Kamis, 13 Mei 2010

Fanfic The Future and the Past 28

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TWENTY EIGHTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
San Tak: Kang Sung Pil (memakai nama asli di FF)
Young Mishil: UEE: Kim Yoo Jin (Mishil legal daughter)
Han Ga In : (memakai nama asli di FF)
fatimah: Kang Sung Fat
shendi: Han Shin Woo
Juk bang: menggunakan nama ini di FF
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

“Pagi,” sapa Kim Nam Gil sambil mengulurkan helmnya kearahku. Kuterima helm itu, namun kakiku tidak bergerak sedikitpun. Apa yang terjadi? Kenapa sikapnya begini dingin? Kenapa harus dia yang…

“Ayo. Sudah hampir terlambat…” ia menarik tanganku.

”Ah, ya! Maaf...” seruku kaget, dan otomatis menepis tangannya. Aku tidak ingin tangannya menyentuhku. Sentuhannya hanya akan semakin melukai hatiku.

”Sampai nanti siang...” ujarnya, terang-terangan mencoba bersifat ramah padaku. Aku mengangguk dengan grogi. Rasanya kacau. Hatiku, kepalaku, semuanya, karena menyukai seseorang, otakku jadi rusak begini.

”Hei! Kau Kim Nam gil, bukan?” seru seorang wanita. Ia tampak cantik dan modis. Roknya selutut dan penampilannya cantik seperti model.

”Han Ga In?” tanya Kim Nam Gil sambil memandang wanita itu dengan wajah kaget sekaligus tidak percaya. Ia tertawa dan menatapnya, lagi. Jelas-jelas melupakan keberadaanku.

”Kaget?” tanyanya sambil tertawa. Wanita itu tersenyum padaku juga, ”Adikmu?” tanyanya pada Kim Nam Gil. ”Oh, aku lupa kau tidak punya adik. Pacarmu, barangkali?”

”Bukan,” jawab cowok itu tegas. Jantungku seperti diiris mendengarnya. ”Dia... seperti seorang junior, begitulah...” sambungnya lagi.

”Oh ya, tapi dia manis sekali, bukan?” senyum wanita itu lagi. ”Ngomong-ngomong, apa pendapatmu tentangku?” tanyanya sambil berputar pelan dan tertawa malu.

”Cantik, seperti biasa...” puji cowok itu dengan tulusnya. ”Dan apa kepentinganmu di sini?”

Bohong kalau aku tidak mengakui rasa cemburuku. Saat ini yang ada di otakku hanya dua pertanyaan. Apa tipe wanita seperti ini yang ia sukai? Apa mereka pacaran?

”Kau sendiri?”

”Aku... menjadi pelatih basket di sini. Untuk sementara...”

Sampai detik ini, aku masih penasaran dengan alasan kesementaraan itu. Mengapa? Apa ada hubungannya dengan sikap dinginnya padaku?

“Luar biasa!” wanita itu menepukkan tangannya dengan gembira sekaligus terkejut. “Seperti takdir, bukan? Aku juga sedang mengambil penjurusan sebagai tenaga pengajar... Dan sekolah ini akan menjadi tempatku berlatih. Yah, semacam magang sementara...”

”Ya,” cowok itu tertawa dan membenarkan. “Seperti takdir…” lanjutnya.

Cukup! Cukup! Baru saja kukira pertemuanku dengannya bagaikan takdir. Sebuah pertemuan aneh dan berulang kali kilasan itu... Tapi kini, ia mengatakan takdir. Dengan perempuan itu? Rasanya dadaku mau pecah mendengarnya!

”Aku... permisi dulu...” ujarku sambil berusaha tersenyum sopan pada mereka.

”Hati-hati...” teriak wanita itu sambil melambai padaku. Setengah berlari, kutinggalkan mereka berdua. Selama ada wanita itu, Kim Nam Gil bahkan tidak pernah menatapku. Apakah ia merasa lelah dengan kewajibannya untuk menjagaku?


─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

Benar.
Memang begini seharusnya.

Sejak awal, kau tidak boleh berdekatan denganku, terlibat urusanku, dan lainnya. Sekalipun kau membenciku dan menganggapku brengsek, aku akan tetap menjauhimu. Bencilah aku, kalau dengan begitu, kau akan mampu menjaga jarak dariku...

”Kalau kau memang peduli padanya.. kenapa kau sedari tadi mendiamkannya?” tanya Han Ga In sambil tersenyum misterius ke arahku.

Aku tersenyum kikuk saat memandangnya. ”Kau selalu saja berusaha menebak perasaan orang lai. Kau salah, kali ini...” elakku, mengalihkan pandanganku dari lorong sekolah ke arahnya.

”Dari tadi sosoknya sudah menghilang. Dan kau masih memandangnya pergi? Kukira kalian pacaran...”

”Sudahlah, Ga In...” potongku tidak sabar. ”Kau tahu bagaimana sifatku kan? Aku tidak tertarik dengan hubungan merepotkan semacam itu...”

”Tapi kau sangat bertanggung jawab pada siapapun yang punya hubungan baik denganmu... Dan sejak dulu,. Sifat itu yang paling kusukai darimu...” senyumnya.

”Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu itu?” tanyaku, berusaha mengingat nama kekasihnya, tapi gagal.

”Kami sudah putus. Ia menduakanku…” Ga In menghela nafas panjang dan merentangkan tangannya lebar-lebar. ”Kurasa, karena itu Tuhan membawaku ke sini, mempertemukanku denganmu...”

”Jangan mencoba menggodaku...” tawaku sambil berjalan di sampingnya, memasukkan tangan ke sakuku. ”Kalau boleh, aku ingin minta tolong padamu...”

”Silahkan,” jawabnya. ”Kalau memang aku bisa membantu... kenapa tidak?”

”Baiklah, begini...”


─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

“Seharian ini, kenapa kau tidak mengomel sama sekali?” tanya Shin Woo sambil memandangku dalam-dalam. “Beberapa waktu lalu, kalau Yoo Jin datang meminjam pe-ermu, kau selalu menolak dan mengomel. Kali ini tidak. Bukan, maksudku, seharian ini ekspresimu seperti patung…”

“Tidak juga,” ujarku sambil memasukkan buku-bukuku sembarangan ke arah tas. Pulang sekolah artinya Kim nam Gil akan mengantarku pulang. Aku tidak boleh membuatnya menunggu dan kesal.

“Yo Won? Kau sama sekali tidak mendnegarku?” tanya Shin Woo dengan kening berkerut.

”Tidak, maaf. Ada apa tadi?” tanyaku sambil memandangnya.

”Kau jangan lupa membawa makalah biologi besok, ya....” pesannya. ”Yuk, aku duluan. Mau mengembalikan buku ke perpustakaan...” ujarnya sambil menenteng dua buah buku dan berjalan cepat menyusuri koridor.

Astaga...makalah? Makalah? Apa itu? Dengan gugup kubuka tasku dan kuambil notes kecil tempatku menulis semua jadwal pentingku. Biologi... biologi... kutelusuri catatan itu dengan jariku. Astaga! Tugas membuat makalah bilogi! Dan temanya! Mati aku! Aku lupa! Sama sekali lupa! Semua ini karena...

”Ooh, Yo Won, kau bodoh sekali...” keluhku sambil mengacak-acak rambutku. ”Kau terlalu kacau akhir-akhir ini...”

”Apanya yang kacau?” tanya sebuah suara. Aku menoleh dan hanya mampu tersenyum grogi. ”Hanya... masalah pribadi...”

”Yoo Jin kemarin bergadang semalaman untuk menyelesaikan makalahnya. Apa milikmu sudah selesai?” tanyanya tertawa, memamerkan gigi putihnya.

”Belum...” gumamku.

”Apa?” ia menatapku tidak percaya. ”Kau tidak bercanda kan?” tanyanya kaget.

Sudut mataku terasa panas. ”Sudahlah! Tidak usah khawatirkan aku! Paling juga nilai biologi semester ini merah! Itu bukan urusanmu!!” lebih baik kau urus saja wanita cantik itu! tapi tentu saja, kalimat terakhir tertahan di tenggorokanku.

”Jangan konyol,” ujarnya sambil menatapku pelan. Ia terdiam lama sebelum kahirnya menarik nafas dan berkata, ”Ayo, ikut aku...”



Aku tidak tahu kenapa ia malah membawaku ke rumahnya. ”Kita... mau kemana?” tanyaku, berusaha berhati-hati dengan ucapanku.

Ia tetap diam, dan dari caranya berjalan, aku tahu ia mau aku mengikutinya. Jadi, kuikuti semua langkahnya. Memasuki rumah, menaiki selasar tangga, dan masuk ke kamarnya.

Rasanya bermimpi melihat kamarnya saja tidak pernah. Ruangan itu membuatku terpaku. Bukan karena suasananya yang rapi dan bersih, tetapi karena dari kamar itu, aku bisa membayangkannya. Bagaimana keseharian Kim Nam Gil di sini. Bangun tidur, apakah ia menatap keluar jendela dulu?

“Gunakan saja ini...” ia meletakkan sebuah map ke tanganku. Mataku meneliti judul map itu dan membuka halaman demi halaman. Ini sebuah makalah! Tentang sistem pencernaan manusia. Luar biasa, bahannya sangat lengkap sekalipun berasal dari bahasa inggris.

”Ini flash discnya...” ia menyerahkan sebuah flash disc hitam ke tanganku. ”Kau copy paste dari sana, memang masih bahasa inggris, tapi kau bisa menggunakan google translate menerjemahkan dan memperbaikinya sedikit demi sedikit...”

”Ya, ya, ya!!” seruku senang. ”Terimakasih!!” aku maju dan memeluknya saking bahagianya. Sejenak cowok itu kehilangan kata-kata. Dan kemudian, tangannya mengelus kepalaku, sangat lembut.

”Punya adik perempuan, rasanya pasti begini...”

Hatiku luar biasa terluka mendengar kalimatnya. Adik perempuan? Jadi itu anggapannya padaku?


─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

Tidak sulit menebak perasaan Lee Yo Won. Kata-kataku barusan begitu mengena, dan jelas, ekspresinya begitu terluka. Rasanya aku bisa memahami apa arti kata ’brengsek’. Dan rasanya makian itu pantas untukku.

”Ayo, sudah saatnya kau pulang meneruskan pekerjaan makalahmu...”

”Ya, kau benar...” gumamnya sambil menuduk dan memandang map di tangannya, lalu mendekapnya erat. ”Terimakasih...”

”Kak? Apa kau sudah pulang?” teriak seseorang dari bawah. ”Kang Sung Pil dan adiknya datang menemuimu...”

”Kalau begitu, aku pulang sendiri...” cetus Yo Won lalu berlari menerobos pintu dan keluar dengan segera dari gerbang rumahku.

Dari jauh, bisa kudengar teriakan bingung Yoo Jin saat melihatnya pulang begitu saja. ”Loh Yo Won? Kau bisa di sini? Hei, kenapa? Yo Won!!”

”Akan kukejar dia, kau tunggu aku dulu, Sung Pil...” ujarku sambil memandang Sung Pil dan Sung Fat yang mengawasi kami dengan bingung.

”Oke yoo... akan kutunggu...” ujarnya kikuk. ”Boleh duduk dulu yoo?” tanyanya pada Yoo Jin.

Yoo Jin tertawa kecil sebelum mengiyakan. Tawanya semakin meledak saat melihat Sung Fat yang mengatakan. ”Aduh, kakak ini...” sambil mencubit lengan Sung Pil gemas.

”Hei!” aku berusaha memanggil gadis itu. namun langkahnya semakin cepat setelah mendegar suaraku. Ia berlari dan otomatis kupercepat lariku untuk bisa menyusulnya.

”Sudah kukatakan bukan? Aku akan mengantarmu...”

”Aku bukan anak kecil,” ujar Lee Yo Won tajam. ”Dan aku bukan adikmu, bukan siapa-siapamu. Memar di wajahku sudah mulai sembuh. Jadi, Kim Nam Gil, silahkan tinggalkan aku sekarang...”

”Senang kalau kau tidak membutuhkanku lagi...” ujarku, berusaha bersikap setenang mungkin. Apakah ia membenciku? Ya, ia membenciku. Tidak pernah kuduga rasanya akan sesakit ini.

”Benar, bagus kalau kau senang. Sekarang, pulanglah. Aku bisa pulang sendiri...”

”Kau ingin berjalan pulang?” tanyaku, memandangnya lagi. Kustop taksi, dan kubayar biaya taksi itu di muka. ”Antarkan nona ini sampai ke tempat tujuannya...”

”Besok, kau tidak usah mengantar-jemputku lagi...” sahutnya sambil menutup pintu. ”Uangmu akan kukembalikan lewat Yoo Jin...”

”Bukan masalah. Dan, Yo Won…” aku bingung kenapa tanganku otomatis menarik tangannya. ”Kapanpun darurat, kau boleh meneleponku…”

Ekspresi wajahnya menegang, ia terdiam sebelum akhirnya sebuah senyuman pahit membekas di wajahnya. “Tidak perlu,” dan ia menutup pintu tepat di depan wajahku. Selintas kulihat air mata menetes di pipinya.

Aku ingin menarik pundaknya, memastikan kalau ia tidak menangis. Tapi, aku tahu pasti satu hal. Aku tidak ingin melihat ia menangis. Aku tahu, air matanya akan menggoyahkan tekadku untuk menjauh darinya.

Benci aku, bencilah aku, Lee Yo Won. Pastikan kau tidak berada dalam bahaya denganku.

Handphone di sakuku bergetar. Peneleponnya adalah nomor yang kubenci. Namun, tetap saja aku mengangkatnya. “Ya?”

“Kabar buruk, Tuan muda...” ujar Jukbang dengan nada mendesak. ”Anda harus ke rumah sekarang juga!!”

”Ada apa, Jukbang?” tanyaku, merasa lega setelah mengetahui bukan salah satu dari mereka yang kubenci yang meneleponku.

”Tuan....dia...”

Nyaris handphoneku jatuh dari genggamanku detik itu juga. Suaraku terdengar parau saat membalas, ”Ya, kuusahakan datang sesegera mungkin...”



--to be continued--

Tidak ada komentar: