Senin, 03 Mei 2010

Fanfic The Future and the Past 12

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TWELFTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
Kim Chun Chu: Yoo Seung Ho (memakai nama asli di FF)
Ho Jae: Go Yoon Hoo (memakai nama asli di FF)
San Tak: Kang Sung Pil (memakai nama asli di FF)
Ho Jae: Go Yoon Hoo (memakai nama asli di FF)
Young Mishil: UEE/Kim Yoo Jin: Go Yoo Jin (Mishil legal daughter)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

”Kau Kim Nam Gil, kan?!” seru sebuah suara. Kutatap si pemilik suara. Seorang gadis yang cukup cantik dengan rambut panjang pirangnya. Dan entah mengapa, wajahnya tampak tidak asing.

Tanpa sadar mataku beralih menatap Yo Won, si gadis barbar. Ia mengernyitkan dahinya melihat tingkah si pirang. Mungkin hubungan dua gadis ini tidak terlalu dekat? Ahh, aneh-aneh saja. untuk apa juga sih aku memikirkan si barbar?

”Siapa ya?” tanyaku bingung. Walau wajahnya tidak asing, aku sepertinya tidak mengenalnya.

”Kau tidak mengenalnya?” tanya Yoon Hoo bingung. Ia memiringkan kepalanya dan tersenyum singkat, jelas, ia memberi nilai tinggi untuk penampilan gadis ini.

”Tidak,” jawabku sambil menatap Yoon Hoo sekilas. ”Apa aku mengenalmu?” tanyaku sambil menerima dua medium cup coffee blend chocoffee yand dihidangkan si barbar.

”Ohh, kau tidak ingat, bukan?” tanyanya sambil tersenyum. ”Waktu kecil aku pernah main ke rumahmu bersama Ibuku, tapi kami diusir…” jawabnya sambil tersenyum manis. ”Yoo Jin, namaku Kim Yoo Jin!!” serunya riang.

Kutatap Yoo Jin dengan bingung. ”Rasanya memang ada kejadian begitu, tapi, entahlah, aku tidak ingat…” jawabku sekenanya.

“Ibuku bernama Go Hyun Jung…” jawab gadis itu sambil tertawa renyah. ‘Kurasa kau pasti mengenalnya…”

Aku bersiap untuk mengangguk ketika secepat itu pula kurasakan hantaman perasaan tidak nyaman di dadaku, membuatku terpaku sejenak. “Ya, ya… kurasa aku mengenalnya…” jawabku dengan konsentrasi terpecah. Rasanya nama itu sangat tidak asing, terlepas dari kenyataan bahwa wanita bernama Go Hyun Jung itu memang seorang artis.

“Bagaimana kau bisa mengenal Yo Won?” tanyanya sambil mendekati si barbar dan memberikan rangkulan sahabat di bahunya. Kentara sekali kalau itu hanya akting. Dan aku tidak suka gayanya dimana seolah-olah keberadaannya sangat penting.

Yo Won memberikan mimik tidak suka, dan aku memahaminya. Terlalu dibuat-buat, dan mereka terlihat tidak dekat. Yang terlihat dekat sebenarnya Ye Jin dan Yo Won. ”Kau tidak usah memaksakan diri kalau tidak bersahabat dengannya. Dan soal pertemuanku dan dia...”

Wajah si barbar seketika memucat melihat mulutku mulai terbuka. ”Entahlah,” jawabku. ”Yang jelas pertemuanku dengan Yo Won tidak ada hubungannya denganmu.,...” tambahku.

Detik itu juga kusesali tindakanku. Untuk apa aku melakukan hal itu? Padahal jelas-jelas aku bisa membalas perbuatannya dengan mengatainya barbar di depan umum.

Kadang-kadang rasa kasihan bisa menutupi semuanya, ya sudahlah, lagipula, itu pertama kalinya lidahku menyebut namanya langsung. Aneh sekali, rasanya begitu menyebut namanya, aku merasa begitu dekat dengannya, sekaligus begitu jauh. Dan ada perasaan aneh yang....

Ada begitu banyak prajurit di kiri kananku, mengepungku. Di sampingku, seorang yang mirip Tae Wong dengan pangkat yang kelihatannya lebih tinggi. Aku bersender padanya, karena kekuatanku nyaris nol. Pandanganku lurus ke depan, dan tanganku, terulur maju ke arah seorang wanita yang tampak anggun. Air mata mengalir di pipinya, dan entah mengapa, dadaku begitu sesak melihatnya.

”Deokman....” kurasakan bibirku bergetar. Pandanganku mulai kabur. ”Deokman....” ujarku lagi. Dan detik itu juga, sebuah tusukan tajam merobek perutku, membuat darah tertumpah. Lututku jatuh menyentuh tanah, ketika tanganku yang terulur tidak mampu menyentuh dan menghapus air mata wanita di depanku.

”Nam Gil? Nam Gil? Kau tidak apa-apa yoo?” tanya Sung Pil cemas. Aku menatap ke depanku dengan panik. Meja, dan orang, dan kursi. Bukan prajurit, bukan pedang, bukan wanita itu.

”Kau mau minum air putih?” tawar seseorang, ternyata si barbar. Kenapa ya? Wajahnya mirip sekali dengan wanita itu. Seketika ada keinginan yang meluap dari dadaku. . Aku ingin menyentuhnya. Dan dengan cepat, keinginan itu dengan segera kuhapus

“Tidak perlu,” ujarku sambil menyentuh pelipisku yang berdenyut nyeri. “Maaf, rasanya pikiranku sedang kalut akhir-akhir ini…” kupaksakan bibirku membentuk sebuah senyuman.

“Pakai saja ini… Keringatmu banyak sekali…” ujar si barbar sambil memberikan sebuah sapu tangan padaku. Kutatap tangannya, mempertimbangkan sebaiknya menerima sapu tangan itu atau tidak.

”Thanks... Yo Won...” ujarku sambil menghela nafas dan menerimanya. Wajahnya tampak senang melihatku menggunakan sapu tangannya. Dan lebih dari itu, sesaat kuluhat semburat merah di pipinya.
Ternyata ia sangat manis kalau tersenyum seperti itu... hmm...

”Hei, Nam gil? Sorry, lama nunggu?” tanya Hee Wong sambil menepuk pundakku dari belakang. Kutatap ia dengan kesal. Masa ia lupa kalau bahku masih belum sembuh? Hah! Sudahlah!

“Dimana aku duduk?” tanyanya riang.

“Di sana!” jawabku, sambil menggerakkan kepalaku sedikit. Rupanya ia mengerti, dengan segera ia mengambil posisi duduk di sebelahku.

“Rasanya repot sekali, oh ya, aku sudah mengantar Ji Hyun pulang barusan... Jadi, sepanjang hari aku bebas, nih!!” ujarnya senang.

“Baguslah kalau begitu...” jawabku sambil meminum chocofee milikku. “Oh ya, dimana si pirang?” tanyaku ke arah Yo Won.

Hah, capek juga memanggilnya si barbar terus menerus. Sebaiknya mulai sekarang kulupakan saja dendamku pada anak ini. Lagipula, sedikit banyak aku memang salah, untung waktu itu di WC tidak jadi membuka bajunya, bisa-bisa dituduh pelecehan seksual.

Ya sudahlah, lagipula aku tidak sebegitu jahatnya, sampai-sampai mendendam pada seorang gadis SMA. Kedengarannya konyol. Tapi, yang pasti, kalau sampai ada gangguan pada alat vitalku, ia harus bertanggung jawab kalau sampai tidak ada yang mau denganku. Wew, mikir apa sih aku ini?

“Dia ke sana, ketemu pacarnya,” jawabnya sambil menatap ke sudut ruangan. Kuikuti arah pandangannya. Memang benar, di sana gadis itu tengah asyik bercengkrama dengan seorang cowok yang cukup tampan. “Hei, umm... terimakasih,” ujarnya tiba-tiba.

Kutatap ia dengan pandangan seolah ia gadis paling aneh di dunia. ”Nggak salah? Aku yang meminjam saputanganmu, dan kau yang berterimakasih? Sakit ya?” tanyaku sambil tertawa mengejeknya.

“Kau tahu, soal Yoo jin, aku memang tidak dekat dengannya...” jawabnya sambil tersenyum kaku.

“Ohh, soal itu? Tidak masalah...” balasku sambil tersenyum.

Ia terus berdiri dan tersenyum, membuatku salah tingkah. Tunggu, kok suasananya aman sekali? Biasanya saat seperti ini adalah saat dimana siulan ejekan dari Yoon Hoo beraksi.
Saat kutatap ke kiri-kananku, ternyata teman-temanku sedang sibuk sendiri. Menjengkelkan. Sung Pil dan Yong Soo asyik tertawa dan bercanda dengan Ye Jin, sementara Yoon Hoo dan Hee Wong asyik tertawa dan entah digoda atau menggoda beberapa siswi di sini. Phew...

“Hahaha...” tanpa sadar aku tertawa malas. Pantas saja daritadi suasana mengobrolku dengan Yo Won berjalan biasa tanpa ada siulan jahil dari mereka.

”Hmph... sudah kukatakan bukan? Kalian memang menyedot perhatian di sini...” ujarnya sambil tertawa melihat wajah jengkelku. ”Eh? Kenapa?” tanyanya bingung. ”Ada sesuatu di wajahku?”

”Ah, tidak...” elakku kikuk. Aku suka melihatnya tertawa. Entah mengapa, walaupun sebenarnya ia tidak terlalu cantik, aku merasa nyaman melihatnya tertawa, dan seandainya bisa, aku ingin... Aarrgh!! Apa yang kupikirkan?!

”Selain membuka stand, apa ada tempat menarik lainnya?” tanyaku sambil menatap sekeliling. Dan serta merta, semua anak perempuan di sana langsung datang ke arahku, menyodori setumpuk pamflet padaku. Mereka saling berebutan bicara hingga satu pun tidak ada yang kumengerti.


─Lee Yo Won, Seoul, 2008 ─

Aku terpaksa harus mundur selangkah karena begitu banyaknya anak perempuan maju mengerumuni Kim Nam Gil, menjejalinya dengan begitu banyak pamflet dan brosur dari stand juga acara di sini.

“Mampir ke aula olahraga! Sekarang ini sedang ada drama loh!!” ujar gadis yang satu. Aku mengenalnya, ia memang anak klub drama. ”Setelah klub drama, akan ada band yang tampil!!” seru anak lain yang rambutnya dipotong pendek. ”Jangan, ke stand ini saja!!”

”Oi..oi...apa-apaan ini...” keluh cowok itu, tampak kebingungan. Teman-temannya menatapnya dengan geli campur takut. Mereka juga pasti ngeri kalau tiba-tiba dijejali macam-macam seperti itu.

”Jangan kesana, di sini lebih asyik!!” anak lainnya berebut meletakkan pamflet di tangannya. ”Aduh, mana asyik sih! Ini lebih oke!!” ujar lainnya tidak mau kalah.

Kutarik nafas panjang. Melelahkan sekali jadi cowok tampan ya? Selalu jadi rebutan? Atau anak-anak ini saja yang gayanya norak? Pikirku kesal. Kulirik Ye Jin sejenak, lalu kami sama-sama membantu menengahi Kim Nam Gil dan anak-anak itu. “Maaf sekali ya, dia sudah ada acara...” ujarku sambil tersenyum dibuat-buat.

“Benar, sementara mereka akan jalan-jalan berdua...” tambah Ye Jin. Aku menatapnya dengan pandangan kaget. Ia menutup mulutnya, tapi sudah terlanjur memberikan tambahan informasi yang tidak penting, sebenarnya.

”Jangan nyerobot dong, Yo Won!!” keluh anak-anak itu kesal. mereka mulai mendorongku dan memojokkanku. Lihat, Ye Jin! Makasih banget, ini berkatmu! ”Kau kan sudah dekat dengan Kak Tae Wong, Kak Seung Hyo dan Seung Ho!! Masa yang ini mau juga?!”

”Hei!” sebuah suara memecah perhatian kami. ”Aku yang memintanya menemaniku, jadi kalian jangan macam-macam! Ia temanku, tahu!” serunya dengan suara galak. ”Kalian tidak mau aku marah kan?” tanyanya lagi, kali ini ia tersenyum manis.

”Maaf....” ujar gadis-gadis itu berbarengan. Wajah mereka memerah, sepertinya nyaris lumer melihat senyuman Kim Nam Gil. Kuakui, memang senyumannya menarik sekali. Lagipula, ia tidak sejahat dugaanku. Buktinya, ia sudah dua kali menolongku hari ini.

”Bersenang-senanglah, Nam Gil...” ujar teman-temannya, nyaris kompak.

”Enak saja! Dasar kalian penghianat!” ia meringis pelan. ”Apa kau ikut aku, Sung Pil?” tanyanya pada si wajah lucu.

”Baiklah, tentu saja yoo!!” jawab Sung Pil. Ia bangkit dari duduknya dengan wajah ceria. “Kita ke aula dulu, ya, yoo… Judul dramanya menarik yo.. judulnya ‘SMA versus anak TK…’”

“Hahaha… judul konyol macam apa itu?” tawa Nam Gil terkesan geli. Kutatap wajahnya yang berseri, tampaknya moodnya sedang bagus, syukurlah. Aneh-aneh saja si Seung Ho.. ternyata ia benar memakai judul konyol yang kuucapkan selintas lalu. Hahaha…

“Menurutmu, sebaiknya kemana dulu?” tanyanya sambil tiba-tiba menatapku.

“Eh? Ngg… ke aula saja dulu. Dan setelah itu, ke lapangan basket…” jawabku sambil buru-buru memalingkan wajah. Aku tidak mau ketahuan memandangnya terus-terusan. Selalu saja, tiap kali mata kami bertatapan, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Caranya menatapku membuatku ingin terus menatapnya.

Ia membuatku terus berdebar seharian ini. Mendengarnya memanggil namaku benar-benar membuat dadaku terasa aneh. Sangat aneh. Entah mengapa, detik itu air mataku ingin turun, aneh sekali bukan? Padahal tidak ada yang istimewa, hanya sebuah nama, namun rasanya dadaku begitu hangat mendengarnya.

“Ada apa di lapangan basket, yoo?” Tanya Sung Pil bingung. Ia melihat buku panduan acara yang dibagikan di pintu masuk, dan seketika itu matanya berbinar tertarik. “Kau harus ke sana, yoo!! Ada tanding basket, kalau menang, hadiahnya voucher makanan!!!” serunya senang.

“Kau ini, dasar aneh! Apa serunya melawan anak SMA?” tukasnya angkuh. Ia menyentuh bahunya sedikit dan mengennyit. Kenapa ya? Apa bahunya sakit?

“Bahumu sakit?” tanyaku bingung. Mungkin itu sebabnya ia tidak mau bertanding. Padahal sebelumnya ia begitu berniat bertanding dengan anak-anak karate. Padahal ia juga bilang ke Sang Won kalau ia ikut klub karate, basket dan taekwondo.

”Tidak,” jawabnya, kaget mendengar pertanyaanku. ”Kenapa memangnya?”

”Soalnya kau menghindari pertandingan basket itu...” jawabku pelan. ”Padahal anak tim basket kami juara nasional loh...” sahutku bangga. ”Kak Sang Woo angota tim inti, dna ia sangat hebat. Tanding one on one dengan tim inti saja tidak ada yang menang... Apakgi dengannya...” ujarku, merasa bangga atas prestasi sekolahku sendiri.

”Hei, Kak Yo Won!!” sapa sebuah suara di belakangku. Rupanya Seung Ho. Wajahnya terlihat gembira. Memang pantas ia merasa gembira, acaranya sangat sukses.

”Semuanya berjalan lancar, bukan?” tanyaku sambil menatap aula di depan kami. Beberapa anak OSIS duduk di kursi terdepan, merasa malu dan jengah menonton drama kritikan dan sindiran untuk mereka. Berani jamin, mereka akan bertobat cepat atau lambat. ”Kapan pemutaran ulang dramanya?” tanyaku sambil menatapnya kagum.

”Sebentar lagi ada rehat setengah jam, baru dilakukan pemutaran akhir. Jalan-jalan saja dulu, eh, siapa dia?” tanyanya sambil menatap Kim Nam Gil yang sedari tadi berdiri diam di sebelahku.

”Dia... temanku... Kenalkan, Kim Nam Gil, ini Yoo Seung Ho” jawabku pelan, disusul anggukan kepala cowok itu.

”Senang berkenalan,” ujar Kim Nam Gil sambil memandang Seung Ho dan memberikan senyuman tipis.

Seung Ho membalas dengan anggukan pelan dan sopan, lalu tersenyum singkat. ”Senang bertemu juga, semoga menikmati acara yang merupakan hasil kerja kerasku dan Kak Yo Won...”

”Apa-apaan sih, Seung Ho! Kan yang lainnya juga berjasa besar, apalagi Kak Tae Wong, Kak Seung Hyo, Ye Jin, dan Eun Bin!!” aku tertawa senewen menanggapi candaannya. Entah mengapa aura di depanku mulai tidak enak. Kenapa dua cowok ini saling pandang begitu ya?

”Mereka kenapa sih?” tanyaku pada Sung Pil.

Cowok itu menggeleng pelan dan dengan polosnya menggeleng. ”Aku tidak tahu yoo...” ia bertanya ke depannya. ”Kalian kenapa yo... Nam Gil, kita ke lapangan dulu saja yooo...” ajaknya.

Nam Gil tersenyum sebelah dan mengangguk pelan pada Seung Ho. Aku melambai dan berjalan mengikuti teman baruku, Kim Nam Gil.

”Aku ingat!” cetus Seung Ho tiba-tiba. Sedari tadi ia diam, rupanya sedang memikirkan sesuatu. ”Kau cowok yang mencari sensasi di klub karate kan? Yang mengacaukan latihan sekolah ini? Kak Yo Won, kudengar kau bilang tidak kenal padanya... Lalu?”

Aku memandang ke arah Kim Nam Gil dan Seung Ho, lalu Sung Pil bergantian. Wah, cerintanya bakal jadi panjang, nih...

--to be continued—

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TWELFTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
Kim Chun Chu: Yoo Seung Ho (memakai nama asli di FF)
Bakui: Jang Hee Woong (memakai nama asli di FF)
Park Jung Chul: Kim Yong Soo: Jung Yong Soo
San Tak: Kang Sung Pil (memakai nama asli di FF)
Ho Jae: Go Yoon Hoo (memakai nama asli di FF)
Young Mishil: UEE/Kim Yoo Jin: Go Yoo Jin (Mishil legal daughter)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

”Kau Kim Nam Gil, kan?!” seru sebuah suara. Kutatap si pemilik suara. Seorang gadis yang cukup cantik dengan rambut panjang pirangnya. Dan entah mengapa, wajahnya tampak tidak asing.

Tanpa sadar mataku beralih menatap Yo Won, si gadis barbar. Ia mengernyitkan dahinya melihat tingkah si pirang. Mungkin hubungan dua gadis ini tidak terlalu dekat? Ahh, aneh-aneh saja. untuk apa juga sih aku memikirkan si barbar?

”Siapa ya?” tanyaku bingung. Walau wajahnya tidak asing, aku sepertinya tidak mengenalnya.

”Kau tidak mengenalnya?” tanya Yoon Hoo bingung. Ia memiringkan kepalanya dan tersenyum singkat, jelas, ia memberi nilai tinggi untuk penampilan gadis ini.

”Tidak,” jawabku sambil menatap Yoon Hoo sekilas. ”Apa aku mengenalmu?” tanyaku sambil menerima dua medium cup coffee blend chocoffee yand dihidangkan si barbar.

”Ohh, kau tidak ingat, bukan?” tanyanya sambil tersenyum. ”Waktu kecil aku pernah main ke rumahmu bersama Ibuku, tapi kami diusir…” jawabnya sambil tersenyum manis. ”Yoo Jin, namaku Kim Yoo Jin!!” serunya riang.

Kutatap Yoo Jin dengan bingung. ”Rasanya memang ada kejadian begitu, tapi, entahlah, aku tidak ingat…” jawabku sekenanya.

“Ibuku bernama Go Hyun Jung…” jawab gadis itu sambil tertawa renyah. ‘Kurasa kau pasti mengenalnya…”

Aku bersiap untuk mengangguk ketika secepat itu pula kurasakan hantaman perasaan tidak nyaman di dadaku, membuatku terpaku sejenak. “Ya, ya… kurasa aku mengenalnya…” jawabku dengan konsentrasi terpecah. Rasanya nama itu sangat tidak asing, terlepas dari kenyataan bahwa wanita bernama Go Hyun Jung itu memang seorang artis.

“Bagaimana kau bisa mengenal Yo Won?” tanyanya sambil mendekati si barbar dan memberikan rangkulan sahabat di bahunya. Kentara sekali kalau itu hanya akting. Dan aku tidak suka gayanya dimana seolah-olah keberadaannya sangat penting.

Yo Won memberikan mimik tidak suka, dan aku memahaminya. Terlalu dibuat-buat, dan mereka terlihat tidak dekat. Yang terlihat dekat sebenarnya Ye Jin dan Yo Won. ”Kau tidak usah memaksakan diri kalau tidak bersahabat dengannya. Dan soal pertemuanku dan dia...”

Wajah si barbar seketika memucat melihat mulutku mulai terbuka. ”Entahlah,” jawabku. ”Yang jelas pertemuanku dengan Yo Won tidak ada hubungannya denganmu.,...” tambahku.

Detik itu juga kusesali tindakanku. Untuk apa aku melakukan hal itu? Padahal jelas-jelas aku bisa membalas perbuatannya dengan mengatainya barbar di depan umum.

Kadang-kadang rasa kasihan bisa menutupi semuanya, ya sudahlah, lagipula, itu pertama kalinya lidahku menyebut namanya langsung. Aneh sekali, rasanya begitu menyebut namanya, aku merasa begitu dekat dengannya, sekaligus begitu jauh. Dan ada perasaan aneh yang....

Ada begitu banyak prajurit di kiri kananku, mengepungku. Di sampingku, seorang yang mirip Tae Wong dengan pangkat yang kelihatannya lebih tinggi. Aku bersender padanya, karena kekuatanku nyaris nol. Pandanganku lurus ke depan, dan tanganku, terulur maju ke arah seorang wanita yang tampak anggun. Air mata mengalir di pipinya, dan entah mengapa, dadaku begitu sesak melihatnya.

”Deokman....” kurasakan bibirku bergetar. Pandanganku mulai kabur. ”Deokman....” ujarku lagi. Dan detik itu juga, sebuah tusukan tajam merobek perutku, membuat darah tertumpah. Lututku jatuh menyentuh tanah, ketika tanganku yang terulur tidak mampu menyentuh dan menghapus air mata wanita di depanku.

”Nam Gil? Nam Gil? Kau tidak apa-apa yoo?” tanya Sung Pil cemas. Aku menatap ke depanku dengan panik. Meja, dan orang, dan kursi. Bukan prajurit, bukan pedang, bukan wanita itu.

”Kau mau minum air putih?” tawar seseorang, ternyata si barbar. Kenapa ya? Wajahnya mirip sekali dengan wanita itu. Seketika ada keinginan yang meluap dari dadaku. . Aku ingin menyentuhnya. Dan dengan cepat, keinginan itu dengan segera kuhapus

“Tidak perlu,” ujarku sambil menyentuh pelipisku yang berdenyut nyeri. “Maaf, rasanya pikiranku sedang kalut akhir-akhir ini…” kupaksakan bibirku membentuk sebuah senyuman.

“Pakai saja ini… Keringatmu banyak sekali…” ujar si barbar sambil memberikan sebuah sapu tangan padaku. Kutatap tangannya, mempertimbangkan sebaiknya menerima sapu tangan itu atau tidak.

”Thanks... Yo Won...” ujarku sambil menghela nafas dan menerimanya. Wajahnya tampak senang melihatku menggunakan sapu tangannya. Dan lebih dari itu, sesaat kuluhat semburat merah di pipinya.
Ternyata ia sangat manis kalau tersenyum seperti itu... hmm...

”Hei, Nam gil? Sorry, lama nunggu?” tanya Hee Wong sambil menepuk pundakku dari belakang. Kutatap ia dengan kesal. Masa ia lupa kalau bahku masih belum sembuh? Hah! Sudahlah!

“Dimana aku duduk?” tanyanya riang.

“Di sana!” jawabku, sambil menggerakkan kepalaku sedikit. Rupanya ia mengerti, dengan segera ia mengambil posisi duduk di sebelahku.

“Rasanya repot sekali, oh ya, aku sudah mengantar Ji Hyun pulang barusan... Jadi, sepanjang hari aku bebas, nih!!” ujarnya senang.

“Baguslah kalau begitu...” jawabku sambil meminum chocofee milikku. “Oh ya, dimana si pirang?” tanyaku ke arah Yo Won.

Hah, capek juga memanggilnya si barbar terus menerus. Sebaiknya mulai sekarang kulupakan saja dendamku pada anak ini. Lagipula, sedikit banyak aku memang salah, untung waktu itu di WC tidak jadi membuka bajunya, bisa-bisa dituduh pelecehan seksual.

Ya sudahlah, lagipula aku tidak sebegitu jahatnya, sampai-sampai mendendam pada seorang gadis SMA. Kedengarannya konyol. Tapi, yang pasti, kalau sampai ada gangguan pada alat vitalku, ia harus bertanggung jawab kalau sampai tidak ada yang mau denganku. Wew, mikir apa sih aku ini?

“Dia ke sana, ketemu pacarnya,” jawabnya sambil menatap ke sudut ruangan. Kuikuti arah pandangannya. Memang benar, di sana gadis itu tengah asyik bercengkrama dengan seorang cowok yang cukup tampan. “Hei, umm... terimakasih,” ujarnya tiba-tiba.

Kutatap ia dengan pandangan seolah ia gadis paling aneh di dunia. ”Nggak salah? Aku yang meminjam saputanganmu, dan kau yang berterimakasih? Sakit ya?” tanyaku sambil tertawa mengejeknya.

“Kau tahu, soal Yoo jin, aku memang tidak dekat dengannya...” jawabnya sambil tersenyum kaku.

“Ohh, soal itu? Tidak masalah...” balasku sambil tersenyum.

Ia terus berdiri dan tersenyum, membuatku salah tingkah. Tunggu, kok suasananya aman sekali? Biasanya saat seperti ini adalah saat dimana siulan ejekan dari Yoon Hoo beraksi.

Saat kutatap ke kiri-kananku, ternyata teman-temanku sedang sibuk sendiri. Menjengkelkan. Sung Pil dan Yong Soo asyik tertawa dan bercanda dengan Ye Jin, sementara Yoon Hoo dan Hee Wong asyik tertawa dan entah digoda atau menggoda beberapa siswi di sini. Phew...

“Hahaha...” tanpa sadar aku tertawa malas. Pantas saja daritadi suasana mengobrolku dengan Yo Won berjalan biasa tanpa ada siulan jahil dari mereka.

”Hmph... sudah kukatakan bukan? Kalian memang menyedot perhatian di sini...” ujarnya sambil tertawa melihat wajah jengkelku. ”Eh? Kenapa?” tanyanya bingung. ”Ada sesuatu di wajahku?”

”Ah, tidak...” elakku kikuk. Aku suka melihatnya tertawa. Entah mengapa, walaupun sebenarnya ia tidak terlalu cantik, aku merasa nyaman melihatnya tertawa, dan seandainya bisa, aku ingin... Aarrgh!! Apa yang kupikirkan?!

”Selain membuka stand, apa ada tempat menarik lainnya?” tanyaku sambil menatap sekeliling. Dan serta merta, semua anak perempuan di sana langsung datang ke arahku, menyodori setumpuk pamflet padaku. Mereka saling berebutan bicara hingga satu pun tidak ada yang kumengerti.


─Lee Yo Won, Seoul, 2008 ─

Aku terpaksa harus mundur selangkah karena begitu banyaknya anak perempuan maju mengerumuni Kim Nam Gil, menjejalinya dengan begitu banyak pamflet dan brosur dari stand juga acara di sini.

“Mampir ke aula olahraga! Sekarang ini sedang ada drama loh!!” ujar gadis yang satu. Aku mengenalnya, ia memang anak klub drama. ”Setelah klub drama, akan ada band yang tampil!!” seru anak lain yang rambutnya dipotong pendek. ”Jangan, ke stand ini saja!!”

”Oi..oi...apa-apaan ini...” keluh cowok itu, tampak kebingungan. Teman-temannya menatapnya dengan geli campur takut. Mereka juga pasti ngeri kalau tiba-tiba dijejali macam-macam seperti itu.

”Jangan kesana, di sini lebih asyik!!” anak lainnya berebut meletakkan pamflet di tangannya. ”Aduh, mana asyik sih! Ini lebih oke!!” ujar lainnya tidak mau kalah.

Kutarik nafas panjang. Melelahkan sekali jadi cowok tampan ya? Selalu jadi rebutan? Atau anak-anak ini saja yang gayanya norak? Pikirku kesal. Kulirik Ye Jin sejenak, lalu kami sama-sama membantu menengahi Kim Nam Gil dan anak-anak itu. “Maaf sekali ya, dia sudah ada acara...” ujarku sambil tersenyum dibuat-buat.

“Benar, sementara mereka akan jalan-jalan berdua...” tambah Ye Jin. Aku menatapnya dengan pandangan kaget. Ia menutup mulutnya, tapi sudah terlanjur memberikan tambahan informasi yang tidak penting, sebenarnya.

”Jangan nyerobot dong, Yo Won!!” keluh anak-anak itu kesal. mereka mulai mendorongku dan memojokkanku. Lihat, Ye Jin! Makasih banget, ini berkatmu! ”Kau kan sudah dekat dengan Kak Tae Wong, Kak Seung Hyo dan Seung Ho!! Masa yang ini mau juga?!”

”Hei!” sebuah suara memecah perhatian kami. ”Aku yang memintanya menemaniku, jadi kalian jangan macam-macam! Ia temanku, tahu!” serunya dengan suara galak. ”Kalian tidak mau aku marah kan?” tanyanya lagi, kali ini ia tersenyum manis.

”Maaf....” ujar gadis-gadis itu berbarengan. Wajah mereka memerah, sepertinya nyaris lumer melihat senyuman Kim Nam Gil. Kuakui, memang senyumannya menarik sekali. Lagipula, ia tidak sejahat dugaanku. Buktinya, ia sudah dua kali menolongku hari ini.

”Bersenang-senanglah, Nam Gil...” ujar teman-temannya, nyaris kompak.

”Enak saja! Dasar kalian penghianat!” ia meringis pelan. ”Apa kau ikut aku, Sung Pil?” tanyanya pada si wajah lucu.

”Baiklah, tentu saja yoo!!” jawab Sung Pil. Ia bangkit dari duduknya dengan wajah ceria. “Kita ke aula dulu, ya, yoo… Judul dramanya menarik yo.. judulnya ‘SMA versus anak TK…’”

“Hahaha… judul konyol macam apa itu?” tawa Nam Gil terkesan geli. Kutatap wajahnya yang berseri, tampaknya moodnya sedang bagus, syukurlah. Aneh-aneh saja si Seung Ho.. ternyata ia benar memakai judul konyol yang kuucapkan selintas lalu. Hahaha…

“Menurutmu, sebaiknya kemana dulu?” tanyanya sambil tiba-tiba menatapku.

“Eh? Ngg… ke aula saja dulu. Dan setelah itu, ke lapangan basket…” jawabku sambil buru-buru memalingkan wajah. Aku tidak mau ketahuan memandangnya terus-terusan. Selalu saja, tiap kali mata kami bertatapan, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Caranya menatapku membuatku ingin terus menatapnya.

Ia membuatku terus berdebar seharian ini. Mendengarnya memanggil namaku benar-benar membuat dadaku terasa aneh. Sangat aneh. Entah mengapa, detik itu air mataku ingin turun, aneh sekali bukan? Padahal tidak ada yang istimewa, hanya sebuah nama, namun rasanya dadaku begitu hangat mendengarnya.

“Ada apa di lapangan basket, yoo?” Tanya Sung Pil bingung. Ia melihat buku panduan acara yang dibagikan di pintu masuk, dan seketika itu matanya berbinar tertarik. “Kau harus ke sana, yoo!! Ada tanding basket, kalau menang, hadiahnya voucher makanan!!!” serunya senang.

“Kau ini, dasar aneh! Apa serunya melawan anak SMA?” tukasnya angkuh. Ia menyentuh bahunya sedikit dan mengennyit. Kenapa ya? Apa bahunya sakit?

“Bahumu sakit?” tanyaku bingung. Mungkin itu sebabnya ia tidak mau bertanding. Padahal sebelumnya ia begitu berniat bertanding dengan anak-anak karate. Padahal ia juga bilang ke Sang Won kalau ia ikut klub karate, basket dan taekwondo.

”Tidak,” jawabnya, kaget mendengar pertanyaanku. ”Kenapa memangnya?”

”Soalnya kau menghindari pertandingan basket itu...” jawabku pelan. ”Padahal anak tim basket kami juara nasional loh...” sahutku bangga. ”Kak Sang Woo angota tim inti, dan ia sangat hebat. Tanding one on one dengan tim inti saja tidak ada yang menang... Apalagi dengannya...” ujarku, merasa bangga atas prestasi sekolahku sendiri.

”Hei, Kak Yo Won!!” sapa sebuah suara di belakangku. Rupanya Seung Ho. Wajahnya terlihat gembira. Memang pantas ia merasa gembira, acaranya sangat sukses.

”Semuanya berjalan lancar, bukan?” tanyaku sambil menatap aula di depan kami. Beberapa anak OSIS duduk di kursi terdepan, merasa malu dan jengah menonton drama kritikan dan sindiran untuk mereka. Berani jamin, mereka akan bertobat cepat atau lambat. ”Kapan pemutaran ulang dramanya?” tanyaku sambil menatapnya kagum.

”Sebentar lagi ada rehat setengah jam, baru dilakukan pemutaran akhir. Jalan-jalan saja dulu, eh, siapa dia?” tanyanya sambil menatap Kim Nam Gil yang sedari tadi berdiri diam di sebelahku.

”Dia... temanku... Kenalkan, Kim Nam Gil, ini Yoo Seung Ho” jawabku pelan, disusul anggukan kepala cowok itu.

”Senang berkenalan,” ujar Kim Nam Gil sambil memandang Seung Ho dan memberikan senyuman tipis.

Seung Ho membalas dengan anggukan pelan dan sopan, lalu tersenyum singkat. ”Senang bertemu juga, semoga menikmati acara yang merupakan hasil kerja kerasku dan Kak Yo Won...”

”Apa-apaan sih, Seung Ho! Kan yang lainnya juga berjasa besar, apalagi Kak Tae Wong, Kak Seung Hyo, Ye Jin, dan Eun Bin!!” aku tertawa senewen menanggapi candaannya. Entah mengapa aura di depanku mulai tidak enak. Kenapa dua cowok ini saling pandang begitu ya?

”Mereka kenapa sih?” tanyaku pada Sung Pil.

Cowok itu menggeleng pelan dan dengan polosnya menggeleng. ”Aku tidak tahu yoo...” ia bertanya ke depannya. ”Kalian kenapa yo... Nam Gil, kita ke lapangan dulu saja yooo...” ajaknya.

Nam Gil tersenyum sebelah dan mengangguk pelan pada Seung Ho. Aku melambai dan berjalan mengikuti teman baruku, Kim Nam Gil.

”Aku ingat!” cetus Seung Ho tiba-tiba. Sedari tadi ia diam, rupanya sedang memikirkan sesuatu. ”Kau cowok yang mencari sensasi di klub karate kan? Yang mengacaukan latihan sekolah ini? Kak Yo Won, kudengar kau bilang tidak kenal padanya... Lalu?”

Aku memandang ke arah Kim Nam Gil dan Seung Ho, lalu Sung Pil bergantian. Wah, cerintanya bakal jadi panjang, nih...

--to be continued--

Tidak ada komentar: