Selasa, 08 Juli 2014

TRY MY LOVE 6

TRY MY LOVE 6

April 2, 2011 at 1:43pm

TRY MY LOVE
Chapter 6
Cast:
Author (Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Dennies Oh
Kim Ri Na
Choi Shi Won
Lee Dong Hae
Henry
Park Dae Jia
Kang Hea In
 Jay Chow as himself

--Wei Li Zhi, Bei Jing, Wei’s house, 2009--

Percakapan dengan tanda * berarti berbahasa mandarin.

Jae Shi masih tampak linglung di tempatnya. “*Kau tidak boleh menolaknya, Jae Shi… Dan hari ini, kau akan bicara dengan Kak Dennies bukan? Berikan juga tiket itu padanya…”

“Ya…” sahutnya, setelah terdiam cukup lama.

Ji Ro langsung menggandeng tanganku ke dapur. Kami berdua memandang Han Geng dan Jae Shi yang saling mengobrol dengan kaku. Walaupun demikian, tampaknya suasana lebih menyenangkan dibandingkan sebelumnya.

“*Akhir-akhir ini kita jadi jarang berduaan…” keluh Ji Ro, menyenderkan kepalanya di bahuku.

“*Maaf ya… hanya saja, aku tidak bisa membiarkan Jae Shi seperti itu… Lagipula, tadi pagi kita berduaan kan?“

“*Kalau bersamamu aku sering lupa waktu..” ujar Ji Ro lagi. Ia memegang tanganku dan memandangku. “*Setelah masalah Jae Shi selesai, kau mau kan, bertemu orang tuaku?”

Masalah ini lagi.

“*Oke, tidak masalah. Asal kau bisa mencari cara agar kabar ini tidak diketahui pers.”

Tahun lalu kami batal menemui orang tua Ji Ro karena pers membuntuti kami kemana pun kami pergi. Akibatnya, Ji Ro sekarang selalu membawa kumis palsu dan kacamata hitam kemana-mana. Rasanya seperti kencan dengan om-om.

“*Tidak apa-apa kan, pacaran denganku?” tanya Ji Ro lagi. Kali ini ia mulai mengulangi kekhawatirannya dulu. Saat kami pacaran, satu dua fans tidak jarang melampiaskan kecemburan padaku dengan bernacan-macam hal. Dan aku sama sekali tidak mau mengingatnya lagi.

“*Kalau saja aku artis, mungkin mereka lebih bisa menerima kenyataan itu. Kau kan sering digosipkan dengan personel SHE. Nyatanya malah memilihku..” kutampilkan senyumanku. “*Aku beruntung bisa bersama denganmu…”

“*Sebenarnya aku yang beruntung mendapatkanmu…”




“Tidak, kau tidak akan berpenampilan seperti itu…” tukasku, menghela nafas. Sebenarnya tidak ada masalah dengan penampilan Jae Shi. Ia mengenakan pencil jeans dan loose shirt pink. Cukup menarik, tapi menurutku, ia harus mengenakan rok.

“Aku tidak mau memakai rok…” ia menggeleng. “Aku tidak cocok memakai rok.”

“Astaga, omong kosong apa itu?” protesku, mengangkat rok yang terdapat di kopernya. Rok mini selutut itu berbahan satin dan berwarna dasar hitam. “Ini akan bagus. Cobalah…”

“Mungkin aku harus mengenakan sepatu bot,” ujarnya, menyerah dan memutar bola matanya pasrah.

“Bot! Benar, kenapa tidak terpikir olehku? Kaki kita seukuran? Kau bisa mengenakan punyaku…”

“Astaga, Li Zhi… Aku kan cuma bercanda…?”

“Tidak. Serius. Kau cocok mengenakannya. Loose shirt pink, mini skirt, sepatu bot. Seperti baru keluar dari majalah mode.” Sambil mengoceh, aku berjalan ke lemari dan mengeluarkan sepatu bot ku. “Pakailah…”

“Aku mau bicara, bukannya kencan dengannya…” keluh Jae Shi lagi.

“Biar dia melihat apa yang sudah hilang darinya. Biarkan dia menyesal…”

“Hah… baiklah, baiklah…” sambil mengomel, Jae Shi mengenakan rok mininya dan sepatu bot milikku. Ia terlihat keren.

Mungkin aku bisa mengenakan pakaian semacam itu untuk ke konsernya Ji Ro, pikirku. “Sudah bawa tiketnya?”

“Sudah,” senyum Jae Shi sambil menarik ritsleting sepatu bot di kakinya. Bahkan ia terlihat cukup kaget memandang sosoknya di cermin. “Hem… ternyata lumayan juga,” gumamnya.

“Akui saja, Jae Shi…” candaku sambil menggodanya. “Kau cocok dengan tipe pakaian begini…”

“Baiklah, terima kasih Li Zhi. Doakan aku sekarang…” ujarnya tertawa. Kemudian, sambil menampakkan mimik serius, ia berkata, “Siap menuju medan perang!!”



--Park Jae Shi, Bei Jing, Café near Raffles Hotel, 2009--

“Jae Shi…” Kak Dennies melambai dari meja yang terletak di timur, tidak jauh dari pintu masuk. Ia menatapku dan tersenyum. “Kau tampak berbeda…”

“Kuharap itu pujian. Jadi, apa yang bisa dijelaskan?” tanyaku sambil menarik nafas. “Mungkin pertama, dari foto ini?” tanyaku, mengeluarkan foto pertunangan mereka.

Kak Dennies berdehem dan memandang foto itu. “Bagaimana kalau kau lebih dulu menjelaskan. Kenapa menghentikan mengirim email padaku? Aku kira kau tidak bisa menungguku…”

Kami berhenti bicara ketika pelayan datang menanyakan pesanan. “Jasmine Green Tea saja,” jawabku.

Kak Dennies mengangkat alis sedikit dan sambil menatapku, ia menyebutkan pesanannya. “Cappuccino…” ternyata ia masih menyukainya.

“Kau tidak minum cokelat panas lagi?” tanyanya.

“Kau yang lebih dulu berhenti mengirimkan email padaku,” tukasku, mengelak dari keharusan menjawab pertanyaannya.

“Aku sudah mengatakan padamu di email terakhirku. Aku berganti alamat email karena kebanyakan tugasku dikirim ke email China-ku. Jadi yang lama tidak pernah kugunakan lagi…”

“Aku tidak pernah menerima email semacam itu. Yang pasti, sampai terakhir pun, aku masih mencoba mengirimkan email ke alamat lamamu.”

Kak Dennies terdiam sebentar, wajahnya tampak bingung. “Oke, jadi ada kesalahpahaman. Dan kemudian, kau pun berhenti mengirim email. Aku tiba-tiba merasa kacau. Saat itulah, Ri Na datang dan menghiburku, lalu…begitulah…”

“Jadi apa maksudnya? Ini salah ku?”

“Tidak ada yang salah,” gumam Kak Dennies. “Sejak awal, hubungan ini terlalu rapuh karena kita hanya bisa terhubung melalui email.”

“Jadi, kalian benar, memang sudah jadian?”

Kak Dennies mengangkat bahunya. “Aku tidak pernah mengucapkan apapun padanya. Kami menjadi dekat secara alami. Dan mungkin, Ri Na menganggapnya demikian.” Ia mengusap rambutnya dengan wajah kacau. “Jadi, pria itu benar pacarmu?”

“Oh, dia?” sambil meminum tehku, wajah Han Geng yang serius terlintas di benakku. “Kau tidak memanfaatkanku. Aku yang mengajukan diri..” Kak Dennies masih menatapku, menunggu jawaban. “Hampir. Masih belum…” jawabku, berusaha menekan perasaan bersalah karena melibatkannya dalam masalahku.

“Lalu, tentang foto itu…” ia berdehem pelan. “Kami tidak pernah benar-benar bertunangan. Karena kau tahu, pernyataan resmi tidak terjadi, bagaimana mungkin kami bisa bertunangan?” tanya Kak Dennies. “Mungkin Ri Na hanya bercanda…”

Bercanda?

“Kurasa tidak demikian,” sahutku. “Mungkin Kakak tidak mengenal Ri Na dengan benar. Yang pasti, ia serius padamu.” Dan ia juga tidak menyukaiku.


“Jadi?” Dengan kecewa, kutatap wajahnya. Ia membalas menatapku sambil tersenyum muram. kurasa kau tidak menyesal mencampakkanku. “Kuharap kau bisa datang ke sini…” ujarku, menyerahkan dua lembar tiket ke hadapannya. “Konser kolaborasi Fahrenheit dan Suju M.”

“Kau akan datang dengan siapa?”

“Yang pasti tidak denganmu…” balasku, merasa terluka. Ketika bangkit dari kursiku, cowok itu menarik tanganku lagi. “Bisakah kau berhenti membuatku jadi tontonan di sini?” protesku, kesal.

“Jae Shi. Aku tidak pernah menanggapmu anak kecil. Aku masih menyukaimu…”

Seperti aku menyukaimu?

“Kau mau denganku, tapi tidak mau melepaskan Ri Na? Aku tahu Kak Dennies selalu begitu. Tidak tega menyakiti hati orang lain. Tapi, apa Kakak tahu? Kak Dennies menyakitiku. Dan kalau begini terus, aku bisa membencimu…” tukasku sambil mengibaskan tanganku, berlari keluar dari café itu.

Sudah kuduga, sejak awal, bukan ide yang bagus untuk bertemu dan bicara dengannya. Ia selalu, selalu, selalu saja menganggapku anak kecil!

Bam!!

Bertabrakan dengan seseorang, aku nyaris jatuh sebelum tangan yang lain menangkapku. “Oh, Henry,” ujarku, tersenyum.

“Kau berbeda,” senyumnya. Ia memarahi pria yang menabrakku dan membantuku berdiri dengan benar. Di sebelahnya, Han Geng membantu mengambilkan tasku dan memberikannya padaku.

“Hai, Jae Shi!!” seru Dae Jia senang. Ia tersenyum pada Shi Won yang berada di sampingnya sebelum berjalan menghampiriku. Demikian pula dengan Hea In dan Dong Hae.

Ia dan Hea In langsung mengerubungiku dengan pertanyaan. “Kemarin katanya Han Geng keluar pagi-pagi hanya untuk menemuimu. Benarkah?”

“Dan kudengar pria tampan kemarin itu…” Hea In langsung menutup mulutnya ketika Kak Dennies datang menghampiriku. “Si dia…” ujarnya melanjutkan sambil menggumam pelan.

“Hai,” ia menyapa Henry dan Han Geng. Sekilas kulihat ia menatap Han Geng dengan tatapan menyelidiki. “Kulihat kau jatuh tadi. Apa tidak apa-apa?”

“Ah, Henry menolongku. Aku tidak apa-apa…”

“Makanya jangan mengenakan sepatu bot seperti itu. Dari dulu kau kan memang suka jatuh…” ujarnya sambil tersenyum cemas dan menatapku atas bawah, memastikan keadaanku baik-baik saja.

“Aku tidak pernah jatuh akhir-akhir ini…” tegasku. Han Geng mengangkat wajahnya dan memandangku curiga. “Dan aku sudah tidak apa-apa, jadi berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil.”

“Aku akan mengantarmu pulang…” ujar Kak Dennies dan Han Geng hampir bersamaan. Henry menatap mereka berdua bingung.

“Tidak apa. Aku bisa pulang sendiri…” ujarku.

“Jae Shi,” Kak Dennies menarik tanganku menuju jalan. Ia sibuk berusaha menyetop taksi. “Dengar, kalau urusanku dan Ri Na beres, bisakah kita memulainya lagi?”

“Kak Dennies…” Bisakah pembicaraan ini dihentikan sementara? Rasanya aku hanya ingin pulang dan tidur.

“Dennies!” Aduh… datang lagi si pembawa masalah, pikirku sambil menghela nafas.

Ketika Kak Dennies berpaling dan menatap Ri Na, Han Geng menarik tangan kiriku dan berkata pada supir taksi. “Maaf, saya yang akan mengantarnya pulang…” ujarnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya.

“Han Geng, tidak perlu,” protesku. “Aku memang akan pulang…”

“Dia akan pulang bersamaku,” potong Kak Dennies sambil menarik tangan kananku. “Pak, tunggu sebentar” ujarnya pada si supir.

“Tidak. Aku membawa mobilku kemari. Jae Shi, tunggulah di sini.”

“Jae Shi, kau ikut denganku kan?” tanya Kak Dennies lagi. Ia menatapku dengan tatapannya yang biasa.

“Aku akan mengantarmu,” ujar Han Geng, menggenggam tanganku lebih erat.

Ya Tuhan. Ya Tuhan… bahkan Shi Won, DongHae, Henry, Dae Jia dan Hea In menatapku bingung. Sampai dimana kekacauan ini akan berlanjut?

“Aku akan pulang sendiri…” tegasku. “Terimakasih tawarannya, Han Geng. Dan Kak Dennies, aku tidak berharap diantar…” jawabku, menenteng tasku dan memasuki taksi.


--Wei Li Zhi, Bei Jing, 2009--


Percakapan dengan tanda * berarti berbahasa mandarin.

“*Lihat! Dia kan, pacarnya Ji Ro Wang?”

“*Benar. Kenapa bisa ya?”

“*Ihh… aku iri sekali padanya…”

“*Pasti dia merayu Ji Ro deh, dasar!” cibir yang satunya.

Sambil menghela nafas panjang, kubuka payung hello kitty yang diberikan Ji Ro pada hari ulang tahunku. Sulit sekali berjalan-jalan dengan santai akhir-akhir ini. Kalau Jae Shi pacaran dengan Han Geng, di Seoul, dia pasti juga akan kesulitan.

“*Aduh!” entah kaki siapa yang menjegalku. Nyaris saja aku terjatuh dengan wajah menghantam jalan, kalau saja punggung orang di depanku tidak kutabrak.

“*Maaf…” gumamku, ketika orang itu berbalik dan memandangku kaget.

“*Li Zhi!?” serunya, terkejut.

“*Siapa ya…?” tanyaku, bingung.

“*Aku, masa kau lupa denganku?” tanyanya sambil tertawa. “*Dan sejak kapan jalanmu jadi tidak hati-hati?” pria itu tertawa dan menepuk pipiku lembut. “*Kalau kukatakan strawberry asam, apa kau mengingatku?”

“*Ah!!! Kak Jay ya? Iya, Kak Jay rupanya!!” seruku gembira. Ia tinggal di sebelah rumahku sejak aku lahir, dan pindah ketika aku menginjak bangku SMP. “*Ihh… wajahmu sudah berubah. Aku tidak mengenalimu…” candaku.

Kami sering diam-diam menyelinap ke pasar pagi untuk membeli buah strawberry. Awalnya, karena tidak bisa memilih strawberry dengan benar, semua yang dibeli oleh Kak Jay rasanya luar biasa masam.

Kemudian, ia belajar cara memilih strawberry yang lebih benar karena perut kami berdua sama-sama sakit hari itu. Biar bagaimanapun, saat ia pindah rumah, aku menangis lama sekali waktu itu.

“*Kau jadi lebih cantik ya, sekarang…” pujinya sambil menatapku gembira.

“*Terima kasih…” sahutku sambil tersenyum tulus.

“*Tapi tidak berubah, masih saja kitty holic…” tawanya. “*Dan mendadak jadi terkenal karena pacaran dengan Ji Ro Wang…”

“*Eh, Kakak tahu juga?”

“*Jelas,” jawabnya. “*Aku sering mengkhawatirkanmu kalau melihat namamu muncul di Koran. Untunglah tidak ada yang aneh di sana…”

“*Memangnya aku wanita penuh skandal,” sindirku sambil menyenggolnya. Kami sama-sama tertawa.

“*Eh, Li Zhi. Kau tahu tidak? Sebenarnya, sejak kecil, aku selalu menyukaimu. Sayang sekali, kau sudah pacaran dengan Ji Ro sekarang…” ia menghela nafas dan menunjukkan ekspresi menyesal.

“*Ah, jangan bercanda dong, Kak Jay…” ujarku. Tetapi, tawaku mereda ketika wajahnya masih terlihat serius.

“*Kalau kukatakan, sampai sekarang, aku masih menyukaimu, bagaimana?”

“*Eh?” tiba-tiba terdengar alarm bahaya di otakku. Bahaya…kenapa aku jadi berdebar-debar?



-to be continued--

Tidak ada komentar: