Sabtu, 13 Maret 2010

FanFic Bideok After Love 32

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
THIRTY SECOND SCENE
THE PROPOSAL
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Kita mau ke mana?” tanya Deokman sambil menatap Bidam bingung. Rasanya dari tadi mereka sudah menempuh perjalanan jauh dengan mobil. Dan lalu lintas panjang juga sudah mereka lalui. Mereka semakin menjauh dari pusat kota dan perumahan semakin terlihat jarang.

”Tolong kenakan ini...” ujar Bidam sambil memberikan masker mata ke Deokman. gadis itu menerimanya lalu memandangnya dengan penuh protes. ”Tolong kenakan saja,” ujar Bidam sabar. Dengan heran, lagi-lagi Deokman memenuhi permintaannya. ”Kalau ngantuk, kau boleh tidur, nanti kubangunkan...”

”Baiklah, rasanya ngantuk sekali....” sahut Deokman. ia tidak sadar berapa lama ia tertidur. Yang jelas, ketika suara pria itu membangunkannya, ia masih terkantuk-kantuk.

”Deokman? sudah bangun?” tanya Bidam lagi. Deokman mengerjap dan terkejut akan kegelapan yang diterimanya. Ia dengan segera mengingat masih ada masker mata yang dikenakannya. Dan lebih terkejut lagi saat menyadari ia berada dalam gendongan Bidam.

”Turunkan aku...” seru Deokman malu.

”Baiklah, aku akan menurunkanmu. Pelan-pelan saja...” gurau cowok itu. Ia menurunkan Deokman dan menunggu sampai gadis itu berdiri dengan benar, lalu dalam sekejap ia berlari bersembunyi. ”Sekarang kau boleh membuka penutup matamu...”

”Oh, ya, tentu saja...” Deokman mengangkat tangan untuk menyentuh wajahnya dan membuka penutup matanya perlahan. Betapa terkejutnya ia saat melihat warna-warni di hadapannya. Tanpa sadar ia melongo terus menerus memandang ruangan yang tidak hanya dipenuhi balon aneka warna, tetapi juga oleh bunga-bunga carnationberwarna putih, pink, dan merah yang memenuhi hampir setiap jengkal ruangan itu. Cahaya temaram yang mengisi ruangan itu sendiri ternyata berasal dari lilin yang disusun di lantai, membentuk suatu jembatan kecil menuju ruangan berikutnya.

”Apakah aku boleh ke ruangan berikutnya?” tanya deokman sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ia tidak bisa menutupi perasaan bahagianya melihat begtiu indahnya ruangan itu. Rasanya luar biasa kalau memikirkan Bidam mempersembahkan kejutan seindah ini.

”Baiklah, jalan saja sesuai arah lilin itu...” suara pria itu tedengar jauh sekaligus dekat. ”Oh ya, dan jangan mencariku dulu.. aku mengawasimu dari ruangan lain di rumah ini...” ujar cowok itu lagi.

Deokman menyanggupi dengan anggukan. Tentu saja ia ingin melihat seluruh isi dari rumah ini. Rasanya mendebarkan dan menyenangkan. Ia menyusuri jembatan lilin itu dan masuk ke ruangan berikutnya. Di sana lagi-lagi dipenuhi balon-balon. Namun seluruhnya hanya balon di sana. Deokman mendekati balon-balon itu dan membaca tulisan yang tergantung di beberapa balon di sana.

“Aku menempuh dunia hanya untuk mencintaimu...” ujarnya sambil tersenyum membaca kalimat yang pertama. “Takdir menuntun kita menuju kebahagiaan, bukan akhir...” Deokman tertawa membaca yang berikutnya. “Aku menyukai setiap keberhasilanku membuatmu bahagia...” dan ia nyaris menangis saat membaca kalimat berikutnya. “Ketika pertama kali melihatmu, hatiku sakit. Namun tidak melihatmu, hatiku nyaris mati... Apakah salah kalau aku mencintaimu?”

Deokman menghapus airmatanya, tertawa, tersenyum, mengangguk dan menangis saat membaca kalimat lainnya satu demi satu. Ia membuka pintu menuju tempat selanjutnya. “Apakah ini perhentian terakhir?” tanyanya sambil tersenyum penasaran.

Suara Bidam yang tertawa kecil dari pengeras suara rahasia membuat gadis itu malu. ”Ya, perhentian terakhir, dan kau akan melihatku...” jawab pria itu. Deokman dengan tidak sabar membuka pintu terakhir. Begitu ia membukanya, aroma bunga-bungaan yang manis memenuhi hidungnya. Dan dari jauh, alunan piano berdenting indah.

Kali ini ia tidak lagi berada di sebuah ruangan, melainkan sebuah taman. Di tengah taman itu terdapat sebuah rumah kaca, dan suara dentingan piano berasal dari sana. Deokman memasuki tempat itu dengan perlahan, tidak ingin melewatkan detail sekecil apapun. Baginya ini semua lebih dari sekedar mimpi

Di tengah ruangan rumah kaca yang dipenuhi berbagai bunga mawar beraneka warna, Bidam duduk di hadapan sebuah piano dan terus menyanyikan lagu yang kental akan ingatannya tentang gadis itu.

Can't I love you? Can you come to me?
Just once, just once, can you hold me in your arms?
You're the one I'm devoted to
Can't you accept my heart?

The reason why I'm still breathing in this endless loneliness
Is all about you

Can't I love you? Can you come to me?
Just once, just once, can you hold me in your arms?
You're the one I'm devoted to
The 1st time is also the last time

Even you're alive you can't be held in my arms
Even you throw my heart away from your mind

Can't I love you? Even I'm just behind you
Distantly, Distantly, Can't I look at you?
Even I just can protect your shadow
Even like this is also OK, Even only I love you is also OK

Pria itu menghentikan permainannya dan tersenyum puas. Ia lega karena sejauh ini tidak ada kekonyolan yang dilakukannya. ”Apakah kau...senang” tanyanya grogi. Ia tidak dapat menahan senyuman lebarnya ketika melihat gadis itu mengangguk bahagia.

”Lebih dari sekedar senang!!!” Deokman tersenyum dan berjalan menghampiri pria itu. ”Sejak kapan kau merencanakannya?” tanyanya lagi.

”Konsep dasarnya sih sejak lama. Tapi baru mulai disiapkan 2 hari lalu...” ia memandang ke sekeliling dan menarik nafas panjang. ”Kurasa kau paham arti bunga-bunga itu?” tanyanya.

”Tidak,” jawab Deokman sambil tersenyum jahil. Ia tentu saja mengetahuinya, beberapa. Tapi sebagian lagi tidak. Ia tidak yakin ada pria yang bisa melakukan hal yang lebih indah daripada cara Bidam melakukannya.

”White carnation pure love, Red carnation...my heart aches for you, pink carnation I’ll never forget you…” cowok itu menarik senyuman lalu melanjutkan. “Lalu, Red roses… ehm, cinta…” ujar cowok itu malu, dan berdehem beberapa kali. “Pink roses… percayalah padaku…dan white roses… It’s heavenly to be with you…”

Deokman tersenyum dan dengan segera melompat ke pelukan Bidam. ”Tadi kau menyuruhku percaya bukan. Untuk apa?”

”Oh.. itu?” Bidam melepaskan pelukannya dan merogoh kantungnya. Lalu meletakkan kotak kecil putih di tangannya. ”Bisakah kau mempercayakan kebahagiaanmu padaku?” tanyanya lagi. Ia mengeluarkan cincin itu dan menunggu anggukan Deokman.

Deokman tidak menyahut sedikitpun. Ia memandang cincin dengan ukiran berlian itu dengan pandangan tidak percaya.

”Deokman?” Bidam memandang gadis itu dengan bingung. ”Apakah kau mau menikah denganku?” tanyanya lagi. Deokman menggeleng, lalu mengangguk, mengangguk dan mengangguk.

”Ya,” jawabnya. ”Ya, ya, ya... tentu saja...” dengan tersenyum ia menghapus air mata yang entah sejak kapan berjatuhan di pipinya.

Bidam memakaikan cincin itu sambil tersenyum, lalu memandang Deokman dengan senyuman hangat. Ia mendekatkan wajahnya pelan, lalu di tengah hamparan bunga cinta, mereka berciuman untuk kedua kalinya, meneguhkan janji cinta mereka.
-------------------------------========to be continued=========--------------------------------------

Tidak ada komentar: