Selasa, 08 Juli 2014

TRY MY LOVE 3

TRY MY LOVE 3

March 28, 2011 at 4:43pm
TRY MY LOVE
Chapter 3
Cast:
Author(Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Park Dae Jia
Kang Hea In
Choi Shi Won
Dong Hae
Henry Lau, dll

--Wei Li Zhi, Bandara Internasional Capital Beijing (BCIA), 2009—


(dialog dengan tanda * berarti berbahasa mandarin)

--“*Han Geng?” suara Ji Ro dari belakangku membuatku semakin terkejut. “*Astaga, jadi kaulah orangnya…”

“*Eh, kau mengenalnya juga?” kali ini rasa terkejut semakin besar melandaku. Kenapa Ji Ro juga bisa mengenal Han Geng?

“*Begini, manajemenku bilang, ada salah satu anggota boy band Korea bernama Han Geng yang akan memeriahkan acara count down tahun baru bersama Fahrenheit. Aku baru ingat sekarang…” Ji Ro mengulurkan tangannya bersahabat.

Han Geng menyambut tanpa pikir panjang, “*Salam kenal…” sapanya dengan bahasa mandarin yang fasih. Ia pun mengulurkan tangan padaku dan Jae Shi.

“Wei Li Zhi, panggil Li Zhi saja…” ujarku sambil tersenyum.

“Park Jae Shi, panggil aku Jae Shi…” jawab Jae Shi, tampak ragu-ragu sejenak sebelum mengenalkan dirinya.

Untuk memecahkan kekauan suasana, dengan gembira kutarik buku notes kosong dari tasku, menyodorkannya kea rah Han geng. “*Aku minta tandatangan boleh?”

Han Geng tertawa dan menandatangani bukuku tanpa pikir panjang. Kusenggol Jae Shi perlahan, dan senyum Han Geng melebar melihat buku kedua disodorkan ke arahnya.

“*Tidak minta dariku?” goda Ji Ro sambil mengedipkan sebelah matanya.

“*Baiklah, setelah Han Geng,” jawabku, disusul gerakan Ji Ro memonyongkan bibirnya sedikit. “*Bercanda,” ujarku sambil tertawa dan mengamit lengannya.

“Apa kau hanya datang sendirian kemari?” Tanya Jae Shi sambil menatap Han Geng penasaran.

Pria itu tersenyum klasik dan menjawab, “Aku hanya kemari dengan Super Junior M. Berarti, besok kemungkinan yang lainnya akan menyusul. Mereka menyerahkan urusan pencarian tempat tinggal kepadaku.”

“Sebaiknya yang dengan Fahrenheit…” ujar Jae Shi lagi.

Perasaanku semakin membaik. Akhirnya.. akhirnya anak itu mau bicara juga, pikirku gembira. Keadaan semakin baik saja. Mungkin Han Geng bisa membantu Jae Shi.

Ji Ro yang berjalan bersamaku mengangkat kepalanya begitu mendengar nama Fahrenheit disebut oleh Jae Shi. “*Ada apa?”

“*Tentang tempat tinggal,” ujar Jae Shi pelan. “*Han Geng masih mencari tempat tinggal untuk Super Junior M. kupikir, lebih dekat dengan Fahrenheit lebih baik…”

Ji Ro mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman. “*Kami menginap di Raffles Beijing Hotel.” Ia berbisik sambil tertawa ke arahku, “*Karena kudengar tempat tinggalmu tidak jauh dari sana…”


--Park Jae Shi, Raffles Hotel, 2009--

“*Kau tidak menyadarinya?” Tanya Ji Ro sambil meletakkan tubuhnya dan bersandar di sofa yang terdapat di lobi ruang hotel. Warna gading mendominasi dekorasi lobi ini, di tengah ruangan, terdapat lampu Kristal yang cantik dan elegan.

“*Tidak menyadari apa?” tanyaku, menolehkan kepala menatapnya.

“*Aku cemburu berat…” keluhnya, membuatku menahan senyum. “*Kenapa sih pacarku selalu saja gampang berteman dengan orang lain…??”

Kami bersama-sama menatap dua sosok tubuh yang berdiri di dekat meja resepsionis. Han Geng dan Li Zhi tampak mengobrolkan sesuatu dan berulang kali menatap ke arahku dan Ji Ro. Entah apa yang mereka obrolkan. Kuharap bukan aku.

“*Itu salah satu kelebihan Li Zhi, bukan?” jawabku sambil menatap buku tanda tanganku yang sekarang diisi oleh tanda tangan Han Geng. “*Oh, sebelum aku lupa, aku harus minta darimu juga…”

“*Siip…” Ji Ro tertawa dan menggoreskan penanya gembira.

Ia menulis,Tolong jaga Li Zhi untukku. Manis sekali… sejenak, sebuah perasaan aneh berkecamuk di dadaku. Dulu, Kak Dennies juga selalu bersikap manis padaku. Membuatkan sarapan, menyiapkan cokelat panas…

“*Kenapa? Aku berbuat salah?” Tanya Ji Ro, menyadari wajahku kembali muram.

“*Tidak. Emosiku memang sedang agak labil… Maaf ya, aku ke toilet dulu. Ehm.. di mana..”

“*Belok kiri dari sudut sana…”



“Ji Ro juga mencemaskanmu tuh…” ujar Li Zhi  begitu ia menyusulku ke toilet. “*Kita sudah berada di China sekarang.  Ayolah…bergembira dong…”

“Li Zhi, aku boleh menebak? Jangan bilang kau membicarakan masalahku ke Han Geng…”

“Oh, ayolah…” Li Zhi mengeluarkan wajah membujuk. “Tidak seburuk itu. Hanya saja, ia bertanya kenapa sikapmu begitu aneh. Kayaknya kau punya masalah berat…”

“Lalu kau bilang apa saja?”

“Aku tidak bilang aneh-aneh… Tapi, Han Geng benar-benar perhatian ya? Kurasa, dia memang pantas jadi idola…”

“Li Zhi…” Kali ini, sebelum ia mulai melantur kemana-mana, kuputuskan untuk membawanya kembali ke topik semula. “Ji Ro juga khawatir. Dan cemburu…” tukasku, membuat Li Zhi menatapku kaget.

“Oh ya? Kenapa?”

“Karena kau terlihat sangat akrab dengannya…”

“Dia yang sangat ingin tahu tentang dirimu…”

“Dan aku tidak mau terlalu dekat dengan orang asing sekarang ini…”

“Dalam waktu 1x24jam kita akan semakin akrab dengannya. Ia kan akan melakukan konser dengan Fahrenheit. Dan besok, kita bisa bertemu Choi Shi Won, Zhou Mi, dan yang lain. Buku notesku akan penuh…” seru Li Zhi gembira.

“Li Zhi…”

“Oke, baiklah, aku hanya bilang, kau sedang sedih. Dia tanya kenapa, kujawab, ada lelaki bodoh yang tidak melihat betapa berharganya sahabatku…”

“Oke, itu berlebihan…” seruku, merasa malu. “Apa yang akan dia pikirkan tentang aku? Lagipula, mungkin sebenarnya tidak demikian. Kak Dennies mendapatkan Ri Na. dan Ri Na…”

“Lebih cantik, lebih tinggi?” tanya Li Zhi, memotong kalimatku. “Hentikan merendahkan dirimu sendiri. Coba lihat aku, aku sendiri tidak menyangka akan menemukan Ji Ro.”

“Kau sangat manis, Li Zhi…”

“Makasih, tapi bukan itu. Sudah kukatakan, bukan?”

“Semua wanita di dunia ini punya kelebihan masing-masing,” ujarku, memotong kalimatnya. Li Zhi tertawa kecil melihatku bersemangat membalasnya.

“Baiklah, itu Jae Shi yang kukenal. Ayo, kita kembali ke sana!!”

--Park Jae Shi, Wei Family House, 2009--

“Papa, Mama!!” Li Zhi berlari riang dan memeluk Mamanya gembira. “Merindukanku?” tanyanya manja. Mama dan Papanya tertawa dan membalas memeluknya lebih erat.

“Kenalkan, temanku, Park Jae Shi…”

“Ohh… Dia yang kau bilang pertama kali tukaran cokelat valentine denganmu, kan?”

“Kau menceritakannya?” tanyaku sambil menyenggol Li Zhi pelan. Ia tertawa kecil dan mengangguk. “Salam kenal, Om, Tante… Maaf merepotkan… Mungki seminggu ke depan saya akan menumpang di sini…”

“Jangan sungkan, teman Li Zhi berarti teman kami juga…” ujar Mamanya ramah dan menepuk pundakku.

“Kalau sudah beli bahan cokelat, Om juga mau coba cokelatnya…” canda Papanya Li Zhi.

Aku bertatapan dengan Li Zhi sejenak. Dari tatapan sesaat kami, kami sudah bertekad untuk membuat kue bersama di saat Natal. Sekalipun memasak merupakan bagian dari kenanganku bersama Kak Dennies, aku tidak bisa membuangnya dari diriku.

“Ayo kita ke hotel lagi…” ajak Li Zhi gembira. “Pa. Ma, kami jalan-jalan dulu…”

“Mau bertemu Ji Ro, ya?” goda Mamanya dengan senyuman jahil. Li Zhi tersipu malu sambil menggandeng tanganku.

“Keluargamu tidak ada masalah ya, pacaran dengan artis?”

“Oh… mereka bahkan bersemangat sekali, mengerubungi Ji Ro dan menanyakannya bermacam-macam pertanyaan. Meminta tanda tangan anggota Fahrenheit lainnya… “ Li Zhi tertawa geli membayangkan adegan di kepalanya.

“Dan mungkin, kita harus mengundangnya makan bersama juga saat Natal. Kurasa aku bisa membayangkan wajah Ji Ro saat memakan kue buatanmu…”

“Dan kurasa, ada satu orang lagi. Kita harus mengajak Han Geng juga…” ujarnya bersemangat.


--Wei Li zhi, Bei Jing, 2009--

“Selamat datang!!” sapa Fahrenheit sambil menyalami anggota Suju M yang baru datang. Anehnya, Hee Chul yang bukan anggota Suju M ikut datang bersama rombongan itu.

“Ahh.. kangen sekali dengan Geng-ku…”

Ia memeluk Han Geng dan tertawa serta menari bersama cowok itu. Bisa kulihat Jae Shi menatap dua pria itu dengan pandangan aneh. Mungkin dia akan beranggapan cowok itu homo. Gawat nih.

“*Kenalkan, ini pacarku, Li Zhi. Kuharap kalian tidak keberatan aku membawa dia kemari…” ujar Ji Ro sambil menarik bahuku dan merangkulku.

“*Tidak mengapa, kalau begitu, sebenarnya aku juga membawa kekasihku, Dae Jia. Tidak keberatan ia datang kemari? Dan kekasih Dong Hae juga, Hea In”

“*Tentu saja tidak…” jawab Ji Ro. “*Menyenangkan juga melihat acara konser kalian kali ini tidak terlalu ketat diatur oleh manajemen…”

“*Benar,” sahut Hee Chul gembira. “*Kalau tidak, mana mungkin aku bisa ikut?” kalimatnya mengundang tawa para personil lainnya.

Jae Shi memandang biola yang disandang Henry dengan penuh kekaguman. “Kau selalu membawanya?” tanyanya kagum.

“Eh, iya…” Henry mengangguk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal .”Banyak orang mengataiku aneh… biola maniak-lah…”

“Menurutku, pemain biola itu keren sekali…” ujar Jae Shi, setengah menggumam. Henry tersenyum senang mendengarnya.

“Henry,”ujarnya mengulurkan tangan.

“Park Jae Shi, ehm..,Jae Shi saja,” ujarnya, masih ragu.

“Kau bersama pacarmu?” tanya Henry sambil melirik keliling ruangan.

“Tidak, bersama temanku…” jawab Jae Shi kasual.

Kulirik Han Geng yang berdiri tidak jauh dariku. Ia tertawa di samping Hee Chul, namun kelihatannya ia masih mendengarkan kalimat Jae Shi.

“*Salam kenal semuanya, ini pacarku!!” seru Dong Hae sambil menarik Hea In dengan bersemangat. Di sampingnya, Shi Won berjalan memasuki ruangan bersama seorang wanita berambut panjang sepunggung.

“Ini Dae Jia, kenalkan…” Shi Won tersenyum dan memperkenalkan wanita itu kepada seluruh ruangan. “Jadi, bagaimana jadwal acaranya?”

Kurasa aku dan Jae Shi berpandangan dengan pikiran yang sama. Kabar bahwa Choi Shi Won selalu bekerja dengan professional ternyata bukan sekedar isapan jempol.


-to be continued-

Tidak ada komentar: