Selasa, 08 Juli 2014

TRY MY LOVE 10

TRY MY LOVE 10

April 23, 2011 at 5:28pm

TRY MY LOVE
Chapter 10
Cast:
Author (Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Dennies Oh
Kim Ri Na

(dialog dengan tanda * berarti berbahasa mandarin)

--Park Jae Shi, Raffles Hotel, 2010—

“Saat aku mengatakan perasaanku… Apa kau menatapku sebagai idola? Atau… sebagai lelaki??”

Kutatap wajah Han Geng yang terlihat serius menatapku. “Idola…” jawabku. Sejenak, wajah pria itu mengkeruh, tampak sakit hati. Astaga, apa yang kukatakan padanya?

“Ma-maksudku… aku melihatmu sebagai lelaki, tapi, kenyataan bahwa kau adalah seorang idola.. Itu tidak bisa hilang dari otakku…” cowok itu masih terdiam, menatapku, membuatku merasa tidak nyaman. “Maaf…” ujarku.

“Masih fifty fifty?” tanyanya. Dan ia menghela nafas sambil memakan mienya. “Besok, kau pulang, kan?”

“Ya…” sahutku. Han Geng tidak berkomentar lagi. Kami melanjutkan makan dalam diam. Sambil memakan mie-ku, bisa kurasakan tatapan matanya masih melekat ke arahku, debaran yang sama kembali menggangguku.



--Park Jae Shi, Wei’s house, 2010—

“Tidak usah mengantar sebenarnya…” ujarku sambil tersenyum. “Kalau kau terlalu baik padaku…” kubiarkan kalimatku menggantung di udara. Tidak mungkin kukatakan aku bisa semakin menyukainya.

“Justru itu yang kuharapkan!” tegasnya sambil membalas ucapanku. “Aku mau membuatmu semakin menyukaiku…” cowok itu, entah bagaimana berhasil menebak jalan pikiranku.

Jangan katakan itu lagi. “A-aku… mau ke dalam dulu, terima kasih ya…” ujarku, berlari meninggalkannya. Han Geng terlalu terkenal untukku. Dan aku? Aku hanya mengharapkan kisah cintaku yang biasa saja. Semenjak ia hadir dalam hidupku, semuanya berubah.

“Li Zhi?” panggilku.

Mereka tidak ada ruang tamu. Ruangan sepi dan kosong. “Jae Shi,” panggil Han Geng. sejak kapan ia di sampingku?  “Ada sms dari Ji Ro. Katanya, nyalakan televisi, channel 8…”

“Oh, baiklah…” kuraih remote televisi dan duduk di sofa. Han Geng mengambil tempat di sebelahku.

“*Pemirsa… selamat sore. Berikut ini breaking news terbaru, langsung dari lokasi.”

“Kalau aku tidak bisa memahaminya, tolong artikan untukku ya…” ujarku memohon. Aku paling anti sama siaran berita.

Han Geng tersenyum mengiyakan, tampak senang karena kuputuskan untuk mengandalkannya. Di sana, di layar televisi, tampak dua sosok yang sangat kukenal, judul headlinenya kalau diartikan kira-kira PENGUMUMAN RESMI KONFIRMASI HUBUNGAN.

Wanita pembawa berita mulai berceloteh panjang lebar dengan cepat. Kamera menyorot Li Zhi dan Ji Ro yang bergandengan tangan dan tersenyum satu sama lain sebelum akhirnya meraih mic dan bicara.

“*Saya sudah memutuskan untuk tidak lagi menutupi hubungan ini. Mungkin fans dan pers sudah tahu siapa gadis di sebelah saya. Namun, mulai hari ini, saya ingin meresmikan hubungan saya. Dengan Li Zhi, gadis yang saya cintai…”

Ji Ro meraih tangan Li Zhi untuk mengecupnya. “*Saya sudah bertunangan dengannya, atas persetujuan orang tua kami…” Mereka memamerkan cincin yang ada di jemari mereka. Sangat indah. “*Dan sesudah Li Zhi lulus kuliah, saya akan menikah dengannya…”

“*Li Zhi… aku mencintaimu…” ujar Ji Ro. Ia mendekatkan wajahnya ke Li Zhi, lalu menciumnya di depan umum. Sangat romantis.

“Mereka sangat hebat… Berani sekali…” komentarku sambil menahan nafas.

“Pembawa acara itu bilang, kemungkinan ada respon negatif dari para fans, tetapi sebagian besar juga mendoakan kebahagiaan mereka…”

“Syukurlah… Memang seharusnya begini…” sahutku sambil menyenderkan kepalaku ke sofa.

“Demi kebahagiaan kekasihku, akan kulakukan hal yang sama…” ujar Han Geng sambil menatapku tajam. Kupalingkan wajahku ke kiri, mencoba menghilangkan rasa panas di pipiku.

“Aku… mau kirim sms dulu ke Li Zhi…” ujarku. Di layar, mereka berdua masih menjawab pertanyaan dari para fans dan reporter yang hadir membanjiri tempat itu.

“Jae Shi…” Han Geng mengurungku dalam tangannya. Sekejap otakku mengingat adegan ciuman Si Won dan Dae Jia. Jantungku berdebar keras. “Maaf, aku menakutimu?” tanyanya, melepaskan kurungannya.

“Ma-maaf… aku yang…” mungkinkah reaksiku berlebihan? “Maaf…”

“Aku pulang dulu…”

“Hati-hati…” ujarku.

Tidak boleh, tidak bisa. Debaran ini, menggangguku. Sementara punggung Han Geng yang mengendarai motornya semakin menjauh, perasaanku semakin kacau balau.

Tiap kali berdekatan dengannya, jantungku berdebar begitu cepatnya, seakan ingin meledak. Dan sementara itu, Han Geng tampak biasa-biasa saja. Tidak sepadan. Perasaan kami… tidak akan sepadan…



--Wei  Li Zhi, Wei’s House, 2010--

“Jae Shi, aku pulang…” ujarku, melongokkan kepala dan tersenyum ketika Jae shi menyambutku dalam pelukan. “Aku sudah menerima sms mu tadi… Maaf, belum  sempat membalasnya…”

“Tidak apa-apa. Syukurlah! Syukurlah!” ia tertawa dan memelukku lagi. “Akhirnya Li zhi akan bahagia selamanya dengan Ji Ro!” serunya bangga.

Kami duduk di atas ranjang, menyenderkan kepala, dan masih mengobrol. “Terima kasih ya, kata Ji Ro, kau yang meyakinkannya untuk membahagiakanku…”

“Itu bukan apa-apa… Kurasa, ia memang masih menyukaimu…”

“Dan bagaimana dengan Han Geng? Mengingat Ji Ro mengirim sms padanya, kurasa tadi kalian berduaan. Apa yang terjadi?”

Jae Shi menutup wajahnya dengan tangan. “Ia mengatakan kalau ia menyukaiku… Apa yang harus kujawab?”

“Lagi?”

“Sebetulnya, Cuma bertanya, apa aku menganggapnya lelaki, atau idola…”

Membaca ekspresi Jae Shi, dengan heran aku menggeleng. “Jangan bilang kalau kau mengatakan idola padanya… Itu kan menyakitkan banget, Jae shi…”

“Aku tahu…” ia menutup wajahnya lagi. “Waktu kukatakan padanya kalau aku menganggapnya lelaki tapi masih mengingat kenyataan kalau ia idola… perasaanku masih sama bersalahnya…”

Kutatap wajah sahabatku yang entah kenapa gemar sekali membohongi perasaannya sendiri. “Kau takut. Iya kan? Apalagi melihat hubunganku dengan Ji Ro. Melihat fansnya.”

“Sudahlah, besok kita pulang. Dan dengan demikian, cinta sementara Han Geng juga akan menghilang…”

“Astaga, kau benar, besok kita pulang…” kutepuk kepalaku karena baru mengingatnya. “Eits, tapi belum tentu itu cinta sementara…”

“Kau sudah beres-beres untuk pulang besok?” tanya Jae shi sambil mengernyit bingung.

Kutepuk kepalaku lagi, ”Pantas saja tadi Ji Ro memaksaku menggelar acara konferensi pers hari ini juga. Entah kenapa otakku buntu karena masalah kami kemarin. Pantas saja tadi dia menyuruhku langsung tidur setelah beres-beres. Kupikir beres-beres apa. Aduhh… payah sekali diriku…”

Jae Shi tertawa kecil di sebelahku. Sambil tertawa, kulempar bantal kecil ke arahnya. Ia membalas dan kami sama-sama tertawa sampai puas. Liburan beberapa hari di Bei Jing kali ini sungguh bagaikan mimpi yang panjang.

Begitu Jae Shi tertidur, kuambil ponselku. Seperti biasa, ide hebat selalu muncul belakangan.



--Wei  Li Zhi, Bandara Internasional Capital Beijing (BCIA), 2010--

Akhirnya, kembali lagi ke tempat ini. Begitulah yang disebut kehidupan, kadang kala, kau berputar-putar hanya untuk kembali ke tempat yang sama.

Wajah Jae shi masih tampak muram. “Masih ada kesempatan kalau mau meneleponnya..” ujarku, menggenggam tangannya.

“Aku tidak mau merepotkan… Biar bagaimana pun, kehidupan kami kan terlalu berbeda…” cetusnya.

“Ih… keras kepala…” gerutuku. Kutatap Ji Ro yang berdiri di sampingku, memandangku penuh makna. “*Ayo dong, bantuin bujuk Jae shi…”

“*Han Geng benar menyukaimu, bukan simpati kok Jae Shi…” ujar Ji Ro pelan.

Jae Shi tersenyum dan menunduk. “*Aku tahu itu…” ia menghela nafas pelan. “Tapi sudah terlambat…”

“Belum!” seruku sambil mengambil ponsel yang digenggam Jae shi. “Ayo. Telepon dia! Untuk apa kau memasang foto kalian berdua kalau kau tidak menyukainya? Apa perasaanmu memang Cuma sedangkal itu?”

Jae Shi menggeleng, air mata berjatuhan di pelupuk matanya. “Aku… menyukainya…” ujarnya. Akhirnya! Sorakku dalam hati.

“Telepon dia!” seruku lagi. Sementara itu, pengumuman untuk para penumpang memasuki ruang tunggu sudah berkumandang di seantero bandara.

Tangan Jae Shi memencet tombol ponselnya dengan gemetar. Dengan gugup, aku menunggu.

“Geng?” tanya Jae Shi. Tangannya bergerak menghapus air matanya. “Aku Cuma mau bilang kalau aku… selama ini.. tidak jujur pada diriku sendiri… karena aku takut. Kau terkenal, superstar. Sedangkan aku hanya gadis biasa saja. Dan aku.. tidak berani mempercayai perasaanmu… Maaf ya… Aku… menyukaimu…”

“Yes!” aku dan Ji Ro menepukkan tangan kami dan kemudian melakukan tos karena senang.

“Eh? Apa?” Jae Shi menatap bingung pada layar ponselnya. “Kenapa dia bilang aku tidak boleh kemana-mana?”

“Entahlah,” jawabku sambil tersenyum penuh arti. Sementara itu, senyumku dan Ji Ro semakin melebar. Terutama ketika akhirnya Han Geng memeluk Jae Shi dari belakang. Bisa dibayangkan, betapa terkejutnya wajah Jae Shi.

“Aku sudah menunggu lama…” ujar Han Geng, tersenyum, dan menyenderkan kepalanya di bahu Jae Shi. Jae Shi menatap pria itu kaget, lalu ganti menatapku. Kemudian matanya menatapku seolah ia memahami bahwa ini salah satu rencanaku. Kejutan!!!

“Ayo. Kuantar ke ruang tunggu….” Ji Ro menarik tanganku lembut.

“Jae shi. Tenang saja. Aku jamin kau aman pulang bersama Han Geng. kutunggu ceritanya di Korea ya…” seruku sambil melambai dan pergi.

Tampaknya Jae shi tidak bisa menjawabku karena Han Geng masih memeluknya erat. Wajah mereka mendekat, dan kurasa, aku bisa membayangkan kelanjutannya.

“Tunggu!” sahutku, menarik lengan baju Ji Ro untuk memperlambat langkahnya.

Ji Ro mengambil posisi di sebelahku, sementara kupicingkan mataku untuk mempertajam penglihatanku. Di depan kami, seorang wanita tampak memakai kemeja putih dan jeans hitam ketat. Ia tampak modis seperti biasanya.

“Kenapa bisa ada Ri Na di sini?” bisikku bingung. Kenapa ia juga memasuki ruang tunggu ke Korea? Kenapa ia pulang? Bukankah seharusnya kuliahnya di China belum selesai? “Kuharap wanita itu tidak membuat masalah aneh lagi…”

“Cobalah berpikir lebih positif. Mungkin dia hanya libur sejenak…” Ji Ro tersenyum, mencoba menenangkanku.

“Ya,mungkin begitu…” Maksudku, semoga saja begitu.



-to be continued-

TRY MY LOVE 9

TRY MY LOVE 9

April 16, 2011 at 11:54am
TRY MY LOVE
Chapter 9
Cast:
Author (Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Jay Chow as himself
Park Dae Jia
Choi Si Won
dll

(dialog dengan tanda * berarti berbahasa mandarin)

--Han Geng, Bei Jing, Raffles Hotel, 2010--

“Aku ingin bertemu denganmu…” ujarku.

Gadis di seberang terdengar ragu, sebelum akhirnya ia meminta maaf. “Aku… sedang tidak bisa. Maaf ya, Li Zhi sedang ada masalah, dan aku hanya tidak mau meninggalkannya…” ujarnya sopan.

“Bukan untuk menghindariku, kan?” tanyaku lagi.

Jae Shi terdiam sebentar. Bisa kubayangkan ia tersenyum malu saat menjawabku. “Aku juga belum bisa menjawab…” akunya.

Ia jujur. Sikap yang tidak dibuat-buat saat bersamaku. Dan itu, salah satu sikapnya yang membuatku menyukainya. “Kapan aku bisa menemuimu?” tanyaku lagi. Ia tidak kunjung menjawab sampai kutambahkan, “Setelah masalah Li Zhi selesai?”

“Ya,” sahutnya setuju. “Kalau masalah Li Zhi selesai…”

“Hei!!” Si Won duduk dan melempar bantal ke arahku. “Kau senyam-senyum sendirian… Telepon siapa sih?” tanyanya sambil tertawa dan merebut ponsel dari tanganku.

“Ooi!!”

“Oh.. gadis itu lagi…” ia tersenyum jenaka dan mengembalikan ponselku.

“Jangan bicara begitu. Kau perlu melihat ekspresimu sendiri kalau bicara dengan Dae Jia…” balasku, berusaha membela diri. Si Won hanya mengibaskan tangannya sambil tertawa meninggalkanku.

“Aku akan membeli makanan. Kalian mau pesan apa?” tanyaku, bangkit dan mengambil dompetku.

Hee Chul datang sambil nyengir lebar, “Bakpau. Daging. Nyam-nyam…” Syukurlah aku mengerti kalau nyam-nyam artinya dua buah. Temanku memang aneh.

“Mie!!” seru Henry sambil tersenyum, disusul anggukan setuju yang lainnya. “Plus susu untukku,” ujar Dong Hae serius.

“Perlu kubantu?” tawar Si Won saat mengantarku ke pintu.

“Tidak perlu. Aku tahu pacarmu sudah menunggu waktu jalan-jalan bersamamu…” Dan aku tidak mau Dae Jia protes padaku karena merebut kesempatan itu.




--Han Geng, Bei Jing, 2010--


Jalanan masih terasa dingin di pagi hari. Setelah membeli bakpao, kakiku melangkah ke pertokoan tempat Mie kesukaan Henry dijual. Di sana, di sudut jalan, aku melihat dia!

“Jae Shi!” panggilku. Beberapa gadis lain menoleh memandangku, tetapi tampaknya ia tidak mendengarku. Ia masuk ke sebuah toko dan menemui seseorang di sana.

“*Pak, mienya mau berapa bungkus?” tanya penjual itu.

Otakku tidak sanggup berpikir, sambil menyebut angka asalan-asalan, kutambahkan,”*Nanti saya ambil pesanannya…” seruku sambil mengejar gadis itu.

Ternyata ia menemui Ji Ro.

Kutarik topi di kepalaku sampai menutupi separuh wajahku, dan kuambil posisi duduk tepat di belakangnya, berhadapan punggung dengan Jae Shi. Mereka bicara dengan serius.

“*Kenapa kau memutuskan Li Zhi?” tanya Jae Shi. “*Setahuku hubungan kalian tidak ada masalah apapun…”

“*Aku tidak peka selama ini. Bahwa ternyata hubungan kami berat sebelah…” jawab Ji Ro.

“*Bagaimana bisa berat sebelah? Kalian kan saling menyukai? Itu lebih dari cukup, bukan?”

Kurasa Jae Shi memang tipikal gadis yang romantis. Rasanya aku mengerti mengapa ia begitu mempercayai pria bernama Dennies itu dulu. Karena ia merasa perasaan cinta itu lebih dari cukup untuk saling percaya.

“*Aku tidak bisa melihatnya menderita karena aku. Bersamaku, dia selalu tampak bahagia. Aku takut, ia memaksakan diri tertawa di depanku…”

Jae Shi terdiam.

“*Pesan apa Pak?” tanya pelayan di depanku sambil tersenyum.

Sialan, jangan sampai suaraku ketahuan. “*Teh,” ujarku sambil memencet hidungku sedikit. Pelayan itu tersenyum menggoda sambil mengiyakan dengan bingung. Terserahlah mau anggap aku aneh juga boleh.

“*Apa kau tahu… soal para fans yang menyakiti Li Zhi?” tanya Jae Shi setelah terdiam lama. “*Benar?”

“*Kau tahu soal itu?” balas Ji Ro tidak percaya.

“*Ji Ro… Li Zhi tidak mengatakannya, bukan karena ia memaksakan diri. Tetapi supaya kau tidak cemas. Kenapa? Karena ia ingin mempertahankanmu. Ia menyukaimu. Dan rasa sukanya lebih besar daripada rasa takutnya menghadapi para fansmu…”

“*Tapi, aku tidak bisa berdiam diri kalau ia disiksa…”

“*Sebenarnya, kalau boleh tahu, siapa yang mempengaruhimu begini?”

“*Kau tidak perlu tahu itu,” sahut Ji Ro. Lalu ia segera mengubah nada bicaranya,”*Maaf… maksudku bukan begitu…”

“*Tidak apa kok… Hanya saja, aku bingung karena kalian berdua sama-sama tidak saling jujur. Begini, bagaimana kalau kau datang ke rumah Li Zhi? Kau tahu, kalau ia menderita, ia akan semakin menderita kalau kau tidak di sampingnya…”

“*Jadi… maksudmu…”

“*Maksudku adalah, justru kalau kau memutuskannya begini, semua perjuangan Li Zhi untuk mempertahankan hubungan kalian akan sia-sia. Kau menyukainya? Justru di saat takut, kau harus menggenggam tangannya…”

“*Aku paham!” terdengar suara Ji Ro yang bahagia. Ia bangkit dan memeluk Jae Shi. “Terima kasih banyak!” serunya senang.

“*Tuan? Mau bayar sekarang?” tanya pelayan itu.

“*Oh ya,” ujarku. Ketika kulihat uangku, ternyata bentuknya sudah lecek karena kugenggam kuat-kuat. “*Maaf…” senyumku.

“*Loh? Han Geng?” tanya Ji Ro, mengintip dari balik badan Jae Shi saat melihatku tersenyum grogi ke arahnya. Teh yang kuminum terasa asing di lidahku.





“*Kau tidak mengikutiku kan?” tanya Jae Shi sambil menatapku curiga.

“*Tidak, hanya kebetulan merasa haus kok..” sahutku, mencoba tertawa. Sialan, rasanya kaku sekali.

“*Dan tidak sengaja mengambil tempat di belakang kami…” tambah Ji Ro, membuat Jae Shi menatapku curiga.

“*Baiklah, aku sedang membeli mie, saat kulihat kau di sana. Aku memanggil dan kau tidak mendengar, jadi kuputuskan datang. Kulihat kau bersama Ji Ro, jadi… aku tidak mau mengganggu.

“*Kalau begitu, aku pergi dulu ya…” ujar Ji Ro tiba-tiba. Ia terlihat jauh lebih baik daripada kemarin malam.

“*Kau harus membahagiakan Li Zhi ya…” ujar Jae Shi sambil melambaikan tangan. Ia lantas menatapku. “Maaf, aku tidak dengar kau memanggilku tadi…”

“Tidak apa-apa kok…” jawabku sambil tersenyum.

“Jadi?” Jae Shi menatapku dari atas sampai ke bawah. “Mana mienya?”

“Astaga…” dengan kesal kutepuk kepalaku. Hanya plastik bakpao yang ada di tanganku. “Aku melupakannya. Semoga paman itu tidak marah…” keluhku sambil mendengar tawa Jae Shi saat ia menemaniku ke tempatku membeli mie.

“*Sudah jadi, Pak?” tanyaku ragu. Berapa angka yang kusebutkan tadi? Astaga… itu saja aku lupa. Kalau aku beli kurang… Dan aku juga belum beli susu yang dipesan Dong Hae.

“*Ya, sepuluh bungkus sudah jadi…” sahut Bapak itu senang. Tampaknya aku pembeli terbanyak pagi ini.

“Memangnya berapa member Suju M yang makan mie?” tanya Jae Shi sambil mengamati wajahku yang terlihat kacau. “Itu bakpao siapa?” ia membantuku membeli susu kotak dari mesin penjual minuman.

“Hee Chul…”

“Oh… berarti semua Suju M makan mie. Ada 9 dong?” tanya Jae shi lagi..

“Mungkin simba mau makan bersama pacarnya?” keluhku. Tapi, Dae Jia mungkin sudah membawa Si Won makan entah dimana. Berarti jadi dua bungkus sisa. “Tidak. Si Won mungkin sudah makan sama Dae Jia. Tidak mungkin menyuruhnya makan lagi…”

Mungkinkah ini kesempatan? Pikirku.  Mungkin….

“Jae Shi, kau sudah makan?” tanyaku germbira.

“Mhm.. belum,” sahut gadis itu. Ia tertawa dan mengangguk setuju. “Baiklah, ayo kita makan mie!!” tukasnya bersemangat.

Aku menatapnya dan tersenyum senang.

“Hei, jangan lihat begitu…” Jae Shi buru-buru memalingkan wajahnya. “Aku tahu, aku jelek kalau tertawa…”

“Kata siapa?” tanyaku, tersenyum. Kami berjalan memasuki lobi hotel dan kemudian mulai menaiki lift. “Aku suka melihatmu tertawa. Artinya, kau senang bersamaku…”

“Gombal,” olok Jae Shi sambil tertawa malu.

Kami sampai di lantaiyang dibooking super Junior M. Di beranda, aku melihat Zhou Mi dan Hee Chul, jadi kami membagikan makanan kepada mereka.

Ketika tiba di depan kamar, Dae Jia dan Si Won tanpa malu-malu saling menciumi dengan nafsu. Dae Jia bersandar ke dinding dan tangan Si Won mengurungnya. Mereka tertawa dan  kemudian melepaskan diri malu saat melihat kami datang.

“Sori… mereka memang sering begitu…”

“Image Si Won jadi agak berbeda ya….” Tukas Jae Shi sambil mengibaskan tangan seolah udara terasa panas. Pipinya memerah malu. Menggemaskan.

Sejenak otakku kembali mengingat. “Oh ya, member nomor satu kesukaanmu kan Si Won. Jangan-jangan kau cemburu tadi…” ujarku, merasa garing dengan nada suaraku sendiri. Mungkin, akulah yang sekarang cemburu.

“Buatku Si Won adalah idola. Aku tidak cemburu. Menurutku dia sangat cocok dengan Dae Jia. Justru hebat kalau Dae Jia bisa menemukan sosok lain dari seorang Choi Si Won..”

“Begitu?” dalam hati aku cukup menyetujui pendapatnya. Kalau seorang pria bisa bersikap lain, itu hanya untuk gadis yang disukainya, memang benar.

“Selamat makan teman-teman…” ujarku sambil membuka pintu.

Sung Min berselonjor di sofa dan menunjukkan wajah menderita. “Kau lama sekali… Aku pikir aku akan pingsan….” Gerutunya sambil bangkit dan mengambil makanan bagiannya.

“Susu?” tanya Dong Hae. Ia tersenyum sekilas pada Jae Shi, “pagi,” sapanya. Dan mengedipkan mata jahil ke arahku. “Thanks…” ujarnya, setelah mengambil sekotak susu dan sebungkus mie miliknya.

“Hai,” sapa Henry sambil tersenyum.

“Kalian pacaran dan melupakan makananku…”gumam Eun Hyuk. Ia tersenyum pada ponselnya dan berbisik. “Aku makan dulu ya, Shin Woo sayang…” ujarnya. Ia lantas mematikan ponselnya dan beranjak mengambil makan paginya.

“Ayo kita makan di balkon…” kami berjalan ke balkon yang terletak di sayap timur hotel.

Jae Shi tersenyum senang sambil menatap pemandangan Bei Jing. “Aku suka sekali pemandangan dari ketinggian…” ia memotret pemandangan itu dan tersenyum. “Karena kau mengajakku, aku bisa memotret pemandangan sebagus ini… Thanks ya…”

“Apa aku boleh memotretmu?”

Jae Shi menggeleng dan menggeleng. “Tidak deh… aku gak suka difoto. Soalnya ngga fotogenik…” tolaknya halus.

Kenapa ia tidak bisa melihat apa yang dilihat olehku?

“Ayo kita foto bersama kalau begitu…” ujarku. Aku mendekatkan wajahku dan memotret kami berdua dengan background pemandangan Bei Jing. Jae Shi tersenyum malu melihat foto itu. “Kirimkan padaku…” pintanya.

“Nah, ayo kita makan!!” seruku sambil tersenyum dan mendorong kursi untuknya. Kami duduk dan dengan tenang menatap

Sambil mengamati gadis itu memakan mienya pelan, sebuah pertanyaan mendesak keluar dari dadaku. “Kau menatap Si Won sebagai idola, kan? Bagaimana denganku?”

“Apa maksudnya?” tanya gadis itu bingung.

“Saat aku mengatakan perasaanku…” ujarku, merasakan suaraku terdengar kering. “Apa kau menatapku sebagai idola? Atau… sebagai lelaki??”

--to be continued--

TRY MY LOVE 8

TRY MY LOVE 8

April 5, 2011 at 1:31pm


TRY MY LOVE
Chapter 8
Cast:
Author (Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Dennies Oh
Kim Ri Na
 Jay Chow as himself

--Park Jae Shi, Bei Jing Exhibition Centre, 2009—

“Kau lagi…” desis Kak Dennies, marah.

“Ya, memang inilah aku…” jawab Han Geng, tidak mau kalah.

“Apa maumu sebenarnya?” geram Kak Dennies sambil menarik bahuku ke arahnya. Han Geng menahan tanganku, membuatku tidak bergeming dari tempatku.

“Kau yang tidak benar dalam memposisikan dirimu sendiri…” tuding Han Geng santai. “Dan malam ini, aku tidak mau kau merusaknya…” ia menatap Kak Dennies sampai pria itu melepaskan tangannya dari bahuku.

“Ada apa ini?” tanya Li Zhi. Di sampingnya ada Kak Jay.

“Aku mau bicara berdua dulu dengannya…” ujar Han Geng, membawaku ke back stage.  Begitu kami hanya berduaan, ia duduk di salah satu box dekorasi dan berujar, “Aaahh… rencanaku jadi kacau…” keluhnya sambil menggosok kepala dengan kesal.

“Maaf ya…”

“Bukan salahmu. Aku kesal melihatnya plin-plan dari awal. Dan tentu saja, awalnya aku hanya membantu. Tadinya aku hanya ingin bertemu denganmu sebelum pulang ke Korea. Aku ingin memastikan kita bisa bertemu lagi… Jadi, tadinya aku ingin minta nomor teleponmu…”

Dalam hati aku menertawakan Li Zhi yang dengan lugunya mengatakan kalau Han Geng menyukaiku. Lihat! Bukankah dia hanya bermaksud membantuku? Dan hanya bermaksud tukaran nomor telepon? Dasar Li Zhi…

Han Geng tertawa sambil mengeluarkan kartu namanya. “Tukaran?” katanya.

Aku tertawa dan menerima kartu itu. “Aku tidak punya kartu nama…” jawabku.

“Lalu? Apa jaminan kau akan meneleponku lagi?” tanyanya.

Astaga. Mendapatkan perlakuan special dari Han Geng yang merupakan superstar? Memimpikannya saja tidak pernah.

“Hem… akan kutuliskan…” sambil berkata demikian, tanganku meraih pena dan notes yang kusediakan untuk acara tanda tangan. Hampir penuh dengan tanda tangan artis. Begitu nomorku kuberikan, Han Geng dengan gembira menyimpannya di saku.

“Awalnya. Aku penasaran kenapa kau sama sekali tidak menaruh minat padaku…” ia tersenyum kecil, membuat dadaku berdesir halus. “Dan sekarang, kurasa berbeda. Perasaanku berbeda…” gumamnya.

Jelas, aku masih mampu mendengar gumamannya. Entah ia bermaksud serius atau tidak… yang jelas, debaran ini mulai menggangguku.

“Hei, Jae Shi. Han Geng!” sapa Henry. Ia tersenyum dan menghampiri kami. “Pria itu masih menunggu di luar…”

“Ooh… begitu?” aduh… apa yang harus kulakukan?

“Dia pacarmu?” tanya Henry bingung. “Kalian terlihat sangat dekat…”

“Eh? Tidak. Maksudku, dulu ya. Tapi, sekarang tidak…” jawabku, mulai salah tingkah.

“Kalau begitu, kau sedang kosong dong?” tanya Henry lagi. Ia tersenyum menggoda, membuatku semakin salah tingkah.

“Henry. Jangan bicara sembarangan dan menggodanya. Kau tidak lihat ya, aku sedang mengutarakan perasaanku ketika kau tiba-tiba datang dan mengganggu?” tukas Han Geng sambil menjitak kepala Henry pelan.

“Eh.. oh.. maksudku…” Han Geng tergagap malu saat menyadari tatapanku berubah kaget menatapnya. Henry juga ikut menatapnya dengan mulut menganga. “Mmm.. mungkin memang terlalu tiba-tiba…”

“Han Geng? Kau menyukainya?” ujar Henry. Mungkin ia bermaksud berbisik, tetapi entah mengapa suaranya terdengar ‘terlalu jelas’.

“Jae Shi… bisa kujelaskan…” Han Geng berulang kali berdehem malu. “Baiklah, aku menyukaimu…” akunya malu. Ia menatap Henry sekilas dan mengatakan,”Gara-gara kau, suasananya jadi berantakan…”

“Maukah… kau menjadi pacarku?”

“Eh… aku.. belum bisa menjawabnya. Maaf…”

“Tidak apa, aku bisa menunggu…” sahut Han Geng. Ia tersenyum, namun senyumannya membuatku merasa tidak nyaman.

“Aku… mau bicara dengannya…” ujarku, kalut. Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Ji Ro. Wajahnya sama kusutnya denganku.

“Ji Ro? Kenapa?”

“Tidak ada apa-apa…” ia tersenyum kaku saat menatapku. “Maaf, aku mungkin tidak bisa mengantar…”

“Oh? Ya, baiklah…” sahutku sambil menatapnya bingung. Ada apa? Aku yang kelewat sensitive atau bagaimana?

“Kak Dennies…” pria itu membalikkan badannya dan menatapku senang. “Aku mau bicara… di luar…” tegasku.

Kami duduk di kursi dekat taman. Pria itu masih pria yang sama dengan yang dulu. Senyumannya, tatapannya. Akulah yang berubah.

“Aku tidak mau hubungan kita berlanjut tanpa kejelasan begini… Mungkin, memang lebih baik kita mengakhirinya…” ujarku.

Kak Dennies menatapku, membuatku merasa bersalah. Membuatku merasa jadi cewek kejam yang memutuskannya. “Kau yakin? Apa kau membenciku?”

“Justru karena aku tidak mau membencimu…” ungkapku. “Awalnya aku ragu, kenapa aku bisa datang kemari? Masalah semakin rumit, namun, di satu sisi, aku lega karena hubungan kita menjadi jelas sekarang…”

“Jae Shi…” ia meletakkan tangannya di pipiku.

“Aku… bukan Jae Shi yang dulu. Yang akan menangis keras kalau Kak Dennies tidak ada di sampingku. Aku tidak mau begitu. Cinta seharusnya tidak membuat seseorang rapuh, tetapi kuat. Dan aku… aku juga mendoakan kebahagiaan Kakak…”

“Kenapa?” suaranya terdengar parau.

“Karena dia? Karena Han Geng…?”

“Bukan. Bukan juga karena Kakak. Atau karena Ri Na. Akulah yang bermasalah. Akhir-akhir ini masalahku membuat semuanya repot, dan aku tidak suka itu. Aku juga tidak mau mengganggu Li Zhi dan Ji Ro, atau siapapun dengan masalahku. Karena itu, kita hentikan sampai di sini. Ya?”

“Kau akan pulang?” tanya Kak Dennies lagi. Kali ini, begitu melihatku mengangguk, ia tersenyum. Tulus. “Aku akan mengantarmu…”

“Tidak perlu… Aku bisa pulang sendiri kok.. Ada Li Zhi yang pulang bersamaku…”

Ia bangkit dan merentangkan tangannya. “Terakhir kali… sebagai teman?” tawarnya. Sambil tersenyum, perlahan, aku masuk dalam pelukannya. Pelukan yang kurindukan. Tanpa kusadari, setitik air mata menetes di pipiku.

“Aku akan merindukanmu… Jae Shi, sampai sekarang pun, aku masih sangat menyayangimu…”

“Aku juga menyayangi Kak Dennies… Karena itu, kurasa ini yang terbaik…”

“Ya, yang terbaik…” senyumnya menyetujui. “Sampai jumpa…” ia melambaikan tangan dan berjalan pergi menembus kegelapan malam.

Kuhela nafas yang terasa sesak di dadaku. Segala yang terjadi dalam satu minggu terakhir ini terasa seperti mimpi panjang. Di atas, nyala warna-warni kembang api membuyarkan kegelapan langit. Setetes air mata meluncur lagi di pipiku. Berakhir sudah cinta pertamaku…



“Jae Shi!” panggil Li Zhi begitu kakiku melangkah masuk ke kerumunan. Kebetulan, aku memang mencarinya.

“Akhirnya aku menemukanmu!” seruku sambil tersenyum. Masalahku dengan Kak Dennies sudah selesai. Rasanya luar biasa melegakan.

“Aku… ada masalah… aku ingin pulang sekarang…” ujarnya terbata-bata.

“Astaga. Ada apa Li Zhi? Bukannya konser Ji Ro belum selesai?”

“Maaf, aku mungkin tidak bisa mengantar…”

Aku terdiam saat teringat ucapan Ji Ro. Saat itu, senyumannya terlihat muram. Apakah terjadi sesuatu di antara mereka?

“Baiklah, ayo kita pulang…” ajakku sambil menggandeng tangannya.

Li Zhi duduk diam di dalam taksi. Ia terus menyenderkan kepalanya tanpa bicara apapun. Aku tidak berani bertanya apapun. Perasaanku mengatakan, ia bisa menangis kapanpun.

“Bagaimana… ini…” gumamnya terputus-putus. Kutolehkan kepalaku menatapnya. Matanya terlihat berkaca-kaca tertimpa cahaya lampu jalanan. “Bagaimana… ini?” ulangnya, putus asa.

“Apa yang terjadi?” tanyaku, akhirnya.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menghela nafas dan kemudian—sesuai tebakanku—meledak dalam tangisan. “Aku putus dengan Ji Ro!!”

“Apa?!”

Ji Ro? Putus dengan Li Zhi? Rasanya itu hal yang paling tidak mungkin terjadi di dunia ini.  Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?! Bukankah hubungan mereka baik-baik saja?



--Wei Li Zhi, Bei Jing, Wei’s House, 2010--

Jae Shi membuatkan secangkir teh hangat dan menyalakan televisi. Acara malam ini dipenuhi dengan gambar kembang api di mana-mana.

Di tempat Ji Ro juga seharusnya ada kembang api. Memikirkan itu, dadaku kembali terasa sesak. Kuangkat tanganku menutupi mataku, mengelapnya sebelum air mata itu sempat jatuh.

“Kau boleh cerita nanti…” ujar Jae Shi sambil mengambil tempat dan duduk di sebelahku.

Aku menatapnya sekilas. Aku tahu jelas sifat Jae Shi.ia pasti akan bertanya “mengapa”. Tapi, bagaimana aku bisa menjawabnya? Aku sendiri tidak tahu jelas, apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku… masih menunggumu di belakang panggung… Tidak… lama.. setelah Kak Jay pulang…” ujarku, mencoba mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. “Kemudian… tidak lama, aku melihat Ji Ro…”

Jae Shi menggenggam tanganku pelan, mencoba menenangkanku yang sudah mulai terisak-isak.

“Lalu… ia bilang mau bicara… dan kemudian… tiba-tiba ia bilang putus…”

“Apa alasannya?”

“Entahlah…” gumamku, merasa kacau. Kubenamkan wajahku di bantal sofa. “Rasanya aku tidak benar-benar mengerti apa yang ia katakan… Suaranya… terasa jauh…”

“Kalau begitu… kau perlu mencoba bicara dengannya…”

“Ji Ro…” pelan, aku bisa mengingat suara yang terasa dingin dan kelam itu.

Aku tidak bisa membuatmu bahagia…

“Ji Ro mengatakan ia tidak bisa membuatku bahagia… Aku.. aku tidak mengerti…”

“Aku juga,” jawab Jae Shi sambil mengernyitkan dahi. “Bukankah kau bahagia bersamanya?”

“Ya…” anggukku. “Maaf… aku pasti membuatmu bingung…”

“Tidak, aku tidak apa-apa…” jawab Jae Shi. Senyumnya terasa menenangkan.

“Kudengar Han Geng sudah mengatakan perasaannya…” ujarku lagi. Jae Shi terdiam lalu mengangguk ragu. “Tidak apa, tidak usah khawatirkan aku… kau dan Han Geng sangat cocok. Kalian pasti bisa bahagia…”

“Entahlah…” jawab Jae Shi. Melihat ekspresiku, ia buru-buru menambahkan. “Akan kupikirkan…” sambungnya.

Tapi, aku tahu jelas sifat Jae Shi. Masalahku membuatnya ragu. Ragu tentang perasaannya pada Han Geng, ragu tentang masa depan mereka. Sebenarnya, apa yang terjadi antara aku dan Ji Ro?


-to be continued-

TRY MY LOVE 7

TRY MY LOVE 7

April 4, 2011 at 4:32pm


TRY MY LOVE
Chapter 7
Cast:
Author (Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Dennies Oh
Kim Ri Na
 Jay Chow as himself


--Wei Li Zhi, Bei Jing, 2009—

Percakapan dengan tanda * berarti berbahasa mandarin.

“*Kalau kukatakan, sampai sekarang, aku masih menyukaimu, bagaimana?”

“*Eh?”

“*Li Zhi?” Kak Jay memiringkan kepala dan menatapku. “Kau dengar, kan?”

“*Maaf… aku.. aku lapar…” tukasku, mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku tidak siap dengan serangan tiba-tiba semacam ini.

“*Baiklah, ayo kita makan saja…” ujar Kak Jay sambil tersenyum sabar.

Ia menarik tanganku, persis ketika kami masih kecil dan bertetangga dulu. Apakah tidak apa-apa, aku digandeng cowok selain Ji Ro? Karena Kak Jay hanya seperti kakak bagiku, mungkin tidak apa-apa.

“*Pesan apa?” tanyanya, memberikan buku menu padaku.

“*Eh, aku…” mataku tertuju kea rah lain. Di luar restoran, ada dua sosok yang sedang bertengkar. Kak Dennies dan Ri Na. sepertinya nafsu makanku sudah menguap. “*Aku.. tidak jadi makan…”

“*Eh? Kenapa?”

“*Aku mau kesana sebentar. Maaf, Kak…” sambil mengambil tasku, aku bangkit dan berjalan kelura. Setibanya di luar restoran, aku berusaha berjarak sedekat mungkin dengan dua orang itu dengan memposisikan diriku di tiang yang berada dekat mereka.

“Sudah kubilang, dari kemarin, kita harus bicara…” ujar Kak Dennies. Suaranya terdengar kesal.

“Dan sudah kujawab juga, tidak ada yang kusembunyikan, jadi tidak perlu seserius itu…” balas Ri Na.

“Jae Shi bilang dia tidak pernah menerima email dariku berisi pemberitahuan tentang pindahnya alamat emailku. Aku waktu itu ingat masih menyimpan email itu di draftku. Dan kau mengatakan sudah mengiriminya. Aku percaya padamu karena kulihat draftku kosong. Kau membohongiku?”

“Aku? Bukannya anak itu?”

“Dan foto itu? Untuk apa kau bilang pada Jae Shi soal kita sudah bertunangan?”

“Aku kan hanya ingin membalasnya…”

“Membalas? Apa? Untuk sesuatu yang tidak pernah ia lakukan? Kau yang mengirimiku email itu, kan? Email yang mengatakan kalau Jae Shi minta putus dariku. Ia bahkan tidak tahu aku mengganti alamat emailku. Mana mungkin ia bisa mengirimkan email semacam itu?”

“Dennies. Kau menuduhku?”

“Aku bertanya padamu. Dan bisa kupastikan, kau membohongiku… Aku kecewa padamu, Ri Na…”

“Lihat aku! Kenapa bisa!? Aku lebih cantik, lebih modis, kau lebih cocok untukku! Kenapa bisa kau malah memilih anak ingusan seperti itu?!”

Wah, percaya diri sekali dia…

“Aku tidak pernah menganggapnya anak kecil. Bagiku, ia terlihat lebih dewasa darimu. Aku tidak tahu, kebodohan apa yang kulakukan selama ini. Seharusnya aku tidak menyakiti Jae Shi seperti itu…”

Aku tidak perlu mendengar kelanjutannya. Pria itu sudah belajar banyak dari kesalahannya. Dan Ri Na sudah selayaknya mendapat malu. Perbuatannya benar-benar parah dan memalukan. Mengirim email yang meminta putus? Itu benar-benar cara licik.

“*Li Zhi…” panggil Kak Jay.

“*Sudah kuduga, kebenaran akan menang…” ujarku, membuat tanda victory dan tertawa.

“*Wah, aku tidak mengerti apa yang terjadi…” Kak Jay tersenyum dan mengekor di belakangku. “*Kuantar pulang? Kali ini tidak boleh menolak…” ujar Kak Jay sebelum aku sempat menggeleng. “*AKu tidak mau melihatmu dikerjai lagi oleh penggemar Ji Ro..”

“*Ah, rupanya Kak Jay menyadarinya juga?” ujarku, tertawa. “Itu santapan sehari-hari. Sekarang juga sudah tidak separah dulu, jadi sebenarnya tidak perlu khawatir…”

“*Aku tidak bisa tidak mencemaskanmu.. karena…” sebelum ia mengucapkan kelanjutannya, tanganku sudah keburu maju membekap mulutnya.

“*Jangan katakan…” pintaku. Jangan katakan karena kau menyukaiku. Aku tidak mau mendengar itu lagi. Aku tidak mau hubunganku dengan Kak Jay berubah. “*Maaf, Kak…”

“*Li Zhi…?”

Dari jauh, kulihat sosok Jae Shi berdiri di depan pintu rumah. Ia melihat Kak Jay dan dengan segera mengangguk sopan.

“*Kukenalkan, temanku, Park  Jae Shi…”

“*Jae Shi saja…” ujar Jae Shi, mengulurkan tangannya cepat.

“*Jay…” ujar Kak Jay sambil tersenyum. “*Kalau begitu, aku pulang dulu, Li Zhi…” ia mengelus kepalaku sebelum beranjak pergi.

“*Ia pasti sangat menyukaimu…” komentar Jae Shi sambil tersenyum bingung. “*Kurasa Ji Ro lebih baik tidak tahu tentangnya…”

“*Ya, Ji Ro tidak perlu tahu. Lagipula, ia tidak lebih dari sosok kakak untukku. Mirip Kak Dennies, ia tetanggaku dulu…” jawabku seadanya.

Jae Shi hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Bisa kulihat ia sebenarnya agak meragukan jawabanku tentang Kak Jay. Ia berjalan mendahuluiku ke kamar, menunjuk ke sudut kamar tempat sebuah dus tergeletak.

“Apa itu?” tanyaku.

Dus itu berwarna putih, dibungkus pita kuning dan ada sebuah kartu ucapan di atasnya. Kuangkat kartu itu. Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah tulisan berkata. Aku ingin melihatmu memakainya.

“Siapa?” tanyaku, bingung. Jelas itu bukan tulisan tangan Ji Ro. Aku tidak mengenalinya.




--Park Jae Shi, Bei Jing, Wei’s House,2009--

“Kurir mengantarnya. Aku bisa mengenali tulisan itu. Dari Kak Dennies…” jawabku.

Li Zhi menatapku kaget. Mendadak, ruangan itu terasa hening dan sepi.

“Ya, Tuhan! Tidak kusangka ia bisa bergerak begitu cepat!” serunya sambil menutup mulut kaget.

Kutatap sahabatku itu dengan pandangan bingung. “Kau tahu? Dari mana? Apa maksudmu?”

“Sebenarnya, tadi aku menguping…” ia terdiam dan menghela nafas, “Baiklah, kebetulan bertemu mereka saat bersama Kak Jay tadi, jadi jangan menatapku seperti aku kurang kerjaan begitu.. Dan kemudian, aku mendengar mereka bertengkar…”

“Bertengkar?”

“Ya, dan tampaknya, yah, mereka putus…” sambung Li Zhi dengan entengnya. Kutatap Li Zhi dengan pandangan tidak percaya. “Sudah kukatakan, semuanya serba kebetulan… Aku tidak mengikuti mereka kok… hanya saja, mereka celah yang tepat untuk kabur dari Kak Jay.”

Lagi-lagi Li Zhi menutup mulutnya, sadar telah membocorkan informasinya yang sedari tadi ia tutupi dariku. “Oke, rahasiakan ya… aku tidak mau Ji Ro tahu…”

“Aku paham…” jawabku menyetujui. “Pasti soal penyerangan fans Ji Ro…”

“Jae Shi. Coba buka dus itu…” pinta Li Zhi dengan bersemangat.

Kami membuka dus itu dan sama-sama terkejut. Isinya mini dress hitam selutut yang dilengkapi gesper putih di bagian pinggangnya.

“Kelihatannya merek mahal…” ujar Li Zhi kagum. “Tampaknya ia benar-benar ingin berbaikan denganmu…”

“Aku tidak mungkin memakainya…” keluhku. Walaupun baju itu benar-benar keren dan menggoda untuk dicoba.

Li Zhi menatapku bingung, seolah apa yang kukatakan barusan sangat bodoh. “Kau ngawur,” tukasnya sambil tertawa. Ia mengangkat baju itu dan mengepaskannya di badanku. “Bagaimana mungkin dia bisa tahu ukuranmu? Ooh.. kurasa ia benar serius menyukaimu…”

“Li Zhi? Aku tidak mungkin memakai baju itu. Niatku untuk berbaikan akan terlihat. Dan aku juga akan dianggap materialistis…”

“DIa tidak menyertakan nama pengirim di kartunya, bukan?” Ketika kepalaku menggeleng, Li Zhi meneruskan. “Salahnya tidak menyertakan kartu itu. Kau harus memakai baju ini. Dan kemudian…”

“Kemudian dia akan merasa bangga karena aku mau memakainya…”

“Salah.  Malah sebaliknya. Tapi, kau harus berkata begini…” Li Zhi membisikkan sebuah kalimat di telingaku. Dan kami tertawa bersama. “Sejak kapan kau jadi begini pintar?”

“Sejak kau jadi terlalu bodoh karena sibuk memikirkan pria yang tidak pantas kau cemaskan itu…” jawabnya sambil tersenyum dan mulai memilih baju juga.

Konser akan dilakukan besok, pada saat countdown  tahun baru. Tiba-tiba dadaku dipenuhi debaran rasa tidak sabar yang menggebu-gebu.



--Park Jae Shi, Bei Jing Exhibition Centre, 2009--

“*Semangat ya!!” seru Li Zhi sambil memeluk Ji Ro di belakang panggung.

Ji Ro yang dimake up dan mengenakan pakaian konser sungguh berbeda dengan Ji Ro yang biasanya. Ia terlihat serius ketika bicara dengan Wu Zhun dan anggota Suju M. Mereka terlihat semakin kompak dari hari ke hari.

“*Selain kami, personel SHE juga akan tampil. Masih mau meminta tanda tangan?” tanya Ji Ro sambil tersenyum lebar.

“*Nanti saja. Seusai konser juga bisa…” jawabku sambil tertawa. Ji Ro memang selalu penuh perhatian.

“*Li Zhi. Aku sudah memuji kalau kau terlihat cantik belum?” tanya Ji Ro lagi. Li Zhi tertawa dan menggenggam tangan Ji Ro.

“*Sudah yang ketiga kalinya malam ini…” tukas Li Zhi sambil tertawa. Ia memang terlihat luar biasa malam ini. Mengenakan rok mini, sepatu bot, dan cardigan putih. Sekalipun bergaya tomboy, Li Zhi tetap terlihat menarik dan feminine.

“*Kalau keren? Sudah belum?” kali  ini, ketika Li Zhi menggeleng, mereka bersama tertawa dan bergandengan lagi. “*Baik, doakan aku ya…”

“Jae Shi…” Han Geng datang dan menarikku ke arahnya, menjauh dari Li Zhi dan Ji Ro.

“Ada apa?”

“Seusai konser, ada yang ingin kukatakan padamu…” ujar Han Geng sambil tersenyum misterius. “Karena itu, kau harus menonton sampai selesai…”

“Ada apa? Baiklah, tentu saja!” jawabku.

Pria itu tersenyum dan menghilang ke balik layar panggung. Malam ini, untuk keperluan konser, ia juga tampak berbeda dari Han Geng yang biasa berada di sampingku. Dan jarak kami terasa jauh.

“Jadi? Apa kau sudah bertemu Kak Dennies? Atau mungkin Han Geng yang lebih dulu melancarkan aksinya?” tanya Li Zhi menggodaku.

“Hei Hei… Tidak ada apa-apa antara aku dan Han Geng… Dia orang yang sangat baik yang secara tidak sengaja terlibat. Itu saja…”

“Jadi kau mau menyangkal? Akui saja, kau tertarik juga kan, padanya?”

“Li Zhi? Dia kan artis…” ucapanku terhenti, menyadari wajah Li Zhi mengkeruh. “Maaf… maksudku adalah, aku tidak yakin Han Geng bisa sama sabarnya dengan Ji Ro…”

“Begitu?” tanya Li Zhi. Ia tersenyum memaklumi. “Aku ke sana sebentar, ada Kak Jay…” ujarnya. Lalu, ia segera saja menghilang di tengah kerumunan manusia.

“Kyaaa!!!!!!!! Fahrenheit!”

“Woaaa….!!!! Super Junior!”

“Kyaaa…. Itu Shi Wonn!! Henry!!!!”

“Donghaeeee!!!!!! Zhou Mii!!!! Han Geng!!!!”

“Astaga!! Itu ada KYu Hyun!!!”

Jeritan para fans timbul tenggelam, meramaikan keriuhan yang membahana di sekitar panggung. Sambil berjalan ke kursi VIP yang disediakan untukku, mataku mulai terbiasa dalam kegelapan yang diisi dengan cahaya dari light stick yang digerakkan pelan oleh para fans.

Tiga lagu dinyanyikan dengan indah oleh Fahrenheit, tiga lagu dinyanyikan dengan keren oleh Suju M, dan dua lagu sisanya dinyanyikan Suju M dan Fahrenheit berbarengan. Kolaborasi mereka menciptakan harmonisasi yang unik. Bahkan Fahrenheit ikut menarikan beberapa gerakan Suju M.

Begitu konser usai, aku bangkit dari kursiku. Astaga, kemana Li Zhi? Yang jelas, aku tidak mau ia dan Kak Jay-nya membuat masalah baru. Aku harus mencarinya dan kemudian bersama-sama, kami akan ke belakang panggung.

Pelan, kuputar nomor telepon Li Zhi. Ia menjawab, mengatakan kalau ia berada di dekat belakang panggung bersama KAk Jay. Astaga, memangnya tidak apa mereka berduaan di depan Ji Ro? Aku tahu kalau Ji Ro itu orangnya sabar, tapi kan… Dengan gugup, kupercepat langkahku menuju belakang panggung.

“Hei, Jae Shi… Sudah kuduga kau akan berada di sekitar area belakang panggung…” suara Kak Dennies terdengar di belakangku, membuatku memutar tubuh untuk menatapnya. “Kau memakainya? Baju dariku?”

Tiba-tiba di otakku terulang kembali kalimat dari Li Zhi.

“Salah.  Malah sebaliknya. Tapi, kau harus berkata begini…”

“Oh ya? Dari Kakak? Maaf… kukira ini dari Han Geng… kalau saja aku tahu…” gumamku, sengaja tidak meneruskan kalimatku.

Bisa kulihat ekspresi senang memudar dari wajahnya. “Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?”

“Tidak ada sebenarnya…” Ia memandangku kaget. “Karena aku sudah memaafkanmu…”

“Kalau begitu, bisakah kau kembali padaku?”

Apakah aku masih menyukaimu? Apakah perasaan kita masih sama?

“Apakah perasaan Kakak masih sama padaku??”

“Jae Shi? Apa maksudmu, tentu saja…”

“Aku tidak yakin dengan perasaanku. Karena itu, biarkan aku memikirkannya…”

“Jae Shi?” ia meraih tanganku dan menggenggamnya. “Aku tahu aku membuatmu kecewa. Tapi… sekarang semuanya sudah jelas. Ri Na menghapus email  itu dan mengatakan sudah mengirimkannya. Ia juga mengirimkan email  yang mengatakan kalau kau minta putus dariku…”

Oh ya? Ri Na? Kenapa Li Zhi tidak cerita apapun padaku?

“Tapi, keadaan sudah jauh berubah…” jawabku. “Dan sekalipun menyukaimu, aku sudah tidak yakin, sanggup meneruskan hubungan ini denganmu. Masih ada kemungkinan munculnya Ri Na yang lain…”

“Jae Shi…” ia menarik dan menyentak tanganku, membuatku nyaris kehilangan keseimbangan. Dengan tangan yang satu, ia meraih pinggangku. “Akan kubuktikan. Aku memang masih menyukaimu…” ujarnya sambil menatap mataku dalam-dalam.

Kak Dennies mendekatkan wajahnya, membuatku merasa linglung di tempatku berdiri. “Jangan…” desisku, berusaha melepaskan diri. Tetapi ia tetap menatapku dengan tajam, tatapan yang membius. Wajahnya semakin dekat.

“Jangan mencium pasangan orang lain sembarangan…” ujar sebuah suara lain.

Sensasi yang hangat terasa di bibirku. Han Geng berdiri di belakangku, membekap mulutku dengan tangan kanannya, sementara tangan yang lain memegang bahuku.

“Kau lagi…” desis Kak Dennies, marah.

“Ya, memang inilah aku…” jawab Han Geng, tidak mau kalah.


-to be continued-

LETTER TO HEAVEN - Chap 3 -

LETTER TO HEAVEN - Chap 3 -

February 9, 2011 at 12:01pm
Chapter 3



─Kim So Eun, Seoul, 2009─

“Hari ini hasilnya keluar, ya?” Kak Han Geng menggandeng tanganku dan tersenyum seolah hasil pemeriksaannya sama sekali tidak penting.

“Kim Bum tidak berangkat bersama kita ya?” tanyaku bingung.

Mama Kak Han Geng tersenyum singkat menanggapi pertanyaanku. ”Dia ada urusan, katanya...”

”Oooh...”

”Pasien Han Geng...” panggil perawat dari ruangan dokter. Spontan kami bertiga berdiri dan masuk ke ruangan itu.
Dokter membolak-balik hasil CT scan dengan dahi berkerut. Ia memandang kami dan tersenyum mempersilakan duduk. Sementara itu, dahinya kembali berkerut saat menatap hasil pemeriksaan itu.

”Han Geng, sudah berapa lama kau merasakan sakit di kepala seperti ini?” tanya dokter pada Kak Han Geng yang duduk di sebelahku.

”Sebenarnya sudah sejak setahun yang lalu, tapi yang terasa mengganggu baru akhir-akhir ini...”

Dokter berdehem untuk kembali menelusuri hasil pemeriksaan itu. ”Kau bisa melihat benjolan di sini?” ia menunjuk ke gambar pemeriksaan yang hitam putih. Tiba-tiba rasa takut melandaku. ”Ini gambar tumor pada lobus frontal di kepalamu...”

Mulutku terasa kering saat mengulangi kata-kata dokter itu. ”Tumor?”

”Dan sayangnya, ini adalah tumor ganas. Sekarang ini, diduga perkembangannya sudah sampai ke sini, lobus oksipital. Kau merasakan gangguan penglihatan, tidak?”

”Ya,” Kak Han Geng menatap dokter dan dengan tenang bertanya. ”Apakah saya masih bisa tertolong, dokter?”

Dokter itu melepaskan kacamatanya dan meremas jarinya pelan. ”Selalu berharap pada keajaiban...” jawabnya.

Mama Kak Han Geng mulai menangis histeris di sebelahku. Bahkan suara dokter itu terdengar begitu jauh. Jauh seolah berasal dari planet lain. Bisa kurasakan jantungku berdetak cepat dan nafasku mulai memburu.

Kak Han Geng memeluk Mamanya yang menangis sesunggukan. Pelan, kuangkat wajahku, berusaha mengambil nafas sebanyak mungkin. Ini tidak benar, jerit batinku. Ketika Kak Han Geng bertemu pandang denganku, air mata langsung membuyarkan pandanganku. Ia dengan cepat menarikku dalam pelukannya.

”Tidak adil! Ini tidak adil!!” dalam pelukannya, aku terus saja menangis seperti anak kecil. ”Padahal, padahal, aku.. kita... Padahal Kakak masih sangat muda!!” Kak Han Geng memelukku erat-erat.

Air mata mengucur deras dari mataku, seolah tidak akan pernah berhenti. ”A-Aku ... aku...tidak mau Kakak mati... aku tidak mau...”

Senyuman Kak Han Geng yang sangat kusukai, dan genggaman tangannya. Apakah semua itu akan hilang? Semua itu akan diambil dariku? ”Tidak boleh! Tidak boleh!!” jeritku kehabisan nafas. Tanganku menggapai dan menariknya. Memeluknya. ”Jangan pergi Kakaaaak....”

Kak Han Geng tersenyum dan menggigit bibirnya pedih. Ia mengangkat satu tangan menutupi wajahnya, menangis tanpa suara.. Tangannya bergetar saat menghapus air mata di wajahku. ”Maaf, maafkan aku So Eun...”
Detik itu juga aku pingsan.


─Han Geng, Seoul, 2009─

”Han Geng,” berhentilah berlari...” pelatihku, memandangiku dengan mata tuanya yang ramah. Air mata membayang di sudut matanya. ”Kau jangan berlari lagi...” ujarnya tegas.

Kutatap kakiku yang terasa lemah di tempatnya. Lagi-lagi tadi aku terjatuh. Pelan-pelan, dengan tangan besarnya, pelatih itu membantuku berdiri. ”Mamamu sudah bicara banyak denganku...” ia menepuk bahuku dengan bersahabat.
”Saya minta maaf karena mengecewakan Bapak,” ujarku sambil memberikan senyum terbaikku dan menunduk hormat padanya.

Tangan tua itu memelukku dan mengusap punggungku. Matahari terbenam keemasan di horizon langit. Selamanya pemandangan ini tidak akan kulupakan. Inilah, akhir dari kehidupanku di lapangan ini.

”Sampai kapanpun, kau akan menjadi anak didikku yang terbaik, Han Geng...” ujarnya dengan suara bergetar. Pria tua itu menatapku dan berusaha tersenyum simpul. ”Ada banyak hal yang pahit dalam hidup ini. Tetapi, semua itu pasti ada maknanya...” ujarnya bijak.

Aku tersenyum dan menjabat tangannya. ”Terimakasih karena selama ini sudah begitu baik pada saya, Pak. Saya pamit dulu...”

”Han Geng!” pria itu memanggilku lagi. Matanya diliputi kecemasan, seolah kalimat itu akan menjadi kalimat terakhir dariku. ”Jaga dirimu baik-baik,” ujarnya sambil setengah berteriak. Bisa kulihat ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya.

”Hai, lama menunggu, ya?” sapaku pada So Eun yang berdiri menungguku di pinggir lapangan. ”Kita ke ruang klub dulu, aku ketinggalan sesuatu...” ujarku sambil menarik tangannya memasuki ruangan klub.

Begitu lampu kunyalakan, tiba-tiba terdengar teriakan dari seluruh ruangan. ”SURPRISEEE!!!!” seru anak-anak klub. Mereka tertawa dan ada pula yang menangis. ”Han Geng, kau benar akan meninggalkan klub ini?”

”Ya, aku harus bolak-balik ke rumah sakit untuk terapi...” anak-anak perempuan ada yang langsung berlari keluar ruangan sambil menangis. Bahkan beberapa anak lelaki memandangku dengan mata yang berkaca-kaca.

”Ayo, sekarang biarkan Han Geng bicara!!” seru anak cowok lainnya di sudut ruangan klub. Anak-anak lain pun berkumpul sambil diam mendengarkan.

”Terima kasih...” sambil menarik nafas pelan, aku mulai bicara. ”Selama ini, aku banyak merepotkan kalian. Dan aku juga harus minta maaf kalau beberapa tindakanku mungkin kurang pantas. Tetapi, pada intinya adalah, aku senang, pernah punya kesempatan berada di sini bersama kalian...”

”Kau pasti akan sembuh. Iya kan?” salah satu temanku menepuk pundakku dengan akrab. Ia tidak bisa menyembunyikan air matanya saat memelukku. ”Jaga dirimu, Han Geng...”

So Eun menyembunyikan dirinya di sudut. Tangannya menutupi bibirnya. Aku bisa melihat air mata menetes di pipinya. Satu per satu menyalamiku dan memelukku bersahabat. “Jangan mati, Kak...” bisik So Eun di sampingku.

Ucapan itu menyentak dadaku begitu dalam. Hari ini, hatiku nyaris teriris pedih melihat betapa banyak orang menangis untukku. Dan So Eun. Bagaimana dengannya, seandainya aku tidak bisa lagi berada di sisinya nanti? Kenyataan itu menghujam dadaku begitu dalam. Menyakitkan. Kematian itu... menyakitkan.


─Kim Bum, Seoul, 2009─

Kak Han Geng bolak-balik ke rumah sakit beberapa bulan ini. Dan So Eun selalu berada di sampingnya, nyaris setiap kali ada waktu luang, ia akan datang dan menemani Kak Han Geng.

”Hai, selamat sore,” sapaku sambil memamerkan senyum terbaikku. Kakakku menatapku senang dari atas ranjang.
Tenggorokanku terasa kering melihat kondisi tubuhnya menurun begitu drastis. Dan kini, ia terlihat kurus dan pucat, nyaris transparan. Tuhan, sampai kapan ia akan menderita? Rasanya tiba-tiba mataku terasa panas.

:”So Eun dimana, Kak?” tanyaku sambil meletakkan keranjang buah yang kubawa ke atas meja.

”Dia... di bawah...” jawab Kakakku dengan suara serak.

”Aku mencarinya dulu...” sahutku sambil tersenyum kering. Tenggorokanku selalu sakit melihat betapa sulit ia bicara akhir-akhir ini. Menurut dokter, kemungkinan gangguan bicara bisa terjadi kalau kankernya sudah merambat ke lobus parietal.

Secepat kilat aku berjalan ke atap rumah sakit dan berteriak di sana. Sekuat tenaga. ”KENAPA!? KENAPA HARUS KAKAKKU!?” protesku pada Tuhan. Tetapi, Ia tidak menjawabku. Bibirku bergetar saat air mata mulai tumpah dari mataku.

”Kata Kak Han Geng, kau mencariku...” ucapan So Eun terputus saat ia melihatku menangis. ”Kau pulang saja, Kim Bum...”

”Kau tidak melihatnya?!” otakku mulai terasa kalut di tempatnya. ”Aku tidak tahan melihatnya! Kau lihat bagaimana ia menjadi begitu pucat dan kurus?! Kenapa dia yang harus menderita?” amarah tanpa daya membakar dadaku, menjadikan air mata sebagai tempat pelarian emosiku yang tidak labil.

”Kau jangan membuatnya merasa tidak berdaya dengan menunjukkan wajah seperti itu sekarang...” dan secepat kilat, So Eun berlari kembali ke ruangan kakakku. Aku berjalan mengikutinya ketika tiba-tiba dari arah kamar terdengar suara benda berat yang jatuh.

Nafasku nyaris habis ketika melihat kakakku terjatuh di lantai. So Eun berlutut di depannya, memastikan tidak ada yang terluka. ”Aku hanya... mau berjalan sebentar...” ujar Kakakku dengan terbata-bata. Awalnya ia tersenyum mengejek, namun kemudian ekspresinya mengeras, digantikan rasa kecewa yang dalam.

”Kaki sialan ini! Sialan!! Kenapa... kenapa dia tidak cukup kuat... u-untuk menyangga tubuhku sekarang!? Kenapa?! Bahkan... a-aku tidak bisa berjalan lagi!!”

Dengan putus asa, Kak Han Geng menangis di bahu So Eun. So Eun memeluknya dengan senyuman menenangkan. So Eun sangat kuat. Ia bahkan tidak menunjukkan air matanya di depan kakakku. Padahal aku tahu, ia yang paling ingin menangis saat ini.

Dengan perasaan tidak berdaya, aku hanya mampu menahan sesak di dadaku dari luar kamarnya. Rasa sakit itu menusukku begitu dalam. Atlet lari yang kehilangan kakinya, terlalu ironis.

”Ng... aku minta maaf, So Eun...” ujarku padanya ketika kami berjalan pulang ke rumah dalam diam.

Ia menatapku dan tersenyum jenaka. ”Begitu lebih baik. Tapi, kau tidak seharusnya minta maaf padaku. Kakakmulah yang membutuhkan dukunganmu...”

”Kau kuat sekali, So Eun...” ujarku tanpa pikir panjang.

So Eun tersenyum dan nenatap langit dengan matanya yang besar. ”Aku terbiasa menumpahkan semuanya di kamar. Yang pasti, tidak di depannya...”


─Kim So Eun, Seoul, 2010─

“K-kau d-datang...” senyuman Kak Han Geng kembali menggores hatiku. ”T-tahun baru... sudah lewat, ya…?” Tiap hari, wajahnya semakin pucat dan kurus. Aku semakin kesulitan untuk tidak menangis akhir-akhir ini.

”Bagaimana kondisi Kakak akhir-akhir ini?” tanyaku sambil duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya. Aku berusaha menanamkan bayangannya yang sehat dan kuat ketika jarinya yang terasa kurus menyentuh kulitku.

”Kau s-sendiri, b-bagaimana?” Tanya Kak Han Geng sambil menatapku sendu. Sekalipun wajahnya pucat dan kusut, ia tetap memiliki pandangan mata yang tajam, yang sangat kusukai.

“Kenapa Kakak malah menghawatirkan aku?” tanyaku sambil tersenyum, meletakkan tangannya di pipiku. Sekarang tangannya terasa hangat. Setetes air mata meluncur di pipiku.

Kak Han Geng menatapku dengan wajah pedih. ”B-bagaimana pun, yang d-ditinggal pasti akan...lebih menderita, ya?” tanyanya.

Kali itu pertahananku hancur. Sambil berusaha bangkit dengan susah payah, lengannya yang kurus merengkuhku. Aku terus menangis di bahunya. Bahu yang kusukai, orang yang kusukai, senyuman yang kusukai. Sekarang, bahu itu terasa begitu asing dan kurus.

”Maafkan aku, Kak... Aku seharusnya bisa lebih kuat...”

”Kau sangat tegar, So Eun...” suaranya terdengar teduh di telingaku. ”Kalau tidak ada kau, aku mungkin sudah tidak tahan lagi di sini...”

Air mataku semakin merebak kala mengingat wajahnya yang menderita setiap kali jarum-jarum ditancapkan di tubuhnya. Dan tangannya bahkan terasa begitu kecil, lebih kurus dari tanganku. Jantungku terasa luar biasa nyeri.


Sore hari, Kak Han Geng kembali muntah-muntah. ”Aku tidak ada nafsu makan...” ujarnya sambil menggeleng saat melihat nampan yang kubawakan untuknya.

”Kakak harus makan, dong...” saat itu, tiba-tiba aku ingin sekali menyentuhnya. Namun, begitu tangan kuulurkan, segumpal rambut jatuh dari kepalanya. Dengan gemetar, mataku terus mengamati rambut di tanganku.

”Efek samping dari kemoterapi...” jawabnya sambil meraih rambut itu dan melemparnya ke tong sampah. Dengan ngeri, kulihat begitu banyak rambut di sana.

”So Eun...” dengan susah payah kubalikkan tubuhku. Tanganku menutup mulutku kuat-kuat. Jangan sampai ia melihatku menangis. ”Kau menangis?”

”Maaf Kak...” saat aku berbalik, ia sedang menatapku cemas.

”J-jangan menangis, So Eun... A-aku akan... makan, t-tentu saja aku akan makan!” ujarnya terbata-bata.
Ia berusaha menelan makanannya dengan ekspresi gembira. Melihatnya, dadaku terasa semakin sakit. Rasanya ada banyak orang melempariku dengan batu sekarang.

”Makannya pelan-pelan saja, Kak...” ujarku sambil menepuk punggungnya pelan-pelan dan memberikannya segelas air. Ia terbatuk-batuk. Dan batuknya terdengar menyakitkan di telingaku.

Sudut mataku terasa panas merasakan tulang punggungnya yang menonjol di tanganku. ”Aku ke toilet sebentar, ya...” Dan untuk waktu lama, aku kesulitan menghentikan tangisku di sana. Tidak di depannya.


─Han Geng, Seoul, 2009─

Sore itu, Kim Bum datang menengokku. Mataku nyaris kabur akhir-akhir ini. Namun, tidak sulit untuk mengenali senyuman anak itu. ”Hai,” sapanya riang.

Karena akhir-akhir ini semakin sulit bicara, kuputuskan untuk tersenyum saja menanggapinya. ”Ya ampun, di bawah tadi aku bertemu banyak perawat cantik. Kau beruntung sekali,” decaknya iri.

Aku tersenyum. ”Kim Bum...” aku harus mengatakannya sekarang juga. ”K-kau... menyukai... So Eun... bu-kan?”

Ekspresi wajahnya berubah keras mendengar pertanyaanku. ”Ah, semua orang juga menyukainya,” elaknya. Tetapi ia lantas terdiam ketika melihat ekspresi wajahku yang serius.

”Ka-kalau aku nanti... tidak ada... t-tolong... j-jaga dia...” Kim Bum langsung menangkap tanganku yang berusaha menggapai tangannya.

”Kau yang harus menjaganya,” tukasnya dengan ekspresi keras dan tegang. ”Dan berhentilah bicara soal mati. Kau menderita?! Mama juga! Aku juga! Aku juga menderita! Aku tidak mau melihatmu seperti ini!”

Kim Bum menatapku dengan air mata menggenang. ”Jangan begini... Jangan menyerah Kak... So Eun tidak menyerah, jadi, Kakak juga jangan menyerah...” ia menangkap tanganku dan menunduk. Bahunya berguncang-guncang saat air matanya jatuh ke sprei ranjangku.

Air mata mengalir dari sudut mataku. Panas. Aku tidak ingin menyerah, tentu saja. Aku mencintai So Eun, dan aku ingin selalu bersamanya. Tetapi, sampai kapan? Dan... bagaimana?


─Kim Bum, Seoul, 2009─

Langit keemasan senja itu. Sepulang sekolah, seperti biasanya aku datang untuk menjenguknya. Lamat-lamat terdengar suara dari dalam ruangannya. Kuurungkan niatku sejenak untuk masuk.

”K-kalau aku m-mati, k-kau tidak boleh... menangis...” suara Kakakku yang terbata-bata terasa menggores dadaku.
Mereka berdua duduk berdampingan, bersama-sama menatap senja. So Eun terdiam dan menyenderkan kepala di bahu Kak Han Geng. ”Apakah, Kakak akan selamanya bersamaku?”

”M-maaf... So Eun…” suara Kakakku terdengar terluka. Tetapi, tangannya kemudian terjulur lemah ke arah langit. ”M-mungkin, h-hanya bisa mengawasimu... dari sana...”

So Eun tertawa kecil dan mengangguk. Ia memeluk Kakakku yang telah kehilangan tenaganya. ”Berarti, aku harus menulis surat ke Kakak setiap hari. Mungkin karena jauh, suaraku tidak terdengar. Surat lebih efektif...”

”Y-ya, surat...” tiba-tiba suara Kakakku terdengar lebih bertenaga. ”K-kau tahu,,, So Eun?”

”Hm? Tahu apa?” So Eun menatap Kakakku dan tersenyum.

”Aku... mencintaimu...”


─Kim So Eun, Seoul, 2010─

“Ada apa?!” kepanikan jelas-jelas melandaku saat tempat tidur Kak Han Geng dilarikan perawat ke ruangan UGD. “Kenapa dengannya!?”

Dokter masuk secepat kilat. Kim Bum datang dan bertanya dengan matanya. Dengan bingung, aku menggeleng tidak mengerti. Mamanya datang beberapa saat kemudian, ditemani Papanya.

Begitu dokter keluar, kami langsung menyerbunya. ”Maaf, tidak banyak yang bisa kami lakukan...” ujar dokter itu. ”Mungkin ada yang ingin ia sampaikan pada kalian... Silahkan...”

Dengan langkah bergetar, aku masuk ke ruangan itu. bahkan kakiku sendiri tidak terasa pada tempatnya. Di sana, dengan nafas satu-satu, ia terbaring menatap kami. Wajahnya terlihat tenang dan pucat.

”Kakak...” suaraku nyaris tidak terdengar saat meraih tangannya dan menempelkannya di pipiku.

”P-papa, Mama” suaranya terdengar seperti bisikan kecil. Kami semua mendekat dan mengerumuninya.

”A-aku, m-mungkin bukan anak yang baik, t-tapi... aku beruntung m-menjadi... anak kalian...” air mata menetes dari sudut matanya.

Mama dan Papanya mengangguk dan mengusap tangannya lembut. Dadaku terasa berat dan semakin berat saat pandangan matanya semakin menerawang jauh.

”Kim Bum... jangan lupa, k-kau... berjanji p-padaku...” Kim Bum menggenggam tangan kakaknya dan mengangguk keras.
”Pasti... Aku... akan memenuhi janjiku...”

”So... So Eun...” dengan susah payah ia menarik nafas berulang kali dan mengucapkan namaku.

”Ya? Ada apa, Kak?”

”Aku m-menunggu surat...mu...” dan begitu saja, tangannya terkulai lemas, lepas dari genggamanku.

”So Eun!” Kim Bum menahan pundakku agar tidak jatuh. Dengan gemetar aku menggunakan tangan Kim Bum untuk bangkit berdiri. ”Tidak... mungkin... kan?” tanyaku padanya dengan gugup, lalu menatap wajah Kak Han Geng sekali lagi.
Ia terlihat begitu tenang. Sekalipun wajahnya pucat, ia seolah hanya tertidur di sana. ”Kakak...?” bibirku bergetar tiada henti saat tanganku mengusap wajahnya yang dingin. ”Kenapa... dingin sekali...?”

Air mataku menetes-netes ke seprai putihnya. ”Bangun…lah… Kak…” suaraku terdengar seperti desahan putus asa.
“Sudahlah, So Eun…” Mamanya Kak Han Geng memelukku dari belakang, berusaha menenangkanku. “Sudahlah…”ia menangis putus asa di sampingku.

“Tidak bisa begini… bukalah... matamu Kak... aku masih ingin… melihatmu tersenyum, menggandengku, menciumku, berjalan bersamaku…”

Suaraku semakin hilang ditimpa tangisan patah-patah dari dadaku. Nafasku naik turun dengan berat. “Kak Han Geng… Kak Han Geng… jangan pergi…”


─Kim So Eun, Seoul, 2011─
 -----------------------------------------------------------------------------------
Untuk Kak Han Geng,

Beberapa hari lalu Kim Bum menyatakan perasaannya padaku, dan kuputuskan uintuk menerimanya. Aku tahu, kakak menyuruhnya untuk menjagaku, dan aku sangat berterima kasih untuk itu.
Setelah Kakak meninggal, ia tidak pernah pergi dari sisiku. Dan setiap kali sedih, ia datang menghiburku. Mungkin aneh kalau kukatakan aku mulai menyukainya. Tetapi, kuharap ia juga merasakan perasaan yang sama padaku, bukan sekedar simpati.
Kuharap Kakak tidak marah kalau kukatakan aku mulai menyukainya. Selamanya, Kakak akan selalu memiliki tempat istimewa di hatiku. Selalu dan selamanya.

PS: Hari ini langitnya cerah. Kurasa, Kakak sedang berlari dengan wajah gembira saat ini. Bisa kubayangkan betapa luasnya lapangan atletik di langit sana! Dan aku, akan menghargai setiap detik hidupku, sampai saatnya aku menyusul Kakak di sana.

Salam bahagia,

Kim So Eun









--------------------------------------------------------------------------------
FIN

LETTER TO HEAVEN - Chap 2 -

LETTER TO HEAVEN - Chap 2 -

February 9, 2011 at 11:59am
Sebelumnya, sekedar pemberitahuan, FF ini sudah di publikasi oleh admin untuk lomba FF

berhubung tag sudah penuh; maka dengan seijin admin, saya memindahkan ke note saya

bagi yang minta di tag, comment atau post wall saya
...
thanks

Chapter 2



─Kim So Eun, Seoul, 2009─

“Benar nih, sudah merasa lebih baik?” tanyaku cemas saat Kak Han Geng berjalan bersamaku melangkah di atas trotoar yang mulai dipenuhi timbunan salju. Wajahnya terlihat sama pucatnya dengan kemarin.

“Ya, sudah lebih segar sekarang,” ia mengangkat tangannya dan memamerkan ototnya. ”Dan aku sudah kangen sama lapangan itu...”

Pelan, kusupkan tanganku ke lengannya. ”Aku tidak mau Kakak berlari dulu sementara ini. Aku tidak mau melihatmu jatuh...”

Rasanya setiap kali kututup mataku, semua kejadian itu masih bisa kugambarkan dengan tepat. Seperti gerakan lambat yang seakan hendak menghujam jantungku.

”Aku takut sekali kemarin...” ucapku tanpa pikir panjang.

Kak Han Geng menepuk pipiku dan tersenyum. ”Aku akan berhati-hati...” ia beruaha menenangkanku. ”Kemarin sangat memalukan ya?” ia mendesah dan menghembuskan nafas keras-keras.

Pipiku merona merah mengingat tatapan matanya yang lurus dan tajam.

”So Eun?” Kak Han Geng memiringkan wajahnya dan menatapku. ”Kau melamun kenapa? Pipimu merah sekali...”

Dengan terbata-bata, aku menjawabnya. ”Aku, sangat menyukai mata Kak Han Geng saat berlari. Rasanya jadi berdebar-debar...”

”Oh ya?” senyuman malu muncul di wajahnya. “Aku, selalu serius terhadap banyak hal. Salah satunya lari. Dan terutama, perasaanku padamu...” kali ini ia menatapku langsung di mataku.

Matanya tajam menatapku, seolah hendak menembusku. Dengan gugup, kubalas tatapan mata itu. Wajah kami semakin dekat, dan nafasnya terasa hangat namun segar menyapu hidungku.

Pelan, ia menciumku. Bibirnya terasa dingin bagai salju, namun perasaanku nyaris meleleh dalam ciumannya yang memabukkanku. Lebih dari sejam yang lalu, semenit yang lalu, setiap detiknya aku semakin menyukainya.

Seandainya bisa bersama Kak Han Geng selamanya, aku tidak akan pernah meminta lebih.


─Han Geng, Seoul, 2009─

BRUKH!!

”Ya ampun, Han Geng!!” Mama berseru kaget ketika melihatku terjatuh beberapa anak tangga.

”Kau kenapa, Kak?” Kim Bum menghampiriku kaget. Matanya memandangku dengan awas.

”Tidak apa-apa, mataku sedikit kabur tadi... Mungkin karena baru bangun tidur siang, jadinya masih agak linglung...”

”Akhir-akhir ini kau agak kurang sehat, Han Geng...” Mama menatapku cemas. ”Tempo hari kau jatuh di lapangan. Dan kemarin seharian kau sakit kepala...”

”Mungkin aku sedang tidak fit saja, Ma... Atau mungkin gejala flu...” sahutku sambil tersenyum.

”Kau memang agak aneh akhir-akhir ini, Kak...” Kim Bum memandangku lalu mendukung pendapat Mama. ”Mungkin sebaiknya dia periksa ke dokter, Ma...”

”Benar, bagaimana kalau ke dokter saja, Han Geng?”

”Sudahlah, Ma... Aku benar tidak apa-apa, kok...” tukasku lalu bangkit sambil berjalan ke ruang duduk dan menghidupkan televisi. ”Kapan-kapan saja ke dokternya,” ujarku malas.

Akhir-akhir ini aku hanya sedang tidak enak badan saja, pikirku sambil memusatkan perhatianku ke televisi. Setiap kali mendengar kata dokter disebut, ada perasaan tidak nyaman singgah di dadaku.

Kuharap, itu bukan suatu firasat buruk. Aku tahu kondisi badanku sendiri. Dan kurasa, ini semua hanya penyakit ringan saja. Nanti juga akan sembuh dengan sendirinya. Iya kan?


─Kim Bum, Seoul, 2009─

Kamis sore, So Eun duduk di kursi yang biasa, menunggu kedatangan kakakku. Ia mengangkat wajahnya dan tersenyum saat melihatku datang menghampirinya.

”Hai,” sapanya sambil tersenyum tulus.

Kurasa akhir-akhir ini status pacaran mereka nyaris dalam tahap yang menyenangkan. Kalau melihat wajahnya seceria ini, selalu saja dugaan itu yang muncul di otakku.

”Kau sadar tidak, Kakakku itu akhir-akhir ini jadi agak aneh?” tanyaku pada So Eun, melontarkan kecemasan utamaku akhir-akhir ini.

”Aneh bagaimana?” So Eun memandangku dengan bingung.

”Minggu ini sudah dua kali dia jatuh di tangga rumah kami. Alasannya karena matanya agak kabur lantaran baru bangun tidur siang. Dan kepalanya juga sering sakit... Kau tahu kenapa?”

So Eun terpekur mendengarkan, lalu menggeleng bingung. ”Kemarin juga, saat pulang bersama, kami sempat berhenti dan duduk sebentar di pinggir taman, karena kata Kak Han Geng, kepalanya agak pusing...”

”Nah, dan dia jadi sangat keras kepala. Dia benar-benar menolak ke dokter. Padahal biasanya dia tidak sebandel itu...”
So Eun tersenyum kecil mendengar caraku menyebut Kakakku bandel. ”Kalau begitu, kurasa memang agak aneh. Jadi, kapan kalian akan ke dokter?”

”Itulah, mana bisa kalau dia sendiri tidak mau?”

”Ah, itu dia!” So Eun serta merta bangkit berdiri melihat sosok Kak Han Geng berjalan ke arah kami sambil berlari-lari kecil.
”Maaf ya, aku lupa kalau hari ini hari Kamis, dan kemarin aku sudah janji dengan pelatihku untuk latihan lebih lama...”
Sorot kekecewaan di wajah So Eun dengan cepat tertangkap mataku. Kakakku tidak biasanya pelupa seperti ini. Ia sangat rapi dan disiplin dalam membuat janji. Semua ini jadi semakin aneh saja, pikirku.

”Tidak apa-apa,” So Eun tersenyum sabar. ”Biar kutunggu saja... Lagipula, aku sedang tidak ada kerjaan...”

”Tidak, kau jangan menunggu di sini. Udaranya kan dingin sekali, So Eun...” Kakakku menepuk kepalanya dan tersenyum. ”Kalian berdua pulang duluan saja, oke? Jangan khawatirkan aku...” ia berbalik dan segera berlari pergi meninggalkan kami berdua.

Nah, ini lebih aneh lagi, pikirku. Kapan sih, kakakku pernah menolak pulang bareng dengan So Eun. Memang sih, cukup rasional untuk tidak membiarkan So Eun menunggu di udara sedingin ini. Tapi... Ah, sudahlah! Apa aku terlalu banyak berpikir?

So Eun segera menatapku ketika Kak Han Geng telah jauh meninggalkan kami. Ia memutar bola matanya dan tersenyum menyetujui, ”Kau benar, dia memang jadi aneh sekarang...”


─Kim So Eun, Seoul, 2009─

“Kak, aku di sini!!” seruku sambil melambai-lambaikan tangan. Cowok itu kelihatan kesulitan mencariku. Ia celingukan ke kanan dan ke kiri, kemudian akhirnya berjalan ke arahku dengan mata dipicingkan sedikit.

“Mungkin aku perlu pakai kacamata,” ujarnya sambil menertawakan dirinya sendiri.

Aku memandangnya dengan cemas. “Nanti kita beli kacamata, ya? Tapi, Kakak perlu ke dokter dulu...” dengan khawatir kupandang wajahnya yang tampan. “Nah, ayo kita makan es krim!!” seruku sambil bergelayut di lengannya.

Ia tertawa dan berjalan bersamaku. Hari ini bisa dibilang kencan pertama kami, dan aku sama sekali nggak mau merusaknya dengan bersikap terlalu menuntutnya untuk memeriksakan diri ke dokter.

Setelah membeli dua ice cream cone, kami mengambil tempat dan duduk di sebuah kursi taman yang tidak jauh letaknya dari tukang es krim itu.

”Oh ya, aku ada hadiah untuk Kakak!!” wajahnya tampak gembira ketika menerima bungkusan dariku di tangannya. ”Eit, jangan dibuka! Coba tebak apa isinya!”

Kak Han Geng menatapku lalu tersenyum jahil. ”Ada kata kuncinya, nggak?”

”Ada. Aroma yang nggak terlupakan...” sahutku senang.

Aku mengetahui dari Kim Bum kalau Kak Han Geng sangat menyukai cokelat cake yang ada aroma rhum­-nya. Karena itu, semalaman kubuat. Hasilnya bagus dan aromanya sangat enak. Bahkan aku sendiri nggak menduga kalau aku bisa membuat hasil sebagus itu.

”Maaf, aku, kok,” ia menampakkan wajah bingung saat mengendus bungkusan itu. ”Aku tidak bisa menebaknya,” ujarnya sambil tertawa heran.

”Coba pinjam, Kak...” saat kudekatkan hidungku, otomatis aroma kental rhum terasa memenuhi udara. ”Kak, sedang flu ya?” godaku sambil tersenyum. ”Aromanya kan kental banget...”

”Biar kubuka ya,” Kak Han Geng menatapku lalu membuka kadonya dan berseru senang. ”Wah, iya, ini kue kesukaanku...” ia memakannya dengan wajah gembira. ”Aneh ya, masa aroma sekental ini aku kesulitan menciumnya?”
Pelan-pelan, dadaku bergemuruh melihat wajah gembiranya yang tampak begitu polos. Satu demi satu kejadian aneh berputar di kepalaku bagai memori pendek. Ia jadi sering jatuh, penglihatannya kadang terganggu, dan kini... penciumannya.

”Kak,” Kak Han Geng menghentikan kegiatannya mengunyah saat tanganku yang gemetar menyentuh lengannya.
”Ada apa, So Eun?”

”Ternyata... Kim Bum benar... Kakak jadi aneh...”

”Aku? Aneh? Apanya?” ia mengangkat daguku, memaksaku menatap matanya. ”Kau kenapa menangis, So Eun?”

”A-aku takut... Kakak sepertinya sakit. Kita periksa ke dokter ya?”

”So Eun, ya ampun, aku tidak apa-apa...” ia mencoba melepaskan tangannya dariku, dan menenangkanku.
Aku tidak bisa melepaskan tangannya. Sambil tetap menggeleng keras, aku menggigit bibir untuk tidak menangis. ”Aku takut terjadi sesuatu...Aku tahu, pasti ada yang salah...”

Kak Han Geng menatapku dengan bingung, lalu menyurukkan kepalaku di dadanya. Samar-samar bisa kudengar jantungnya yang berdegup cepat. ”Baiklah, aku akan ke dokter. Jangan menangis lagi...”


─Han Geng, Seoul, 2009─

”Jadi, bagaimana hasilnya, dokter?” ranyaku sambil berusaha tampak tenang.

Dokter itu mengamatiku dari balik kacamatanya. ”Kurasa masih terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan, Nak. Mungkin kau seharusnya mengadakan check up keseluruhan dan CT scan...”

”Tapi, penyakit saya tidak seserius itu, kan, dokter?”

Dokter itu tidak menjawab apapun. Di sampingku, Mama menatapku cemas. Pelan, bisa kurasakan tangan dinginnya meremas tanganku perlahan.


”Bagaimana hasilnya?”

Di rumah, ada dua orang yang rupanya menunggu kepulanganku. So Eun dan Kim Bum. Mereka berdua menatapku dengan ekspresi cemas.

”Aku harus melakukan pemeriksaan menyeluruh dulu, dokternya aneh,” tukasku sambil tersenyum. Wajah Kim Bum mengerut bingung, sementara So Eun menampakkan kecemasan.

”Kurasa itu artinya tidak apa-apa...” ujarku lagi.

Setelah mendengarnya, So Eun lantas tersenyum lega. ”Ya, kurasa tidak apa-apa...” suaranya seolah ditujukan pada dirinya sendiri.

”Semoga kau tidak apa-apa, Kak...” Kim Bum menatapku sekilas dan tersenyum. Tidak biasanya ia begini cemasnya padaku.


Keesokan harinya, serangkaian test dilakukan di rumah sakit yang lebih besar. Kepalaku berdenyut sakit di tempatnya. Kadang kala seperti ini, menyakitkan sampai membuat perasaanku mual.

Seusai test dilakukan, kuhampiri Mamaku yang menunggu di kursi ruang tunggu. ”Tidak ada masalah, tinggal tunggu hasilnya keluar saja dalam beberapa hari ini,” ujarku menjelaskan.

Mama mengangguk paham, lalu menggandengku pulang. Sekilas, kulihat raut wajah mama pucat dan sedih. Dan sudut matanya sembab. Kenapa? ”Mama sakit ya? Mama kelihatannya habis menangis...”

”Tidak apa-apa, Han Geng... Tadi Mama hanya ngobrol banyak dengan dokter. Dan ia meminta Mama sabar menunggu hasil test-nya saja...” jawab Mama sambil kembali terdiam dan memandangi kaca jendela.

Firasat buruk kembali menerpa dadaku. Apa yang dibicarakan dokter? Kenapa Mama begini sedih? Apakah penyakitku gawat? Jantungku mulai berdetak gugup di tempatnya. Seandainya So Eun ada di sampingku, perasaanku tidak akan sekalut ini. Cukup dengan melihat senyumannya, itu saja.


─Kim Bum, Seoul, 2009─

Malam hari, terdorong oleh rasa haus, kakiku menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Lampu ruang makan masih menyala. Kulihat Mama berdiri di depan kamar Han Geng dengan penampilan kusut. Sepulang dari rumah sakit hari ini, Mama memang jadi agak pendiam.

”Ma? Kenapa belum tidur?” tanyaku sambil menyentuh bahunya.

Mama menatapku kaget, sudut bibirnya bergetar. Ia tersenyum, lalu menggeleng. ”Tidak bisa tidur... Kau sendiri?”

”Aku haus,” jawabku sambil tersenyum singkat dan menuntun Mama untuk duduk di kursi ruang makan. Sementara aku minum, kulihat Mama membenamkan wajahnya ke telapak tangannya.

”Pusing, Ma?” tanyaku sambil mengambil posisi duduk di hadapannya.

Mama menyentuh tanganku dan meremasnya. Tangannya terasa dingin dan gemetar di kulitku. Sudut bibirnya berkedut. Ia terliht berusaha keras tersenyum, tetapi kemudian gagal. Air mata berjatuhan di pipinya.

”Apa yang harus, Mama lakukan...?” suaranya pecah oleh tangisan. Mama menutup wajahnya dengan tangan dan menangis terisak-isak.

”Ma? Ada apa? Kenapa?!” tidak mungkin kejadian itu tidak mengejutkanku. Mama tidak pernah menangis seperti ini sebelumnya. Bahkan ketika Papa memutuskan untuk bekerja di luar negeri, Mama tidak menangis.

”Kakakmu... Kakakmu...” Mama menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya bergerak naik turun. ”Dokter mengatakan, Kakakmu sakit...”

”Kenapa Kakak, Ma?” jantungku berdebar naik turun dengan gelisah. ”Dia sakit apa?” bahkan pertanyaan terakhir itu terlalu menyakitkan saat keluar dari tenggorokanku.

”Dia kanker otak, Kim Bum...”

Lututku nyaris kehilangan tenaga di tempatnya. Tanganku menekan pinggiran meja dengan kuat. Kak Han Geng kanker otak? Tidak mungkin.... tidak mungkin!!! Apa yang harus kukatakan padanya? Apa yang harus kukatakan pada So Eun?!


To Be Continued......


LETTER TO HEAVEN -Chap 1-

LETTER TO HEAVEN -Chap 1-

February 9, 2011 at 11:54am
Sebelumnya, sekedar pemberitahuan, FF ini sudah di publikasi oleh admin untuk lomba FF
berhubung tag sudah penuh; maka dengan seijin admin, saya memindahkan ke note saya
bagi yang minta di tag, comment atau post wall saya
thanks

LETTER TO HEAVEN -Chap 1-


Chapter 1



─Kim So Eun, Seoul, 2009─

Langit cerah hari ini. Sambil menarik nafas senang, kususuri pinggir lapangan atletik yang dipenuhi oleh teriakan anak-anak perempuan. Seperti biasanya, hari ini pun ia masih menjadi idola nomor satu dari klub atletik.

“Kyaaa!! Kak Han Geng!!!” teriak para siswi di sebelahku.

”Permisi,” ujarku, berusaha menyeruak dari antara gerombolan itu. Akhirnya, tanganku berhasil mencapai pagar kawat pembatas lapangan atletik itu.

”Kak Han Geng!” teriakku padanya, berharap suaraku bisa didengarnya dari antara suara puluhan gadis lain yang juga meneriakkan namanya.

Tetapi cowok itu mendengarnya. Dadaku berdentum keras. Kak Han Geng lewat sambil memberikan senyuman manis ke arahku.

”Tidaaak!! Dia tersenyum ke arahku!!” seru seorang gadis,

”Salah, ke arahku tahu!!” tukas gadis lainnya tidak mau kalah.

”Kalian berdua aneh.” seru gadis lainnya. Ketika dua temannya menoleh, dengan memiringkan kepala sedikit, ia berujar dengan wajah serius, ”Kurasa, ia malah jatuh cinta padaku!!”

Kontan, kedua temannya berteriak, ”Bhhuuu....” bersamaan sambil mencubitinya kiri kanan. Senyuman geli tidak bisa kutahan dari wajahku.

Kak Han Geng berdiri di samping pelatih sambil melihat catatan waktunya. Ia menoleh sekilas, dan melambai padaku. Lagi-lagi para gadis menjerit gila-gilaan. Dari lambaian tangannya yang sepintas itu, aku tahu sebentar lagi latihannya selesai. Dan itu artinya, kami akan berkumpul di halaman belakang, seperti biasanya.



”Hei,” suara seorang cowok memanggilku.

“Hei, Kim Bum, aku juga punya nama tahu...” ujarku sambil mengernyitkan dahiku, kesal. “Coba kau eja namaku, So Eun...”

“Malas,” sahutnya angkuh. Ia menyampirkan tasnya yang berisi saksofon ke kursi tempat kami duduk. “Eh, Kak Han Geng masih lama tidak?”

Kim Bum adalah adik dari Han Geng. Dan seperti Kakaknya yang populer di antara siswi, demikian pula adiknya. Kami bertiga sudah bertetangga sejak kecil. Kegiatan pulang bersama semacam ini seolah sudah menjadi ritual kecil di antara kami.

Bicara soal bintang atletik? Sebut saja nama Han Geng, dan para gadis itu akan menjerit kesetanan. Bintangnya musik? Ucapkan nama Kim Bum dan para gadis akan meleleh karena senyumannya.

”Kurasa tidak begitu lama,” sahutku, berusaha tampak santai. Dan dugaanku tepat, sejurus kemudian, Kak Han Geng datang sambil menenteng sport bag-nya.

”Maaf ya, membuat kalian menunggu...” ujarnya sambil tersenyum ramah. ”Udaranya mulai dingin, kan?” dengan cepat, ia membuka jaketnya dan memakaikannya padaku.

”Wah, tidak usah, Kak...” seruku kaget, berusaha menolak.

”Jaketmu nggak bau keringat, ya?” tanya Kim Bum dengan nada mencela.

”Oooh... Bau ya?” Kak Han Geng menatap mataku langsung, membuat jantungku terasa mau melompat keluar.

”B-bukan, tidak bau kok!” seruku kaget. Malahan sangat harum. Wangi yang maskulin. Kurasa ia mengenakan jaketnya setelah membilas badan di ruang ganti. ”Maksudku, apa Kak sendiri tidak kedinginan?”

”Tidak, aku sih laki-laki, jadi aku lebih kuat...” suaranya terdengar menyenangkan. Rasanya sulit untuk tidak menyukai senyuman sehangat itu.

Kak Han Geng... sejak kecil, nama itu selalu memiliki tempat istimewa di hatiku. Aku menyukainya. Senyumannya, tatapan matanya, caranya memanggil namaku. Kapan ya, ia akan menyadari perasaanku?



─Han Geng, Seoul, 2009─

“Han Geng, cepat bangun, sudah pagi nih!” Mama membangunkanku sambil membuka tirai lebar-lebar.

”Oke,” jawabku. Lalu mendadak, rasa sakit yang hebat menyentak kepalaku. Kupejamkan mataku sesaat, berusaha meredakan rasa sakitnya dengan memijit keningku.

“Kau kenapa?” Mama menatapku khawatir. ”Pusing?”

”Mungkin gejala anemia ringan,” sahutku sambil tersenyum, berusaha meredakan kekhawatiran di wajah Mamaku.

”Mau ijin sekolah, hari ini?”

”Tidak perlu,” tukasku sambil buru-buru bangkit dan mengambil handukku. ”Aku ada test lari hari ini...”

”Berusahalah,” Mama menepuk bahuku lembut.


”Hari ini akan lahir seorang mega bintang!!” seru So Eun sambil tersenyum senang. Uap putih mengepul saat kami berbicara. Udara semakin dingin.

”Masih belum tahu, kan belum diketahui sampai test-nya dilakukan...” jawabku sambil tersenyum.

So Eun menatapku dengan matanya yang bulat besar. ”Aku pasti mendukungmu!!” ia mengepalkan tangan dan dengan bersemangat bicara sambil menatapku. ”Oh ya, ini jaketnya, terima kasih, Kak...” ia mengeluarkan jaket yang sepertinya sudah disterika rapi dari tasnya.

”Sebenarnya tidak perlu dikembalikan sekarang,” ujarku sambil memakainya. Gadis itu tersenyum senang, membuat denyut jantungku sepuluh kali lebih cepat.

”Aku tidak bisa membiarkan mega bintang atletik sakit hanya karena aku lupa mengembalikan jaketnya, dong...” sahutnya sambil tersenyum jahil.

Aku menyukai So Eun. Sejak pertama kali melihatnya, sejak pertama kali bicara dengannya. Aku menyukainya. Tetapi, sampai sekarang, aku tidak memiliki keberanian mengungkapkannya.

Mungkin nanti? Ya, tidak sekarang. Tentu saja tidak sekarang.



─Kim Bum, Seoul, 2009─

Dua sosok itu melupakanku begitu saja, pikirku sambil menatap Han Geng dan So Eun yang berjalan berdampingan di udara yang begitu dingin. Dan mereka terlihat sangat cocok. Sampai kapan sih dua orang itu akan bersikap tidak jujur pada perasaan mereka satu sama lain?

”Hei, kalian melupakan aku!!” seruku sambil berlari menyusul dan menubruk mereka. So Eun menatapku dengan kesal.

”Kau lama sekali sih, bangunnya!” ia menggerutu, namun masih terlihat manis.

”Aku main saksofon sampai malam...” jawabku enteng.

”Kelihatannya dia membuat lagu baru,” sahut Kak Han Geng santai.

”Begitulah,” jawabku asal.

“Kau membuat lagu baru?” mata bulat So Eun spontan berbinar kagum.

Ia terbiasa mendukung kami berdua. Saat melihat Han Geng berlari, ia akan ikut bersorak. Sementara saat mendengarku memainkan musik, ia akan tersenyum dan menunggu sampai tiba saatnya bertepuk tangan keras-keras.

”Belum selesai,” sahutku, berusaha meredakan rasa cemburu di dadaku.

Entah sudah berapa kali kuingatkan diriku untuk menyudahi perasaanku padanya, tetapi entah berapa kali pula aku gagal. Sampai detik ini. Padahal aku tahu dengan jelas, kalau mereka saling menyukai. Dan tidak ada tempat untukku di sana.



─Kim So Eun, Seoul, 2009─

Kak Han Geng meletakkan jarinya di tanah. Matanya menatap tajam ke depan. Wajahnya tampak sangat serius. Ia selalu terlihat serius saat berlari, dan kurasa, kalau matanya menatapku seperti itu, aku bisa meledak detik itu juga.
Perasaanku berdebar naik turun. Kalau lulus test kali ini, Han Geng akan dipilih untuk mewakili sekolah mengikuti lomba tingkat nasional.

”Prittttt!!!!!!!!!!!!!!”

Begitu peluit ditiup, cowok itu melesat dengan sempurna, seperti peluru. Dan nyaris semua anak perempuan menjerit gila-gilaan di sampingku. Jantungku berdentum, seolah memukul rongga dadaku.

Berusahalah! Rasanya setiap sel tubuhku menyuarakan dukungan untuknya.

Kemudian, insiden itu terjadi. Kak Han Geng tiba-tiba jatuh tersungkur. Bersamaan dengan itu, para gadis ikut menjerit tertahan melihat posisi jatuhnya yang begitu tiba-tiba.

Petugas P3K yang berdiri di pinggir lapangan langsung datang menyerbunya. ”Kak!!” suaraku terasa tertelan oleh rasa sesak di dadaku. ”Kak!!” seruku lebih kuat, tetapi gagal. Suaraku musnah diantara jeritan gadis-gadis lainnya.

Tiba-tiba sebuah tangan menarikku dengan kencang. “Apa yang terjadi?” Kim Bum menatapku dan wajah cemasnya menatap lapangan.

”Semuanya begitu cepat, dia tiba-tiba jatuh...” dengan tangan gemetar, aku berusaha mengingat setiap detik kejadian itu.

Kim Bum masih menatapku. ”Padahal awalnya kondisinya sangat prima. Ia melesat,” nafasku nyaris habis saat mengucapkannya. ”Seperti... peluru... dan kemudian... dia jatuh...”

Begitu kalimatku selesai, air mataku tumpah begitu saja. Kim Bum meraih bahuku dan memelukku.

”Padahal, ini adalah saat terbaiknya, dan tadi pagi... rasanya...” dadaku bertambah sesak seiring isakan tangisku. ”Rasanya semua baik-baik saja...”

”Masih ada kesempatan lain untuknya,” jawab Kim Bum, berusaha untuk menenangkanku. ”Sekarang, ayo kita temui dia...”

Masih banyak siswi yang berpelukan dan menangis di pinggir lapangan. Mereka nyaris sama kecewanya denganku. Idola mereka gagal secara mengenaskan. Rasanya dadaku sakit seperti disayat-sayat.


─Han Geng, Seoul, 2009─

”Kak, tidak apa-apa?” So Eun menyerbu masuk ketika kesadaranku mulai kembali. ”Ada yang sakit?”

”Tidak, tidak apa-apa kok...” sahutku, berusaha menyembunyikan kekecewaan besar di dadaku.

Air mata menggenang di matanya yang semula ceria. ”Apanya yang tidak apa-apa?” ia menggigit bibirnya dan menundukkan kepalanya. ”Padahal kau terjatuh begitu kerasnya tadi...”

”Kak, kau sakit?” Kim Bum memasuki ruangan dan menatapku tajam. ”Kau tidak pernah jatuh separah itu sebelumnya...”

”Tadi pagi aku agak sakit kepala,” jawabku. ”Mungkin karena anemia...” So Eun membalikkan badannya, berusaha menghapus air mata dari wajahnya.

”Mungkin masuk angin, gara-gara meminjamkan jaket padaku kemarin...” sahutnya dengan suara galau.

”Ya ampun, masa aku masuk angin? Sama sekali tidak. Aku hanya agak ceroboh. Mungkin tadi ada gundukan tanah dan aku tidak melihatnya...”

”Kau roboh,” ujar Kim Bum menyela. ”Kau tiba-tiba roboh di tengah kecepatan tinggi. Akibatnya, kau jatuh tersungkur...”

”Aku belum sarapan,” sahutku, berusaha mencari alasan lain.

So Eun terus menyalahkan dirinya, dan aku tidak menginginkan itu. Kim Bum menatapku dengan sorot mata yang mengatakan kalau aku tidak mungkin bisa menipunya.

”Aku tinggal kalian dulu. Aku mau membeli teh hangat. Kau mau, So Eun?” gadis itu menjawab dengan anggukan singkat.
Pintu tertutup dan suasana kembali hening. ”Kurasa aku gagal, ya...” suaraku terdengar tawar, bahkan di tenggorokanku sendiri.

”Kak...” So Eun menatapku dengan matanya, terlihat cemas.

”Maaf ya, So Eun, aku jadi mengecewakanmu...”

”Tidak kok, Kakak masih terlihat luar biasa di mataku...” dengan keras ia menggigit bibirnya, berusaha menahan air matanya.

”Dan terima kasih, karena menggantikanku menangis, So Eun...”

Kali ini So Eun maju dan memeluk kepalaku sampai bersender di bahunya. ”Aku tidak mau melihat wajah Kakak yang seperti itu!” bahunya bergerak naik turun seiring isakan tangisnya. ”Kakak kan juga manusia, tidak apa kalau sesekali menangis!”

”Padahal, aku berniat menyatakan perasaanku kalau aku terpilih...” kubenamkan kepalaku di bahunya. ”Dan aku gagal. Tidak bisa menyatakannya dengan keren...”


─Kim Bum, Seoul, 2009─

”Aku juga menyukai Kak Han Geng...” suara So Eun terdengar pilu dan sekaligus lirih. Pelan kutolehkan kepalaku, menatap ruangan UKS itu.

Kakakku yang biasanya terlihat kuat, hari ini tiba-tiba jatuh dan roboh. Aku tahu, sebagai laki-laki harga dirinya sangat terluka. Ia gagal menunjukkan kemampuannya di hadapan gadis yang disukainya.

Kemudian mereka berciuman. Aku tidak mau melihatnya. Mendengarkan pernyataan cinta mereka saja, hatiku sudah hancur. Kulangkahkan kakiku ke mesin minuman terdekat, dan membeli tiga kaleng teh panas.

Sambil berjalan kembali ke ruangan itu, sebagian hatiku cemburu dan sebagian lagi bersyukur. Akhirnya mereka berdua bisa bersama, itu bagus. Tetapi, bagaimana denganku? Semuanya tidak akan sama lagi mulai sekarang. Tidak ada tempatku di tengah mereka.

”Sorry kalau lama,” kusodorkan minuman itu ke tangan mereka. ”Jadi, ceritanya kalian sudah jadian, nih?” tanyaku sambil tersenyum menggoda.

Otomatis mereka berdua kelihatan salah tingkah. Wajah So Eun memerah sampai ke telinga.

“Tenang, aku sih tidak apa-apa...” jawabku, berusaha menekan perasaanku sendiri. “Malah dari dulu aku gregetan sendiri melihat kalian berdua seperti itu…” kupaksakan sebuah tawa ceria keluar dari bibirku.

“Thanks ya,” ujar Kak Han Geng dengan senyuman tulus. Di matanya sama sekali tidak ada rasa curiga padaku.
So Eun menatapku dengan wajah merah. ”Terima kasih, Kim Bum...” ujarnya terbata-bata.

Dengan susah payah, kutahan nafasku sebelum membalas senyuman mereka.. Aku harus menghapus perasaan ini, sebelum terlambat.


To Be Continued......