Minggu, 02 September 2012

fanfic wine, man, love 1

WINE, MAN, LOVE CHAPTER1

by Patricia Jesica on Monday, August 8, 2011 at 1:59pm ·

Chapter1
Wine, man, love
-Furious Greetings-

Cast:
Kim Nam Gil
Lee Yo Won
Eric Moon
Lee Seung Hyo

Disclaimer:
I didn’t own the characters; this is just fan fiction that I made because I’m not satisfied with the Bad Guy ending

―Scarlet Bar―
“Eric, lepaskan aku!” Yo won berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Eric, namun pria itu tetap kukuh memegangnya.

“Ayolah, kita bersenang-senang sedikit Yo won… Kau kan jarang-jarang bisa keluar rumah seperti ini…” bujuk Eric sambil tetap menarik tangannya memasuki ruangan diskotik yang gemerlapan dengan lampu.

Kenapa juga pria seperti ini yang ditunjuk jadi tunanganku? Yo won menggosok tangannya yang terasa sakit karena ditarik paksa dari tadi. Eric adalah sepupu jauh dari keluarganya, dan pria itu memang cukup tampan. Mungkin faktor fisik itu yang membuat Yo won tidak sanggup membantah ketika Mamanya menjodohkannya dengan Eric.

“Lagipula, ada Ye Jin juga di sini…” Eric menggerakkan kepalanya ke ujung ruangan. Tampak di sana saudara sepupunya, Ye Jin bersama pacarnya, Seung Hyo.

“Kenapa mereka bisa ada di sini?” tanya Yo Won bingung. Ia merasa situasinya tidak normal karena di depan Seung Hyo tampak banyak botol bir yang kosong.

“Mereka hanya bersenang-senang sedikit… Jadi, kau juga santai saja, oke?”

“Baiklah. Asalkan tidak terlalu malam…” sahut Yo won, merasa malas berdebat lagi untuk mala mini.

“Nah, kau tunggu aku di sini dulu… mau pesan minum apa?” tanya Eric sambil menarik kursi di dekat meja bar yang di depannya terdapat berbagai macam botol aneka merek dan warna.

Yo won mengambil buku menu dan melihat-lihat. Baginya nama-nama di menu itu terlihat aneh dan asing. Apa itu Joker?  Beberapa bahkan terdengar lucu. Seperti Tom and Jerry, Mickey Slim, dan Brass Monkey. Ia tidak mampu memilih karena ia tidak pernah mencoba satu pun.

“Aku tidak biasa minum,” sergah Yo won bingung. “Kau saja yang pilihkan…”

“Baiklah, tentu saja. Percayalah padaku karena seleraku bagus…” jawab pria itu sambil mengedipkan matanya. Ia langsung berpaling ke bartender dan berbisik.

“Kau tidak ke toilet? Biasanya wanita senang ke sana…” tanya Eric sambil tersenyum manis.

Yo won ganti melirik Eric dengan bingung. Tidak biasanya pria menyuruh wanita ke toilet, bukan? “Apa penampilanku berantakan?” tanya Yo won bingung.

“Ya, sedikit…” Eric menyentuh ujung rambut Yo won dan memiringkan wajahnya. “Tidak ada salahnya sedikit lebih cantik lagi kan, untukku?” pinta Eric manis.

Yo won menghela nafas dan mengambil tasnya. “Baiklah, aku tidak akan lama…” ujar Yo won sambil menanyakan arah toilet pada bartender.

Bartender itu masih memunggunginya. Hanya menunjukkan arah toilet yang dimaksud dengan gerakan telunjuk. Namun, dalam sekilas pandang, Yo won bisa melihat bahwa bentuk wajah bartender itu cukup tampan.

Di toilet, Yo won mengamati penampilannya dengan bingung. Ia mendengus sebal dan merasa sangat yakin dengan penampilannya. Tidak ada yang salah, pikirnya. Akhirnya ia memilih untuk memoles bedak dan menambahkan sedikit lipstick di bibirnya.

“Di mana dia?” Yo won menoleh dengan bingung ke kiri dan kanan. Pandangannya tertumbuk pada gelas yang kini berada di depan kursi yang ditinggalkannya. “Maaf, apa ini milikku?” tanya Yo Won pada si bartender.

“Ya, Tuan itu sudah membayarnya tadi…” jawab pria itu, masih menunduk untuk mengelap gelas-gelas kaca di depannya.

“Begitu?” Yo won memiringkan gelasnya dan tersenyum melihat warna-warni yang cantik di gelasnya. Namun, begitu tangannya terangkat untuk meminum cairan di gelas itu, tangan bartender itu maju untuk mencegahnya.

“Lebih baik kau tidak meminumnya…” nasihat pria itu.

Yo Won tertegun karena itulah pertama kalinya ia melihat langsung wajah pria itu. Tatapan matanya terlihat tajam. Dan ia sangat tampan.

“Eh, kenapa?” tanya Yo won beberapa saat kemudian, saat otaknya kembali berpikir. “Kenapa tidak boleh kuminum?”

“Sebaiknya aku tidak bicara banyak…” pria itu kembali menunduk dan memusatkan perhatiannya pada gelas-gelas di hadapannya. “Tapi aku banyak melihat pria semacam itu meracuni para gadis muda yang tidak pernah minum dengan membuat mereka mabuk…”

“Eh?” Yo won kembali menatap gelas di hadapannya. “Memangnya kadar alcohol minuman ini tinggi?”

“Minuman itu namanya Vodka Martini, dibuat dari campuran vodka. Kalau tidak pernah minum, bisa langsung teler setelah meminumnya. Dan…” tiba-tiba pria itu menyorongkan sebuah gelas ke tangan Yo won. “Ini lebih aman untuk diminum… Traktiran. Dariku. Gratis.”

“Apa ini?” tanya Yo Won. Cairan merah di gelas itu berkilau indah dan tampak manis.

“Anggur merah. Red Wine. Kadar alkoholnya hanya satu persen. Otakmu akan tetap bekerja kalau minum itu… dibandingkan vodka dan entah serbuk apa yang dimasukkannya tadi…”

“Serbuk?” Yo won mengangkat salah satu alisnya dengan terkejut. “Ada serbuk di minuman dari Eric?”

“Yah,” pria itu tersenyum samar, nyaris terlihat menggoda. “Mungkin karena itulah ia menyuruhmu ke toilet…”

“Astaga…” Yo won menutup matanya, mencoba membayangkan apa yang akan terjadi seandainya ia meminum minuman dari Eric itu. Mungkin pria itu akan melakukan… hal-hal yang tidak diinginkannya.

“Sebaiknya jauhi pria semacam itu…” gumam bartender itu lalu pergi sambil lalu. Yo won menyesap wine-nya sedikit dan tersenyum. Tidak seindah penampilannya, wine itu terasa masam, walaupun ada sedikit sensasi manis di dalamnya.

“Terima kasih sudah memperingatkanku…” ujar Yo won sambil mengangkat gelas yang berisi minuman dari Eric. “Bisa kaujaga wine itu untukku?”

“Nona?” Bartender itu kini bersedekap dan berkacak pinggang memandangnya. “Tidakkah kau belajar dari pengalaman? Peraturan nomor satu di bar adalah: jangan pernah menerima minuman dari pria asing. Dan yang kedua, jangan pernah meminum apa yang sudah kau tinggalkan di meja. Kau tidak pernah tahu siapa yang sudah menyentuhnya ketika kau tidak ada…”

“Kalau begitu, terima kasih untuk traktirannya…”sahut Yo Won, ia mengambil tas dan jaketnya lalu pergi meninggalkan mejanya. Di tangan kirinya terdapat gelas berisi minuman pemberian Eric.

“Dasar gadis aneh…” senyum bartender itu sambil mengambil gelas berisi wine itu dan meletakkannya ke baki cuci piring.



Yo won berjalan mengitari ruangan sambil mencari Eric. Tidak sulit menemukan pria itu. Ia sedang duduk di sofa yang terdapat di sudut ruangan. Di kanan-kirinya terdapat gadis-gadis berpakaian minim yang asyik tertawa bersamanya. Tidak jauh darinya duduk beberapa pria yang juga ditemani gadis-gadis berpakaian minim. Di sebelah mereka juga terdapat Ye Jin dan Seung Hyo. Keduanya tampak tidak wajar.

“Hai, Yo won…” sapa Eric senang begitu melihat Yo won datang mendekat. “Oh, kukenalkan dulu. Ini teman-teman kuliahku…” ujar Eric sambil berusaha berdiri.

“Aku mau mengembalikan minuman ini padamu…” tukas Yo won. “Aku sudah mau pulang…”

“Astaga. Kenapa cepat sekali?” Eric tertawa dan menarik tangan Yo won lembut. “Temani aku sebentar saja.. Dan sambil menemaniku, kau bisa mencoba minuman yang sudah kupilihkan untukmu. Bukankah mubazir kalau tidak diminum walaupun sudah dibayar?”

“Hei, dengar ya…” Yo won menarik dasi Eric agar pria itu mendekat ke arahnya. “Aku lebih baik membuang minuman semacam ini daripada berakhir di kamar hotel denganmu!”

Wajah Eric berubah kaget mendengar kalimat Yo won. Dengan segera ekspresinya mengeras dan berubah kelam. “Memangnya kenapa kalau itu terjadi? Kau kan tunanganku!”

“Sudahlah. Aku malas bicara denganmu…” Yo won menepis tangan Eric dengan kesal. Ia segera beranjak kea rah Ye Jin dan membangunkannya. “Ye Jin, Kak Seung Hyo. Ayo pulang…”

“Tidak secepat itu…” Eric menolehkan kepala ke teman-temannya, dan mereka langsung bergerak ke arah Yo won dan Ye jin.

“Hei, mau apa kalian?” bentak Yo won sambil meronta. Seorang pria menahannya dari belakang. Di sudut matanya, ia bisa melihat dua pria lain berusaha mendekati Ye jin. “Hentikan! Kalian mau apa!”

“Sebaiknya kulakukan di sini saja daripada di hotel. Bukan begitu?” tanya Eric, tersenyum sinis padanya. “Lagipula, contohlah Ye jin. Lihat, dia penurut sekali… Berikutnya giliranmu…”

Eric bergerak mendekati Ye jin sambil melonggarkan ikat pinggangnya. Seung hyo yang terbangun karena keributan tadi langsung menerjang Eric dengan marah. “Apa yang kau lakukan! Jangan sentuh pacarku!” teriaknya.

Eric dan Seung hyo mulai bergumul dan saling meninju. Namun situasi tidak menguntungkan bagi Seung hyo yang belum sepenuhnya pulih dari mabuk. Eric mendorong Seung hyo dengan keras sampai jatuh menimpa meja kaca dan memecahkannya.

Pengunjung mulai panik dan berlarian pergi. Dengan beringas Eric kembali ke tempat Ye jin, sementara pria yang tadinya membantu memegangi Ye jin berganti posisi dan memukuli Seung hyo yang belum dalam posisi siap untuk berkelahi.

“Lepaskan!” Yo won meronta. Ia semakin takut ketika tangan pria di belakangnya mulai meraba punggungnya dan bermaksud menarik ritsleting itu. “Hentikan!!”

Tepat ketika Yo won bermaksud berteriak meminta tolong, sebuah tangan mencengkeram bajunya; dan di saat bersamaan, tangan pria brengsek itu terlepas dari punggungnya. “Pakai ini,” ujar pria penolongnya dengan suara berat, sambil menyampirkan sebuah jas hitam ke bahu Yo Won.

“Pak bartender…” gumam Yo won sambil menutup mulutnya kaget.

Pria itu maju dan memukul jatuh beberapa pria lainnya. Yo won memang tidak tahu banyak tentang bela diri, namun dalam sekali pandang, ia bisa menilai. Pria ini jago bela diri. Bahkan Eric tumbang hanya dalam satu pukulan. Dan kemudian Seung hyo dibantunya berdiri

“Perlawananmu cukup bagus,” puji bartender itu.

“Terima kasih… kau membantuku… dan membantu pacarku…” tutur Seung hyo dengan kalut. “Kalau kau tidak ada…”

“Hei! Panggil manajer tempat ini! Kau tahu tidak, tamu adalah raja! Bartender macam apa kau, menyerang tamumu sendiri!” Eric mengumpat marah sambil menendang kursi di depannya.

“Kebetulan sekali, kau sedang berhadapan dengannya.” Bartender itu menjentikkan jarinya dan dalam sekejap lima pria berbadan tegap dengan jas dan kacamata hitam muncul di belakangnya. “Akulah manajer tempat ini. Dan aku berhak menentukan tamu mana yang boleh masuk dan sebaiknya tidak boleh masuk tempat ini…”

“Apa?!”

Bahkan Yo won ikut terkejut mendengar pernyataan pria itu. manajer? Pria ini manajer? Bagaimana mungkin bartender bisa menjadi manajer? Tetapi, ucapannya sepertinya serius, bukan sekedar gertak sambal.

“Mungkin kalian perlu diantar? Masih ingat di mana letak pintu keluar?” tanya pria itu lagi sambil menjentikkan jarinya. Pria-pria tegap itu dengan segera menempatkan diri mereka di sebelah Eric dan teman-temannya. “Selamat malam…”

“Sialan! Lepaskan! Aku bisa sendiri!” bentak Eric dengan geraman amarah. Sulit dipercaya harga dirinya begitu tinggi sekalipun ia sudah dipermalukan demikian.

“Kau bisa membawa temanmu ke tempatku… Mungkin kalian bisa menelepon jemputan dari sana…” pria bartender itu tersenyum ramah sambil menarik tangan Yo won yang terduduk lemas di lantai. “Bisa berdiri atau mau kugendong?” tawarnya sambil tersenyum ramah.

“Bisa…” jawab Yo won, namun lututnya terasa goyah ketika berdiri.

“Ahh…” pria itu manggut-manggut sambil tersenyum paham. “Ada solusi ketiga. Mau kupapah?”

“Terima kasih,” bisik Yo won ketika pria itu membantu menarik tangannya dan memapahnya.

―Scarlet Bar, Staff’s Room―

“Duduk saja. Anggap rumah sendiri…” pria itu berujar sambil menuntun Yo won ke sofa terdekat. Seung hyo dan Ye jin duduk di kursi lain.

“Terima kasih…” Seung hyo mengangguk hormat pada pria tegap yang membantunya membawa Ye jin. Sebentar kemudian pria itu telah berlalu dan keluar dari ruangan itu.

“Sebenarnya…” Yo won memecah kesunyian dengan memulai bicara. “Kau ini bartender atau manajer?” tanyanya malu.

“Bagaimana kalau keduanya?” pria itu membalas bertanya. “Walaupun aku pemilik tempat ini, kadang-kadang mengamati tamu dan berpura-pura menjadi bartender itu sangat mengasyikkan…” pria itu mulai membuka kunci lokernya dan memilih-milih pakaian di dalamnya.

“Berarti kau benar adalah manajer sekaligus bartender…” Yo won mengamati rompi yang dikenakan pria itu. “Bahkan penampilanmu itu memang membuatmu terlihat seperti bartender tulen…”

Pria itu hanya menoleh lalu tersenyum singkat. Yo won menatapnya dengan bingung. Terlalu misterius, pikirnya. Pria itu membuka bajunya dan menampakkan sederetan otot yang terlihat terlatih.

Yo won memalingkan muka karena terkejut. Bukan hanya karena melihat tubuh atletis itu, namun juga karena sebuah luka panjang yang terdapat di punggungnya. Entah bagaimana Yo won merasa luka itu adalah hal yang seharusnya tidak dilihatnya.

“Kau tidak bilang kalau kau akan mengganti bajumu…” Yo won memprotes dengan pipi memerah.

“Kukira kau bisa menebaknya…” balas pria itu sambil tertawa kecil. Yo won sibuk mengibas-ngibaskan tangannya seolah merasa kepanasan.

“Kau tidak menelepon temanmu?” tanya pria itu lagi kepada mereka.

Seung hyo mengangkat ponselnya dan menggeleng. “Aku bawa motor…. Kalau Ye jin, kurasa ia tidak membawa ponselnya, tapi aku bisa mengantarnya pulang. Bagaimana denganmu, Yo won?”

“Sebentar…” Yo won mengambil ponselnya dan menunggu jawaban. “Tidak ada yang angkat. Wajar sih, sudah jam setengah dua belas, mungkin sudah pada tidur…”

“Baiklah,” pria itu menyambar sebuah jaket hitam. “Apa lagi yang perlu ditunggu? Aku akan mengantar kalian… Kalau kau tidak bisa pulang sendiri…”

“Tenang saja, aku sudah tidak semabuk tadi. Petugasmu membantuku memuntahkannya di kloset…” Seung hyo menyentuh perutnya. “Sudah lebih baik. Aku tidak akan merepotkan…”

“Oh ya? Tidak jadi masalah…” pria itu menanggapi dengan santai. “Dan Nona Yo won? Kau ikut denganku?”

“A-ah, ya…” Yo won mengambil tasnya dan berjalan mengikuti pria itu. Namun, belum beberapa langkah, pria itu sudah berbalik dan memutar tubuhnya, langsung menatap mata Yo won tajam.

“Aku belum tahu nama lengkapmu…” pria itu menyodorkan tangannya dan tersenyum. “Namaku Kim Nam Gil.”

“Itu nama aslimu, kan?” Yo won mencoba bercanda ketika mengingat profesi pria itu tidak mudah ditebak. Namun, ekspresi kaku yang ditunjukkan pria itu dalam sekejap membuat Yo won kaget. Dengan segera Yo won membalas uluran tangan itu dan tersenyum. “Lee Yo Won…”

“Nama yang bagus,” ujar pria itu sambil lalu. Ia menyerahkan sebuah helm ke tangan Yo won. “Karena hanya kau yang kuantar, lebih cepat dengan motor…” tukasnya pelan.

Yo won tersenyum sambil mengenakan helm itu di kepalanya. Ia dengan canggung meletakkan tangannya di pinggan pria itu. Masih jelas dalam ingatannya betapa panjang bekas luka itu di punggung pria ini.

Kenapa?

Dan kenapa pula wajahnya terlihat kaget ketika aku menanyakan keaslian namanya?

Yo won menatap ekspresi tajam pria itu di kaca spion motornya. Biar bagaimana pun, pria ini terlalu misterius.



-to be continued-







Tidak ada komentar: