Senin, 03 Mei 2010

Fanfic The Future and the Past 14

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
FOURTEENTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Kim Chun Chu: Yoo Seung Ho (memakai nama asli di FF)
San Tak: Kang Sung Pil (memakai nama asli di FF)
Wolya: Joo Sang Wook (memakai nama asli di FF)
Alcheon: Lee Seung Hyo (memakai nama asli di FF)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

Aku, Kim Nam Gil. Saat ini sedang berada pada posisi yang sangat sulit. Bahuku ngilu karena beberapa kali bertabrakan dengan Sang Wook saat merebut bola, dan karena beberapa gerakan yang memang membutuhkan tunjangan gerakan bahu.

Pandanganku mulai kabur, dan bisa kukatakan ini benar-benar bukan gaya bermainku yang biasa. Lukaku terbuka lagi, bisa kurasakan lengan bajuku yang lengket karena darah. Dan kepalaku mulai pusing. Beberapa tetes darah sudah jatuh di lantai. Permainanku juga semakin kacau.

Wasit menghitung mundur, dan bagiku, itu adalah sebuah ultimatum. Sekuat tenaga kutahan nyeri di bahuku, mengambil ancang-ancang dan posisi, lalu... hup!! Bola berputar dan masuk ke ring.

Rasanya detik itu juga nyawaku hampir terbang. Selama ini aku suka meremehkan lawanku. Tapi kali ini tidak. Joo Sang Wook hebat, dan tidak boleh ada kesalahan sedikitpun. Tidak boleh ada usaha yang terbuang percuma, dan syukurlah, kalkulasi ku tepat. Aku menang. Dengan susah payah.

Aku menatap Sang Wook dan tersenyum. Begitulah laki-laki. Seusai pertandingan, kami adalah teman. Kurasa pertandingan barusan menunjukkan padanya bahwa maksudku bertanding dengannya bukan sekedar untuk pamer kemampuan. Dan pandangan mata kami sudah menunjukkan semua itu.

Aku berjalan ke arah Yo Won dan Sung Pil yang berdiri di sisi lapangan. Sung Pil tampak tidak berhenti tertawa dan menangis, sementara, Yo Won... astaga...kenapa wajahnya kacau begitu?

”Dia menang!!” soraknya senang ke arah Sung Pil. Air mata turun di pipinya sementara wajahnya tersenyum bahagia. Ekspresinya sungguh rumit dikatakan, namun begitulah ia. Dan di sebelahnya, Sung Pil mengusap air matanya dan bersorak. Tak jauh dari mereka. Seung Ho tersenyum masam ke arahku.

”Nah, apakah pendapatmu berubah?” tanyaku pada Seung Ho. Lalu kukeluarkan senyumku, dan wajahnya semakin tertekuk kesal. ”Hei,” ujarku sambil menatap Yo Won. ”Tidak kusangka kau cengeng juga...” kuacak-acak rambutnya sambil tertawa lebar. ”Sudah kukatakan kan? Aku pasti menang...”

”Ya...” jawabnya. ”Ya... syukurlah... syukurlah...” air mata tidak berhenti mengalir dari pipinya. Ia menundukkan kepala, lalu air matanya semakin banyak berjatuhan.

Wanita kadang sulit sekali dimengerti. Kalau seperti ini, rasanya ia benar-benar terlihat cewek. Sangat manis. Dan rapuh. Ya, rapuh.

Tidak kusangka cewek yang membuatku keki setengah mati pada pertemuan pertama kami ternyata memiliki sisi selembut ini dalam dirinya. Tidak kusangka ia akan menangis karena aku.

Sebelum sadar apa yang kupikirkan, tubuhku bergerak mengikuti instingku. Dan tanganku menjangkau kepalanya, menariknya dalam pelukanku. Kemudian, sekelebat ingatan kembali muncul.

Ingatan yang sama dengan yang pernah muncul di benakku dulu. Seorang wanita cantik dalam pakaian kebesarannya. Perasaan aneh muncul bergantian di dadaku. Perasaan kagum dan hormat, juga perasaan rindu yang begitu mencekik. Dan satu perasaan lain yang tidak mampu kudefinisikan. Perasaan yang mendorongku untuk maju memeluknya. Dan ketika tangan wanita cantik itu menyentuh punggungku, membalas pelukanku, aku tersadar.

”Nam Gil? Kenapa?” tanya Sung Pil.

Aku memandangnya tanpa berkata sepatah katapun. Kulepaskan pelukanku. Tangis Yo Won rupanya sudah mereda, dan sekarang, wajahnya memerah luar biasa. Yah, berarti dia bukan tipe cewek gampangan. Rupanya walaupun gayanya terkadang sok dan keras kepala, ia masih begitu polos dan lugu.

”Sudah menghubungi Hee Wong?” tanyaku. ”Ayo, kita jalan ke tempat lain...” ajakku. Orang-orang masih berkerumun di sekitarku. Ada yang tersenyum kagum, ada yang menatapku dengan pandangan aneh. Dan lainnya, entahlah. Rasanya kepalaku terlalu pusing untuk memikirkan mereka.

”Aku tidak tahu nomornya, yoo...” jawabnya dengan panik.

Ia mengambil tissu dan berulang kali mengelap tanganku. Yo Won melakukan hal yang sama. Pelan, kulepaskan tanganku. ”Tidak perlu, biar kuurus sendiri...”

”Sudah lama kau terluka?” tanya gadis itu dengan wajah pucat. Apakah ia tidak bisa melihat darah?

”Tidak juga,” jawabku sambil tersenyum. ”Akhir-akhir ini banyak yang terjadi sehingga lukanya jadi sering terbuka...” jawabku sekenanya.

”Begitu? Ayo, ke kelas sekarang. Akan kuminta Ye Jin mengambilkan peralatan P3K untuk membalut lukamu...”

”Kenapa tidak kau saja?” tanyaku sambil memiringkan kepalaku.

”Eh? Apa maksudmu?”

”Kenapa tidak kau saja yang membalutkan lukaku?” tanyaku lagi.

”Tapi...”

”Kau bisa melakukannya?” ia mengangguk ragu. ”Kalau begitu, ayo. Kau saja. tunjukkan letak ruang UKS-nya!”

─ Lee Yo Won, Seoul, 2008 ─

Aku berusaha untuk tidak menatap tubuhnya yang bagus. Walau beberapa kali mengintip, setidaknya aku berusaha. Dan di sinilah aku, bertiga dengan Sung Pil, berada dalam ruang UKS, mengobati luka di bahu Kim Nam Gil.

Ia hanya mengenakan kaos dalamnya sekarang. Dan mustahil kalau ada orang yang tidak memuji bentuk badannya. Rasanya sangat jengah berada seruangan dengannya. Tapi apa boleh buat, aku harus mengobati lukanya.

“Bersihkan dulu lukamu…” ujarku sambil memberikan alkohol padanya. Aku nyaris meringis melihat luka yang begitu lebar di bahunya. Kenapa bisa ada luka semacam ini?

“Tidak usah berpikir macam-macam,” ujarnya sambil mengulurkan kapas ke arahku,. “Tolong bantu aku membalutnya, itu saja. Dan kemudian, kita akan pergi menonton drama yang kau bilang itu...”

”Ohh. Ya.. baik...” jawabku kacau.

Aku meringis sedikit-sedikit saat kapas alkoholku menyentuh lukanya. Cowok itu tenang seperti patung. Sung Pil yang melihat saja berkali-kali mengaduh di sebelah kami. ”Aduh, yoo... pasti sakit yo...” dan ia membantu meniup luka itu dengan posenya yang lucu. Kulihat Nam Gil terhibur melihat tingkahnya.

”Sakit tidak?” tanyaku untuk kesekian kalinya. Dan ia tetap menggeleng. ”Ada banyak luka yang lebih sakit daripada ini...” tukasnya sambil menatap ke arah langit-langit UKS dengan mata menerawang.

”Contohnya?” tanyaku.

”Luka di sini...” ia menunjuk ke dadanya, lalu diam. Luka? Di hatinya? luka semacam apa? Entah kenapa aku begitu tertarik pada topik itu. tapi kulihat dari wajahnya, tampaknya ia begitu enggan membahasnya. Terpaksa aku diam.

”Anu, Nam Gil, aku mau beli minum dulu yoo... Kau mau minum apa, yoo?” tanyanya menawarkan.

”Kau mau apa?” tanyanya padaku.

”Aku? Eh, tidak usah, terimakasih,” jawabku sambil tersenyum kaku.

”Belikan minuman kaleng dua. Sama denganmu juga boleh,” jawabnya tanpa basa-basi. Sung Pil pergi keluar dengan segera.

”Hei, kenapa sih cowok bernama Seung Ho itu menantangku terus?” tanyanya tiba-tiba. Aku mengangkat wajah dengan kaget, lalu mataku bersirobok dengan tatapoannya yang dalam.

”Ti-tidak tahu…” jawabku, buru-buru memalingkan wajah. ”Biasanya dia tidak begitu…” ujarku lagi.

”Kurasa, ia menyukaimu…” gumam Kim Nam Gil sambil tertawa. ”Khas anak cowok,” ia tertawa kecil dan menatapku. ”Dia cowok yang lumayan…”

”Aku tahu, dia hebat. Tapi, kurasa tidak demikian... Masa ia menyukaiku? Aku kan seniornya...” ucapanku entah kenapa malah terkesan menghindar. Aduh, semoga ia tidak salah paham.

”Tapi, instingku sih...” ucapannya terhenti karena ada ketukan pintu di samping kami. ”ya?” sahut Nam Gil sambil mencondongkan badannya ke arah pintu.

”Hai, Yo Won,” sapa Kak Seung Hyo sambil mengintip ke dalam. ”Tidak mengganggu, bukan?” tanyanya lagi.

”Tentu saja tidak,” jawab Kim Nam Gil cepat. ”Ada orang lain bersamamu?”

”Tidak,” jawab Kak Seung Hyo. ” Tadi tidak sengaja bertemu rombongan teman-temanmu. Dan salah satunya yang suka mengatakan ’yoo’ berkata tiba-tiba ia ada urusan mendadak. Dan ia menitipkan ini...” Kak Seung Hyo menyodorkan tiga kaleng softdrink ke arah kami.

”Thanks...” Nam Gil menerima softdrink yang sudah dibukakan Kak Seung Hyo dan meminumnya pelan. “Yang lain?” tanyanya. Kurasa yang ia maksud adalah Kak Hee Wong, Kak Yong Soo, dan Kak Yoon Hoo.

“Mereka menunggumu di tempat drama....” jawab Kak Seung Hyo sambil mengamati gerakanku saat membalut bahu Kim Nam Gil.

”Luka karena benda tajam, bukan?” tanyanya memastikan. Kim Nam Gil terpaksa mengangguk. ”Kenapa?”

”Sedikit salah paham. Biasa, sering ada pemabuk di jalan...” jawabnya santai. Aku meringis membayangkan perkelahiannya.

”Kudengar dari Seung Ho, kau memamerkan kemampuanmu di tempat basket tadi...” ujar Kak Seung Hyo sambil memainkan tangannya. ”Kurasa berkatmu, suasana di tempat itu jadi ramai. Thanks...”

”Tidak perlu menyindirku...” ujar Kim Nam Gil sebelum aku mengomel karena lagi-lagi Seung Ho bercerita dalam versinya sendiri. ”Seung Ho menawarkan posisi sebagai pelatih basket, dan aku tertarik. Testnya adalah melawan Joo Sang Wook. Dan aku berhasil menang, apa aku boleh menjadi pelatih kalian?”

Kak Seung Hyo tersenyum masam. ”Kau bertanding dengan bahu seperti ini? Benar-benar nekad...”

”Karena itulah kita disebut laki-laki, bukan?” jawabnya sambil tersenyum lebar. ”Ah, thanks..” ucapnya ketika akhirnya aku selesai mengobati dan membalut lukanya. ”Nih, minummu...” ia menyodorkan sekaleng cola dan kuterima dengan senyuman terimakasih.

”Sebetulnya prosedurnya tidak seperti itu. kau seharusnya memberikan surat lamaran ke yayasan dan kemudian kepala sekolah. Lalu test tertulis dan selanjutnya, kau sudah resmi menjadi pelatih kami...”

”Aku tahu itu, aku tidak bodoh...” potong Kim Nam Gil sambil mengambil baju kaosnya dan mengenakannya.

”Kau tahu, tapi masih tetap bertanding?” tanyaku marah. ”Dengan bahu seperti ini?”

”Kau suka sekali mengomel ya?” tanyanya sambil tertawa mengejek. ”Nanti suamimu kabur kalau istrinya tukang ngomel begini...” ejeknya.

”Biar saja...” tukasku kesal. Padahal aku begitu mencemaskannya. Ternyata ia malah tidak mencemaskan dirinya sendiri.

”Sekarang, Yo Won juga marah...” Kak Seung Hyo terkekeh pelan. Melihat tatapan mataku, ia menghentikan tawanya dan berdehem beberapa kali. ”Berikan saja CV-mu padaku, aku akan mengurusnya ke yayasan dan kepala sekolah...”

”Baiklah, berikan alamat email-mu...” ujar Kim Nam Gil langusung. Aku hanya jadi penonton di sana, sementara dua cowok di depanku tahu-tahu sudah bersahabat dan bahkan bertukar email. Dan aku juga tidak tahu kenapa email Kim Nam Gil dapat kuingat dengan jelas, sejelas ingatanku akan makanan yang kumakan tadi pagi.

”Oh ya, Yo Won, aku mau pulang. Rumahmu searah denganku. Mau kuantar? Ye Jin sudah pulang diantar Kak Tae Wong...”

mendengar nama Tae Wong, kurasakan tatapan mata Nam Gil berubah sejenak. ”Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri...” ujarku. Dan kemudian Kak Seung Hyo pergi setelah bicara sebentar dengan Nam Gil.

”Ternyata kau populer juga ya...” gumam cowok itu sambil memandangku dengan tatapan heran.

”Tidak juga. Kau jangan berpikir macam-macam...” seruku kesal. Aku tidak mau memikirkan nama panggilan aneh lain yang akan ia buat untukku.

”Ayo kita nonton drama, dan sesudah itu kuantar pulang. Eh, apa dramanya masih ada?” tanyanya. ”Halo? Hee Wong? Ooh, sudah pulang? Baiklah...” ujarnya bicara di telepon, lalu kembali menatapku. ”Masih?”

Aku melirik arloji dan menggeleng. ”Sudah selesai kira-kira sepuluh menit lalu...”

”Begitu?” ia melihat handphonennya dan bisa kurasakan raut wajahnya mengeras. ”Ayo, kuantar pulang. Tidak baik anak perempuan jalan sendirian...” ujarnya sambil menarik tanganku.

”Eh? Tidak usah. Rumahku dekat...”

”Kuantar. Tidak ada kata tidak. Cepatlah, aku masih ada urusan...” ujarnya kaku. Aku mengikutinya dan naik ke mobilnya. Ia mengantarkanku sampai ke depan rumahku, setelah itu, tanpa sempat aku berterimakasih, ia sudah tancap gas dan melaju pergi.

Hari itu aku mendapatkan sesuatu yang baru. Kim Nam Gil ternyata bukan sekedar cowok aneh. Ia pantas dikagumi, dan aku tahu benar akan hal itu.

--to be continued--

Tidak ada komentar: