Selasa, 08 Juli 2014

TRY MY LOVE 5

TRY MY LOVE 5

April 1, 2011 at 7:10pm
TRY MY LOVE
Chapter 5
Cast:
Author(Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Dennies Oh
Kim Ri Na


--Wei Li Zhi, Bei Jing, Wei’s house, 2009--

“Aku menunggu dari tadi…. Aku ingin menemui kalian…”

“Untuk apa kau datang kemari?” tanya Jae Shi sengit.

“Dari mana kau tahu rumahku?” tanyaku kesal.

Ri Na bangkit dan dengan senyuman penuh peraya diri bangkit dan berdiri berhadapan dengan Jae Shi. “Aku ingin bicara empat mata denganmu…”

“Aku tidak punya urusan denganmu…” ujar Jae Shi sambil tersenyum, mencoba bersikap santai.

“Sekarang,” tegasnya.

“Astaga. Siapa yang kekanak-kanakkan sebenarnya?” dengus Jae Shi sebal.

Aku setuju dengannya. Wanita ini menyebut Jae Shi mengganggu dan kenakak-kanakkan. Mungkin ia tidak menyadari kalau predikat itu sebenarnya lebih tepat ditujukan untuknya.

“Baiklah, katakan saja…” ujar Jae Shi akhirnya.  “Di sini.”

“Di luar…”

“Oke, tidak masalah. Di luar.”



“Aku tidak suka kau berkeliaran di dekat Dennies…” Kurapatkan telingaku ke pintu. Suara wanita itu terdengar lebih jelas sekarang. “ Ia menjadi terganggu, dan posisiku semakin tidak jelas di matanya…”

Memangnya siapa kau?

“Itu urusan kalian…”

“Kau tidak menyatakan keberatanmu saat pengumuman pertunangan kami. Dan kami sudah menganggap kau menyetujuinya…”

“Baiklah, sebelum kau menuduhku macam-macam, sebaiknya kau pahami satu hal. Aku hanya mau bicara dengannya. Meminta penjelasan. Darinya. Dan bukan darimu…”

“Kau tidak sadar? Kau selalu menjadi bebannya… kau selalu dianggapnya anak kecil…”

“Selamat malam,” sapa Jae Shi singkat.

Ia melangkah ke pintu dan membantingnya. Di balik pintu, kami masih mendengar Ri Na menggedor dengan tidak sabar.  “Kalau kau ingin dia bahagia.. berhentilah mengganggunya…  Kuliahnya sangat baik di sini. Dan keberadaanku sebagai partnernya juga sudah mulai stabil. Jadi, hentikanlah upayamu mengacaukan hidupnya…”

“jangan dengarkan dia…” bisikku, memegang bahu Jae shi dan memaksanya menatapku.

Jae Shi tersenyum dan menggeleng. “Aku tidak ingin mempercayainya…” ujarnya. Kulihat mata itu mengatakan sebaliknya. Sudah terlambat. “Mungkin aku memang terlambat datang kemari…” sesalnya dengan air mata berlinang.

“Jae Shi, dengarkan aku… Kak Dennies pasti tidak akan menyatakan perasaannya kalau ia hanya menganggapmu anak kecil saat itu… Dan…” ucapanku terhenti karena Jae Shi sudah mengangkat tangan kanannya, memintaku diam.

“Aku lelah sekali, Li Zhi… Maafkan aku…”

“Baiklah, istirahatlah…”

Jae Shi tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku.ia menegakkan tubuh dan terlihat tegar, namun, bisa kulihat punggungnya yang terlihat terluka. Dengan segera, kuraih ponselku dan menekan nomor telepon Ji Ro. Sebuah rencana hebat terlintas di otakku. Rencana yang menurutku sangat brilian.



--Park Jae Shi, Bei Jing, Wei’s house, 2009--

Aroma yang sangat kukenal memenuhi ruangan kamarku. Aroma cokelat panas. Aroma yang kurindukan. Aroma Kak Dennies.

Pelan-pelan mataku menjelajahi seluruh ruangan. Di mana aku? Ooh.. ya.. rumah Li Zhi. Astaga, sudah jam berapa sekarang? Dengan tergesa-gesa kusambar handuk yang kujemur dekat jendela, dan siraman  air dingin membangunkan seluruh sel tubuhku.

Tidak perlu waktu lama untuk menyiapkan diri. Selesai menyisir rambut, kukenakan kaos katun nyaman yang kubawa dari Seoul. Dan jaket. Hm… pagi ini udaranya cukup dingin.

Jam weker menunjukkan pukul tujuh pagi. Tidak terlalu terlambat untuk sarapan. Walaupun mungkin, kalau di rumah, Mama atau Kak Dennies akan menegurku kalau bangun lebih dari pukul enam.

Kak Dennies…?

Lagi-lagi perasaan ngilu yang sama merambat memenuhi dadaku. Ia terlalu sering mengambil bagian dalam hidupku. Rasanya sulit mengenyahkan pria itu begitu saja dari hatiku.

“Jae Shi, temui aku lagi. Di sini, besok, jam yang sama. Bisa?”

Aku harus menemuinya. Itu tekadku kemarin. Namun, setelah pembicaraanku dengan Ri Na semalam, rasanya tekad itu hampir seluruhnya memudar. Aku tidak mau datang hanya untuk mengganggunya. Aku datang untuk bicara. Tetapi, fakta sudah di depan mata. Jadi, apa masih ada gunanya?

“Pagi…” sapaku sambil menuruni tangga.

Hening, tidak ada jawaban. Aneh, biasanya Mama atau Papanya Li Zhi akan menjawab salamku dengan ramah. Aroma cokelat itu masih terasa familiar di hidungku. Kupercepat langkahku ke dapur. Hhh…  setelah apa yang terjadi kemarin, rasanya tidur sampai siang adalah hal yang paling menyenangkan sekarang.

“Ng… Permisi…” ujarku ragu sambil melangkah ke bagian dalam dapur. Seseorang masih asyik memasak di ujung dapur. Bau nasi goreng.

“Kalau mencari Li Zhi, dia dan Ji Ro pergi sarapan di luar sekarang ini…” ujar sosok itu sambil menolehkan kepalanya dan tersenyum.

Kupandangi wajahnya dengan linglung. “Mungkin aku masih bermimpi,” ujarku sambil menertawakan diriku sendiri. “Selamat tidur lagi…” tukasku sambil membalikkan badan menuju koridor.

“Hei, masa kau tidak mengenaliku?”

Astaga. Jadi mimpi juga bisa mengajakmu bicara dan membalas ucapanmu sedemikian cepat.

“Tapi aku sedang bermimpi,” tegasku. “Kurasa, aku harus kembali ke kamar dan menemukan tubuhku supaya bisa bangun. Masa aku bermimpi melihat Han Geng di rumah Li Zhi? Bisa-bisa besok aku mimpi melihat TVXQ di rumahku…”

“Baiklah,” cowok itu datang dan menarik tanganku. Hei, tangannya terasa nyata. “Kau tidak bermimpi. Li Zhi memintaku datang menemanimu di sini. Mama dan Papanya sedang ada reuni dengan teman lama, dan ia sendiri kencan dengan Ji Ro. Karena mencemaskanmu, aku setuju datang ke sini…”

“Astaga, astaga…” ujarku, masih merasa linglung. “Kupikir memang mimpi…” cowok itu tersenyum dan menggerakkan jarinya. “Tidak, aku tidak mau dicubit, terima kasih,” jawabku, tertawa.

“Jadi, duduklah dan minum cokelat itu sementara nasi gorengnya matang…”

“Oh, aku pernah nonton Super Junior Full House. Aku memang sangat ingin mencoba nasi goreng itu..”

“Selamat makan, tuan puteri…”

Jantungku nyaris terlompat di tempatnya mendengarkan panggilan Han Geng barusan.

“Astaga, aku salah bicara?”

“Tidak, maaf… Aku yang melantur. Maaf…” kataku gugup.

Dengan gemetar, kuraih cokelat itu, meminumnya untuk menenangkan diriku. Rasa yang sangat kurindukan. Dulu.. setiap pagi… begitu aroma ini tercium, perasaanku melonjak bahagia. Dan sekarang, tidak. Di sini, bukan Kak Dennies. Sudah tidak lagi….

Pyuk. Tetesan air mata tumpah ke dalam gelas cokelatku. Han Geng yang membawakan piring nasi goreng ke meja menatapku kaget. “Kenapa? Ada yang salah?”

“Bukan, maaf…” kututup wajahku dengan tangan. “Teringat banyak hal… Dan rasanya… menyakitkan.. maaf…” ujarku lagi, semakin menggigit bibir untuk menghentikannya, rasa itu semakin dalam mengiris-iris. Isakan pelan-pelan keluar dari bibirku.

“Memalukan…” ujarku, berusaha menahan diri untuk menangis. Tetapi, air mataku malah menjadi-jadi.

“Tidak memalukan…” Han Geng menangkap kedua tanganku. Ia tersenyum dan menatap mataku yang sembab. “AKu bersedia menyediakan tempat untuk menangis…”

“Tidak, aku sudah tidak apa-apa kok.. Cokelat itu… hmm.. kenapa kau membuat cokelat??”

“Kurasa tepat untukmu. Aneh ya? Eh, tapi, tidak cocok dengan nasi goreng… Hahaha…”

“Cokelat itu.. mengingatkan pada seseorang…”

“Lelaki yang kemarin itu?” tanya Han Geng sambil menatap mataku. Ya Tuhan, memang dia sangat tampan. Kenapa baru sekarang menyadarinya?

“Ya, namanya Dennies. Kak Dennies…”

“Dia pasti menyesal melepaskanmu…”

“Tidak mungkin dong, Ri Na itu sangat cantik. Dibanding Ri Na, aku seperti anak-anak…”

“Sekarang sih iya,” sahut cowok itu, tersenyum.

“Dih… apa maksudnya?” gerutuku sambil tersenyum membalas. Setelah itu, kami makan bersama. “Ternyata memang enak. Pantas saja Hee Chul sangat mencintaimu…”

“Hei, hei, hei.. kami ini masih lelaki normal. Diam-diam dia sudah mengalahkanku dan lebih dulu memiliki kekasih…”

“Masa? Hee Chul yang itu? Astaga… aku salah menebaknya kalau begitu. Hmm.. dia kan sangat cantik… pasti banyak fans pria maupun wanita yang kecewa…”

“Apa pacarnya juga artis?”

“Ya, namanya Shin Rae Mi. Seorang model terkenal. Kalau mereka berjalan berdua, seperti melihat lukisan…”

Dan kalau aku berjalan bersama Kak Dennies, kami terlihat seperti kakak adik.

“Kenapa lagi?” tanya Han Geng ramah. “Kau ikut kecewa karena Hee Chul sudah punya pacar?”

“Tidak juga,” ujarku. “Memang aku suka semua anggota Suju. Tapi, aku kan punya anggota favorit juga…”

“Apa aku termasuk di dalamnya?”

Apa aku harus jujur menjawabnya? Jangan. Nanti dia menertawakanku… baiklah, lebih baik kuubah urutannya.

“Shi Won. Han Geng, Ki Bum. Itu favoritku…”

“Aku termasuk?” senyumnya melebar. “Walaupun di urutan dua, aku masuk juga di hatimu… Kenapa kau menyukaiku?”

Kenapa jadi berkesan seperti aku menembaknya?

“Baiklah, aku menonton reality show Love Letter waktu SMA… Ada sesi di mana para gadis yang bermain, sementara para pria pasangannya menunggu di kursi bukan?”

“Oh ya, ada yang seperti itu…” ujar Han Geng, masih menatapku.

“Oke, dan kalau gadisnya berbuat kesalahan, pasangan prianya akan dipukul. Aku ingat, gadis pasanganmu melakukan kesalahan. Kepalamu dipukul, dan walau kaget, kau sama sekali tidak terlihat marah. Sejak saat itu, aku merasa cowok yang tidak marah saat gadisnya berbuat kesalahan sehingga kepanya dipukul itu sangat keren…”

“Cuma karena itu?”

“Cuma karena itu,” tegasku, malu.

“Jae Shi, kurasa…”

“Maaf ya, meninggalkan kalian terlalu lama…” Li Zhi berteriak dari pintu luar segera setelah pintu terbuka. Ia masuk ke dapur dan mengecek dapur serta keadaan kami. “Semua baik-baik saja dan tidak ada yang bertengkar?”

“Ayolah, kami bukan anak kecil…” ujarku sambil tertawa.

“Jae Shi, Han Geng, bagaimana sarapannya?” tanya Ji Ro sambil melangkah masuk membawa bungkusan besar berisi bakpao yang masih panas. “Kalau masih lapar…” candanya.

“Masih,” sahut Han Geng. Ia meraih bakpao panas itu dan menggitnya senang.

“Dengar, aku sudah mempersiapkan empat tiket…” ujar Ji Ro lagi. Ia mengeluarkan empat lembar tiket itu dari kantungnya dan meletakkannya bersama amplopnya.

“Empat?” tanyaku bingung. “Aku dan Li Zhi. Dua?”

“Ri Na dan Kak Dennies. Empat…” sambung Li Zhi sambil meraih bakpao dan menggigitnya.

“Astaga, untuk apa?”

“Untuk menunjukkan pada mereka kalau kau baik-baik saja…” sahut Han Geng dengan senyuman setuju. “Ide yang bagus…”

“Aku tidak setuju. Aku tidak mau memanfaatkanmu…”

“Kau tidak memanfaatkanku. Aku yang mengajukan diri..”

 “Tapi, benar, tidak perlu…” tolakku. “Aku sudah cukup frustasi dengan semua kekonyolan sejak kemarin itu bertemu dengannya di kafe. Dan hal terakhir yang ingin kulakukan adalah melihat mereka berjalan berdua dan dia akan menatapku iba.”

“Karena itulah ada aku di sana…” jawab Han Geng lagi.

“Han Geng… kau tidak bisa ikut campur dalam masalahku…”

“Kau tidak boleh menolaknya, Jae Shi… Dan hari ini, kau akan bicara dengan Kak Dennies bukan? Berikan juga tiket itu padanya…”

Semua mata memandangku. Dengan pasrah, kuanggukan kepala. Bahkan suaraku saat mengucapkan “ya” terdengar sangat asing di telingaku sendiri.


-to be continued-



Tidak ada komentar: