Rabu, 07 Juli 2010

Fanfic The Future and the Past 42

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
FORTY SECOND SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Young Mishil: UEE: Kim Yoo Jin (Mishil legal daughter)
Mishil: Mishil: Go Hyun Jung (memakai nama asli di FF)
Bo Jong: Baek Do Bin : (memakai nama asli di FF)
tita: Park Ri chan
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

Penghujung tahun 2008 sudah di depan mata. Perasaanku aneh, antara bahagia sekaligus kehilangan. Ada yang kulupakan, tetapi aku tidak mampu mengingatnya. Masa laluku, aku bisa mengingatnya. Dan Yo Won di sampingku, sahabatku bersamaku, keluargaku mendukungku. Lantas, apa yang hilang dariku?

”Hari ini pun udaranya cerah sekali..” tawa Yo Won.

Kami berjalan bergandengan di tengah udara musim dingin yang serasa menusuk tulang. Nafas putih dan hidung Yo Won memerah karena udara dingin, aku tidak bisa berhenti mencubitnya dan wajah sebalnya justru sangat manis.

“Apa yang kau pikirkan, Nam Gil?” tanya Yo Won sambil mengetatkan pegangan tangannya.

Aku tersenyum membalas pandangannya. ”Terlalu banyak hal baik terjadi akhir-akhir ini. Dan kurasa, ada yang kulewatkan. Atau kulupakan. Atau apapun itu...”

”Maksudmu... semacam firasat buruk? Nam Gil, tahun 2008 hampir berlalu dalam hitungan jari, dan... kau punya firasat buruk tentang tahun depan?”

”Begitulah,” sahutku enteng. ”Sudahlah, kau jangan ikut memikirkannya. Kurasa aku terlalu banyak pikiran...” ujarku lagi. Tetapi.... firasat aneh itu tetap bertahan di sudut hatiku. Ada yang tidak beres, dan aku melupakannya.

Keesokan paginya, firasat burukku menjadi kenyataan.

”Secangkir kopi di pagi hari...” ujar Mamaku. Hyun Jung sambil meminum kopinya. ”Enak, seperti biasanya...” ujarnya sambil tersenyum menenangkan. Aku membalas senyumnya pelan dan menyesap kopiku.

“Pagi, Ma... Pagi, Kak...” Yoo Jin turun sambil menyeret langkahnya. Matanya masih tampak mengantuk. “Uh... aku juga mau minum kopi...” ia mengambil gelas dan mengisinya. ”Semalaman aku bergadang untuk belajar...”

“Ada kemajuan rupanya,” canda Mama. Kami tertawa bersamaan. Yoo Jin memang paling ogah belajar. Tetapi, karena pacarnya Sang Wook sudah pasti diterima di universitas top, rupanya ia sadar harus belajar demi memasuki kampus yang sama.

Tiba-tiba terdengar kegaduhan dari luar teras. Aku, Yoo Jin dan Mama berpandangan bingung. ”Nona, tunggu, jangan masuk sembarangan!!” seru seorang sekuriti. Kali ini kegaduhan tampaknya semakin tidak terkontrol.

”Biar aku yang keluar, Ma..” diikuti anggukan Mama, aku berjalan keluar, dan tepat saat langkahku mencapai pintu, seseorang bertabrakan denganku.

”Nam Gil!!” mata wanita yang bertabrakan denganku langsung berkaca-kaca saat melihatku.

”Nona Park Ri Chan...” seruku dengan suara tertahan. ”Ada apa? Tidak biasanya kau datang....”

”Tolonglah aku, maksudku... tolonglah... Do Bin...” ia mulai terlihat kacau dan gelisah. Tangannya yang mencengkeram lengan bajuku terasa gemetar.

”Apa yang bisa kulakukan?” tanyaku, bingung. ”Tolong ceritakan apa yang terjadi sebenarnya...”

Bibir Park Ri Chan bergerak dalam gemetar, menyuarakan rentetan kalimat yang panjang... cerita yang seolah membiusku... dan kemudian, satu hal yang kusadari. Firasat burukku telah menjadi kenyataan. Secepat ini!!
─Lee Yo Won, Gyeongju, 2008─

”Pagi Yo Won...”

Tidak biasanya Nam Gil menjemputku pukul enam lewat. Biasanya ia selalu sangat tepat waktu. Dan tidak biasanya wajahnya semurung ini. Senyumnya sama sekali tidak terlihat wajar di mataku.

”Kau sakit, Nam Gil?” tanyaku saat melepaskan helmku dan menatapnya bingung.

”Tidak,” sahutnya sambil tersenyum kikuk. ”Hm... kalau bisa, pulang nanti aku mau bicara...” suaranya terdengar kaku.

Aku memandangi sosok punggungnya yang berjalan menjauh tanpa mampu berkomentar apapun. Hanya satu kalimat yang terus berulang dalam otakku. Kurasa, firasat buruknya telah menjadi kenyataan.




”Kau mau bicara tentang apa?” tanyaku, sambil berusaha meminum tehku dengan santai. Kami berada di kafe yang tidak jauh dari rumahku.

”Aku tidak tahu harus cerita dari mana...” matanya terus memandang uap panas dari secangkir kopi di depannya. "Kurasa akan kumulai dari pertemuanku dan Sung Pil.. dengan pria bernama Baek Do Bin...”

Dadaku bergemuruh pelan. Tadinya aku merasa ketakutan sendiri. Jangan-jangan, ada wanita lain? Tetapi, syukurlah ternyata bukan. Seorang pria. Dan pria itu... aku pernah melihatnya di... di mana ya?

”Baek Do Bin itu... aku pernah bertemu, tidak?”

”Pernah, di pemakaman Sung Pil...” jawab Nam Gil, berusaha tampak tenang. Tetapi, ia jelas tidak mampu menekan kesedihan dalam matanya saat nama Sung Pil terucap di bibirnya.

”Ceritakan semuanya padaku...” pintaku.


─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

”Dan lusa, Yeom Jong akhirnya dibebaskan dari penjara di Rusia. Dibebaskan, hanya untuk kembali menjadi buronan. Ia pergi ke kediaman Do Bin kemarin, dan menembaknya. Untungnya luput, dan pria itu dilarikan ke rumah sakit dengan pendarahan luar biasa di bagian perut. Kata tunangannya, kondisinya sangat kritis...”

Kutatap Yo Won yang terlihat bingung. Wajahnya pucat, dan ketika kugenggam, tangannya terasa sangat dingin. ”Mereka minta aku membantunya... membantu menyusun rencana agar Yeom Jong kembali masuk penjara...”

”Kau... tidak bisa dilarang, bukan?” tanya Yo Won dengan mata pedih. Ia menatapku langsung, membuatku merasa serba salah.

”Yo Won, bukannya begitu, tetapi jasa mereka sangat besar bagiku. Dan... mereka sahabatku...”

”Aku terlalu memahamimu, Nam Gil...” Yo Won memadangku lekat-lekat. ”Kau selalu mementingkan temanmu, dan mementingkan keselamatan mereka dibanding nyawamu sendiri...”

Aku terdiam dan tidak mampu membalas semua kalimatnya. Itu benar, darahku menggelegak panas tiap kali mengingat Yeom Jong-lah yang membunuh Sung Pil. Walau secara tidak langsung, aku juga menyebabkan kematiannya.

”Kau pasti masih menyalahkan dirimu atas kematian Sung Pil...” tuduh Yo Won. ”Kau pikir Sung Pil bahagia melihatmu menderita sendirian begini? Kenapa begitu lama kau menyimpannya sendiri?”

”Aku tidak mau melibatkanmu lebih jauh dalam masalahku...”

”Kau tidak bohong ketika kau bilang mencintaiku. Tetapi, apa artinya kalau kita hanya berbagi kebahagiaan? Semua itu akan menjadi sesuatu yang semu... aku ada di sampingmu, selalu, bahkan di saat orang lain menjauh darimu...”

Kuraih tangan Yo Won. ”Aku tahu, maafkan aku...” ia memaksakan senyumannya di depanku.

”Apa rencanamu?” tanyanya lagi.

”Kurasa aku akan meminta bantuan teman-temanku dulu...” ujarku sambil berusaha memikirkan sebuah rencana cemerlang. ”Saat ini otakku masih buntu....”

Sejak bersama Yo Won, otakku kehilangan daya kekejamannya. Aku tidak tega menghianati kepercayaannya. Kurasa, ucapan Yong Soo yang mengatakan kalau sifatku sudah banyak berubah bukanlah kelakar.

Itu benar, sangat benar... Kim Nam Gil bukan lagi yang dulu. Yang selalu memandang dengan kaca mata hitam, kecurigaan, benci dan dendam. Smua itu disebabkan karena tiga orang terpenting dalam hidupku. Mereka yang mengubahku. Papaku, Sung Pil, dan Yo Won.

Tentu saja, tanpa dukungan sahabatku, dan keberadaan keluargaku, aku bukanlah siapapun. Tetapi, Yeom Jong berbeda denganku. Ia tidak punya siapapun. Ia hidup dalam dendam dan kecurigaan. Sungguh menyedihkan.

”Apa yang kau pikirkan, Nam Gil?” tanya Yo Won bingung.

”Tidak, hanya saja...” aku tersenyum kikuk sebelum berkata, ”Kurasa aku jauh lebih beruntung daripada Yeom Jong. Ia selalu hidup dalam bayangan gelap... Cukup menyedihkan...”

Yo Won tersenyum kecil sambil memandangku. ”Maaf, pikiranku kekanakan, bukan? Haha.. memang aneh, bisa-bisanya aku memikirkan hal semacam itu...”

”Tidak. Aku suka kok dengan jalan pikiranmu itu, Nam Gil...” ujar Yo Won sambil meremas tanganku, memompa jantungku pelan. ”Kau sudah lebih dewasa...” ujarnya dengan senyuman tulus. ”Seandainya Yeom Jong punya teman sepertimu...”

”Rasanya aneh kalau begitu...” dan memoriku tiba-tiba mengisi celah otakku. ”Kau kan ingat, dia juga yang dulu membuat kita berpisah. Rasanya aku membencinya, sekaligus kasihan padanya...”

”Aku tahu, kalau soal benci, aku juga...” Yo Won menutup matanya dan mencoba menekan perasaannya. ”Tetapi, yah, dia manusia juga. Semua manusia punya kesempatan untuk berubah. Iblis sekalipun bisa berubah menjadi malaikat...”

Aku hendak bercanda da mengatakan kalau Yeom Jong lebih dari sekedar iblis karena dia adalah Rajanya, tetapi ekspresi Yo Won membuatku bungkam. ”Aku akan mencoba mencari jalan keluarnya... Mungkin, ia masih bisa diselamatkan....”



-to be continued-

Tidak ada komentar: