Minggu, 02 September 2012

fanfic wine, man, love 2

Wine, man, love2

by Patricia Jesica on Wednesday, August 17, 2011 at 6:00pm ·

Chapter2
Wine, man, love
-Twisted Meeting-

Cast:
Kim Nam-gil
Lee Yo-won
Eric Moon
Lee Seung-hyo
Lee Ye Jin (Yo Won’s cousin)

Disclaimer:
 I didn’t own the characters; this is just fan fiction that I made because I’m not satisfied with the Bad Guy ending


―Lee Family’s House―

“Selamat pagi!”

Yo-won mengernyitkan dahinya sejenak. Sinar matahari yang tiba-tiba muncul dari gorden yang disibakkan oleh Mamanya membuat matanya terasa silau.

“Semalam kau pulang jam berapa? Apa Eric yang mengantarmu?” Mamanya duduk di sisi ranjangnya dan menyentuh lengannya. “Papa kaget melihat kamarmu kosong dan  menunggumu sampai jam sebelas…”

“Aku pulang sekitar jam dua belas…” jawab Yo-won, menggosok matanya dan menguap. “Bukan Eric yang mengantarku, tapi…” Yo-won terdiam sejenak. Rasanya sungkan kalau harus melibatkan pria itu―Kim Nam-gil―dalam masalahnya lagi. “Pokoknya bukan Eric yang mengantarku…”

“Kenapa? Bukannya dia yang mengajakmu pergi?” Mamanya bertanya dengan bingung. “Apa dia membuatmu pulang sendirian?”

“Selengkapnya akan kuceritakan sesudah aku mandi ya, Ma?” Yo-won bangkit berdiri dan mengambil handuknya. “Rasanya semua kejadian kemarin nyaris seperti mimpi buruk…” keluhnya sambil memasuki kamar mandi.

Mamanya hanya menatapnya sambil tersenyum bingung dan menggeleng-gelengkan kepala tidak mengerti.



“Dia mencoba membuatku mabuk,” Yo-won menjelaskan pada orang tuanya sambil sesekali mengunyah sarapannya. “Dan itu bukan tindakan pria sejati. Heran sekali. Dia benar-benar berubah dari Eric yang dulu kukenal…”

“Padahal dari dulu Mama tahu dia anak yang baik. Mungkin pengaruh pergaulannya…” Mama mendesah kecewa. “Kalau begini, Mama terpaksa membatalkannya…”

“Ya, batalkan saja!” Papa mengangguk setuju. “Papa tidak setuju kalau anak Papa diaapa-apakan olehnya! Untung saja ada yang menolongmu…”

“Siapa namanya?” tanya Mama, menatapku.

Yo-won menarik nafas. Memang sulit merahasiakan sesuatu dari keluarganya ini. “Kim Nam-gil, itu namanya.”

“Apa menurutmu dia masih muda? Atau sudah tua? Tampan?” Mama mengajukan pertanyaan bertubi-tubi, membuat Yo-won melotot dengan heran.

“Kenapa Mama menanyakan itu?” tanya Yo-won sambil menatap Mamanya curiga.

“Mama beritahu satu rahasia,” Mamanya tersenyum jahil saat mengucapkannya. “Sebenarnya, dia itu calon pria yang akan dijodohkan dengan sepupumu, Ye-jin.”

Yo-won nyaris tersedak saat meminum jusnya. “Apa? Mama yakin? Mungkin hanya namanya saja yang sama?” Yo-won berusaha memastikan.

“Tidak, tidak. Mama yakin. Mamanya adalah teman Mama. Dan suaminya memang pemilik bar Scarlet itu. Kim Nam-gil itu anak angkat.…”

“Hah?” semua fakta di hadapannya semakin membuat Yo-won bingung. “Memangnya teman Mama itu bilang kalau dia anak angkat?”

“Papa juga baru tahu kalau dia anak angkat, Ma…” gumam Papanya sambil berpikir.

“Tidak dong, tentu saja. Mama tahu itu, karena teman Mama itu tidak bisa melahirkan…” sahut Mamanya dengan wajah percaya diri. “Tapi, pria itu bertemu dengan Ye-jin di sana. Wah, seperti takdir saja…”

Yo-won terdiam dengan dada berdebar. Takdirkah yang mempertemukan Ye-jin dengan Nam-gil? Bukan dengannya?

“Jangan-jangan kau juga tertarik pada pria itu ya, Yo-won?” Mamanya memasang senyum jahil.

“Bukan kok!” elak Yo-won buru-buru. “Karena dia menyelamatkanku, ya, aku agak kepikiran! Itu saja kok!”

“Mama lihat fotonya dia cukup tampan, sayang juga ya, kalau diberikan pada Ye-jin. Haa…. Padahal anak Mama baru putus dari tunangannya…”

Yo-won hanya mampu tersenyum masam mendengar kalimat Mamanya. “Berarti Mama Cuma mengetesku dengan menanyakan macam-macam hal tentang cowok itu…”

Melihat senyum Mamanya, Yo-won hanya bisa terdiam. Kembali terpikir olehnya, Ye-jin akan dijodohkan. Dan… olala, apa yang akan dikatakan Ye-jin soal ini? Sejak awal, ia dan Kak Seung-hyo memang pacaran diam-diam. Mungkin sekarang saatnya Ye-jin mengakui kalau ia sudah punya pacar.

Tapi, itu semua urusan Ye-jin, bukan urusanku, pikir Yo-won sambil meminum jusnya sampai habis.

♦♦♦
“Ini mimpi buruk! Ini pasti mimpi buruk!” Ye-jin bergerak dengan gelisah di kursinya. “Katakan padaku ini tidak benar!”

“Sayangnya,” Yo-won membalik halaman bukunya dengan acuh tak acuh, “Ini semua bukan sekedar mimpi buruk dan benar-benar kenyataan…”

“Astaga…. Aku tidak mau! Kau tahu, dia memang tampan, dan badannya bagus. Dan kudengar dia memang menolong kita… Tapi…” Ye-jin mengibas tangannya di depan pipinya yang memerah dan menggigit bibirnya malu. “Aku cuma menyukai Kak Seung-hyo…”

“Nah, katakanlah itu pada orang tuamu…” sahut Yo-won santai.

Ia melirik arlojinya. Sekitar lima menit lagi kuliah akan dimulai. Berarti masih lima menit lagi ia harus bertahan dengan semua keluhan Ye-jin. Kenapa sih sepupunya ini harus mengambil jurusan yang sama dan sekelas bersamanya? Bersama Ye-jin kadang kala menyenangkan dan kadang kala bisa menyebalkan.

“Aku tidak bisa! Kau ingat kan, dulu, waktu aku masih SMA! Begitu aku bilang aku punya pacar, Papa menunggu di luar rumah keesokan harinya dengan ikat pinggang di tangan! Akhirnya aku tidak jadi kencan dengannya dan putus! Aku tidak mau hal yang sama terulang untuk Seung-hyo… tolonglah aku, Yo-won…” Ye-jin mulai merengek di sebelahnya.

“Sekali ini tidak bisa, Ye jin. Kemarin saja aku hampir mati kutu waktu menjelaskan kejadian waktu kita ditolong! Kau tahu kan, aku tidak bisa melibatkan Kak Seung-hyo! Menyebutkan dia ada tetapi tidak bisa melindungimu saja bisa membuat Papamu naik darah!”

“Iya aku tahu, terima kasih Yo-won. Tapi, aku masih butuh bantuanmu… Ayolah, lakukan sesuatu untukku… Ya? Ya? Lagipula, pria itu lebih cocok untukmu! Kau kan belum pacaran! Sedangkan aku, aku sudah punya pacar!”

“Haish! Kau ini ada-ada saja!” Yo-won melirik arlojinya lagi. Lima menit sudah berlalu. Ke mana dosen itu? Menyebalkan sekali kalau begini! Mungkin Dosen itu sengaja terlambat supaya dirinya jadi menderita dalam ocehan dan keluhan Ye jin.

“Ayolah, lagipula dia kan lebih tepat disebut penolongmu daripada penolongku! Ya, kan? Dia menolongmu dua kali. Dari Eric dan dari laki-laki brengsek lain. Sedangkan aku, Cuma sekali! Yo-won….”

“Aduuuh….” Yo-won memukulkan tangannya ke meja dengan kesal. “Kau jangan mulai lagi ya, Ye jin. Aku capek dari dulu menjadi penggantimu kemana-mana. Kau selalu melempar tanggung jawab tidak enak padaku. Entah membantu menyampaikan penolakanmu ke cowok, atau kalau malas jalan sama cowok kau bilang ada janji denganku! Ini semua sangat menyebalkan!” geram Yo-won kesal.

“Ini yang terakhir! Ayolah, masa kau tidak tertarik pada pria setampan itu? Kalau belum punya Kak Seung-hyo aku pasti juga tertarik padanya…. Kali ini saja, gantikan aku menemui cowok itu! Eh, maksudku, gantikan aku bertunangan dengannya…”

“Dasar gila kau…” umpat Yo-won kesal. Bersamaan dengan itu, Dosen pengajar mereka masuk dan Yo-won terpaksa membungkam mulutnya.

Masa kau tidak tertarik pada pria setampan itu?

Sejenak ingatan Yo-won kembali tertuju pada luka panjang yang terdapat di punggung pria itu. Nama bar itu… Scarlet… Apakah dari kata Scar yang berarti luka… Nama yang cocok untuk pria itu. rasanya dia terlalu misterius. Namun, di sanalah daya tariknya.

“Kau sedang memikirkan pria itu, bukan?” senyum Ye-jin sambil berbisik di sebelahnya.

“Aku tidak sedang memikirkan Kim Namgil-mu itu tahu…” sahut Yo-won.

“Aku tidak bilang pria itu Kim Nam-gil. Berarti benar, dia yang ada di pikiranmu? Astaga, akui saja Yo-won, kau suka padanya…”

“Awas kau nanti…” geram Yo-won. Dalam hati ia menyesalkan kebodohannya. Mustinya dia benar-benar mencerna pertanyaan Ye-jin sebelum menjawabnya. Jebakan! Ini memang jebakan! Yo-won mengomel lagi sambil membuka bukunya.

Aku pasti gila kalau benar-benar menuruti keinginan Ye-jin untuk menggantikanny menemui pria itu! Tidak mungkin! Dan tidak akan!
♦♦♦
Dan di sinilah Yo-won sekarang berada. Merasa sudah dibodohi oleh Ye-jin. Baru saja anak itu meneleponnya untuk mengajak Yo-won pergi shopping berdua. Mereka janjian bertemu di kafe, namun sampai sekarang Yo-won sudah dua jam menunggu. Sekarang, begitu teringat kalimat Mamanya tentang pertunangan, sadarlah bahwa ia sudah dijebak Ye-jin.

“Anak itu benar-benar gila! Dasar kurang ajar…” maki Yo-won sambil setengah menggeram. Bisa-bisanya aku dijebak begini olehnya!

“Loh? Kukira aku akan bertemu tunanganku di sini…” tukas seorang pria.

Yo-won mengangkat wajahnya dengan terkejut. “Hah…”

“Hai, senang bertemu lagi,” pria itu tersenyum sambil menarik kursi dan duduk di depannya. “Wajahmu tidak terlihat senang…”

“Ya, memang suasana hatiku sedang buruk,” sahut Yo-won sambil menarik nafas. “Kau pasti sudah tahu, Ye-jin sudah punya pacar. Yang kemarin bertemu denganmu di bar itu kekasihnya…”

“Oh, ya, aku tahu…” cowok itu masih tersenyum, namun kini tangannya bergerak memanggil pelayan. “Kau mau pesan apa? Aku sedang buru-buru tidak apa, ya?”

“Oh, ya tidak apa.” Apa dia kira aku berharap bisa kencan dengannya? Memikirkan itu membuat pipi Yo-won langsung memerah malu. “Aku minum teh saja. Ice Green tea…”

Nam-gil memesankan minuman Yo-won dan segelas kopi untuk dirinya sendiri. “Ye Jin itu yang kemarin di bar, bukan? Aku sudah tahu dia punya pacar, makanya aku kaget melihat aku dijodohkan dengannya. Secara pribadi sih, aku lebih tertarik padamu…” tutur cowok itu tanpa basa-basi.

“Apa…” Yo-won mengangkat wajahnya dengan terkejut.

“Tidak ada maksud lain, hanya berpikir begitu saja…” pria itu tertawa santai. “Kau terlihat kaget sekali…”

“Bohong kalau aku tidak kaget…” Yo-won mendengus karena mengira pria itu mempermainkannya. Tetapi, diam-diam hatinya merasa senang. “Ye-jin menjebakku untuk daang kemari…”

“Menyakitkan juga kalau langsung ditolak begini,” ujar cowok itu tiba-tiba. Ia tersenyum senang melihat Yo-won yang mendadak gugup. “Bercanda, kau lumayan menyenangkan untuk digoda.” Ia tersenyum pada pelayan dan berterimakasih sambil meminum kopinya pelan.

“Dari tadi kau mempermainkanku terus!” omel Yo-won. “Jadi semuanya cuma bercanda, kan?”

“Ada yang benar juga kok…”

“Apa…”

Pria itu tertawa lagi melihat wajah Yo-won memerah karena kaget. “Mungkin tidak sopan, tapi… bisakah kau membantuku dengan lebih cepat menghabiskan tehmu? Aku sedang ada urusan yang tidak bisa ditunda…”

“Baiklah, tentu saja…” Yo-won bersyukur dalam hati karena yang dipesannya adalah minuman dingin. “Walaupun daritadi kau mengerjaiku terus, tapi aku senang bisa mengobrol denganmu. Paling tidak aku tidak sia-sia datang ke sini…” ujar Yo-won sambil terus menghabiskan minumannya.

“Aku juga senang bisa mengobrol denganmu,” cowok itu menghabiskan kopinya dalam satu tegukan cepat. “Walaupun aku cukup menyesal karena waktunya kurang panjang…”

“Aku tidak bisa mengantar, maaf…” Kim Nam-gil membungkukkan badan dan tersenyum sopan. “Sampai bertemu lain kali…”

“Ya,” sahut Yo-won.

“Dan kapanpun kau senggang, datanglah ke bar itu…” pria itu mengedipkan matanya cepat dan berlalu pergi.

“Sekarang baru jam empat…” tukas Yo-won sambil melihat arlojinya. Bukankah bar buka pada malam hari? Karena penasaran, Yo-won memutuskan untuk membuntuti pria itu.

Mau ke mana dia? Pikir Yo-won begitu pria itu mulai melangkah memasuki gang-gang kecil. Yo-won melihat pria itu memasuki sebuah gedung yang terlihat berbeda di ujung jalan. Saking terkejutnya, otomatis Yo-won menutup mulutnya dengan tangan.

Sebuah hotel!

Untuk apa pria seperti Kim Nam-gil memasuki tempat semacam itu? Yo-won metasakan cabikan amarah di dadanya. Aku telah salah menilai pria itu rupanya! Dia sama brengseknya sepetti Eric!


-to be continued-


Tidak ada komentar: