I know that phrase for sure
I hear that too many times, and I think I'm totally understood what it means, but I'm wrong... I guess I had it wrong until today, when I finally realize it's meaning
I was there, stood in kitchen, using a knife to cut onions, and hey, I'm just started to stare as my hands moves and cut the onion nicely, I thought, "Hey, it's better than before..."
when I started to see more, I realized that my hands moved better now, I can cut quicker and I can peel better.. yeah, now the phrase really got into my mind, like flowing air...
Practice makes perfect
yeah, i kinda feel "ooh.. so it's the meaning..." and when I remembered those times when I first tried to cut onions, my mum laugh at me, seeing that i cut it by removing so many layers... and, "that's too big, honey" she said those time
I feel I understand the meaning right now...
First time reading an English Book, it tooks an hour for me to translated it, another hour to read it again to understand the meaning.. but now, I love reading e-book just like the one, titled 'Animorphs' from K.A. Applegate.. full English, 52 books.. it's just... something like practice...
Do it again and again...
keep trying while moving forward and making a progress... that's how it's done..
and when u realized, u look back at your very first experience, and seeing how much you have progressed,
so, that's all..
and i guess, we, as human never stop practice... always, it's makes perfect ^^
Senin, 12 Juli 2010
my opinion about practice makes perfect
Rabu, 07 Juli 2010
Fanfic The Future and the Past 42
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
FORTY SECOND SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Young Mishil: UEE: Kim Yoo Jin (Mishil legal daughter)
Mishil: Mishil: Go Hyun Jung (memakai nama asli di FF)
Bo Jong: Baek Do Bin : (memakai nama asli di FF)
tita: Park Ri chan
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─
Penghujung tahun 2008 sudah di depan mata. Perasaanku aneh, antara bahagia sekaligus kehilangan. Ada yang kulupakan, tetapi aku tidak mampu mengingatnya. Masa laluku, aku bisa mengingatnya. Dan Yo Won di sampingku, sahabatku bersamaku, keluargaku mendukungku. Lantas, apa yang hilang dariku?
”Hari ini pun udaranya cerah sekali..” tawa Yo Won.
Kami berjalan bergandengan di tengah udara musim dingin yang serasa menusuk tulang. Nafas putih dan hidung Yo Won memerah karena udara dingin, aku tidak bisa berhenti mencubitnya dan wajah sebalnya justru sangat manis.
“Apa yang kau pikirkan, Nam Gil?” tanya Yo Won sambil mengetatkan pegangan tangannya.
Aku tersenyum membalas pandangannya. ”Terlalu banyak hal baik terjadi akhir-akhir ini. Dan kurasa, ada yang kulewatkan. Atau kulupakan. Atau apapun itu...”
”Maksudmu... semacam firasat buruk? Nam Gil, tahun 2008 hampir berlalu dalam hitungan jari, dan... kau punya firasat buruk tentang tahun depan?”
”Begitulah,” sahutku enteng. ”Sudahlah, kau jangan ikut memikirkannya. Kurasa aku terlalu banyak pikiran...” ujarku lagi. Tetapi.... firasat aneh itu tetap bertahan di sudut hatiku. Ada yang tidak beres, dan aku melupakannya.
Keesokan paginya, firasat burukku menjadi kenyataan.
”Secangkir kopi di pagi hari...” ujar Mamaku. Hyun Jung sambil meminum kopinya. ”Enak, seperti biasanya...” ujarnya sambil tersenyum menenangkan. Aku membalas senyumnya pelan dan menyesap kopiku.
“Pagi, Ma... Pagi, Kak...” Yoo Jin turun sambil menyeret langkahnya. Matanya masih tampak mengantuk. “Uh... aku juga mau minum kopi...” ia mengambil gelas dan mengisinya. ”Semalaman aku bergadang untuk belajar...”
“Ada kemajuan rupanya,” canda Mama. Kami tertawa bersamaan. Yoo Jin memang paling ogah belajar. Tetapi, karena pacarnya Sang Wook sudah pasti diterima di universitas top, rupanya ia sadar harus belajar demi memasuki kampus yang sama.
Tiba-tiba terdengar kegaduhan dari luar teras. Aku, Yoo Jin dan Mama berpandangan bingung. ”Nona, tunggu, jangan masuk sembarangan!!” seru seorang sekuriti. Kali ini kegaduhan tampaknya semakin tidak terkontrol.
”Biar aku yang keluar, Ma..” diikuti anggukan Mama, aku berjalan keluar, dan tepat saat langkahku mencapai pintu, seseorang bertabrakan denganku.
”Nam Gil!!” mata wanita yang bertabrakan denganku langsung berkaca-kaca saat melihatku.
”Nona Park Ri Chan...” seruku dengan suara tertahan. ”Ada apa? Tidak biasanya kau datang....”
”Tolonglah aku, maksudku... tolonglah... Do Bin...” ia mulai terlihat kacau dan gelisah. Tangannya yang mencengkeram lengan bajuku terasa gemetar.
”Apa yang bisa kulakukan?” tanyaku, bingung. ”Tolong ceritakan apa yang terjadi sebenarnya...”
Bibir Park Ri Chan bergerak dalam gemetar, menyuarakan rentetan kalimat yang panjang... cerita yang seolah membiusku... dan kemudian, satu hal yang kusadari. Firasat burukku telah menjadi kenyataan. Secepat ini!!
─Lee Yo Won, Gyeongju, 2008─
”Pagi Yo Won...”
Tidak biasanya Nam Gil menjemputku pukul enam lewat. Biasanya ia selalu sangat tepat waktu. Dan tidak biasanya wajahnya semurung ini. Senyumnya sama sekali tidak terlihat wajar di mataku.
”Kau sakit, Nam Gil?” tanyaku saat melepaskan helmku dan menatapnya bingung.
”Tidak,” sahutnya sambil tersenyum kikuk. ”Hm... kalau bisa, pulang nanti aku mau bicara...” suaranya terdengar kaku.
Aku memandangi sosok punggungnya yang berjalan menjauh tanpa mampu berkomentar apapun. Hanya satu kalimat yang terus berulang dalam otakku. Kurasa, firasat buruknya telah menjadi kenyataan.
”Kau mau bicara tentang apa?” tanyaku, sambil berusaha meminum tehku dengan santai. Kami berada di kafe yang tidak jauh dari rumahku.
”Aku tidak tahu harus cerita dari mana...” matanya terus memandang uap panas dari secangkir kopi di depannya. "Kurasa akan kumulai dari pertemuanku dan Sung Pil.. dengan pria bernama Baek Do Bin...”
Dadaku bergemuruh pelan. Tadinya aku merasa ketakutan sendiri. Jangan-jangan, ada wanita lain? Tetapi, syukurlah ternyata bukan. Seorang pria. Dan pria itu... aku pernah melihatnya di... di mana ya?
”Baek Do Bin itu... aku pernah bertemu, tidak?”
”Pernah, di pemakaman Sung Pil...” jawab Nam Gil, berusaha tampak tenang. Tetapi, ia jelas tidak mampu menekan kesedihan dalam matanya saat nama Sung Pil terucap di bibirnya.
”Ceritakan semuanya padaku...” pintaku.
─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─
”Dan lusa, Yeom Jong akhirnya dibebaskan dari penjara di Rusia. Dibebaskan, hanya untuk kembali menjadi buronan. Ia pergi ke kediaman Do Bin kemarin, dan menembaknya. Untungnya luput, dan pria itu dilarikan ke rumah sakit dengan pendarahan luar biasa di bagian perut. Kata tunangannya, kondisinya sangat kritis...”
Kutatap Yo Won yang terlihat bingung. Wajahnya pucat, dan ketika kugenggam, tangannya terasa sangat dingin. ”Mereka minta aku membantunya... membantu menyusun rencana agar Yeom Jong kembali masuk penjara...”
”Kau... tidak bisa dilarang, bukan?” tanya Yo Won dengan mata pedih. Ia menatapku langsung, membuatku merasa serba salah.
”Yo Won, bukannya begitu, tetapi jasa mereka sangat besar bagiku. Dan... mereka sahabatku...”
”Aku terlalu memahamimu, Nam Gil...” Yo Won memadangku lekat-lekat. ”Kau selalu mementingkan temanmu, dan mementingkan keselamatan mereka dibanding nyawamu sendiri...”
Aku terdiam dan tidak mampu membalas semua kalimatnya. Itu benar, darahku menggelegak panas tiap kali mengingat Yeom Jong-lah yang membunuh Sung Pil. Walau secara tidak langsung, aku juga menyebabkan kematiannya.
”Kau pasti masih menyalahkan dirimu atas kematian Sung Pil...” tuduh Yo Won. ”Kau pikir Sung Pil bahagia melihatmu menderita sendirian begini? Kenapa begitu lama kau menyimpannya sendiri?”
”Aku tidak mau melibatkanmu lebih jauh dalam masalahku...”
”Kau tidak bohong ketika kau bilang mencintaiku. Tetapi, apa artinya kalau kita hanya berbagi kebahagiaan? Semua itu akan menjadi sesuatu yang semu... aku ada di sampingmu, selalu, bahkan di saat orang lain menjauh darimu...”
Kuraih tangan Yo Won. ”Aku tahu, maafkan aku...” ia memaksakan senyumannya di depanku.
”Apa rencanamu?” tanyanya lagi.
”Kurasa aku akan meminta bantuan teman-temanku dulu...” ujarku sambil berusaha memikirkan sebuah rencana cemerlang. ”Saat ini otakku masih buntu....”
Sejak bersama Yo Won, otakku kehilangan daya kekejamannya. Aku tidak tega menghianati kepercayaannya. Kurasa, ucapan Yong Soo yang mengatakan kalau sifatku sudah banyak berubah bukanlah kelakar.
Itu benar, sangat benar... Kim Nam Gil bukan lagi yang dulu. Yang selalu memandang dengan kaca mata hitam, kecurigaan, benci dan dendam. Smua itu disebabkan karena tiga orang terpenting dalam hidupku. Mereka yang mengubahku. Papaku, Sung Pil, dan Yo Won.
Tentu saja, tanpa dukungan sahabatku, dan keberadaan keluargaku, aku bukanlah siapapun. Tetapi, Yeom Jong berbeda denganku. Ia tidak punya siapapun. Ia hidup dalam dendam dan kecurigaan. Sungguh menyedihkan.
”Apa yang kau pikirkan, Nam Gil?” tanya Yo Won bingung.
”Tidak, hanya saja...” aku tersenyum kikuk sebelum berkata, ”Kurasa aku jauh lebih beruntung daripada Yeom Jong. Ia selalu hidup dalam bayangan gelap... Cukup menyedihkan...”
Yo Won tersenyum kecil sambil memandangku. ”Maaf, pikiranku kekanakan, bukan? Haha.. memang aneh, bisa-bisanya aku memikirkan hal semacam itu...”
”Tidak. Aku suka kok dengan jalan pikiranmu itu, Nam Gil...” ujar Yo Won sambil meremas tanganku, memompa jantungku pelan. ”Kau sudah lebih dewasa...” ujarnya dengan senyuman tulus. ”Seandainya Yeom Jong punya teman sepertimu...”
”Rasanya aneh kalau begitu...” dan memoriku tiba-tiba mengisi celah otakku. ”Kau kan ingat, dia juga yang dulu membuat kita berpisah. Rasanya aku membencinya, sekaligus kasihan padanya...”
”Aku tahu, kalau soal benci, aku juga...” Yo Won menutup matanya dan mencoba menekan perasaannya. ”Tetapi, yah, dia manusia juga. Semua manusia punya kesempatan untuk berubah. Iblis sekalipun bisa berubah menjadi malaikat...”
Aku hendak bercanda da mengatakan kalau Yeom Jong lebih dari sekedar iblis karena dia adalah Rajanya, tetapi ekspresi Yo Won membuatku bungkam. ”Aku akan mencoba mencari jalan keluarnya... Mungkin, ia masih bisa diselamatkan....”
-to be continued-
FORTY SECOND SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Young Mishil: UEE: Kim Yoo Jin (Mishil legal daughter)
Mishil: Mishil: Go Hyun Jung (memakai nama asli di FF)
Bo Jong: Baek Do Bin : (memakai nama asli di FF)
tita: Park Ri chan
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─
Penghujung tahun 2008 sudah di depan mata. Perasaanku aneh, antara bahagia sekaligus kehilangan. Ada yang kulupakan, tetapi aku tidak mampu mengingatnya. Masa laluku, aku bisa mengingatnya. Dan Yo Won di sampingku, sahabatku bersamaku, keluargaku mendukungku. Lantas, apa yang hilang dariku?
”Hari ini pun udaranya cerah sekali..” tawa Yo Won.
Kami berjalan bergandengan di tengah udara musim dingin yang serasa menusuk tulang. Nafas putih dan hidung Yo Won memerah karena udara dingin, aku tidak bisa berhenti mencubitnya dan wajah sebalnya justru sangat manis.
“Apa yang kau pikirkan, Nam Gil?” tanya Yo Won sambil mengetatkan pegangan tangannya.
Aku tersenyum membalas pandangannya. ”Terlalu banyak hal baik terjadi akhir-akhir ini. Dan kurasa, ada yang kulewatkan. Atau kulupakan. Atau apapun itu...”
”Maksudmu... semacam firasat buruk? Nam Gil, tahun 2008 hampir berlalu dalam hitungan jari, dan... kau punya firasat buruk tentang tahun depan?”
”Begitulah,” sahutku enteng. ”Sudahlah, kau jangan ikut memikirkannya. Kurasa aku terlalu banyak pikiran...” ujarku lagi. Tetapi.... firasat aneh itu tetap bertahan di sudut hatiku. Ada yang tidak beres, dan aku melupakannya.
Keesokan paginya, firasat burukku menjadi kenyataan.
”Secangkir kopi di pagi hari...” ujar Mamaku. Hyun Jung sambil meminum kopinya. ”Enak, seperti biasanya...” ujarnya sambil tersenyum menenangkan. Aku membalas senyumnya pelan dan menyesap kopiku.
“Pagi, Ma... Pagi, Kak...” Yoo Jin turun sambil menyeret langkahnya. Matanya masih tampak mengantuk. “Uh... aku juga mau minum kopi...” ia mengambil gelas dan mengisinya. ”Semalaman aku bergadang untuk belajar...”
“Ada kemajuan rupanya,” canda Mama. Kami tertawa bersamaan. Yoo Jin memang paling ogah belajar. Tetapi, karena pacarnya Sang Wook sudah pasti diterima di universitas top, rupanya ia sadar harus belajar demi memasuki kampus yang sama.
Tiba-tiba terdengar kegaduhan dari luar teras. Aku, Yoo Jin dan Mama berpandangan bingung. ”Nona, tunggu, jangan masuk sembarangan!!” seru seorang sekuriti. Kali ini kegaduhan tampaknya semakin tidak terkontrol.
”Biar aku yang keluar, Ma..” diikuti anggukan Mama, aku berjalan keluar, dan tepat saat langkahku mencapai pintu, seseorang bertabrakan denganku.
”Nam Gil!!” mata wanita yang bertabrakan denganku langsung berkaca-kaca saat melihatku.
”Nona Park Ri Chan...” seruku dengan suara tertahan. ”Ada apa? Tidak biasanya kau datang....”
”Tolonglah aku, maksudku... tolonglah... Do Bin...” ia mulai terlihat kacau dan gelisah. Tangannya yang mencengkeram lengan bajuku terasa gemetar.
”Apa yang bisa kulakukan?” tanyaku, bingung. ”Tolong ceritakan apa yang terjadi sebenarnya...”
Bibir Park Ri Chan bergerak dalam gemetar, menyuarakan rentetan kalimat yang panjang... cerita yang seolah membiusku... dan kemudian, satu hal yang kusadari. Firasat burukku telah menjadi kenyataan. Secepat ini!!
─Lee Yo Won, Gyeongju, 2008─
”Pagi Yo Won...”
Tidak biasanya Nam Gil menjemputku pukul enam lewat. Biasanya ia selalu sangat tepat waktu. Dan tidak biasanya wajahnya semurung ini. Senyumnya sama sekali tidak terlihat wajar di mataku.
”Kau sakit, Nam Gil?” tanyaku saat melepaskan helmku dan menatapnya bingung.
”Tidak,” sahutnya sambil tersenyum kikuk. ”Hm... kalau bisa, pulang nanti aku mau bicara...” suaranya terdengar kaku.
Aku memandangi sosok punggungnya yang berjalan menjauh tanpa mampu berkomentar apapun. Hanya satu kalimat yang terus berulang dalam otakku. Kurasa, firasat buruknya telah menjadi kenyataan.
”Kau mau bicara tentang apa?” tanyaku, sambil berusaha meminum tehku dengan santai. Kami berada di kafe yang tidak jauh dari rumahku.
”Aku tidak tahu harus cerita dari mana...” matanya terus memandang uap panas dari secangkir kopi di depannya. "Kurasa akan kumulai dari pertemuanku dan Sung Pil.. dengan pria bernama Baek Do Bin...”
Dadaku bergemuruh pelan. Tadinya aku merasa ketakutan sendiri. Jangan-jangan, ada wanita lain? Tetapi, syukurlah ternyata bukan. Seorang pria. Dan pria itu... aku pernah melihatnya di... di mana ya?
”Baek Do Bin itu... aku pernah bertemu, tidak?”
”Pernah, di pemakaman Sung Pil...” jawab Nam Gil, berusaha tampak tenang. Tetapi, ia jelas tidak mampu menekan kesedihan dalam matanya saat nama Sung Pil terucap di bibirnya.
”Ceritakan semuanya padaku...” pintaku.
─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─
”Dan lusa, Yeom Jong akhirnya dibebaskan dari penjara di Rusia. Dibebaskan, hanya untuk kembali menjadi buronan. Ia pergi ke kediaman Do Bin kemarin, dan menembaknya. Untungnya luput, dan pria itu dilarikan ke rumah sakit dengan pendarahan luar biasa di bagian perut. Kata tunangannya, kondisinya sangat kritis...”
Kutatap Yo Won yang terlihat bingung. Wajahnya pucat, dan ketika kugenggam, tangannya terasa sangat dingin. ”Mereka minta aku membantunya... membantu menyusun rencana agar Yeom Jong kembali masuk penjara...”
”Kau... tidak bisa dilarang, bukan?” tanya Yo Won dengan mata pedih. Ia menatapku langsung, membuatku merasa serba salah.
”Yo Won, bukannya begitu, tetapi jasa mereka sangat besar bagiku. Dan... mereka sahabatku...”
”Aku terlalu memahamimu, Nam Gil...” Yo Won memadangku lekat-lekat. ”Kau selalu mementingkan temanmu, dan mementingkan keselamatan mereka dibanding nyawamu sendiri...”
Aku terdiam dan tidak mampu membalas semua kalimatnya. Itu benar, darahku menggelegak panas tiap kali mengingat Yeom Jong-lah yang membunuh Sung Pil. Walau secara tidak langsung, aku juga menyebabkan kematiannya.
”Kau pasti masih menyalahkan dirimu atas kematian Sung Pil...” tuduh Yo Won. ”Kau pikir Sung Pil bahagia melihatmu menderita sendirian begini? Kenapa begitu lama kau menyimpannya sendiri?”
”Aku tidak mau melibatkanmu lebih jauh dalam masalahku...”
”Kau tidak bohong ketika kau bilang mencintaiku. Tetapi, apa artinya kalau kita hanya berbagi kebahagiaan? Semua itu akan menjadi sesuatu yang semu... aku ada di sampingmu, selalu, bahkan di saat orang lain menjauh darimu...”
Kuraih tangan Yo Won. ”Aku tahu, maafkan aku...” ia memaksakan senyumannya di depanku.
”Apa rencanamu?” tanyanya lagi.
”Kurasa aku akan meminta bantuan teman-temanku dulu...” ujarku sambil berusaha memikirkan sebuah rencana cemerlang. ”Saat ini otakku masih buntu....”
Sejak bersama Yo Won, otakku kehilangan daya kekejamannya. Aku tidak tega menghianati kepercayaannya. Kurasa, ucapan Yong Soo yang mengatakan kalau sifatku sudah banyak berubah bukanlah kelakar.
Itu benar, sangat benar... Kim Nam Gil bukan lagi yang dulu. Yang selalu memandang dengan kaca mata hitam, kecurigaan, benci dan dendam. Smua itu disebabkan karena tiga orang terpenting dalam hidupku. Mereka yang mengubahku. Papaku, Sung Pil, dan Yo Won.
Tentu saja, tanpa dukungan sahabatku, dan keberadaan keluargaku, aku bukanlah siapapun. Tetapi, Yeom Jong berbeda denganku. Ia tidak punya siapapun. Ia hidup dalam dendam dan kecurigaan. Sungguh menyedihkan.
”Apa yang kau pikirkan, Nam Gil?” tanya Yo Won bingung.
”Tidak, hanya saja...” aku tersenyum kikuk sebelum berkata, ”Kurasa aku jauh lebih beruntung daripada Yeom Jong. Ia selalu hidup dalam bayangan gelap... Cukup menyedihkan...”
Yo Won tersenyum kecil sambil memandangku. ”Maaf, pikiranku kekanakan, bukan? Haha.. memang aneh, bisa-bisanya aku memikirkan hal semacam itu...”
”Tidak. Aku suka kok dengan jalan pikiranmu itu, Nam Gil...” ujar Yo Won sambil meremas tanganku, memompa jantungku pelan. ”Kau sudah lebih dewasa...” ujarnya dengan senyuman tulus. ”Seandainya Yeom Jong punya teman sepertimu...”
”Rasanya aneh kalau begitu...” dan memoriku tiba-tiba mengisi celah otakku. ”Kau kan ingat, dia juga yang dulu membuat kita berpisah. Rasanya aku membencinya, sekaligus kasihan padanya...”
”Aku tahu, kalau soal benci, aku juga...” Yo Won menutup matanya dan mencoba menekan perasaannya. ”Tetapi, yah, dia manusia juga. Semua manusia punya kesempatan untuk berubah. Iblis sekalipun bisa berubah menjadi malaikat...”
Aku hendak bercanda da mengatakan kalau Yeom Jong lebih dari sekedar iblis karena dia adalah Rajanya, tetapi ekspresi Yo Won membuatku bungkam. ”Aku akan mencoba mencari jalan keluarnya... Mungkin, ia masih bisa diselamatkan....”
-to be continued-
Fanfic The Future and the Past 41
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
FORTY FIRST SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
Yushin: Uhm Tae Wong, Kim Tae Wong as KNG brother
Kim Yong Soo : Park Jung Chul(nama asli): Jung Yong Soo (nama di FF)
Seol Won : Jun Noh Min (Guru olahraga)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
─Lee Yo Won, Gyeongju, 2008─
”Bagaimana perasaanmu?” tanya pria di sampingku.
Masih acara bebas. Kami bergabung dengan rombongan, berusaha menikmati semuanya, berusaha santai ketika difoto. Tetapi, rupanya benar kata orang. Sulit sekali menipu diri sendiri. Perasaanku masih luar biasa galau.
“Kak Nam Gil, Yo Won! Ayo, lihat ke sini!” tukas Shin Woo tiba-tiba. Ia memotret kami dengan kamera digitalnya, kemudian kembali memotret anak lain dan pemandangan yang menurutnya keren.
“Hei, aku belum memotret Ye Jin!” tukasnya kaget. “Kalian lihat dimana Ye Jin? Pacarnya juga belum kufoto...”
”Biar kami cari dulu...” ujar Nam Gil sambil menarik tanganku. Ia menelepon Yong Soo tetapi tidak ada yang mengangkatnya. ”Mungkin mereka juga sudah menemukannya...” senyuman Nam Gil terlihat perih.
”Menemukan apa?” tanyaku, bingung.
”Jati diri mereka di masa lalu...” jawabnya.
Aku mengangguk dan berjalan dalam genggaman tangannya. Dulu, tidak memungkinkan bagi kami untuk berjalan bersama seperti ini. Tidak memungkinkan baginya untuk memanggil namaku. Dan...
”Yo Won? Kenapa menangis lagi?”
Mendengarnya memanggil namaku, hatiku tambah perih. Dulu... hanya untuk memanggil namaku, ia menjadi penghianat dan ditusuk mati. Rasa panas tertahan dan membakar tenggorokanku. ”Dulu... kau bahkan nggak bisa memanggilku...” ujarku kacau. ”Maaf ya, Nam Gil...”
”Sssh... sudahlah, mari kita lupakan yang lalu...” Nam Gil tertawa sambil menepuk pipiku dan menghapus air mataku dengan jemarinya ”Sekarang aku sudah bisa menghapus air mata di pipimu.. Dan aku masih hidup.. bukankah ini sangat luar biasa?”
”Ya,” anggukku. Kami berjalan melewati tempat di mana kami sering kali berpapasan dan beberapa kekonyolan Bi Dam masih jelas terasa di depanku. Itu bukan mimpi. Seperti sebuah kenangan pahit dan sekaligus indah. Sebuah pedang bermata dua. Tetapi, sesuai kata Nam Gil, tidak ada yang perlu disesalkan.
”Bunga itu sudah tidak ada, ya?” celetuk Nam Gil tiba-tiba. Aku memandang wajahnya dan tertawa. Bunga yang dulu dia berikan padaku? Mana mungkin masih ada sampai sekarang? Ia tersenyum, tampak menikmati tawaku.
”Ada apa?” tanyaku, malu.
”Hm... ada satu hal yang membuatku penasaran...” ujarnya. Aku menuntutnya bercerita dengan tatapanku, tetapi ia malah tertawa dan mengelak. ”Sudahlah, tidak perlu...”
”Katakan,” ujarku tegas.
Nam Gil tertawa melihatku. ”Kau masih suka main perintah rupanya, sekarang kau bukan ratu lagi...” ujarnya sambil menggeleng. ”Yah, aku hanya penasaran soal... Yu Shin. Kim Yu Shin...”
”Kenapa dengannya?” entah bagaimana aku punya feeling akan tidak menyukai apapun yang ia katakan.
─Kim Nam Gil, Gyeongju, 2008─
”Bagaimana perasaanmu... pada Kak Tae Wong? Apa kau...” aku berusaha memilih kalimatku dengan hati-hati. ”Apa... aku tidak menjadi pengganggu?”
Emosi Yo Won kelihatannya naik sampai ke kepala. ”Nam Gil, kau meragukanku?” tanyanya, mulai merasa sewot dan marah.
”Tidak, maka itu kukatakan tidak jadi tadi.. tapi, kau memaksaku mengatakannya...” sahutku, berusaha tampak santai. ”Sudahlah, ayo kita cari mereka lagi...” aku meraih tangannya dan membawanya berjalan ke tempat yang hampir setiap hari ia kunjungi.
Kuil tempat Chen Myeong dimakamkan.
”Benar kan, itu mereka...” ujarku sambil tersenyum bersemangat ke arah Yo Won. ”He...” suaraku tertahan di tenggorokan, begitu pula suara Yo Won.
Ye Jin, adalah Chen Myeong, kakak perempuan Deok Man, sekaligus kakak kembarnya. Semua ingatan itu berkelebat di benakku. Dan Yong Soo, sahabatku... kelihatannya adalah suaminya yang sudah meninggal dulu. Mereka berciuman mesra di depan kuil, benar-benar ciuman yang luar biasa.
”Ngg... mmm...” kami berdua jadi salah tingkah saat melihat adegan yang beberapa waktu lalu kami lakukan. ”Kita tunggu dulu di sini, ya...” ujarku dengan tenggorokan kering.
”Oke, tidak masalah...” jawab Yo Won, dengan wajah yang juga memerah, tidak jauh berbeda dari wajahku.
”Kalau dipikir, semuanya aneh sekali bukan?” tanyaku sambil memposisikan diriku di sebelah Yo Won. . ”Semua pertemuan kita, semua jalinan takdir, dan semua kenangan yang menempuh jarak ratusan tahun... Sungguh luar biasa...”
”Aku... tidak mau kau meragukanku lagi, Nam Gil.. selamanya... selama apapun...” ujar Yo Won sambil memandang diam rerumputan di depannya.
”Tidak akan, aku janji...” ujarku sambil meraih tangannya dan menciumnya.
”Hei, kalian di sini rupanya!” seru Kak Tae Wong sambil setengah berlari ke arah kami. Aku tersentak kaget dan buru-buru menariknya ke balik semak-semak tempatku dan Yo Won sembunyi.
”Aduh, Nam Gil, ada apa?” tanyanya, kaget.
”Kau tidka lihat, Ye Jin dan Yong Soo sedang pacaran!?” tukasku, kesal. ia melongo dari balik semak-semak dan dengan segera menunduk malu. Wajahnya memerah sampai telinga.
”Aduh, hampir saja aku mengganggu Yang Mulia Putri Chen Myeong...” ujarnya sambil tersenyum kasual. Aku tertawa bersamanya. Ia terdiam sejenak saat melihat Yo Won.
”Yang Mulia Ratu...” tukasnya, lalu ia menutup mulutnya kaget. ”Bukan, maksudku... Yo Won...”
”Tidak apa-apa Kak Tae Wong...” sahut Yo Won sambil tertawa geli. ”Kau masih saja sekaku dulu...”
Aku memandang dua sosok di depanku dengan hati terluka. Dulu pun, di dalam perpustakaan, hanya ada tawa mereka, pertukaran pandangan di antara mereka. Dan aku.. hanya penonton.
Nam Gil! Sadarlah! Bukankah Yo Won memintamu mempercayainya? Bukankah ia memintamu tidak meragukannya?! Dan apapun yang terjadi.. sekarang Yo Won adalah pacarku, ya, pacarku!
”Kau... tidak menyesal kan karena Dae Chi bukan bagian dari masa lalu kita?” tanyaku tiba-tiba. Gumpalan pertanyaan itu muncul entah dari mana.
”Tentu saja tidak,” jawab Kak Tae Wong tegas. ”Aku tidak membutuhkan luka lama.. Dan Dae Chi, ia akan menjadi masa depan untukku...” jawabannya terdengar mantap dan yakin. Dan tatapan matanya masih sama. Sama seperti tatapan mata Panglima Kim Yu Shin saat memimpin tentaranya maju berperang.
Kulihat Yo Won tersenyum dan mengacungkan jempolnya ke arah Kak Tae Wong. ”Buat Dae Chi bahagia!” serunya senang. Dan... akhirnya aku bisa melihatnya. Tatapan mata Yo Won pada Tae Wong adalah tatapan hormat, dan begitu pula sebaliknya. Kurasa perasaanku selama ini telah membutakanku.
Bisa kurasakan tangan Yo Won meremas tanganku pelan. Kami bertatapan dan tersenyum. ”Kurasa mereka sudah selesai pacaran sekarang,” ujarnya sambil tersenyum manis.
”Biar kupanggilkan!” seru Kak Tae Wong sambil bangkit dari duduknya. ”Hai! Putri Chen Myeong dan Bangsawan Yong Soo!!”
Yo Won bangkit dan berjalan di sampingku. Bisa kulihat wajah Ye Jin dan temanku memerah mendengar nama masa lalu mereka disebut. Aneh dan kacau. Tidak kusangka dunia demikian sempitnya...
”Hei, Yo Won,” pelan aku berbisik di sampingnya. Ia menoleh, dan bisa kurasakan luapan emosi kebahagiaan mendorongku untuk memeluknya dan menciumnya, tapi tidak, jangan sekarang. ”Aku ingin... melamarmu, begitu kuliahku selesai nanti... Eh, maksudku, aku dapat pekerjaan tetap...”
Wajah Yo Won memerah sampai telinga. Ia mengangguk malu dan menarik lengan bajuku, memintaku menunduk agar ia bisa berbisik di telingaku.
”Aku akan menunggumu....” itu jawabannya. Artinya, iya kan? Oh, jangan bilang tidak! Kenapa sih, jawabannya masih tidak jelas? Ya sudahlah, nanti toh akan kukatakan lagi begitu saatnya tiba.
Pucuk-pucuk daun muda terlihat indah di hamparan tanah Gyeong Ju saat itu. Hari ini dan seterusnya, semuanya adalah memori yang tidak akan terlupakan. Selamanya.
-to be continued-
FORTY FIRST SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
Yushin: Uhm Tae Wong, Kim Tae Wong as KNG brother
Kim Yong Soo : Park Jung Chul(nama asli): Jung Yong Soo (nama di FF)
Seol Won : Jun Noh Min (Guru olahraga)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
─Lee Yo Won, Gyeongju, 2008─
”Bagaimana perasaanmu?” tanya pria di sampingku.
Masih acara bebas. Kami bergabung dengan rombongan, berusaha menikmati semuanya, berusaha santai ketika difoto. Tetapi, rupanya benar kata orang. Sulit sekali menipu diri sendiri. Perasaanku masih luar biasa galau.
“Kak Nam Gil, Yo Won! Ayo, lihat ke sini!” tukas Shin Woo tiba-tiba. Ia memotret kami dengan kamera digitalnya, kemudian kembali memotret anak lain dan pemandangan yang menurutnya keren.
“Hei, aku belum memotret Ye Jin!” tukasnya kaget. “Kalian lihat dimana Ye Jin? Pacarnya juga belum kufoto...”
”Biar kami cari dulu...” ujar Nam Gil sambil menarik tanganku. Ia menelepon Yong Soo tetapi tidak ada yang mengangkatnya. ”Mungkin mereka juga sudah menemukannya...” senyuman Nam Gil terlihat perih.
”Menemukan apa?” tanyaku, bingung.
”Jati diri mereka di masa lalu...” jawabnya.
Aku mengangguk dan berjalan dalam genggaman tangannya. Dulu, tidak memungkinkan bagi kami untuk berjalan bersama seperti ini. Tidak memungkinkan baginya untuk memanggil namaku. Dan...
”Yo Won? Kenapa menangis lagi?”
Mendengarnya memanggil namaku, hatiku tambah perih. Dulu... hanya untuk memanggil namaku, ia menjadi penghianat dan ditusuk mati. Rasa panas tertahan dan membakar tenggorokanku. ”Dulu... kau bahkan nggak bisa memanggilku...” ujarku kacau. ”Maaf ya, Nam Gil...”
”Sssh... sudahlah, mari kita lupakan yang lalu...” Nam Gil tertawa sambil menepuk pipiku dan menghapus air mataku dengan jemarinya ”Sekarang aku sudah bisa menghapus air mata di pipimu.. Dan aku masih hidup.. bukankah ini sangat luar biasa?”
”Ya,” anggukku. Kami berjalan melewati tempat di mana kami sering kali berpapasan dan beberapa kekonyolan Bi Dam masih jelas terasa di depanku. Itu bukan mimpi. Seperti sebuah kenangan pahit dan sekaligus indah. Sebuah pedang bermata dua. Tetapi, sesuai kata Nam Gil, tidak ada yang perlu disesalkan.
”Bunga itu sudah tidak ada, ya?” celetuk Nam Gil tiba-tiba. Aku memandang wajahnya dan tertawa. Bunga yang dulu dia berikan padaku? Mana mungkin masih ada sampai sekarang? Ia tersenyum, tampak menikmati tawaku.
”Ada apa?” tanyaku, malu.
”Hm... ada satu hal yang membuatku penasaran...” ujarnya. Aku menuntutnya bercerita dengan tatapanku, tetapi ia malah tertawa dan mengelak. ”Sudahlah, tidak perlu...”
”Katakan,” ujarku tegas.
Nam Gil tertawa melihatku. ”Kau masih suka main perintah rupanya, sekarang kau bukan ratu lagi...” ujarnya sambil menggeleng. ”Yah, aku hanya penasaran soal... Yu Shin. Kim Yu Shin...”
”Kenapa dengannya?” entah bagaimana aku punya feeling akan tidak menyukai apapun yang ia katakan.
─Kim Nam Gil, Gyeongju, 2008─
”Bagaimana perasaanmu... pada Kak Tae Wong? Apa kau...” aku berusaha memilih kalimatku dengan hati-hati. ”Apa... aku tidak menjadi pengganggu?”
Emosi Yo Won kelihatannya naik sampai ke kepala. ”Nam Gil, kau meragukanku?” tanyanya, mulai merasa sewot dan marah.
”Tidak, maka itu kukatakan tidak jadi tadi.. tapi, kau memaksaku mengatakannya...” sahutku, berusaha tampak santai. ”Sudahlah, ayo kita cari mereka lagi...” aku meraih tangannya dan membawanya berjalan ke tempat yang hampir setiap hari ia kunjungi.
Kuil tempat Chen Myeong dimakamkan.
”Benar kan, itu mereka...” ujarku sambil tersenyum bersemangat ke arah Yo Won. ”He...” suaraku tertahan di tenggorokan, begitu pula suara Yo Won.
Ye Jin, adalah Chen Myeong, kakak perempuan Deok Man, sekaligus kakak kembarnya. Semua ingatan itu berkelebat di benakku. Dan Yong Soo, sahabatku... kelihatannya adalah suaminya yang sudah meninggal dulu. Mereka berciuman mesra di depan kuil, benar-benar ciuman yang luar biasa.
”Ngg... mmm...” kami berdua jadi salah tingkah saat melihat adegan yang beberapa waktu lalu kami lakukan. ”Kita tunggu dulu di sini, ya...” ujarku dengan tenggorokan kering.
”Oke, tidak masalah...” jawab Yo Won, dengan wajah yang juga memerah, tidak jauh berbeda dari wajahku.
”Kalau dipikir, semuanya aneh sekali bukan?” tanyaku sambil memposisikan diriku di sebelah Yo Won. . ”Semua pertemuan kita, semua jalinan takdir, dan semua kenangan yang menempuh jarak ratusan tahun... Sungguh luar biasa...”
”Aku... tidak mau kau meragukanku lagi, Nam Gil.. selamanya... selama apapun...” ujar Yo Won sambil memandang diam rerumputan di depannya.
”Tidak akan, aku janji...” ujarku sambil meraih tangannya dan menciumnya.
”Hei, kalian di sini rupanya!” seru Kak Tae Wong sambil setengah berlari ke arah kami. Aku tersentak kaget dan buru-buru menariknya ke balik semak-semak tempatku dan Yo Won sembunyi.
”Aduh, Nam Gil, ada apa?” tanyanya, kaget.
”Kau tidka lihat, Ye Jin dan Yong Soo sedang pacaran!?” tukasku, kesal. ia melongo dari balik semak-semak dan dengan segera menunduk malu. Wajahnya memerah sampai telinga.
”Aduh, hampir saja aku mengganggu Yang Mulia Putri Chen Myeong...” ujarnya sambil tersenyum kasual. Aku tertawa bersamanya. Ia terdiam sejenak saat melihat Yo Won.
”Yang Mulia Ratu...” tukasnya, lalu ia menutup mulutnya kaget. ”Bukan, maksudku... Yo Won...”
”Tidak apa-apa Kak Tae Wong...” sahut Yo Won sambil tertawa geli. ”Kau masih saja sekaku dulu...”
Aku memandang dua sosok di depanku dengan hati terluka. Dulu pun, di dalam perpustakaan, hanya ada tawa mereka, pertukaran pandangan di antara mereka. Dan aku.. hanya penonton.
Nam Gil! Sadarlah! Bukankah Yo Won memintamu mempercayainya? Bukankah ia memintamu tidak meragukannya?! Dan apapun yang terjadi.. sekarang Yo Won adalah pacarku, ya, pacarku!
”Kau... tidak menyesal kan karena Dae Chi bukan bagian dari masa lalu kita?” tanyaku tiba-tiba. Gumpalan pertanyaan itu muncul entah dari mana.
”Tentu saja tidak,” jawab Kak Tae Wong tegas. ”Aku tidak membutuhkan luka lama.. Dan Dae Chi, ia akan menjadi masa depan untukku...” jawabannya terdengar mantap dan yakin. Dan tatapan matanya masih sama. Sama seperti tatapan mata Panglima Kim Yu Shin saat memimpin tentaranya maju berperang.
Kulihat Yo Won tersenyum dan mengacungkan jempolnya ke arah Kak Tae Wong. ”Buat Dae Chi bahagia!” serunya senang. Dan... akhirnya aku bisa melihatnya. Tatapan mata Yo Won pada Tae Wong adalah tatapan hormat, dan begitu pula sebaliknya. Kurasa perasaanku selama ini telah membutakanku.
Bisa kurasakan tangan Yo Won meremas tanganku pelan. Kami bertatapan dan tersenyum. ”Kurasa mereka sudah selesai pacaran sekarang,” ujarnya sambil tersenyum manis.
”Biar kupanggilkan!” seru Kak Tae Wong sambil bangkit dari duduknya. ”Hai! Putri Chen Myeong dan Bangsawan Yong Soo!!”
Yo Won bangkit dan berjalan di sampingku. Bisa kulihat wajah Ye Jin dan temanku memerah mendengar nama masa lalu mereka disebut. Aneh dan kacau. Tidak kusangka dunia demikian sempitnya...
”Hei, Yo Won,” pelan aku berbisik di sampingnya. Ia menoleh, dan bisa kurasakan luapan emosi kebahagiaan mendorongku untuk memeluknya dan menciumnya, tapi tidak, jangan sekarang. ”Aku ingin... melamarmu, begitu kuliahku selesai nanti... Eh, maksudku, aku dapat pekerjaan tetap...”
Wajah Yo Won memerah sampai telinga. Ia mengangguk malu dan menarik lengan bajuku, memintaku menunduk agar ia bisa berbisik di telingaku.
”Aku akan menunggumu....” itu jawabannya. Artinya, iya kan? Oh, jangan bilang tidak! Kenapa sih, jawabannya masih tidak jelas? Ya sudahlah, nanti toh akan kukatakan lagi begitu saatnya tiba.
Pucuk-pucuk daun muda terlihat indah di hamparan tanah Gyeong Ju saat itu. Hari ini dan seterusnya, semuanya adalah memori yang tidak akan terlupakan. Selamanya.
-to be continued-
Selasa, 29 Juni 2010
Fanfic The Future and the Past 40
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
FORTIETH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
Yushin: Uhm Tae Wong, Kim Tae Wong as KNG brother
Kim Yong Soo : Park Jung Chul(nama asli): Jung Yong Soo (nama di FF)
Seol Won : Jun Noh Min (Guru olahraga)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
─Lee Yo Won, Seoul, 2008─
“Deok Man….”
Pelan kutatap Kim Nam Gil yang berdiri tepat di sebelahku. “Kau memanggiku?” tanyaku. Ia menggeleng. Yang lainnya menatapku heran. “Ada yang memanggilku, tidak?” tanyaku. Yang lain menggeleng hamper bersamaan.
Lalu kilasan itu mendadak muncul. Seorang pria. Seorang pria yang menimbulkan gejolak aneh di dadaku. Si pria yang berlumuran darah. Bibirnya bergerak sambil mendekat ke arahku.. Kemudian pemandangan menggelap dan berputar seperti gasing.
Kali ini aku tidak sendirian. Dalam sebuah ruangan yang sepertinya kamar tidur. Mungkin kamarku. Ada seorang pria di depanku. Ia menggeleng. Dan bisa kurasakan perasaan lain bergejolak di dadaku.
”Ini perintah,” tegasku. ”Katakan apa yang diucapkannya!!” ujarku. Kurasakan gelombang kepedihan melandaku ketika bibir pria itu bergerak dalam gerakan cepat yang beruntun.
”Dia berkata Deok Man... Deok Man ku...” detik itu juga kurasakan sudut mataku panas. Panas. Dan menyakitkan. Dadaku terbakar oleh kehangatan lain yang tidak asing. Perasaan yang sama saat Nam Gil menggandeng tanganku lembut. Cinta. Ini adalah cinta.
”Kau tidak apa-apa, Yo Won?” tanya Nam Gil sambil menopang bahuku. Aku terkesiap kaget dalam pelukannya.
”Tidak apa-apa...”
”Kau melamun dan tiba-tiba limbung, hampir saja kau jatuh kalau dia tidak menahanmu. Ada apa?” tanya Ye Jin cemas. Lagi-lagi aku menggeleng.
REINKARNASI
Satu kata itu begitu membara dalam pikiranku. Hanya itulah satu-satunya yang mampu menjelaskan semua keanehan ini. Tanganku mencengkeram tangan Nam Gil. Ia membantuku berdiri dan membiarkanku sementara bersender dalam pelukannya.
”Yakin sudah tidak apa-apa?” tanyanya cemas. Aku menggeleng, berusaha keras mengingat nama yang diulang-ulang dalam ingatanku.
”Deok Man...” ujarku.
Kurasakan pelukan Nam Gil menegang. Pelan kuangkat wajahku dan memandangnya. Mata kami bertemu. Dan tidak ada sorot mata lain yang lenih menyakitkan daripada ini. ”Kau mengatakan apa?” tanyanya.
”Deok Man...” ujarku, kalut. ”Apakah... itu nama... ku?” tanyaku.
Nam Gil menahan nafas saat menyentuh pipiku dengan punggung tangannya. Kak Tae Wong dan Ye Jin juga tiba-tiba terdiam. Mereka menatapku begitu lama. Tampaknya mereka menyetujuinya. Deok Man. Itu namaku.
“Hei! Apa kau sudah lebih baik,. Tae Wong?” Pak Jun Noh Min memasuki ruangan dengan terburu-buru. Kak Tae Wong mengangguk dan bisa kulihat wajahnya berubah lega. ”Ayo! Kita masuk ke bis! Tujuan berikutnya, istana Silla!”
Mendengar kalimat terakhir bisa kurasakan suasana berubah tegang. Bisa kurasakan dentaman jantungku semakin keras dan menusuk.
Istana Silla.
Apakah di sana ada jawaban yang kami cari selama ini?
─Kim Nam Gil, Gyeongju, 2008─
Ini benar-benar gila!
Di saat semua orang terkagum-kagum memandang kemegahan gerbang istana Silla. Atau bahkan betapa luasnya lapangan muka istana itu, otakku berkecamuk membayangkan lintasan memori lain yang jelas mengganggu.
Aku merasa mengetahui celah di mana para prajurit yang disebut –hwarang- oleh guide tadi, biasa bersembunyi dan menghindari tugasnya.
Alun-alun istana tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu. Dan kemudian, di singgasana, ada seseorang yang selalu saja menyenangkan untuk ditemui. Entah darimana pikiran itu menggangguku.
Kemudian... perpustakaan. Tidak lucu menghabiskan waktu berjam-jam di sini hanya untuk mengawal seorang bocah. Eh? Kenapa juga pikiranku bisa ke sana? Bocah apa? Bocah siapa? Memangnya aku pernah ke sana?
Tapi.. perpustakaan memang tempat yang menyenangkan dan nyaman. Ia suka menghabiskan waktu di sana. Dan kurasa tidak masalah menghabiskan seluruh waktuku untuk memandangnya.
“Kau kenapa, Nam Gil?” tanya Yo Won di sebelahku.
Aku memandangnya dan berusaha tersenyum sewajar mungkin. Semua pikiran itu terasa konyol di otakku. Bagaimana bisa ada pikiran semacam itu di otakku? Memangnya aku pernah tinggal di sini?
Tapi... kenapa semuanya seolah begitu jelas? Dan begitu nyata? Bukankah lapangan itu adalah tempat kami biasa mengayunkan pedang? Dan alun-alun utama itu... aku pernah berhadapan dengan seseorang di sana....
”Yo Won! Nam Gil!!” sapa seseorang dari belakang. Rupanya Han Ga In. Ia memandangi wajahku dan Yo Won bergantian.
”Kalian berdua kenapa? Kok wajah kalian aneh sekali? Kau juga Nam Gil, pucat sekali! Seperti habis melihat hantu saja!”
”Hahaha.. bukan.. ini karena udara panas saja kok...” jawabku sambil tertawa kering. Kepalaku sakit. Dan jantungku semakin kencang berdebar. Seperti memukul-mukul rongga dadaku. Dan semakin lama semakin menyakitkan.
”Kau sakit, ya?” tanya Ga In lagi. Aku menggeleng dan ia menyodorkan sekaleng juice ke arahku dan Yo Won. ”Kalian jangan sampai rubuh sebelum acara selesai...” gerutunya. Ia lantas berbalik pergi. ”Acara bebas! Kemana nih, asyiknya?” tanyanya padaku.
”Entahlah. Menurutmu?” aku terkesiap kaget melihat Yo Won tidak lagi di sampingku. Kemana!? Kemana ia pergi?! ”Kau lihat kemana Yo Won pergi?!”
”Entahlah. Aku tidak yakin, tapi mungkin ke sana...” Ga In menunjuk jalan setapak kecil. ”Ia seperti kesetanan saja...” candanya.
Sama sekali tidak lucu.
”Aku juga sedang kesetanan...” gumamku. Tapi tampaknya ia tidak mendengarnya. Ia asyik berfoto dengan anak-anak lain di depan pilar-pilar bangunan istana.
”Yo Won!!” sekuat tenaga aku berteriak memanggil namanya. Memusingkan. Dan menyulitkan. Semakin berjalan, kepalaku sakit seperti dihentak-hentakkan. Sakit seperti dipukul. Terpaksa tangan kiriku mencengkeram kepalaku, memijit pelipisku. Apapun untuk membuatnya terasa lebih baik.
Semakin jauh, rasanya semakin aneh. Seolah ada dimensi lain dan aku semakin tersedot masuk ke dalamnya. Puluhan gambar melintas berganti-ganti di kepalaku.
”Siapa namamu?" tanya gadis itu. ”Tukarkan ayam itu dengan ini!” ujar suara lainnya. ”Aku akan menjadi hwarang!!” suaraku, penuh tekad. ”Aku menyayangimu... selamanya kau adalah muridku yang kusayang...” suara terakhir menyayatku, merobek hatiku.
"Karena ini terlalu kejam, Ibu,,,," kurasakan ulangan kalimatku dengan sudut mata yang terasa panas. ”kau mungkin siap, tetapi aku tidak siap...” wanita itu lagi. ”Kau yang merusak semuanya. Padahal Ratu tetap mempercayaimu...” jangan! jangan katakan itu!!!
Semuanya bergantian muncul dan menyakitiku. Semua kilasan itu menghentakku begitu dalam, begitu kuat. Jurang. Apakah ini jurang ingatan? Semua melebur menjadi satu. Siapa aku? Siapa kau? Siapa aku? Apakah aku Kim Nam Gil... apakah aku.. Bi Dam!?
”Aarargh....” nafasku terasa sakit di dadaku. Paru-paruku sakit seperti nyaris terbakar. Keringat dan peluh membasahi kepala, tengkuk dan tubuhku. Masih ingatan yang sama, semua bertubi-tubi menghampiriku.
Mati-matian aku berdiri dan mencengkeram semua yang bisa kujadikan pegangan. ”Yo Won..” panggilku. Airmata merembes keluar begitu saja dari mataku. ”Deok Man.,..” ujarku. Kurasakan bahuku berguncang menyakitkan. ”Deok Man...” panggilku, nyaris putus asa.
Kemudian aku melihatnya. di tempat yang sama dengan tempatnya menyerahkan hatinya padaku. Ia berlutut membelakangiku, memandangi jembatan itu. Tempatnya menyerahkan cincin padaku, lambang kepercayaannya. Yang dulu pernah kukhianati.
Luka di dadaku menganga lebar. Dan bekas sabetan itu masih terasa begitu dalam menembus nyawaku. Namun ia ada di sana. Dan itu lebih dari cukup.
“Yo Won...” panggilku. Tidak berhasil. Ia tidak bergeming. “Deok… Man…” bahunya bergetar pelan. Dan ia menoleh. Memandangku dengan tatapan terluka. Air mata penuh di pipinya. Peris sama dengan kematianku. Tetapi bedanya, kali ini aku hidup. Aku masih hidup!
Sepuluh langkah… menuju Deok Man…
Lima langkah… menuju Deok Man…
Tiga langkah… menuju Deok Man…
Ketika kakiku hampir tiba di depannya, ia lari dan menyongsong pelukanku. Kami bertangisan dalam air mata. Pelukan yang gagal. Pelukan yang terlambat dilakukan. Dan air mata yang sedari awal sudah tertumpah.
”Aku... minta maaf...” ujarku dalam pelukannya. ”Karena... aku mencintaimu... dan karena aku buta oleh cinta...”
Ia mengangguk lemah dalam pelukanku. ”Seharusnya aku tidak membiarkan mereka menusukmu...” sahutnya dengan suara lirih.
Air mata menetes turun di pipiku. ”Jangan menangis...” ujarku. Ia meletakkan kepalanya di bahuku. ”Karena mulai sekarang... kita akan selamanya bersama...”
”Ucapkan lagi...” pintanya. Matanya menatap sendu ke arahku. ”Ucapkan lagi... namaku...”
“Deok Man... Deok Manku...” jawabku.
Ia menutup matanya. Perlahan, kurasakan cinta datang mendekat. Kami mengeratkan pelukan dan cinta yang telah dicuri oleh intrik dan kekuasan dari kami. Puluhan. Bahkan ratusan tahun. Selalu dan selamanya kami saling mencari dan menanti. Hanya untuk menggapai saat yang indah seperti ini.
Aku memiringkan wajahku, menyentuh bibir Yo Won yang terasa basah sekaligus lembut. Pelan kurasakan kepolosan dalam bibirnya. Nafas saling beradu, dan bibirku pelan menekan bibirnya. Lalu ciuman kami berubah menjadi lebih posesif, lebih menuntut. Yo Won membalasku dengan cara yang unik. Dan gairah dalam diri kami tidak akan pudar selamanya oleh cinta.
-to be continued-
FORTIETH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
Yushin: Uhm Tae Wong, Kim Tae Wong as KNG brother
Kim Yong Soo : Park Jung Chul(nama asli): Jung Yong Soo (nama di FF)
Seol Won : Jun Noh Min (Guru olahraga)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
─Lee Yo Won, Seoul, 2008─
“Deok Man….”
Pelan kutatap Kim Nam Gil yang berdiri tepat di sebelahku. “Kau memanggiku?” tanyaku. Ia menggeleng. Yang lainnya menatapku heran. “Ada yang memanggilku, tidak?” tanyaku. Yang lain menggeleng hamper bersamaan.
Lalu kilasan itu mendadak muncul. Seorang pria. Seorang pria yang menimbulkan gejolak aneh di dadaku. Si pria yang berlumuran darah. Bibirnya bergerak sambil mendekat ke arahku.. Kemudian pemandangan menggelap dan berputar seperti gasing.
Kali ini aku tidak sendirian. Dalam sebuah ruangan yang sepertinya kamar tidur. Mungkin kamarku. Ada seorang pria di depanku. Ia menggeleng. Dan bisa kurasakan perasaan lain bergejolak di dadaku.
”Ini perintah,” tegasku. ”Katakan apa yang diucapkannya!!” ujarku. Kurasakan gelombang kepedihan melandaku ketika bibir pria itu bergerak dalam gerakan cepat yang beruntun.
”Dia berkata Deok Man... Deok Man ku...” detik itu juga kurasakan sudut mataku panas. Panas. Dan menyakitkan. Dadaku terbakar oleh kehangatan lain yang tidak asing. Perasaan yang sama saat Nam Gil menggandeng tanganku lembut. Cinta. Ini adalah cinta.
”Kau tidak apa-apa, Yo Won?” tanya Nam Gil sambil menopang bahuku. Aku terkesiap kaget dalam pelukannya.
”Tidak apa-apa...”
”Kau melamun dan tiba-tiba limbung, hampir saja kau jatuh kalau dia tidak menahanmu. Ada apa?” tanya Ye Jin cemas. Lagi-lagi aku menggeleng.
REINKARNASI
Satu kata itu begitu membara dalam pikiranku. Hanya itulah satu-satunya yang mampu menjelaskan semua keanehan ini. Tanganku mencengkeram tangan Nam Gil. Ia membantuku berdiri dan membiarkanku sementara bersender dalam pelukannya.
”Yakin sudah tidak apa-apa?” tanyanya cemas. Aku menggeleng, berusaha keras mengingat nama yang diulang-ulang dalam ingatanku.
”Deok Man...” ujarku.
Kurasakan pelukan Nam Gil menegang. Pelan kuangkat wajahku dan memandangnya. Mata kami bertemu. Dan tidak ada sorot mata lain yang lenih menyakitkan daripada ini. ”Kau mengatakan apa?” tanyanya.
”Deok Man...” ujarku, kalut. ”Apakah... itu nama... ku?” tanyaku.
Nam Gil menahan nafas saat menyentuh pipiku dengan punggung tangannya. Kak Tae Wong dan Ye Jin juga tiba-tiba terdiam. Mereka menatapku begitu lama. Tampaknya mereka menyetujuinya. Deok Man. Itu namaku.
“Hei! Apa kau sudah lebih baik,. Tae Wong?” Pak Jun Noh Min memasuki ruangan dengan terburu-buru. Kak Tae Wong mengangguk dan bisa kulihat wajahnya berubah lega. ”Ayo! Kita masuk ke bis! Tujuan berikutnya, istana Silla!”
Mendengar kalimat terakhir bisa kurasakan suasana berubah tegang. Bisa kurasakan dentaman jantungku semakin keras dan menusuk.
Istana Silla.
Apakah di sana ada jawaban yang kami cari selama ini?
─Kim Nam Gil, Gyeongju, 2008─
Ini benar-benar gila!
Di saat semua orang terkagum-kagum memandang kemegahan gerbang istana Silla. Atau bahkan betapa luasnya lapangan muka istana itu, otakku berkecamuk membayangkan lintasan memori lain yang jelas mengganggu.
Aku merasa mengetahui celah di mana para prajurit yang disebut –hwarang- oleh guide tadi, biasa bersembunyi dan menghindari tugasnya.
Alun-alun istana tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu. Dan kemudian, di singgasana, ada seseorang yang selalu saja menyenangkan untuk ditemui. Entah darimana pikiran itu menggangguku.
Kemudian... perpustakaan. Tidak lucu menghabiskan waktu berjam-jam di sini hanya untuk mengawal seorang bocah. Eh? Kenapa juga pikiranku bisa ke sana? Bocah apa? Bocah siapa? Memangnya aku pernah ke sana?
Tapi.. perpustakaan memang tempat yang menyenangkan dan nyaman. Ia suka menghabiskan waktu di sana. Dan kurasa tidak masalah menghabiskan seluruh waktuku untuk memandangnya.
“Kau kenapa, Nam Gil?” tanya Yo Won di sebelahku.
Aku memandangnya dan berusaha tersenyum sewajar mungkin. Semua pikiran itu terasa konyol di otakku. Bagaimana bisa ada pikiran semacam itu di otakku? Memangnya aku pernah tinggal di sini?
Tapi... kenapa semuanya seolah begitu jelas? Dan begitu nyata? Bukankah lapangan itu adalah tempat kami biasa mengayunkan pedang? Dan alun-alun utama itu... aku pernah berhadapan dengan seseorang di sana....
”Yo Won! Nam Gil!!” sapa seseorang dari belakang. Rupanya Han Ga In. Ia memandangi wajahku dan Yo Won bergantian.
”Kalian berdua kenapa? Kok wajah kalian aneh sekali? Kau juga Nam Gil, pucat sekali! Seperti habis melihat hantu saja!”
”Hahaha.. bukan.. ini karena udara panas saja kok...” jawabku sambil tertawa kering. Kepalaku sakit. Dan jantungku semakin kencang berdebar. Seperti memukul-mukul rongga dadaku. Dan semakin lama semakin menyakitkan.
”Kau sakit, ya?” tanya Ga In lagi. Aku menggeleng dan ia menyodorkan sekaleng juice ke arahku dan Yo Won. ”Kalian jangan sampai rubuh sebelum acara selesai...” gerutunya. Ia lantas berbalik pergi. ”Acara bebas! Kemana nih, asyiknya?” tanyanya padaku.
”Entahlah. Menurutmu?” aku terkesiap kaget melihat Yo Won tidak lagi di sampingku. Kemana!? Kemana ia pergi?! ”Kau lihat kemana Yo Won pergi?!”
”Entahlah. Aku tidak yakin, tapi mungkin ke sana...” Ga In menunjuk jalan setapak kecil. ”Ia seperti kesetanan saja...” candanya.
Sama sekali tidak lucu.
”Aku juga sedang kesetanan...” gumamku. Tapi tampaknya ia tidak mendengarnya. Ia asyik berfoto dengan anak-anak lain di depan pilar-pilar bangunan istana.
”Yo Won!!” sekuat tenaga aku berteriak memanggil namanya. Memusingkan. Dan menyulitkan. Semakin berjalan, kepalaku sakit seperti dihentak-hentakkan. Sakit seperti dipukul. Terpaksa tangan kiriku mencengkeram kepalaku, memijit pelipisku. Apapun untuk membuatnya terasa lebih baik.
Semakin jauh, rasanya semakin aneh. Seolah ada dimensi lain dan aku semakin tersedot masuk ke dalamnya. Puluhan gambar melintas berganti-ganti di kepalaku.
”Siapa namamu?" tanya gadis itu. ”Tukarkan ayam itu dengan ini!” ujar suara lainnya. ”Aku akan menjadi hwarang!!” suaraku, penuh tekad. ”Aku menyayangimu... selamanya kau adalah muridku yang kusayang...” suara terakhir menyayatku, merobek hatiku.
"Karena ini terlalu kejam, Ibu,,,," kurasakan ulangan kalimatku dengan sudut mata yang terasa panas. ”kau mungkin siap, tetapi aku tidak siap...” wanita itu lagi. ”Kau yang merusak semuanya. Padahal Ratu tetap mempercayaimu...” jangan! jangan katakan itu!!!
Semuanya bergantian muncul dan menyakitiku. Semua kilasan itu menghentakku begitu dalam, begitu kuat. Jurang. Apakah ini jurang ingatan? Semua melebur menjadi satu. Siapa aku? Siapa kau? Siapa aku? Apakah aku Kim Nam Gil... apakah aku.. Bi Dam!?
”Aarargh....” nafasku terasa sakit di dadaku. Paru-paruku sakit seperti nyaris terbakar. Keringat dan peluh membasahi kepala, tengkuk dan tubuhku. Masih ingatan yang sama, semua bertubi-tubi menghampiriku.
Mati-matian aku berdiri dan mencengkeram semua yang bisa kujadikan pegangan. ”Yo Won..” panggilku. Airmata merembes keluar begitu saja dari mataku. ”Deok Man.,..” ujarku. Kurasakan bahuku berguncang menyakitkan. ”Deok Man...” panggilku, nyaris putus asa.
Kemudian aku melihatnya. di tempat yang sama dengan tempatnya menyerahkan hatinya padaku. Ia berlutut membelakangiku, memandangi jembatan itu. Tempatnya menyerahkan cincin padaku, lambang kepercayaannya. Yang dulu pernah kukhianati.
Luka di dadaku menganga lebar. Dan bekas sabetan itu masih terasa begitu dalam menembus nyawaku. Namun ia ada di sana. Dan itu lebih dari cukup.
“Yo Won...” panggilku. Tidak berhasil. Ia tidak bergeming. “Deok… Man…” bahunya bergetar pelan. Dan ia menoleh. Memandangku dengan tatapan terluka. Air mata penuh di pipinya. Peris sama dengan kematianku. Tetapi bedanya, kali ini aku hidup. Aku masih hidup!
Sepuluh langkah… menuju Deok Man…
Lima langkah… menuju Deok Man…
Tiga langkah… menuju Deok Man…
Ketika kakiku hampir tiba di depannya, ia lari dan menyongsong pelukanku. Kami bertangisan dalam air mata. Pelukan yang gagal. Pelukan yang terlambat dilakukan. Dan air mata yang sedari awal sudah tertumpah.
”Aku... minta maaf...” ujarku dalam pelukannya. ”Karena... aku mencintaimu... dan karena aku buta oleh cinta...”
Ia mengangguk lemah dalam pelukanku. ”Seharusnya aku tidak membiarkan mereka menusukmu...” sahutnya dengan suara lirih.
Air mata menetes turun di pipiku. ”Jangan menangis...” ujarku. Ia meletakkan kepalanya di bahuku. ”Karena mulai sekarang... kita akan selamanya bersama...”
”Ucapkan lagi...” pintanya. Matanya menatap sendu ke arahku. ”Ucapkan lagi... namaku...”
“Deok Man... Deok Manku...” jawabku.
Ia menutup matanya. Perlahan, kurasakan cinta datang mendekat. Kami mengeratkan pelukan dan cinta yang telah dicuri oleh intrik dan kekuasan dari kami. Puluhan. Bahkan ratusan tahun. Selalu dan selamanya kami saling mencari dan menanti. Hanya untuk menggapai saat yang indah seperti ini.
Aku memiringkan wajahku, menyentuh bibir Yo Won yang terasa basah sekaligus lembut. Pelan kurasakan kepolosan dalam bibirnya. Nafas saling beradu, dan bibirku pelan menekan bibirnya. Lalu ciuman kami berubah menjadi lebih posesif, lebih menuntut. Yo Won membalasku dengan cara yang unik. Dan gairah dalam diri kami tidak akan pudar selamanya oleh cinta.
-to be continued-
Jumat, 25 Juni 2010
Fanfic The Future and the Past, side story 7
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SIDE STORY 7
-LET IT FLOWS 2-
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Alcheon: Lee Seung Hyo (memakai nama asli di FF)
Young Bakui: Joo Sang Won as Wolya brother (real name: Seo Sang Won)
Kim Chun Chu: Yoo Seung Ho (memakai nama asli di FF)
Wolya: Joo Sang Wook (memakai nama asli di FF)
Shendi: Han Shin Woo
Rin: Na Rin Young
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
─Joo Sang Won, Seoul, 2009─
“Sudah kukatakan kan, langsung tembak saja!!”ujar Kakakku yang akhir-akhir ini semakin menyebalkan.
”Aku tidak mau dengar!” balasku sambil melempar bantal sofa ke kepalanya. Ia marah-marah dan melempar kembali bantal itu padaku. Katanya aku mengganggunya menonton pertandingan bola favoritnya. Masa bodoh.
Pertemuan dengan Rin banyak mengubahku. Awalnya aku tidak mempedulikan wanita. Aku tidak memikirkan apa pendapat mereka tentang penampilanku. Namun, akhir-akhir ini aku semakin peduli. Apa tanggapannya kalau aku melucu, apa tanggapannya kalau pertandingan karateku buruk.
”Kau tidak kembali ke basket?” tanya Kak Sang Wook sambil menolehkan kepalanya sedikit. ”Tinggimu sekarang sudah lebih dari cukup...”
”Nanti saja kupikirkan...” jawabku asal-asalan.
Tinggiku sudah cukup. Beberapa bulan lalu, pertemuan pertama kami, tinggiku sama dengan Rin. Aku merasa belum pantas untuk menjadi pacarnya. Ketika aku sudah lebih tinggi, ketika aku sudah lebih mampu berperan sebagai pelindungnya, aku akan mengejarnya.
Dan sekarang, ia berada di penghujung kelulusan siswa kelas tiga. Dan tinggiku sudah lebih dari cukup untuk berdiri di sampingnya. Waktunya sudah tepat. Hanya caranya, aku tidak tahu. Apa yang harus kukatakan padanya?
”Jadilah dirimu sendiri...” berkali-kali, Kakak mengemukakan kalimat yang sama saat aku menanyakan bagaimana sebaiknya caraku menembaknya. Terimakasih, kau sangat tidak membantu.
─Na Rin Young, Seoul, 2009─
“Sebentar lagi tahu-tahu kita sudah lulus ya?” ujar Seung Hyo sambil menatap pucuk-pucuk daun dari balik jendela. Pandangan kami bertemu dan kemudian kami sama-sama menatap lapangan sekolah yang luas.
”Kalau kita lulus kan?” candaku. Kami tertawa kecil dan kemudian sama-sama menghela nafas panjang. ”Apa rencanamu setelah lulus?” tanyaku.
”Kuliah, tentu saja... dan kemudian menunggu...”
Aku tersenyum memandang Seung hyo. Menunggu yang ia maksud jelas adalah menunggu pacarnya lulus dan kuliah satu kampus bersamanya. Sedangkan aku? Aku tidak tahu harus menunggu siapa nantinya. Hubunganku dan Sang Won tetap saja tidak jelas.
Tetap saja kami beberapa kali bergandengan tangan. Jalan keluar pada hari libur, namun setiap pertemuan kami, aku merasa Sang Won memperlakukanku sebagai teman baiknya, tidak lebih. Ooh, capek juga rasanya menunggu tanpa kejelasan semacam ini.
”Apa sebaiknya aku yang menembaknya ya?” gumamku sambil memandang lapangan tempat Sang Won dan temannya biasa berolahraga.
”Kau tunggu saja sebentar lagi...” ujar Seung Hyo sabar.
”Kalian laki-laki selalu saja membuat wanita menunggu...” keluhku, merasa jengkel pada keadaanku. ”Aku harus bagaimana dong...”
”Aku ini termasuk yang bergerak cepat loh,” pujinya pada diri sendiri. Mau tidak mau aku tertawa bersamanya. ”Mungkin, waktunya saja yang belum tepat untuk Sang Won...”
”Dia kan polos sekali. Mungkin dia malah tidak menyadarinya... inilah susahnya anak yang lebih muda...Coba kalau kau sukanya padaku...”
”Dasar! Kau kan tahu aku sukanya sama siapa! Jangan menggodaku dong!!”
Kami tertawa berdua. Samar-samar aku mendengar derap langkah kaki di koridor. Cepat aku melangkah ke pintu. Bukan. Tidak ada seorang pun di sana. Bukan Sang Won. Ah, aneh-aneh saja khayalanku. Tapi, kenapa dia belum menjemputku ya? Biasanya jam segini dia sudah on time di depan kelasku.
”Seung Hyo, aku jalan ke kelasnya Sang Won ya...”
”Oke, hati-hati ya...”
Pelan kuselusuri koridor panjang sekolah. Entah berapa lama aku tidak bisa melihatnya lagi nanti. Aku pasti akan merindukan sekolah ini dan segala kenangan di dalamnya. Di sekolah ini aku bertemu dengannya.
”Eh, Rin? Sang Won baru saja pulang. Dia tidak menjemputmu?” tanya Seung Hoo kaget. Aku hampir saja mengganggu acara pacarannya dengan kekasihnya Eun Bin.
”Begitu ya? Mungkin ada perlu...” sahutku, bingung. Sang Won tidak menungguku dan tidak mengabariku apapun. Kenapa? Baru kali ini ia bertingkah seaneh ini....
─Joo Sang Won, Seoul, 2009─
“Inilah susahnya anak yang lebih muda...Coba kalau kau sukanya padaku...”
Kepalaku terasa berdenyut sakit sesakit dadaku saat mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Rin. Apa maksudnya? Apa itu artinya kedekatanku selama ini dengannya selalu saja merepotkan? Apa ia tidak menyukaiku? Dan… yang ia sukai adalah Kak Seung Hyo?
Wajar. Tentu saja itu wajar bukan? Kak Seung Hyo tinggi. Dan keren. Ketua OSIS. Dan ia jagoan di klub karate. Aku bukan tandingannya. Dan Rin... cintanya bertepuk sebelah tangan. Kak Seung Hyo memilih gadis lain.
Rin memahami perasaanku yang juga bertepuk sebelah tangan, karena itu ia tidak mengatakan apapun, tidak mengatakan kalau ia keberatan dengan keberadaanku. Aku selalu jadi pengganggu untuknya.
”Sang Won!!”
Dadaku berderak keras ketika suara itu memanggilku. Sialan, sialan, kenapa kau sebodoh ini Sang Won! Jangan menyukainya! Jangan membuatnya tambah membenci keberadaanmu!!
”Ada apa?” tanyaku, berusaha bersikap biasa.
Duh, susah sekali sih. Bibirku kaku sekali tersenyum di depannya. Aah, coba kalau gerakku lebih cepat. Coba kalau aku tidak usah menunggu badanku tambah tinggi. Mungkin aku sudah bisa menggandengnya kemana pun saat ini. Tapi, tidak boleh, pikiran semacam itu egois bukan?
”Kau tidak sakit kan?” tanya Rin. Nafasnya terengah-engah mengejarku. Uuh, rasanya aku harus menahan diri supaya tidak memeluknya sekarang.
”Tidak apa-apa...” sialan, suaraku kasar sekali barusan.
”Baguslah kalau tidak sakit...” ujar Rin sambil menatap mataku dalam-dalam. ”Aku belikan ini tadi...” ia menyodorkan sekaleng jus jeruk ke tanganku. ”Sang Won suka jus kan? Ini banyak vitaminnya. Berguna untuk mencegah sakit...”
”Terimakasih...”
Aneh bukan? Aku seorang lelaki. Tapi, menerima kebaikannya ini. Rasanya hatiku berderak sakit. Aku menyukainya. Dan ia tidak menyukaiku. Tapi, melihat kebaikannya padaku...aku merasakan harapan baru berpendar di dadaku. Aku ingin menangis karena kehangatannya begitu dalam di dadaku.
”Sang Won... kau membenciku?” Tanya Rin sambil menatapku lagi. Aku memalingkan wajah. Tidak bisa! Jangan lihat aku seperti itu!
”Siapa bilang!” jawabku. Sialan, sialan. Kenapa sih jadi ketus begini. Biasa saja Sang Won! Yang wajar, oke kan?
”Ternyata iya kau membenciku...” wajah Rin terlihat muram dan sedih. ”Ya sudah, aku pulang ya... sampai jumpa...”
Aku memandangnya pergi dengan hati hancur. Yang ada di ujung jalan itu... yang menjadi arah cintamu itu... bukan aku, ya Rin? Bukan aku...
”Rin!!!” tenggorokanku terasa panas saat meneriakkan namanya. ”Aku menyukaimu...” gumamku dengan suara parau. Sakit sekali... kenapa orang bilang cinta itu manis dan indah? Pahit... rasanya pahit... seperti menelan obat...
Angin musim semi yang hangat menerpa punggungku. Mataku panas dan tenggorokanku sakit. Aku tidak boleh menangis. Aku adalah pria.
─Na Rin Young, Seoul, 2009─
“Kau enak sekali, Seung hyo…” godaku pada Seung Hyo yang dengan gembira memakan bekal pemberian pacarnya, Shin Woo.
“Haha.. hari ini kau nggak makan siang bareng sama Sang Won?”
“Sudah berakhir tuh…” jawabku asal. Aku harus berusaha tenang. Supaya pertahananku tidak jebol seperti kemarin. Akhirnya kemarin aku berlari sampai ke rumah. Berlari dengan mata basah. Sang Won membenciku.
“Kenapo? Kok bisa sih?” Tanya Seung Hyo sambil menghentikan makan siangnya. “Kalian kan lengket sekali…”
“Aku tidak tahu. Tiba-tiba sikapnya berubah. Mungkin dia sadar aku menyukainya dan ia tidak mau itu terjadi. Makanya dia menjaga jarak…” ujarku dalam rentetan kalimat yang bergulir begitu cepat.
“Loh? Bukannya kebalikannya?” ujar Seung Hyo. Aku baru saja mau menanyakan apa maksudnya menanyakan itu ketika tiba-tiba salah satu anggota OSIS datang dan memberikan laporan kegiatan ke Seung Hyo. ”Eh, tadi sampai mana ya?” tanyanya.
”Habiskan saja deh, istirahat sudah mau selesai tuh...” jawabku malas. Ia melanjutkan makannya sambil memintaku bercerita selengkapnya pulang sekolah.
”Begitu? Tiba-tiba dia pulang? Tanpa bilang apapun?”
”Ya, bahkan aku belum mengobrol apapun dengannya hari itu. aneh kan? Dan waktu kususul, suaranya, tatapannya... dingin sekali. Seperti bukan Sang Won yang kukenal...”
”Hei, jangan menangis.. nanti aku malah dituduh melakukan macam-macam padamu...” ujar Seung Hyo lembut.
”Kata-katamu malah membuatku sesak nafas, tahu...” ujarku. ”Uhh...” dengan cepat kututup mulutku. Air mataku sudah meluncur jatuh di pipiku.
”Sudahlah... sudah... nanti biar aku bicara padanya....” Seung Hyo meminjamkan bahunya untuk tempatku menangis. “Ya, makanya berhenti dong nangisnya... tuh rumahmu sudah sampai...”
“Thanks ya... dan mendingan nggak perlu ngomong aneh-aneh sama Sang Won. Aku nggak mau dia tambah membenciku...”
”Oke, aku tahu itu... Ingat, jangan nangis terlalu banyak...” pintu kututup sebelum Seung Hyo menyelesaikan ceramahnya.
Aku tidak mungkin bisa menurutinya. Hatiku hancur dan patah. Siapa yang bisa memperbaikinya? Luka yang disebabkan Sang Won, hanya Sang Won yang bisa menyembuhkannya.
─Joo Sang Won, Seoul, 2009─
Menguntit merupakan akar dari kejahatan. Aku tahu itu. Aku tahu tidak seharusnya aku menguntit Rin sampai ke rumah. Apalagi ada Kak Seung Hyo mengantarnya pulang. Kenapa bisa? Apa mereka sudah jadian? Tapi, kenapa dia membuatnya menangis di bahunya? Apakah Rin menyatakannya dan ditolak? Sialan! Tidak bisa dibiarkan!
”Kak Seung Hyo!!” aku mengejarnya dengan setengah berlari. Ia memandangku dan tampak terkejut.
”Kau ke sini? Kukira kau tidak mau mengantar Rin pulang!” ia mulai mengomeliku dengan wajah kesal. Sialan, mustinya aku yang marah, kan?
”Kan ada Kakak yang mengantarnya! Lagipula, aku hanya sekedar cemas kok...” dalihku, berusaha membela diri.
”Kalau cemas, antar dia dong!” omel Kak Seung Hyo sambil berdecak marah. ”Kalian membuatku pusing saja!”
”Biar gimanapun, Kakak jangan membuatnya menangis dong! Kakak menolaknya dengan lembut dong!!”
”Menolak? Apa sih maksudmu?” Kak Seung Hyo memandangku dengan alis bertaut, terlihat bingung.
”Rin kan menyukai Kakak, makanya dia baru berani mengutarakan perasaannya. Eh, Kakak malah menolaknya! Tega banget sih!!”
”Hah!? Lelucon macam apa itu! Dengar ya, tidak lucu loh, aku tidak akan tertawa....” ujar Kak Seung Hyo sambil memandangku dari atas sampai bawah. Sekejap kemudian ia terdiam dan tampak berpikir. ”Oooh, begitu rupanya! Pantas saja! Dasar kalian berdua bodoh sekali!!”
”Akhirnya Kakak mau ngaku?” tuntutku, kesal. Kak Seung Hyo malah tertawa terbahak-bahak dan menarikku. Sekejap kemudian ia berbisik di telingaku, menceritakan semuanya. Menjelaskan kebodohanku. Kedangkalan pikiranku. Mukaku memerah sampai telinga. Dalam hitungan detik, aku lari tunggang langgang sampai ke rumah.
─Na Rin Young, Seoul, 2009─
“Memangnya ada yang lucu?” tanyaku sambil menggerutu. Dari pagi Seung Hyo terus-menerus cengar cengir saat melihatku. “Kau membuatku tambah sebal tahu!!” protesku.
“Eh, Rin, mau taruhan nggak?”
”Taruhan?” kukerutkan dahiku. Tidak biasanya Seung Hyo mengatakan hal sekonyol itu. ”Apa aku nggak salah dengar?”
”Kalau hari ini Sang Won datang dan membuatmu gembira, bantu aku cari tahu barang yang diinginkan Shin Woo ya...”
”Tidak lucu tahu!” jawabku dengan jengkel. ”Tidak mungkin deh, kau pasti kalah. Kalau kalah, kau harus....”
Kalimatku belum usai ketika tahu-tahu sebuah suara memanggilku. ”Rin!!!” ia berdiri di depan pintu kelasku. Entah bagaimana wajahku saat memandangnya. Sebentar kutatap Seung Hyo yang memberikan tanda victory dengan jarinya. Uuh...
”Jadi... kau tidak membenciku, nih?” tanyaku sambil mengamati daun jatuh di halaman belakang sekolah.
Sang Won berdiri di sampingku, juga bersender ke dinding. “Aku...nggak pernah membencimu kok...” jawabnya datar. “Justru kebalikannya. Aku takut kau membenciku.”
“Kapan aku bilang begitu?”
”Aku salah paham karena membuat kesimpulan seenaknya. Hari itu, saat mau menjemputmu, aku mendengar sedikit kalimatmu ke Kak Seung Hyo. Dan tahu-tahu, kakiku langsung lari begitu saja setelah mendengarnya...”
”Aku bilang apa ya?” tanyaku, bingung.
”Kau bilang... “Inilah susahnya anak yang lebih muda...Coba kalau kau sukanya padaku...””
”Ya ampun!!” tanganku tanpa sadar terangkat menutup mulutku. ”dan apa yang kau simpulkan?”
”Aku kira kau membenciku karena selalu mendekatimu padahal yang kau sukai Kak Seung Hyo. Lalu, karena Kak Seung Hyo sudah punya pacar, kau jadi memahami perasaanku yang bertepuk sebelah tangan dan membiarkanku terus mengganggumu...”
”Hahaha...”
”Tidak lucu Rin, aku benar-benar takut kau membenciku...”
”Aku malah mengira... kau sudah membenciku...” tawaku lagi-lagi berderai. Tawa yang kering. Sementara, pipiku sudah basah oleh air mata.
”Maaf Rin... Aku salah paham ya... Tapi, Kak Seung Hyo mengutarakan keseluruhan kalimatnya padaku... Aku sadar kok. Sangat sadar akan perasaanku. Namun, aku terus mencari waktu yang tepat...”
”Eh...” Wajahku memerah semerah tomat. Sialan si Seung Hyo! Bisa nggak ceritanya seperlunya saja? Huh! Dasar...
”Aku...menyukaimu, Rin... Jadilah pacarku. Oh, ya, mungkin agak memalukan kalau nanti saat kuliah kau pacaran dengan anak SMA... tapi, aku akan berusaha keras untuk tidak membuatmu malu!!”
Air mata dan senyuman membaur jadi satu di wajahku. Sang Won, yang kini lebih tinggi dariku maju dan memelukku. Aku sudah lama, begitu lama menantinya. Dan kini, saat ia memelukku, aku tahu, penantianku tidak pernah sia-sia...
”Eh, Sang Won, kau kenal dengan Han Shin Woo?”
“Hm? Kenapa dia? Kenal kok…”
“Bisa Bantu aku cari tahu apa benda yang diinginkannya nggak untuk ulang tahun?”
“Hah? Sekarang kau jadi lesbi ya? Huhu...”
”Uh! Bukan! Bukan! Aku kalah taruhan dengan Seung hyo tadi. Pokoknya kau bantu saja aku cari tahu barang yang diinginkannya!! Dan kau juga tidak boleh jatuh cinta padanya ya! Kau kan pacarku!!”
”Ya! Aku tahu itu! Aku tahu!!” senyuman Sang Won melebar saat mendengar aku menyebutnya pacarku. Ia menggandengku. Bersama-sama udara musim semi yang hangat, kami menyusuri koridor panjang sekolah. Kenangan yang takkan kulupa selamanya.
-Selesai-
SIDE STORY 7
-LET IT FLOWS 2-
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Alcheon: Lee Seung Hyo (memakai nama asli di FF)
Young Bakui: Joo Sang Won as Wolya brother (real name: Seo Sang Won)
Kim Chun Chu: Yoo Seung Ho (memakai nama asli di FF)
Wolya: Joo Sang Wook (memakai nama asli di FF)
Shendi: Han Shin Woo
Rin: Na Rin Young
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
─Joo Sang Won, Seoul, 2009─
“Sudah kukatakan kan, langsung tembak saja!!”ujar Kakakku yang akhir-akhir ini semakin menyebalkan.
”Aku tidak mau dengar!” balasku sambil melempar bantal sofa ke kepalanya. Ia marah-marah dan melempar kembali bantal itu padaku. Katanya aku mengganggunya menonton pertandingan bola favoritnya. Masa bodoh.
Pertemuan dengan Rin banyak mengubahku. Awalnya aku tidak mempedulikan wanita. Aku tidak memikirkan apa pendapat mereka tentang penampilanku. Namun, akhir-akhir ini aku semakin peduli. Apa tanggapannya kalau aku melucu, apa tanggapannya kalau pertandingan karateku buruk.
”Kau tidak kembali ke basket?” tanya Kak Sang Wook sambil menolehkan kepalanya sedikit. ”Tinggimu sekarang sudah lebih dari cukup...”
”Nanti saja kupikirkan...” jawabku asal-asalan.
Tinggiku sudah cukup. Beberapa bulan lalu, pertemuan pertama kami, tinggiku sama dengan Rin. Aku merasa belum pantas untuk menjadi pacarnya. Ketika aku sudah lebih tinggi, ketika aku sudah lebih mampu berperan sebagai pelindungnya, aku akan mengejarnya.
Dan sekarang, ia berada di penghujung kelulusan siswa kelas tiga. Dan tinggiku sudah lebih dari cukup untuk berdiri di sampingnya. Waktunya sudah tepat. Hanya caranya, aku tidak tahu. Apa yang harus kukatakan padanya?
”Jadilah dirimu sendiri...” berkali-kali, Kakak mengemukakan kalimat yang sama saat aku menanyakan bagaimana sebaiknya caraku menembaknya. Terimakasih, kau sangat tidak membantu.
─Na Rin Young, Seoul, 2009─
“Sebentar lagi tahu-tahu kita sudah lulus ya?” ujar Seung Hyo sambil menatap pucuk-pucuk daun dari balik jendela. Pandangan kami bertemu dan kemudian kami sama-sama menatap lapangan sekolah yang luas.
”Kalau kita lulus kan?” candaku. Kami tertawa kecil dan kemudian sama-sama menghela nafas panjang. ”Apa rencanamu setelah lulus?” tanyaku.
”Kuliah, tentu saja... dan kemudian menunggu...”
Aku tersenyum memandang Seung hyo. Menunggu yang ia maksud jelas adalah menunggu pacarnya lulus dan kuliah satu kampus bersamanya. Sedangkan aku? Aku tidak tahu harus menunggu siapa nantinya. Hubunganku dan Sang Won tetap saja tidak jelas.
Tetap saja kami beberapa kali bergandengan tangan. Jalan keluar pada hari libur, namun setiap pertemuan kami, aku merasa Sang Won memperlakukanku sebagai teman baiknya, tidak lebih. Ooh, capek juga rasanya menunggu tanpa kejelasan semacam ini.
”Apa sebaiknya aku yang menembaknya ya?” gumamku sambil memandang lapangan tempat Sang Won dan temannya biasa berolahraga.
”Kau tunggu saja sebentar lagi...” ujar Seung Hyo sabar.
”Kalian laki-laki selalu saja membuat wanita menunggu...” keluhku, merasa jengkel pada keadaanku. ”Aku harus bagaimana dong...”
”Aku ini termasuk yang bergerak cepat loh,” pujinya pada diri sendiri. Mau tidak mau aku tertawa bersamanya. ”Mungkin, waktunya saja yang belum tepat untuk Sang Won...”
”Dia kan polos sekali. Mungkin dia malah tidak menyadarinya... inilah susahnya anak yang lebih muda...Coba kalau kau sukanya padaku...”
”Dasar! Kau kan tahu aku sukanya sama siapa! Jangan menggodaku dong!!”
Kami tertawa berdua. Samar-samar aku mendengar derap langkah kaki di koridor. Cepat aku melangkah ke pintu. Bukan. Tidak ada seorang pun di sana. Bukan Sang Won. Ah, aneh-aneh saja khayalanku. Tapi, kenapa dia belum menjemputku ya? Biasanya jam segini dia sudah on time di depan kelasku.
”Seung Hyo, aku jalan ke kelasnya Sang Won ya...”
”Oke, hati-hati ya...”
Pelan kuselusuri koridor panjang sekolah. Entah berapa lama aku tidak bisa melihatnya lagi nanti. Aku pasti akan merindukan sekolah ini dan segala kenangan di dalamnya. Di sekolah ini aku bertemu dengannya.
”Eh, Rin? Sang Won baru saja pulang. Dia tidak menjemputmu?” tanya Seung Hoo kaget. Aku hampir saja mengganggu acara pacarannya dengan kekasihnya Eun Bin.
”Begitu ya? Mungkin ada perlu...” sahutku, bingung. Sang Won tidak menungguku dan tidak mengabariku apapun. Kenapa? Baru kali ini ia bertingkah seaneh ini....
─Joo Sang Won, Seoul, 2009─
“Inilah susahnya anak yang lebih muda...Coba kalau kau sukanya padaku...”
Kepalaku terasa berdenyut sakit sesakit dadaku saat mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Rin. Apa maksudnya? Apa itu artinya kedekatanku selama ini dengannya selalu saja merepotkan? Apa ia tidak menyukaiku? Dan… yang ia sukai adalah Kak Seung Hyo?
Wajar. Tentu saja itu wajar bukan? Kak Seung Hyo tinggi. Dan keren. Ketua OSIS. Dan ia jagoan di klub karate. Aku bukan tandingannya. Dan Rin... cintanya bertepuk sebelah tangan. Kak Seung Hyo memilih gadis lain.
Rin memahami perasaanku yang juga bertepuk sebelah tangan, karena itu ia tidak mengatakan apapun, tidak mengatakan kalau ia keberatan dengan keberadaanku. Aku selalu jadi pengganggu untuknya.
”Sang Won!!”
Dadaku berderak keras ketika suara itu memanggilku. Sialan, sialan, kenapa kau sebodoh ini Sang Won! Jangan menyukainya! Jangan membuatnya tambah membenci keberadaanmu!!
”Ada apa?” tanyaku, berusaha bersikap biasa.
Duh, susah sekali sih. Bibirku kaku sekali tersenyum di depannya. Aah, coba kalau gerakku lebih cepat. Coba kalau aku tidak usah menunggu badanku tambah tinggi. Mungkin aku sudah bisa menggandengnya kemana pun saat ini. Tapi, tidak boleh, pikiran semacam itu egois bukan?
”Kau tidak sakit kan?” tanya Rin. Nafasnya terengah-engah mengejarku. Uuh, rasanya aku harus menahan diri supaya tidak memeluknya sekarang.
”Tidak apa-apa...” sialan, suaraku kasar sekali barusan.
”Baguslah kalau tidak sakit...” ujar Rin sambil menatap mataku dalam-dalam. ”Aku belikan ini tadi...” ia menyodorkan sekaleng jus jeruk ke tanganku. ”Sang Won suka jus kan? Ini banyak vitaminnya. Berguna untuk mencegah sakit...”
”Terimakasih...”
Aneh bukan? Aku seorang lelaki. Tapi, menerima kebaikannya ini. Rasanya hatiku berderak sakit. Aku menyukainya. Dan ia tidak menyukaiku. Tapi, melihat kebaikannya padaku...aku merasakan harapan baru berpendar di dadaku. Aku ingin menangis karena kehangatannya begitu dalam di dadaku.
”Sang Won... kau membenciku?” Tanya Rin sambil menatapku lagi. Aku memalingkan wajah. Tidak bisa! Jangan lihat aku seperti itu!
”Siapa bilang!” jawabku. Sialan, sialan. Kenapa sih jadi ketus begini. Biasa saja Sang Won! Yang wajar, oke kan?
”Ternyata iya kau membenciku...” wajah Rin terlihat muram dan sedih. ”Ya sudah, aku pulang ya... sampai jumpa...”
Aku memandangnya pergi dengan hati hancur. Yang ada di ujung jalan itu... yang menjadi arah cintamu itu... bukan aku, ya Rin? Bukan aku...
”Rin!!!” tenggorokanku terasa panas saat meneriakkan namanya. ”Aku menyukaimu...” gumamku dengan suara parau. Sakit sekali... kenapa orang bilang cinta itu manis dan indah? Pahit... rasanya pahit... seperti menelan obat...
Angin musim semi yang hangat menerpa punggungku. Mataku panas dan tenggorokanku sakit. Aku tidak boleh menangis. Aku adalah pria.
─Na Rin Young, Seoul, 2009─
“Kau enak sekali, Seung hyo…” godaku pada Seung Hyo yang dengan gembira memakan bekal pemberian pacarnya, Shin Woo.
“Haha.. hari ini kau nggak makan siang bareng sama Sang Won?”
“Sudah berakhir tuh…” jawabku asal. Aku harus berusaha tenang. Supaya pertahananku tidak jebol seperti kemarin. Akhirnya kemarin aku berlari sampai ke rumah. Berlari dengan mata basah. Sang Won membenciku.
“Kenapo? Kok bisa sih?” Tanya Seung Hyo sambil menghentikan makan siangnya. “Kalian kan lengket sekali…”
“Aku tidak tahu. Tiba-tiba sikapnya berubah. Mungkin dia sadar aku menyukainya dan ia tidak mau itu terjadi. Makanya dia menjaga jarak…” ujarku dalam rentetan kalimat yang bergulir begitu cepat.
“Loh? Bukannya kebalikannya?” ujar Seung Hyo. Aku baru saja mau menanyakan apa maksudnya menanyakan itu ketika tiba-tiba salah satu anggota OSIS datang dan memberikan laporan kegiatan ke Seung Hyo. ”Eh, tadi sampai mana ya?” tanyanya.
”Habiskan saja deh, istirahat sudah mau selesai tuh...” jawabku malas. Ia melanjutkan makannya sambil memintaku bercerita selengkapnya pulang sekolah.
”Begitu? Tiba-tiba dia pulang? Tanpa bilang apapun?”
”Ya, bahkan aku belum mengobrol apapun dengannya hari itu. aneh kan? Dan waktu kususul, suaranya, tatapannya... dingin sekali. Seperti bukan Sang Won yang kukenal...”
”Hei, jangan menangis.. nanti aku malah dituduh melakukan macam-macam padamu...” ujar Seung Hyo lembut.
”Kata-katamu malah membuatku sesak nafas, tahu...” ujarku. ”Uhh...” dengan cepat kututup mulutku. Air mataku sudah meluncur jatuh di pipiku.
”Sudahlah... sudah... nanti biar aku bicara padanya....” Seung Hyo meminjamkan bahunya untuk tempatku menangis. “Ya, makanya berhenti dong nangisnya... tuh rumahmu sudah sampai...”
“Thanks ya... dan mendingan nggak perlu ngomong aneh-aneh sama Sang Won. Aku nggak mau dia tambah membenciku...”
”Oke, aku tahu itu... Ingat, jangan nangis terlalu banyak...” pintu kututup sebelum Seung Hyo menyelesaikan ceramahnya.
Aku tidak mungkin bisa menurutinya. Hatiku hancur dan patah. Siapa yang bisa memperbaikinya? Luka yang disebabkan Sang Won, hanya Sang Won yang bisa menyembuhkannya.
─Joo Sang Won, Seoul, 2009─
Menguntit merupakan akar dari kejahatan. Aku tahu itu. Aku tahu tidak seharusnya aku menguntit Rin sampai ke rumah. Apalagi ada Kak Seung Hyo mengantarnya pulang. Kenapa bisa? Apa mereka sudah jadian? Tapi, kenapa dia membuatnya menangis di bahunya? Apakah Rin menyatakannya dan ditolak? Sialan! Tidak bisa dibiarkan!
”Kak Seung Hyo!!” aku mengejarnya dengan setengah berlari. Ia memandangku dan tampak terkejut.
”Kau ke sini? Kukira kau tidak mau mengantar Rin pulang!” ia mulai mengomeliku dengan wajah kesal. Sialan, mustinya aku yang marah, kan?
”Kan ada Kakak yang mengantarnya! Lagipula, aku hanya sekedar cemas kok...” dalihku, berusaha membela diri.
”Kalau cemas, antar dia dong!” omel Kak Seung Hyo sambil berdecak marah. ”Kalian membuatku pusing saja!”
”Biar gimanapun, Kakak jangan membuatnya menangis dong! Kakak menolaknya dengan lembut dong!!”
”Menolak? Apa sih maksudmu?” Kak Seung Hyo memandangku dengan alis bertaut, terlihat bingung.
”Rin kan menyukai Kakak, makanya dia baru berani mengutarakan perasaannya. Eh, Kakak malah menolaknya! Tega banget sih!!”
”Hah!? Lelucon macam apa itu! Dengar ya, tidak lucu loh, aku tidak akan tertawa....” ujar Kak Seung Hyo sambil memandangku dari atas sampai bawah. Sekejap kemudian ia terdiam dan tampak berpikir. ”Oooh, begitu rupanya! Pantas saja! Dasar kalian berdua bodoh sekali!!”
”Akhirnya Kakak mau ngaku?” tuntutku, kesal. Kak Seung Hyo malah tertawa terbahak-bahak dan menarikku. Sekejap kemudian ia berbisik di telingaku, menceritakan semuanya. Menjelaskan kebodohanku. Kedangkalan pikiranku. Mukaku memerah sampai telinga. Dalam hitungan detik, aku lari tunggang langgang sampai ke rumah.
─Na Rin Young, Seoul, 2009─
“Memangnya ada yang lucu?” tanyaku sambil menggerutu. Dari pagi Seung Hyo terus-menerus cengar cengir saat melihatku. “Kau membuatku tambah sebal tahu!!” protesku.
“Eh, Rin, mau taruhan nggak?”
”Taruhan?” kukerutkan dahiku. Tidak biasanya Seung Hyo mengatakan hal sekonyol itu. ”Apa aku nggak salah dengar?”
”Kalau hari ini Sang Won datang dan membuatmu gembira, bantu aku cari tahu barang yang diinginkan Shin Woo ya...”
”Tidak lucu tahu!” jawabku dengan jengkel. ”Tidak mungkin deh, kau pasti kalah. Kalau kalah, kau harus....”
Kalimatku belum usai ketika tahu-tahu sebuah suara memanggilku. ”Rin!!!” ia berdiri di depan pintu kelasku. Entah bagaimana wajahku saat memandangnya. Sebentar kutatap Seung Hyo yang memberikan tanda victory dengan jarinya. Uuh...
”Jadi... kau tidak membenciku, nih?” tanyaku sambil mengamati daun jatuh di halaman belakang sekolah.
Sang Won berdiri di sampingku, juga bersender ke dinding. “Aku...nggak pernah membencimu kok...” jawabnya datar. “Justru kebalikannya. Aku takut kau membenciku.”
“Kapan aku bilang begitu?”
”Aku salah paham karena membuat kesimpulan seenaknya. Hari itu, saat mau menjemputmu, aku mendengar sedikit kalimatmu ke Kak Seung Hyo. Dan tahu-tahu, kakiku langsung lari begitu saja setelah mendengarnya...”
”Aku bilang apa ya?” tanyaku, bingung.
”Kau bilang... “Inilah susahnya anak yang lebih muda...Coba kalau kau sukanya padaku...””
”Ya ampun!!” tanganku tanpa sadar terangkat menutup mulutku. ”dan apa yang kau simpulkan?”
”Aku kira kau membenciku karena selalu mendekatimu padahal yang kau sukai Kak Seung Hyo. Lalu, karena Kak Seung Hyo sudah punya pacar, kau jadi memahami perasaanku yang bertepuk sebelah tangan dan membiarkanku terus mengganggumu...”
”Hahaha...”
”Tidak lucu Rin, aku benar-benar takut kau membenciku...”
”Aku malah mengira... kau sudah membenciku...” tawaku lagi-lagi berderai. Tawa yang kering. Sementara, pipiku sudah basah oleh air mata.
”Maaf Rin... Aku salah paham ya... Tapi, Kak Seung Hyo mengutarakan keseluruhan kalimatnya padaku... Aku sadar kok. Sangat sadar akan perasaanku. Namun, aku terus mencari waktu yang tepat...”
”Eh...” Wajahku memerah semerah tomat. Sialan si Seung Hyo! Bisa nggak ceritanya seperlunya saja? Huh! Dasar...
”Aku...menyukaimu, Rin... Jadilah pacarku. Oh, ya, mungkin agak memalukan kalau nanti saat kuliah kau pacaran dengan anak SMA... tapi, aku akan berusaha keras untuk tidak membuatmu malu!!”
Air mata dan senyuman membaur jadi satu di wajahku. Sang Won, yang kini lebih tinggi dariku maju dan memelukku. Aku sudah lama, begitu lama menantinya. Dan kini, saat ia memelukku, aku tahu, penantianku tidak pernah sia-sia...
”Eh, Sang Won, kau kenal dengan Han Shin Woo?”
“Hm? Kenapa dia? Kenal kok…”
“Bisa Bantu aku cari tahu apa benda yang diinginkannya nggak untuk ulang tahun?”
“Hah? Sekarang kau jadi lesbi ya? Huhu...”
”Uh! Bukan! Bukan! Aku kalah taruhan dengan Seung hyo tadi. Pokoknya kau bantu saja aku cari tahu barang yang diinginkannya!! Dan kau juga tidak boleh jatuh cinta padanya ya! Kau kan pacarku!!”
”Ya! Aku tahu itu! Aku tahu!!” senyuman Sang Won melebar saat mendengar aku menyebutnya pacarku. Ia menggandengku. Bersama-sama udara musim semi yang hangat, kami menyusuri koridor panjang sekolah. Kenangan yang takkan kulupa selamanya.
-Selesai-
Rabu, 23 Juni 2010
Fanfic The Future and the Past 39
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
THIRY NINTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
Yushin: Uhm Tae Wong, Kim Tae Wong as KNG brother
Kim Yong Soo : Park Jung Chul(nama asli): Jung Yong Soo (nama di FF)
Seol Won : Jun Noh Min (Guru olahraga)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Kau bohong padaku!” tuntut wanita itu dengan segala emosi dari wajahnya. Aku ingin mengelak dan pergi tetapi ia terus berujar. “Mengapa kau berbohong?”
”Bi Dam, jawab aku sekarang...”pinta suara itu lagi. Aku memandangnya dengan perasaan kalut. Aku tidak bermaksud berbohong. Wanita itu, dia tidak mau mengakuiku. Jadi, untuk apa kalau aku sendiri yang mengakuinya?
─Kim Nam Gil, Gyeongju, 2008─
”Kau mimpi buruk?” tanya Kak Tae Wong sambil menepuk pundakku.
”Begitulah,” jawabku sambil beringsut bangun. Kepalaku terasa sangat berat. ”Kau seharian kemana kemarin? Aku tidak melihatmu di bus dan di ruang makan?”
”Aku ikut bus dua, makanya aku juga tidak melihatmu kemarin. Dan semalaman Pak Jun Noh Min minum-minum. Beberapa guru juga ikut. Kau saja yang tidak ikut ke pesta itu...”
”Aku tidak suka kegiatan semacam itu... Aku benci bar...” jawabku sambil menepuk kepalaku. ”Sayang sekali Dae Chi tidak ikut, bukan?” godaku. Sekejap kemudian wajah Kak Tae Wong berubah semerah tomat.
Aku sengaja memindahkan topiknya. Aku benci bar. Mengingatkanku akan Sung Pil. Mengingatkanku kalau ia kini sudah tidak ada lagi. Rasanya masih terasa tidak nyata.
”Hari ini kita akan ke kuil kemudian ke istana Silla...”
”Ya, aku tahu itu...” jawabku, menarik beberapa lembar pakaian ganti dan meletakkannya di pundakku, bersiap untuk mandi.
”Nam Gil, aneh tidak kalau aku merasa tidak asing dengan istana ini?” Kak Tae Wong mengernyitkan dahi memandang gambar istana Silla di brosur majalah wisata yang dibagikan gratis kemarin.
Langkahku terhenti sejenak. Begitukah? Jadi, Kak Tae Wong juga merasa tidak asing? Berarti bukan hanya aku saja? berarti... aku normal? Ya, aku tidak gila. Kalau nggak, nggak mungkin kan Yo Won, aku dan kak Tae Wong merasakan keanehan itu.
”Tidak, kau dan aku normal. Aku juga merasakannya....” jawabku sambil menutup pintu kamar mandiku. Aku bisa melihat Kak Tae Wong mengangguk paham sebelum pintuku tertutup sepenuhnya.
”Bi Dam....”
Gil, aku mungkin benar-benar gila kalau kukatakan nama itu tidak terasa asing saat kuucapkan di bibirku. Dan wanita itu menatapku saat mengucapkannya.
Apakah... itu namaku?
”Kau kurang tidur, ya?” tanya Yo Won sambil menatapku cemas.
Kami menikmati sarapan bersama begitu banyak murid lainnya. Kulihat Yong Soo dan Ye Jin duduk di sudut ruangan, terlihat asyik mengobrol.
”Mereka sudah jadian ya?” tanyaku pada Yo Won. Ia menatap ke sudut ruangan dan mengangguk. Kuteruskan memakan nasi gorengku.
”Banyak juga yang jadian sejak datang ke sini...”
”Memang menyedihkan kalau jalan-jalan tanpa pasangan kan?” jawabku sambil tersenyum jahil ke arah Yo Won. Pipinya memerah karena malu. Menggemaskan. Sebenarnya aku ingin mencubitnya, tapi apa kata orang yang melihatnya?
”Yo Won, aku ada permintaan...” ujarku. Ia menatapku bingung. ”Coba kau panggil aku Bi Dam...” pintaku.
Yo Won tertegun mendengar kalimatku. Mungkin aku memang gila karena memintanya memanggilku demikian, tapi... sudahlah, memang aku sudah gila. ”Tidak mau juga tidak apa kok...” tukasku buru-buru.
”Bi Dam....” ucap Yo Won dengan bibir bergetar.
Detik itu juga ada rasa sakit luar biasa di jantungku, di perutku, di organ dalamku. PRANGG!!!!! Piringku terjatuh dari pangkuanku sementara aku sendiri bergulingan di lantai sambil menekan dadaku dengan tangan.
“Kim Nam Gil?” panggil Yo Won dan anak-anak lain. Kak Tae Wong dan Yong Soo menyibak kerumunan dan berjalan maju lalu membantuku berdiri. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya, kaget.
“Sedikit kacau di sini...” ujarku sambil menunjuk otakku. “Dan rasanya sakit sekali di sini. Tapi itu tadi, sekarang sudah tidak apa-apa....”
”Kau yakin ikut ke tempat itu?” Yo Won memandangku cemas. ”Maaf, seharusnya aku tidak mengejutkanmu...”
”Aku yakin kok aku memang harus ikut. Dan stop minta maaf, aku yang memintamu, jadi bukan kau yang salah. Oke?” Yo Won tersenyum kecil sambil memandangku cemas.
─Lee Yo Won, Seoul, 2008─
Begitu memasuki halaman kuil Bulguksa, pemandu mulai bercerita panjang lebar. Aku mengeluarkan notes dan mulai mencatat untuk memuatnya sebagai laporan perjalanan. Tugas akhir semester, dan kontribusinya besar untuk nilai pelajaran sejarah, sosiologi, kewarganegaraan, dan bahasa indonesia.
”Kota Gyeongju merupakan ibu kota dari Dinasti Shilla, dinasti yang pernah berjaya di Korea dan menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini bahwa mereka pernah menjadi bangsa yang besar dan disegani. Dari catatan sejarah, dinasti ini berdiri pada tahun 57 sebelum Masehi. Peninggalan-peninggalan sejarahnya masih tetap dipertahankan sampai saat ini, walau beberapa sudah direstorasi. Dari lokasi dan peninggalan yang ada, menggambarkan betapa dinasti ini sudah besar dengan peradaban yang sudah maju.”
Aku mencuri pandang beberapa kali dan mengamati kondisi Kim Nam Gil. Ia tampak sehat, syukurlah.
“BULGUKSA yang berarti "Kuil Negara sang Budha". Kuil ini selesai dibangun saat pemerintahan kerajaan Shilla bersatu dan sempat terbakar saat Jepang masuk ke Korea. Di depan adalah gerbang 4 Raja Langit...” ujar pemandu itu lagi.
Kami berjalan melewati empat patung raksasa. Kemudian, tidak jauh dari sana, ada sebuah bangunan megah dengan tangga besar di tengah. Kami memanfaatkan momen yang ada untuk berfoto dengan teman-teman.
”Aduh. Tidak perlu deh, Yo Won...” ujarnya malas. Mati-matian kuseret Kim Nam Gil dan kuminta Ye Jin memotret kami.
”Setelah ini kemana?” tanyaku sambil bergelayut di lengan Kim Nam Gil. Ia terlihat agak waswas dan kemudian melihat sekeliling. ”Tidak ada orang kok kecuali Ye Jin dan Yong Soo...”
”Iya, aku tahu,” sahut cowok itu sambil tersenyum. Rasanya agak iri melihat Ye Jin bisa bergandengan dengan terbuka bersama Yong Soo. Menyenangkan melihat tawa Ye Jin sudah tidak lagi dipaksakan sekarang. ”Setelah ini Bunhwangsa...”
Bunhwangsa tidak jauh berbeda. Merupakan sebuah candi tua berbentuk seperti pagoda raksasa yang aslinya 9 tingkat tapi kini tinggal 3 tingkat yang tersisa. Pemandu menjelaskan kalau itu diakibatkan oleh invasi Jepang.
Kepalaku terasa pusing. Apakah kurang tidur? ”Tidak apa-apa?” tanya Kim nam Gil.
Aku menggeleng dan menggunakan bahunya sebagai penopang. Aneh. Rasanya perpindahan rute semakin membuatku merasa aneh. Berdebar, pusing, dan melayang-layang. Apakah aku masih berdiri di kakiku sendiri? Entahlah, rasanya tidak meyakinkan.
”Sekarang kita akan menuju Kuburan seorang Jenderal besar dalam sejarah kerajaan Silla. Kim Yu Shin...”
Langkahku terhenti mendengar kalimat pemandu itu. Yu Shin? Kenapa rasanya...?
”Kak Tae Wong!!” terdengar jeritan seorang siswi. Aku menatap ke arah Kak Tae Wong. Cowok itu disana, jatuh dengan posisi berlutut dan satu tangan memegang kepalanya. Apakah ia kelelahan?
”Maaf, hanya anemia ringan...”
Kim Nam Gil bergerak meninggalkanku dan bersama Yong Soo berjalan dengan Kak Tae Wong. Wajah mereka pucat. Aku juga bisa melihat wajah Ye Jin yang pucat. Dan apakah wajahku juga demikian? Mungkinkah semuanya menrasakan perasaan aneh itu?
”Nah, kita sudah tiba di makam Kim Yu Shin... Banyak sekali bukan bukit yang ada di sini? Sebenarnya ini semua bukan sembarang bukit. Tapi kuburan para Raja, Ratu, Bangsawan, Jenderal, dan petinggi-petinggi kerajaan Shilla dahulu. Dari Ratusan kuburan seperit itu hanya 8 buah yang dapat diperkirakan siapa yang dikubur di situ, tapi belum ada yang dapat dipastikan kebenarannya. Bentuk, besar, posisi dari bukit2 tersebut menentukan status, kelamin, hubungan antar kuburan tersebut...”
Terdengar suara ’ooh’ dan ’aaah’ juga ’waah begitu ya....’ dari para murid. Banyak hal yang perlu dipelajari dari tempat yang istimewa ini, dan barangkali, salah satunya bisa menjelaskan arti dari rasa sakit luar biasa ini.
”Yo Won?” Ye Jin menghampiriku dan memeluk pundakku. “Kau sakit juga?” tanyanya cemas sambil menuntunku duduk. Beberapa mengambil gambar dan berfoto di dekat makan pria bernama Kim Yu Shin itu.
“Sejak datang ke tempat ini... kepalaku sering sakit kok, jadi bisa dibilang aku sudah biasa…” tukasku berusaha menenangkan Ye Jin. Keringat dingin kurasakan di peluhku. Ada yang aneh. Perasaan aneh di dadaku. Dan entah mengapa, aku merasa ingin menangis. ”Loh, Ye Jin?”
”Ahaha... aneh ya?” ia tertawa dan mengusap pipi dengan punggung tangannya. ”kenapa... kita jadi menangis begini ya?” tanyanya sambil tersenyum kikuk.
Aku mengelap pipiku dan terkejut menyadari ada air mata di sana. Di sisi lain, wajah Kak Tae Wong begitu keruh memandang kuburan itu. Dan Kim Nam Gil serta Yong Soo ada di sana. Ekspresinya, aneh, seperti ekspresi saat kita memandang atasan kita. Ya, seperti eskpresi penghormatan.
Aku menekan dadaku dengan tangan. Debaran jantungku akhir-akhir ini semakin aneh. Seperti sekarang. Seperti seolah seuatu yang buruk akan terjadi....
”Kakak!!” seru Kim Nam Gil kaget. Kak Tae Wong pingsan di depan makam Kim Yu Shin! Aku dan Ye Jin berpandangan dengan bingung. Kami lantas berlari dan membantu mereka. Perasaan tidak nyamanku, firasat yang buruk ternyata benar terjadi.
”Acara bebas sepert ini malah menjagaku, maaf ya,” ujar Kak Tae Wong sambil memandang aku dan Ye Jin.
Kami tersenyum dan berkata bukan masalah. Walaupun sebenarnya aku sangat ingin menghabiskan waktu bersama Nam Gil, tapi kurasa menolong orang lebih penting lagi.
”Kak Tae Wong kenapa bisa sampai pingsan? Apa betul anemia-nya separah itu?”
”Aku sebenarnya sama sekali tidak punya riwayat anemia kok,” jawabnya sambil tersenyum kecil. ”Oh, dan jangan kabar Dae Chi soal kelemahanku ini. Nanti dia cemas dan tahu-tahu menyusul ke sini...”
”Iya, tadinya ingin bilang, tapi tidak jadi. Aku memang mau tanya Kak Tae Wong dulu sebaiknya bilang atau tidak...”
”Thanks ya...”
”Lalu, kalau bukan anemia. Kakak sakit apa?” tanya Ye Jin. Rupanya ia sama penasarannya denganku.
”Entahlah. Akhi-akhir ini aku semakin merasa kacau. Semenjak datang ke sini, ada begitu banyak siluet manusia bermunculan di otakku. Dan semuanya dengan pakaian resmi yang sifatnya tradisional...”
”Ah...” aku memandang Ye Jin dan kami bertatapan sejenak. ”Kau... memimpikannya juga?” tanyaku pada Ye Jin. Ia mengangguk dengan pandangan bingung.
”Kalian juga?” tanya Kak Tae Wong, kaget.
”Ya, kami juga...” sahut dua suara lain. Aku dan Ye Jin serta Kak Tae Wong memandang ke arah suara itu dengan bingung. Kim Nam Gil dan Yong Soo. Mereka juga mengalaminya?
”Jadi, apa ini normal?”
“Tidak begitu normal kurasa,” jawab Nam Gil sambil meletakkan bungkusan makanan di meja. ”Semua murid yang mengobrol denganku tidak pernah membayangkan atau merasakan keanehan itu...”
“Lalu, kenapa kita?” tanya Yong Soo. “Dan semuanya tentang kerajaan. Jangan-jangan semuanya memimpikan satu kerajaan yang sama. Kerajaan yang menghubungkan kita semua. Dan tadi, dengan pingsannya Tae Wong, kurasa semua sudah jelas....”
”Apa...maksudnya?”
Debaran dadaku semakin kencang. Dan semakin terasa menyentak menyakitkan. Bagaikan gemuruh yang tidak henti-hentinya menghantam dadaku.
”Kim Yu Shin berasal dari Silla. Kerajaan Silla, itulah point kuncinya...” ujar tiga pria itu bersamaan. Kami berpandangan dengan wajah kalut.
”Mungkin, kalian akan menertawaiku, tapi...” Kak Tae Wong meremas selimutnya ragu. “Sebelum pingsan, sebelum ada rasa sakit menghantam kepalaku, aku mendengarnya. Ada seseorang… suara…di kepalaku, bergaung, memanggilku. Entah siapa yang ia panggil, tapi kurasa ia memanggilku. Yu Shin….”
Kali ini tidak ada yang tertawa. Semuanya berpandangan dengan wajah tegang. Yu Shin... dan satu lagi. Bi Dam.... nama yang disebut Kim Nam Gil tadi pagi.
Kami semakin menghadapi kenyataan. Dan mungkin, seandainya benar Silla adalah penghubung kami, mata rantai yang menyatukan eksistensi kami semua, maka hanya ada satu kata yang bisa membenarkan semua teori kami. Reinkarnasi.
--to be continued-
THIRY NINTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
Yushin: Uhm Tae Wong, Kim Tae Wong as KNG brother
Kim Yong Soo : Park Jung Chul(nama asli): Jung Yong Soo (nama di FF)
Seol Won : Jun Noh Min (Guru olahraga)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Kau bohong padaku!” tuntut wanita itu dengan segala emosi dari wajahnya. Aku ingin mengelak dan pergi tetapi ia terus berujar. “Mengapa kau berbohong?”
”Bi Dam, jawab aku sekarang...”pinta suara itu lagi. Aku memandangnya dengan perasaan kalut. Aku tidak bermaksud berbohong. Wanita itu, dia tidak mau mengakuiku. Jadi, untuk apa kalau aku sendiri yang mengakuinya?
─Kim Nam Gil, Gyeongju, 2008─
”Kau mimpi buruk?” tanya Kak Tae Wong sambil menepuk pundakku.
”Begitulah,” jawabku sambil beringsut bangun. Kepalaku terasa sangat berat. ”Kau seharian kemana kemarin? Aku tidak melihatmu di bus dan di ruang makan?”
”Aku ikut bus dua, makanya aku juga tidak melihatmu kemarin. Dan semalaman Pak Jun Noh Min minum-minum. Beberapa guru juga ikut. Kau saja yang tidak ikut ke pesta itu...”
”Aku tidak suka kegiatan semacam itu... Aku benci bar...” jawabku sambil menepuk kepalaku. ”Sayang sekali Dae Chi tidak ikut, bukan?” godaku. Sekejap kemudian wajah Kak Tae Wong berubah semerah tomat.
Aku sengaja memindahkan topiknya. Aku benci bar. Mengingatkanku akan Sung Pil. Mengingatkanku kalau ia kini sudah tidak ada lagi. Rasanya masih terasa tidak nyata.
”Hari ini kita akan ke kuil kemudian ke istana Silla...”
”Ya, aku tahu itu...” jawabku, menarik beberapa lembar pakaian ganti dan meletakkannya di pundakku, bersiap untuk mandi.
”Nam Gil, aneh tidak kalau aku merasa tidak asing dengan istana ini?” Kak Tae Wong mengernyitkan dahi memandang gambar istana Silla di brosur majalah wisata yang dibagikan gratis kemarin.
Langkahku terhenti sejenak. Begitukah? Jadi, Kak Tae Wong juga merasa tidak asing? Berarti bukan hanya aku saja? berarti... aku normal? Ya, aku tidak gila. Kalau nggak, nggak mungkin kan Yo Won, aku dan kak Tae Wong merasakan keanehan itu.
”Tidak, kau dan aku normal. Aku juga merasakannya....” jawabku sambil menutup pintu kamar mandiku. Aku bisa melihat Kak Tae Wong mengangguk paham sebelum pintuku tertutup sepenuhnya.
”Bi Dam....”
Gil, aku mungkin benar-benar gila kalau kukatakan nama itu tidak terasa asing saat kuucapkan di bibirku. Dan wanita itu menatapku saat mengucapkannya.
Apakah... itu namaku?
”Kau kurang tidur, ya?” tanya Yo Won sambil menatapku cemas.
Kami menikmati sarapan bersama begitu banyak murid lainnya. Kulihat Yong Soo dan Ye Jin duduk di sudut ruangan, terlihat asyik mengobrol.
”Mereka sudah jadian ya?” tanyaku pada Yo Won. Ia menatap ke sudut ruangan dan mengangguk. Kuteruskan memakan nasi gorengku.
”Banyak juga yang jadian sejak datang ke sini...”
”Memang menyedihkan kalau jalan-jalan tanpa pasangan kan?” jawabku sambil tersenyum jahil ke arah Yo Won. Pipinya memerah karena malu. Menggemaskan. Sebenarnya aku ingin mencubitnya, tapi apa kata orang yang melihatnya?
”Yo Won, aku ada permintaan...” ujarku. Ia menatapku bingung. ”Coba kau panggil aku Bi Dam...” pintaku.
Yo Won tertegun mendengar kalimatku. Mungkin aku memang gila karena memintanya memanggilku demikian, tapi... sudahlah, memang aku sudah gila. ”Tidak mau juga tidak apa kok...” tukasku buru-buru.
”Bi Dam....” ucap Yo Won dengan bibir bergetar.
Detik itu juga ada rasa sakit luar biasa di jantungku, di perutku, di organ dalamku. PRANGG!!!!! Piringku terjatuh dari pangkuanku sementara aku sendiri bergulingan di lantai sambil menekan dadaku dengan tangan.
“Kim Nam Gil?” panggil Yo Won dan anak-anak lain. Kak Tae Wong dan Yong Soo menyibak kerumunan dan berjalan maju lalu membantuku berdiri. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya, kaget.
“Sedikit kacau di sini...” ujarku sambil menunjuk otakku. “Dan rasanya sakit sekali di sini. Tapi itu tadi, sekarang sudah tidak apa-apa....”
”Kau yakin ikut ke tempat itu?” Yo Won memandangku cemas. ”Maaf, seharusnya aku tidak mengejutkanmu...”
”Aku yakin kok aku memang harus ikut. Dan stop minta maaf, aku yang memintamu, jadi bukan kau yang salah. Oke?” Yo Won tersenyum kecil sambil memandangku cemas.
─Lee Yo Won, Seoul, 2008─
Begitu memasuki halaman kuil Bulguksa, pemandu mulai bercerita panjang lebar. Aku mengeluarkan notes dan mulai mencatat untuk memuatnya sebagai laporan perjalanan. Tugas akhir semester, dan kontribusinya besar untuk nilai pelajaran sejarah, sosiologi, kewarganegaraan, dan bahasa indonesia.
”Kota Gyeongju merupakan ibu kota dari Dinasti Shilla, dinasti yang pernah berjaya di Korea dan menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini bahwa mereka pernah menjadi bangsa yang besar dan disegani. Dari catatan sejarah, dinasti ini berdiri pada tahun 57 sebelum Masehi. Peninggalan-peninggalan sejarahnya masih tetap dipertahankan sampai saat ini, walau beberapa sudah direstorasi. Dari lokasi dan peninggalan yang ada, menggambarkan betapa dinasti ini sudah besar dengan peradaban yang sudah maju.”
Aku mencuri pandang beberapa kali dan mengamati kondisi Kim Nam Gil. Ia tampak sehat, syukurlah.
“BULGUKSA yang berarti "Kuil Negara sang Budha". Kuil ini selesai dibangun saat pemerintahan kerajaan Shilla bersatu dan sempat terbakar saat Jepang masuk ke Korea. Di depan adalah gerbang 4 Raja Langit...” ujar pemandu itu lagi.
Kami berjalan melewati empat patung raksasa. Kemudian, tidak jauh dari sana, ada sebuah bangunan megah dengan tangga besar di tengah. Kami memanfaatkan momen yang ada untuk berfoto dengan teman-teman.
”Aduh. Tidak perlu deh, Yo Won...” ujarnya malas. Mati-matian kuseret Kim Nam Gil dan kuminta Ye Jin memotret kami.
”Setelah ini kemana?” tanyaku sambil bergelayut di lengan Kim Nam Gil. Ia terlihat agak waswas dan kemudian melihat sekeliling. ”Tidak ada orang kok kecuali Ye Jin dan Yong Soo...”
”Iya, aku tahu,” sahut cowok itu sambil tersenyum. Rasanya agak iri melihat Ye Jin bisa bergandengan dengan terbuka bersama Yong Soo. Menyenangkan melihat tawa Ye Jin sudah tidak lagi dipaksakan sekarang. ”Setelah ini Bunhwangsa...”
Bunhwangsa tidak jauh berbeda. Merupakan sebuah candi tua berbentuk seperti pagoda raksasa yang aslinya 9 tingkat tapi kini tinggal 3 tingkat yang tersisa. Pemandu menjelaskan kalau itu diakibatkan oleh invasi Jepang.
Kepalaku terasa pusing. Apakah kurang tidur? ”Tidak apa-apa?” tanya Kim nam Gil.
Aku menggeleng dan menggunakan bahunya sebagai penopang. Aneh. Rasanya perpindahan rute semakin membuatku merasa aneh. Berdebar, pusing, dan melayang-layang. Apakah aku masih berdiri di kakiku sendiri? Entahlah, rasanya tidak meyakinkan.
”Sekarang kita akan menuju Kuburan seorang Jenderal besar dalam sejarah kerajaan Silla. Kim Yu Shin...”
Langkahku terhenti mendengar kalimat pemandu itu. Yu Shin? Kenapa rasanya...?
”Kak Tae Wong!!” terdengar jeritan seorang siswi. Aku menatap ke arah Kak Tae Wong. Cowok itu disana, jatuh dengan posisi berlutut dan satu tangan memegang kepalanya. Apakah ia kelelahan?
”Maaf, hanya anemia ringan...”
Kim Nam Gil bergerak meninggalkanku dan bersama Yong Soo berjalan dengan Kak Tae Wong. Wajah mereka pucat. Aku juga bisa melihat wajah Ye Jin yang pucat. Dan apakah wajahku juga demikian? Mungkinkah semuanya menrasakan perasaan aneh itu?
”Nah, kita sudah tiba di makam Kim Yu Shin... Banyak sekali bukan bukit yang ada di sini? Sebenarnya ini semua bukan sembarang bukit. Tapi kuburan para Raja, Ratu, Bangsawan, Jenderal, dan petinggi-petinggi kerajaan Shilla dahulu. Dari Ratusan kuburan seperit itu hanya 8 buah yang dapat diperkirakan siapa yang dikubur di situ, tapi belum ada yang dapat dipastikan kebenarannya. Bentuk, besar, posisi dari bukit2 tersebut menentukan status, kelamin, hubungan antar kuburan tersebut...”
Terdengar suara ’ooh’ dan ’aaah’ juga ’waah begitu ya....’ dari para murid. Banyak hal yang perlu dipelajari dari tempat yang istimewa ini, dan barangkali, salah satunya bisa menjelaskan arti dari rasa sakit luar biasa ini.
”Yo Won?” Ye Jin menghampiriku dan memeluk pundakku. “Kau sakit juga?” tanyanya cemas sambil menuntunku duduk. Beberapa mengambil gambar dan berfoto di dekat makan pria bernama Kim Yu Shin itu.
“Sejak datang ke tempat ini... kepalaku sering sakit kok, jadi bisa dibilang aku sudah biasa…” tukasku berusaha menenangkan Ye Jin. Keringat dingin kurasakan di peluhku. Ada yang aneh. Perasaan aneh di dadaku. Dan entah mengapa, aku merasa ingin menangis. ”Loh, Ye Jin?”
”Ahaha... aneh ya?” ia tertawa dan mengusap pipi dengan punggung tangannya. ”kenapa... kita jadi menangis begini ya?” tanyanya sambil tersenyum kikuk.
Aku mengelap pipiku dan terkejut menyadari ada air mata di sana. Di sisi lain, wajah Kak Tae Wong begitu keruh memandang kuburan itu. Dan Kim Nam Gil serta Yong Soo ada di sana. Ekspresinya, aneh, seperti ekspresi saat kita memandang atasan kita. Ya, seperti eskpresi penghormatan.
Aku menekan dadaku dengan tangan. Debaran jantungku akhir-akhir ini semakin aneh. Seperti sekarang. Seperti seolah seuatu yang buruk akan terjadi....
”Kakak!!” seru Kim Nam Gil kaget. Kak Tae Wong pingsan di depan makam Kim Yu Shin! Aku dan Ye Jin berpandangan dengan bingung. Kami lantas berlari dan membantu mereka. Perasaan tidak nyamanku, firasat yang buruk ternyata benar terjadi.
”Acara bebas sepert ini malah menjagaku, maaf ya,” ujar Kak Tae Wong sambil memandang aku dan Ye Jin.
Kami tersenyum dan berkata bukan masalah. Walaupun sebenarnya aku sangat ingin menghabiskan waktu bersama Nam Gil, tapi kurasa menolong orang lebih penting lagi.
”Kak Tae Wong kenapa bisa sampai pingsan? Apa betul anemia-nya separah itu?”
”Aku sebenarnya sama sekali tidak punya riwayat anemia kok,” jawabnya sambil tersenyum kecil. ”Oh, dan jangan kabar Dae Chi soal kelemahanku ini. Nanti dia cemas dan tahu-tahu menyusul ke sini...”
”Iya, tadinya ingin bilang, tapi tidak jadi. Aku memang mau tanya Kak Tae Wong dulu sebaiknya bilang atau tidak...”
”Thanks ya...”
”Lalu, kalau bukan anemia. Kakak sakit apa?” tanya Ye Jin. Rupanya ia sama penasarannya denganku.
”Entahlah. Akhi-akhir ini aku semakin merasa kacau. Semenjak datang ke sini, ada begitu banyak siluet manusia bermunculan di otakku. Dan semuanya dengan pakaian resmi yang sifatnya tradisional...”
”Ah...” aku memandang Ye Jin dan kami bertatapan sejenak. ”Kau... memimpikannya juga?” tanyaku pada Ye Jin. Ia mengangguk dengan pandangan bingung.
”Kalian juga?” tanya Kak Tae Wong, kaget.
”Ya, kami juga...” sahut dua suara lain. Aku dan Ye Jin serta Kak Tae Wong memandang ke arah suara itu dengan bingung. Kim Nam Gil dan Yong Soo. Mereka juga mengalaminya?
”Jadi, apa ini normal?”
“Tidak begitu normal kurasa,” jawab Nam Gil sambil meletakkan bungkusan makanan di meja. ”Semua murid yang mengobrol denganku tidak pernah membayangkan atau merasakan keanehan itu...”
“Lalu, kenapa kita?” tanya Yong Soo. “Dan semuanya tentang kerajaan. Jangan-jangan semuanya memimpikan satu kerajaan yang sama. Kerajaan yang menghubungkan kita semua. Dan tadi, dengan pingsannya Tae Wong, kurasa semua sudah jelas....”
”Apa...maksudnya?”
Debaran dadaku semakin kencang. Dan semakin terasa menyentak menyakitkan. Bagaikan gemuruh yang tidak henti-hentinya menghantam dadaku.
”Kim Yu Shin berasal dari Silla. Kerajaan Silla, itulah point kuncinya...” ujar tiga pria itu bersamaan. Kami berpandangan dengan wajah kalut.
”Mungkin, kalian akan menertawaiku, tapi...” Kak Tae Wong meremas selimutnya ragu. “Sebelum pingsan, sebelum ada rasa sakit menghantam kepalaku, aku mendengarnya. Ada seseorang… suara…di kepalaku, bergaung, memanggilku. Entah siapa yang ia panggil, tapi kurasa ia memanggilku. Yu Shin….”
Kali ini tidak ada yang tertawa. Semuanya berpandangan dengan wajah tegang. Yu Shin... dan satu lagi. Bi Dam.... nama yang disebut Kim Nam Gil tadi pagi.
Kami semakin menghadapi kenyataan. Dan mungkin, seandainya benar Silla adalah penghubung kami, mata rantai yang menyatukan eksistensi kami semua, maka hanya ada satu kata yang bisa membenarkan semua teori kami. Reinkarnasi.
--to be continued-
Jumat, 18 Juni 2010
Losing you

lost my little cat
Jeriel, my little kitten that I brought from my campus to my house with full of struggle (stuffed into a bag, took him along the road with the car) but in the end my family know about it as well
-> So many of my business until my mom finally allowed me to maintain Jeriel
every morning I play with him, prepare his food, jog with him,
and it's all gone now
that day, as usual I went to campus to take exams (what a coincidence my exam that day there was two, and the difference is far away, so I left early and come home the night)
in the evening, after coming home from college, I immediately look to feed him. however,Jeriel didn't come to me
thumping feeling and bad feeling, I asked my mama helped me look into some block not far away from my house
no results, Jeriel's lost!
Mom told me to wait until morning, and as soon as morning came, I went back looking for him again ... but no result .. even now I still did not find himit seems so sad. all our memories as if spinning like a slide show in my head and I finally had to let go
my brother, unexpectedly told me something wise. he says, "maybe someone will take care for her much better than me, and maybe the cat was more happy with him. what does it mean if I'm just a happy, while the cat is not?"
I pondered that sentence and try to accept the fact that it often feels bitter.
sad .. sad .. sad ..
but I hope it was best for her .. Jeriel hopefully wherever located, he could be happy
Langganan:
Postingan (Atom)