Selasa, 08 Juli 2014

TRY MY LOVE 14

TRY MY LOVE 14

June 5, 2011 at 12:58pm
TRY MY LOVE
Chapter 14
Cast:
Author (Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Kim Ri Na
Dennies Oh


―Wei Li Zhi, Parks family’s house, 2010 ―


“Bersemangatlah…” ujarku sambil menepuk bahunya. Situasinya semakin tidak nyaman. Han Geng belum meneleponku untuk menjelaskan, jadi aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menenangkan Jae Shi.

“Kau mau putus dengannya?” kalimat itu begitu saja terlontar dari bibirku. Jae Shi menatapku kaget. “Kau tahu, engg.. kalau Papamu melihat wajahmu yang semuram ini, dia pasti menyuruhmu memutuskan cowok itu…”

Jae Shi terdiam cukup lama. “Aku harus… mendengar penjelasannya…” tukasnya, setengah menggumam.

Bukan ide yang buruk, pikirku. “Kurasa memang itu yang kalian butuhkan….”

“Yang kubutuhkan adalah berada di bagian dunia di mana tidak ada gadis bernama Ri Na di sana…” ujar Jae Shi sambil memandang tanah dengan mata nanar. Kami hampir tiba di rumahnya. Syukurlah, ekspresi wajahnya perlahan melunak.

“Jae Shi!!” Mamanya berlari menyambutnya sambil tersenyum. “Astaga.. ada apa? Kenapa wajahmu muram begini?”

“Tidak apa kok.. sebaliknya, kenapa Mama terlihat sangat senang?” Tanya Jae Shi. Lagi-lagi senyum palsunya keluar. Dasar anak ini…

“Mama punya kejutan untukmu. Coba tebak…” seru Mamanya gembira.

Aku ikut mengintip ke pintu yang setengah terbuka. Kejutan apa ya? Semoga cukup bagus, jadi bisa menghilangkan perasaan buruk Jae Shi sekarang.

“Kejutan apa sih, Ma?” walaupun bernada agak malas, jelas, ia penasaran.

“Nah, ayo, masuk dulu,” sahut Mamanya sambil tersenyum. “Kejutannya ada di dalam… Li Zhi, ayo ikut saja…” ajak Mamanya ramah. Dengan patuh kami membuka sepatu dan masuk perlahan.

“Kejutannya sedang mengobrol di ruang tamu,” ujar Mamanya sambil tertawa.

Bagaikan menjawab doaku, di sanalah kejutan itu berada. Memang bagus. Terlalu bagus sampai-sampai kukira aku masih setengah berkhayal.

Kejutan itu ternyata Kak Dennies.

“Kak Dennies?”

“Hai, Jae Shi…” senyum pria itu sambil merentangkan tangannya lebar. “Senang bertemu denganku?” tanyanya ramah.

Jae Shi tertawa, kali ini ia terlihat tulus. Ia memeluk pria itu sejenak. Bagi Jae Shi, sekalipun hubungan cinta di antara mereka tidak berhasil, Dennies tetaplah kakak dan sosok yang penting dalam hidupnya.

“Selamat datang kembali di Seoul… Apakah kau akan menetap di sini lagi?”

“Hanya kebetulan sedang libur semester…” jawabnya, masih tersenyum ramah. “Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja, kan?” ia mengelus kepala Jae shi dengan pandangan sayang.

“Baik…” sejenak wajah Jae shi kembali muram. Kurasa ia teringat masalah yang dihadapinya dengan Han Geng.

“Jae Shi?” Tanya cowok itu lagi, tampak tidak yakin.

“Iya, baik-baik saja kok!” jawabnya cepat. Tetapi, bisa kulihat pria itu mengangkat wajahnya dan menatapku. Aku menatapnya kembali. Jelas, ia keburu melihat perubahan ekspresi Jae Shi.

“Aku mau bicara denganmu…” ujar Kak Dennies lembut. Ia mengedipkan sebelah mata kepadaku. Kurasa itu artinya sudah saatnya aku pulang.

“Aku pulang dulu ya Jae Shi…”

Setidaknya sekarang ada Kak Dennies di sini. Kalau memang Han selingkuh, biar tahu rasa dia….

“Li Zhi.. biar kuantar…” ujar Jae Shi, namun ia kalah cepat oleh Kak Dennies yang sudah setengah berjalan ke pintu. Ia berdiri di sebelahku sambil tersenyum. “Terima kasih sudah mengantar Jae Shi pulang…” ujarnya ketika membukakan pintu.

Dari belakang, bisa kurasakan Jae Shi memandangku bingung. Hehehe.. pasti dia bingung kapan aku dekat dengan Kak Dennies. Karena masalah Jae Shi, aku jadi mengenal lebih banyak orang daripada biasanya. Cukup menyenangkan juga…

“Ada masalah dengannya?” Tanya Kak Dennies sambil mengantarku ke pagar. Ia menunjuk motornya dan menyerahkan helmnya padaku.

“Kurasa salah paham. Biasa, mantanmu lagi yang mencari gara-gara…”

“Siapa? Ri Na?” Tanya Kak Dennies dengan kening berkerut. Dari wajahnya bisa kulihat ekspresi bosan itu. “Kenapa dengannya?”

“Dia ke Seoul karena berhenti kuliah di Bei Jing…”

Kak Dennies mengangguk membenarkan. “Awalnya kukira dia hanya membolos beberapa hari. Tapi belakangan aku baru diberitahu kalau ia sudah memutuskan untuk berhenti total…”

Karena yang dia kejar itu kau, pikirku. “Lalu, apa hubungannya dengan pacar Jae shi? Cowok itu kan artis…”

“Justru itu. Entah mengapa ia mengambil jurusan tata rias artis di sini, dan berakhir dengan menggoda pacar Jae Shi…”

“Astaga…” Kak Dennies tersenyum pahit. “Jae Shi pasti sedih… Dan aku harus menghiburnya…”

“Apa kau akan mengambil kesempatan dalam kesempitan?” tanyaku sambil mengancingkan helm motor yang dipinjamkan olehnya.

“Ooh… aku bukan cowok semacam itu. Tapi kurasa, kalau ini adalah kesempatan dari Tuhan, aku akan mengambilnya…” jawabnya jujur.

Hem… cowok ini ternyata nggak jelek-jelek amat. Maksudku, ia memang tampan, dan jujur, aku sempat punya pikiran jelek padanya karena ia selingkuh dengan Ri Na. Tetapi melihat sikapnya sekarang, ia terlihat lebih dewasa dari sebelumnya.

“Kau menyesal ya, melepasnya dulu?”

“Ya,”  jawabnya. Ia menepuk jok belakangnya dan menyilakanku duduk. “Aku sangat bodoh saat itu. Dan aku menyesal. Jadi, lebih baik cowok bodoh itu bersiap-siap. Karena kedatanganku memang sejak awal bukan cuma untuk berlibur di Korea.”

“Oh ya?”

Mendadak situasinya jadi menarik, nih.

“Ya, sejak awal aku memang ingin memastikan kalau Jae Shi bahagia. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Kalau ternyata ia tidak bahagia, aku akan bertindak…”

Kuacungkan jempolku, merasa bangga pada jalan pemikirannya. “Kalau memang kau bisa membahagiakannya, kau kurestui. Tapi ingat… kau harus mulai dari awal. Bahkan bukan dari nilai nol, tapi dari minus. Karena kau sudah gagal sekali…”

“Ya,” sahut cowok itu bersemangat. “Jadi nona, naiklah. Karena kita sudah banyak bercerita, pasti Jae Shi sudah curiga kenapa motorku belum mengantarmu juga dari tadi…”

Aku tertawa kecil, setuju. “Baiklah. Siap boss, ayo kita berangkat!!” seruku gembira.


―Park Jae Shi, Parks family’s house, 2010 ―


“Selamat malam semua, kami adalah… Super Junior!!” seru Lee Teuk mengawali acara. Kemudian lagu berkumandang dan mereka mulai bergerak serempak. Bergantian menyanyi dan menari.

“Itu pacarmu, bukan?” Tanya Kak Dennies. Ia meletakkan nampan berisi kue cokelat dan menyuruhku mengambil serta mencobanya.

“Eh iya…” jawabku. Apa ia masih pacarku? Sejenak keraguan memenuhi diriku. “Wow!” seruku saat sensasi rasa cokelat yang kental terasa di lidahku. Aroma rhum yang wangi juga terasa memenuhi setiap gigitan. “Sejak belajar di Bei Jing, kau jadi jago begini! Aku salut…”

“Enak kan?” ia menyeringai senang. “Aku paling suka melihatmu memakan hasil karyaku… kau selalu membuatku bangga…”

“Hahaha…” tawaku mulai terasa kering, mengingat masa lalu memang  terasa merindukan. “Memang enak. Aku tidak pernah pelit memujimu, karena memang rasanya enak.”

“Terima kasih…” ia tersenyum dan menyender di kursi.

Lagu pertama habis, dan dimulailah lagu kedua. “Lagu kedua ini untuk semua ELF yang ada di sini dan di rumah. Semua penggemar kami. Kami cinta kalian…” seru Lee Teuk bersemangat. “Ini adalah lagu yang mengawali debut kami, MIRACLE!!”

Giliran pertama menyanyi adalah Shi Won dan kedua adalah Han Geng. Aku suka mendengar suaranya yang lembut. Dan ringan. Sebagian hatiku menghangat, sebagian lagi terasa sakit.

“Jae Shi…” kak Dennies mengulurkan tissue ke arahku. Dengan kaget, kutatap ia. “Kau menangis…”

“Hah, tidak kok, masa…” tetapi ketika kusentuh pipiku, ternyata ada air mata di sana. Kak Dennies mengusap air mata itu lembut.

“Kalian sedang bertengkar?”

“Tidak…” elakku. Ini bukan urusannya, kan? “Tidak apa kok…”

Semuanya mulai terasa nyaman seperti dulu, dan aku tidak mau merusaknya dengan mulai membangkitkan kenangan lama kami.

“Kau tahu tidak…” ia mulai meminum air yang ada di gelasnya. “Sejak hubungan kita berakhir, aku tidak pernah berhenti memikirkanmu…”

“Kak Dennies…” aku tidak mau ia membicarakan hal ini.

“Aku menyesalinya setiap hari…”

“Kak Dennies… please, stop…” pintaku.

“Aku tahu, aku pasti membuatmu semakin bingung. Tapi, aku akan menunggu, Jae Shi…” ujarnya sabar. “Karena kurasa ini kesempatan dari Tuhan untukku…”

“Hentikan…” ujarku, menutup telinga.

“Sudah malam,” potong Kak Dennies cepat. “Ayo tidur…” ia menarik tanganku dan mengantarku ke depan pintu kamarku. “Malam, Jae Shi…”

“Malam…”

Sebelum tanganku memutar kenop pintu, ia menahannya. Dan dengan tangan satunya, ia menekan pintu di sampingku. Posisiku membelakanginya, namun aku terkurung di antara tangannya. Ini mulai berbahaya. Pikiranku berubah semakin panik. Nafasnya terasa di leherku, membuatku semakin takut.

“Kalau kukatakan aku masih menyukaimu, bagaimana…”

Aku tidak menjawab. Tidak, bukannya tidak mau, tetapi tidak bisa. Suaranya terdengar begitu aneh di telingaku. Familiar dan di saat bersamaan terasa asing. Dalam dan rendah, suara tu mengingatkanku pada diriku yang dulu, masa laluku, dan dirinya di sampingku.

Kak Dennies melingkarkan lengannya dan memeluk bahuku dari belakang. Bisa kurasakan nafasnya di puncak kepalaku. “Kalau pria itu gagal membahagiakanmu… kau jangan melupakanku…”

Aku pernah menyukainya. Dan sampai sekarang pun, masih. Tapi, sebagai sahabat. Sebagai kakak. Aku yakin itu. Dulu Han Geng yang membuatku yakin akan hal itu.

Tapi, sekarang Han Geng membuatku bimbang. Ia tidak ada di sampingku. Ia ada di sana, bersama wanita itu. Dan perasaanku pada Kak Dennies… aku juga tidak yakin bisa percaya padanya.

“Selamat malam…” tukasku tiba-tiba.

Kak Dennies melepaskan pelukannya. Tanpa menoleh, kututup pintu di hadapannya. Bisa kudengar ucapannya pelan, selamat malam. Ucapan yang kurindukan.  Dan kini, ketika ucapan itu kudengar kembali, kenapa hatiku begini tawar?




―Han Geng, Studio SM Entertainment, 2010―

“Kau bisa lebih serius tidak?”

Manajer kami, Pak Kim, memelototiku dengan ekspresi tidak senang. “Kau pikir fans akan senang melihat wajahmu yang muram itu?!”

“Dia sedang banyak masalah Pak hari ini, tolong maafkan dia…” ucap Shi Won, mencoba membelaku.

“Bisa dianggap sebagai bagian dari penjiwaan lagu Pak. Buktinya hanya di awal saja wajahnya semuram itu. Di lagu Miracle ia sudah tampak lebih baik…” Lee teuk berusaha bicara diplomatis.

“Lebih baik? Jelas senyumannya itu terlihat palsu sekali! Kau harusnya bisa lebih professional, Han Geng!!”

“Ya, saya paham Pak…” jawabku.

“Tidak ada wajah semuram itu lain kali!!” tuntutnya dengan kesal.

“Ya, saya paham Pak…” jawabku.

Pak Kim pergi dengan langkah tidak sabar dan terburu-buru. Jelas, kenapa ia bisa tidak senang melihatku. Aku sendiri membenci diriku sekarang.

“Pak Kim benar, seharusnya kau bisa lebih professional…” ujar Shi Won. “Di hadapan fans, kita harus menampilkan yang terbaik…”

“Aku setuju dengan Shi Won. Jangan membawa urusan pribadi ke dalam pekerjaanmu…  Contohlah Shi Won yang walaupun sedang bertengkar dengan Dae Jia, masih bisa menampilkan senyum superstarnya…”

“Hahaha… senang kau memujiku…” ujar Shi Won sambil tertawa, “Sarkasme…”

“Sekarang sudah jam berapa?” tanyaku.

“Jam sepuluh…”

Berarti tidak mungkin menelepon Li Zhi sekarang… Bagaimana aku harus menjelaskan? Apa Jae shi tadi menontonku, ya? Tidak. Pasti tidak. Melihat wajahku tadi saja ia tidak mau.

“Shi Won… apa yang kau lakukan kalau bertengkar dengan Dae Jia? Bagaimana cara kalian berbaikan?”

“Kau sebaiknya jangan mencontohku…” ia tersenyum pahit sambil menatapku. “Aku suka melihatnya cemburu…”

“Astaga, kau tega…” kupijit keningku pelan. “Ada saran tidak, teman-teman?”

“Saranku, bicara padanya. Jelaskan. Dan jelaskan juga pada kami…” tuntut Ki Bum sambil menatapku pedas. “Aku sudah membelamu di depan pacarmu. Berdoa saja ia mau mendengar penjelasanmu…”

“Terima kasih. Saranmu sangat membantu…”

“Bagaimana kalau kau melakukan hal yang manis?” Tanya Sung Min. ia tersenyum ketika menambahkan. “Seperti hadiah-hadiah pink. Wanita suka warna pink…”

“Warna pink itu mah kau sendiri…” balasku, malas mendengarnya. Menyebalkan, semua serba kacau.

“Kurasa ia akan mendengar penjelasanmu. Dia kelihatannya gadis yang baik…” sahut Dong Hae, meminum susunya.

“Dan sebaiknya kau mulai menyusun kalimat yang bagus dari sekarang…” sambung Hee Chul sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Yang penting kau jujur. Untuk apa sih repot-repot?” olok Eun hyuk dari meja sebelahku.

Astaga. “Baik, kesimpulannya. Aku harus menjelaskan, jujur, dan dengan kalimat yang bagus. Serta dengan hadiah pinky?”

Anak-anak Suju tertawa dan mengacungkan jempolnya ke arahku. “Kesimpulan yang bagus…” ulang mereka serempak.

“Oke teman, kalian sangat membantu…” membantuku semakin pusing. “Ada tambahan lagi?”

Shin Dong kali ini menjawab dengan bersemangat. “Ajak dia makan enak di restoran!!”

Hening, dan kemudian semua anak Suju mengelu-elukan namanya dan mengucapkan “Bhuuuuuuuu” bersamaan.

Sebuah sms tiba-tiba masuk ke ponselku. Nomor tidak dikenal. Siapa?


Aku denies, baru saja tiba di Seoul. Kudengar kau menyia-nyiakan Jae shi-ku.
Aku tidak akan tinggal diam. Selamat malam


Dengan dada berdebar kubaca sms itu sekali lagi, memastikan mataku tidak salah. Pria itu kembali. Pria yang pernah ada begitu lama di hati Jae Shi. Dan mungkin, sekarang pun masih. Perasaan tidak nyaman memenuhi dadaku.

Tidak akan tinggal diam.

Dan ia menyebut Jae shi, sebagai Jae shi-nya. Apa-apaan itu?!  Jae shi masih pacarku! Sekalipun bertengkar, kami belum putus! Aku tidak mau memutuskannya!

Dan dari mana ia mendapatkan nomor ponselku? Apa Jae Shi yang memberikannya? Kalau iya, berarti sekarang ia sedang bersama cowok itu. tidak, Jae Shi tidak mungkin begitu. Ia bukan tipe yang main di belakangku.

Astaga, ini benar-benar situasi yang menyebalkan. Rasanya seperti diserang dari segala arah. Hanya karena Ri Na! hanya karena gadis itu menjebakku! Hanya karena kesalahan itu!

“Han? Mukamu pucat sekali…” Hee Chul mengintip dari balik bahuku sambil menepuknya pelan. Cepat kusembunyikan ponsel itu.

“Tidak ada apa-apa… Hanya saja… kurasa, aku harus segera ke tempatnya sekarang…”

“Hah? Sekarang? Kau gila ya?” Tanya Hee Chul kaget. Yang lainnya menatapku tidak percaya. “Ini sudah terlalu malam, Han Geng…”

“Besok sajalah... gadis itu mungkin sudah tidur…” ujar Dong hae santai.

“Ya, lagipula kau sama sekali tidak mempersiapkan pembelaan apapun untuk dirimu…” Ki Bum menatapku tidak yakin. Sampai kapan dia mau mencurigaiku sih?

“Aku perlu dukungan kalian…” kataku, akhirnya. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. “Siapa yang bersedia membantuku besok?”

“Aku bersedia. Asal kau bisa menjelaskan insiden itu dan meyakinkan padaku kau tidak bersalah…” Ki Bum menatapku tajam.

Shi Won mengangguk setuju di sampingnya.”Aku akan membantu, setelah kau menjelaskan peristiwa sebenarnya…”

“Aku juga…” sahut Dong Hae santai. “Kau pernah membantuku untuk kencan bersama Hea In…”

“Aku akan membantu, asal kau mentraktirku makan seafood besok…” ujar Shin Dong dengan wajah tawanya yang polos.

“Baiklah,” kurasakan ketegangan menyelimutiku. Pelan, aku berusaha mengingat kejadian itu. “Sebenarnya….”



-to be continued-

Tidak ada komentar: