Jumat, 25 Juni 2010

Fanfic The Future and the Past, side story 7

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SIDE STORY 7
-LET IT FLOWS 2-
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Alcheon: Lee Seung Hyo (memakai nama asli di FF)
Young Bakui: Joo Sang Won as Wolya brother (real name: Seo Sang Won)
Kim Chun Chu: Yoo Seung Ho (memakai nama asli di FF)
Wolya: Joo Sang Wook (memakai nama asli di FF)
Shendi: Han Shin Woo
Rin: Na Rin Young
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

─Joo Sang Won, Seoul, 2009─

“Sudah kukatakan kan, langsung tembak saja!!”ujar Kakakku yang akhir-akhir ini semakin menyebalkan.

”Aku tidak mau dengar!” balasku sambil melempar bantal sofa ke kepalanya. Ia marah-marah dan melempar kembali bantal itu padaku. Katanya aku mengganggunya menonton pertandingan bola favoritnya. Masa bodoh.

Pertemuan dengan Rin banyak mengubahku. Awalnya aku tidak mempedulikan wanita. Aku tidak memikirkan apa pendapat mereka tentang penampilanku. Namun, akhir-akhir ini aku semakin peduli. Apa tanggapannya kalau aku melucu, apa tanggapannya kalau pertandingan karateku buruk.

”Kau tidak kembali ke basket?” tanya Kak Sang Wook sambil menolehkan kepalanya sedikit. ”Tinggimu sekarang sudah lebih dari cukup...”

”Nanti saja kupikirkan...” jawabku asal-asalan.

Tinggiku sudah cukup. Beberapa bulan lalu, pertemuan pertama kami, tinggiku sama dengan Rin. Aku merasa belum pantas untuk menjadi pacarnya. Ketika aku sudah lebih tinggi, ketika aku sudah lebih mampu berperan sebagai pelindungnya, aku akan mengejarnya.

Dan sekarang, ia berada di penghujung kelulusan siswa kelas tiga. Dan tinggiku sudah lebih dari cukup untuk berdiri di sampingnya. Waktunya sudah tepat. Hanya caranya, aku tidak tahu. Apa yang harus kukatakan padanya?

”Jadilah dirimu sendiri...” berkali-kali, Kakak mengemukakan kalimat yang sama saat aku menanyakan bagaimana sebaiknya caraku menembaknya. Terimakasih, kau sangat tidak membantu.

─Na Rin Young, Seoul, 2009─

“Sebentar lagi tahu-tahu kita sudah lulus ya?” ujar Seung Hyo sambil menatap pucuk-pucuk daun dari balik jendela. Pandangan kami bertemu dan kemudian kami sama-sama menatap lapangan sekolah yang luas.

”Kalau kita lulus kan?” candaku. Kami tertawa kecil dan kemudian sama-sama menghela nafas panjang. ”Apa rencanamu setelah lulus?” tanyaku.

”Kuliah, tentu saja... dan kemudian menunggu...”

Aku tersenyum memandang Seung hyo. Menunggu yang ia maksud jelas adalah menunggu pacarnya lulus dan kuliah satu kampus bersamanya. Sedangkan aku? Aku tidak tahu harus menunggu siapa nantinya. Hubunganku dan Sang Won tetap saja tidak jelas.

Tetap saja kami beberapa kali bergandengan tangan. Jalan keluar pada hari libur, namun setiap pertemuan kami, aku merasa Sang Won memperlakukanku sebagai teman baiknya, tidak lebih. Ooh, capek juga rasanya menunggu tanpa kejelasan semacam ini.

”Apa sebaiknya aku yang menembaknya ya?” gumamku sambil memandang lapangan tempat Sang Won dan temannya biasa berolahraga.

”Kau tunggu saja sebentar lagi...” ujar Seung Hyo sabar.

”Kalian laki-laki selalu saja membuat wanita menunggu...” keluhku, merasa jengkel pada keadaanku. ”Aku harus bagaimana dong...”

”Aku ini termasuk yang bergerak cepat loh,” pujinya pada diri sendiri. Mau tidak mau aku tertawa bersamanya. ”Mungkin, waktunya saja yang belum tepat untuk Sang Won...”

”Dia kan polos sekali. Mungkin dia malah tidak menyadarinya... inilah susahnya anak yang lebih muda...Coba kalau kau sukanya padaku...”

”Dasar! Kau kan tahu aku sukanya sama siapa! Jangan menggodaku dong!!”

Kami tertawa berdua. Samar-samar aku mendengar derap langkah kaki di koridor. Cepat aku melangkah ke pintu. Bukan. Tidak ada seorang pun di sana. Bukan Sang Won. Ah, aneh-aneh saja khayalanku. Tapi, kenapa dia belum menjemputku ya? Biasanya jam segini dia sudah on time di depan kelasku.

”Seung Hyo, aku jalan ke kelasnya Sang Won ya...”

”Oke, hati-hati ya...”

Pelan kuselusuri koridor panjang sekolah. Entah berapa lama aku tidak bisa melihatnya lagi nanti. Aku pasti akan merindukan sekolah ini dan segala kenangan di dalamnya. Di sekolah ini aku bertemu dengannya.

”Eh, Rin? Sang Won baru saja pulang. Dia tidak menjemputmu?” tanya Seung Hoo kaget. Aku hampir saja mengganggu acara pacarannya dengan kekasihnya Eun Bin.

”Begitu ya? Mungkin ada perlu...” sahutku, bingung. Sang Won tidak menungguku dan tidak mengabariku apapun. Kenapa? Baru kali ini ia bertingkah seaneh ini....

─Joo Sang Won, Seoul, 2009─

“Inilah susahnya anak yang lebih muda...Coba kalau kau sukanya padaku...”

Kepalaku terasa berdenyut sakit sesakit dadaku saat mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Rin. Apa maksudnya? Apa itu artinya kedekatanku selama ini dengannya selalu saja merepotkan? Apa ia tidak menyukaiku? Dan… yang ia sukai adalah Kak Seung Hyo?

Wajar. Tentu saja itu wajar bukan? Kak Seung Hyo tinggi. Dan keren. Ketua OSIS. Dan ia jagoan di klub karate. Aku bukan tandingannya. Dan Rin... cintanya bertepuk sebelah tangan. Kak Seung Hyo memilih gadis lain.

Rin memahami perasaanku yang juga bertepuk sebelah tangan, karena itu ia tidak mengatakan apapun, tidak mengatakan kalau ia keberatan dengan keberadaanku. Aku selalu jadi pengganggu untuknya.

”Sang Won!!”

Dadaku berderak keras ketika suara itu memanggilku. Sialan, sialan, kenapa kau sebodoh ini Sang Won! Jangan menyukainya! Jangan membuatnya tambah membenci keberadaanmu!!

”Ada apa?” tanyaku, berusaha bersikap biasa.

Duh, susah sekali sih. Bibirku kaku sekali tersenyum di depannya. Aah, coba kalau gerakku lebih cepat. Coba kalau aku tidak usah menunggu badanku tambah tinggi. Mungkin aku sudah bisa menggandengnya kemana pun saat ini. Tapi, tidak boleh, pikiran semacam itu egois bukan?

”Kau tidak sakit kan?” tanya Rin. Nafasnya terengah-engah mengejarku. Uuh, rasanya aku harus menahan diri supaya tidak memeluknya sekarang.

”Tidak apa-apa...” sialan, suaraku kasar sekali barusan.

”Baguslah kalau tidak sakit...” ujar Rin sambil menatap mataku dalam-dalam. ”Aku belikan ini tadi...” ia menyodorkan sekaleng jus jeruk ke tanganku. ”Sang Won suka jus kan? Ini banyak vitaminnya. Berguna untuk mencegah sakit...”

”Terimakasih...”

Aneh bukan? Aku seorang lelaki. Tapi, menerima kebaikannya ini. Rasanya hatiku berderak sakit. Aku menyukainya. Dan ia tidak menyukaiku. Tapi, melihat kebaikannya padaku...aku merasakan harapan baru berpendar di dadaku. Aku ingin menangis karena kehangatannya begitu dalam di dadaku.

”Sang Won... kau membenciku?” Tanya Rin sambil menatapku lagi. Aku memalingkan wajah. Tidak bisa! Jangan lihat aku seperti itu!

”Siapa bilang!” jawabku. Sialan, sialan. Kenapa sih jadi ketus begini. Biasa saja Sang Won! Yang wajar, oke kan?

”Ternyata iya kau membenciku...” wajah Rin terlihat muram dan sedih. ”Ya sudah, aku pulang ya... sampai jumpa...”

Aku memandangnya pergi dengan hati hancur. Yang ada di ujung jalan itu... yang menjadi arah cintamu itu... bukan aku, ya Rin? Bukan aku...

”Rin!!!” tenggorokanku terasa panas saat meneriakkan namanya. ”Aku menyukaimu...” gumamku dengan suara parau. Sakit sekali... kenapa orang bilang cinta itu manis dan indah? Pahit... rasanya pahit... seperti menelan obat...

Angin musim semi yang hangat menerpa punggungku. Mataku panas dan tenggorokanku sakit. Aku tidak boleh menangis. Aku adalah pria.

─Na Rin Young, Seoul, 2009─

“Kau enak sekali, Seung hyo…” godaku pada Seung Hyo yang dengan gembira memakan bekal pemberian pacarnya, Shin Woo.

“Haha.. hari ini kau nggak makan siang bareng sama Sang Won?”

“Sudah berakhir tuh…” jawabku asal. Aku harus berusaha tenang. Supaya pertahananku tidak jebol seperti kemarin. Akhirnya kemarin aku berlari sampai ke rumah. Berlari dengan mata basah. Sang Won membenciku.

“Kenapo? Kok bisa sih?” Tanya Seung Hyo sambil menghentikan makan siangnya. “Kalian kan lengket sekali…”

“Aku tidak tahu. Tiba-tiba sikapnya berubah. Mungkin dia sadar aku menyukainya dan ia tidak mau itu terjadi. Makanya dia menjaga jarak…” ujarku dalam rentetan kalimat yang bergulir begitu cepat.

“Loh? Bukannya kebalikannya?” ujar Seung Hyo. Aku baru saja mau menanyakan apa maksudnya menanyakan itu ketika tiba-tiba salah satu anggota OSIS datang dan memberikan laporan kegiatan ke Seung Hyo. ”Eh, tadi sampai mana ya?” tanyanya.

”Habiskan saja deh, istirahat sudah mau selesai tuh...” jawabku malas. Ia melanjutkan makannya sambil memintaku bercerita selengkapnya pulang sekolah.



”Begitu? Tiba-tiba dia pulang? Tanpa bilang apapun?”

”Ya, bahkan aku belum mengobrol apapun dengannya hari itu. aneh kan? Dan waktu kususul, suaranya, tatapannya... dingin sekali. Seperti bukan Sang Won yang kukenal...”

”Hei, jangan menangis.. nanti aku malah dituduh melakukan macam-macam padamu...” ujar Seung Hyo lembut.

”Kata-katamu malah membuatku sesak nafas, tahu...” ujarku. ”Uhh...” dengan cepat kututup mulutku. Air mataku sudah meluncur jatuh di pipiku.

”Sudahlah... sudah... nanti biar aku bicara padanya....” Seung Hyo meminjamkan bahunya untuk tempatku menangis. “Ya, makanya berhenti dong nangisnya... tuh rumahmu sudah sampai...”

“Thanks ya... dan mendingan nggak perlu ngomong aneh-aneh sama Sang Won. Aku nggak mau dia tambah membenciku...”

”Oke, aku tahu itu... Ingat, jangan nangis terlalu banyak...” pintu kututup sebelum Seung Hyo menyelesaikan ceramahnya.

Aku tidak mungkin bisa menurutinya. Hatiku hancur dan patah. Siapa yang bisa memperbaikinya? Luka yang disebabkan Sang Won, hanya Sang Won yang bisa menyembuhkannya.

─Joo Sang Won, Seoul, 2009─

Menguntit merupakan akar dari kejahatan. Aku tahu itu. Aku tahu tidak seharusnya aku menguntit Rin sampai ke rumah. Apalagi ada Kak Seung Hyo mengantarnya pulang. Kenapa bisa? Apa mereka sudah jadian? Tapi, kenapa dia membuatnya menangis di bahunya? Apakah Rin menyatakannya dan ditolak? Sialan! Tidak bisa dibiarkan!

”Kak Seung Hyo!!” aku mengejarnya dengan setengah berlari. Ia memandangku dan tampak terkejut.

”Kau ke sini? Kukira kau tidak mau mengantar Rin pulang!” ia mulai mengomeliku dengan wajah kesal. Sialan, mustinya aku yang marah, kan?

”Kan ada Kakak yang mengantarnya! Lagipula, aku hanya sekedar cemas kok...” dalihku, berusaha membela diri.

”Kalau cemas, antar dia dong!” omel Kak Seung Hyo sambil berdecak marah. ”Kalian membuatku pusing saja!”

”Biar gimanapun, Kakak jangan membuatnya menangis dong! Kakak menolaknya dengan lembut dong!!”

”Menolak? Apa sih maksudmu?” Kak Seung Hyo memandangku dengan alis bertaut, terlihat bingung.

”Rin kan menyukai Kakak, makanya dia baru berani mengutarakan perasaannya. Eh, Kakak malah menolaknya! Tega banget sih!!”

”Hah!? Lelucon macam apa itu! Dengar ya, tidak lucu loh, aku tidak akan tertawa....” ujar Kak Seung Hyo sambil memandangku dari atas sampai bawah. Sekejap kemudian ia terdiam dan tampak berpikir. ”Oooh, begitu rupanya! Pantas saja! Dasar kalian berdua bodoh sekali!!”

”Akhirnya Kakak mau ngaku?” tuntutku, kesal. Kak Seung Hyo malah tertawa terbahak-bahak dan menarikku. Sekejap kemudian ia berbisik di telingaku, menceritakan semuanya. Menjelaskan kebodohanku. Kedangkalan pikiranku. Mukaku memerah sampai telinga. Dalam hitungan detik, aku lari tunggang langgang sampai ke rumah.

─Na Rin Young, Seoul, 2009─
“Memangnya ada yang lucu?” tanyaku sambil menggerutu. Dari pagi Seung Hyo terus-menerus cengar cengir saat melihatku. “Kau membuatku tambah sebal tahu!!” protesku.

“Eh, Rin, mau taruhan nggak?”

”Taruhan?” kukerutkan dahiku. Tidak biasanya Seung Hyo mengatakan hal sekonyol itu. ”Apa aku nggak salah dengar?”

”Kalau hari ini Sang Won datang dan membuatmu gembira, bantu aku cari tahu barang yang diinginkan Shin Woo ya...”

”Tidak lucu tahu!” jawabku dengan jengkel. ”Tidak mungkin deh, kau pasti kalah. Kalau kalah, kau harus....”

Kalimatku belum usai ketika tahu-tahu sebuah suara memanggilku. ”Rin!!!” ia berdiri di depan pintu kelasku. Entah bagaimana wajahku saat memandangnya. Sebentar kutatap Seung Hyo yang memberikan tanda victory dengan jarinya. Uuh...


”Jadi... kau tidak membenciku, nih?” tanyaku sambil mengamati daun jatuh di halaman belakang sekolah.

Sang Won berdiri di sampingku, juga bersender ke dinding. “Aku...nggak pernah membencimu kok...” jawabnya datar. “Justru kebalikannya. Aku takut kau membenciku.”

“Kapan aku bilang begitu?”

”Aku salah paham karena membuat kesimpulan seenaknya. Hari itu, saat mau menjemputmu, aku mendengar sedikit kalimatmu ke Kak Seung Hyo. Dan tahu-tahu, kakiku langsung lari begitu saja setelah mendengarnya...”

”Aku bilang apa ya?” tanyaku, bingung.

”Kau bilang... “Inilah susahnya anak yang lebih muda...Coba kalau kau sukanya padaku...””

”Ya ampun!!” tanganku tanpa sadar terangkat menutup mulutku. ”dan apa yang kau simpulkan?”

”Aku kira kau membenciku karena selalu mendekatimu padahal yang kau sukai Kak Seung Hyo. Lalu, karena Kak Seung Hyo sudah punya pacar, kau jadi memahami perasaanku yang bertepuk sebelah tangan dan membiarkanku terus mengganggumu...”

”Hahaha...”

”Tidak lucu Rin, aku benar-benar takut kau membenciku...”

”Aku malah mengira... kau sudah membenciku...” tawaku lagi-lagi berderai. Tawa yang kering. Sementara, pipiku sudah basah oleh air mata.

”Maaf Rin... Aku salah paham ya... Tapi, Kak Seung Hyo mengutarakan keseluruhan kalimatnya padaku... Aku sadar kok. Sangat sadar akan perasaanku. Namun, aku terus mencari waktu yang tepat...”

”Eh...” Wajahku memerah semerah tomat. Sialan si Seung Hyo! Bisa nggak ceritanya seperlunya saja? Huh! Dasar...

”Aku...menyukaimu, Rin... Jadilah pacarku. Oh, ya, mungkin agak memalukan kalau nanti saat kuliah kau pacaran dengan anak SMA... tapi, aku akan berusaha keras untuk tidak membuatmu malu!!”

Air mata dan senyuman membaur jadi satu di wajahku. Sang Won, yang kini lebih tinggi dariku maju dan memelukku. Aku sudah lama, begitu lama menantinya. Dan kini, saat ia memelukku, aku tahu, penantianku tidak pernah sia-sia...






”Eh, Sang Won, kau kenal dengan Han Shin Woo?”

“Hm? Kenapa dia? Kenal kok…”

“Bisa Bantu aku cari tahu apa benda yang diinginkannya nggak untuk ulang tahun?”

“Hah? Sekarang kau jadi lesbi ya? Huhu...”

”Uh! Bukan! Bukan! Aku kalah taruhan dengan Seung hyo tadi. Pokoknya kau bantu saja aku cari tahu barang yang diinginkannya!! Dan kau juga tidak boleh jatuh cinta padanya ya! Kau kan pacarku!!”

”Ya! Aku tahu itu! Aku tahu!!” senyuman Sang Won melebar saat mendengar aku menyebutnya pacarku. Ia menggandengku. Bersama-sama udara musim semi yang hangat, kami menyusuri koridor panjang sekolah. Kenangan yang takkan kulupa selamanya.

-Selesai-

Tidak ada komentar: