Senin, 03 Mei 2010

Fanfic The Future and the Past 18

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
EIGHTEENTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
San Tak: Kang Sung Pil (memakai nama asli di FF)
Wolya: Joo Sang Wook (memakai nama asli di FF)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku berada dalam kerumunan prajurit, dan pandanganku lurus tertuju pada satu orang. Seorang pria berbaju hitam. Ia mati-matian menerobos pertahanan mereka yang berkumpul di depanku, mungkin melindungiku.

Seorang pria berteriak. ”Tembak!!” dan pria itu bergerak, meraih tameng manusia, melompat, menghindar, namun dua anak panah tertancap di tubuhnya. Aku tidak bisa melihatnya, terlalu kejam!

Kubuka mataku perlahan, dan kulihat ia masih terus berjuang dan berjuang ke arahku. Kenapa? Kenapa harus begini? Aku ingin memerintahkan mereka semua berhenti menyerangnya, namun bibir dan lidahku seolah terkunci.

Tubuhku berdiri di tempat, menatap setiap tusukan yang meghujam tubuh pria itu. Merasakan kegigihannya untuk mendekatiku. Apa yang sebenarnya mau ia sampaikan padaku?

Dan di sanalah ia, berdiri pada jarak tidak berapa jauh dariku. Matanya memerah, penuh penderitaan. Hentikan... jeritku dalam hati. Hentikan! Hentikan!

Ia menatap seorang pria yang membelakangiku dengan pandangan memohon, namun pria itu menggeleng. Pria itu menatap mataku dan mengulurkan tangannya, lalu sebuah sabetan lagi menusuk tubuhnya, menghabiskan nyawanya.

─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

Aku terbangun dengan tubuh penuh keringat dan air mata bahkan masih mengalir di pipiku.

Kejadian semalam sukses mengangguku, atau lebih tepatnya, menghantuiku. Tidak hanya pikiranku dipenuhi berbagai kecemasan akan keselamatan cowok itu, mimpiku pun dipenuhi berbagai kilasan aneh. Semakin lama semakin nyata.

Pria dalam mimpiku, dalam kilasanku, entah bagaimana aku merasa dia adalah seseorang yang sangat kukenal dan dekat denganku. Dan entah pikiran konyol darimana yang membuatku mengaitkan sosok pria tampan itu dengan Kim Nam Gil.

“Tidak bisa tidur, Yo Won?” tanya Ye Jin sambil melipat selimutnya sementara aku masih terkantuk-kantuk merapikan spreiku.

“Semalam tidurmu pulas sekali, ya?” gerutuku. ”Bahkan ribut-ribut di luar pun tidak dengar…”

“Yaah…” Ye Jin tertawa malu dengan pipi memerah. “Habisnya, aku memimpikan seseorang semalam…” akunya malu.

Ooh... pantas. Pasti ada gempa sekalipun ia tidak mau bangun. ”Siapa?” tanyaku sambil memandangnya. ”Kim Nam Gil?” tanyaku lagi.

Ye Jin menatapku dengan dahi berkerut, kesal. ”Hanya dia yang ada di otakmu ya?” ia mendengus. ”Jelas bukan dia, aku tahu aku tidak boleh menyukainya, kan sudah ada kau...”

”Dasar anak ini...” gerutuku lagi. ”Kapan kubilang kau tidak boleh suka padanya? Memangnya aku melarangmu?” tanyaku sengit.

”Oh, kau memang tidak mengucapkannya, tapi aku bisa menebaknya kok...” jawabnya sepintas lalu. ”Aduh, aku terlambat nih, maaf Yo Won, aku buru-buru...” ia segera berlari keluar secepat mungkin.

”Hei! Ye Jin! Tunggu! Kau kan belum bilang siapa yang kau mimpikan!!” tetapi teriakanku hanya membentur dinding. Ye Jin sudah kabur, jelas-jelas menghindari topik ini.


─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

”Mungkin sebaiknya kita berterimakasih pada gadis itu...” ujar Sung Pil sambil setengah menggumam. Ia membantu merapikan barangku.

Kami akan keluar dari rumah sakit sesegera mungkin. Aku tidak mau lebih lama berada di sini. Semakin lama di sini berarti semakin banyak uang keluarga itu yang kugunakan. Dan sekarang, ketika mereka sudah jelas bukan keluargaku, aku malas menjadi pria yang semakin merepotkan.

”Gadis yang mana?” tanyaku sambil mengambil tas ranselku dari tangannya.

”Itu... gadis yang menonton pertandingan basketmu...”

”Lee Yo Won?” tanyaku, bingung. Untuk apa berterimakasih padanya? Karena sudah menonton pertandinganku? Bukankah itu konyol?

“Karena kemarin kau pingsan di depan rumahnya… dan ia yang memanggilkan ambulans... dan beberapa lukamu juga dibalutnya...” Sung Pil menguraikan panjang lebar dan bersemangat.

“Oh ya? Aku tidak ingat…” jawabku sambil mengetuk kepalaku yang masih diperban. ”Kurasa, ya, nanti saja aku akan berterimakasih...”

Lee Yo Won. Selalu saja ada hal aneh yang memaksaku bertemu dengannya. Dan secara kebetulan, kami selalu ditempatkan pada posisi yang menuntut kami untuk lebih saling mengenal. Hah! Pikiran konyol apa ini?

”Sekarang, kau mau bagaimana., yoo?” tanyanya bingung. ”Kau akan pulang ke rumah?” tanyanya lagi.

”Entahlah,” jawabku sambil mengangkat bahu, bingung. ”Kurasa aku tidak bisa pulang ke rumah itu lagi...”

”Begitu, yoo?” ia menatap lantai, ikut berpikir mengenai kemana arah tujuanku berikutnya.

”Kau akan tinggal di rumahku!!” ujar seseorang tiba-tiba.

Aku memandang ke arah pemilik suara dengan pandangan tidak percaya. ”Kau?! Mana mungkin aku tinggal di rumahmu!!”


─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

“Hei, Yo Won!!” sapa seorang pria padaku. Aku menoleh memandangnya dan tersenyum. Rasanya jarang ia mengajakku bicara.

”Ada apa, Kak Sang Wook?” tanyaku sambil tertawa.

”Kau kenalan Kim Nam Gil, bukan?” tanyanya lagi. Ia mengenakan jersey abu-abu dan menempatkan duduknya di sebelahku.

”Bisa dibilang begitu sih, tapi aku tidak begitu mengenalnya...” jawabku sambil berpikir sebenarnya kami berdua teman atau bukan.

”Kukira kau pacarnya...” candanya sambil tertawa renyah.

Kenapa sih semua orang merasa demikian? Bahkan Mama juga bilang begitu semalam! Hmm... bagaimana keadaannya ya? Apakah ia baik-baik saja?

Melihat perubahan ekspresiku, Kak Sang Wook menghentikan candaannya. ”Ngomong- ngomong, dia jadi kan, mengajar di sini?”

”Oh, aku tidak tahu...” jawabku. Keadaannya makin hari makin parah saja. kemarinnya luka bahu, sekarang di kepala. ”Mungkin jadi, soalnya dia kan sangat antusias menjalani pertandingan dengan Kak Sang Wook hari itu...”

”Oh, ya, dia hebat sekali...” puji Kak Sang Wook sambil berdecak kagum. ”Sebenarnya di pertengahan, aku mau menghentikan pertandingan. Kau tahu kan, darahnya sudah berceceran di lapangan...”

Aku mengangguk dan Kak Sang Wook melanjutkan. ”Tapi, dia tetap bersikeras. Sekali memulai suatu pertandingan, kita harus menyelesaikannya. Begitu katanya... Wah, kurasa dia berjiwa sportif. Saat itu, perasaan negatifku padanya langsung hilang...”

”Perasaan negatif apa?” tanyaku, pura-pura tidak paham.

”Seung Ho... kau tahu kan, dia bilang kalau Nam Gil sengaja datang ke festival untuk menunjukkan kemampuannya, untuk menunjukkan kalau ia bisa lebih hebat dari para pemain inti di sini...” jawab Kak Sang Wook. ”Kalau dengar kalimat itu, rasanya sombong sekali bukan?”

Aku mengangguk. ”Sebenarnya bukan begitu, Seung Ho menawarkan pada Nam Gil kalau ia bisa mengalahkanmu, ia bisa menjadi pelatih basket... Tapi kenyataanya, mungkin Seung Ho sedikit salah menyampaikannya...” ujarku berusaha menengahi.

”Kurasa tidak begitu, Yo Won...” senyum Kak Sang Wook. ”Kurasa ia sengaja menyampaikannya dengan cara demikian...”

”Eh? Kenapa?” tanyaku.

”Kau tahu bagaimana caranya menatapmu? Kalau kau bisa memahami itu, kau bisa memahami apa maksud kalimatku...”

Aku masih termangu memandangnya. Tetapi pria itu dengan cepat berdiri dari duduknya begitu melihat sosok pacarnya. ”Hei, Yoo Jin!!” lambainya. Dan ia bergerak pergi.

”Oh, ya, Yo Won...” ia menoleh sebelum berlari menghampiri kekasihnya. ”Sampaikan salamku pada Kim Nam Gil. Katakan, aku sudah tidak sabar melihat bagaimana caranya melatih klub kami!!”

”Baiklah, akan kusampaikan...” sahutku. ”Tapi kalau ketemu dengannya ya...” tentu saja kalimat terakhir tidak kusebutkan, hanya menyangkut di tenggorokanku.

--to be continued--

Tidak ada komentar: