberapa anak buahnya menyiramkan minyak ke kardus-kardus di dekatku.

“Selamat tinggal…” perlahan, Yeom Jong mengangkat pistolnya dan mengarahkannya ke kepalaku. Mataku nyaris buram oleh darah dari kepalaku. Ia menarik pelatuknya dan nafasku tersangkut di tenggorokanku.

Maafkan aku, Yo Won… mungkin… aku tidak bisa pulang…

─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

Beberapa tubuh perkasa mengelilinginya dan menjatuhkan sejumlah pukulan bertubi-tubi ke tubuhnya. Wajahnya pucat namun dipenuhi darah… hentikan.. cukup… cukup…

“Jangan! Jangan! Jangan!”

“Yo Won! Yo Won! Bangunlah!!” Ye Jin mengguncang tubuhku beberapa kali, membangunkanku dari mimpi.

“Hah! Apa… apa yang terjadi…?” tanyaku, memegang dahiku dan menyentuhnya. Keringat membasahi peluhku.

“Kau mimpi buruk?” tanya Ye Jin. Aku mengangguk. “Masih kilasan itu?”

“Bukan.. mimpi itu sudah lama sekali tidak muncul sejak ingatanku kembali… Aku memimpikan Nam Gil… dia.. dikeroyok…”

“Doakan saja semoga ia tidak apa-apa…” Ye Jin memelukku dan menepuk punggungku beberapa kali, mencoba menenangkanku.

“Masih belum ada kabar?” tanyaku dengan suara getir.

“Belum…” ujar Ye Jin sambil memaksakan senyuman di bibirnya. “Barangkali….” Namun, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara memanggil nama kami berdua.

“Ye Jin! Yo Won! Ada tamu!!” seru Mama dari lantai bawah. Kami berpandangan dan dengan segera berlarian dan berebutan menerobos turun tangga.

Yoon Hoo, Hee Wong dan Yong Soo berdiri di depan pintu dengan wajah kuyu. Ye Jin langsung melompat ke pelukan Yong Soo dan menangis bahagia karena lega.

“Apa yang terjadi? Bagaimana?” suaraku bagai melayang tidak menentu. “Mana… Nam Gil? Kenapa aku tidak melihatnya?”

“Yoon Hoo, bicaralah…” ujar Hee Wong menyenggol siku Yoon Hoo yang berdiri kaku di sampingnya. Wajahnya muram.

“Nam Gil menghadapi mereka sendirian… dan ia menyuruhku pergi memanggil bantuan. Ketika aku kembali.. di sana sudah jadi lautan api…”

Aku memandang pria tegap itu dengan perasaan tidak percaya. Wajahnya terkena beberapa luka bakar. “Kau… menemukannya? Kau menemukannya, iya kan?”

“Maaf Yo Won…” tangis Yoon Hoo meledak seketika. Ia meletakkan tangannya di bahuku dan mengeraskan rahangnya. “Aku tidak menemukannya….dalam lautan api itu…”

“Apa…” suaraku hilang bagai tercekik. “Kau.. bohong kan…” aku nyaris tidak bisa mengenali suaraku sendiri. “Kau bohong! Katakanlah kau bohong padaku!!”

“Aku juga tidak percaya! Seharusnya aku menemaninya!” Yoon Hoo memukuli dadanya sendiri dengan perasaan hancur. “Seharusnya aku tidak mendengarkan perintahnya!!” ia menyalahkan dirinya sendiri.

Bahunya berguncang-guncang dengan pedih. Teman-temannya menahannya agar tidak jatuh. Kakiku terasa begitu lemasnya sampai-sampai Ye Jin membantuku tetap berdiri.

“Kembalikan… Nam Gil.. tidak..” tangisku meledak di bahu Ye Jin. “Dia janji… akan kencan denganku… kami akan menghitung countdown bersama…” nafasku terasa naik turun di dadaku. “Dan dia… dia sudah janji… akan pulang…”

“Nam Gil menitipkan ini untukmu…” Yoon Hoo mengulurkan sebuah surat yang tersimpan rapi di sakunya. Tanganku bergetar saat mengenali tulisan yang rapi dan tegas menuliskan namaku. Tulisan Nam Gil.

Yo Won,

Saat kau menerima surat ini, mungkin aku tidak lagi bersamamu…
Aku menjanjikan akan pulang, tetapi, maaf karena aku tidak bisa memenuhi janji itu. Sebagai gantinya, saat malam tiba, kau bisa memandang bintang dan menemukan aku ada di sana…

Mencintaimu selamanya, dan akan terus mencintaimu, berapa kalipun reinkarnasi, kurasa aku akan terus mencintaimu…


Air mataku tumpah tiada henti. Ye Jin memelukku dari samping. Aku bahkan masih bisa mengingat ciuman darinya, genggaman tangannya, dan suaranya. Suaranya bahkan masih terasa begitu dekat denganku. Dan… aku tidak bisa melihatnya lagi….


-to be continued-

Jumat, 16 Juli 2010

Fanfic The Future and the Past 43

-------------------------------------------------------------------------------------------------
FORTY THIRD SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Ho Jae: Go Yoon Hoo (memakai nama asli di FF)
Bakui: Jang Hee Woong (memakai nama asli di FF)
Kim Yong Soo : Park Jung Chul(nama asli): Jung Yong Soo (nama di FF)
Seok Pum: Hong Kyung In (memakai nama asli di FF)
General Ga Baek: Seo Bum Shik (memakai nama asli di FF)
Yeom Jong
-------------------------------------------------------------------------------------------------
─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

“Dia sudah keterlaluan...” ujar Yong Soo sambil menghempaskan koran yang dibacanya dengan kesal.

Aku menaikkan alisku dan memandang koran itu selintas. Tentu saja aku tidak perlu lagi membacanya. Aku sudah tahu isinya. Pria itu kabur lagi, dan kali ini ia meledakkan tempatnya untuk menghilangkan jejaknya. Akibatnya, tiga nyawa penduduk sekitar yang tidak sempat meloloskan diri dalam kebakaran itu pun melayang.

”Dia sudah tidak tertolong lagi...” tukasku, kecewa.

”Dia sudah bukan manusia lagi...” tambah Yoon Hoo. Tangannya meremas koran itu. ”Ups, sorry, maaf Nam Gil, aku lupa ini koran yang baru kau beli...”

”Tidak perlu mencemaskan hal-hal kecil...” ujarku, memutar bola mataku. ”Polisi bahkan sudah memberikan iming-iming hadiah bagi mereka yang melihatnya. Di mana lagi dia bisa sembunyi?” tanyaku, berusaha memutar otakku.

“Ada yang kau lupakan...” Hee Wong muncul di pintu dengan seulas senyuman. ”Seandainya seluruh dunia memusuhinya, dia masih punya satu bawahan setia. Pria itu, kau kenal dengannya, Nam Gil...”

Selintas ingatan memenuhi otakku. ”Menurutmu dia ada di tempat Hong Kyung In?” tanyaku, nyaris tidak percaya aku telah melupakan nama itu.

Hee Wong mengedikkan bahunya pelan. ”Aku tidak tahu, tapi tidak ada salahnya kita mencoba mencarinya di sana...”

”Telepon polisi...” ujarku datar. ”Hari ini akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan...”


─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

“Kau akan pergi?” entah keberapa kalinya kuutarakan pertanyaan itu. Dan suara di seberang, masih menanggapiku dengan sabar.

“Aku akan pergi untuk mengakhiri semua kejahatannya. Dan selanjutnya, kita berdua bisa menjalani semuanya dengan cara yang lebih baik. Lalu, kalau aku tidak pulang, tolong jaga Ibu dan adikku. Dan kemudian, jangan berbuat hal bodoh. Dan… kalau aku pulang, aku akan menemui keluargamu untuk meminta mereka menyerahkanmu padaku…”

Air mata menetes pelan dan jatuh ke punggung tanganku saat kuusap mataku pelan. “Kalau begitu, kau harus pulang. Kau harus pulang, karena kau juga sudah janji mau kencan tengah malam denganku tanggal 31 desember. Dan kita akan menghitung countdown bersama-sama…”

“Aku akan mengusahakannya Yo Won… Tentu saja aku juga ingin pulang....”

”Tidak akan terjadi apa-apa, kan?” tanyaku, mendesaknya agar mengucapkan janji untuk pulang. Aku takut mendengar semua rencananya. Aku takut tidak bisa mendengar suara ini lagi selamanya. ”Berjanjilah,” desakku.

”Aku janji aku akan berusaha keras agar bisa pulang. Aku juga masih ingin memelukmu...”;

”Kau sudah janji ya, Nam Gil...” ujarku, meletakkan tangan di mulutku dan mencegah agar tangisku tidak pecah.

Nam Gil tidak segera menjawab, lama kemudian, ia berkata dengan suara berbisik. ”Aku mencintaimu, Yo Won....”

”Tuuut... tuut... tuut....”

Begitu telepon ditutup, air mataku berderai jatuh. Aku mencintaimu Nam Gil, dan demi Tuhan, kau harus pulang....


─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

”Bagaimana?” tanya Yong Soo begitu aku menyusul mereka mengintip dari balik semak-semak. Tanganku meraih teropong dan meletakkannya di depan wajahku.

”Buruk,” jawabku dengan perasaan campur aduk. ”Dimana polisi?”

”Belum datang. Mungkin mereka meragukan kita...” Hee Wong menatap teropongnya dan mendesah. ”Masing-masing dari kita akan pulang, harus... aku sudah berjanji pada Ji Hyun...”

Kutatap teman-temanku dan mengangguk paham. Mereka mengalami keadaan yang sama denganku. Kami semua harus pulang hidup-hidup, tidak bisa tidak.

”Itu dia!!” desis Yoon Hoo tiba-tiba. Kami semua menatapnya kaget dan kemudian mengarahkan teropong kea rah pandangannya.

“Arah jam 3…” ujar Hee Wong. “Di lantai dua. Aku tidak yakin, tapi kurasa itu mirip dengan Yeom Jong…”

“Dia tidak terlihat persis pria pendek itu, tapi kurasa itu dia. Lihat topi dan kacamata hitam itu, terlalu mencurigakan…”

“Kita amati dulu? Bagaimana, Nam Gil?”

Kami semua mengamati rumah Hong Kyung In dengan perasaan berdebar. Di lantai dua, tempat semua pandangan kami tertuju, tampak dua sosok tubuh sedang saling berhadapan dan tampaknya, mereka sedang mendiskusikan sesuatu.

Pria yang satu jelas adalah Hong Kyung In. Dan satunya lagi, mengenakan sebuah topi dan kacamata hitam yang menyamarkan wajahnya, ia terlihat familiar. Dan sangat tidak asing. Tetapi, entah bagaimana kurasa itu bukan dia.

”Kurasa kita dijebak...” ujarku, nyaris terkejut dengan suaraku sendiri.

”Apa maksudmu?” mereka semua menatapku dengan perasaan kaget. ”Maksudmu, dia tidak berada di sini?”

”Begini, pria itu sangat licik. Dan, kurasa ia tidak sebodoh itu untuk sembunyi di rumah orang yang dengan jelas bisa dicurigai, seperti Hong Kyung In. Jadi, kurasa itu bukan dia. Dan seharusnya di tangannya masih ada luka tembak hadiah dariku sewaktu di Rusia...”

“Jadi, di mana dia...?” Yoon Hoo mendecak kesal dan kemudian terlonjak kaget. “Itu dia! Aku tahu dia di mana! Seharusnya, maksudku, mungkin...”

“Dimana?” tanyaku. “Baiklah, kalian berdua berjaga-jaga di sini untuk mencegah kemungkinan dugaanku salah. Dan aku akan bersama Yoon Hoo ke tempat yang dimaksudkannya. Dimana itu, Yoon Hoo?”

“Begini, tolong maafkan kalau analisisku salah Nam Gil, tetapi.. kau ingat, Nona Ri Chan cerita soal kejadian di restoran di mana Seo Bum Shik kelihatannya bermusuhan dengan Yeom Jong, kurasa itu titik pentingnya...”

“Ya, ya, benar!” aku menepuk pundak Yoon Hoo dengan kagum. ”Benar! Itu dia missing pointnya!! Seo Bum Shik selama ini dikenal sebagai bekingan Yeom Jong, tidak mungkin dalam sehari semalam mereka bisa bermusuhan!!”

”Syukurlah kalau memang aku benar. Ayo kita ke sana Nam Gil!!” Yoon Hoo menstarter motornya dengan penuh semangat. ”Kita akan pergi dan pulang dengan selamat!!” serunya.

”Ya, tentu saja!” seruku, terkejut dengan luapan energi tiba-tiba dari dalam diriku. ”kalian berdua, aku serahkan semuanya untuk berjaga-jaga di sini. Dan tolong telepon polisi dan Baek Do Bin untuk datang ke kediaman Seo Bum Shik!!”

Begitu kami tiba di kediaman Seo Bum Shik, tempat itu ternyata kosong melompong. Tidak lama ponselku bergetar.

”Ya, ada apa Do Bin...”

”Kabar buruk Nam Gil, lebih baik kau ke airport sekarang juga... seorang mata-mataku mengatakan kalau ada penerbangan ke Amerika atas nama Seo Bum Shik. Dugaanku bukan dia yang berangkat...”

”Aku mengerti, aku akan ke sana sekarang!” samar-samar kudengar kalau Do Bin berkata ia akan menyusul kami.

”Apa yang terjadi?” tanya Yoon Hoo. Ia menyusul motorku dengan sekejap begitu haluan kuubah secepat mungkin.

”Ada kabar kalau nama Seo Bum Shik tercantum dalam penerbangan ke Amerika...”

Yoon Hoo mengangguk panik. ”Do Bin ke sana?”

“Aku tidak yakin, tapi kurasa demikian…”

”Semuanya jadi serba sulit!” Yoon Hoo mengumpat kesal dan bersamaku meningkatkan kecepatan motornya.

”Berhenti!!” tukasku tiba-tiba. Yoon Hoo terlonjak kaget dan mengerem semampunya. Ia berjajar denganku, menatapku dengan pandangan tidak mengerti.

“Aku mengenali mobil itu….” ujarku, memastikan suaraku cukup kecil. Mobil yang sama dengan mobil yang menjemput Seo Bum Shik saat ditahan di polisi karena memukulku dulu.

Nafas kami berdua tertahan di tenggorokan. Ada dua Seo Bum Shik di sana, dan jelas salah satunya palsu. Salah seorang lantas memasuki mobil itu dengan gayanya yang angkuh. Dan dengan jelas, aku bisa melihat bekas luka bakar panjang ditangan kanannya.

”Yeom Jong...” desisku.

”Ikuti mobil itu?” tanya Yoon Hoo. Ia menelepon polisi dan memberikan nomor polisi dari mobil di depannya.

“Kita ikuti...” jawabku, berusaha mendinginkan kepalaku. Anak buah Seo Bum Shik tampak berkeliaran di sekeliling mereka. Tidak boleh ada tindakan ceroboh yang membawa kami berdua ke kematian yang sia-sia.

-to be continued-

Recommended for Holiday: watch this TV series!!


Plot Summary for
"Merlin" (2008) More at IMDbPro »

Young Merlin is a teenager, discovering and then learning to master his gift for magic. Magister Caius, the learned court physician of king Uther Pendragon to whom he's assigned as humble page, teaches him medicine, coaches his magical self-study and warns for Uther's vicious aversion from magic. Merlin becomes squire to the noble but imprudent crown prince, Arthur, whose fate is linked with Merlin's. Written by KGF Vissers


(source: http://www.imdb.com/title/tt1199099/plotsummary)


THE CAST


COLIN MORGAN, BRADLEY JAMES, ANTHONY HEAD
Merlin Cast - Merlin TV ShowMerlin Cast - Merlin TV ShowMerlin Cast - Merlin TV Show




ANGEL COULBY, KATIE MCGRATH, RICHARD WILSON
Merlin Cast - Merlin TV ShowMerlin Cast - Merlin TV ShowMerlin Cast - Merlin TV Show







JOHN HURT

Merlin Cast - Merlin TV Show





(source: http://www.merlintvshow.com/page/Merlin+Cast)


CAST:

COLIN MORGAN AS MERLIN



BRADLEY JAMES AS PRINCE ARTHUR

ANTHONY HEAD AS KING UTHERKATIE MCGRATH AS LADY MORGANA


ANGEL COULBY AS GUINEVERE / GWEN






SNAPSHOTS:

















Recommended for holiday: watch this anime!!

Titled is: WORKING
this is funny and enjoyable;

Working!! (TV)

Have you seen this? want to / seen some / seen all

[ adapted from Working!! (manga) ]

Alternative title:
ワーキング (Japanese)
Themes: Moe, Workplace
Plot Summary:
Set in a family restaurant in Hokkaido, the northern prefecture of Japan, 16 year old high school student Takanashi Souta works part-time along with his strange co-workers: Taneshima Popura, a high school girl who's a year older than Souta who's easily mistaken for a elementary/middle schooler, and Shirafuji Kyoko the 28-year old store manager who doesn't bother to do any work at all.
Sōta Takanashi found himself working in Wagnaria, a family restaurant run by Kyōko Shirafuji, the Manager; who cares more about her employees welfare than the customers. Along with the manager, Sota works with other co-workers that expresses unique personalities: Poplar Taneshima, whom has a height complex, Mahiru Inami, diagnosed with androphobia, Yoshiyo Todoroki, the chief that carries a katana, Jun Satō, the man with love trouble and Hiroomi Sōma, the gossip king.
User Ratings: 236 ratings have been given [details]



Masterpiece: 19 votes (sub:15, raw:2, dub:1, others:1
1 Spanish subtitled
)
Excellent: 51 votes (sub:48, raw:2, others:1
1 Korean subtitled
)
Very good: 91 votes (sub:86, ?:1, raw:1, others:3
3 Spanish subtitled
)
Good: 47 votes (sub:45, others:2
1 Tagalog dubbed
1 Polish subtitled
)
Decent: 16 votes (sub:16)
So-so: 6 votes (sub:6)
Not really good: 1 vote (raw:1)
Weak: 4 votes (sub:4)
Bad: 1 vote (sub:1)
Awful: -
Worst ever: -
Seen in part or in whole by 435 users, rank: #1291
Median rating: Very good
Arithmetic mean: 7.839 (Very good-.16), std. dev.: 1.3621, rank: #672
Weighted mean: 7.709 (Very good-.29), rank: #683 (seen all: 7.82 / seen some: 7.81 / won't finish: 3.74)
Bayesian estimate: 7.702 (Very good-.29), rank: #448
Number of episodes: 13
source: http://www.animenewsnetwork.com/


It's hilarious since Souta who's kind of guy who loves small and cute things ended up working in same place as Inami who have androphobia ( she hates man) and she always attack every man she sees

Fanfic The Future and the Past, side story 9

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SIDE STORY 9
-A LONELY MAN-
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Karinna: Kim Rae Na
Ho Jae: Go Yoon Hoo (memakai nama asli di FF)
Fatimah: Kang Sung Fat
Kim Yong Soo : Park Jung Chul(nama asli): Jung Yong Soo (nama di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

─Kim Rae Na, Seoul, 2009─

“Hari ini makan apa ya…” Yoon Hoo menarik tanganku sambil menunjuk sebuah papan besar berwarna kecoklatan. ”Itu saja! ayo kita makan pizza!!”

Aku tertawa sambil mengikuti langkahnya. Entah keberapa kalinya kami berkencan, bergandengan tangan, dan makan bersama. Tapi, ia tidak juga menyatakannya. Hubungan kami masih tidak lebih dari sahabat yang super akrab.

Seolah kebaikannya tanpa batas untukku. Jangan-jangan.. dia memperlakukanku seperti adiknya? Hhh...

”Ada yang mengganggu pikiranmu ya?” tanya Yoon Hoo sambil menggigit pizzanya.

”Tidak juga,” elakku, mengaduk lemon tea milikku dan meminumnya. ”Kau sendiri kelihatan cemas...”

”Aku? Cemas? Tidak... tentu saja tidak...” ia tertawa kaget lalu memakan pizzanya lagi. Ia kembali terdiam dan menghela nafas. ”Baiklah, mungkin aku memang agak cemas...” cowok itu mengacak rambutnya pelan dan terlihat sangat gelisah di kursinya.

”Kau mau cerita padaku?” tanyaku, menatapnya langsung di matanya. “Aku tidak memaksa tentu saja...”

”Kau tahu kan, aku sudah cerita banyak padamu... soal Yeom Jong, soal Kim Nam Gil, dan Kang Sung Fat...”

Aku mengangguk dalam hening. Dunia berbahaya yang kukira hanya ada di film ternyata berada begitu dekat denganku. Yoon Hoo mengtakan Nam Gil membantu temannya untuk membubarkan kelompok mafianya, dan Yeom Jong mengacaukannya, mengakibatkan Kakak Sung Fat, sahabatku, meninggal. Perutku masih terasa mulas tiap kali mengingat masalah itu.

”Manusia bernama Yeom Jong itu...” aku bergidik sedikit saat menyebut namanya. ”Dia benar-benar...”

”Berengsek...” sambung Yoon Hoo, seolah memahami bahwa aku tidak akan sanggup memaki pria itu. aku mengangguk menanggapi ucapan Yoon Hoo. ”Dan dia, pria itu, dia gagal ditangkap. Aku cemas, akan keadaan Nam Gil...”

Aku mengangguk paham dan menyentuh tangannya. Yoon Hoo meremas tanganku dan membalas tatapanku. ”Kau harus berada di sampingnya dan melindungi sahabatmu. Ini saat yang sulit untuk kalian...”

”Ya, terimakasih Rae Na...” Yoon Hoo tersenyum sambil menatapku lembut. ”Aku bersyukur karena kau selalu ada di sampingku...”

”Begitu juga aku. Dan berkatmu, beratku naik tiga kilo bulan ini...”

Yoon Hoo tergelak kaget dan tertawa keras. ”Itu hal yang baik kan?” ia mengedipkan sebelah matanya padaku. ”Lagipula, aku suka gadis yang berisi...”

Candaanya selalu saja menyebalkan dan membuat pipiku terasa panas. Dasar Yoon Hoo. ”Kau menyebalkan,” ujarku, tentu saja tidak sungguh-sungguh.

”Tapi, kau menyukainya kan?” candanya lagi, masih dengan senyumannya yang sangat menggoda.

”Yah, lumayan...” jawabku sekenanya.


─Go Yoon Hoo, Seoul, 2009─

“Selamat malam!!” sapaku riang pada Nam Gil. Lee Yo Won duduk di sebelahnya. Tangannya berada dalam genggaman Nam Gil.

”Kau tidak mengajak pacarmu?” tanya Yo Won padaku.

Aku menggeleng dan menjawab dengan senyuman ringan. ”Belum, Rae Na masih belum jadi pacarku...”

”Kapan kau akan menyatakannya?” ujar suara yang lain, yang ternyata adalah milik Ye Jin. Ia muncul bersama Yong Soo dan tampak modis dalam mini dressnya.

”Semuanya berkumpul dan aku kesepian sendirian, ooh, kayaknya aku nggak bisa tertawa hahaha...” ujarku, merasa kering. ”Baiklah, karena semuanya sudah tahu situasinya, kita langsung mulai saja...”

”Aku akan menjaga Yo Won sepanjang waktu... dan Ye Jin akan dijaga Yong Soo... pokoknya selama Yeom Jong belum ditangkap polisi, pada masa kritis ini kita akan saling menjaga... pria itu licik dan kemungkinan besar ia akan menggunakan segala cara untuk membalaskan dendamnya...”

Pandangan Yo Won berubah cemas, dan Nam Gil menjawabnya dengan senyuman yang menenangkan. ”Tidak mungkin kan dia menyerang Rae Na?” tanyaku, tiba-tiba merasa tidak yakin dengan keamanannya.

”Kurasa tidak. Ia dendam padaku. Membenciku. Jadi... Aku harap, sebisa mungkin, aku tidak akan membawamu dalam bahaya, Yo Won...” ujar Nam Gil.

Yo Won menggeleng dan memintanya tidak cemas. Menyebalkan juga melihat adegan romantis tanpa siapapun disamping kita. Hh...

”Sekarang dia sudah menjadi buronan yang paling diincar polisi...” Yong Soo berujar pelan sambil berpikir dan menangkupkan tangannya. ”Siapapun yang melihatnya, segera hubungi polisi dan jangan bertindak sendirian...”

”Dan kuharap kau tidak gegabah, Nam Gil...” Yong Soo menatap Nam Gil dengan tatapan tajam. ”Aku tidak mau kehilangan calon adik iparku...” ujarnya. Mereka tertawa berbarengan.

”Bagaimana dengan Hee Wong? Tidak ada yang menghubunginya?” tanyaku. Kalau Hee Wong datang, ia pasti tidak akan membawa Nam Ji Hyun bersamanya. Dan itu berarti, aku tidak akan menjadi pria kesepian di sini.

”Hee Wong masih sibuk dengan Ji Hyun..” jawab Nam Gil pelan. ”Dan juga dengan pekerjaannya.. Ia sudah berjanji akan berhati-hati...”


─Kim Rae Na, Seoul, 2009─

”Dia masih belum tertangkap, rupanya...” Sung Fat tampak cemas dan menatapku pelan. ”Bagaimana mungkin dia bisa lari?”

”Aku tidak tahu... Tapi kurasa dia tidak sendirian. Pasti di antara para polisi itu ada penghianat. Tidak mungkin dia lolos tanpa bantuan orang dalam...”

“Kau cerdas, Rae Na...” Sung Fat menarik nafas pelan. “Biar bagaimana pun, aku ingin dia berada di penjara selamanya. Sudah cukup banyak penderitaan yang diakibatkannya ke orang lain...”

Aku mengusap punggung Sung Fat pelan saat matanya mulai berkaca-kaca. Ia sangat mencintai kakaknya, dan sampai sekarang pun, aku tahu ia masih mencintainya.

Tapi, keberadaan Ji Hoo sudah berhasil mengikis kepedihannya. Dan cowok itu menepati janjinya untuk setia dan selalu menjaga Sung Fat. Tidak ada yang bisa kusesalkan, bukan?

Dan Sung Fat... mencintai Ji Hoo dengan cara yang berbeda. Cinta, namun berbeda dengan cintanya pada Kakaknya.

“Padahal masa depan Kakakku seharusnya masih panjang di depan sana...” pelan Sung Fat menghapus dan menyembunyikan air matanya dariku. “Aku tidak ingin pria itu bebas di luar sana...”

“Aku juga tidak mau...” ujarku, menarik nafas pelan. ”Dia seharusnya mendapatkan ganjaran yang setimpal...”

”Sudahlah, kita hentikan saja pembicaraan ini...” sela Sung Fat tiba-tiba. ”Rasanya suasananya jadi berubah nggak enak. Begini saja, kita bicarakan soal kau. Bagaimana hubunganmu dengan Yoon Hoo?”

”Hah? Hubungan apa?” tanyaku, kaget. Hampir saja jantungku copot barusan

”Kalian belum pacaran juga?” Sung Fat memandangku curiga. ”Atau kau… masih belum bisa melupakan Ji Hoo?”

”Dasar bodoh, tentu saja tidak. Aku tahu pasti perasaanku...” jawabku. Beberapa waktu lalu, saat luka di hatiku begitu lebarnya karena Ji Hoo, Yoon Hoo terus berada di sampingku dan menghapus luka itu, menambal dan menggantinya dengan cinta.

”Kalau begitu, kau yang harus mengatakan perasaanmu!!” seru Sung Fat sambil menepuk pundakku kuat-kuat. ”Jadilah berani, Rae Na! Aku tahu kau benci menyatakan perasaanmu lebih dulu, tapi, kalau tidak dikatakan sekarang, kapan lagi? Apa kau mau melihatnya pergi sama cewek lain?”

Membayangkan Yoon Hoo menggandeng cewek lain membuatku merasa tidak nyaman. Rasanya ada yang menaruh semen di perutku. ”Tentu saja tidak mau...”

”Perasaannya padamu kan sangat jelas... Lagipula, kau dulu cerita.. dia pernah minta kau mempertimbangkannya kalau luka hatimu sudah sembuh kan?”

Uh, kalau soal yang satu ini Sung Fat sangat cepat tanggap. Menyebalkan...

”Ya, begitulah...” sahutku, merasa agak jengah dan sedikit menyesal karena sudah menceritakannya pada Sung Fat. Entah bagaimana cerita itu sekarang menjadi bumerang bagiku, menghantamku tepat di titik kelemahanku.

”Katakanlah, sebelum kau menyesalinya...”

Aku memandang mata Sung Fat dan menyadari maksud ucapannya. Ia mencintai Kakaknya, dan bertahun-tahun, demi menjaga keutuhan keluarganya, demi menjaga agar keluarganya tetap normal, ia merahasiakannya dari siapapun. Dan sekarang, Kakaknya sudah tiada.

Sampai akhir, Sung Fat tidak berhasil mengatakan cintanya. Sungguh sangat tragis. Selama ini mereka selalu bersama tanpa satupun kesempatan mengatakannya. Ketika saatnya tiba, ia sudah kehilangan kesempatan itu.

”Aku paham,” suaraku terdengar aneh di tenggorokanku. ”Aku akan menemuinya... sekarang juga....”

─Go Yoon Hoo, Seoul, 2009─

“Yoon Hoo… ada tamu yang mencarimu…” ujar Papa sambil mengetuk pintu kamarku. Aku bangkit dan melihat wajah Papa dengan heran. “Dia manis sekali, Papa setuju…” canda Papa sambil mengedipkan sebelah matanya.

”Huh, Papa nonton bola lagi saja deh...” kapan ya terakhir kali Papa menggodaku soal perempuan? Tapi, tentu saja, ia tidak pernah menyatakan apakah ia setuju atau tidak. Pokoknya malam ini Papa nggak seperti biasanya.

”Hai, malam...” sapa Rae Na sambil tersenyum manis. Mama duduk di depannya dan tampak menikmati obrolan ringan dengan gadis itu. jantungku berdebar. Apa maunya datang ke rumahku sore ini?

”Wah, Rae Na tahu banyak ya soal mode.. Nanti kapan-kapan Tante tanya lagi ya... Ayo, duduk Yoon Hoo... masa perempuan dibiarkan menunggu?” dan Mama berlalu secepat angin ke arah dapur.

Aku memandang kedua orangtuaku dengan bingung. Papa dan Mama nggak biasanya bersikap seramah ini pada tamu wanitaku yang lain.

”Apa yang kau lakukan sampai mereka bisa berubah seramah itu?”

”Aku? Aku tidak melakukan apapun... Hanya membawakan oleh-oleh saja ke sini.. tadi aku bawa soju dan buah0buahan. Ternyata orangtuamu asyik sekali ya!” puji Rae Na senang.

Soju? Pantas saja Papaku bisa berubah jadi begitu ramah. Dan Mama? Barangkali buah-buahan.. ah, tidak. Barangkali dari obrolan soal mode. Biasalah, namanya juga perempuan...

”Ada urusan apa?” tanyaku, mengambil posisi duduk di depannya.

”Begini, aku baru saja bicara soal Sung Fat. Dan aku memahami perasaannya pada Kakaknya...”

Aku emngangguk paham. Nam Gil pernah menceritakan kisah cinta tragis antara Sung Pil dan adiknya. Mereka selalu bersama tetapi cinta mereka akhirnya tidak bisa bersatu selamanya. Sangat ironis.

”Ya, lalu?”

”Begini, dulu... kalau aku tidak salah dengar... kau memintaku mempertimbangkanmu... apa itu benar?”

Tenggorokanku terasa disumbat. Apa yang harus kujawab? Ya, aku pernah mengatakannya, dan bagaimana kalau ia menolakku di tempat? Well, rasanya pasti benar-benar sakit. Kalau kukatakan tidak? Apakah ia akan marah padaku?

”Yoon Hoo? Apa aku salah dengar?” raut wajahnya berubah kecewa.

”Tidak, kau tidak salah dengar. Aku memang mengucapkannya. Maaf...” ujarku. Sialan, mungkin seharusnya kukatakan ia salah dengar. Kenapa ia malah terlihat serba salah?

”Aku...” tangannya bertaut dengan gugup. ”Aku berpikir... kau.. selalu saja mengalah dan mengajakku jalan. Saat Ji Hoo menyakitiku, kau yang mengobati lukaku. Dan aku... kurasa aku tidak bisa apa-apa kalau kau tidak ada di sampingku. Aku... sangat menyukaimu, Yoon Hoo...”

”Hah?” mulutku menganga lebar, membuat Rae Na terlihat kaget dan memandangku bingung. ”Kau... menyukaiku? Serius?”

”Maaf.. butuh waktu lama untuk memikirkannya, dan aku...”

Aku langsung melompat dan memeluknya secepat mungkin. Nyata, dan hangat. Aku tidak bermimpi kan? ”Akhirnya!! Akhirnya!!! Akhirnya!!” seruku gembira. ”Akhirnya aku bukan lagi si pria kesepian!!!”

”Kau ngomong apa sih, Yoon Hoo...?” tawa Rae Na terdengar menyenangkan di telingaku. “Kau kan tampan, pasti banyak yang mengejarmu…”

“Aku adalah pria kesepian! Sejak bertemu denganmu, semua wanita itu seperti kabut. Tidak nyata. Dan disinilah aku, kesepian di tengah kabut! Akhirnya, yeah, akhirnya!!” ulangku, merasa puas.

”Tunggu, nanti...” aku tidak mempedulikan ucapan Rae Na dan bibirku menyentuh bibirnya, menciumnya dengan seluruh luapan emosiku. ”Om dan Tante...” Rae Na terengah kaget di tengah ciuman kami, tetapi aku tetap tidak melepaskannya.

”Masa bodoh...” ujarku, memandangnya dan tersenyum. Tentu saja aku tahu, di balik pintu itu, Mama dan Papaku mungkin masih asyik menguping dan mengintip kami.

”Masa bodoh...” sahut Rae Na akhirnya. Binar matanya berubah cerah, dan tangannya disangkutkan ke leherku. Aku menarik pinggangnya dan mulai menciumnya lagi. Kali ini lebih lembut. Janji cintaku untuknya. Akhirnya... yeah!!!

-selesai-

Fanfic The Future and the Past, side story 8

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SIDE STORY 2
-CINDERELLA AGAIN-
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
tita: Park Ri chan
Bo Jong Baek Do Bin : (memakai nama asli di FF)
Yeomjong (tetap memakai nama ini)
General Ga Baek: Seo Bum Shik (tetap memakai nama ini)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
─Park Ri Chan, Seoul, 2008─

Tanganku masih terasa gemetar. Kuatkan dirimu, Ri Chan, batinku. Dok Bin tertidur pulas di ranjang rumah sakit, dan nafasnya sayup-sayup terdengar. Ia masih hidup dan itulah yang harus kusyukuri.

“Kapan ia akan sadar?” tanya Nam Gil. Ia masuk sambil membawa keranjang buah dan makanan dalam plastik. “Kau makanlah, kau pasti perlu tenaga untuk menjaganya semalaman…”

“Ya, terimakasih…” senyumku, menerima makanan yang disodorkannya.

“Jadi, kapan…?” tanya Nam Gil.

“Oh, apa?” otakku sempat kacau sejenak. “Bisa kau ulangi? Aku tidak begitu fokus tadi…” ujarku sambil tersenyum kikuk.

“Kapan kalian akan menikah?” tanya Nam Gil, masih dengan intonasi yang sama. Dadaku berdebar naik turun mendengarnya, dan sekejap kemudian, air mataku sudah tumpah begitu saja.



“Aku minta maaf…” Nam Gil menyodorkan tissue padaku, entah keberapa kalinya. “Seharusnya aku agak peka…”

“Oh, tidak, bukan salahmu…” elakku. “Kau sudah sangat membantu di Rusia. Dan Dok Bin juga sudah mengatakan padamu kalau setelah urusan Rusia selesai, kami akan membubarkan grup mafia dan kemudian mengurus pernikahan…”

Samar-samar kulihat Nam Gil mengangguk. “Akulah yang tidak siap dengan pertanyaanmu… maaf….”

“Ya, tidak apa-apa kok…” ia tertawa lebar sambil menggaruk kepalanya. “Kulihat grup kalian sudah bubar baik-baik, dan itu membuatku sangat lega…”

“Ya,” sahutku, merasa lebih antusias. “Dengan uang yang kami bagikan―Do Bin menyebutnya pensiun―mereka setuju untuk mencoba cara hidup yang lebih baik…”

“Dan Yeom Jong… dia yang mengacaukan segalanya?” tanya Nam Gil dengan senyuman simpatik. Aku tidak dapat menahan anggukan kepalaku. Suasana hening meliputi kami.

Di kepalaku, semua tergambar sangat jelas. Kami sedang memilih undangan perkawinan.

“Yang ini lucu…” ujarku, mengangkat salah satu desain kartu berwarna pink.

“Terlalu kecewekan… yang ini saja, lebih keren…” Dok Bin mengangkat kartu berwarna keperakan.

“Tapi, kalau begitu sih… aku yang ini saja… lebih elegan!!” balasku, menyodorkan kartu berwarna keemasan.

Dok Bin tertawa dan meneliti kartu-kartu itu lagi. Lalu, tiba-tiba… pria itu masuk. Tatapan marahnya terlihat mengerikan. Matanya berkilat, dipenuhi dendam.

“Mau apa kau ke sini!!” seru kami berdua, terkejut.

“Hai Ri Chan…” ia kembali tersenyum mengerikan ke arahku. Dan Do Bin secepat kilat menarik tanganku, menyuruhku berlindung di belakangnya. “Dan Do Bin, kuharap kau tidak lupa, wakilmu itu, Kim Nam Gil dan Sung Pil sungguh merepotkanku di Rusia…”

“Semua akan baik-baik saja kalau kau tidak pernah muncul di Rusia, di Korea, atau di manapun! Kau membuat Sung Pil terbunuh!!”

“Oh, ya, ya…” ia tersenyum sambil merogoh saku celana panjangnya. “Aku tahu, adiknya yang manis itu pasti sedih, bukan? Dan kurasa, sebentar lagi Ri Chan juga akan merasakannya!!”

“Jangan!!!” pekikku sambil mendorong Dok Bin begitu Yeom Jong mengangkat pistolnya. Lenganku terasa panas. Rupanya peluru itu menyerempet lengan bajuku.

“Ri Chan!!” seru Dok Bin kaget. “Brengsek kau!!” ia menatap marah ke Yeom Jong yang tampak kaget melihat lenganku berdarah.

“Berikutnya kau!!!” sru Yeom Jong. Ia menarik pelatuknya dan detik itu juga jantungku nyaris lepas melihat Dok Bin terkapar di lantai sambil berguling-guling memegang perut dan bahunya.

“Polisi!!” seruku panik. Tanganku gemetaran saat menghubungi nomor polisi. Dan ambulans.

Yeom Jong melangkah dengan tenang keluar ruangan. “Sayang sekali kau miliknya, Ri Chan… padahal aku menyukaimu…”

“Kau pembunuh!” seruku. Air mata merembes dari mataku. “Kalau Dok Bin mati, aku bersumpah, tanganku ini yang akan membunuhmu!!”

“Coba saja, silahkan! HAHAHAHAHA…” tawanya bergema di seluruh ruangan. Sebelum benar-benar pergi, ia menambahkan. “Aku benar-benar tertarik pada wanita yang berani…”



“Dia biadab sekali…” komentar Nam Gil saat kejadian itu kuceritakan. Pagi itu, saat menghampiri rumahnya, aku hanya bisa menceritakan garis besarnya. Apalagi ada orangtua dan adiknya di sana. Mana bisa aku mengatakan semuanya.

“Benar, dan untungnya Dok Bin tidak apa-apa…” tanganku terasa gemetar saat menyisiri rambutku. “Dan bahunya juga… Dan ia juga tidak akan cacat…”

“Tentang Yeom Jong… aku rasa dia sangat malang. Sendirian dan tidak ada orang yang benar-benar ia percaya… Kau tahu sebabnya?”

Aku mengangguk sekali. “Dok Bin pernah cerita… keluarga pria itu kacau. Dan ia tinggal bersama pamannya, Seo Bum Shik, pria yang suka memakai kekerasan…” aku bergidik sedikit saat mengingat cerita Do Bin.

“Tidak heran wataknya seperti itu…” ujar Nam Gil sambil geleng-geleng kepala. “Kau ada rencana, Ri Chan?”

“Belum ada,” sahutku pendek. “Akan kucoba memikirkannya…” Ada begitu banyak pikiran di otakku saat ini.


─Baek Do Bin, Seoul, 25 Desember 2008─

Kalimat pertama yang kudengar begitu mataku terbuka, adalah, “Syukurlah kau sudah sadar, Do Bin…” Dan kegiatan pertamaku adalah tersenyum.



“Merry Christmas…” Ri Chan tertawa sambil menyuapkan sepotong biscuit ke dalam mulutku. “Hadiah natal dariku, kue kering buatanku sendiri…” ujarnya sambil tersenyum dan menyuapkan sepotong lagi.

“Enak,” gumamku sambil terus mengunyah. “Agak kurang manis, tetapi enak…”

“Hu… katanya nggak suka manis… dibikinin malah dibilang kurang manis… Ya sudah, untukku saja…” ia memasukkan sepotong ke mulutnya. Cepat-cepat kuambil bungkusan di tangannya.

“Hei!! Ini kan kado natalku… Untukku ya berarti untukku… Kenapa kau memakannya, kan jatahku jadi berkurang,” protesku sambil mendekap bungkusan itu dalam pelukanku. “Kau tidak pulang? Orangtuamu mungkin menantimu di rumah…”

“Ya, tapi ada seorang pria besar yang kesepian kalau kutinggal sendiri. Lagipula, Papa punya Mama yang menemani. Kau?”

Senyum mengembang di pipiku. “Karena sikapmu manis, aku berikan satu potong…” ujarku sambil menyuapkan sepotong ke mulutnya. Kami tertawa bersama sambil memakannya.

“Hm…. Do Bin, tentang pernikahan.. lebih baik kita mengundurnya, bukan?” tanyanya ragu. Aku memandangnya bingung. “Kebetulan, aku ada sesuatu yang harus diurus…” ujarnya, tampak gugup.

“Ya, aku tahu, kita harus benar-benar siap, bukan?” tanyaku.

“Dan besok, aku tidak bisa datang…”

“Oke, tidak masalah…” Tetapi, entah bagaimana, aku tidak bisa menyembunyikan rasa kecewaku. Apakah ia kecewa karena aku harus dirawat lama di rumah sakit ini?

Malam itu, sesudah Ri Chan pulang, aku menemui dokter dan menanyakan beberapa hal mengenai kemungkinan pulang lebih cepat. Di luar dugaan, dokter menyetujuinya!!


─Park Ri Chan, Seoul, 2008─

“Ada angin apa ini? Bisa-bisanya tunangan Do Bin mengajakku bertemu…” tawa mengejek mengembang di sudut bibirnya.

“Aku ingin bicara empat mata denganmu…” ujarku, berusaha tampak tenang. “Di kafe itu saja…”

“Oke, tidak masalah…” ia merangkulkan lengannya ke pundakku.

“Lepaskan tanganmu,” ujarku memperingatkan. Ia patuh dan membukakan pintu untukku.

“Apa yang mau kau tanyakan?” pria itu, Seo Bum Shik mulai menghisap rokoknya. “Silakan, tanya saja…”

“Apa kau tidak bisa mengurus keponakan sendiri?” aku memesan secangkir teh pada pelayan. “Bagaimana bisa dia mencoba membunuh calon suamiku?”

“Sejak kecil tingkahnya memang demikian. Kalau tidak mendapat apa yang diinginkannya, ia akan menggunakan segala cara untuk mendapatkannya. Bisa kutebak, kau adalah benda yang dia inginkan…” Bum Shik menyentuhkan tangannya ke atas tanganku. Aku ingin menariknya namun ia dengan kuat menekannya.

“Lepaskan…”

“Dan bisa kutebak, kau memang menarik…”

“Lepaskan!!” seruku dan tepat pada saat yang sama, sebuah pisau menancap di tangan Bum Shik.

“Anak jahanam kau!!” maki Bum Shik saat melihat Yeom Jong melangkah masuk dan menarikku. Kutepis tangannya tetapi gagal. “Sudah kukatakan, jangan muncul lagi di hadapanku! Kita tidak punya hubungan apapun!!” seru Bum Shik sambil mengerang dan menahan darahnya dengan serbet meja.

“Tapi wanita ini akan menjadi milikku. Cepat atau lambat. Dan kau menyakitinya,. Tidak mungkin aku diam saja…” suaranya terdengar bengis saat bicara. Bum Shik pergi keluar kafe dengan marah, sementara Yeom Jong masih saja memegang lenganku, menahanku tetap di tempat.

“Lepaskan!” makiku padanya. Ia tetap tidak bergeming. “Baik, terimakasih karena menolongku tapi aku tidak pernah minta ditolong oleh pria yang kubenci…”

“Sama-sama…” sahutnya sambil melepaskan tanganku. Dengan kesal, kuletakkan sejumlah uang di meja untuk membayar kafe itu. Dan kemudian, secepat mungkin, aku berlari meninggalkan tempat itu, sebelum akhirnya bertabrakan dengan seseorang.

“Do Bin!!” seruku, terkejut sampai nyaris mau pingsan.

“Dia melindungimu,” seulas senyum mengejek muncul di bibir Do Bin. “Kurasa aku benar-benar salah… atau kacau… Maaf, Ri Chan… sementara kita jangan bertemu dulu..” suara Do Bin sedingin siraman air es di kepalaku. Apakah hubungan kami harus berakhir seperti ini?


─Baek Do Bin, Seoul, 25 Desember 2008─

“Nam Gil, aku minta kau Bantu aku mengawasi Ri Chan…”

“Do Bin…” wajah Nam Gil terlihat serba salah.

Tugasnya sudah double, menjaga pacarnya dan menjaga adiknya Sung Pil. Dan kini kalau kutambahkan lagi, artinya tugasnya triple. Kurasa ia tidak akan sanggup.

“Baiklah, aku tidak akan memintamu…”

“Aku akan berusaha membantu. Tapi, kau tahu, tidak bisa 100 persen percaya padaku… Aku tidak bisa selalu di sampingnya… Kau lebih pantas menjaganya…”

“Aku masih seperti pria cacat, Nam Gil.” Kugerakkan tanganku dengan susah payah. “Dan melihat Yeom Jong yang ternyata melindunginya, aku makin membenci diriku sendiri…”

“Tapi, Ri Chan membutuhkanmu…”

“Seperti aku membutuhkannya…”

“Do Bin, kita perlu menyusun rencana untuk menjebak Yeom Jong…” tanganku kukibaskan pelan dan Nam Gil terdiam memandangku. “Kau sudah punya rencana, rupanya?”

“Tidak sulit,” jawabku enteng. “Kau hanya perlu ini…” tanganku kuketukkan pelan di kepalaku. “Dan uang plus koneksi, dan voila, kau dapat informasi!!”

“Perlu menghubungi polisi?”

“Sudah kulakukan,” jawabku. “Di saat orang lain bisa menggerakkan tangannya bebas, aku perlu mencari cara lain unttuk membuat Ri Chan terkesan padaku…” akuku jujur.

“Baiklah, jadi apa rencanamu?”

“Tiga hari lagi, Yeom Jong akan menyelundupkan narkoba dan minuman keras lewat tiga pelabuhan terpisah di Korea. Aku sudah menghubungi polisi dan mereka akan menangkapnya… Kurasa ia tidak bisa kabur lagi sekarang…”

“Pria yang menyedihkan… Tempat iti dikelilingi karang besar dengan ombak tinggi. Sulit untuk lari hidup-hidup…”

“Ya, sangat sulit…”

“Dan… tentang Ri Chan, kurasa aku berubah pikiran,” ujar Nam Gil tiba-tiba. “Aku tidak bisa menemaninya. Jadi bung, selamat bersenang-senang…” bersamaan dengan tepukan ringannya di bahuku, Nam Gil berlalu dan pergi.

Aku tidak dapat menahan senyumku. Nam Gil tidak pernah kalah cermat dariku. Kuambil surat beramplop perak dari meja dan membacanya pelan. Kapan Nam Gil melihatnya? Dasar sialan…


─Park Ri Chan, Seoul, 2008─

Akhir tahun adalah saat yang paling menyenangkan untuk pesta. Seharusnya, tentu saja. Dan sekarang, tanpa pria di sampingku, aku tidak merasa nyaman.

Rencana semula, pesta ini akan digunakan oleh Do Bin untuk mengumumkan hubungan kami ke semua relasi bisnis keluarga kami. Tetapi semuanya gagal dan hancur sekarang. menyebalkan sekali.

“Sampanye, nona?” dengan senyuman kutolak tawaran pelayan itu.

“Mungkin sebaiknya aku pulang saja,” pikirku kesal. Dan lagi-lagi, seorang wanita tidak sengaja menyenggolku sehingga nyaris saja aku jatuh kalau saja tidak berhasil meraih pinggiran meja itu.

“Wow, terimakasih…” pikirku malu saat sepatuku lagi-lagi terlepas tidak jauh dariku. Memang menyebalkan kalau memakai sepatu tanpa sling atau sangkutan… rasanya gampang sekali lepas. Dulu pun… pernah kejadian seperti ini… Dan…sekarang D Bin… tunggu, bukankah itu adalah…

Kurasakan nafasku naik turun tidak terkendali.

“Hello again Cinderella…” ujar Do Bin sambil mengambil sepatuku dan memakaikannya.

Beberapa orang berhenti berdansa dan menatap kami sambil berbisik-bisik. Bahkan MC datang dan mendekati kami sambil mengucapkan sepatah dua patah humor segar.

“Jadi, apa Anda akan berdansa dengan Cinderella?” goda MC sambil tersenyum.

Do Bin mengulurkan tangannya dan mengajakku berdansa pelan-pelan. Tanganku berada di atas bahunya, semuanya seperti mimpi.

“Bahumu tidak sakit lagi?” tanyaku kaget. Do Bin tersenyum sambil menuntunku berdansa. Musik masih mengalun, dan kini hanya kami yang berdansa di tengah ruangan.

“Kau cantik malam ini…” ujarnya kagum. “Bukan berarti malam sebelumnya tidak cantik. Hanya saja, hari ini kau lebih cantik dari biasanya…”

“Terimakasih,” suaraku terasa bergetar di tenggorokanku. “Aku sudah lama sekali tidak melihatmu…”

“Maaf, kalau cemburu, tindakanku sering kekanakan…” ia tersenyum mengakui. Kami berhenti berdansa. “Ayo kita ambil minum,” ajaknya.

“Tunggu, aduh…” ujarku, kesal. Do Bin menatap kakiku dan tertawa. Ia membungkuk lalu membantuku memasang sepatuku dengan benar. Dan detik itu, kulihat ia memakaikan gelang kakiku kembali.

“Do Bin…”

“Aku mengembalikannya…”

“Jadi, hubungan kita benar-benar sudah selesai?” tanyaku dengan mata nanar.

Do Bin menatapku bingung dan tertawa keras. Akhirnya, ia kembali berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. “Maukah kau menikah denganku, Cinderella?”

Air mata merembes keluar begitu saja. Dalam satu tarikan nafas, aku sudah melompat dan menghambur dalam pelukannya. “Ya, aku mau!!” seruku sambil menangis di bahunya. Do Bin menarikku dalam pelukannya dan menciumku.

Sebuah kalimat klasik melintas di kepalaku. Pangeran menikahi Cinderella, dan mereka hidup bahagia, selamanya. Apakah… kami juga akan mengalaminya? Ya!! Kurasa, ya!!!

-selesai-