Minggu, 31 Maret 2013

SING OUT LOUD, LOVE1


CHAPTER1
Cast:
Kim Lee ah (Liana Wijaya)
Kim Hyun Joong as himself
Author as Kim Jae shi (Lee Ah’s younger sister)
Park Dae-jia (Admin Park)
Eric Moon
Choi Jong Hun (FT island)
Park Yoo Chun (DBSK)
Lee Yoo Hee (Admin Lee)
Kim Dong Wan


―Lee Ah, April, 1998―

“Suaramu bagus…” ujar seorang anak lelaki. Ketika kutengadahkan kepalaku, ia tersenyum. Hangat. Dan cerah. Pendek kata, senyumnya menawan.

“Terima kasih,” ujarku sambil tersenyum dan menatapnya.

“Lagu apa itu?” tanyanya, mengambil tempat duduk di sebelahku. Bersama kami duduk di atas hamparan rumput yang terasa hangat sore itu.

“Diajarkan oleh Mamaku dulu… sebelum akhirnya Beliau meninggal…”

“Karena itu, kau berada di sini? Dengan adikmu?” tanyanya.

“Ya,” anggukku. “Karena itu, aku berakhir di panti asuhan ini…”

“Dan bertemu denganku!” tambahnya dengan nada bersemangat.

Dengan tersenyum kuulurkan tanganku. “Mulai hari ini, aku mohon bantuanmu! Namaku Lee-ah…”

“Dan aku… Hyun-joong…” seringainya melebar ketika tangan kami bertautan erat. “Ayo, ajarkan aku lagu itu!”


―Lee Ah, Januari, 2011, Apartment―

Bulan Januari. Sambil menghembuskan nafas, pikiranku kembali ke belasan tahun lalu, ketika pertama kalinya aku dan adikku, Jae-shi menginjakkan kaki  ke sebuah panti asuhan semenjak Papa meninggalkan rumah dan Mama meninggal beberapa bulan sesudahnya.

Hyun-joong adalah teman pertamaku di panti asuhan kecil itu. Dua tahun adalah masa perkenalan yang singkat. Hyun-joong diadopsi oleh sebuah keluarga kaya dan kepergiannya meninggalkan lubang besar di hatiku. Sampai sekarang, aku tidak pernah mendengar berita tentangnya.

Usiaku dua puluh tahun pada bulan Agustus nanti. Kulirik bayanganku di cermin, menegaskan pada diriku sendiri bahwa aku sudah siap untuk memulai hari ini dengan gembira. Terdengar ketukan pendek di pintu.

Tok-tok-tok

“Masuklah,” sahutku, merapikan kerah bajuku dan berbalik menatap pintu. Jae-shi berdiri di sana, tersenyum lebar memandangku.

“Kau sudah sangat cantik,” pujinya.

“Kalau kau memujiku begitu, pasti ada maunya…” tukasku.

Ia tertawa dan berkelit, “Aku hanya mengungkapkan fakta….” Lalu dengan hati-hati ia menambahkan, “Tapi aku memang mau minta ijin untuk pulang malam hari ini…”

“Kau akan pergi ke mana?”

“Sahabatku ulang tahun. Lagipula, kami memang sudah lama tidak bertemu…” Jae-shi memberikan tatapan minta ijin padaku. “Tidak terlalu malam, mungkin, sekitar pukul sembilan…”

“Apa mereka akan mengantarmu pulang?” tanyaku, cemas.

“Sebelum kakak pulang, aku pastikan aku sudah di rumah,” jawabnya sambil tersenyum. “Mungkin salah satu dari temanku ada yang bisa mengantarku pulang…”

Alisku terangkat mendengar kata mungkin yang diucapkannya. Mungkin? Itu artinya masih belum pasti. Jae-shi sudah berusia delapan belas tahun. Dan sekalipun mewarisi wajah Papa, ia memang anak yang menarik. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan adikku yang manis. Kami sudah saling menjaga sejak kecil.

 “Baiklah, kau memang masih perlu banyak hiburan…” tukasku. “Dan aku juga akan pulang malam hari ini setelah menyelesaikan pemotretan terakhir…”

Setahun terakhir ini aku bekerja paruh waktu sebagai asisten fotografer. Sekalipun orang tua angkat kami selalu mengirimkan uang, aku tidak bisa menggunakannya dengan bebas. Maksudku, bukannya tidak bisa, tetapi segan. Sampai hari inipun, aku dan adikku masih merasa sedikit sungkan. Jae shi-pun kadang-kadang bekerja part time entah di mana.

“Kau memang kakak yang terbaik!” seru Jae-shi girang sambil memelukku. Aku membalas pelukannya dan tersenyum. Dan kau adikku yang manis.


―Jae Shi, Januari 2011, Park’s house―

Rumah temanku, Park Dae-jia memang besar. Mungkin karena itulah tidak masalah baginya untuk mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya sendiri. Ruang tamu dan ruang makannya disulap menjadi sangat elegan dan berkelas.

“Keren sekali,” pujiku sambil memandang kagum ke seluruh ruangan. “Ah, selamat ulang tahun!” seruku, memeluknya dan menyerahkan kado ke tangannya. “Semoga kau semakin cantik dan menawan…”

“Hentikan sindiranmu itu,” tawanya.

Dae-jia memang cantik dengan rambut hitam legam sepunggung kebanggaannya. Ia mirip seperti model iklan shampoo dengan rambut seindah itu. Sejak dulu ia memang sosok yang menyenangkan dan populer, bisa dilihat dari betapa banyak tamu yang diundangnya saat ini.

“Nanti Papa bilang ada kejutan! Kurasa, Papa mengabulkan permintaanku untuk mengundang artis ke sini! Ah… Papa baik sekali!!” Dae-jia mendesah berlebihan.

“Aku turut senang. Aku tahu, Papamu memang menyayangimu…” seruku senang. Dae-jia mengangguk setuju.

Seorang pria datang menghampiri kami. “Maaf, boleh saya pinjam Dae-jia sebentar?” tanyanya sambil tersenyum sopan. Orang itu adalah tunangan Dae-jia―seorang pengacara terkenal―Eric Moon.

“Aku permisi sebentar, Jae-shi…” Dae-jia tersenyum. Sejenak wajahnya muram. “Aku lupa bilang, aku mengundang Choi Joong-hun datang…”

“Tidak apa. Aku tahu, dia juga temanmu…” sahutku, berusaha tersenyum sewajar mungkin. Dae-jia mengangguk tidak yakin, lalu pergi bersama tunangannya.

Dae-jia serius dengan ucapannya. Sebelumnya CSJH dan sekarang DBSK bernyanyi di panggung. Mereka berlima memukau penonton dengan suara mereka yang karismatik. Jeritan antusias yang mengelu-elukan nama mereka dari para gadis terdengar di seantero ruangan. Aku bisa melihat Dae-jia memberi isyarat padaku untuk tidak menoleh ketika pintu depannya terbuka sedikit.

Selintas pandang bisa kulihat pria itu memasuki pintu rumah Dae-jia dengan seorang gadis cantik di sebelahnya. Joong-hun teman sekelasku, teman akrabku. Kami mulai dekat sejak masuk SMA.

Kukira dia memendam perasaan yang sama denganku, ternyata aku salah. Sejak pengumuman kelulusan, dia berpacaran dengan gadis itu. Lalu kisah persahabatan kami berakhir. Begitu saja. Mungkin ada yang memberitahukan padanya perasaanku. Entah siapa. Tapi aku tahu, ia menghindariku sejak ia jadian dengan gadis itu. Dan rasanya sangat menyakitkan.

Aku tahu Joong-hun sejak dulu memiliki sifat yang baik. Ia tidak akan tega menolakku langsung, karena itu ia memilih menjauh. Salah satu kebaikannya itu yang membuatku dulu―dan mungkin sampai sekarang―masih menyukainya. Hal ini hanya akan memperparah luka di hatiku.

“Hai,” sapa Joong-hun sambil tersenyum ramah.

Kuusahakan tersenyum sewajar mungkin dengan bibirku yang terasa kaku. “Hai,” sapaku pada gadis itu. kuulurkan tanganku, “Kita baru kali ini bertemu, namaku Jae Shi…”

Gadis itu hanya memandang tanganku dan mengacuhkannya. “Kita pindah ke sana saja, aku mau mengucapkan selamat pada yang berulang tahun…” pintanya pada Joong-hun.

Dengan terluka kutarik tanganku. Joong-hun tersenyum tidak enak lalu berlalu pergi begitu saja. Dengan kesal kulangkahkan kakiku ke pintu belakang. Pesta ini mulai tidak menyenangkan, pikirku.

 “Games-nya akan dimulai sekarang! Kau mau pergi ke mana?” tanya Yoo Hee sambil menarik tanganku. “Semuanya wajib ikut! Dae-jia yang membuat acara ini!”

Dengan perasaan enggan, aku berjalan ke bangku pemain. “Semua peserta wanita diharapkan maju ketika bilik-bilik di depan sudah terisi semua! Setiap pria yang berada di bilik itu akan memunculkan tangannya di lubang yang tersedia! Kenali tangan pasanganmu, dan mereka yang bersalaman selama satu menit, akan menjadi pasangan dansa malam ini!”

Ini akan kacau, pikirku sambil berjalan maju dan mulai menyalami setiap tangan yang ada. Bahkan Dae-jia tampak kesulitan mengenali tangan Eric. Ia berpindah dari satu tangan ke yang lainnya. Sampai akhirnya berhenti di satu tempat… dan ia memang sangat beruntung karena bisa mengenali tangan tunangannya.

Tangan siapa ini? Pikirku ketika sentuhan tangan itu terasa tidak asing. Kuamati tangan itu lebih jelas. Sejenak genggaman tanganku mengendur. Aku pasti gila! Aku pasti sudah gila! Dengan kacau kualihkan tanganku ke bilik berikutnya.

Yang tadi itu… bukankah itu tangan Joong Hun?

Dengan ragu, aku kembali ke tempat tadi dan menyentuh tangan itu. “Joong Hun?” gumamku. Tangan yang kusalami menegang. Ia menarik tangannya lepas, membuatku terluka. “Maaf…” sahutku sambil kembali ke tangan yang berada di sebelahnya.

Dasar bodoh! Untuk apa kau minta maaf?

Dengan punggung tangan, kuusap air mataku yang hampir jatuh. Aku bermaksud menarik tanganku, namun si pria―entah siapa dia―di bilik itu tidak mau melepaskannya. “Lepaskan aku…” pintaku. Namun ia malah menarik tanganku. Bersamaan dengan itu, pintu bilik di depanku terbuka.

“Dan pasangan dansa Nona Jae Shi malam ini adalah… Micky Yoo-chun dari DBSK!” MC mengumumkan dengan suara lantang, namun ia sendiri cukup terkejut melihat peristiwa di depannya. “Loh?” Dengan mata terbelalak kutatap pria di depanku.


―Lee Ah, Januari, 2011, Studio Foto Pak Kim―

“Apa pemotretan hari ini hanya akan memakai satu model?” tanyaku pada Pak Kim Dong-wan―si fotografer―di sebelahku. Kalau ya, berarti setelah yang satu ini selesai, aku bisa pulang dan segera beristirahat.

Pria itu tersenyum sambil menjawab, ”Masih ada dua model lagi. Mereka akan dipotret berpasangan. Aneh sekali, seharusnya mereka sudah datang…”

Ia mengecek kameranya, lalu menatap arlojinya. “Mereka terlambat…” keluhnya. “Terima kasih untuk kerja kerasnya,” ia tersenyum pada model di depannya dan mengangguk, “Kau sudah boleh pulang…”

“Terima kasih,” senyum model itu lalu beranjak pergi setelah membereskan barangnya.

“Kami harap tidak terlambat! Mohon maaf, jalanan macet sekali tadi!” seru seorang pria berjas rapi sambil tergopoh-gopoh membawa setumpuk berkas di tangannya. “Saya mohon kerja samanya!” ia membungkuk dan mengajak artisnya masuk

“Kenapa hanya satu model? Mana model wanitanya?” tanya Pak Kim bingung.

“Aduh… celaka… apa dia belum datang? Jadwal Hyun-joong sedang padat-padatnya har ini. Setelah pemotretan ini, dia juga ada wawancara di acara radio…”

“Bagaimana ya….” Pak Kim dan manager pria itu berpandangan dengan bingung.

“Hei… siapa namamu?” tanya Hyun-joong tiba-tiba. Sedari tadi pria itu terus menatapku seakan aku sudah melakukan kesalahan besar. Kenapa sih? Ada apa dengannya?

“Lee-ah…” jawabku. Kim Hyun-joong melepas topinya dan matanya lebih serius menatapku. Berani sumpah, matanya terlihat kaget dan tidak percaya. Tetapi, dia memang sangat tampan. Jauh lebih tampan daripada di foto atau film. “Kenapa?” tanyaku lagi.

“Tidak,” ia mengangkat alisnya sedikit dan melempar senyuman sinis. “Gunakan saja gadis ini. Karena kita sedang buru-buru, apapun boleh. Nanti wajahnya tinggal di-edit saja…”

“Ah, ya, benar juga! Begitu saja… bagaimana?”

“Tapi, Lee-ah adalah asistenku…” Pak Kim tampak keberatan. “Bagaimana menurutmu Lee-ah? Apa kau setuju? Menurutku hasilnya akan kurang alami…”

Kakiku terasa membatu di tempatnya. Difoto? Itu artinya… aku akan berada di depan sana, berpose bersama pria terkenal ini? Tidak! Ini sangat tidak mungkin!



-to be continued-










Tidak ada komentar: