Minggu, 02 September 2012

fanfic wine, man, love 5

WINE, MAN, LOVE 5

by Patricia Jesica on Tuesday, September 6, 2011 at 11:02am ·
Chapter5
Wine, man, love
-That Girl-


―Scarlet Bar, Seoul―
“Aku adalah seorang pria yang terlahir dari kematian…” tukas Kim Nam-gil sambil menatap Yo-won dalam-dalam. “Dan aku adalah pria tanpa masa lalu…”

“Apa…”

“Aku ditemukan oleh polisi di suatu malam, dalam keadaan terluka parah karena luka tembak di bagian perut…” Nam-gil memandang gelasnya dengan mata menerawang. “Bekas lukanya masih ada…”

Nam-gil mengangkat kaosnya sedikit dan Yo-won bergidik ngeri melihat bekas luka yang seperti lubang dalam di perutnya yang berotot. “Pelurunya sudah dikeluarkan?” tanya Yo-won dengan suara bergetar.

“Sudah,” sahut Nam-gil sambil membetulkan kaosnya. “Awalnya mereka memasukkanku ke mobil jenazah, mengira aku sudah mati…”

Yo-won tidak mampu menanggapi kisah itu. Ia berpikir sendirian. Kalau begitu… karena itukah Nam-gil mengatakan dirinya lahir dari kematian?

“Beruntung, seorang petugas medis melakukan pemeriksaan akhir untuk memastikan kematianku. Walaupun lemah, ia bisa merasakan denyut nadiku masih ada. Kemudian, mereka mengirimku ke rumah sakit terdekat…”

“Luka di punggung itu…” Yo-won tiba-tiba saja memikirkannya. “Apakah luka itu juga karena peristiwa malam itu?”

“Bukan…” Nam-gil menjawab dengan helaan nafas panjang. “Luka ini sudah mongering ketika aku ditemukan malam itu. Mungkin, luka ini sudah ada sejak aku kecil… Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa…”

“Begitu…” Yo-won menutup mata membayangkan luka sebesar dan sedalam itu sudah ada sejak pria ini masih kecil. Luka sedalam itu ditanggung seorang anak kecil. Kedengarannya sangat pedih dan menyakitkan. “Kau tidak tahu masa lalumu?”

“Tidak, aku tidak bisa mengingatnya… Menurut dokter, mungkin dikarenakan trauma… Atau ada benturan lain yang pernah kuderita malam itu sebelum aku ditemukan. Entahlah,” Nam-gil mengangkat bahunya. Ia sendiri tidak mampu member penjelasan.

“Lalu, keluargamu yang sekarang….?”

“Oh, mereka.” Senyumnya seketika kembali hangat. “Papa angkatku―maksudku, Papaku yang sekarang―adalah dokter bedah yang mengeluarkan peluru dari perutku malam itu… Dia kasihan padaku karena tidak ada yang mengaku mengenalku padahal pengumuman sudah dipasang dimana-mana…”

“Oh…” Yo-won memainkan jarinya dengan bingung. Ia ingin sekali menghibur pria ini, namun tidak tahu harus berkata apa. “Tapi, kulihat keluargamu yang sekarang sangat menyayangimu…”

“Ya, aku tahu itu. Setiap ada kesempatan Papa selalu bilang kalau ia merasa beruntung telah mengadopsiku…”

Yo-won tersenyum lega ketika ekspresi pria itu tidak lagi murung. “Mungkin aneh kalau aku berkata begini. Tapi, seandainya mustahil untuk mengingat masa lalumu, sebaiknya kau menghargai keluargamu yang sekarang. Masa lalu memang penting, tapi yang lebih penting lagi adalah sekarang dan masa depan…”

“Ya.” Kali ini Nam-gil meraih tangan Yo-won dan mendekapnya. “Aku sudah cerita banyak padamu. Sekarang, apa kau mau menerima pria sepertiku? Bisa saja dulunya aku ini orang jahat. Aku sendiri tidak tahu…”

“Red wine itu… seperti dirimu, Nam-gil…” cetus Yo-won tiba-tiba.

“Kenapa begitu?”

“Karena…” Yo-won kesulitan merangkai kata-katanya. “Dari luar terlihat menggoda dan sempurna. Sepertimu, kelihatannya tanpa cela. Namun, ketika diminum, rasanya manis dan sedikit masam. Seperti masa lalumu… hidupmu… Semua orang pasti punya kelemahan, masa lalu yang buruk ataupun pahit. Namun, hal itulah yang membuatmu bisa dewasa dan semakin menjadi manusia yang utuh…”

“Artinya?” Nam-gil menaikkan alisnya sedikit.

“Asrtinya…” Yo-won menundukkan wajahnya yang memerah. “Untukku, kau seperti itu. Walaupun wine itu masam, aku tetap ingin mencicipinya… Aku ingin bersamamu…”

Nam-gil tersenyum dan menarik Yo-won dalam pelukannya. “Aku akan berusaha membahagiakanmu…”

“Ya…” sahut Yo-won. Ia membalas pelukan Nam-gil. Namun, ketika tangannya menyentuh punggung pria itu, mendadak ia merasakan ketegangan mengalir di punggungnya. Dan kelegaan…

“Astaga, kenapa lagi kau menangis?” Nam-gil melepas pelukannya ketika dirasanya bahunya basah.

“Aku hanya… membayangkan… dulu pasti rasanya sakit sekali…” Yo-won terisak sambil mengelus punggung Nam-gil. “Sekarang… syukurlah sudah tidak lagi… kau pasti dulu menderita… aku sedikit lega membayangkan kau tidak perlu mengingat rasa sakit itu lagi…”

Nam-gil tersenyum dan membiarkan Yo-won menangis di dadanya. “Ternyata kau cengeng juga…” ujarnya sambil menenangkan Yo-won. “Terima kasih, aku senang dengan perasaanmu itu…”

♦♦♦

―Kim Family’s House―
“Bersulang! Selamat untuk pertunangan kalian berdua!!!”

Suasana tampak meriah malam itu. Yo-won dan Nam-gil tampak tersenyum malu-malu di samping piramida berisi sampanye yang baru saja mereka tuang dan sekarang mulai diedarkan ke para undangan yang hadir.

“Selamat Yo-won! Akhirnya kata-kataku terbukti juga! Kaulah yang sebenarnya ditakdirkan dengan Kim Nam-gil malam itu!” Ye-jin berbisik sambil tersenyum senang di sebelah Yo-won.

“Ah, kau bisa saja. Eh, bagaimana dengan hubunganmu dan Kak Seung-hyo?”

“Tidak masalah,” senyum Ye-jin. “Mama sudah mulai mengerti dan mau menerimanya. Lagipula, kenapa tidak? Seung-hyo kan pandai dan tampan, tidak sulit untuk menyukainya…” Ye-jin tampak senang membanggakan pacarnya.

“Selamat untukmu juga…” Yo-won mengedipkan mata sambil tersenyum penuh arti.

“Aku belum bilang, kau sangat cantik malam ini. Gaun yang kau pakai juga cocok untukmu…” Nam-gil bergeser sedikit dan berbisik ke telinga Yo-won. “Ayo, ikut aku ke balkon…”

“Eh, tapi, nanti mereka bingung kalau kita menghilang…”

“Tidak masalah…” jawab Nam-gil tenang. “Kita akan kembali sebelum mereka mulai mencari kita…”

“Aku tidak yakin…” gumam Yo-won. Diliriknya suami istri Kim yang sedang asyik mengobrol dengan Papa dan Mamanya. Kendati demikian, ia tetap berjalan mengikuti Nam-gil.

Begitu tiba di balkon, Yo-won memandang langit malam Seoul dengan takjub. Sementara tangannya menempel di pinggiran balkon. Nam-gil memeluknya dari belakang.

“Nam-gil…”

Benar kata Mamanya, dipeluk pria seperti Nam-gil membuat jantungnya terasa aneh, seperti mau melompat keluar. Debarannya terlalu kencang, seperti memukul dadanya. Semoga Nam-gil tidak mendengarnya, pikirnya kalut.

“Aku pernah bilang akan membuatmu jatuh cinta padaku…” bisik Nam-gil di telinganya, membuat perut Yo-won mulas karena gugup.

“Aku tahu itu…”

“Tapi, kenyataannya, kaulah yang membuatku jatuh cinta padamu…” ujar Nam-gil dengan suara berat.

Yo-won tidak bisa menahan diri untuk menatap mata Nam-gil. Ia menoleh dan mendapati mata itu terus menatapnya dalam-dalam. Yo-won merasa nafasnya terhenti ketika Nam-gil mendekatkan wajahnya untuk menciumnya.

Ketika bibir mereka bertemu, sesaat Yo-won melupakan segalanya. Seperti melambung berdua di langit, pikirnya, berusaha membalas ciuman pria itu. Yo-won mengalungkan tangannya di leher Nam-gil, memperdalam ciuman mereka.

Kemudian, Nam-gil menempelkan dahinya di dahi Yo-won dan tersenyum. “:Lipstikmu berantakan…” guraunya sambil mengelap bibir Yo-won dengan jemarinya.

“Di bibirmu juga ada…” balas Yo-won sambil mengelap sisa lipstiknya di bibir Nam-gil. “Ayo, kita masuk saja…”

“Nanti saja…” Nam-gil kembali menarik Yo-won ke dalam pelukannya. “Aku belum puas menciummu…”

♦♦♦

“Apakah di masa lalumu ada seorang wanita?” Seminggu kemudian pertanyaan itu muncul di benak Yo-won ketika mereka berdua sedang bergandengan tangan dan berkencan di mall.

“Tidak tahu, aku kan tidak ingat…” Nam-gil menjawab dengan santai.

“Mungkin ada….” Yo-won mulai gelisah. Pria setampan dirinya mustahil tidak punya satu atau dua wanita.

“Tidak usah cemas begitu…” Nam-gil tersenyum menenangkan.

Yo-won bermaksud membalas senyuman itu, ketika sebuah suara tiba-tiba membuyarkan senyumannya. Suara wanita. “Gun-wook?”

“Siapa?” tanya Yo-won ketika seorang wanita yang cantik berjalan ke arah mereka.

“Tidak tahu. Aku tidak kenal,” Nam-gil mengernyitkan dahinya dengan bingung.

“Aku mencarimu kemana-mana!” seru wanita itu kesal. Sekalipun demikian, ia tetap berusaha tersenyum. “Aku sangat merindukanmu…” senyumannya berubah menjadi kalimat yang begitu menusuk hati Yo-won.

“Siapa kau…” tanya Nam-gil bingung.

“Apa…” Yo-won bisa melihat wajah wanita di depannya memucat ketika mendengar Nam-gil tidak mengenalinya sedikitpun. “Kau… tidak mengenalku, Gun-wook?”

“Siapa juga Gun-wook itu? Namaku Kim Nam-gil.” Nam-gil menjelaskan dengan ramah. “Mungkinkah kau salah orang?”

“Kau yakin tidak mengenalku? Namaku Moon Jae-in!” wanita itu menampakkan ekspresi wajah kecewa dan terluka.

“Maaf, aku tidak mengenalmu…”

Nam-gil mengernyitkan dahinya bingung. Kendati demikian, hatinya diliputi pertanyaan. Wanita ini serasa tidak asing untuknya. Wajahnya, cara bicaranya, suaranya. Yang lebih gila lagi, ia merasa merindukannya. Padahal, mengenalnya saja tidak pernah!

Yo-won memandang dua orang di depannya dengan debaran dada yang tidak menentu. Firasat buruknya menjadi kenyataan, namun dia tidak menduga akan secepat ini.

Apakah wanita ini… merupakan wanita dari masa lalunya Nam-gil?

Apakah Gun-wook adalah… namanya di masa lalu?

“Hong Tae-song…” panggil wanita itu.

Kim Nam-gil segera menoleh begitu mendengar nama itu disebut. “Kau memanggilku apa…” tanyanya.

“Tae-song…” senyum Jae-in sedih sambil menahan tangisnya. “Itu namamu dulu… sebelum kau menggantinya menjadi Gun-wook… Kau bisa ingat soal itu?”

“Maaf, aku…” Nam-gil menggeleng dengan bingung. “Yo-won, aku temui gadis ini sebentar… nanti kita bicara lagi…”

“Baiklah,” Yo-won berusaha tersenyum walaupun bibirnya terasa kaku. “Aku pulang dulu… Kalian bicaralah yang tenang…”

Yo-won melangkah pergi sementara hatinya terus diliputi berbagai pertanyaan dan rasa takut. Ia takut wanita itu adalah kekasih Nam-gil dulu. Akankah mereka kembali bersama setelah ingatannya kembali? Apa yang harus kulakukan kalau itu terjadi?


-to be continued-

pertemuan yg mengejutkan

yo-won yg pulang dengan sedih

Tidak ada komentar: