Selasa, 08 Juli 2014

TRY MY LOVE 8

TRY MY LOVE 8

April 5, 2011 at 1:31pm


TRY MY LOVE
Chapter 8
Cast:
Author (Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Dennies Oh
Kim Ri Na
 Jay Chow as himself

--Park Jae Shi, Bei Jing Exhibition Centre, 2009—

“Kau lagi…” desis Kak Dennies, marah.

“Ya, memang inilah aku…” jawab Han Geng, tidak mau kalah.

“Apa maumu sebenarnya?” geram Kak Dennies sambil menarik bahuku ke arahnya. Han Geng menahan tanganku, membuatku tidak bergeming dari tempatku.

“Kau yang tidak benar dalam memposisikan dirimu sendiri…” tuding Han Geng santai. “Dan malam ini, aku tidak mau kau merusaknya…” ia menatap Kak Dennies sampai pria itu melepaskan tangannya dari bahuku.

“Ada apa ini?” tanya Li Zhi. Di sampingnya ada Kak Jay.

“Aku mau bicara berdua dulu dengannya…” ujar Han Geng, membawaku ke back stage.  Begitu kami hanya berduaan, ia duduk di salah satu box dekorasi dan berujar, “Aaahh… rencanaku jadi kacau…” keluhnya sambil menggosok kepala dengan kesal.

“Maaf ya…”

“Bukan salahmu. Aku kesal melihatnya plin-plan dari awal. Dan tentu saja, awalnya aku hanya membantu. Tadinya aku hanya ingin bertemu denganmu sebelum pulang ke Korea. Aku ingin memastikan kita bisa bertemu lagi… Jadi, tadinya aku ingin minta nomor teleponmu…”

Dalam hati aku menertawakan Li Zhi yang dengan lugunya mengatakan kalau Han Geng menyukaiku. Lihat! Bukankah dia hanya bermaksud membantuku? Dan hanya bermaksud tukaran nomor telepon? Dasar Li Zhi…

Han Geng tertawa sambil mengeluarkan kartu namanya. “Tukaran?” katanya.

Aku tertawa dan menerima kartu itu. “Aku tidak punya kartu nama…” jawabku.

“Lalu? Apa jaminan kau akan meneleponku lagi?” tanyanya.

Astaga. Mendapatkan perlakuan special dari Han Geng yang merupakan superstar? Memimpikannya saja tidak pernah.

“Hem… akan kutuliskan…” sambil berkata demikian, tanganku meraih pena dan notes yang kusediakan untuk acara tanda tangan. Hampir penuh dengan tanda tangan artis. Begitu nomorku kuberikan, Han Geng dengan gembira menyimpannya di saku.

“Awalnya. Aku penasaran kenapa kau sama sekali tidak menaruh minat padaku…” ia tersenyum kecil, membuat dadaku berdesir halus. “Dan sekarang, kurasa berbeda. Perasaanku berbeda…” gumamnya.

Jelas, aku masih mampu mendengar gumamannya. Entah ia bermaksud serius atau tidak… yang jelas, debaran ini mulai menggangguku.

“Hei, Jae Shi. Han Geng!” sapa Henry. Ia tersenyum dan menghampiri kami. “Pria itu masih menunggu di luar…”

“Ooh… begitu?” aduh… apa yang harus kulakukan?

“Dia pacarmu?” tanya Henry bingung. “Kalian terlihat sangat dekat…”

“Eh? Tidak. Maksudku, dulu ya. Tapi, sekarang tidak…” jawabku, mulai salah tingkah.

“Kalau begitu, kau sedang kosong dong?” tanya Henry lagi. Ia tersenyum menggoda, membuatku semakin salah tingkah.

“Henry. Jangan bicara sembarangan dan menggodanya. Kau tidak lihat ya, aku sedang mengutarakan perasaanku ketika kau tiba-tiba datang dan mengganggu?” tukas Han Geng sambil menjitak kepala Henry pelan.

“Eh.. oh.. maksudku…” Han Geng tergagap malu saat menyadari tatapanku berubah kaget menatapnya. Henry juga ikut menatapnya dengan mulut menganga. “Mmm.. mungkin memang terlalu tiba-tiba…”

“Han Geng? Kau menyukainya?” ujar Henry. Mungkin ia bermaksud berbisik, tetapi entah mengapa suaranya terdengar ‘terlalu jelas’.

“Jae Shi… bisa kujelaskan…” Han Geng berulang kali berdehem malu. “Baiklah, aku menyukaimu…” akunya malu. Ia menatap Henry sekilas dan mengatakan,”Gara-gara kau, suasananya jadi berantakan…”

“Maukah… kau menjadi pacarku?”

“Eh… aku.. belum bisa menjawabnya. Maaf…”

“Tidak apa, aku bisa menunggu…” sahut Han Geng. Ia tersenyum, namun senyumannya membuatku merasa tidak nyaman.

“Aku… mau bicara dengannya…” ujarku, kalut. Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Ji Ro. Wajahnya sama kusutnya denganku.

“Ji Ro? Kenapa?”

“Tidak ada apa-apa…” ia tersenyum kaku saat menatapku. “Maaf, aku mungkin tidak bisa mengantar…”

“Oh? Ya, baiklah…” sahutku sambil menatapnya bingung. Ada apa? Aku yang kelewat sensitive atau bagaimana?

“Kak Dennies…” pria itu membalikkan badannya dan menatapku senang. “Aku mau bicara… di luar…” tegasku.

Kami duduk di kursi dekat taman. Pria itu masih pria yang sama dengan yang dulu. Senyumannya, tatapannya. Akulah yang berubah.

“Aku tidak mau hubungan kita berlanjut tanpa kejelasan begini… Mungkin, memang lebih baik kita mengakhirinya…” ujarku.

Kak Dennies menatapku, membuatku merasa bersalah. Membuatku merasa jadi cewek kejam yang memutuskannya. “Kau yakin? Apa kau membenciku?”

“Justru karena aku tidak mau membencimu…” ungkapku. “Awalnya aku ragu, kenapa aku bisa datang kemari? Masalah semakin rumit, namun, di satu sisi, aku lega karena hubungan kita menjadi jelas sekarang…”

“Jae Shi…” ia meletakkan tangannya di pipiku.

“Aku… bukan Jae Shi yang dulu. Yang akan menangis keras kalau Kak Dennies tidak ada di sampingku. Aku tidak mau begitu. Cinta seharusnya tidak membuat seseorang rapuh, tetapi kuat. Dan aku… aku juga mendoakan kebahagiaan Kakak…”

“Kenapa?” suaranya terdengar parau.

“Karena dia? Karena Han Geng…?”

“Bukan. Bukan juga karena Kakak. Atau karena Ri Na. Akulah yang bermasalah. Akhir-akhir ini masalahku membuat semuanya repot, dan aku tidak suka itu. Aku juga tidak mau mengganggu Li Zhi dan Ji Ro, atau siapapun dengan masalahku. Karena itu, kita hentikan sampai di sini. Ya?”

“Kau akan pulang?” tanya Kak Dennies lagi. Kali ini, begitu melihatku mengangguk, ia tersenyum. Tulus. “Aku akan mengantarmu…”

“Tidak perlu… Aku bisa pulang sendiri kok.. Ada Li Zhi yang pulang bersamaku…”

Ia bangkit dan merentangkan tangannya. “Terakhir kali… sebagai teman?” tawarnya. Sambil tersenyum, perlahan, aku masuk dalam pelukannya. Pelukan yang kurindukan. Tanpa kusadari, setitik air mata menetes di pipiku.

“Aku akan merindukanmu… Jae Shi, sampai sekarang pun, aku masih sangat menyayangimu…”

“Aku juga menyayangi Kak Dennies… Karena itu, kurasa ini yang terbaik…”

“Ya, yang terbaik…” senyumnya menyetujui. “Sampai jumpa…” ia melambaikan tangan dan berjalan pergi menembus kegelapan malam.

Kuhela nafas yang terasa sesak di dadaku. Segala yang terjadi dalam satu minggu terakhir ini terasa seperti mimpi panjang. Di atas, nyala warna-warni kembang api membuyarkan kegelapan langit. Setetes air mata meluncur lagi di pipiku. Berakhir sudah cinta pertamaku…



“Jae Shi!” panggil Li Zhi begitu kakiku melangkah masuk ke kerumunan. Kebetulan, aku memang mencarinya.

“Akhirnya aku menemukanmu!” seruku sambil tersenyum. Masalahku dengan Kak Dennies sudah selesai. Rasanya luar biasa melegakan.

“Aku… ada masalah… aku ingin pulang sekarang…” ujarnya terbata-bata.

“Astaga. Ada apa Li Zhi? Bukannya konser Ji Ro belum selesai?”

“Maaf, aku mungkin tidak bisa mengantar…”

Aku terdiam saat teringat ucapan Ji Ro. Saat itu, senyumannya terlihat muram. Apakah terjadi sesuatu di antara mereka?

“Baiklah, ayo kita pulang…” ajakku sambil menggandeng tangannya.

Li Zhi duduk diam di dalam taksi. Ia terus menyenderkan kepalanya tanpa bicara apapun. Aku tidak berani bertanya apapun. Perasaanku mengatakan, ia bisa menangis kapanpun.

“Bagaimana… ini…” gumamnya terputus-putus. Kutolehkan kepalaku menatapnya. Matanya terlihat berkaca-kaca tertimpa cahaya lampu jalanan. “Bagaimana… ini?” ulangnya, putus asa.

“Apa yang terjadi?” tanyaku, akhirnya.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menghela nafas dan kemudian—sesuai tebakanku—meledak dalam tangisan. “Aku putus dengan Ji Ro!!”

“Apa?!”

Ji Ro? Putus dengan Li Zhi? Rasanya itu hal yang paling tidak mungkin terjadi di dunia ini.  Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?! Bukankah hubungan mereka baik-baik saja?



--Wei Li Zhi, Bei Jing, Wei’s House, 2010--

Jae Shi membuatkan secangkir teh hangat dan menyalakan televisi. Acara malam ini dipenuhi dengan gambar kembang api di mana-mana.

Di tempat Ji Ro juga seharusnya ada kembang api. Memikirkan itu, dadaku kembali terasa sesak. Kuangkat tanganku menutupi mataku, mengelapnya sebelum air mata itu sempat jatuh.

“Kau boleh cerita nanti…” ujar Jae Shi sambil mengambil tempat dan duduk di sebelahku.

Aku menatapnya sekilas. Aku tahu jelas sifat Jae Shi.ia pasti akan bertanya “mengapa”. Tapi, bagaimana aku bisa menjawabnya? Aku sendiri tidak tahu jelas, apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku… masih menunggumu di belakang panggung… Tidak… lama.. setelah Kak Jay pulang…” ujarku, mencoba mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. “Kemudian… tidak lama, aku melihat Ji Ro…”

Jae Shi menggenggam tanganku pelan, mencoba menenangkanku yang sudah mulai terisak-isak.

“Lalu… ia bilang mau bicara… dan kemudian… tiba-tiba ia bilang putus…”

“Apa alasannya?”

“Entahlah…” gumamku, merasa kacau. Kubenamkan wajahku di bantal sofa. “Rasanya aku tidak benar-benar mengerti apa yang ia katakan… Suaranya… terasa jauh…”

“Kalau begitu… kau perlu mencoba bicara dengannya…”

“Ji Ro…” pelan, aku bisa mengingat suara yang terasa dingin dan kelam itu.

Aku tidak bisa membuatmu bahagia

“Ji Ro mengatakan ia tidak bisa membuatku bahagia… Aku.. aku tidak mengerti…”

“Aku juga,” jawab Jae Shi sambil mengernyitkan dahi. “Bukankah kau bahagia bersamanya?”

“Ya…” anggukku. “Maaf… aku pasti membuatmu bingung…”

“Tidak, aku tidak apa-apa…” jawab Jae Shi. Senyumnya terasa menenangkan.

“Kudengar Han Geng sudah mengatakan perasaannya…” ujarku lagi. Jae Shi terdiam lalu mengangguk ragu. “Tidak apa, tidak usah khawatirkan aku… kau dan Han Geng sangat cocok. Kalian pasti bisa bahagia…”

“Entahlah…” jawab Jae Shi. Melihat ekspresiku, ia buru-buru menambahkan. “Akan kupikirkan…” sambungnya.

Tapi, aku tahu jelas sifat Jae Shi. Masalahku membuatnya ragu. Ragu tentang perasaannya pada Han Geng, ragu tentang masa depan mereka. Sebenarnya, apa yang terjadi antara aku dan Ji Ro?


-to be continued-

Tidak ada komentar: