Selasa, 08 Juli 2014

TRY MY LOVE 6

TRY MY LOVE 6

April 2, 2011 at 1:43pm

TRY MY LOVE
Chapter 6
Cast:
Author (Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Dennies Oh
Kim Ri Na
Choi Shi Won
Lee Dong Hae
Henry
Park Dae Jia
Kang Hea In
 Jay Chow as himself

--Wei Li Zhi, Bei Jing, Wei’s house, 2009--

Percakapan dengan tanda * berarti berbahasa mandarin.

Jae Shi masih tampak linglung di tempatnya. “*Kau tidak boleh menolaknya, Jae Shi… Dan hari ini, kau akan bicara dengan Kak Dennies bukan? Berikan juga tiket itu padanya…”

“Ya…” sahutnya, setelah terdiam cukup lama.

Ji Ro langsung menggandeng tanganku ke dapur. Kami berdua memandang Han Geng dan Jae Shi yang saling mengobrol dengan kaku. Walaupun demikian, tampaknya suasana lebih menyenangkan dibandingkan sebelumnya.

“*Akhir-akhir ini kita jadi jarang berduaan…” keluh Ji Ro, menyenderkan kepalanya di bahuku.

“*Maaf ya… hanya saja, aku tidak bisa membiarkan Jae Shi seperti itu… Lagipula, tadi pagi kita berduaan kan?“

“*Kalau bersamamu aku sering lupa waktu..” ujar Ji Ro lagi. Ia memegang tanganku dan memandangku. “*Setelah masalah Jae Shi selesai, kau mau kan, bertemu orang tuaku?”

Masalah ini lagi.

“*Oke, tidak masalah. Asal kau bisa mencari cara agar kabar ini tidak diketahui pers.”

Tahun lalu kami batal menemui orang tua Ji Ro karena pers membuntuti kami kemana pun kami pergi. Akibatnya, Ji Ro sekarang selalu membawa kumis palsu dan kacamata hitam kemana-mana. Rasanya seperti kencan dengan om-om.

“*Tidak apa-apa kan, pacaran denganku?” tanya Ji Ro lagi. Kali ini ia mulai mengulangi kekhawatirannya dulu. Saat kami pacaran, satu dua fans tidak jarang melampiaskan kecemburan padaku dengan bernacan-macam hal. Dan aku sama sekali tidak mau mengingatnya lagi.

“*Kalau saja aku artis, mungkin mereka lebih bisa menerima kenyataan itu. Kau kan sering digosipkan dengan personel SHE. Nyatanya malah memilihku..” kutampilkan senyumanku. “*Aku beruntung bisa bersama denganmu…”

“*Sebenarnya aku yang beruntung mendapatkanmu…”




“Tidak, kau tidak akan berpenampilan seperti itu…” tukasku, menghela nafas. Sebenarnya tidak ada masalah dengan penampilan Jae Shi. Ia mengenakan pencil jeans dan loose shirt pink. Cukup menarik, tapi menurutku, ia harus mengenakan rok.

“Aku tidak mau memakai rok…” ia menggeleng. “Aku tidak cocok memakai rok.”

“Astaga, omong kosong apa itu?” protesku, mengangkat rok yang terdapat di kopernya. Rok mini selutut itu berbahan satin dan berwarna dasar hitam. “Ini akan bagus. Cobalah…”

“Mungkin aku harus mengenakan sepatu bot,” ujarnya, menyerah dan memutar bola matanya pasrah.

“Bot! Benar, kenapa tidak terpikir olehku? Kaki kita seukuran? Kau bisa mengenakan punyaku…”

“Astaga, Li Zhi… Aku kan cuma bercanda…?”

“Tidak. Serius. Kau cocok mengenakannya. Loose shirt pink, mini skirt, sepatu bot. Seperti baru keluar dari majalah mode.” Sambil mengoceh, aku berjalan ke lemari dan mengeluarkan sepatu bot ku. “Pakailah…”

“Aku mau bicara, bukannya kencan dengannya…” keluh Jae Shi lagi.

“Biar dia melihat apa yang sudah hilang darinya. Biarkan dia menyesal…”

“Hah… baiklah, baiklah…” sambil mengomel, Jae Shi mengenakan rok mininya dan sepatu bot milikku. Ia terlihat keren.

Mungkin aku bisa mengenakan pakaian semacam itu untuk ke konsernya Ji Ro, pikirku. “Sudah bawa tiketnya?”

“Sudah,” senyum Jae Shi sambil menarik ritsleting sepatu bot di kakinya. Bahkan ia terlihat cukup kaget memandang sosoknya di cermin. “Hem… ternyata lumayan juga,” gumamnya.

“Akui saja, Jae Shi…” candaku sambil menggodanya. “Kau cocok dengan tipe pakaian begini…”

“Baiklah, terima kasih Li Zhi. Doakan aku sekarang…” ujarnya tertawa. Kemudian, sambil menampakkan mimik serius, ia berkata, “Siap menuju medan perang!!”



--Park Jae Shi, Bei Jing, Café near Raffles Hotel, 2009--

“Jae Shi…” Kak Dennies melambai dari meja yang terletak di timur, tidak jauh dari pintu masuk. Ia menatapku dan tersenyum. “Kau tampak berbeda…”

“Kuharap itu pujian. Jadi, apa yang bisa dijelaskan?” tanyaku sambil menarik nafas. “Mungkin pertama, dari foto ini?” tanyaku, mengeluarkan foto pertunangan mereka.

Kak Dennies berdehem dan memandang foto itu. “Bagaimana kalau kau lebih dulu menjelaskan. Kenapa menghentikan mengirim email padaku? Aku kira kau tidak bisa menungguku…”

Kami berhenti bicara ketika pelayan datang menanyakan pesanan. “Jasmine Green Tea saja,” jawabku.

Kak Dennies mengangkat alis sedikit dan sambil menatapku, ia menyebutkan pesanannya. “Cappuccino…” ternyata ia masih menyukainya.

“Kau tidak minum cokelat panas lagi?” tanyanya.

“Kau yang lebih dulu berhenti mengirimkan email padaku,” tukasku, mengelak dari keharusan menjawab pertanyaannya.

“Aku sudah mengatakan padamu di email terakhirku. Aku berganti alamat email karena kebanyakan tugasku dikirim ke email China-ku. Jadi yang lama tidak pernah kugunakan lagi…”

“Aku tidak pernah menerima email semacam itu. Yang pasti, sampai terakhir pun, aku masih mencoba mengirimkan email ke alamat lamamu.”

Kak Dennies terdiam sebentar, wajahnya tampak bingung. “Oke, jadi ada kesalahpahaman. Dan kemudian, kau pun berhenti mengirim email. Aku tiba-tiba merasa kacau. Saat itulah, Ri Na datang dan menghiburku, lalu…begitulah…”

“Jadi apa maksudnya? Ini salah ku?”

“Tidak ada yang salah,” gumam Kak Dennies. “Sejak awal, hubungan ini terlalu rapuh karena kita hanya bisa terhubung melalui email.”

“Jadi, kalian benar, memang sudah jadian?”

Kak Dennies mengangkat bahunya. “Aku tidak pernah mengucapkan apapun padanya. Kami menjadi dekat secara alami. Dan mungkin, Ri Na menganggapnya demikian.” Ia mengusap rambutnya dengan wajah kacau. “Jadi, pria itu benar pacarmu?”

“Oh, dia?” sambil meminum tehku, wajah Han Geng yang serius terlintas di benakku. “Kau tidak memanfaatkanku. Aku yang mengajukan diri..” Kak Dennies masih menatapku, menunggu jawaban. “Hampir. Masih belum…” jawabku, berusaha menekan perasaan bersalah karena melibatkannya dalam masalahku.

“Lalu, tentang foto itu…” ia berdehem pelan. “Kami tidak pernah benar-benar bertunangan. Karena kau tahu, pernyataan resmi tidak terjadi, bagaimana mungkin kami bisa bertunangan?” tanya Kak Dennies. “Mungkin Ri Na hanya bercanda…”

Bercanda?

“Kurasa tidak demikian,” sahutku. “Mungkin Kakak tidak mengenal Ri Na dengan benar. Yang pasti, ia serius padamu.” Dan ia juga tidak menyukaiku.


“Jadi?” Dengan kecewa, kutatap wajahnya. Ia membalas menatapku sambil tersenyum muram. kurasa kau tidak menyesal mencampakkanku. “Kuharap kau bisa datang ke sini…” ujarku, menyerahkan dua lembar tiket ke hadapannya. “Konser kolaborasi Fahrenheit dan Suju M.”

“Kau akan datang dengan siapa?”

“Yang pasti tidak denganmu…” balasku, merasa terluka. Ketika bangkit dari kursiku, cowok itu menarik tanganku lagi. “Bisakah kau berhenti membuatku jadi tontonan di sini?” protesku, kesal.

“Jae Shi. Aku tidak pernah menanggapmu anak kecil. Aku masih menyukaimu…”

Seperti aku menyukaimu?

“Kau mau denganku, tapi tidak mau melepaskan Ri Na? Aku tahu Kak Dennies selalu begitu. Tidak tega menyakiti hati orang lain. Tapi, apa Kakak tahu? Kak Dennies menyakitiku. Dan kalau begini terus, aku bisa membencimu…” tukasku sambil mengibaskan tanganku, berlari keluar dari café itu.

Sudah kuduga, sejak awal, bukan ide yang bagus untuk bertemu dan bicara dengannya. Ia selalu, selalu, selalu saja menganggapku anak kecil!

Bam!!

Bertabrakan dengan seseorang, aku nyaris jatuh sebelum tangan yang lain menangkapku. “Oh, Henry,” ujarku, tersenyum.

“Kau berbeda,” senyumnya. Ia memarahi pria yang menabrakku dan membantuku berdiri dengan benar. Di sebelahnya, Han Geng membantu mengambilkan tasku dan memberikannya padaku.

“Hai, Jae Shi!!” seru Dae Jia senang. Ia tersenyum pada Shi Won yang berada di sampingnya sebelum berjalan menghampiriku. Demikian pula dengan Hea In dan Dong Hae.

Ia dan Hea In langsung mengerubungiku dengan pertanyaan. “Kemarin katanya Han Geng keluar pagi-pagi hanya untuk menemuimu. Benarkah?”

“Dan kudengar pria tampan kemarin itu…” Hea In langsung menutup mulutnya ketika Kak Dennies datang menghampiriku. “Si dia…” ujarnya melanjutkan sambil menggumam pelan.

“Hai,” ia menyapa Henry dan Han Geng. Sekilas kulihat ia menatap Han Geng dengan tatapan menyelidiki. “Kulihat kau jatuh tadi. Apa tidak apa-apa?”

“Ah, Henry menolongku. Aku tidak apa-apa…”

“Makanya jangan mengenakan sepatu bot seperti itu. Dari dulu kau kan memang suka jatuh…” ujarnya sambil tersenyum cemas dan menatapku atas bawah, memastikan keadaanku baik-baik saja.

“Aku tidak pernah jatuh akhir-akhir ini…” tegasku. Han Geng mengangkat wajahnya dan memandangku curiga. “Dan aku sudah tidak apa-apa, jadi berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil.”

“Aku akan mengantarmu pulang…” ujar Kak Dennies dan Han Geng hampir bersamaan. Henry menatap mereka berdua bingung.

“Tidak apa. Aku bisa pulang sendiri…” ujarku.

“Jae Shi,” Kak Dennies menarik tanganku menuju jalan. Ia sibuk berusaha menyetop taksi. “Dengar, kalau urusanku dan Ri Na beres, bisakah kita memulainya lagi?”

“Kak Dennies…” Bisakah pembicaraan ini dihentikan sementara? Rasanya aku hanya ingin pulang dan tidur.

“Dennies!” Aduh… datang lagi si pembawa masalah, pikirku sambil menghela nafas.

Ketika Kak Dennies berpaling dan menatap Ri Na, Han Geng menarik tangan kiriku dan berkata pada supir taksi. “Maaf, saya yang akan mengantarnya pulang…” ujarnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya.

“Han Geng, tidak perlu,” protesku. “Aku memang akan pulang…”

“Dia akan pulang bersamaku,” potong Kak Dennies sambil menarik tangan kananku. “Pak, tunggu sebentar” ujarnya pada si supir.

“Tidak. Aku membawa mobilku kemari. Jae Shi, tunggulah di sini.”

“Jae Shi, kau ikut denganku kan?” tanya Kak Dennies lagi. Ia menatapku dengan tatapannya yang biasa.

“Aku akan mengantarmu,” ujar Han Geng, menggenggam tanganku lebih erat.

Ya Tuhan. Ya Tuhan… bahkan Shi Won, DongHae, Henry, Dae Jia dan Hea In menatapku bingung. Sampai dimana kekacauan ini akan berlanjut?

“Aku akan pulang sendiri…” tegasku. “Terimakasih tawarannya, Han Geng. Dan Kak Dennies, aku tidak berharap diantar…” jawabku, menenteng tasku dan memasuki taksi.


--Wei Li Zhi, Bei Jing, 2009--


Percakapan dengan tanda * berarti berbahasa mandarin.

“*Lihat! Dia kan, pacarnya Ji Ro Wang?”

“*Benar. Kenapa bisa ya?”

“*Ihh… aku iri sekali padanya…”

“*Pasti dia merayu Ji Ro deh, dasar!” cibir yang satunya.

Sambil menghela nafas panjang, kubuka payung hello kitty yang diberikan Ji Ro pada hari ulang tahunku. Sulit sekali berjalan-jalan dengan santai akhir-akhir ini. Kalau Jae Shi pacaran dengan Han Geng, di Seoul, dia pasti juga akan kesulitan.

“*Aduh!” entah kaki siapa yang menjegalku. Nyaris saja aku terjatuh dengan wajah menghantam jalan, kalau saja punggung orang di depanku tidak kutabrak.

“*Maaf…” gumamku, ketika orang itu berbalik dan memandangku kaget.

“*Li Zhi!?” serunya, terkejut.

“*Siapa ya…?” tanyaku, bingung.

“*Aku, masa kau lupa denganku?” tanyanya sambil tertawa. “*Dan sejak kapan jalanmu jadi tidak hati-hati?” pria itu tertawa dan menepuk pipiku lembut. “*Kalau kukatakan strawberry asam, apa kau mengingatku?”

“*Ah!!! Kak Jay ya? Iya, Kak Jay rupanya!!” seruku gembira. Ia tinggal di sebelah rumahku sejak aku lahir, dan pindah ketika aku menginjak bangku SMP. “*Ihh… wajahmu sudah berubah. Aku tidak mengenalimu…” candaku.

Kami sering diam-diam menyelinap ke pasar pagi untuk membeli buah strawberry. Awalnya, karena tidak bisa memilih strawberry dengan benar, semua yang dibeli oleh Kak Jay rasanya luar biasa masam.

Kemudian, ia belajar cara memilih strawberry yang lebih benar karena perut kami berdua sama-sama sakit hari itu. Biar bagaimanapun, saat ia pindah rumah, aku menangis lama sekali waktu itu.

“*Kau jadi lebih cantik ya, sekarang…” pujinya sambil menatapku gembira.

“*Terima kasih…” sahutku sambil tersenyum tulus.

“*Tapi tidak berubah, masih saja kitty holic…” tawanya. “*Dan mendadak jadi terkenal karena pacaran dengan Ji Ro Wang…”

“*Eh, Kakak tahu juga?”

“*Jelas,” jawabnya. “*Aku sering mengkhawatirkanmu kalau melihat namamu muncul di Koran. Untunglah tidak ada yang aneh di sana…”

“*Memangnya aku wanita penuh skandal,” sindirku sambil menyenggolnya. Kami sama-sama tertawa.

“*Eh, Li Zhi. Kau tahu tidak? Sebenarnya, sejak kecil, aku selalu menyukaimu. Sayang sekali, kau sudah pacaran dengan Ji Ro sekarang…” ia menghela nafas dan menunjukkan ekspresi menyesal.

“*Ah, jangan bercanda dong, Kak Jay…” ujarku. Tetapi, tawaku mereda ketika wajahnya masih terlihat serius.

“*Kalau kukatakan, sampai sekarang, aku masih menyukaimu, bagaimana?”

“*Eh?” tiba-tiba terdengar alarm bahaya di otakku. Bahaya…kenapa aku jadi berdebar-debar?



-to be continued--

TRY MY LOVE 5

TRY MY LOVE 5

April 1, 2011 at 7:10pm
TRY MY LOVE
Chapter 5
Cast:
Author(Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Dennies Oh
Kim Ri Na


--Wei Li Zhi, Bei Jing, Wei’s house, 2009--

“Aku menunggu dari tadi…. Aku ingin menemui kalian…”

“Untuk apa kau datang kemari?” tanya Jae Shi sengit.

“Dari mana kau tahu rumahku?” tanyaku kesal.

Ri Na bangkit dan dengan senyuman penuh peraya diri bangkit dan berdiri berhadapan dengan Jae Shi. “Aku ingin bicara empat mata denganmu…”

“Aku tidak punya urusan denganmu…” ujar Jae Shi sambil tersenyum, mencoba bersikap santai.

“Sekarang,” tegasnya.

“Astaga. Siapa yang kekanak-kanakkan sebenarnya?” dengus Jae Shi sebal.

Aku setuju dengannya. Wanita ini menyebut Jae Shi mengganggu dan kenakak-kanakkan. Mungkin ia tidak menyadari kalau predikat itu sebenarnya lebih tepat ditujukan untuknya.

“Baiklah, katakan saja…” ujar Jae Shi akhirnya.  “Di sini.”

“Di luar…”

“Oke, tidak masalah. Di luar.”



“Aku tidak suka kau berkeliaran di dekat Dennies…” Kurapatkan telingaku ke pintu. Suara wanita itu terdengar lebih jelas sekarang. “ Ia menjadi terganggu, dan posisiku semakin tidak jelas di matanya…”

Memangnya siapa kau?

“Itu urusan kalian…”

“Kau tidak menyatakan keberatanmu saat pengumuman pertunangan kami. Dan kami sudah menganggap kau menyetujuinya…”

“Baiklah, sebelum kau menuduhku macam-macam, sebaiknya kau pahami satu hal. Aku hanya mau bicara dengannya. Meminta penjelasan. Darinya. Dan bukan darimu…”

“Kau tidak sadar? Kau selalu menjadi bebannya… kau selalu dianggapnya anak kecil…”

“Selamat malam,” sapa Jae Shi singkat.

Ia melangkah ke pintu dan membantingnya. Di balik pintu, kami masih mendengar Ri Na menggedor dengan tidak sabar.  “Kalau kau ingin dia bahagia.. berhentilah mengganggunya…  Kuliahnya sangat baik di sini. Dan keberadaanku sebagai partnernya juga sudah mulai stabil. Jadi, hentikanlah upayamu mengacaukan hidupnya…”

“jangan dengarkan dia…” bisikku, memegang bahu Jae shi dan memaksanya menatapku.

Jae Shi tersenyum dan menggeleng. “Aku tidak ingin mempercayainya…” ujarnya. Kulihat mata itu mengatakan sebaliknya. Sudah terlambat. “Mungkin aku memang terlambat datang kemari…” sesalnya dengan air mata berlinang.

“Jae Shi, dengarkan aku… Kak Dennies pasti tidak akan menyatakan perasaannya kalau ia hanya menganggapmu anak kecil saat itu… Dan…” ucapanku terhenti karena Jae Shi sudah mengangkat tangan kanannya, memintaku diam.

“Aku lelah sekali, Li Zhi… Maafkan aku…”

“Baiklah, istirahatlah…”

Jae Shi tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku.ia menegakkan tubuh dan terlihat tegar, namun, bisa kulihat punggungnya yang terlihat terluka. Dengan segera, kuraih ponselku dan menekan nomor telepon Ji Ro. Sebuah rencana hebat terlintas di otakku. Rencana yang menurutku sangat brilian.



--Park Jae Shi, Bei Jing, Wei’s house, 2009--

Aroma yang sangat kukenal memenuhi ruangan kamarku. Aroma cokelat panas. Aroma yang kurindukan. Aroma Kak Dennies.

Pelan-pelan mataku menjelajahi seluruh ruangan. Di mana aku? Ooh.. ya.. rumah Li Zhi. Astaga, sudah jam berapa sekarang? Dengan tergesa-gesa kusambar handuk yang kujemur dekat jendela, dan siraman  air dingin membangunkan seluruh sel tubuhku.

Tidak perlu waktu lama untuk menyiapkan diri. Selesai menyisir rambut, kukenakan kaos katun nyaman yang kubawa dari Seoul. Dan jaket. Hm… pagi ini udaranya cukup dingin.

Jam weker menunjukkan pukul tujuh pagi. Tidak terlalu terlambat untuk sarapan. Walaupun mungkin, kalau di rumah, Mama atau Kak Dennies akan menegurku kalau bangun lebih dari pukul enam.

Kak Dennies…?

Lagi-lagi perasaan ngilu yang sama merambat memenuhi dadaku. Ia terlalu sering mengambil bagian dalam hidupku. Rasanya sulit mengenyahkan pria itu begitu saja dari hatiku.

“Jae Shi, temui aku lagi. Di sini, besok, jam yang sama. Bisa?”

Aku harus menemuinya. Itu tekadku kemarin. Namun, setelah pembicaraanku dengan Ri Na semalam, rasanya tekad itu hampir seluruhnya memudar. Aku tidak mau datang hanya untuk mengganggunya. Aku datang untuk bicara. Tetapi, fakta sudah di depan mata. Jadi, apa masih ada gunanya?

“Pagi…” sapaku sambil menuruni tangga.

Hening, tidak ada jawaban. Aneh, biasanya Mama atau Papanya Li Zhi akan menjawab salamku dengan ramah. Aroma cokelat itu masih terasa familiar di hidungku. Kupercepat langkahku ke dapur. Hhh…  setelah apa yang terjadi kemarin, rasanya tidur sampai siang adalah hal yang paling menyenangkan sekarang.

“Ng… Permisi…” ujarku ragu sambil melangkah ke bagian dalam dapur. Seseorang masih asyik memasak di ujung dapur. Bau nasi goreng.

“Kalau mencari Li Zhi, dia dan Ji Ro pergi sarapan di luar sekarang ini…” ujar sosok itu sambil menolehkan kepalanya dan tersenyum.

Kupandangi wajahnya dengan linglung. “Mungkin aku masih bermimpi,” ujarku sambil menertawakan diriku sendiri. “Selamat tidur lagi…” tukasku sambil membalikkan badan menuju koridor.

“Hei, masa kau tidak mengenaliku?”

Astaga. Jadi mimpi juga bisa mengajakmu bicara dan membalas ucapanmu sedemikian cepat.

“Tapi aku sedang bermimpi,” tegasku. “Kurasa, aku harus kembali ke kamar dan menemukan tubuhku supaya bisa bangun. Masa aku bermimpi melihat Han Geng di rumah Li Zhi? Bisa-bisa besok aku mimpi melihat TVXQ di rumahku…”

“Baiklah,” cowok itu datang dan menarik tanganku. Hei, tangannya terasa nyata. “Kau tidak bermimpi. Li Zhi memintaku datang menemanimu di sini. Mama dan Papanya sedang ada reuni dengan teman lama, dan ia sendiri kencan dengan Ji Ro. Karena mencemaskanmu, aku setuju datang ke sini…”

“Astaga, astaga…” ujarku, masih merasa linglung. “Kupikir memang mimpi…” cowok itu tersenyum dan menggerakkan jarinya. “Tidak, aku tidak mau dicubit, terima kasih,” jawabku, tertawa.

“Jadi, duduklah dan minum cokelat itu sementara nasi gorengnya matang…”

“Oh, aku pernah nonton Super Junior Full House. Aku memang sangat ingin mencoba nasi goreng itu..”

“Selamat makan, tuan puteri…”

Jantungku nyaris terlompat di tempatnya mendengarkan panggilan Han Geng barusan.

“Astaga, aku salah bicara?”

“Tidak, maaf… Aku yang melantur. Maaf…” kataku gugup.

Dengan gemetar, kuraih cokelat itu, meminumnya untuk menenangkan diriku. Rasa yang sangat kurindukan. Dulu.. setiap pagi… begitu aroma ini tercium, perasaanku melonjak bahagia. Dan sekarang, tidak. Di sini, bukan Kak Dennies. Sudah tidak lagi….

Pyuk. Tetesan air mata tumpah ke dalam gelas cokelatku. Han Geng yang membawakan piring nasi goreng ke meja menatapku kaget. “Kenapa? Ada yang salah?”

“Bukan, maaf…” kututup wajahku dengan tangan. “Teringat banyak hal… Dan rasanya… menyakitkan.. maaf…” ujarku lagi, semakin menggigit bibir untuk menghentikannya, rasa itu semakin dalam mengiris-iris. Isakan pelan-pelan keluar dari bibirku.

“Memalukan…” ujarku, berusaha menahan diri untuk menangis. Tetapi, air mataku malah menjadi-jadi.

“Tidak memalukan…” Han Geng menangkap kedua tanganku. Ia tersenyum dan menatap mataku yang sembab. “AKu bersedia menyediakan tempat untuk menangis…”

“Tidak, aku sudah tidak apa-apa kok.. Cokelat itu… hmm.. kenapa kau membuat cokelat??”

“Kurasa tepat untukmu. Aneh ya? Eh, tapi, tidak cocok dengan nasi goreng… Hahaha…”

“Cokelat itu.. mengingatkan pada seseorang…”

“Lelaki yang kemarin itu?” tanya Han Geng sambil menatap mataku. Ya Tuhan, memang dia sangat tampan. Kenapa baru sekarang menyadarinya?

“Ya, namanya Dennies. Kak Dennies…”

“Dia pasti menyesal melepaskanmu…”

“Tidak mungkin dong, Ri Na itu sangat cantik. Dibanding Ri Na, aku seperti anak-anak…”

“Sekarang sih iya,” sahut cowok itu, tersenyum.

“Dih… apa maksudnya?” gerutuku sambil tersenyum membalas. Setelah itu, kami makan bersama. “Ternyata memang enak. Pantas saja Hee Chul sangat mencintaimu…”

“Hei, hei, hei.. kami ini masih lelaki normal. Diam-diam dia sudah mengalahkanku dan lebih dulu memiliki kekasih…”

“Masa? Hee Chul yang itu? Astaga… aku salah menebaknya kalau begitu. Hmm.. dia kan sangat cantik… pasti banyak fans pria maupun wanita yang kecewa…”

“Apa pacarnya juga artis?”

“Ya, namanya Shin Rae Mi. Seorang model terkenal. Kalau mereka berjalan berdua, seperti melihat lukisan…”

Dan kalau aku berjalan bersama Kak Dennies, kami terlihat seperti kakak adik.

“Kenapa lagi?” tanya Han Geng ramah. “Kau ikut kecewa karena Hee Chul sudah punya pacar?”

“Tidak juga,” ujarku. “Memang aku suka semua anggota Suju. Tapi, aku kan punya anggota favorit juga…”

“Apa aku termasuk di dalamnya?”

Apa aku harus jujur menjawabnya? Jangan. Nanti dia menertawakanku… baiklah, lebih baik kuubah urutannya.

“Shi Won. Han Geng, Ki Bum. Itu favoritku…”

“Aku termasuk?” senyumnya melebar. “Walaupun di urutan dua, aku masuk juga di hatimu… Kenapa kau menyukaiku?”

Kenapa jadi berkesan seperti aku menembaknya?

“Baiklah, aku menonton reality show Love Letter waktu SMA… Ada sesi di mana para gadis yang bermain, sementara para pria pasangannya menunggu di kursi bukan?”

“Oh ya, ada yang seperti itu…” ujar Han Geng, masih menatapku.

“Oke, dan kalau gadisnya berbuat kesalahan, pasangan prianya akan dipukul. Aku ingat, gadis pasanganmu melakukan kesalahan. Kepalamu dipukul, dan walau kaget, kau sama sekali tidak terlihat marah. Sejak saat itu, aku merasa cowok yang tidak marah saat gadisnya berbuat kesalahan sehingga kepanya dipukul itu sangat keren…”

“Cuma karena itu?”

“Cuma karena itu,” tegasku, malu.

“Jae Shi, kurasa…”

“Maaf ya, meninggalkan kalian terlalu lama…” Li Zhi berteriak dari pintu luar segera setelah pintu terbuka. Ia masuk ke dapur dan mengecek dapur serta keadaan kami. “Semua baik-baik saja dan tidak ada yang bertengkar?”

“Ayolah, kami bukan anak kecil…” ujarku sambil tertawa.

“Jae Shi, Han Geng, bagaimana sarapannya?” tanya Ji Ro sambil melangkah masuk membawa bungkusan besar berisi bakpao yang masih panas. “Kalau masih lapar…” candanya.

“Masih,” sahut Han Geng. Ia meraih bakpao panas itu dan menggitnya senang.

“Dengar, aku sudah mempersiapkan empat tiket…” ujar Ji Ro lagi. Ia mengeluarkan empat lembar tiket itu dari kantungnya dan meletakkannya bersama amplopnya.

“Empat?” tanyaku bingung. “Aku dan Li Zhi. Dua?”

“Ri Na dan Kak Dennies. Empat…” sambung Li Zhi sambil meraih bakpao dan menggigitnya.

“Astaga, untuk apa?”

“Untuk menunjukkan pada mereka kalau kau baik-baik saja…” sahut Han Geng dengan senyuman setuju. “Ide yang bagus…”

“Aku tidak setuju. Aku tidak mau memanfaatkanmu…”

“Kau tidak memanfaatkanku. Aku yang mengajukan diri..”

 “Tapi, benar, tidak perlu…” tolakku. “Aku sudah cukup frustasi dengan semua kekonyolan sejak kemarin itu bertemu dengannya di kafe. Dan hal terakhir yang ingin kulakukan adalah melihat mereka berjalan berdua dan dia akan menatapku iba.”

“Karena itulah ada aku di sana…” jawab Han Geng lagi.

“Han Geng… kau tidak bisa ikut campur dalam masalahku…”

“Kau tidak boleh menolaknya, Jae Shi… Dan hari ini, kau akan bicara dengan Kak Dennies bukan? Berikan juga tiket itu padanya…”

Semua mata memandangku. Dengan pasrah, kuanggukan kepala. Bahkan suaraku saat mengucapkan “ya” terdengar sangat asing di telingaku sendiri.


-to be continued-



TRY MY LOVE 4

TRY MY LOVE 4

March 30, 2011 at 4:27pm


TRY MY LOVE
Chapter 4
Cast:
Author(Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Dennies Oh
Kim Ri Na
Park Dae Jia (admin Park) as herself
Choi Shi Won
Dong Hae
Kang Hea In (Mila) as herself

 --Wei Li Zhi, Café near Bei Jing Raffles Hotel, 2009--

 “Jadi, bagaimana kau bisa mengenal Shi Won? Dia sangat keren!!” puji Jae Shi dengan kagum.

Sementara para pria asyik mendiskusikan konser dan pekerjaan mereka; kami para wanita menikmati waktu santai yang menyenangkan. Apalagi yang lebih seru selain mengobrol dan ditemani beragam kue manis dan teh panas yang lezat di kafe yang dekat dengan hotel.

“Tidak sedikit yang iri denganku,” ujar Dae Jia sambil memainkan rambutnya, jelas tampak bangga dengan kekasih tampannya. “Asal kalian tahu, dia sangat posesif…”

“Bukankah rasanya sangat romantis?” ujarku, menggigit kueku. Hm… enaknya, manisnya pas sekali.

“Kalau untuk tipe pria idaman, mungkin lebih tepat memilih Dong Hae,” ujar Dae Jia sambil melemparkan pandangan jahil ke arah Hea In yang sedari tadi hanya diam.

“Bisa saja, tapi ya, dia memang manis. Kalau aku marah, selalu saja dia yang mengalah…”

Ucapan Hea In dengan segera disambut suara ‘ooohhh…’ dan ‘wwooooowww…’ dari gadis lainnya. Sementara itu, kulirik Jae Shi yang tiba-tiba sudah membisu.  Ia kerap mengatakan betapa dewasanya Kak Dennies yang disukainya. Mungkin, pria itu juga sering mengalah dulu. Hah… satu lagi kenangan tentang pria itu.

“Bagaimana dengan Jae Shi dan Li Zhi?” tukas Dae Jia tiba-tiba. “Kan nggak seru kalau dari tadi hanya kami yang bicara…”

“Oh… aku dan Ji Ro berkenalan dari sebuah konser. Dan hal itu berlanjut sampai sekarang…”

Para gadis mulai merapat dan memandangku iri. “Kalian sudah pacaran berapa lama?” begitu kuulurkan jari dan kusebutkan dua tahun, mereka langsung bersorak kagum. “Sepertinya kalian sama sekali tidak ada masalah?”

“Masalah sih pasti ada, tapi kami selalu saja bisa melewatinya dengan baik…”

“Ahhh… iri sekali… kalau saja aku dan Shi Won bisa bicara dengan tenang seperti kalian. Tanpa perlu bersikap posesif.. Eh, tapi kalau begitu hubungan kami mungkin jadi tidak seseru ini…” ia tertawa malu ketika yang lainnya mengomentarinya dengan sorakan, “Huuuu….”

“Bagaimana denganmu, Jae Shi?” tanya Hea In penasaran.

“Eh, aku…? Ng… tidak begitu istimewa…”

Astaga, astaga, ini berbahaya. Pikirku dalam hati. Wajah Jae Shi kembali mendung ketika memikirkan masa lalunya. Atau mungkin bukan—pikirku, ketika sesosok pria dan seorang gadis berjalan melewati jendela, dan secara tidak sengaja bertatapan dengan Jae Shi.



“Kak Dennies?” seruku kaget, nyaris berbarengan dengan Jae Shi.


Tentu saja aku tidak mengenal pria itu. Namun, aku pernah melihatnya sekali. Dan dari reaksi kaget Jae Shi, aku tahu, tebakanku tidak salah.



 --Park Jae Shi, Café near Bei Jing Raffles Hotel, 2009—

“Kak Dennies?” seruku kaget, nyaris berbarengan dengan Li Zhi.

Para gadis bergantian menatapku dan pria yang ada di depan kaca. O-ow… mungkin ini terlalu tiba-tiba. Maksudku, aku tidak siap.

“Li Zhi, aku mau kembali ke rumahmu… Maksudku, ke hotel..” ujarku, menyambar tasku.

“Tunggu, aku ikut…” ujar Li Zhi, ikut panik melihatku.

“Kalian mau kemana?” tanya Hea In dan Dae Jia dengan bingung.

“Ke suatu tempa…” sebelum ucapanku selesai, sebuah tangan sudah mencengkeram pergelangan tanganku keras. “Aw…”

“Kenapa kau di sini?” tanya Kak Dennies dingin. Ia menatapku lama sampai jantungku terasa sakit.

“Tidak ada urusannya denganmu,” jawabku, berusaha wajar, namun kalimatku malah terdengar pedas dan defensif.

“Kau tidak datang untuk menemuiku?” tanyanya, jelas tampak terluka.

Kubalas pandangannya dengan rasa bimbang memenuhi dadaku. Ia tidak menyukaiku. Ia mencampakkanku. Dan seharusnya, ia tidak senang melihatku, bukankah demikian yang seharusnya terjadi? Lantas, kenapa wajahnya menunjukkan aku masih punya arti di matanya?

“Kakak berharap aku datang untuk tersenyum, menyalami Kakak dan Ri Na, mengucapkan selamat dan semoga berbahagia? Memangnya aku sebodoh itu?”

“Aku… tidak…” ia menatapku canggung, lalu menatap Li Zhi, Dae Jia, Hea In, dan tamu lainnya yang asyik menonton kami. “Kita bicara di tempat lain…” ujarnya.

“Tidak, lepaskan saja aku..” ujarku.

Pelan-pelan, hitungan mundur berkumandang di otakku. Lima empat… tiga… berapa lama lagi sampai air mataku akan jatuh?

“Jae Shi, ayolah, aku ingin menjelaskan semuanya…” ia menarikku lagi. “Tetapi, tidak di sini…” setengah memaksa, ia menarikku keluar café itu.

“Lepaskan aku,” pintaku, nyaris kesulitan bernafas. Sulit sekali menahan air mata ini.

“Dennies!!” suara yang lain memanggilnya dengan lembut dan manja. Suara yang kukenal, dan kali ini aku benci sekali mendengarnya.


Ri Na!!


Dengan kalut, kubalikkan wajahku. Bisa kulihat gadis itu semakin bertambah cantik dari terakhir kali aku melihatnya. Ia bergelayut manja di lengan pria yang sampai detik ini pun masih saja melukaiku.

“Kau menghilang begitu saja…” gerutunya manja.

Hentikan!

“Dan aku nyaris saja bosan menunggumu sendirian…”

“Hentikan! Sudah cukup!”

“Ri Na… aku sedang bicara dengan Jae Shi…” ujar Kak Dennies tenang. Ia masih memegang tanganku erat-erat.

“Jae Shi?” bisa kurasakan tusukan perasaan tidak suka saat ia menyebut namaku.

Ya, memang ini aku, pikirku kesal.

“Kau Jae Shi?” tanya Ri Na tidak yakin. “Astaga, apa kau mengejar Dennies sampai ke China? Astaga, bukankah itu sangat kekanak-kanakkan dan menggagu?”

Mengejar?

Kekanak-kanakkan dan mengganggu?

Perasaan kesal, marah, dan sedih bergumul di dadaku. Li Zhi memandangku khawatir dari kejauhan. Tidak, tidak. Ini bukan diriku. Jadi, dengan berusaha mempertahankan harga diriku yang tersisa, kuangkat wajahku dan memandangnya tajam.

“Setidaknya aku tidak seperti seekor serigala yang mencoba mencuri domba yang bukan miliknya,” sahutku sambil memandangnya.

“Kau?! Apa maksudmu?” tanyanya marah.

“Kau seharusnya bisa menilai dirimu sendiri…” balasku, masih merasakan amarah berkobar di dadaku. Cukup sudah. Aku tidak mau menghormati gadis ini lagi.

“Jae Shi…” ia mencoba membujukku, namun akhirnya menyerah.

“Sekarang, bisa kakak lepaskan aku?” tanyaku sambil mencoba tersenyum. Sewajar mungkin, tanpa menembus pertahanan terakhirku.

Begitu tangan Kak Dennies merenggang, sebuah tangan yang besar menangkup mataku, tepat saat air mataku hampir saja jatuh. Dan tangan yang lainnya memutar badanku sehingga posisiku membelakangi Kak Dennies dan Ri Na.

“Aku mencarimu kemana-mana…” ujar Han Geng sambil menatapku lembut. Ia memandang iba pada air mata yang masih menetes di pipiku, sesuatu yang sebenarnya sangat memalukan. Tapi, kalau disuruh memilih, aku lebih tidak mau wanita itu melihatku kalah dan menangis.

“Kau mencariku?” tanyaku, merasa linglung dan tidak yakin. Di seberang, bisa kulihat sudah ada beberapa pria yang datang menjemput gadis mereka. Astaga, ini sangat memalukan.

“Ya, ayo, kuantar ke rumah…”

“Siapa kau?” tanya Kak Dennies dengan suara yang terdengar aneh.

“Aku Han Geng..” jawab Han Geng enteng. Tangannya yang satu diletakkan di bahuku.

“Kau siapanya Jae Shi?” tanya Kak Dennies lagi.

“Bukan urusanmu,” sahut cowok itu lagi. Ia masih tersenyum lembut dan mencoba menguatkanku. Bisa kurasakan tangannya yang meremas tanganku terasa hangat.

“Jae Shi! Katakan, ini tidak benar…” ujar Kak Dennies lagi.

“Karena inikah kau tidak lagi mengirimi kabar padaku?” Suaranya terdengar marah dan kecewa sekarang.

Astaga, mau apa cowok ini, pikirku bingung. Kenapa begini? Memangnya siapa yang lebih dulu berhenti mengirimiku email?

“Kau bersama gadis itu, dia bersamaku,” tukas Han Geng, menggantikanku menjawab.

“Jae Shi,” Kak Dennies maju beberapa langkah, menarik bahuku agar menatapnya. “Jelaskan padaku…”

“Dennies, kita masih ada kuliah jam tiga…” seru Ri Na mengingatkan.

“Jae Shi, temui aku lagi. Di sini, besok, jam yang sama. Bisa?”



--Wei Li Zhi, Bei Jing, Wei’s house, 2009--

“Jadi, apa jawabanmu?”

Kulihat Jae Shi kembali mengangkat bahunya. Ia jadi agak kacau sejak bertemu dengan cowok itu lagi. Aduh….

Sekarang posisiku menjadi ikut sulit. Dae Jia dan Hea In berebutan menanyakan padaku siapa cowok tampan yang kami temui tadi. Dan apa perannya dalam hidup Jae Shi. Tanpa otorisasi dari Jae Shi, tidak mungkin aku sembarangan menceritakannya. Jadi, sampai sekarang, yang bisa kuucapkan hanyalah, ‘dia si pria yang bodoh karena menyia-nyiakan sahabatku.’

“Tapi Han Geng memang menaruh minat padamu. Begitu rombongan para pria datang, ia langsung menanyakanmu. Tidak perlu sebenarnya, karena kami memang masih menonton kalian. Dan begitu saja, kulihat ia sudah menarikmu berbalik menatapnya…”

“Yah… dia memang baik…”

“Sangat baik,” ujarku memaksa.

“Oke, sangat-sangat baik. Dia datang tepat sebelum aku menangis. Pasti akan sangat memalukan kalau wanita itu melihatku menangis…”

“Kurasa kau sangat keren waktu mengangkat wajahmu dan berbalik membalasnya. Seperti di film. Dia memang salah dan harus dihukum!”

“Tapi, aku tidak yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kalau Kak Dennies memang mencampakkanku, kenapa ia harus kecewa aku datang tidak untuk menemuinya? Dan kenapa ia harus menanyakan dan meminta penjelasanku tentang Han Geng?”

“Jadi, maksudmu ada yang aneh di balik ini semua?”

“Tapi, aku juga masih tidak yakin. Mungkin aku terlalu berlebihan…”

“Kalau melihat cara wanita itu bergelayut di lengan Kak Dennies, bisa kuduga kalau mereka memang sudah sangat dekat…”

“Dan dia mengatakan kalau aku yang berhenti mengiriminya email…”

“Aneh sekali…” pikirku bingung. “Kalau memang ada salah paham di antara kalian, kurasa memang karena wanita itu…”

Sebuah ketukan membuyarkan obrolan kami. Mamaku. “Li Zhi, Jae Shi, ada tamu di luar… katanya mencarimu…”

Pelan-pelan, aku dan Jae Shi beranjak turun dari ranjang dan berjalan ke koridor dan menuju ruang tamu. Di sana, sebuah sosok yang familiar duduk menunggu kami.

“Aku menunggu dari tadi…. Aku ingin menemui kalian…”

“Untuk apa kau datang kemari?” tanya Jae Shi sengit.

“Dari mana kau tahu rumahku?” tanyaku kesal.


-to be continued-

TRY MY LOVE 3

TRY MY LOVE 3

March 28, 2011 at 4:43pm
TRY MY LOVE
Chapter 3
Cast:
Author(Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Park Dae Jia
Kang Hea In
Choi Shi Won
Dong Hae
Henry Lau, dll

--Wei Li Zhi, Bandara Internasional Capital Beijing (BCIA), 2009—


(dialog dengan tanda * berarti berbahasa mandarin)

--“*Han Geng?” suara Ji Ro dari belakangku membuatku semakin terkejut. “*Astaga, jadi kaulah orangnya…”

“*Eh, kau mengenalnya juga?” kali ini rasa terkejut semakin besar melandaku. Kenapa Ji Ro juga bisa mengenal Han Geng?

“*Begini, manajemenku bilang, ada salah satu anggota boy band Korea bernama Han Geng yang akan memeriahkan acara count down tahun baru bersama Fahrenheit. Aku baru ingat sekarang…” Ji Ro mengulurkan tangannya bersahabat.

Han Geng menyambut tanpa pikir panjang, “*Salam kenal…” sapanya dengan bahasa mandarin yang fasih. Ia pun mengulurkan tangan padaku dan Jae Shi.

“Wei Li Zhi, panggil Li Zhi saja…” ujarku sambil tersenyum.

“Park Jae Shi, panggil aku Jae Shi…” jawab Jae Shi, tampak ragu-ragu sejenak sebelum mengenalkan dirinya.

Untuk memecahkan kekauan suasana, dengan gembira kutarik buku notes kosong dari tasku, menyodorkannya kea rah Han geng. “*Aku minta tandatangan boleh?”

Han Geng tertawa dan menandatangani bukuku tanpa pikir panjang. Kusenggol Jae Shi perlahan, dan senyum Han Geng melebar melihat buku kedua disodorkan ke arahnya.

“*Tidak minta dariku?” goda Ji Ro sambil mengedipkan sebelah matanya.

“*Baiklah, setelah Han Geng,” jawabku, disusul gerakan Ji Ro memonyongkan bibirnya sedikit. “*Bercanda,” ujarku sambil tertawa dan mengamit lengannya.

“Apa kau hanya datang sendirian kemari?” Tanya Jae Shi sambil menatap Han Geng penasaran.

Pria itu tersenyum klasik dan menjawab, “Aku hanya kemari dengan Super Junior M. Berarti, besok kemungkinan yang lainnya akan menyusul. Mereka menyerahkan urusan pencarian tempat tinggal kepadaku.”

“Sebaiknya yang dengan Fahrenheit…” ujar Jae Shi lagi.

Perasaanku semakin membaik. Akhirnya.. akhirnya anak itu mau bicara juga, pikirku gembira. Keadaan semakin baik saja. Mungkin Han Geng bisa membantu Jae Shi.

Ji Ro yang berjalan bersamaku mengangkat kepalanya begitu mendengar nama Fahrenheit disebut oleh Jae Shi. “*Ada apa?”

“*Tentang tempat tinggal,” ujar Jae Shi pelan. “*Han Geng masih mencari tempat tinggal untuk Super Junior M. kupikir, lebih dekat dengan Fahrenheit lebih baik…”

Ji Ro mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman. “*Kami menginap di Raffles Beijing Hotel.” Ia berbisik sambil tertawa ke arahku, “*Karena kudengar tempat tinggalmu tidak jauh dari sana…”


--Park Jae Shi, Raffles Hotel, 2009--

“*Kau tidak menyadarinya?” Tanya Ji Ro sambil meletakkan tubuhnya dan bersandar di sofa yang terdapat di lobi ruang hotel. Warna gading mendominasi dekorasi lobi ini, di tengah ruangan, terdapat lampu Kristal yang cantik dan elegan.

“*Tidak menyadari apa?” tanyaku, menolehkan kepala menatapnya.

“*Aku cemburu berat…” keluhnya, membuatku menahan senyum. “*Kenapa sih pacarku selalu saja gampang berteman dengan orang lain…??”

Kami bersama-sama menatap dua sosok tubuh yang berdiri di dekat meja resepsionis. Han Geng dan Li Zhi tampak mengobrolkan sesuatu dan berulang kali menatap ke arahku dan Ji Ro. Entah apa yang mereka obrolkan. Kuharap bukan aku.

“*Itu salah satu kelebihan Li Zhi, bukan?” jawabku sambil menatap buku tanda tanganku yang sekarang diisi oleh tanda tangan Han Geng. “*Oh, sebelum aku lupa, aku harus minta darimu juga…”

“*Siip…” Ji Ro tertawa dan menggoreskan penanya gembira.

Ia menulis,Tolong jaga Li Zhi untukku. Manis sekali… sejenak, sebuah perasaan aneh berkecamuk di dadaku. Dulu, Kak Dennies juga selalu bersikap manis padaku. Membuatkan sarapan, menyiapkan cokelat panas…

“*Kenapa? Aku berbuat salah?” Tanya Ji Ro, menyadari wajahku kembali muram.

“*Tidak. Emosiku memang sedang agak labil… Maaf ya, aku ke toilet dulu. Ehm.. di mana..”

“*Belok kiri dari sudut sana…”



“Ji Ro juga mencemaskanmu tuh…” ujar Li Zhi  begitu ia menyusulku ke toilet. “*Kita sudah berada di China sekarang.  Ayolah…bergembira dong…”

“Li Zhi, aku boleh menebak? Jangan bilang kau membicarakan masalahku ke Han Geng…”

“Oh, ayolah…” Li Zhi mengeluarkan wajah membujuk. “Tidak seburuk itu. Hanya saja, ia bertanya kenapa sikapmu begitu aneh. Kayaknya kau punya masalah berat…”

“Lalu kau bilang apa saja?”

“Aku tidak bilang aneh-aneh… Tapi, Han Geng benar-benar perhatian ya? Kurasa, dia memang pantas jadi idola…”

“Li Zhi…” Kali ini, sebelum ia mulai melantur kemana-mana, kuputuskan untuk membawanya kembali ke topik semula. “Ji Ro juga khawatir. Dan cemburu…” tukasku, membuat Li Zhi menatapku kaget.

“Oh ya? Kenapa?”

“Karena kau terlihat sangat akrab dengannya…”

“Dia yang sangat ingin tahu tentang dirimu…”

“Dan aku tidak mau terlalu dekat dengan orang asing sekarang ini…”

“Dalam waktu 1x24jam kita akan semakin akrab dengannya. Ia kan akan melakukan konser dengan Fahrenheit. Dan besok, kita bisa bertemu Choi Shi Won, Zhou Mi, dan yang lain. Buku notesku akan penuh…” seru Li Zhi gembira.

“Li Zhi…”

“Oke, baiklah, aku hanya bilang, kau sedang sedih. Dia tanya kenapa, kujawab, ada lelaki bodoh yang tidak melihat betapa berharganya sahabatku…”

“Oke, itu berlebihan…” seruku, merasa malu. “Apa yang akan dia pikirkan tentang aku? Lagipula, mungkin sebenarnya tidak demikian. Kak Dennies mendapatkan Ri Na. dan Ri Na…”

“Lebih cantik, lebih tinggi?” tanya Li Zhi, memotong kalimatku. “Hentikan merendahkan dirimu sendiri. Coba lihat aku, aku sendiri tidak menyangka akan menemukan Ji Ro.”

“Kau sangat manis, Li Zhi…”

“Makasih, tapi bukan itu. Sudah kukatakan, bukan?”

“Semua wanita di dunia ini punya kelebihan masing-masing,” ujarku, memotong kalimatnya. Li Zhi tertawa kecil melihatku bersemangat membalasnya.

“Baiklah, itu Jae Shi yang kukenal. Ayo, kita kembali ke sana!!”

--Park Jae Shi, Wei Family House, 2009--

“Papa, Mama!!” Li Zhi berlari riang dan memeluk Mamanya gembira. “Merindukanku?” tanyanya manja. Mama dan Papanya tertawa dan membalas memeluknya lebih erat.

“Kenalkan, temanku, Park Jae Shi…”

“Ohh… Dia yang kau bilang pertama kali tukaran cokelat valentine denganmu, kan?”

“Kau menceritakannya?” tanyaku sambil menyenggol Li Zhi pelan. Ia tertawa kecil dan mengangguk. “Salam kenal, Om, Tante… Maaf merepotkan… Mungki seminggu ke depan saya akan menumpang di sini…”

“Jangan sungkan, teman Li Zhi berarti teman kami juga…” ujar Mamanya ramah dan menepuk pundakku.

“Kalau sudah beli bahan cokelat, Om juga mau coba cokelatnya…” canda Papanya Li Zhi.

Aku bertatapan dengan Li Zhi sejenak. Dari tatapan sesaat kami, kami sudah bertekad untuk membuat kue bersama di saat Natal. Sekalipun memasak merupakan bagian dari kenanganku bersama Kak Dennies, aku tidak bisa membuangnya dari diriku.

“Ayo kita ke hotel lagi…” ajak Li Zhi gembira. “Pa. Ma, kami jalan-jalan dulu…”

“Mau bertemu Ji Ro, ya?” goda Mamanya dengan senyuman jahil. Li Zhi tersipu malu sambil menggandeng tanganku.

“Keluargamu tidak ada masalah ya, pacaran dengan artis?”

“Oh… mereka bahkan bersemangat sekali, mengerubungi Ji Ro dan menanyakannya bermacam-macam pertanyaan. Meminta tanda tangan anggota Fahrenheit lainnya… “ Li Zhi tertawa geli membayangkan adegan di kepalanya.

“Dan mungkin, kita harus mengundangnya makan bersama juga saat Natal. Kurasa aku bisa membayangkan wajah Ji Ro saat memakan kue buatanmu…”

“Dan kurasa, ada satu orang lagi. Kita harus mengajak Han Geng juga…” ujarnya bersemangat.


--Wei Li zhi, Bei Jing, 2009--

“Selamat datang!!” sapa Fahrenheit sambil menyalami anggota Suju M yang baru datang. Anehnya, Hee Chul yang bukan anggota Suju M ikut datang bersama rombongan itu.

“Ahh.. kangen sekali dengan Geng-ku…”

Ia memeluk Han Geng dan tertawa serta menari bersama cowok itu. Bisa kulihat Jae Shi menatap dua pria itu dengan pandangan aneh. Mungkin dia akan beranggapan cowok itu homo. Gawat nih.

“*Kenalkan, ini pacarku, Li Zhi. Kuharap kalian tidak keberatan aku membawa dia kemari…” ujar Ji Ro sambil menarik bahuku dan merangkulku.

“*Tidak mengapa, kalau begitu, sebenarnya aku juga membawa kekasihku, Dae Jia. Tidak keberatan ia datang kemari? Dan kekasih Dong Hae juga, Hea In”

“*Tentu saja tidak…” jawab Ji Ro. “*Menyenangkan juga melihat acara konser kalian kali ini tidak terlalu ketat diatur oleh manajemen…”

“*Benar,” sahut Hee Chul gembira. “*Kalau tidak, mana mungkin aku bisa ikut?” kalimatnya mengundang tawa para personil lainnya.

Jae Shi memandang biola yang disandang Henry dengan penuh kekaguman. “Kau selalu membawanya?” tanyanya kagum.

“Eh, iya…” Henry mengangguk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal .”Banyak orang mengataiku aneh… biola maniak-lah…”

“Menurutku, pemain biola itu keren sekali…” ujar Jae Shi, setengah menggumam. Henry tersenyum senang mendengarnya.

“Henry,”ujarnya mengulurkan tangan.

“Park Jae Shi, ehm..,Jae Shi saja,” ujarnya, masih ragu.

“Kau bersama pacarmu?” tanya Henry sambil melirik keliling ruangan.

“Tidak, bersama temanku…” jawab Jae Shi kasual.

Kulirik Han Geng yang berdiri tidak jauh dariku. Ia tertawa di samping Hee Chul, namun kelihatannya ia masih mendengarkan kalimat Jae Shi.

“*Salam kenal semuanya, ini pacarku!!” seru Dong Hae sambil menarik Hea In dengan bersemangat. Di sampingnya, Shi Won berjalan memasuki ruangan bersama seorang wanita berambut panjang sepunggung.

“Ini Dae Jia, kenalkan…” Shi Won tersenyum dan memperkenalkan wanita itu kepada seluruh ruangan. “Jadi, bagaimana jadwal acaranya?”

Kurasa aku dan Jae Shi berpandangan dengan pikiran yang sama. Kabar bahwa Choi Shi Won selalu bekerja dengan professional ternyata bukan sekedar isapan jempol.


-to be continued-

TRY MY LOVE 2

TRY MY LOVE 2

March 27, 2011 at 1:34pm
TRY MY LOVE
Chapter 2
Cast:
Author(Jesica) as Park Jae Shi
Han Geng as himself
Wei Li Zhi as herself
Ji Ro Wang
Yuli (admin Lee) as Lee Yoo Hee
Kim Nam Gil as himself

--Li Zhi, Seoul, 2009--

“Apa kau jadi menghabiskan liburanmu di China?” Yoo Hee, sepupuku, mengelap tangannya di celemek, dan menatapku dari pintu dapur. Tunangannya, Kim Nam Gil berdiri di sebelahnya dan Yoo Hee membalas tatapannya mesra.

Karena memutuskan untuk melanjutkan studi di Korea, Mama menitipkanku di rumah Yoo Hee. Sepupuku itu tidak keberatan karena selama ini ia memang merasa rumahnya agak terlalu besar untuk didiaminya sendirian.

Hmm… sebenarnya tidak sendirian juga. Hanya saja, Papa dan Mamanya terlalu sibuk mengurus bisnis sehingga jarang berada di rumah. Otomatis, Yoo Hee lebih sering menghabiskan waktunya sendirian. Atau mungkin, berdua Nam Gil.

“Jadi dong, aku bahkan akan mengajak Jae Shi bersamaku…” jawabku sambil tersenyum.
Layar notebookku berkedip, pertanda email baru dari Ji Ro sudah tiba. Dengan gembira ia mengatakan kalau ia sangat merindukanku. Hore!!

“Jadi, kau masih pacaran dengan penyanyi itu?”

“Masih,” jawabku. “Memangnya kenapa?”

“Kalian hebat juga, ya…” puji Nam Gil sambil tersenyum. Hmm… betul kata Yoo Hee, senyumnya memang menarik.

“Kalau bukan Ji Ro, aku tidak akan bisa mempercayainya…”

Masih segar dalam ingatanku, secara ajaib, nomor tiketku terpilih untuk naik ke atas panggung dalam konser Fahrenheit malam itu. Kakiku gemetar, dan tanganku terasa dingin. Tetapi, Ji Ro menggandengku. Bahkan ia memintaku menunggunya di belakang panggung setelah konsernya usai.

“Ayo kita bertemu lagi…” ajaknya malam itu. Dan kami bertukar nomor. Setelah berulang kali kencan rahasia, akhirnya hubungan kami resmi diketahui umum. Ji Ro meminta pers untuk tidak menggangguku, dan sejauh ini, semuanya lancar.

Rasanya seperti mimpi. Di Korea, kehidupanku terasa begitu bebas, dan alami. Pers tidak mengejarku, dan tidak ada bisikan-bisikan iri maupun gossip dari para gadis yang melihatku di jalan. Dan lebih menyenangkan lagi karena mereka bahkan tidak mengenali dan mencapku sebagai kekasihnya Ji Ro Wang.

Jae Shi salah satu pribadi yang dengan mudah menjadi akrab denganku. Ia jujur menyebutkan kalau ia salah satu fans Fahrenheit, dan menyukai kisahku dengan Ji Ro. Awalnya ia gadis yang ramah dan ceria dengan senyumannya. Namun, mendadak semuanya hilang karena secarik surat. Dan itu membuatku kesal.



--Jae Shi, Seoul, 2009--

“Kau tidak lupa dengan rencanaku, kan?” Tanya Li Zhi, mengingatkanku akan pembicaraan kami hari sebelumnya.

“Aku tidak mungkin melupakannya. Dan keren sekali, aku bisa ketemu Ji Ro Wang yang terkenal itu. Waah.. aku harus membawa buku tanda tangan juga…”

“Aduuh… serius sedikit dong…” ujarnya dengan wajah menggemaskan.

Li Zhi memang tidak cocok menampakkan wajah yang kesal. Ia sangat manis, feminim, dan sulit sekali marah. Tapi, entah kenapa ia bisa begitu marah pada Kak Dennies.

“Aku serius. Dan menurutku, kita tidak usah mengganggunya. Biar saja ia bahagia dengan Ri Na…” ujarku sambil tersenyum. Kuharap suaraku tidak terdengar bergetar barusan.

“Kau harus bicara dengannya… Mungkin ada salah paham di antara kalian. Kan tidak mungkin ia tiba-tiba memutuskan hubungan kalian secara sepihak. Lagipula, ia yang mengatakan kalau ia menyukaimu…. Ayolah, Jae Shi…” Li Zhi masih berusaha membujukku.

“Aku akan bersenang-senang di sana,” tekadku. “Dan mencari cinta yang baru…”

“Jae Shi…”

Li Zhi menatapku dalam-dalam, jelas tidak percaya satu pun perkataanku. Ia benar, aku memang agak tidak mempercayai cinta sekarang. Rasanya hatiku sudah mendingin.

“Kau masih menyukainya, akui saja…”

“Li Zhi… ayo kita bahas topik lain,” pintaku. Aduuh… air mata… Kudongakkan kepalaku, menatap langit-langit, berusaha mencegahnya jatuh. “Masih…” jawabku akhirnya, menghembuskan nafas dengan keras, merasakan rasa sakit itu masih tertinggal di dadaku.

“Ayo kita temui dia…” pintanya lagi.

Kali ini, setengah mengangguk, dengan pasrah kuiyakan permintaannya. Siapa yang tidak ingin bertemu dengannya? Aku masih menyukainya, tentu saja. Namun, melihatnya bersama wanita lain? Apa rasanya akan sama?

“Dan kalau itu juga tidak berhasil, kita harus mencari cara untuk membuatnya sadar kalau ia seharusnya menyesal melepaskanmu…”

“Kurasa tidak juga, Ri Na memang cantik, dan tinggi, dan putih, dan…”

“Jae Shi, berhenti merendahkan diri sendiri. Semua wanita di dunia ini punya kelebihan masing-masing. Dan satu hal, kau tidak sepicik dirinya, merebut kekasih orang lain…”

“Kalau aku ke sana dan merebut Kak Dennies, berarti aku juga jadi sama dengannya?” tanyaku, mengejutkan Li Zhi sejenak.

“Oh, aku belum berpikir sampai ke sana. Tapi…” ia memutar bola matanya dan tersenyum. “Kurasa, kasusnya agak berbeda. Pria itu hak mu dari awal…”

“Jadi, aku ke sana untuk mengambil hakku?” tanyaku, tidak bisa menahan senyum.

Li Zhi ikut tertawa di sampingku. “Benar, mengambil hak mu kembali. Ayolah, aku tidak suka melihat wajahmu yang muram. Siapa tahu, sepulang dari China, aku bisa melihat senyummu yang dulu…”

Pemikiran yang bagus.

“Oke, aku suka ide itu,” jawabku menyetujui. “Tapi, bagaimana kalau ternyata semuanya sia-sia?”

“Tidak akan ada yang sia-sia selama kita telah berusaha. Kalau kau hanya diam di sini, muram, dan menangis sepanjang hari, itu baru sia-sia…”

Sekali lagi, pemikiran yang bagus. Kurasa aku semakin menyukai sahabatku ini sekarang.

“Baiklah, aku ikut…”

Li Zhi menghembuskan nafas lega dan tersenyum. “Bagus, itu baru Jae Shi yang kukenal. Dan siapkan buku tanda tanganmu, siapa tahu kita bisa bertemu banyak artis di sana…” tawanya.



--Li Zhi, Seoul, 2009--

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Jae Shi cemas. Kami berjalan memasuki gerbang kedatangan. Beberapa jam duduk di dalam pesawat sungguh melelahkan.

“Tentu saja. Aku baik-baik saja, kok..” jawabku sambil tersenyum.

Aku sangat senang bisa kembali ke China, dan bertemu Ji Ro. Tetapi, di dalamnya terdapat konsekuensi lain. Kembali ke China berarti siap menghadapi pers, siap diekspos, siap dibicarakan para gadis yang cemburu di jalan.

“Kau memikirkan para fans Ji Ro, ya?” Seperti biasanya, Jae Shi selalu peka terhadap pikiran orang lain, salah satu hal yang kusukai darinya.
“Terlihat jelas, ya?” tanyaku, berusaha tersenyum. Tapi, wajahku malah terasa kaku.

“Kau terlihat gugup…” tukas Jae Shi jujur. “Tapi, kurasa bertemu dengan Ji Ro bisa membantumu menghapus sebagian rasa gugup itu…”

“Ya, kau benar…”

Aku rela dihantui pers seumur hidup asalkan bisa bersama Ji ro. Bersamanya aku bisa menjadi diriku sendiri, dan walaupun ia terkenal, ia tidak pernah menyombongkan dirinya di depanku. Bahkan, ketika aku berada di sampingnya, ia nyaris tidak pernah memalingkan wajahnya, membuatku kadang merasa luar biasa jengah dan gugup.


“Itu dia!” seruku sambil menunjuk sebuah papan yang terayun-ayun di depan lautan manusia.

Di papan itu ditulis satu kata yang menghubungkan kami berdua. ICHIRO. Karena aku sangat menyukai strawberry (dalam bahasa Jepang, ichigo) dan Jiro selalu memanggilku Ichigo ketika kami hanya berduaan. Kami sudah menetapkan untuk menamakan anak lelaki kami Ichiro.

“Romantis,” puji Jae Shi tulus sambil mengamati papan yang dipenuhi gambar hati berwarna pink, warna kesukaanku.

(dialog dengan tanda * berarti berbahasa mandarin)

*“Hai, aku sangat merindukanmu” Ji Ro langsung memelukku begitu aku dan Jae Shi tiba di hadapannya.

*”Aku juga…” ujarku. Kami melepaskan pelukan, dan kuulurkan tanganku kea rah Jae Shi. “*Kenalkan, sahabat pertamaku di Korea, selain sepupuku, tentu saja, namanya Park Jae Shi…”

“Hello, Miss Park…” ujar Ji Ro dalam bahasa Inggris.

“*Jae Shi saja. Aku bisa bahasa Mandarin sedikit…”

“*Oh, wow,” hanya itu tanggapan Ji Ro. Ia lantas mengedipkan mata padaku. “*Pantas saja ia jadi teman pertamamu… Biar kutebak, cuma dia yang memahami bahasa mandarin di kelas?”

“*Tepat,” balasku sambil tertawa. “*Aku tidak merepotkanmu, kan? Aku bisa minta dijemput keluargaku tentu saja…”

“*Tidak, akulah yang harus melihatmu pertama kali saat menginjakkan kaki di sini…” ia memeluk pinggangku cepat. “*Dan kebetulan yang luar biasa, karena tepat saat liburan berakhir, dan tur di China selesai, aku juga pulang ke Taiwan…”

“*Horeee…” seruku senang. “*Jadi, kita bisa bersama?”

“*Tentu saja…” jawab Ji Ro sambil mencubit hidungku dan tertawa. “*Loh, di mana temanmu?”

Dengan panik kuedarkan pandangan ke sekeliling ruang tunggu yang penuh sesak. Jae Shi berada tidak jauh dari kami. Ia jatuh terduduk, dan di depannya ada seorang pemuda yang membantunya berdiri.

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku dalam bahasa Korea ke Jae Shi.

Pemuda yang membantu Jae Shi menarik tangannya. Bisa kulihat ia terdiam sejenak dan mengangkat wajahnya bingung.

“Tidak apa-apa…” Jae Shi berdiri dan menundukkan kepala dengan canggung. “*Maaf, aku memang sering ceroboh. Tidak sengaja jatuh dan menabrakmu…”

“Tidak apa-apa. Kau bisa bahasa Korea?” Tanya cowok itu kagum. “Dan mandarin juga?”

Kali ini giliranku dan Jae Shi yang terkejut saat menyadari wajah di balik topi itu begitu familiar.

“Masa sih?” ujar Jae Shi bingung. “Apa ini memang benar dia?” bisiknya di dekatku.

Aku masih terdiam dan mengamati sorot wajah di depanku. “Kurasa benar dia…” gumamku.

“Mu-mungkin aku salah, tapi.. apa kau Han Geng?” Tanya Jae Shi dengan ragu.

Cowok itu menatapnya kaget dan sejenak mengangguk ragu. “Kalian mengenaliku?” tanyanya.

Tidak mungkin ada gadis Korea yang tidak tahu mengenai Super Junior.

“*Han Geng?” suara Ji Ro dari belakangku membuatku semakin terkejut. “*Astaga, jadi kaulah orangnya…”

“*Eh, kau mengenalnya juga?” kali ini rasa terkejut semakin besar melandaku. Kenapa Ji Ro juga bisa mengenal Han Geng?

-to be continued-

TRY MY LOVE 1

TRY MY LOVE 1

March 25, 2011 at 8:53pm
TRY MY LOVE
Chapter 1
Cast:
Author(Jesica) as Park Jae Shi
Dennies Oh as himself
Kim Ri Na as himself
Sheptie as LI Zhi


--Park Jae Shi, Seoul, Juni 2009—

Sejak kapan aku menyukainya? Sambil berpikir, perlahan kuhirup aroma coklat yang terasa kental dan menyenangkan. Kak Dennies masih berdiri di sudut dapur, menyendokkan cokelat dan sibuk menuang susu panas ke dalamnya.

“Hmm… baunya enak sekali…” komentarku sambil tersenyum.

“Memang enak,” sahutnya.

Sejak kapan? Kurasa sejak pertama kali melihatnya, aku sudah menyukainya. Kami sudah hidup bertetangga lebih dari sepuluh tahun, dan kurasa, tidak ada yang bisa mengalahkan rasa sukaku padanya.

“Nah, silahkan diminum tuan puteri…” ujarnya sambil menuangkan cokelat panas ke dalam cangkir kesayanganku. “Hati-hati, panas…” ia tersenyum—mengingatkanku akan kecerobohanku waktu kecil, meminumnya terburu-buru dan membakar lidahku—dan memasang ekspresinya yang sangat kusukai.

Setelah berulang kali meniupnya, kuhirup sedikit cairan cokelat itu, dan otomatis tersenyum. Ini rasa yang akan kuingat selalu. “Sangat-sangat-sangat enak!” pujiku sambil tersenyum dan mengangkat jempolku.

Kak Dennies tertawa dan mengambil tempat duduk di sebelahku. “Jadi, ehm… apa aku dapat nilai plus untuk sarapan pagi ini?” tanyanya dengan senyum menggoda. Ya Tuhan, dia tampan sekali.

“Ya, nilai sempurna!” seruku antusias, dan senyumku bertambah lebar melihat omelet yang disajikannya tampak begitu menggoda.

Kak Dennies selalu suka memasak. Baginya, memasak adalah bagian hidup. Sekalipun telah lulus kuliah arsitektur, ia merencanakan untuk mengambil kuliah jurusan kuliner. Aku seratus persen setuju, selama aku bisa mengambil bagian menjadi pencicip makanan dan terus… terus berada di sisinya.

“Jadi, Jae Shi… aku sudah memutuskan akan mengambil kuliah kuliner…”

“Aku tahu,” sahutku sambil mengunyah telur dan hamku. Yummy! “Dan terakhir kali, Kakak bilang akan meneruskan di Seoul kan?”

“Hm…” ia mengangkat bahu, membuatku merasa was-was sesaat. “Aku berubah pikiran… Aku rasa, tidak di Seoul…”

Sebagian rasa gembiraku meluap dan menghilang begitu saja. “Tidak di Seoul?” Tidak di sampingku lagi?

“Tidak,” ia menggeleng dan berkata dengan mantap, “Di Amerika… Prancis? Atau mungkin di China…”

Selera makanku menghilang seketika. “Di Negara sejauh itu?” tanyaku, kecewa.

“Ya, di sana. Aku rasa China. Ya, China. Itu yang terdekat… Aku ingat kau suka sekali masakan China. Dan ada universitas di sana yang menawarkan juga pertukaran pelajar ke Prancis. Aku rasa aku akan ke sana…” ia mengusap rambutku, dan memandangku, mencoba membujukku.

“Itu yang terdekat…” gumamku. Dari sudut mataku, bisa kulihat ia juga mengangguk. Tapi, walaupun dekat, itu juga sangat jauh. Jauh.

“Kau tidak apa-apa, kan?” ia memandang wajah muramku dan tampak cemas.

“Aku…”  Tentu saja aku harus mendukung mimpinya. Ambisinya. Cita-citanya. “Tidak mungkin aku tidak apa-apa…” keluhku. “Tapi, aku bisa apa? Kakak kan sudah memutuskan…” ujarku sambil mendesah sedih.

“Anak baik…” ia tersenyum dan mengusap kepalaku.

“Aku bukan anak kecil…” seruku sambil menampakkan wajah kesal. “Aku sudah dewasa! Sudah hampir lulus SMA!” seruku tidak mau kalah.

“Ya, ya, kau sudah dewasa… dan yang mendekatimu tidak sedikit kan?” ia mengedipkan sebelah matanya padaku, tidak menyadari hatiku sakit mendengarnya. Oh, kapan sih, dia akan menyadari perasaanku?

“Kakak… sendirian di sana… pasti kesepian deh…”

“Tidak juga…” ia tertawa kecil. “Kau tahu? Kim Ri Na akan ikut denganku. Ia ternyata juga mengambil jurusan kuliner…”

“Ri Na?” jantungku berdentum keras di tempatnya.

Ri Na, teman Kak Dennies. Ia cantik, dewasa, dan uuh… aku iri padanya. Ia tidak dianggap anak kecil oleh Kak Dennies. Setahuku gadis itu tidak bisa memasak. Dan ia juga pernah terang-terangan berkata padaku, sebaiknya aku jangan terus bermanja pada Kak Dennies karena hal itu sangat mengganggu.

Kemudian, Kak Dennies menegurnya dan berkata aku tidak mengganggunya. Malahan, menyenangkan punya adik yang manis. Uggh!! Adik yang manis?! Walaupun menyebalkan, hatiku menghangat mendengarkan pembelaannya untukku.

“Iya, kudengar orang tuanya memintanya untuk berlatih memasak. Dia kan sama sekali tidak bisa memasak. Sedangkan kau, Jae Shi… secara otodidak, kau bisa belajar sendiri. Kau lebih feminin darinya…” Kak Dennies tertawa di sela-sela kalimatnya.

“Tapi kau selalu mengatakan kalau dia cantik…”

“Namanya juga laki-laki…” ia tertawa dan menghabiskan isi di piringnya. “Nah, aku sudah. Ayo, habiskan makananmu…”

Dalam bisu, kuhabiskan isi makananku. Walaupun tidak cantik, walaupun tidak bisa berdandan… aku menyukaimu. Dan waktuku semakin habis. Tik tok tik tok… tidak bisakah selamanya kau di sampingku?


                                      ----

“Jaga dirimu baik-baik…” ujar Kak Dennies sambil mengelus kepalaku lembut. Desember tiba dengan cepat, dan itu artinya perpisahan. Ujian masuk universitas kulalui bagai mimpi. Kepalaku penuh dengan tusukan rasa sedih untuk perpisahan ini.

“Kakak juga hati-hati… dan, Kak Ri Na juga…” ujarku, berusaha tersenyum setulus mungkin dan menyingkirkan rasa iri di hatiku. Aah… aku ingin sekali bisa pergi bersamanya.

“Psst… hei, kemarilah sebentar, Jae Shi…”

Kak Dennies menarikku keluar dari rombongan. Sekilas bisa kulihat pandangan tidak senang di wajah Ri Na. Secercah rasa bahagia membuatku tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan senyuman kemenanganku.

“Ada apa, Kak?”

Kak Dennies bergerak-gerak gelisah sambil menatapku. “Kau tahu, ngg… aku ingin menanyakan satu hal. Apa kau bersedia menungguku?”

“Menunggu?” Apa ia akan pulang dalam waktu dekat? “Kenapa? Kakak tidak akan lama di sana?”

“Aku masih belum tahu. Karena itu, walaupun tidak pasti, maukah kau menungguku?”

Jantungku berdebar keras di tempatnya, karena tiba-tiba Kak Dennies menyentuh bahuku lembut. Ia melihat mataku membesar kaget dan tersenyum, lalu memindahkan tangannya ke dinding, mengurungku dengan lengannya.

“Karena aku menyukaimu, Jae Shi…” ujarnya. “Jadi, kau mau menungguku, bukan?” kalimat terakhir terdengar seperti permohonan.

Rasanya dadaku sesak karena bahagia. Sungguh? Ia menyukaiku? Kenapa baru sekarang ia mengatakannya? Ketika kami akan berpisah?

“Kenapa baru sekarang?” gumamku, dan seketika, wajahnya berubah keruh. Mendadak aku menyesal melontarkan kalimat itu.

“Aku baru menyadarinya…” jawabnya sambil menghela nafas berat. “Bukan, sebenarnya, sudah sejak lama. Hanya saja, kau sepertinya hanya menganggapku Kakak, tidak lebih. Dan aku… aku tidak cukup berani untuk menyatakannya…”

“Aku… akan menunggu, tentu saja…” jawabku, setengah berbisik dan menunduk—menyembunyikan air mataku.

“Janji?” ia mengulurkan jari kelingkingnya.

“Memangnya masih jaman…” ucapanku terhenti ketika ia menarikku untuk memelukku erat. Tubuhnya yang tinggi, membuatku setengah berjinjit untuk membalas pelukannya. Dan tatapan matanya begitu kuat, dalam, dan tegas.

“Dennies? Sudah waktunya kita berangkat…” Ri Na menghentakkan kakinya dengan gerakan tidak sabar di ujung lorong, membuat Kak Dennies menarik diri dari pelukannya.

“Aku pergi dulu…” ia tersenyum dan melambai kuat-kuat ke arahku.

Sambil berusaha menampilkan senyum terbaikku, kulambaikan tanganku perlahan. Hari ini akan menjadi akhir, sekaligus awal yang baru bagi hubungan kami. Kupikir, cinta jarak jauh hanya ada di film, novel, buku yang romantis. Namun, hari ini semuanya terjadi bagai mimpi di depanku.

Perasaanku sedikit tidak nyaman saat melihat Ri Na dengan akrabnya menyentuh bahu Kak Dennies dan mendorongnya ke ruang tunggu, meninggalkan rombongan yang mengantarnya. Namun, saat melihat senyum pria itu, hatiku melunak. Aku harus mempercayainya. Kalau tidak, hubungan ini tidak akan berhasil.





Entah kenapa, hari itu aku begitu percaya diri bisa menunggunya selama itu. Dan percaya bahwa ia tidak akan berpaling dariku. Sampai setengah tahun kemudian, hatiku nyaris hancur melihat sepucuk surat tiba dari China.

Pengirimnya Ri Na. Dan di surat itu, ia menyertakan foto dirinya bersama Kak Dennies, dnegan bangga mengatakan kalau mereka telah bertunangan dan meminta restu dariku.


Hari itu adalah hari di mana hatiku mati. Pria yang paling kupercaya menghianatiku. Kurasa, di dunia ini memang tidak ada yang namanya cinta!





--Li Zhi, Seoul, 2009--

“Hei, ayo, yang semangat dong… Natal kan hampir tiba…” kuguncang perlahan bahu sahabat pertamaku di kampus, Jae Shi. Ia masih tampak murung seperti biasanya.

“Aku sedang bersemangat, kok…” jawabnya sambil berusaha menggerakkan sudut bibir dan tersenyum. Senyum palsu seperti biasanya.

“Sampai kapan kau mau memikirkan pria itu? Kan masih ada banyak pria baik lain di dunia ini… Ayolah…” bujukku sambil mengguncangnya lagi.

“Cuma kau yang beruntung punya pacar sekeren Jiro…” keluhnya sambil menarik nafas panjang.

“Kau sangat menyukainya ya??”

“Dia… adalah teman, saudara, sekaligus idolaku selama sepuluh tahun terakhir. Kukira kami akan bertahan. Padahal, semua terasa baik-baik saja. Sampai, suatu hari ia berhenti mengirimkan email…”

Jae Shi kembali terdiam seperti biasanya. Matanya mulai berkaca-kaca, namun jelas belakangan ini ia lebih mampu mengontrol perasaannya. Minggu-minggu pertama, wajahnya tampak benar-benar muram seperti mau bunuh diri saja.

“Desember artinya libur. Dan kita bisa bersenang-senang…”

Ia tersenyum kasual, dan dengan tulus menggandeng tanganku. “Kau harus bahagia dengan Jiro. Melewatkan Natal dengan gembira…”

“Dan kau akan ikut denganku…” sebuah ide tiba-tiba terbersit di pikiranku.

“Ke mana?” tanyanya. “Setahuku, Jiro sekarang di China…”

“Benar, karena itu kita akan ke sana…”

“EHHH!?!?”

-to be continued-




Senin, 07 April 2014

OKKO SweetScandal - Itsuki Horai Walkthrough


Recently Itsuki Horai route has been launched since Mar 20th 2014

Since I have finished both Misato Yusuke and Amasawa Kaito, I’ve been logged in several times without doing anything

Truly, it was a surprising news that they finally launched Itsuki route right after I finished Yusuke route ;)

Although I just played the first part, looks like I made some good guessing at Itsuki way of thinking and got 5 affection for each questions. Here’s some snap pict (forgot to take the second question screenshot) sorry :’)

At first conversation below (1.4), choose :
(3) I hope you find her to get +5
image
Next question: forgot to take screenshot
choices: (at 1.9)
1. I’ll go with you
2. I can’t ask you something like that (or something similar to this)
3. How about tea?

Choose: (1) I’ll go with you to get +5 affection poin
image
At conversation below, please choose
(at 1.11) : (2) I wanted to help the boy ;) and get your +5 affection

Recently you can get to see this cute blushing face too… Oh my gosh.. what a cutie, he loves to drink strawberry milk (*/ω\*) (such a manly face but… strawberry milk) wakhh…(〃▽〃)

image
Yeah, it’s a kid fave drink but you’re so cute so that’s okay (。´∀`)ノ #going crazy#
anyway, That’s it for now and I will update it again soon :)
Wish me luck to get the highest affection number of him hehehe
-(๑☆‿ ☆#)ᕗ

Update (26/03/2014):

Chapter 2.3: (1.) We’ll take on that challenge together —-> (+5)
(2.) You’ll do great
(3.) Let’s enjoy it together
Update (27/03/2014)
2.12: (1.) It’s nice and warm —-> (+5)
(2.) Thank you
(3.) You’ll catch a cold
3.2: (1.) I can’t wait.
(2.) The photographs alone are fantastic.
(3.) Let’s work hard to make it perfect (+5)


3.6: (1.) Don’t you think you are exaggerating?
(2.) I’ll be more careful next time.
(3.) You’re too demanding. (+5)


3.14: (1.) Still it’s nice of them to say it. (+5)
(2.) They’re adorable!
(3.) I don’t mind.
 4.5:  (1.) “Are you complimenting me?” (+5)
(2.) “Stop, you’re embarrassing me.
(3.) “I don’t seem like a reporter?”


4.8: (1.) “We are like family.”
(2.) “He’s just a friend.”
(3.) “I’ve never even thought about it.” (+5)

4.14: Special (+55)  
4.15: (1.) Wave back.
(2.) Smile and nod.
(3.) Look at him disapprovingly. (+5)

5.2: (1.) I didn’t do anything.
(2.) Thank you. (+5)
(3.) Don’t thank me.


5.3: Special (Still) (You need +65 affection point to continue)

5.8: (1.) With me?
(2.) I’m Embarrassed. (+5)
(3.) I can’t dance.


5.12:
(1.) How about something sweet? (+5)
(2.) My cooking isn’t the best.
(3.) Oh-Okay. I’ll try my best.
6.3: Special Scene (You need +75 affection point to continue) 6.4: (1.) Can we at least sit down?
(2.) Let me see your face at least.
(3.) Quietly nod. (+5)


6.6: (1.)  Don’t look at me like that. (+5)(2.) Don’t worry about me.
(3.) Let’s just go back to working together.

After I have enough time, I’ll also post some CG later ;)
Will update again soon… thank you ;)