Sabtu, 13 Maret 2010

FanFic Bideok After Love 35

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
THIRTY FIFTH SCENE
RAINBOW OF HAPPINESS
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Deokman tidak bisa menahan air matanya saat ia menatap Bidam dan berdiri berdampingan di depan altar. Seorang pendeta memberkati mereka dan tersenyum. Lalu, ia menanyakan sumpah setia mereka.

”Aku bersedia,” jawab Bidam. Pandangannya tampak yakin dan tegas. Tangannya tidak pernah melepas tangan Deokman.

”Aku bersedia,” jawab Deokman sambil menangis tertahan saat janji setia mereka diucapkan. Mulai detik ini dan seterusnya, mereka akan bersama selamanya. Dan tidak akan ada yang memisahkan mereka lagi. Selamanya.

Janji itu ditutup dengan sebuah ciuman pertanda kaul kesetiaan yang kekal. Kali ini setelah melalui proses yang panjang dan sulit, akhirnya mereka bisa bersatu. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada ini. Terlebih lagi, kehadiran mereka yang datang seolah menguatkan dan mendukung. Bagi Deokman, hal ini lebih dari sekedar kebahagiaan. Seolah jembatan pelangi sedang mengajaknya bercanda.

Deokman tidak merasa lelah sedikitpun. Ia banyak tertawa dan menangis. Tangisan bahagia, dan tersenyum senang. Chenmyeong dan Alcheon duduk di meja khusus dan bersulang perlahan.

“Rasanya waktu cepat sekali berlalu…” ujar Chenmyeong sambil menyesap anggurnya. Ia menatap Deokman yang tampak cantik dalam balutan gaun pengantinnya. “Dan ia juga tampak bahagia…”

“Mereka sudah mengalami banyak hal yang menyulitkan. Rasanya sudah sepantasnya mereka bisa bahagia..” ujarnya sambil merenung dan menatap gelas yang ia mainkan. ”apakah kau sedih karena kehilangan gadis yang sudah seperti adikmu sendiri?”

”Bohong kalau kukatakan aku tidak sedih. Tapi, kurasa kadar kebahagiaanku memupus semua itu. Lagipula, aku memang senang ia bisa bahagia. Dan satu hal lagi, bukankah kau ada di sampingku?” tanya Chenmyeong sambil tersenyum manis. Alcheon mengangguk lalu menggenggam tangannya. ”Ayo, kita temui mereka lagi sebelum pulang...”
---------------------------------------=====================--------------------------------------------
Seoul, 1 years later...
“Apa yang kau inginkan hari ini?” tanya Bidam sambil tersenyum. ”Mungkin salad buah seperti kemarin? Atau boneka seperti kemarin lusa? Atau asinan seperti kemarinnya lagi?”

”Aku tidak ingin apa-apa hari ini...” tolak Deokman. Beberapa bulan terakhir, sejak ia positif dinyatakan hamil, Bidam tidak pernah berhenti melimpahkan perhatiannya dan kegembiraan tampak jelas di matanya.

”Kalau begitu, sebaiknya minum susu...” ujarnya sambil pergi ke dapur dan kembali tak lama kemudian dengan segelas susu hangat di tangan. Deokman hanya menatapnya dan Bidam tersenyum penuh pengertian. ”Ada yang kau inginkan?”

”Aku ingin kau duduk di sampingku...” pinta Deokman. Bidam mengangguk dan duduk di sampingnya. Membiarkan istrinya bersender di bahunya. ”Rasanya ingin sekali mendengar nyanyianmu...” ujar Deokman lagi.

”Baiklah, tentu saja. Barangkali ini pertanda anak kita calon musisi terkenal,” candanya. Ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bosan merawat istrinya. Dan perhatiannya selalu terlihat tulus dan wajar, tidak dibuat-buat. Sebentar saja ia sudah menyanyi dengan sungguh-sungguh untuk istri dan anaknya.

”Bagaimana keadaan Appa dan Mishil-omma ya?” celetuk Deokman tiba-tiba. Bidam tersenyum dan menatap istrinya yang perutnya sudah membesar. Ia meletakkan tangannya dengan lembut di perut Deokman.

”Apakah anak kita mau bertemu dengan kakek dan neneknya?” tanya Bidam lembut sambil mengelus perlahan. ”Deokman, ayo dimakan buburnya...” Bidam menyuapi bubur dengan sabar. Nafsu makan Deokman semakin tidak teratur belakangan ini.

Deokman menelan buburnya, kemudian bersuara pelan. ”Ya, aku mau bertemu mereka. Tidak merepotkan bukan?” tanyanya lagi. Tanpa banyak bicara, Bidam menyiapkan mobil dan mereka bergegas pergi ke tempat dimana Mishil dan Munno tinggal.

”Selamat datang Deokman, aduh... apakah cucuku hari ini sehat-sehat saja?” tanya Mishil sambil berlari menyambut mereka dan membantu Deokman berjalan masuk.

”Selamat datang,” sapa Munno sambil tersenyum memandang putrinya. ”Selera makanmu baik?” tanyanya disusul anggukan Deokman. ”Sekarang sudah berapa bulan?” tanya Munno sambil mencoba menghitung tanggalan di kalender.

”Seharusnya sudah hampir melahirkan, bukan?” tanya Mishil sambil tertawa. ”Tidak terasa sebentar lagi aku sudah akan menjadi nenek-nenek ya? Ahh... waktu cepat sekali berjalan”

”Tenang saja, Omma akan menjadi nenek yang paling cantik. Dan appa adalah kakek tertampan...” Bidam bercanda sambil mengeluarkan tawa khasnya. Ketika ia tidak mendengar tanggapan Deokman, ia menatap Deokman dan dengan segera wajahnya berubah. ”Deokman!! Kenapa?! Kau kenapa?!”

”Anaknya...” Deokman mengernyitkan dahi dan menahan rasa sakit di perutnya. ”Aku tidak dapat menahannya lagi....” Bidam terhenyak kaget melihat darah mengalir menuruni betis Deokman. ”Bayinya... rasanya mau keluar...” jeritnya tanpa suara.

”Omma!!! Appa!! Panggil ambulans!! Cepat!!!” seru Bidam sambil menatap orangtuanya dengan wajah pucat dan panik.
---------------------------------------============================-------------------------------
”Aduuuh... apa masih lama ya?” Bidam berjalan mondar mandir ke sana kemari. Ia berulang kali menengok dengan gelisah ke arah pintu. ”Aduuh... Ya Tuhan, tolong mereka Tuhan...” gumamnya sambil menggigit kukunya cemas.

”Sebaiknya kau duduk,” tukas Mishil tenang. ”Kalau kau gelisah begitu, kami yang di sini jadi ikut gelisah...”

”Benar, duduklah Bidam...” tegur Munno pelan. Pria itu tampak terganggu dan menjadi ikut gelisah melihat tingkah polah Bidam.

”Baik, baik, aku duduk...” sahut Bidam sambil memonyongkan bibirnya dan duduk di sebelah Munno. Sebentar-sebentar ia memiringkan kepalanya, memainkan bibirnya, atau pun menggerak-gerakkan kakinya gelisah. ”AARgh!! Mana bisa tenang kalau begini!!” ia bangkit dan kembali meneruskan aksinya mengelilingi lorong itu. ”Tuhan, tolong dong...” ia menangkupakn tangan berulang-ulang, lalu kembali mengitari ruangan itu dengan gelisah.

”Oa....Oaaa...” terdengar suara tangisan bayi dari dalam. Bidam dengan senyuman lebar menghampiri pintu dan mendapati dokter dan bidan keluar dari sana.

”Bagaimana keadaannya, dokter?” tanyanya bersemangat. ”Laki-laki atau perempuan?” tanyanya lagi. Ia mengintip ke dalam ruangan dan melihat Deokman sedang tersenyum ke arah bidan di depannya.

”Selamat Pak, anda sudah menjadi seorang Ayah. Anak anda kembar, dan mereka sangat sehat. Istri Anda juga baik-baik saja sekalipun ia sempat mengeluarkan banyak darah tadi...” tutur dokter itu.

Bidam mengangguk dengan gembira. Ia tidak dapat menahan kebahagiaannya dan memeluk dokter di hadapannya erat-erat. ”Terimakasih dokter! Sungguh seribu terimakasih!!!” ia nyaris mencium dokter itu kalau saja Deokman tidak memanggilnya.

”Bidam, kemarilah...” panggilnya. Mishil dan Munno ikut melangkah masuk, tersenyum melihat dua sosok mungil yang digendong Deokman di kiri dan kanan dengan bahagia.

”Dokter bilang kau tadi kehilangan banyak darah. Benarkah begitu? Apakah tidak apa-apa?” tanya Bidam cemas. Diamatinya wajah pucat Deokman, namun binar kebahagiaan wanita yang kini telah menjadi Ibu itu tampak begitu jelas.
---------------------------=========to be continued===========-----------------------------------

Tidak ada komentar: