Tampilkan postingan dengan label fanfic love so tragic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfic love so tragic. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Maret 2013

Fanfic Love so Tragic 3

-------------------------------------------------------------------------------------------------
LOVE SO TRAGIC
Chapter 3
CAST:
HYUN GI
KEY
-------------------------------------------------------------------------------------------------

-Key, Seoul, 2010-

“Bagaimana malam pertama kalian?” Tanya Mamaku sambil tersenyum manis di pintu dapur, membawakan sekantong makanan untuk kami.

”Hebat,” jawab Hyun Gi sambil bergerak menyentuh lenganku, membuatku bersalah karena semalam sudah melukainya. ”Terimakasih, Ma...” jawab Hyun Gi sambil tertawa melihat Mamaku membawakan begitu banyak makanan untuk kami.

”Tanganmu kok terluka begitu, Hyun Gi?” tanya Mamaku sambil menatap lengan Hyun Gi yang ditutup plester putih.

”Ah, aku terjatuh, Ma...” jawabnya sambil tersenyum manis.

”Aku naik ke atas dulu...” ujarku, tba-tiba merasa keberadaanku tidak diinginkan di sana.

”Jangan lupa turun makan, Key!!” seru Mama dari bawah tangga.

Perasaan rendah diri mulai memenuhi diriku. Aku mencintai Hyun Gi. Tetapi aku juga tidak kuasa mengekang perasaan itu. Kenapa?



-Hyun Gi, Seoul, 2010-

”Kau tidak mau menyentuhku? Kenapa?”

”Aku tidak mau melukaimu lagi...” ujar Key dengan suara dingin.

”Tidak kok...” kususupkan lenganku ke lengannya.

Ia menoleh dengan wajah putus asa, setengah mengerang, ia berujar. ”Hentikan! Jangan memaksaku!!”

Tetapi, aku tidak bisa menahan diriku lagi. Kepalaku kutengadahkan dan meraih bibirnya. Key terkesiap kaget, namun ia tidak menghindar. Ia menerima ciumanku dengan lembut. Dan semakin lama, ciuman kami semakin intens dan menantang. Key memainkan lidahnya dengan liar, memagut bibirku dan menggigit bibir bawahku.

”Ah!!” tak urung seruan kaget terdengar keluar dari bibirku. Posisi kami sudah berpindah ke ranjang. Dan suasana sudah sangat tepat untuk malam kedua kami. Tetapi, setetes darah muncul dari bibirku yang digigit terlalu keras oleh Key.

”Kau lihat? Aku melakukannya...” sebelum ia selesai bicara, aku menahan bibirnya dengan telunjukku, dan menunjukkan senyumanku yang terbaik. Key menatapku ragu sebelum akhirnya memaksakan senyuman di bibirnya. ”Baiklah, lupakan ciuman itu...” ia menarikku dan kami melakukan malam kedua kami.


”Tanganmu kenapa lagi, Hyun Gi?” tanya tetanggaku, seorang Ibu muda yang sedikit lebih dewasa dariku.

”Kena cakar kucing, biasa....” jawabku sambil tertawa. ”Soalnya aku selalu saja tidak tahan ingin menyentuh mereka...”

”Wah, kau harus hati-hati Hyun Gi...” ujar tetanggaku ramah. Ia pun meneruskan kegiatannya menyapu halaman rumahnya.

Tanganku sekarang dipenuhi goresan-goresan panjang bekas cakaran. Tidak mungkin kalau kukatakan pada orang lain, itu perbuatan suamiku sendiri. Hadiah kenangan dari malam-malam indah kami.

Key selalu melakukan segalanya dengan lembut. pada permulaan, bahkan ia sangat berhati-hati. Namun menjelang puncak, ia semakin ganas dan liar. Tahu-tahu ia sudah menjambakku keras atau mencakar tangan atau pahaku. Akhir-akhir ini aku bahkan tidak pernah lagi mengenakan rok pendek.



-Key, Seoul, 2010-

”Kita ke dokter, ya, Key?” bujuk Hyun Gi pada suatu malam.

”Kau mengira aku sakit jiwa, kan?” tanyaku, merasakan keperihan di hatiku.

Semakin terhanyut dalam ’permainan’, otakku semakin jauh dari kendaliku. Dan lagi, beberapa goresan kutinggalkan di tubuh istriku.

”Aku hanya ingin memastikan... mungkin kau bisa menemui psikolog...” Hyun Gi meremas rok gaun tidurnya dengan cemas.

Aku memalingkan wajah, tidak berani melihat kaki Hyun Gi. Sebelumnya pahanya begitu mulus dan indah. Kini beberapa bekas luka dan memar ada di sana. Hasil perbuatanku, hasil tanganku ini! Tangan terkutuk ini!

“Kalau memang aku gila... kau harus membunuhku, Hyun Gi...” ujarku, setengah mati mencerna kata-kataku sendiri. “Aku, tidak bisa berpisah darimu...”

“Aku tahu itu... aku tahu itu...” Hyun Gi memelukku dan menepuk punggungku. Aku menunduk dan menyusupkan kepalaku di dadanya, merasakan sebagian bebanku terangkat. ”Kau tidak sakit... maafkan aku...”

”Bagaimana kalau... kita menghentikan semuanya saja... aku mungkin lebih baik tidak menyentuhmu... untuk beberapa lama...”

”Key...” Hyun Gi menahan tanganku dan menggeleng. Ia memeluk pinggangku dari belakang, membangkitkan debaran jantunku lagi.

Selalu sama. Aku selalu saja mencintainya. Dan di satu sisi, ada perasaan liar dalam diriku. Seperti monster. Monster yang jatuh cinta tanpa tahu bagaimana cara menghapus monster itu sendiri. Kalau memang demikian, apa yang harus kulakukan?


-Hyun Gi, Seoul, 2010-

“Key? Ayo makan….” Panggilku sambil memeluk pundaknya dari belakang. Ia baru saja mandi setelah pulang kantor. Aroma sabun di tubuhnya terasa menyenangkan.

Key tersenyum dan menangkap tanganku. ia membalas pelukanku dengan menggelitik leher dan pinggangku, mempererat pelukan kami. Akhirnya aku terdesak di dinding, dan di sana Key menciumiku dengan berani berkali-kali.

”Key, sudah yuk, saatnya makan…” ujarku berusaha melepaskan diri dengan nafas terengah-engah dalam pelukannya.

Tetapi Key tidak menghentikan ciumannya. Ia semakin ganas, atau mungkin disebut… buas? Key menarik rambutku dan membenturkan kepalaku ke dinding, memaksaku tetap berada di posisiku untuk membalas ciumannya.

“Key… hentikan…” seruku dengan nafas sesak.

Key tidak juga mengendurkan pelukannya. Ia menarikku lebih dalam, dan ketika menghindar, ia membenturkan kepalaku lagi, dan ciumannya begitu mendesakku.

”Key!!” seruku, akhirnya merasa putus asa. Tanganku bergerak menampar pipinya, berusaha menyadarkannya.

Key memandangku dengan gusar. ”Aku… apa yang...” ia menyentuh kepalanya dan mengerang pedih. ”Kenapa... harus begini? Kenapa aku harus terus menyakitimu baru aku merasa puas?!” ia mengerang dan berjongkok sambil memegang kepolanya.

”Key? Kau tidak apa-apa, kan? Maaf aku menamparmu...” aku berusaha memeluknya tetapi ia memberontak dan menggeliat dalam pelukanku.

”Cukup! Cukup! Cukup sudah!” ia meninju tembok berulang-ulang sampai tinjunya berdarah. “CUKUP, HYUN GI, CUKUP!! AKU SUDAH MUAK DENGAN DIRIKU SENDIRI!!!”

“Key, tunggu!! Apa yang kau maksud?” tanyaku, panik dan berusaha menangkap pergelangan tangannya.

Ia menepis tanganku dan memandangku dingin. ”Aku akan menginap di luar malam ini…” dan ia membanting pintunya tepat di depan mataku.




“Sudah ada kabar dari Key?” Tanya Mama Key dengan gelisah.

”Belum...” jawabku, tidak kalah gusar darinya.

Key sudah menghilang seminggu. Tidak ke kantor, tidak ke rumah temannya, tidak ke rumah saudaranya atau siapapun. Sama sekali tidak ada yang dikontak olehnya. Sebenarnya kenapa?

“Karena aku…” tangisku mulai pecah. ”Pasti karena aku...”

”Sssh... sudahlah Hyun Gi...” Mama Key dan Mamaku bergerak memelukku. Aku sudah menceritakan semuanya pada mereka. Soal luka-luka di tangan dan pahaku, sumber penyebab perasaan frustasi Key.

”KRINGGG!!!”

”Biar kuangkat!!” seruku sambil berlari mengangkat telepon itu.

”Dengan Keluarga Tuan Key?” Tanya suara dari seberang.

“Benar... Ada apa ya?” tanyaku bingung, jelas-jelas tidak mengenal suara itu. Entah darimana sebuah firasat buruk menggema di dadaku.

”Anda Nona Hyun Gi?” tanya suara itu lagi.

“Ya,” jawabku, merasa mulai tidak yakin. Memang ada yang tidak beres di sini. ”Kenapa?”

”Ini polisi... Ehm... kami ingin meminta Anda datang ke Grand Hilton Seoul Hotel, ada hal yang harus Anda ketahui tentang suami Anda...”

“Key? Kenapa? Ada apa dengannya!?” seruku. Mamaku dan Mama Key otomatis bergerak menghampiriku ke telepon.

”Dia ditemukan tewas bunuh diri....”

Secepat itu pula duniaku menggelap di depanku. Semua hitam dan berputar. Suara Mama terdengar jauh di telingaku, memanggil namaku.


Secarik surat terakhir kali dari Key kubaca keseratus kalinya hari itu. Tulisan tangan yang tegas dan jelas, sangat khas Key. Surat itu hanya berisi cincin kawin kami dan sebuah puisi yang ditulisnya sebelum ia mengakhiri hidupnya dengan mengiris pergelangan nadinya.

Ia meninggal di kamar hotel itu, meninggal dalam keadaan tersiksa, ditemani sebuah lagu yang diputar berulang-ulang mengiringi kematiannya.
           

This painful love story has turned my entire heart cold
I sigh at this hetic love again
The rest of my breath recedes and fades away

Girl meets boy and a painful love now begins
An indescribable love echoes and love starts again from the beginning

I loved you and
I wanted you
I looked for you
So even if you hate me
My heart cries
because it wants to say more
Sadness makes another day pass by

I'm selfish for having only loving memories of you
Now, I feel a little confused
You don’t know that you’re my only
I only look at you

That love starts again from the beginning
You don’t know me nor the love I feel for you

A painful love begins again
I can't hold back the feelings that appear whenever I meet you

I hate saying goodbye
Like a fool , I couldn’t cling on to you and stop you from leaving
By saying 'I love you'

I love you, I want to see you

(I still don't know)
I don’t know love
I don’t know goodbyes
I still don’t understand
I know that my heart wants you
Oh, my girl! Oh, my love!

There’s a cloud as pure as snow
Just knowing that we can see it together makes it beautiful
The day the cloud turns into rain, we'll no longer see it
Knowing that we really can’t avoid it, my heart stings

From thoughts of you, I cry out inside myself, “I like you”
The echoes hit back “No way”
Without you, my feelings are down
I still believe that you’ll come back

I fell so deep in love with such a girl like you
Don’t think of me as just a boy
Like a man, I want to be your lover, your love

That love starts again from the beginning
You don’t know me nor the love I feel for you

A painful love begins again
I can't hold back the feelings that appear whenever I meet you

I hate saying goodbye
Like a fool , I couldn’t cling on to you and stop you from leaving
By saying 'I love you'

I love you, I want to see you

Now I’ll say that I love you
I’ll make myself love you
We met through much difficulty
Even when you waited for me, I couldn’t grasp for you
Now my image fades away

That love starts again from the beginning
You don’t know me nor the love I feel for you

A painful love begins again
I can't hold back the feelings that appear whenever I meet you

I hate saying goodbye
Like a fool , I couldn’t cling on to you and stop you from leaving
By saying 'I love you'
I love you, I want to see you

This painful love story has turned my entire heart cold
I sigh at this hetic love again
The rest of my breath recedes and fades away

Girl meets boy and a painful love now begins
An indescribable love echoes and love starts again from the beginning
She has a lot of things she wants to say
But it doesn’t look like they’ll get across
Heartache, heartache, heartache

“Will you approach me? Lean against me?”
I stop worrying
Throw away the lingering feelings, erase them, they sting

P.S. I want to hear her voice one last time


Aku bergerak menatap jenasah Key yang terlihat tampan dalam peti matinya, dalam balutan tuxedo hitam yang membuatnya terlihat gagah. Ia terlihat seolah hanya tidur pulas, dan semuanya terlihat baik-baik saja kecuali wajahnya yang sangat pucat.

Cincin kawinnya terasa dingin dalam genggamanku. Pelan kumasukkan cincin itu ke jemarinya, tempat seharusnya ia berada.

“Aku mencintaimu, Key…” tangisku meledak seketika. Tanganku menutup mulutku dan bahuku berguncang sakit saat mengingat semua kenangan indah yang ada dulu.

Samar-samar sebuah kutipan lagu yang diputar Key dalam kematiannya bergaung berulang-ulang di kepalaku, membuat tangisku semakin dalam.


It’s not easy for me like my farewell greeting
My heart won’t become mine to control
I guess I’ll have to make an indefinite decision to forget you
So I can bear with it all

The ring I placed on your finger
Returns to my hand cold (I can’t let you go)
I received my heart back in return
My LAST GIFT
Is this separation…

Was it yesterday when things started going to amiss?
Where did it all go wrong exactly?
My heart can’t let you go…
Is it really the end?

You’re my one last love




TAMAT


Key’s letter was Translation of Shinee Song, titled: Boy Meets Girl (romeo Juliette)
Last song that Key used before he died: from Shinee song, titled: Last Gif

Fanfic Love So Tragic 2

-------------------------------------------------------------------------------------------------
LOVE SO TRAGIC
Chapter 2
CAST:
HYUN GI
KEY
-------------------------------------------------------------------------------------------------

-Hyun Gi, Seoul, 2010-

“Bagaimana, ehm, Tante?”

Dengan malu-malu aku melangkah keluar dari balik gorden fitting room. Mamanya Key menatapku dengan seksama, di sebelahnya, Mamaku tersenyum memandangku sambil mengatupkan kedua tangannya.

“Sangat bagus,” ujar keduanya sambil tersenyum puas.

Key baru saja lulus kuliah minggu lalu dan mendapat jabatan sebagai manajer di perusahaan Papanya. Dan malam itu, setelah menerima gaji pertamanya, ia mengajakku makan di Restoran Perancis yang sudah lama kuidamkan.



“Suasananya bagus sekali, ya?” ujarku sambil mengunyah caviar yang dihidangkan pelayan.

Key tersenyum dan meletakkan gelas di bibirnya. “Bersulang untuk malam yang indah…” tukasnya.

Tak lama, musik mengalun dan sesaat kemudian terdengar pengumuman dari speaker yang terdapat di tengah ruangan. “Berikutnya adalah persembahan lagu dari Tuan Key…”

Aku menatap Key dengan wajah melongo, kaget, “Mereka nggak salah menyebut namamu?” tanyaku sambil terbatuk beberapa kali karena makananku menyangkut di tenggorokan.

“Nggak kok, nggak salah…” jawab Key sambil tersenyum dan menyerahkan minuman ke tanganku. “Hyun Gi, lihat aku baik-baik, oke?”

Tidak ada yang mampu kujawab selain anggukan. Key melambai padaku dari panggung, membuat wajahku memerah. “Lagu ini saya persembahkan untuk Hyun Gi, tunangan saya, selamat malam semuanya, dan selamat menikmati…”

don’t want a love that will evaporate away like soap bubbles
A love that will be felt without words,
That is the love I want
When you are with me,
You can’t ride in golden carriages even in your dreams
But while you are still with me
I can make you smile


Love’s way!
Love’s way!
You’re my true love

Key menutup lagunya dengan senyuman. “AKu ingin menikah denganmu, Hyun Gi, jadilah istriku…”

“Ya,” bisikku. Tidak yakin, apakah ia mampu mendengarnya.

Bersamaan dengan akhir jawabanku, gemuruh tepuk tangan membahana di seluruh ruangan itu. Key berjalan ke meja dan memelukku. Air mata masih menetes di pipiku ketika kami berciuman panjang di depan semua yang berada di sana.



“Bagian pinggangnya sudah oke, kan, Hyun Gi?” tanya calon mertuaku. Aku mengangguk dan ia menanggapinya dengan senyuman puas. “Oke. Kita ambil gaun yang ini…”

-Key, Seoul, 2010-

Kalau ini adalah mimpi, maka aku tidak ingin terbangun, sungguh!

Hyun Gi berdiri di sampingku, tampak cantik dalam balutan gaun pengantinnya. Wajahnya secerah malaikat, tidak pernah berhenti tersenyum. Dan air matanya saat menangis mengucapkan sumpah setia terlihat sangat cantik.

“Selamanya,” bisik kami sambil tersenyum. Keseluruhan acara terasa sangat panjang.. pemotongan kue pengantin, saling menyuapkan, dan wedding kiss, lalu… pelemparan buket, acara foto-foto, dan… akhirnya mobil pengantin mengantarkan kami ke hotel.

“Jadi, um…” Hyun Gi memandangku malu. “Siapa yang akan mandi lebih dulu?” tanyanya, malu.

Aku tidak bisa menahan rasa gugup dalam suaraku. “Aku duluan…” ujarku, tidak tahan untuk melepaskan pandangan dari wajahnya.

“Tenanglah Key,” batinku berulang-ulang. “Kalau kau tidak tenang, semuanya justru tambah hancur…” tapi jantungku tetap berdebam kencang di tempatnya. Acara mandi kulakukan dengan perasaan tidak menentu. Bahkan rasanya pikiranku tidak ada di tempatnya.

“Giliranku,” ujar Hyun Gi sambil melangkah masuk. Ia sudah melepaskan gaun pengantinnya dan menyampirkannya di sofa terdekat. Selama Hyun Gi mandi, aku tidak bisa mengenyahkan pikiran aneh yang berkecamuk di kepalaku.

“Um… Key?” panggil Hyun Gi pelan. Aku menoleh memandangnya dan tiba-tiba kehilangan kemampuan bernafasku. Hyun Gi mengenakan baju handuk dan menatapku resah dengan kedua matanya.

“Duduklah,” suaraku terdengar kering di tenggorokan. Hyun Gi duduk di sampingku. Kami berdua, sama-sama merasa malu, duduk di sisi tempat tidur. “Hahaha.. rasanya aneh sekali…” tawaku malah terdengar sangat kikuk.

“Ya…” sahut Hyun Gi. “Rasanya wajahku panas sekali…” ia manepukkan tangannya di pipi.

Jantungku berdetak semakin kencang. Sebelum menyadari apa yang kulakukan, tanganku sudah meremas tangannya kuat-kuat. Dan oelan, kami menggeser duduk. Aku menciumnya perlahan, tidak bermaksud membuatnya semakin gugup.

“Key…”

Hyun Gi kehilangan nafas, dan ciuman kami semakin memabukkan. Bibirku bergerak dan menekan bibirnya, bisa kurasakan desahan nafasnya di depanku, membuat ciuman kami semakin menuntut dan bergairah.

Aku memiringkan wajahku dan mengulum lalu menggigit bibir bawah Hyun Gi, menanti reaksinya dan meraih tengkuknya, merapatkan posisi tubuh kami. Ia menggeliat dan mengikuti gerakanku. Tangannya yang menyentuh punggungku membuat debaran jantungku semakin keras. Aku menginginkannya, dan dia istriku. Tanganku meraih simpul di baju handuknya dan ia juga melepaskan simpul di bajuku.

“Key,” Hyun Gi memandangku malu saat mataku tidak lepas dari tubuhnya. “Jangan memandangku seperti itu…” ujarnya, kalut.

Seulas senyuman membekas di bibirku, menyuarakan kejujuranku. “Karena kau sangat cantik,” ujarku, meraihnya dalam pelukanku.

Kutelusuri lekuk tubuhnya dengan tanganku, dan Hyun Gi mengelinjang geli merasakan sentuhanku di daerah sensitif miliknya. Lidahku bermain di tenggorokannya, dan ia membalas dengan berani.

“Kau… sangat… cantik…” suaraku terdengar parau saat bibirku menyentuh lehernya, dan melanjutkan permainan kami. Nafasku beradu dengan nafasnya dan tanganku semakin kuat mencengkeram pinggangnya. Kepalaku semakin terasa berat di tempatnya. Dan gerakanku semakin tidak terkendali.

“Key!!” seru Hyun Gi tiba-tiba. Aku terperangah kaget. Tetesan darah membekas di seprai putih itu. Dan bukan hanya berasal dari selangkangan Hyun Gi, tetapi juga dari tangannya.

“Hyun Gi, maaf, aku…” aku kehabisan kata-kata, terkejut melihat di tangannya yang putih terdapat goresan cakaran panjang dari kukuku.

Apa yang kulakukan!? Kapan aku melakukannya? Kapan aku… mencakarnya? Kepalaku terasa sakit dan bagai dihantam keras. Ini mimpi buruk! Aku telah menyakiti istriku di malam pertamanya!!!


-to be continued-

Fanfiction Love so Tragic-1

------------------------------------------------------------------------------------------------- LOVE SO TRAGIC Chapter 1 CAST: HYUN GI KEY ------------------------------------------------------------------------------------------------- Hyun Gi, Seoul, 2004 “Anak baru jangan sok! Kalau senior meminta, sudah sewajarnya kalau kamu memberikannya, tahu!!” bentak mereka sambil melemparkan sebelah sepatu mereka ke kepalaku. Aku menunduk dan menatap tanah. Udara hangat. Tanah yang terasa nyaman. Seharusnya hari ini jadi hari upacara penerimaan murid baru yang menyenangkan. Tapi, masa pada hari pertama saja para senior itu meminta paksa dasiku karena mereka lupa membawanya? Dan sepatuku? Karena sepatu mereka rusak? ”Huuh... senior yang nggak tahu diri...” makiku dalam hati. Dengan enggan aku berdiri dan membersihkan debu yang menempel di rok dan kepalaku. Tanpa dasi, bisa berarti ada hukuman tambahan. Mungkin sebaiknya aku pulang saja.... “Di sana bukan arah ke aula,” ujar seorang cowok. “Aku memang tidak mau ke sana…” jawabku, berusaha mengacuhkannya. “Hei, gerbang sekolah sudah ditutup loh…” panggilnya lagi. Aku terus berjalan tanpa memedulikannya. “Kau pakai saja ini…” ujarnya tiba-tiba, mengulurkan sebuah dasi padaku. Aku memandangnya dengan terkejut. Ia sangat tampan. Dan tinggi. Tipikal cowok popular. Tipikal orang yang tidak seharusnya mengacuhkanku. “Ini kan dasi pria?” tanpa sadar aku tertawa sambil menangis. Ia maju dan memakaikan dasi itu. ”Aku juga pernah mengalami hal yang sama...” ujarnya sambil membuat simpul di leherku, mengeluarkan gunting lalu menggunting ujungnya supaya sama seperti model dasi wanita. ”Sejak saat itu, aku selalu membawa dua dasi...” ”Terimakasih...” ujarku, menahan rasa sesak didadaku. Aku tidak mengenalnya. Ia tidak mengenalku, namun ia sangat baik padaku. ”Bukan apa-apa,” jawabnya. Senyumannya membuat air mataku turun semakin deras. Itulah awal pertemuanku dengan Key. ------------- Seoul, 2007 Musim semi. Acara kelulusan anak kelas tiga. Halaman belakang sekolah, tempat terbaik untuk menyatakan cinta. Seorang anak perempuan berdiri membelakangiku, menghadap Key dengan kepala tertunduk. ”Maaf...” ujar Key pelan. Dan kemudian, anak itu berlari, setengah menangis. ”Kau menolaknya lagi?” godaku sambil tersenyum. Entah berapa perempuan yang ia tolak. Dan mungkin, aku akan masuk dalam daftarnya. Daftar penolakan. Karena itulah, aku tidak pernah mengungkapkannya. ”Kau mengintip lagi?” balasnya sambil tersenyum sinis. ”Hanya kebetulan lewat kok, ya sudah, aku pergi ya...” jawabku sambil berbalik dan pergi. ”Hyun Gi,” Key menangkap pergelangan tanganku. Aku terpaku di tempatku. Bahkan menatap wajahnya saja tidak berani. ”Kenapa kamu nggak pernah menyatakannya?” ”Apanya?” tanyaku, berbalik dan memandangnya, bingung. ”Itu loh...” sejenak wajahnya memerah. Ia menggosok hidungnya dengan gugup. ”Yang seperti tadi...” ”Aku pergi ya?” tanyaku. Ia menggeleng. Tanganku masih ada dalam genggamannya. ”Lepaskan dong...” ujarku dengan suara tertahan. ”Nanti ada yang lihat...” ”Kau itu memang telmi atau sengaja mempermainkanku?” ia menyentak tanganku kuat-kuat sehingga wajahku menabrak dadanya. Tunggu! Apa ini! Kenapa tiba-tiba...!? Aduh... jangan sampai dia mendengar suara debaranku yang kencang. Saking kencangnya sampai jantungku terasa diremas-remas. ”Key...” pelan-pelan kuangkat wajahku. Pandangan kami bertemu. Matanya begitu sendu. Dan ada aku... di sana.... ”Aku menyukaimu, Hyun Gi...” ujarnya sambil mendekatkan wajahnya pelan-pelan. Otomatis mataku tertutup. Aku bisa merasakan nafasnya, dan ciumannya yang membuatku mabuk. ”Jadilah... pacarku...” Hari itu, di perpisahan anak kelas tiga, kukira adalah hari dimana cintaku akan berakhir. Tetapi, ternyata aku salah. Key menyukaiku. Key membalas perasaanku. Dan lebih dari itu, aku juga menerima ciuman pertama darinya. ------- Key, Seoul, 2009 ”Maaf merepotkanmu ya...” ujarku sambil membersihkan motorku. Hyun Gi tersenyum dan memasuki pintu apartemenku dengan riang. Ia melepas sepatunya dan berjalan ke dapur, seolah itu adalah rutinitas baru baginya. ”Hari ini menunya adalah sup...” serunya senang. Aku tersenyum dan memeluknya dari belakang. ”Setiap hari memasak untukku sepulang dari sekolah, apa tidak melelahkan?” tanyaku sambil mencium aroma rambutnya yang digelung. ”Kalau aku bisa melihatmu makan dengan baik, rasanya itu lebih dari cukup,” jawabnya sambil tersenyum singkat. Semenjak kuputuskan untuk bekerja sambil kuliah, setiap hari Hyun Gi datang dan memasakkan makan malam. Kemudian, setelah kami makan bersama, aku mengantarnya pulang. Bagiku, rutinitas semacam ini sangat menyenangkan. Entah bagi Hyun Gi. ”Hari minggu besok, apa kita bisa jalan-jalan?” tanyanya sambil bersender di bahuku. Kami memakan popcorn dan memutar DVD yang baru dibeli tadi. ”Aku ingat kok,” senyumku sambil merangkul bahunya. ”Minggu adalah ulang tahunmu kan? Tidak masalah tentu saja...” jawabku sambil tertawa. Ulang tahun Hyun Gi. Hari itu, adalah hari yang akan menjadi saat paling bersejarah dalam hidup kami. Aku akan melamarnya. ”Key?” ia bergerak dalam rangkulanku. ”Kau melamun?” tanyanya sambil menatapku dan memiringkan wajah. ”Kau sakit?” tangannya bergerak menelusuri dahiku. Aku tersenyum dan menangkap tangannya lalu menciumnya. Hyun Gi selalu saja tidak tahan geli saat aku memeluknya. Dan aku menyukainya. Semuanya. ”Sekarang kita mau kemana lagi?” tanyaku. Nafasku masih terengah-engah. Dari tadi Hyun Gi mengajakku memainkan permainan yang ekstrim, dan di luar dugaan, ia terlihat sangat terbiasa memainkannya. ”Tentu saja itu!” seru Hyun Gi sambil menggandeng tanganku. ”Bianglala kan paling penting untuk seorang gadis!” serunya sambil tersenyum manis. Tanganku bergerak menelusuri kantungku. Cincinnya masih ada di sana. Kalau lancar, kalau suasananya mendukung, aku akan mengucapkannya. ”Indah sekali ya, ” Hyun Gi menempelkan kedua tangannya di kaca. Aku duduk di sampingnya, berusaha menikmati pemandangan bersamanya. Sulit sekali berkonsentrasi pada dua hal. Sialan, bianglala hampir mencapai puncak. Apa yang ingin kukatakan? ”Hyun Gi!!” ”Ya?” jawabnya sambil menatapku. Begitu banyak kalimat berputar di otakku, tapi satupun tidak terucap. Katakan! Ayo katakan Key! Bukankah kau seorang pria? Ayo, bianglalanya hampir menuju puncak!’ terburu-buru kukeluarkan cincin dari kantongku dan kuulurkan ke tangannya. ”Apakah... kau mau menikah denganku?” waks! Kenapa malah langsung to the point begitu? Rencananya kan aku mau bernyanyi sebait untuknya! Sialan, buyar semua! Ya sudah, karena sudah terlanjur! ”Eh?” Hyun Gi menatapku bingung. Merasa tidak yakin dengan pendengarannya. ”Aku... salah dengar tidak?” ”Aku... memang masih mahasiswa... belum lulus... dan pekerjaanku belum mantap... Tapi, aku ingin mengenalkanmu pada kedua orangtuaku.... Aku, ingin memilikimu seutuhnya, Hyun Gi...” ”Key...” Hyun Gi memandangku dengan kaget. Ia tampaknya sama sekali tidak menduga aku akan melamarnya. Begini tiba-tiba. ”Bianglala akan berputar sekali lagi. Dan kalau kau ingin menolakku, aku ingin kau mengucapkannya saat bianglala mencapai puncak sekali lagi....” Kami terdiam lama. Jantungku berdentam dengan gelisah sementara berbagai pransangka memenuhi otakku. Apakah menurutnya terlalu cepat? Terlalu tiba-tiba? Dan sangat...tidak romantis? Bianglala perlahan bergerak menuju puncak. Aku menahan nafas dan menatap Hyun Gi yang tidak bergerak dari tempatnya duduk. Saat bianglala tepat berada di puncak, ia maju dan memelukku. Kami berciuman. Ciuman yang panjang dan begitu hangat. Bibirku menekan bibirnya dan ia membalas dengan ciuman yang panjang dan bertubi-tubi. Aku menarik tubuhnya agar mendekat padaku. Sungguh, aku mencintai gadis ini. ”Aku mau, tentu saja aku mau!” seru Hyun Gi senang. ”Tapi, bisakah kau menunggu? Bisakah kita menikah saat kau sudah berkerja?” ”Tapi...” ”Aku akan tetap menemui orangtuamu,” senyuman Hyun Gi menghilangkan segala kecemasanku. ”Dan lain kali aku akan menyiapkan lamaran yang lebih baik,”tukasku sambil menertawakan kecerobohanku sendiri. Hyun Gi tertawa bersamaku. Kami bergandengan tangan sepanjang jalan pulang. ”Aku mencintaimu,” ujar kami berbarengan. Hyun Gi mengenakan cincin dariku di jari manis kirinya. Tunanganku. Sekarang, aku bisa dengan bangga memeluknya dan menyebut gadis yang kucintai sebagai tunanganku. -to be continued-