Sabtu, 13 Maret 2010

FanFic Bideok After Love 28

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TWENTY EIGHTH SCENE
THE UNLOCKING KEYS
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
”Seokpum!! Seokpum!!” panggil Yeomjong dengan suara parau. Pria yang dipanggil itu dengan segera menghampiri majikannya. Ia terkejut karena wajah pria itu pucat dan kusut masai. Beberapa hari ini mereka tidak makan dengan teratur, dan dalam sehari, mereka bisa berpindah-pindah antara dua sampai tiga kali.

”Ada apa?” tanya Seokpum bingung. Ia tidak lagi memanggil Yeomjong dengan sebutan Tuan atau panggilan hormat lainnya. Ia jelas-jelas sudah kehilangan rasa hormatnya. Apalagi beberapa hari ini jelas sekali kalau Yeomjong sangat membutuhkan dirinya. Sekaya apapun ia, ia tidak bisa lolos dari kejaran polisi tanpa meminjam nama Seokpum untuk memesan kamar di motel-motel murah sekalipun.

”Kita harus pergi sekarang! Secepatnya!” ujar Yeomjong sambil melirik kiri dan kanan dengan gusar. Sebentar-sebentar ia melongok ke luar jendela. ”Aku tidak tahan di sini lagi! Rasanya mereka sudah hampir menangkap kita...”

”Kita?!” seru Seokpum terkejut. Jelas sekali kalau ia sudah lelah dengan permainan tidak jantan seperti ini. ”Kau melakukannya, kau menembaknya, bertanggung jawablah dan kita tidak usah lari lagi...” jawab Seokpum kesal. ”Kenapa kau pengecut sekali!”

”Hei, brengsek!” Yeomjong dengan geram menarik kerah baju Seokpum. Ditatapnya Seokpum dengan penuh kebencian. ”Kau sudah terlibat terlalu jauh denganku!! Tidak ada jalan mundur untukmu!!”

”Aku hanya melakukan apa yang kau perintahkan sesuai bayaran yang kuterima. Sekarang sebaiknya kau serahkan bayaran yang menjadi hakku, lalu kita sudahi permainan konyol ini!!”

”Menyudahinya?!” Yeomjong mengumpat lalu meludahi wajah Seokpum. ”Tidak ada sepeser pun yang kau dapatkan kalau kau tidak membantuku lari dari sini. Tidak akan!!”

”Baik kalau itu maumu,” Seokpum menepis tangan Yeomjong dari cengkaraman kerah bajunya, ia mengelap wajahnya dan dengan tenang menjawab. ”Aku tidak butuh uangmu! Dan kau tahu? Aku berhenti membantumu sampai sini! Kalau pun polisi menangkapku, mereka tidak akan bisa lama menahanku. Aku tidak melakukan kejahatan sepertimu!!”
”Kau!!” Yeomjong menuding Seokpum dengan bengis. ”Kau penghianat! Pengecut!!”

”Dan kau adalah pria paling kotor yang pernah kulihat...” tuding Seokpum tajam. ”Kau bahkan tidak pantas dihormati. Pergilah, sebelum kukatakan pada polisi kemana kau hendak kabur...”

”Brengsek kau!!!” Yeomjong buru-buru mengambil jaketnya lalu berjalan ke arah pintu, namun sebelum gagang itu tersentuh, pintu terlebih dahulu didobrak oleh sekumpulan polisi bersenjata. Yeomjong mengumpat lalu berlari ke arah jendela dan melompat. Namun sebelum usahanya berhasil seratus persen, seorang polisi menembak kakinya.
--------------------------------------=================----------------------------------------------------
”Maaf karena tadinya aku tidak bermaksud untuk...” Bidam menengadah lalu menutup wajahnya dengan tangan kanannya. ”Yah, tadinya aku ingin melakukannya saat peluncuran single-ku...”

”Oh ya?” Deokman tersenyum malu saat mengingat adegan yang baru saja terjadi. ”Aku tidak pandai menyampaikan perasaanku... tapi.. aku sangat senang...”

”Aku... ingin bertemu dengan orangtua kandungmu....” ujar Bidam pelan. ”Apakah boleh? Aku penasaran, apakah mereka seperti Ibuku yang menikah muda dengan Sadaham pada usia 20 tahun...”
Deokman termenung sesaat. ”Aku tidak yakin kau bisa melakukannya,” jawabnya sambil menatap pria itu sambil tersenyum sedih. ”Aku sendiri tidak pernah bertemu dengannya...”

”Oh ya? Mengapa?”

”Karena sejak kecil, aku dirawat oleh orang tua angkatku. Ayahku pergi setelah kematian Ibuku... dan sejak kecil, kedua orangtua angkatku tidak pernah mengatakan apapun soal orangtua kandungku...”

”Hmm... begitu ya?” Bidam menahan nafas lalu menyenderkan kepala gadis itu di dadanya. ”Kenapa selama ini tidak pernah cerita...?”

”Masalahmu sudah begitu rumit... Aku tidak mau menambah dengan masalahku...” keluh Deokman. ”Aku mau Tanya sekali lagi, apakah kau yakin mau menerima istri yang tidak jelas asal usulnya seperti aku?”

“Oh, kau salah, nona…” sergah Bidam sambil memeluk gadis itu dan tertawa. “Aku tahu asal usulmu lebih dari siapapun. “Kau gadis yang bijaksana sebagai ratu Shilla, dan gadis yang menarik sebagai tourist guide. Dan aku menginginkanmu. Buatku, itu semua sudah lebih dari sekedar cukup…”

“Tapi, apakah aku cukup pantas untukmu?” Deokman bertanya dengan bimbang.

”Lebih dari sekedar pantas. Tidak bisa melihat senyum puasku ini?” tanya Bidam sambil tersenyum super lebar.

Deokman tertawa geli. ”Yah, kalau melihat senyumanmu sih, rasanya...” Deokman memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.

”Apa tidak ada hal khusus yang membuat orang tua kandung... maksudku Ayahmu bisa mengenalimu?”

Deokman mengangkat bahunya dengan bingung. ”Kata orangtua angkatku... wajahku sangat mirip dengan Ibuku. Itu saja yang kutahu...”

Bidam hendak bertanya lebih jauh ketika tiba-tiba sebuah ketukan pelan di pintu memecah perhatian mereka berdua. ”Ya? Siapa ya?” tanya Bidam sambil menatap pintu dengan bingung.

”Bidam!? Munno-shi sudah sadar! Ia ingin bertemu denganmu!!” seru suara di balik pintu, suara Mishil.

Bidam bangkit dari tempat tidurnya dalam satu lompatan. Sekejap kemudian ia tersentak kaget. ”Aw,” keluhnya. ”Sialan, aku lupa soal infus itu...”

”Biar kupegang untukmu...” ujar Deokman sambil tertawa geli. Ia meraih sangkutan infus lalu membawanya sambil mengiringi langkah Bidam. ”Coba periksa apa infusmu masih menempel atau sudah lepas...”

”Masih aman kok Bu suster..” goda Bidam sambil memamerkan sederetan gigi putihnya. ”Aaah... aku harap selamanya bisa begini...” ujarnya sambil menarik nafas dalam-dalam.

”Selamanya bagaimana? Sampai maut menjemput?” tanya Deokman sambil memastikan infus di tangan Bidam masih terpasang dengan benar.

”Selamanya. Bahkan di kehidupan selanjutnya. Dan selanjutnya lagi. Dan selanjutnya lagi. Aku ingin bersama denganmu. Selamanya. Dan kalau Tuhan mengijinkan, aku ingin mengingat setiap detik masa lalu kita, semuanya...”
-----------------------=========to be continued=============---------------------------

Tidak ada komentar: