Sabtu, 13 Maret 2010

FanFic Bideok After Love 36

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
THIRTY SIXTH SCENE
THE APPA SECTION
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Deokman memandang bayinya dengan senyuman bahagia. ”Menurut Appa, sebaiknya aku menamai mereka apa ya?”

Munno memandang cucunya dengan pendangan penuh kasih sayang. Ia melirik Mishil yang juga tersenyum sambil memandangnya. Semua mata di ruangan itu memandang ke arahnya. ”Sebetulnya, aku sudah menyiapkan dua nama. Satu untuk laki-laki, dan satu untuk perempuan... Tidak kusangka dua-duanya ada kemungkinan untuk digunakan sekarang...” ujarnya malu.

”Oh ya? Apa itu?” tanya Bidam penasaran. Ia memberikan senyuman lucunya dan menggendong salah satu nya. ”Yang ini pasti yang laki-laki, lihat! Ia kuat sekali!!” serunya sambil berdecak kagum. ”Apakah aku boleh menciumnya?” tanyanya pada Deokman.

”Tentu saja boleh,” jawab Deokman sambil memandang suaminya yang tampak keasikan sendiri. ”Siapa namanya, Appa?”

”Yo won, dan Nam Gil... bagaimana?” tanya Munno ragu-ragu. Mishil merenung sejenak dan Bidam menatapnya dengan pandangan menerawang. Deokman memiringkan kepala dan berpikir. ”Ti—tidak bagus ya?” tanya Munno kecewa.

Tiba-tiba mereka tertawa berbarengan dan menyetujui. ”Bagus! Itu nama yang bagus sekali!!” ujar mereka serempak. ”Nama yang sesuai untuk mereka...” puji Deokman sambil memeluk putri kecilnya.

”Boleh aku menggendongnya?” tanya Mishil sambil mencondongkan tubuhnya. Senyumannya terlihat ekspresif sekaligus bersemangat. Deokman mengangguk lalu membiarkan ibu mertuanya memeluk putrinya. ”Apakah Appa juga mau mencoba memeluknya?” tanya Deokman sambil mengamati eskpresi penasaran di wajah Munno.

”Kalau.. boleh...” sahut Munno ragu. “Tapi...” sebelum ia melanjutkan kalimatnya, Bidam dengan hati-hati meletakkan putranya di tangan sang kakek. Munno menatap bayi di tangannya dengan pandangan tidak percaya, lalu menimang bayi itu dengan hati-hati, seolah satu sentuhan saja bisa menyakitinya.

Deokman tersenyum saat menatap sosok-sosok yang dicintainya. Ia tidak mampu menahan air mata haru yang entah sejak kapan mengalir di pipinya. ”Kenapa, Deokman?” tanya Bidam sambil merengkuh tangan istrinya lembut. “Apa ada yang sakit?”

“Tidak, aku tidak apa-apa...” Deokman menyentuh tangan Bidam dan bersender ke arahnya. ”Hanya saja... aku merasa terlalu bahagia... Sampai-sampai rasanya begitu menyesakkan...”

”Hmmm..hmm..” Bidam mengangguk lalu merangkul bahunya pelan. ”Dulu rasanya segalanya begitu sulit, sampai-sampai bahkan mengucapkan cinta saja tidak bisa. Kini, aku bisa berulang kali memanggil namamu...” Bidam tersenyum sambil menatap mata Deokman yang basah oleh air mata. ”Oh ya, Chenmyeong dan Alcheon tadi menelepon... dan Wolya-shi juga...”

”Oh ya? Apa mereka mau datang ke sini?” tanyanya sambil berseru senang.

Bidam mengangguk dan tertawa. ”Katanya, mereka juga akan datang membawa Hyo Hoon bersama mereka...”

”Hyo Hoon juga datang?” Deokman memandang ke arah pintu dengan tidak sabar. ”Kapan mereka datang? Ah, terakhir kali aku melihatnya, Hyo Hoon tampak sangat menggemaskan!!!”

”Dan dia benar-benar mirip dengan hyung!!” tukas Bidam sambil tersenyum lebar. Hyo Hoon, putra pertama Alcheon dan Chenmyeong lahir sekitar 3 bulan lalu. Dan memang tidak ada yang bisa menyangkal kalau penampilannya sangat menggemaskan dengan pipinya yang chubby seperti papanya.

”Ah, kalau menurutku sih, dia mirip dengan Unni!!” balas Deokman tidak mau kalah. ”Mungkin matanya memang mata Alcheon, tapi, hidung dan dagunya mirip sama Unni!!”

”Baiklah, mungkin aku yang tidak memperhatikan sedatil itu, tapi aku setuju satu hal, matanya memang mirip sama Hyung...” sahut Bidam dengan senyuman mengalah.

”Haloo... kalian lagi membicarakan siapa?” tanya Alcheon dan Chenmyeong. Mereka menggendong seorang bayi di pelukan mereka. Wolya muncul di belakang mereka dengan senyuman kikuk. Ia baru saja menikah seminggu yang lalu, dengan seorang guru TK, Ji Hyun, seorang wanita dengan senyuman yang sangat manis.

”Wah, panjang umur nih, hyung...” sapa Bidam sambil menghampiri Alcheon dan memberikan pelukan persahabatan. ”Kami baru saja membicarakan kalian...” Bidam menepuk bahu Alcheon dengan gembira.

”Manis sekali, anak kembar ya?” tanya chenmyeong sambil menghampiri Mishil yang sedang menimang cucunya. ”Wah, Anda sudah menjadi seorang Haramoni ya?” Chenmyeong tersenyum jahil.

”Tapi mana ada haramoni semuda ini?” tanyanya lagi. Dan ia mengamati bayi kembar itu dengan pandangan gemas. ”Mereka manis sekali ya? Sudah diberi nama?”

”Appa yang menamai mereka,” jawab Deokman sambil memandang Munno dengan kagum. ”Nam Gil dan Yo Won...”

”Oh ya, ada berita terbaru! Chuncu rupanya akan segera menikah, menyusul kita juga!!!” Alcheon menyodorkan selembar undangan ke tangan Bidam. ”Ada baiknya kalau kalian juga datang...”

”Oh ya? Wah, hebat juga dia. Tidak ada kabar apa-apa, tahu-tahu sudah mau menikah!!” Bidam memandang kartu undangan yang berhias pita emas itu dengan kagum. ”Acaranya minggu ini, baiklah, kalau Deokman sudah boleh pulang, kami pasti datang ke sana...” jawab Bidam mewakili keluarganya.
------------------------------=================================-------------------------------
Chuncu tampak sangat tampan malam itu. Dan pengantin wanitanya, Bolryang juga terlihat sangat cantik. Gadis itu rupanya teman sekelasnya dulu sewaktu duduk di bangku SMA. Dan mereka diam-diam berpacaran hingga saat ini.

Bidam memperhatikan keadaan Deokman dengan bingung. Seharusnya tidak ada apapun yang aneh, bukan? Tetapi kenapa istrinya saat ini terlihat sangat pucat? Tidak ingin mengulang kesalahan masa lalu, kali ini ia bertanya pada Deokman.

”Kau tidak apa-apa? Wajahmu sangat pucat...” Bidam bersiap untuk membantunya berjalan.

”Aku tidak apa-apa..” jawab Deokman sambil menolak untuk dipapah. ”Hanya sedikit pusing.. paling-paling kurang darah...”

”Dari tadi kau menyentuh perutmu. Sakit?” tanya Bidam cemas. Ia ingat Deokman memang jarang makan dengan teratur selama masa kehamilannya.

”Tidak apa-apa, mungkin ususnya kaget. Aku makan banyak tadi...” elak Deokman. ia tersenyum, namun mengernyit sedikit saat merasakan rasa sakit yang menusuk-nusuk perutnya.

”Aku tidak akan percaya begitu saja, besok kita ke dokter. Ya?”

”Tidak Bidam, tidak usah...” tolak Deokman. ”Aku kan harus mengurus putra putri kita...”

”Aku tahu itu, aku tahu...” jawab Bidam dengan nada suara melunak. ”Tapi mereka juga pasti tidak menginginkan Ibu mereka sakit...”

Deokman menarik nafas dan bersiap membantah. Namun saat melihat mata Bidam, ia mengurungkan niatnya. Mata itu terlihat begitu lembut dan teduh. Dengan terpaksa ia mengangguk. ”Baiklah, aku akan menurut...” jawabnya pelan.
--------------------------------=============to be continued==========--------------------------

Tidak ada komentar: