Senin, 03 Mei 2010

Fanfic The Future and the Past 13

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
THIRTEENTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Kim Chun Chu: Yoo Seung Ho (memakai nama asli di FF)
San Tak: Kang Sung Pil (memakai nama asli di FF)
Young Mishil: UEE/Kim Yoo Jin: Go Yoo Jin (Mishil legal daughter)
Wolya: Joo Sang Wook (memakai nama asli di FF)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

Seung Ho. Namanya adalah Yoo Seung Ho. Anak lelaki yang dikenalkan Yo Won padaku. Tapi aku tidak menyukainya, entah kenapa. Aku tidak menyukai caranya menatapku, apalagi menatap Yo Won.

”Kalian kenapa yoo... Nam Gil, kita ke lapangan dulu saja yooo...” ajakan Sung Pil seolah memecah perhatianku. Dan buatku, ajakannya terdengar seperti sebuah ide gemilang saat itu. Aku mengangguk menanggapinya, lalu memandang Yo Won sejenak, kemudian mengangguk pada bocah itu, sekadar menghargai keberadaannya.

Rupanya Yo Won cukup cepat tanggap, secepat itu pula ia berjalan mengikutiku ke lapangan. Konyol, padahal lapangan di arah mana saja aku tidak tahu. Pokoknya, lebih cepat pergi dari sini lebih baik, entah bagaimana begitulah instingku.

”Aku ingat!” cetus Seung Ho tiba-tiba. Sedari tadi ia diam, rupanya sedang memikirkan sesuatu. Pantas saja ia tidak membalas lambaian Yo Won. ”Kau cowok yang mencari sensasi di klub karate kan? Yang mengacaukan latihan sekolah ini? Kak Yo Won, kudengar kau bilang tidak kenal padanya... Lalu?”

Detik itu juga ekspresi wajah Yo Won berubah kalut. Ia memandangku dan Sung Pil lalu anak itu bergantian. Ia tampaknya kebingungan harus menjelaskan bagaimana. Kurasakan alisku terangkat pelan. Sebenarnya apa sih hubungan anak itu dengan Yo Won? Untuk apa dia mau tahu macam-macam hal tentangnya?

”Begini...” ucapku memotong kalimat Yo Won. ”Kami bertemu atas dasar kesalahpahaman dan kurasa adalah privacy kami untuk tidak menceritakannya kepadamu. Karena tidak baik menyimpan kesalahpahaman sampai berlarut-larut, kuputuskan untuk berteman dengannya. Dan yah, aku tidak pernah mencari sensasi.” kutegaskan kalimat terakhirku. Sekejap wajah sombongnya menghilang, digantikan kekagetan karena nada suaraku begitu berat dan dalam.

”Oh, ternyata begitu?” sahutnya ragu. ”Kalian hanya teman?” ia bertanya dengan tidak yakin, dan kujawab dengan senyuman seperlunya, semoga ia paham dengan itu. ”Dan apa maksudmu tidak mencari sensasi? Kau merusak latihan karate kami, lalu?”

Otakku dengan cepat berputar, mencari jawaban untuk membalas pertanyaannya yang berkesan menuntut penjelasan. ”Aku mencari bibit potensial...”

”Apa?” Yo Won, Sung Pil, dan Seung Hyo memandangku dengan heran.

Kulebarkan senyumku, berusaha tampak wajar. ”Bibit potensial? Apa itu yoo?” tanya Sung Pil bingung. ”Kau mau menanam tanaman, yoo?”

Kutanggapi reaksi Sung Pil dengan senyuman terpaksa, dan kutatap Seung Hyo. ”Di sekolah ini tidak ada klub taekwondo?” tanyaku dan ia menggeleng.

”Aku sebenarnya berniat mendirikannya, sayang sekali, padahal banyak yang potensial, misalnya...” aku hanya ingat dua orang di klub itu. ”Seung Hyo dan Sang... Sang apa ya?” tanyaku sambil menatap Yo Won meminta bantuan.

”Sang Won,” jawabnya mengkoreksi.

”Ya, Sang Won. Dan ooh ya, Yo Won, kau punya kemampuan tendangan yang bagus,” pujiku. Sekalipun sasaran tendangnya sangat mengesalkan, harus kuakui, kekuatannya lumayan... lumayan menyakitiku. Mengingat kejadian itu membuatku meringis.

”Ooh.. ya?” hanya itu tanggapan Yo Won. Pipinya memerah mengingat pertemuan pertama kami. Rasanya lucu sekali mengingat beberapa waktu ini aku terbiasa memanggilnya cewek barbar dan kini memuji tendangan barbarnya.

Seung Ho memberikan pandangan menyelidik ke arah kami. Perbincangan dengannya cukup membuang waktuku. ”Tapi tidak jadi, kurasa aku tidak berniat mendirikan klub atau apapun di sini...” elakku, malas terlibat lebih jauh dengannya.

Mendirikan klub berarti membutuhkan persetujuan OSIS dan yayasan dan sebagainya. Dan dari perbincangannya dengan Yo Won, tampaknya ia punya peran cukup penting di OSIS dan itu berarti selama mengurus pendirian klub aku akan banyak bertemu dengannya. Hah! Lebih baik tidak usah deh, no, thank you!

”Kudengar klub basket membutuhkan seorang pelatih,” ujarnya sambil tersenyum sinis. ”Kau menguasai taekwondo. Bagaimana dengan basket?

”Dia juga...” sebelum Yo Won dan Sung Pil menggantikanku menjawab, terlebih dulu kukibaskan tanganku di depannya, dan ia langsung bungkam.

”Kedengarannya menarik,” ujarku bersemangat. ”Aku tidak terlalu menguasainya, tapi cukup tertarik. Apa syaratnya?” tanyaku.

”Kau boleh membuktikan kemampuanmu di festival ini. Kalahkan anggota inti kami, one on one melawan Joo Sang Wook. Biar bagaimana pun, tidak ada pelatih yang kalah dengan muridnya, bukan?” senyuman sinisnya terlihat seperti surat tantangan untukku.

“Baik, tidak masalah,” jawabku.

Lagipula sejak awal aku memang mau kesana. Dan yah, kenapa tidak? Hitung-hitung pelampiasan stress. Kurasakan otot bahuku berkedut pelan. Rasanya aku masih bisa mengatasi ini, sekalipun bahu ini akan menghalangiku untuk mencapai kondisi optimalku.


─Lee Yo Won, Seoul, 2008 ─

Aku dan Sung Pil sedari tadi bertatapan dan saling mengernyitkan dahi mendengarkan pembicaraan yang berkembang aneh di depan kami. Rasanya Seung Ho jelas menunjukkan tantangan pada Kim Nam Gil.

Aneh sekali, karena ia bukan tipe orang yang suka bertentangan dengan orang lain, tetapi kalau ada yang mencari masalah, ia memang tidak segan-segan menghadapinya. Tapi ini lain. Bukankah mereka berdua baru bertemu? Kenapa situasinya sangat memusingkan?

“Kenapa sih, dia?” tanyaku sambil berbisik pada Sung Pil.

“Tidak tahu yoo…” aku ingin menyuruhnya mengecilkan suara. Jawaban darinya memang berupa bisikan, kecuali kata yoo yang jadi ciri khasnya.

“Ayo, sekarang saja, kebetulan dramanya belum mulai…Sekarang saja,” ajak Seung Ho sambil mengambil alih komando, berjalan di depan kami.

“Oke,” jawab Kim Nam Gil santai.

Dengan langkah panjang ia menyusul Seung Ho dan berjalan di sampingnya. Kentara sekali kalau ia tidak menyukai sikap Seung Ho yang seolah dengan berjalan di depan, ia adalah si pemimpin. Kurasa sisi pemberontak dalam diri Nam Gil terlihat menggemaskan.

“Nah, itu dia Kak Sang Wook!!” seru Seung Ho dengan wajah cerah. Ia berlari menghampiri Sang Wook yang sedang duduk di bench dengan pacarnya, Yoo Jin. Seung Ho menjelaskan sesuatu pada Sang Wook dan menunjuk ke arah sini, ke arah Kim Nam Gil.

”Hei, Yo Won!!” panggil Yoo Jin sambil berlari menghampiri kami dan tidak melepaskan kesempatan untuk tersenyum manis ke arah Kim Nam Gil. ”Kata Seung Ho, Kak Nam Gil mau menunjukkan kalau ia lebih hebat dari anak inti?” tanyanya bingung.

”Bukan begitu,” jawabku cepat. Kulirik Kim Nam Gil sejenak. Memang inti kedatangannya itu, tetapi kenapa Seung Ho harus menyampaikannya dengan cara seperti itu? bukankah keadaan akan semakin runyam?

”Ia akan melamar menjadi pelatih basket, dan untuk itu, ia harus menang pertandingan dengan Kak Sang Wook, jadi bukannya untuk menyombongkan diri...” jelasku. ”Bisa kau jelaskan pada Kak Sang Wook? Aku tidak mau ada salah paham di sini...”

”Uhh... jadi begitu?” tanyanya bingung. ”Tidak mau ah, kau saja yang jelaskan... Kenapa aku?” tolaknya malas dengan nada manja.

”Kau kan pacarnya...”

Kenapa sih anak ini selalu saja mengesalkan?

”Tapi kan...” ia melirik Kim Nam Gil lalu bertanya, ”Kau mau aku menjelaskannya?” tanyanya sambil memamerkan lesung pipinya.

Cowok itu mengangkat alis dengan bingung. Sung Pil menyelanya, ”Jelaskan saja. daripada mereka marah nanti, Nam Gil sangat hebat loh...” ia memuji seola mendewakan cowok itu,. Tetapi kemudian wajahnya memucat. ”Oh ya! Bagaimana dengan bahumu, Nam gil!?” serunya kalut.

”Bahuku tidak apa-apa...” tukas Kim Nam Gil dengan suara berat dan sedingin es. Kenapa dengan bahunya? Mataku terus terarah ke bahunya, membuatnya berdecak kesal memandangku. ”Tidak usah khawatir. Aku tidak apa-apa...”

”Tapi, mana bisa kau menang kalau tanganmu seperti itu... Bagaimana ini, Yoo Jin. Kau katakan saja pada Kak Sang Wook. Lain kali saja bertandingnya...”

”Tapi...” Yoo Jin memandang ke arahku dengan ragu.

”Tidak perlu dijelaskan,” sergah Kim Nam Gil. ”Kesalahpahaman akan membuat semuanya lebih seru. Dan tidak ada lain kali. Sudah kuputuskan sekarang dan keputusanku tidak akan berubah!” tegasnya.

”Kenapa kau keras kepala, sih!!” omelku, kesal pada sikapnya yang menurutku kekanakan. Ketika kulirik ke samping, Kak Sang Wook tampaknya sudah bersiap di posisinya. Dan Seung Ho berjalan ke arah kami.

”Aku tidak keras kepala. Kau jangan sok mengaturku!” serunya kesal. ia membuka jaket yang dikenakannya dan sekejap mataku tidak bisa berpaling dari badannya yang terlihat sangat atletis. Kelihatannya ia memang bukan cowok sembarangan. Kaos lengan pendek yang dikenakannya memperlihatkan ototnya. Ternyata sekalipun terlihat kurus, tubuhnya terbentuk dengan baik.

”Sekarang belum terlambat! Akan kukatakan pada Seung Ho...”

”Kau diam saja di sini!” ia menarik lenganku ke belakang dan memandang ke arah Sung Pil dengan tatapan mengancam. ”Jaga dia dan jaga bicara kalian berdua,” lalu ia pergi ke tengah lapangan, berjabat tangan dengan Kak Sang Wook, dan detik itu juga peluit ditiup. Terlambat. Sudah terlambat untuk mencegahnya. Pertandingan dimulai.

”Kak Yo Won?” panggil Seung Ho. Aku menatapnya dengan pikiran entah dimana.

”ya?” jawabku, kalut. Rasanya perasaanku kacau. Kenapa sih para pria selalu konyol? Memaksakan diri sekalipun rasanya hampir mustahil?

”Kenapa?” tanyanya.

Aku menatapnya dengan bingung. ”Kenapa apa maksudnya?”

”Wajahmu pucat. Tidak sakit, kan?” tanyanya. Aku menggeleng cepat, lalu kembali melihat ke arah lapangan.

Kak Sang Wook mendrible bola dengan mantap, dan Kim Nam Gil bergerak mengiringinya. Bola selalu berpindah posisi. Nam Gil menyalip dan memasukkan. Kak Sang Wook melakukan rebound dengan pas dan memasukkan bola kembali ke ring.

Dalam sekejap penonton sudah berkumpul mengelilingi kami. ”Gila... apa benar ini permainan anak SMA?” komentar salah seorang di antara mereka. ”Ini sih keren banget!” ujar lainnya. ”Taraf nasianal. Klub basket ini boleh juga!!” puji lainnya.

Mataku menatap ke lapangan sementara telingaku merespon berbagai komentar yang masuk. Tidak ada posisi di atas angin. Sepanjang pertandingan mereka saling mendominasi. Tidak jelas siapa yang akan menang.

Mataku menatap ke kejauhan, Kim Nam Gil, apa ia baik-baik saja. keduanya memang sudah bersimbah keringat, tapi cowok itu beberapa kali meringis waktu bahunya bersentuhan dengan Sang Wook, ataupun saat melakukan lay up.

”Lihat! Tangan cowok itu berdarah!!” seru seorang pria. Mataku menatap liar ke lapangan dengan jantung berdebar kacau. Baju di bagian lengan Nam Gil berwarna kemerahan. Darah? Ia berdarah?! Kenapa?!

”Kenapa dia!?” tanyaku dengan gugup. Seung Ho juga ikut memandangku. Perhatian kami sepenuhnya disedot oleh pertandingan ini. Rasanya nyaris mustahil pria itu bisa bertahan di sana dengan bahu seperti itu.

Sung Pil memandangku lekat-lekat lalu menggeleng bingung. ”Saat dia menolongku, bahunya sudah terluka, yoo...” ucapannya terdengar gugup campur panik.

”Posisi mereka masih seimbang...” ujar seorang cowok.

”Gila sekali dia, padahal bahunya seperti itu. Ini mana bisa dibilang pertandingan adil?!” orang-orang mulai ramai berkerumun dan berkomentar.

Mataku nyaris basah karena air mata. Rasa sakit macam apa yang ia tahan? Bagian lengannya sudah berwarna merah sepenuhnya. Dan sepertinya, beberapa tetes darah jatuh di lantai, menorehkan jejak usahanya yang luar biasa.

”Tinggal beberapa detik lagi dan posisi masih seimbang...” ujar Seung Ho mengingatkan. Kupandang ia dengan tatapan kesal. Kenapa nada bicaranya seperti itu? Seolah ia senang kalau Kim Nam Gil kalah. Padalah kondisinya seperti itu, Jauh dari kondisi prima.

Wasit mulai menghitung mundur. ”5! 4!” aku berdoa dan berdoa dalam hati. Keajaiban. Apakah ada... dan tepat pada hitungan satu, cowok itu melakukan lemparan three point dengan tepat. Bola masuk tepat di tengah ring! Kemenangan untuk Kim Nam Gil!!!

”Dia menang!!” sorakku senang. Semua penonton menyingkir, memberi jalan untuk Kim Nam Gil yang berjalan menghampiriku dan Sung Pil.

”Nah, apakah pendapatmu berubah?” tanyanya pada Seung Ho. Dan ia tersenyum sombong. Senyuman yang membuat dadaku sesak. ”Hei,” ujarnya sambil menatapku. ”Tidak kusangka kau cengeng juga...” ia mengacak-acak rambutku sambil tertawa lebar. ”Sudah kukatakan kan? Aku pasti menang...”

”Ya...” jawabku. ”Ya... syukurlah... syukurlah...” air mata tidak berhenti mengalir. Aku menundukkan kepala, lalu menangis. Rasanya dadaku terasa begitu sesak. Mengagumkan. Tidak ada kata lain yang sanggup melukiskan kemampuannya. Ketika tangisku mau pecah, cowok itu menarikku dalam pelukannya, membiarkan aku menangis di dadanya yang bidang.

--to be continued--

Tidak ada komentar: