Selasa, 08 Juli 2014

TRY MY LOVE 11

TRY MY LOVE 11

May 1, 2011 at 9:40am
TRY MY LOVE
Chapter 11
PG13+
Cast:
Author (Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Dennies Oh
Kim Ri Na
Shin Rae Mi
Park Dae Jia
Kang Hea In


Park Jae Shi, Bandara Internasional Capital Beijing (BCIA), 2010

Tiga senti… dua senti… satu senti… perlahan nafasku semakin sesak saat wajah Han Geng mendekat. Jantungku berdebar liar di tempatnya, dan saat itu, mataku perlahan menutup.

“Hei!!! Apa yang kalian lakukan!!” seru Hee Chul dari belakang Han Geng, membuatku dan Han Geng otomatis melompat mundur dan saling menjauh.

“Ckckckck… kalian benar-benar kelewatan. Dasar anak muda, ditinggal sebentar sudah mau macam-macam…” tukas Hee Chul, disusul tawa anggota Suju lainnya. Di samping Hee Chul berdiri seorang gadis semampai yang cantik.

“Maaf, dia ini memang suka keterlaluan…” omel gadis itu sambil mencubit lengan Hee Chul. “Namaku Shin Rae Mi. maaf, terlambat memperkenalkan diri…” ia menurunkan kacamata hitam yang dipakainya sekilas.

“Senang berkenalan..” ujarku, berusaha menyembunyikan rasa maluku. Luar biasa. Hampir saja aku lupa diri dan mencium Han Geng di depan umum. Di depan personel lainnya.

Dae Jia dan  Hea In datang menghampiriku dan mengamit lenganku. “Lain kali, pastikan berhasil…” ujarnya berbisik sambil tertawa.

Hea In menambahkan sambil tersenyum misterius. “Dan kalau butuh saran, mintalah kepada ahlinya.” Ia bertukar pandang dengan Dae Jia, dan mereka berdua kembali tersenyum penuh makna.  Aduh… rasanya benar-benar memalukan.

“Kau akan ikut denganku, bukan? Pesawat berikutnya?” tanya Han Geng lagi.

“Tapi, tiketnya…”ketika kulirik tiket di tanganku, entah bagaimana jam penerbangannya memang sudah berubah. “Hah? Kapan jamnya…”

“Aku meminta Li Zhi menukarnya. Dengan yang semalam kupesan…” ia melingkarkan tangannya di bahuku. “Jadi? Tidak ada yang tidak ada kata ‘tapi’ lagi, kan?” tanyanya sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Ya,” senyumku.

“Dan yang tadi, biarlah kita lanjutkan kapan-kapan…” ujarnya, berbisik di telingaku.

“Apa….” Bisa kurasakan bagaimana wajahku memerah sampai ke telinga. Astaga. Astaga. Astaga.



Han Geng, Seoul Air Plane, 2010

Jae Shi bergerak gelisah di sebelahku. Awalnya Si Won yang duduk di sampingku. Namun, berhubung ada Dae Jia, ia pindah ke sebelah gadisnya. Dan Hee Chul, meminta bertukar tempat dengan Jae Shi, yang kursinya kebetulan bersebelahan dengan nomor kursi Rae Mi.

“Tenanglah sedikit…” ujarku, menyentuh bahunya.

“Ah, eh, iya…” ia menyenderkan kepalanya ke kursi, namun terus mengalihkan pandangan dariku. Matanya terus menatap ke luar, ke jendela.

“Apa ada awan yang mengalahkanku di sana?” tanyaku, membuatnya menoleh dengan bingung. “Kau lebih memilih menatap awan daripada menatapku…”

“Seoalnya… tidak bisa…” ujarnya terbata-bata. Ia menutup wajahnya dengan tangan. “Kau menatapku, aku gugup…”

“Oh ya?” senyumanku melebar. “Segitunya kau menyukaiku?” godaku. Reaksinya begitu lucu, membuatku senang menggodanya.

“Hei,” ia melotot lalu kembali menatap awan. “Kau mulai lagi…” keluhnya, menutup wajahnya. “Jangan memandangku begitu...”

 “Jae Shi…” panggilku. Ia menggeleng, menolak menatapku. Pulang nanti, aku sudah tidak sabar menjelajahi Korea bersamanya. Dan sekarang, dia malah tidak mau menatapku. Astaga.

“Kenapa sih, kau bisa menyukaiku…” gumamnya. Lagi. “Aku… tidak mengerti. Apa kau tidak menganggapku aneh? Begitu cepatnya aku melupakan Kak Dennies…”

Kenapa ya? Bayangan wajahnya terlihat samar dan muram di jendela pesawat. Dan punggungnya terlihat kesepian. “Tidak aneh, kok…” cetusku. “Justru aku yang memaksamu melupakannya. Kenapa kau begitu tidak percaya diri saat berhadapan denganku?”

“Karena…” Jae Shi berbalik, menatapku dengan mata yang sendu. “Karena aku takut. Kau begitu terkenal. Aku gadis biasa. Normal. Dan, di panggung hiburan, di manapun, ada gadis yang jauh lebih cantik. Lebih menarik…” Jae Shi terdiam dan kemudian menunduk, “Maaf… mungkin aku masih agak trauma…”

“Aku menyukaimu… karena aku tidak punya alasan untuk tidak menyukaimu…” ujarku, terkejut dengan kalimatku sendiri. Kenapa? Ya, kurasa itulah alasannya.



“Sampai di sini saja,” ujar Jae shi, tersenyum. “Sampai jumpa…” ia berbalik dan berjalan masuk ke rumahnya.

“Jae Shi,” panggilku. Ia menoleh dengan bingung. “Beberapa waktu ke depan, aku akan sibuk. Apa kau tidak mau memberikan ciuman perpisahan untukku?” tanyaku, bermaksud menggodanya.

“Apa…” wajahnya kembali bersemu merah. “T-tapi…” aku tidak mengerti dengan gadis ini. Dia terlalu berbeda dengan fans-ku yang lain. Yang mungkin akan berebutan mencoel, menarik, mencium, atau mungkin awalnya mengelus tapi karena berebutanmenjambak rambutku.

“Selamat malam,” ia berjinjit dan mencium pipiku yang kusodorkan ke arahnya. Sebelum gadis itu berpaling, kuhentakkan tangannya sampai ia terjatuh dalam pelukanku.

Jae Shi menatapku kaget. Ia mengangkat wajahnya dan matanya membesar karena gugup. Perlahan, kembali kupandang bibirnya. Jae Shi meremas lengan kausku, dan tanganku kuletakkan ke belakang lehernya.

Pelan, kusentuh bibirnya dan terkejut. Ciuman itu terlalu terasa lugu. “Ng…” Jae Shi terkejut ketika kutekankan bibirku semakin mendalam. Ia terkejut dan semakin kuat mencengkeram lengan bajuku ketika kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, nafas kami semakin tidak beraturan.

Dan ketika kuhentikan ciuman itu, wajahnya merah, gugup, dan malu. Ia menyenderkan kepalanya di dadaku. Biarlah ia mendengar debaran jantungku sekarang.

“Terima kasih…” gumamnya. “Terima kasih… karena menyukaiku…”

Aku menyukai Park Jae Shi. Tidak peduli siapa yang disukainya dulu, atau pun kelak, aku harap aku bisa selalu bersamanya. Seperti sekarang. Tidak peduli bagaimana ia tidak bisa memandang segala kelebihannya, aku yang akan ada di sana untuk memastikan ia bisa memandang dirinya dengan benar.

“Jae Shi…” suara berdehem yang keras mengejutkan kami, membuat Jae Shi mendongak kaget dan menampakkan wajah takut.

“Papa…” keluhnya.

“Selamat malam Oom…” ujarku, mencoba tersenyum. Baiklah, ini bukan situasi yang menyenangkan. Apakah ia melihatku mencium putrinya tadi?

“Segera masuk. Temanmu, Li Zhi, menunggu di dalam…” tegurnya.

“Geng, a-aku masuk dulu. Selamat malam…” ia setengah berbisik. Dengan patuh ia masuk dan menutup pintu. Astaga, padahal aku masih ingin bersamanya.

“Kau siapa?” tanya pria itu sambil mendelik dan menatapku tajam. “Rasanya aku pernah melihatmu entah di mana…” ia memandanku lagi, dengan tatapan menilai.

“Ehm, saya Han Geng oom… Pacarnya Jae shi…” tukasku.

“Pacar?!” pria itu memandangku terkejut. Astaga, apa aku salah bicara? Ia menghentakkan kakinya pelan. “Anak itu tidak pernah bilang apa-apa…”

Kuputuskan untuk tidak menjawab. Mengatakan kalau kami baru saja pacaran dan di hari yang sama aku sudah berani mencium putrinya…. Kurasa bukan ide yang bagus. Nilaiku akan semakin rendah di matanya.

“Kukira ia pacaran dengan Dennies. Anak itu sudah kukenal sejak kecil,” tukasnya lagi sambil mengamati reaksiku.

Aha, jadi begini rasanya berhadapan dengan orangtua pacarmu? Aku hanya memberikan senyum terbaikku sambil mengangguk, pura-pura memahaminya. Seandainya bisa, ingin kutambahkan mengenai hubungan mereka yang sudah kandas sejak di China. Dan pria yang dipilih Jae Shi adalah aku. Hhh….

“Apa pekerjaanmu?” pria itu mengangkat alisnya dan tiba-tiba kembali menatapku dengan kaget. “Tidak. Biar kutebak. Kau penyanyi. Ya, pantas aku pernah melihatmu. Kau ada di poster dalam kamar anakku. Kau artis!”

“Ya,” dengan pasrah, kuanggukkan kepalaku. Rasanya seperti kena nilai minus bertubi-tubi.

“Kau terlalu mencolok untuk putriku…” kata pria itu lagi. Apakah itu artinya aku gagal dan tidak disetujui?

“Saya yang beruntung mendapatkannya…”

“Seberapa besar aku bisa mempercayaimu?” tanya pria itu lagi. Ia tersenyum dan berjalan meninggalkanku sbeelum aku bahkan sempat menjawab. “Pulanglah, kau pasti masih ada pekerjaan besok. Dan putriku, ia masih harus kuliah besok…”

“Selamat malam, Om…” ujarku, merasa beban-beban itu masih menindihku. Kurasa, itu artinya ia tidak setuju aku menemui putrinya. Untuk sementara waktu.




Wei Li Zhi, Park’s House, 2010

“Astaga, Papamu mungkin memarahinya…” gumamku sambil mengintip dari jendela di kamar Jae Shi. “Lihat, Han geng pulang dengan wajah lesu begitu. Kasian dia…”

“Hem… kau benar…” Jae Shi menghela nafas dengan kesal. “Apa yang harus kulakukan, dong?” ia memandang jalan dengan sedih.

“Mungkin nanti kau harus bicara lagi dengan Papamu. Dan hei, aku punya berita yang mungkin tidak mengenakkan untukmu…”

“Apa itu?”

“Aku melihat Ri Na. Dia pulang dari Bei Jing dengan pesawat yang sama denganku.” Wajah Jae Shi mengkeruh begitu nama itu kusebut. “Kenapa bisa begitu?” tanyaku.

“Aneh. Mustinya dia lulus bersamaan dengan Kak Dennies. Setahuku Kak Dennies masih setahun lagi di sana. Kenapa ya?”

“Kurasa ia merencanakan sesuatu yang buruk. Aku tidak tahu apa…”

“Mungkin ia berhenti kuliah di Bei Jing,” gumam Jae Shi. “Tapi, kenapa ya?”

-to be continued-

Tidak ada komentar: