Selasa, 09 Februari 2010

Fanfic Biodeok After Love7

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SEVENTH SCENE
DEOKMAN
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Selamat pagi Deokman!!” Chen Myeong menenteng sebuah koper sambil tersenyum lebar. “Kenapa wajahmu? Kaget ya?”

“Unni? Kupikir aku akan mengantar turis2 itu sendirian…”

“Yushin-shi memenuhi keinginanku untuk menemanimu. Lagipula dia tidak bisa menolak. Bayaran yang kantorn kita terima kan besar sekali, bahkan lebih dari cukup untuk empat tourist guide…”

“Tapi, aku jadi tidak enak, harus merepotkan unni lagi…”
“Ah, kapan sih aku direpotkan?” jawab Chen Myeong lembut. “Lihat Deokman, aku yakin mobil itu yang dimaksud…”
“Oh ya?”

Deokman memandang ke kejauhan. Matahari terasa hagat namun tidak panas membakar. Cuaca yang disukainya. Dan entah kenapa, sedari tadi jantungnya terus berdebar-debar tidak menentu.

“Selamat pagi,” sapa Chen Myeong pada pria yang melangkah keluar dari mobil sport putihnya. Pria itu tampan dengan tinggi dan postur yang cukup ideal.
“Namaku Wolya,” ujar pria itu sambil mengenalkan diri dengan sopan.

“Namaku Chen Myeong, dan ini Deokman. Apakah anda hanya sendirian?” Tanya Chen Myeong sambil memulai percakapan dengan luwes.

“Mereka belum tiba di sini?” Tanya Wolya dengan wajah terkejut. “Tapi kata mereka, tadi mereka sampai di sini sekitar satu jam yang lalu.” Wajahnya terlihat panic sekarang.

“Kalian terpisah?” ChenMyeong mulai merasakan kepanikan tersendiri. “Bukankah mereka terkenal? Bisa gawat kalau ada fans yang mengenali mereka…”

“Itulah yang juga kukhawatirkan…”

“Ayo kita pergi mencari mereka,” ajak Wolya dengan terburu-buru.
"Tapi tempat ini lias sekali, ada kemungkinan kita tidak bisa menemukan mereka hari ini... Mungkin terpaksa diundur sampai besok..."

Wolya melirik jam tangannya dan menarik nafas panjang. "Seharusnya meerka bisa ditemukan... Mereka kan belum lama tibanya..."

"Tempat ini mudah membuat orang tersesat, apalagi bagi yang tidak tahu jalan..." keluh ChenMyeong.

"Ayo kita cari saja, unni..."
Deokman dan Chen Myeong dengan segera mengangkat koper mereka dan mulai berkeliling mencari.
------------------------------------ ----------------------------------------
“Astaga, dimana sih orang2 itu…” keluh Deokman sambil memandang sekeliling dengan cemas. “Seharusnya mereka menunggu di tempat yang ditentukan,” keluhnya.

BRUK!!!

“Kyaa!!” Deokman menjerit kaget saa seorang pria yang sedang berlari menabraknya sampai ia terjatuh. Dan bukannya minta maaf, pria itu malah pergi begitu saja. Sekarang bukan hanya kakinya yang lecet, barang2nya juga berhamburan. Deokman menarik nafas dengan kesal lalu mulai memunguti barang2nya.

“Boleh saya bantu, nona?” ujar sebuah suara yang sopan dan lembut.

Deokman menoleh ke si pemilik suara dan nafasnya seolah terhenti. Pria itu sepertinya merasakan hal yang sama.

Udara seolah berhenti dan angin seolah tidak lagi bertiup. Ia merasakan jantungnya berdetak liar dan tatapan mata pria itu membuatnya sulit bernafas.

Samar-samar, Deokman seolah mendengarkan gaung suara aneh yang sama dengan mimpinya, dan ia nyaris tidak bernafas saat merasakan betapa familiarnya mata coklat sendu itu.

Pria itu tidak bergerak dari tempatnya, demikian pula dengan Deokman. Mata mereka seolah tidak dapat menangkap objek selain diri mereka, dan semuanya seolah terpusat di sana. Tetapi tidak hanya itu. Ia merasakan rasa sakit. Rasa sakit sekaligus sesak yang luar biasa di dadanya.

“Nona? Apa kau baik-baik saja?” pria itu tiba-tiba bertanya dengan wajah terkejut
“Ya, tentu saja…” jawab Deokman buru-buru. “Kenapa?”

“Kau menangis?” Tanya pria itu lagi. Ekspresinya terlihat cemas.
“Kapan aku menangis?” Deokman mencoba tertawa, namun saat ia menyentuh pipinya sendiri, ia terkejut saat menyadari pipinya sudah basah oleh air mata. “Oh, kau benar, aku menangis…” gumamnya kacau.

“Pria tadi menabrakmu dengan keras ya?” Tanya pria itu sambil membantu memunguti barang-barangnya. Seolah teringat sesuatu, ia menyodorkan sapu tangannya dengan cepat. “Hapuslah air matamu…”

“Terimakasih…” sahut Deokman sambil menerima sapu tangan itu. Sambil mengusap air mata di pipinya, ia mencium aroma segar dari sapuntangan pria itu. Ia menyukai aroma parfum pria yang segar dari sapu tanga itu, dan menduga aroma itu berasal dari parfum yang dikenakan pria itu.

“Kau baik-baik saja?” Tanya pria itu lagi. Deokman tersadar dari lamunannya dan mengangguk gugup. Sebelumnya ia tidak pernah bertingkah seaneh ini di depan pria. Dan sebelumnya jantungnya belum pernah juga berdebar segila ini. Dan wajahnya terlalu familiar bagi Deokman.

“Deokman!!!” dari kejauhan, seseorang berteriak memannggil namanya. Deokman terkejut dan melambaikan tangan begitu melihat pemanggilnya, Chen Myeong. “Aku di sini, unni…” ujar Deokman sambil bangkit berdiri.

“Aku mencarimu dari tadi! Dan aku sudah menemukan Alcheon-shi!” serunya dengan ekspresi kesuksesan. “Dan pria ini adalah…” ChenMyeong ternganga sesaat lalu buru-buru menunduk dan mengucapkan salam dengan gugup. “Selamat siang, BiDam-shi…” ujarnya, lalu menyenggol Deokman pelan. “Ternyata kau sudah menemukan BiDam-shi ya?”

”Oh, ternyata dia adalah BiDam-shi? Pantas saja aku merasa familier dengan wajahnya…” pikir Deokman sambil terus memandang wajah pria di depannya. Tetapi entah mengapa Deokman merasa bukan karena itu ia merasa begitu familier dengan wajah itu. Ada sesuatu yang lain, entah apa itu

“Kebetulan yang aneh, ya?” ujar pria itu sambil tersenyum. Deokman memandang senyuman itu dan tidak dapat menahan diri untuk ikut tersenyum.

“Benar, salam kenal, BiDam-shi, nama saya Deokman…” ujarnya sambil menunduk dengan sopan. Pria itu terlihat sedikit terkejut mendengar namanya namun dengan sopan tersenyum menanggapi. “Sebaiknya kita mulai tur besok saja, mungkin kalian membutuhkan istirahat karena sudah lelah mencari kami…”
ChenMyeong dengan cepat menyanggah. “Tidak bisa, BiDam shi, dalam perjanjian kan kita setuju akan menjalani tur dalam 3 hari, lagipula saying sekali kalau kesempatan hari ini disia-siakan…” ia melirik Deokman sekilas. “Iya kan, Deokman?”

“I-iya..” sahur Deokman dengan pikiran tidak jelas ke arah mana.

“Dia tampan ya, Alcheon-shi juga…” bisik ChenMyeong sambil tersenyum kecil. “Kau menyukainya Deokman?” Tanya ChenMyeong sambil berbisik di telinga Deokman. “Dan dia sepertinya sangat perhatian pada kita…”

Deokman tidak bisa menahan pipinya yang memerah. Sekalipun baru kali ini bertemu langsung dengan duo penyanyi ini, entah kenapa ia merasa tidak asing dengan kehadiran mereka, terutama dengan BiDam, yang sejak awal menciptakan berbagai perasaan aneh di dadanya.

“Aku tidak menyangka sepertinya tur kali ini akan menarik…” bisik Alcheon pada sobatnya. “Dua gadis pemandu tur kita cantik, bukan?”
“Benar,” BiDam menimpali sambil memandang kedua gadis yang bicara dengan semangat di hadapan mereka.

“Jadi, hari ini kita akan kemana?” Tanya Alcheon dengan bersemangat. Ia tersenyum pada ChenMyeong yang menanggapi senyumannya dengan sebuah jawaban.

“Mungkin kita pertama-tama akan mencari makanan dulu…” jawab ChenMyeong sambil tersenyum pada keduanya. “Makanan apa yang kau suka, BiDam-shi?”

“Sup ayam dengan bumbu jahe merah?” tanyanya sambil sedikit nyengir.
“Kalau begitu, ayo kita makan sup ayam!!” ujar ChenMyeong bersemangat. “Aku tahu restoran yang lezat!”
-------------------------------------- ---------------------------------------------------
to be continued

Tidak ada komentar: