Kamis, 13 Mei 2010

Fanfic The Future and the Past 29

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TWENTY NINTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
San Tak: Kang Sung Pil (memakai nama asli di FF)
Young Mishil: UEE: Kim Yoo Jin (Mishil legal daughter)
Han Ga In : (memakai nama asli di FF)
Yushin: Uhm Tae Wong, Kim Tae Wong as KNG brother
Lady Man Myeong : Im Ye jin : as Kim Nam Gil and Uhm Tae wong mother
Kim Seo Hyun : Jung Sung Mo: Kim Sung Mo (as Kim Nam Gil and Uhm Tae Wong father)
Juk bang: menggunakan nama ini di FF
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

Aku menatap rumah yang kubenci ini. Tidak kuduga aku harus kembali melangkahkan kaki di sini, di tempat yang kubenci. Walau demikian, aku tidak pernah membayangkan kedatanganku harus dalam situasi semacam ini.

“Silahkan kemari, Tuan muda…” ujar Juk Bang.

Aku tersenyum dan menggeleng, ”Kau mungkin lupa, tapi, aku sudah bukan lagi tuan muda di sini... panggil saja namaku, Kim Nam Gil...”

”Anda selamanya Tuan muda untukku... dan selamanya... untuk satu orang lagi...” gumam Juk Bang sedih. Matanya terlihat menerawang dan membentur lantai. Cepat-cepat disusutnya air mata yang menitik di pipinya. ”Ayo, Tuan muda... Tuan besar sudah menunggu...” ujarnya sambil melangkah tergopoh-gopoh.

”Ya, tunjukkan saja letak kamarnya...” ujarku. Bukannya aku tidak tahu dimana letak kamarnya yang dulu. Hanya saja... bagaimana kalau tanpa keberadaanku, sudah terjadi begitu banyak perubahan di sini? Tetapi ternyata dugaanku salah. Kamarnya tetap di sana, di tempatnya semula.

“Masuklah, Tuan muda...” ujar Juk Bang sambil membuka pintu. Aku mengamati desain interior yang kurindukan sekaligus kubenci. Kenapa aku baru menyadarinya? Desain kamar Papaku ini sangat mirip dengan desain kamarku di rumah Go Hyun Jung.

”Hai,” sapaku pada Kak Tae Wong yang berdiri dekat pintu. Ia memandangku dan menghela nafas, lalu memaksakan senyum. Biasa, aku tidak memanggil wanita itu, hanya bertatapan dengannya. Tapi, aku tahu itu tidak sopan, jadi pada akhirnya, aku menyapanya. ”Selamat sore...”

”Ayo kita keluar, Ma...” ujar Kak Tae Wong setelah melihat wajah Papa mengangguk pelan. Mereka meninggalkan kami berduaan dalam ruangan ini. Aku berjalan mendekati pria yang belasan tahun kuanggap Papa kandungku, pria yang paling kuhormati di rumah ini.

”Hai, Nam Gil..” ia tertawa di sela-sela batuknya yang terdengar menyakitkan. ”Aku senang kau.. datang...” ujarnya sambil tersenyum simpul. Aku mendekat dan memegang tangannya. Ia terlihat sangat rapuh, dan bahkan mengambil nafas pun ia sudah kesulitan.

”Tidak usah memaksakan diri, Pa...” ujarku sambil menggenggam tangannya erat. ”Kata Juk Bang, Papa beberapa hari tidak istirahat memikirkanku... Tidurlah, aku akan emnjaga Papa di sini...”

air mata berurai di sudut matanya, ia mulai menangis tertahan. “Aku.. minta maaf, karena tidak bisa menghentikannya... ” bisiknya lirih. Aku menganggu, merasakan sudut mataku ikut memanas melihat air matanya.

”Kau... putraku, Nam Gil...” ujarnya terisak sambil menggenggam tanganku dengan gemetar.

Aku mengangguk, dan mengangguk. ”Aku tahu, aku tahu itu... Pa... Terimakasih...” air mataku ikut turun di pipiku.


Aku ingat, belasan tahun silam, ulang tahunku yang ke empat...

Papa mengenakan topi bisbolnya dan kemeja kaos kesukaannya. ”Ayo, Nam Gil...” ajaknya sambil tersenyum. Aku menggeliat dan memberontak dari gendongannya. ”Kenapa, Nam Gil!?”

”Papa mau mengajakku ke asrama? Aku tidak mau!!” jeritku putus asa.

Wajahnya berkerut pedih dan kemudian ia tersenyum. ”Bukan, ayo kita jalan-jalan. Asal kau tahu, Papa mana mungkin kehilangan anak Papa yang suka menemani Papa nonton bisbol?” tawanya sambil memakaikan topi bisbolnya di kepalaku.

Hari itu kami banyak makan dan tertawa. Selama menonton bisbol, Papa banyak membelikan popcorn dan minuman kaleng. Makanan yang tidak pernah diberikan Mama padaku. Sesudah itu, kami berkeliling mall sampai puas. Dan bagiku, itu hadiah ulang tahun terindah. Satu-satunya kenangan indah dalam hidupku di rumah itu hanya dengan Papa.


”Kau... ingat... dulu, kita menonton bisbol bersama...” kenang Papa sambil menarik nafas dengan berat. ”Dan aku... membelikanmu sesuatu...” mata tuanya menatapku dengan pandangan kasih.

Aku tersenyum dan mengangguk, lalu merogoh bajuku dan mengeluarkan benda itu. ”Kalung berinisial huruf K. Melambangkan Korean Baseball Organization. Papa membelikannya juga karena nama keluarga kita Kim...”

Ia tertawa kecil di sela-sela batuknya, lagi. Dan kemudian, tangannya yang keriput menyentuh kulitku. “Aku bahkan tidak membelikan benda itu untuk Tae Wong.. ini rahasia kita...” sinar matanya sejenak terlihat jenaka.

“Pa, sudahlah, jangan bicara lagi... kelihatannya Papa sesak nafas. Istirahatlah dulu, akan kupanggilkan dokter...”

”Tidak perlu, Nam Gi...” larang Papa sambil tersenyum. Aku memandangnya dengan ragu., ”Sudahlah, tidak usah cemaskan itu...”

”Tapi, Pa...”

”Aku sudah mengetahui pasti umurku... Dan satu-satunya yang membuatku tidak rela pergi, hanya kau...” suaranya nyaris berupa bisikan, sudut bibirnya bergetar dan air mata kembali menetes di sudut matanya. ”Aku... bersalah pada Papamu... Sadaham... karena tidak bisa menjagamu di rumah ini...”

”Papa kenal dengan Papaku?” tanyaku bingung. ”Oke, akan kudengar nanti, biar kupanggil dokter sekarang...” buru-buru aku bangkit dan secepat itu pula tangannya menahanku.

”Jangan pergi, Nam Gil...” ia mulai terbatuk-batuk dengan suara menyakitkan. Seolah seluruh energinya habis oleh batuknya. ”Waktunya tidak banyak...” ujarnya kehabisan nafas.

Kuambilkan air dan ia meminumnya perlahan. ”Aku... tidak minta kau tidak membenci rumah ini dan isinya... tapi, jangan mendendam... karena itu akan mengahncurkanmu...” matanya menatapku dan terlihat penuh air mata.

”Sudah berapa lama, kita tidak bersama dan mengobrol seperti ini?” tanyanya sambil menggumam. ”Sudah lama...sekali...” tangannya yang dingin menyentuh bahuku dan menepuknya perlahan, air mataku menets begitu saja.

Matanya memandang ke arah jendela terbuka dan tersenyum sambil menarik nafas panjang. ”Cuacanya... indah sekali... Kalau hari ini bisa menonton bisbol bersamamu... pasti sangat menyenangkan....” dan kemudian, tangannya terlepas dari pundakku. ”Kau... putra kebanggaanku... Nam Gil...” bisiknya sebelum matanya tertutup untuk selamanya. Detik itu, nafasnya berhenti begitu saja.

”Pa?” panggilku, menahan sesak di dadaku. Pintu terbuka di belakangku. Aku bisa mendengar jeritan wanita itu, dan tangisan tertahan kak Tae Wong. ”Pa?! Bangunlah, Pa!?” teriakku.

”Tuan muda, hentikan!” Juk Bang meraih dan menahan pundakku dari belakang. Aku menepis tangannya, kembali mengguncang tubuh pria itu. ”Pa! Bangun! Pa! Bukankah kita akan nonton bisbol hari ini!? Pa!! Papa!!”

”Hentikan!! Hentikan Tuan muda!! Hentikan!!” Juk Bang menahan bahuku dengan gemetar dan tangisan. Aku memandang pria tua di depanku dengan pandangan kosong. ”Papa....” tangisku meledak seketika.

”Nam Gil, rahasiakan popcornnya dari Mama, oke..?”

”Papa... aku sangat,..menyanyangimu...” bisikku pedih, tak kuasa menahan derasnya air mataku. ”Kenapa... Papap meninggalkanku...?”


─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

“Putar ke kiri…” ujarku pada supir taksi itu. Ia menurunkanku di kawasan pertokoan mall.

“Ye Jin!!” panggilku. Ia menoleh dan tertawa, di sebelahnya, Dae Chi menubrukku dan tertawa melihat wajah terkejutku.

“Hai, Yo Won!!” aspanya girang. “Sabtu nanti sebelum pulang ke bandara, ayo kita janjian bertiga… aku mau ketemu dengan Kak Tae Wong juga…” serunya bersemangat.

“Oke, tidak masalah…” jawabku sambil tersenyum singkat. “Ye Jin, nanti di rumah Bantu aku membuat tugas ini ya…”

“Oke, tidak masalah… tinggal di translate saja? Kalau begitu, pakai google translate diperbaiki paling hanya sejam dua jam…”

“Ye Jin! Kau memang nomor satu!!” teriakku sambil memeluknya gembira. “Oh, ya, kalian mau kemana?” tanyaku sambil memandang mereka berdua.

”Dae Chi masih mencari oleh-oleh untuk dibawa ke Amerika... apa sih barang khas yang menarik?” tanya Ye Jin bingung.

”Paling enak sih makanan...” senyumku sambil berpikir. ”Bagaimana dengan boneka hanbok? Lucu bukan?”

”Idih, Yo Won...” mereka berdua memandangku dengan tatapan kaget. ”Tidak kusangka Yo Won punya ide feminin begitu!!”

Sedetik kemudian ponsel Ye Jin bergetar. Ia mengangkatnya dan wajahnya memucat seketika. ”Apa? Coba ulangi Kak Seung Hyo, apa aku tidak salah dengar?”

”Kak Seung Hyo?” tanyaku sambil menatap Ye Jin. Ia mengangguk dan menjawab teleponnya lagi, lalu menutup ponselnya dan memandangku.


”Kau tahu, katanya Kak Tae Wong minta ijin tidak masuk untuk melatih karate besok.. Papanya akan dimakamkan... Bukankah ia satu keluarga dengan Kim Nam gil? Ada kabar dari cowok itu?”

Kurasakan perutku mulas saat mendnegar nama pria itu disebut. ”Rasanya aku sama sekali tidak tahu apapun soal itu...” jawabku sekenanya.

”Kita mungkin sebaiknya menjenguk. Kasihan mereka berdua...” gumam Dae Chi sambil berpikir dalam-dalam.

”Ya, aku setuju...” sahut Ye Jin mengangguk. ”Kak Seung Hyo bilang, anak-anak klub karate akan datang menjenguk. Kau ikut saja Yo Won. Ajak Dae Chi juga...”

”Aku tahu itu..” sahutku datar. Bagaimana perasaan cowok itu sekarang? Saat ini, hanya ada masalah itu di otakku.

”Mungkin kita perlu mengatakannya juga ke orangtua kita... Mama kan kenal baik dengan Mamanya Kak Tae Wong...”

Aku memandang Ye Jin dengan gusar. Apakah tidak akan terjadi apa-apa kalau nantinya kabar itu menyebar bagai angin? Waktu itu saja saat pesta reuni, kedatangan keluarga Go Hyun Jung ke tempat itu mengacaukan segalanya. Ketegangan akan semakin parah kalau mereka datang juga ke sana.

Tapi, bukan itu masalah utama di otakku saat ini. Bagaimana keadaan cowok itu? Itu lebih penting. Kenapa aku masih saja mencemaskannya sekalipun hatiku sudah hancur olehnya?


-to be continued-

Tidak ada komentar: