Rabu, 13 November 2013

FF SING OUT LOUD, LOVE 6

SING OUT LOUD, LOVE 6

September 26, 2011 at 7:50am
CHAPTER6
Cast:
Liana Wijaya as Kim Lee Ah
Kim Hyun Joong
Author as Kim Jae shi (Lee Ah’s younger sister)
Micky Yoo-chun
Hero Jae-joong
Xiah Jun-su

―Lee Ah, Januari, 2011, Gedung Audisi DSP entertainment, Studio 2―
“Nomor 163….” Panggil petugas penjaga pintu. Kutatap kembali nomor di tanganku. Giliranku semakin dekat. Astaga… aku tidak boleh lupa lirik yang akan kunyanyikan nanti. Ya, ya, akan kunyanyikan lagu only one day, salah satu lagu kesukaanku.

Dengan lagu itu, akan kuutarakan perasaan sedihku soal perpisahan kami. Hyun-joong pasti akan mengerti…

“Nona Kim Lee-ah?” suara panggilan itu membuyarkan lamunanku. “Apa Nona Kim Lee-ah tidak hadir? Nona Kim Lee-ah nomor 165?” ulangnya.

“A-ah! Iya, aku hadir!” seruku sambil mengangkat tangan dan buru-buru bangkit dari kursiku. Terdengar tawa mencemooh di belakangku. Iih… tidak. Tidak. Aku tidak akan kalah hanya karena hal semacam ini.

“Silahkan masuk,” ujar petugas itu sambil membukakan pintu untukku. Begitu pintu terbuka, rasanya seperti masuk ke dunia lain. Ada enam orang juri. Hyun-joong… dia duduk di kursi paling ujung kanan. Matanya sekilas kaget melihatku.

“Aduh!” seruku ketika kakiku tidak sengaja tersandung mike. “Ma-maaf…” dengan gugup aku membetulkan posisi berdiriku. Bisa kulihat beberapa juri menahan senyum dan yang lainnya berdehem. Hyun-joong juga ikut menahan tawanya.

“Silahkan dimulai, Nona Lee-ah…”

“Ah, ya…” kakiku berjalan ke arah keyboard dan mencoba mengingat-ingat nada pembukanya. Tidak… tidak mungkin! Karena kejadian memalukan bertubi-tubi, semua yang ada di otakku langsung blank total.

Melihat kegugupanku, spontan Hyun-joong bertanya dengan mike di depannya. “Ada yang salah, Nona Kim?”

“T-tidak…” sahutku.

Mungkin aneh, tetapi bisa kulihat bibir Hyun-joong bergerak sedikit. Seperti isyarat… jangan-jangan… benarkah dia menyuruhku memainkan lagu itu?

Baiklah, ini pertaruhan. Mungkin aku benar akan gagal, tapi, akan kumainkan lagu yang diajarkan Mamaku dulu!

―Jae Shi, Januari 2011, Salon (entah dimana)―
“Bagaimana?” tanya Yoo-chun dari luar ruangan dengan tidak sabar.

“Sebentar… aku kesulitan menarik ritsleting-nya…” tukasku. Begitu akhirnya kutarik ritsleting itu sampai ke ujung, rambutku ikut tertarik ke sana. “Aduh!”

Pria itu mengetuk pintu kamar ganti. “Kau sudah selesai ganti baju, belum? Kalau sudah, biar kubantu…”

“Tolong…” pintaku sambil setengah meringis karena rambutku masih tersangkut di sana. “Kenapa aku harus pakai baju seperti ini…” omelku.

“Karena badanmu mungil, jadi dengan mini dress, kakimu akan terlihat lebih jenjang. Tahu itu?” Pria itu meraih ritsleting yang terdapat di leherku dan membantu melepaskan rambutku perlahan-lahan. “Nah, selesai. Coba kulihat penampilanmu…”

“Bagaimana?” tanyaku tidak sabar ketika pria itu masih saja diam melihatku. Jun-su masuk dan bersiul kecil. “Tidak cocok, kan?” erangku.

“Cocok,” puji Jun-su sambil tersenyum. Ia menyenggol Yoo-chun sedikit. “Cocok sekali dengan seleramu, bukan?”

“Diam kau!” sergah Yoo-chun. Wajahnya memerah malu sampai telinga. “Aku lebih suka gadis yang dewasa,” gumamnya dengan suara parau. “Ayolah.,..” ia menarik tanganku dan terburu-buru memasukkanku ke mobil.

“Aku juga lebih suka tipe yang dewasa…” gumamku setengah berbisik.

“Apa katamu? Mau membalasku?” Pria itu membalik badan dan tersenyum menggoda lagi. Memang yang paling menarik dari pria ini adalah senyumannya. Tapi aku tidak mau keburu memujinya, nanti dia jadi ge-er.

“Ternyata cukup dipoles sedikit, dia sudah terlihat menarik. Iya kan, Jae?” tanya Jun-su sambil bersenandung dengan suara uniknya di kursi depan.

“Lumayan…” pria itu menarik senyum samar sambil melirikku.


―Lee Ah, Januari, 2011, Gedung Audisi DSP Entertainment, Studio 2―
Pelan jariku menyentuh tuts-tuts keyboard itu dan memainkan intro. Lagu yang tidak akan pernah pupus dari ingatanku. Lagu ini menghubungkanku dengan Mama, dengan Jae-shi, dan dengan Hyun-joong.

Found myself today
Oh I found myself and ran away
Something pulled me back
The voice of reason I forgot I had
All I know is you're not here to say
What you always used to say
But it's written in the sky tonight

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
Someone's watching over me

“Wow, ini bagus sekali!” puji seorang juri. Kuangkat wajahku dengan ekspresi tidak percaya.

Juri lain berkomentar lebih pedas. “Kau sepertinya menyukainya. Tapi, penampilannya perlu banyak diubah…”

“Penampilan bukan masalah… Hal itu bisa diubah. Suara tidak…” bela juri lain.

:Bagaimana menurutmu, Hyun-joong?” tanya juri yang tertua pada Hyun-joong. Pria itu menatapku lama, sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk bicara. Jantungku berdebar kencang sampai terasa mau lepas.

―Jae Shi, Januari 2011, Gedung S.M entertainment―
“Tunggu! Mau apa kau bawa aku ke sini?”

Yoo-chun tidak menggubris protesku. Ia terus saja menarik tanganku dan menuntun jalanku. “Sudah sampai,” katanya setelah kami―menaiki lift, beberapa kali berbelok dan―akhirnya tiba di sebuah ruangan.

“Tunggu. Kau harus bilang ini ruangan apa. Aku tidak mau masuk ke sana…”

“Masuk saja. Ini ruangan tempatmu memulai karirmu…”

“A-apa…”

Pintu sudah terlanjur dibuka sebelum kakiku bersiap kabur dari sana. “Kau membawanya?” tanya seorang pria. Ia mengenakan setelan jas yang rapi dan terlihat formal.

“Ya, Tuan Kim…” sahut Yoo-chun sambil membawaku ke tengah ruangan. “Aku sudah dengar suaranya dan kurasa suaranya memang unik… Sedikit kekanakan, namun, yah, unik…”

Kekanakan? Itu pujian, ya? Kenapa rasanya seperti ejekan? Sebal….

“Seperti suara Xiah?” tanya Tuan Kim dengan alis terangkat.

“Tidak, bukan seperti itu. Ada ciri khas tertentu dalam suaranya. Ini masih prediksiku… tapi…” Yoo-chun mendekat ke Tuan Kim dan membisikkan sesuatu di sana. Pria itu menarik ujung bibirnya dan tersenyum.

“Baiklah,” Tuan Kim menepuk tangan dengan tidak sabar. Nona Kim Jae-shi, bukan?” Kuanggukkan kepalaku ragu-ragu. “Silahkan dimulai! Di sini hanya ada kita bertiga! Aku sendiri yang akan menilaimu!”

Kulirik Yoo-chun dengan pandangan kesal. Sudah sampai di sini, apa lagi yang bisa kulakukan? Aku tidak mungkin kabur. Berusaha bernyanyi sejelek mungkin juga mustahil kulakukan. Aku hanya akan mempermalukan Yoo-chun dan diriku sendiri.

“Boleh pinjam gitar?” tanyaku, berusaha menghapus senyum grogiku. Yoo-chun menyeringai dan memberikan gitar yang tergeletak di ujung ruangan ke tanganku.

Perlahan tanganku memetik gitar itu, membayangkan masa kecilku, Mamaku yang wajahnya hampir kulupakan, dan kakakku. Lagu yang diajarkan Mamaku, lagu yang selalu kunyanyikan ketika aku merasa sendirian dan gelisah.


I've seen that ray of light
And it's shining on my destiny
Shining all the time
And I won’t be afraid
To follow everywhere it's taking me
All I know is yesterday is gone
And right now I belong
To this moment to my dreams

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
Someone's watching over me

It doesn't matter what people say
And it doesn't matter how long it takes
Believe in yourself and you'll fly high
And it only matters how true you are
Be true to yourself and follow your heart

“Selesai,” ujarku akhirnya. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam dan menarik nafas panjang. “Terima kasih banyak untuk kesempatannya…”

Loh? Kenapa tidak ada tanggapan?

Ketika kuangkat wajahku, dua pria di depanku itu masih mematung. Tidak, ini tidak mungkin! Apa aku sudah melakukan kesalahan lagi? Astaga… bagaimana ini!

―Lee Ah, Januari, 2011, Gedung Audisi DSP Entertainment, Studio 2―
“Hyun-joong?” tanya pria itu lagi.

“Eh, oh, ya, maaf…” Hyun-joong menoleh dan buru-buru tersenyum pada para juri itu seraya memperbaiki posisi duduknya. “Menurutku suaranya cocok dengan image yang ingin kutampilkan… Aku menyukainya…”

Jantungku seperti dipompa lebih cepat mendengar pujian pendek dari Hyun-joong. Aku menyukainya… Sekalipun aku tahu pujian itu ditujukan untuk suaraku, aku sangat senang ketika ia mengucapkannya. Seperti mengatakan kalau ia menyukaiku.

“Baiklah, bagaimana pendapat juri lain?” tanya juri wanita itu. Semua juri lain mengangguk setuju dan bertepuk tangan. “Selamat, kau diterima, Nona Lee-ah!”

“Apa…”

Seorang juri berlari keluar ruangan dan berteriak mengumumkan. “Maaf, kami tidak mengadakan audisi lanjutan! Pemenang sudah diputuskan pada nomor 165! Terima kasih, kalian sudah boleh pulang!”

“Benarkah?” perlahan-lahan senyum mengembang dari bibirku. “Benarkah? Aku menang? Astaga…” Kakiku melangkah maju untuk menyalami para juri di depanku. “Terima kasih banyak…”

Ketika tiba pada juri terakhir, Hyun joong, sejenak langkahku membatu. Pria itu menyunggingkan senyuman khasnya padaku. “Aku senang kau ingat padaku dan pada lagu itu…” bisiknya sambil menarik tanganku untuk mendekat. “Selanjutnya, mohon kerja samanya!” seru pria itu seolah baru pertama kali melihatku.

“Ya,” anggukku, senang. Berarti benar! Hyun-joong adalah pria itu! Dan mulai detik ini, aku akan berada di panggung yang sama dengannya!

―Jae Shi, Januari 2011, Gedung S.M entertainment―
“Nona Jae-shi? Ehm…” Tuan Kim berdehem beberapa kali. “Kau bisa nyanyikan lagu lain untukku? Misalnya… lagu SM-town? Bait pertama saja…”

“Baiklah,” tanganku sedikit gemetar sambil memetik gitar.

Kuputuskan untuk menyanyikan lagu leave for vacation. Setelah itu, Tuan Kim memintaku menyanyikan lagu film yang kusukai. Kali ini kumainkan lagu Perhaps Love by Howl and J. Belum puas juga, Tuan Kim memintaku menyanyikan lagu yang sering kunyanyikan. Akhirnya kunyanyikan lagu Only Hope by Mandy Moore.

“Selesai…” tukasku. Baiklah, ini mulai melelahkan…

Tuan Kim perlahan bangkit dari duduknya dan maju untuk menepuk pundakku. Wajahnya yang semula serius sekarang kelihatan senang. “Yoo-chun benar! Suaramu memang unik! Ya, kau punya kemampuan beradaptasi dengan lagu! Suaramu bisa berubah sesuai lagu yang kau nyanyikan! Bahkan aku kira tadi sedang mendengar penyanyi aslinya!”

“Bagaimana menurut Tuan Kim?” tanya Yoo-chun sambil menyeringai di sampingku. “Aku sudah membuat lagu yang pas untuknya…”

“Baiklah, tentu saja! Kita tidak bisa membuang waktu! Siapkan kertas kontraknya!”

“Hah…” Mulutku ternganga kaget sementara kedua pria di depanku asyik membicarakan hal yang tidak kumengerti. Kontrak apa? Kenapa sekarang jadi serumit dan se-complicated ini? jadi… apa aku belum boleh pulang???


-to be continued-


Note: lirik yang dipakai dalam chapter ini berasal dari lagu Hillary duff berjudul Someone watching over me. Lagunya sangat berkesan untukku, jadi kuputuskan memakainya di FF ini. Kalian bisa mendengarnya di film Raise Your Voice.

Rabu, 03 April 2013

Teacher Xia from Gan shu village China

· Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151532388632258&set=a.102883682257.89994.86432197257&type=1



Tinggal di desa kecil di propinsi Gan Shu. Awalnya dia bukan pelacur. Setiap penduduk di desa tersebut tidak mengerti kenapa seorang gadis secantik Xia yang mempunya paras tubuh yang indah dan rupa yang menawan tidak melakukan seperti gadis-gadis lainnya.

Karena Xia menolak akan hal ini, ayah nya Xia selalu menghukum dia.Suatu hari Xia mendengar bahwa sebuah sekolah di desa membutuhkan jasa seorang guru Xia langsung dengan sukarela menjadi seorang guru dengan tanpa imbalan.

Pas hari pertama Xia masuk ke sekolah menjadi seorang guru, setiap murid kaget dan terpukau akan kecantikan guru baru mereka Sejak saat itu Kelas selalu menjadi penuh dengan canda tawa setiap murid. Kelas mereka lebih layak untuk di sebut sebagai tempat penampungan daripada bangku bangku sekolah yang normal.

Dalam kondisi kelas yang sekarat ini, Xia mengajarkan beribu ribu kata kata chinese dan pengetahuan laennya kepada murid murid nya Suatu hari badai besar menghancurkan kelas mereka semua murid tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Lalu kepala sekolah datang ke kota untuk merundingkan hal tersebut dengan walikota yang mengurus budget bagian pendidikan agar memberikan sumbangan uang utk membetulkan sekolah mereka akan kepala sekolah kembali dengan tangan kosong.

Kepala sekolah mengatakan kepada Xia bahwa walikota akan memberikan uang kalo hanya Xia yang datang kepada dia dan meminta uang kepadanya secara personal, Xia yang tidak pernah keluar dari desa dan meninggalkan rumah nya dan tidak pernah bertemu dengan walikota sebelumnya, telah memutuskan untuk berangkat dari rumah untuk mengunjungi sang walikota.

Sebelumnya Xia kwatir kalo kunjungan dia akan mengacaukan suasana, akan tetapi dia tetep memutuskan pergi demi murid murid nya.

Xia berjalan lebih dari 10 kilo untuk ke kantor sang walikota setelah sampai, Xia duduk di depan kantor yang bagus di ruangan sang walikota. Setiba nya di kantor, sang walikota menyambut kedatangan Xia dengan sepasang mata pemburu yang haus akan Xia dan mununjukan tangannya ke sebuah ruangan dan mengatakan “Uang kamu ada di kamar tersebut… kalau kamu mau, kamu ikuti aku” Xia melihat sebuah ruangan dengan ranjang yang besar, ranjang tersebut lah yang telah merenggut keperawanan Xia, Sang walikota telah memperkosa Xia.

Darah segar dari keperawannan nya telah meninggalkan bekas dan jejak di sprei darah merah tersebut menjadi lebih merah daripada warna bendera national China. Xia tidak menangis sedikit pun yang ada di pikiran nya adalah berpuluh puluh mata murid murid nya yang akan kecewa kalo tidak ada kelas buat mereka belajar.

Setelah itu Xia bergegas balik ke rumah yang gelap dan tidak memberi tahu kepada seorang pun tentang kejadian tersebut. Hari berikutnya, para penduduk membeli kayu dan membetulkan kondisi kelas. Akan tetapi kala ada hujan yang deras, kelas tersebut tetap tidak bisa di gunakan. Xia mengatakan kepada murid muridnya bahwa walikota akan membangun sebuah sekolah yang bagus buat mereka.

Dalam kurang lebih 6 bulan, kepala sekolah mengunjungi walikota 10x akan tetapi tetep tidak diberikan dana yang dijanjikan kepada mereka. Hanya walikota lah yang tau apa yang telah terjadi pada Xia akan tetapi tidak bisa berbuat banyak tentang itu.

Pada saat semester baru berganti, banyak murid yang tidak bisa melanjutkan sekolah nya karena biaya dan mereka harus membantu orang tua nya untuk bekerja… Jumlah murid nya berkurang dan bekurang. Xia sangat sedih akan kondisi seperti itu. Ketika Xia mengetahui bahwa harapan murid muridnya telah hilang bagaikan asap.

Dia lalu kembali ke kamarnya. Xia membuka bajunya, dan melihat tubuh telanjangnya di depan cermin. Xia bersumpah akan memakai tubuhnya yang indah untuk mewujudkan impian dari murid muridnya untuk bisa kembali sekolah… Xia tau semua gadis dari desa bekerja sebagai pelacur di kota untuk mencari uang dan itu cara yang gampang untuk dia untuk mendapatkan uang. Dia membersihkan dirinya dan mengucapakan selamat tingal kepada kepala sekolah, ayah dan sekolah…

Dia mengikat rambut nya dengan kuncir dua dan berjalan menuju kota. Ketika dia berangkat ke kota, ayahnya tersenyum bangga akan tetapi kepala sekolah menangis sedih akan pilihan yang Xia lakukan….Di dalam glamor kehidupan kota, Xia tidak senang sama sekali dia menderita, dalam benak pikirannya, hanya ada sebuah kelas yang hancur dan keprihatian dan kesedihan dan kekecewaan expressi dari murid muridnya…. Xia masuk ke buat salon,
berbaring di ranjang yang kotor dan menderita kerja kotor yang kedua di dunia percabulan… Malam itu di dalam diary nya Xia menulis “Sang walikota tidak bisa di bandingakan dengan tamu pertama nya lebih parah dan lebih kejam akan tetapi paling tidak tamu nya telah membayar dan memberi uang”

Xia mengirimkan semua uang penghasilannya kepada kepala sekolah dengan mengirit irit biaya untuk hidup nya dengan harapan bisa mengirim lebih banyak lagi ke kepala sekolah. Sang kepala sekolah menerima uang tersebut dan mengikuti untuk menggunakan uang utk membangun sekolah… Ketika setiap orang yang menanyakan sumber uang tersebut, sang kepala sekolah hanya menjawab bahwa di dapat dari donasi dari organisasi social. Akan tetapi seiring waktu, penduduk mengetahui bahwa sumber dana dari seorang mantan guru yang bernama Xia.

Banyak reporters yang ingin meliputi berita ini akan tetapi di tolak oleh Xia dengan alasan bahwa dia hanya seorang pelacur biasa.Dengan uang tersebut, sekolah telah berubah drastis…Bulan pertama, ada papan tulis baru…Bulan ke dua, ada bangku kayu dan bangku…Bulan ke tiga, setiap murid mempunyai buku masing masing. Bulan ke empat, setiap murid mempunya dasi masing masing. Bulan ke lima, tidak ada seorang murid pun yang datang ke sekolah tanpa alas kaki.

Bulan ke enam, Xia kembali mengunjungi sekolah Xia disambut dengan gembira dan para murid menyapa”Guru, kamu telah kembali guru, kamu cantik sekali”Melihat kegembiraan dari para murid muridnya, Xia tidak berkuasa untuk menangis,Tidak peduli berapa banyak air mata yang di teteskan nya dan berapa banyak derita, keluh kesan dan kisah sedih yang dia lalui dalam 6 bulan, Xia merasakan semua kisah sedih dan penderitannya itu sangat seimbang dan pantas untuk harga yang dia bayar untuk melihat apa yang Xia lihat saat itu.

Setelah beberapa hari di rumah, Xia kembali ke kota. Pada bulan ke tujuh, sekolah telah mempunyai lapangan bermain yang baru. Pada bulan ke delapan, sekolah membangun lapangan basket…pada bulan ke sembilan, setiap murid mempunya pensil yang baru. Pada bulan ke 10, sekolah mempunya bendera nasional sendiri, setiap murid bisa menaikan bendera setiap hari nya.

Hingga suatu waktu Xia dikenalkan kepada seorang businessman. Sang pengusaha luar asing bersedia membayar 3000 rmb buat satu malam. Dengan pikiran yang lelah yang telah dia lalui bbrp tahun lalu, Xia dengan lelah menuju hotel sang pengusaha asing. Dia bersumpah bahwa itu adalah pekerjaan kotor yang terakhir bagi dia dan setelah itu dia akan kembali ke desa dan bersama sama murid muridnya di sekolah.

Akan tetapi nasib berkata lain sungguh tragis telah terjadi malam itu dimana Xia bersumpah untuk terakhir kali nya, Xia di diperkosa dan di siksa hingga terbunuh oleh 3 pengusaha asing tersebut. Xia baru saja bertambah umur nya menjadi umur 21 tahun. Xia saat itu juga meninggal tanpa mencapai keinginan yang terakhir, yaitu untuk membangun satu kelas bagus dengan 2 komputer yang bisa digunakan oleh murid murid.

Seorang pelacur telah meninggal dunia… keheningan yang di penuhi air mata. Saat itu langit kota ShenZen masih berwarna biru seperti lautan. Para murid2, guru2 dan beberapa ratus penduduk menghadiri acara pemakaman Xia di desa kecil bernama “GanShu” Pada saat itu, semua hanya bisa melihat foto hitam putih dari Xia dalam foto itu Xia mengikat rambut nya 2 dengan senyuman bahagia… Kepala sekolah membuka diary Xia dan membacakanya di depan para murid murid nya dan Xia menulis “Sekali melacur, bisa membantu satu anak yang tidak bisa sekolah. Sekali menjadi wanita simpanan, bisa membangun sebuah sekolah yang telah hilang harapan. Bendera setengah tiangpun dikibarkan.

Selasa, 02 April 2013

WANNA BE A TRUE WORSHIPER ? Learn from these dogs !

WANNA BE A TRUE WORSHIPER ? Learn from these dogs !

Learn from dog? Yang bener aja..... apa salah ketik kata?
No friends..... ini nggak salah. Learn from dog.
Kenapa saya berani bilang begitu?
Bukan untuk merendahkan derajat manusia loh, ... tapi karena makna yang dikandung oleh kata 'worship' itu sendiri.

Di Perjanjian Baru Terjemahan Inggris King James Version ada 44 kali kata worship disebutkan.
Bila merujuk kepada bahasa aslinya yaitu bahasa Yunani (Greek), maka dari 44 kata worship ini, 34 kali diantaranya (77%) menggunakan kata Yunani  PROSKUNEO (berdasarkan STRONG's Bible Concordance).
Sisanya, 10 kata worship lainnya, terbagi menjadi kata 6 kata Yunani seperti Sebomai (3x), Enopion (1x), Doxa (1x), Latreuo (3x), Eusebeo (1x), dan Ethelothreskeia (1x).

Melihat statistik ini, saya menyimpulkan kata PROSKUNEO untuk menerjemahkan 'WORSHIP' tentulah sangat penting sekali.
(Dan apalagi saat Tuhan Yesus mengajarkan kepada perempuan Samaria tentang bagaimana  'worship' dengan benar, dalam Yohanes 4:20-24, juga menggunakan kata 'Proskuneo')

Apa sih arti Proskuneo?

LIKE A DOG LICKING HIS MASTER'S HAND

Proskuneo berasal dari kata  pros (nearness at), dan kuon (a dog), dan bila digabungkan menjadi :  'like a dog licking his master's hand'.
Seperti seekor anjing yang menjilati tangan tuannya.
Seperti itulah kata worship diterjemahkan dalam bahasa aslinya.

Kenapa yah Tuhan mau penerjemahannya seperti itu?

Fakta membuktikan tidak ada anjing yang tidak suka menjilat majikannya.
Hal pertama yang dilakukannya ketika bertemu dengan tuannya, adalah menjilat, sampai pemiliknya kewalahan. Sampai-sampai ada training bagaimana supaya mengurangi kebiasaan anjing yang suka menjilat. Kenapa yah anjing suka menjilat?

Dalam sebuah artikel tentang "Why Do Dogs Follow and Lick You?" dijelaskan bahwa:
'Licking is a sign of affection, submission, a way to get acquainted with the environment and as a way to communicate with its master'.

Ternyata menjilat itu adalah cara anjing mengekpresikan perasaannya dan cara berkomunikasi dengan tuannya.
Anjing adalah hewan yang sangat sensitif dan dapat merasakan perasaan yang dialami tuannya.
Nggak heran anjing selalu ingin berbagi rasa dengan tuannya. Ketika tuannya bahagia, ia juga ingin berbagi bahagia, ketika tuannya sedang sedih atau menghadapi masalah, ia dapat merasakannya dan ingin menghibur tuannya.
Yaah, ... satu-satunya hewan yang bisa mengasihi, yang bisa setia, dan bisa berbagi rasa dan berkomunikasi dengan tuannya hanyalah anjing.

Hubungan hamba dengan tuannya dapat dideskripsikan dengan begitu luar biasa oleh seekor anjing.
Dan yang lebih luar biasa lagi, hubungan hamba dan tuan ini tidak hanya sekedar ketaatan dan submission, bukan hanya sekedar kewajiban, tapi lebih dari itu, yaitu  hubungan kasih, perasaan, dan kesetiaan.
Nggak percaya?
Baca saja the true stories berikut ini.
It's all about dogs.                      I WANT TO BE NEAR YOU"

Bobby adalah seekor anjing milik seorang polisi bernama John Gray di Edinburgh pada abad ke 18.
Selama 2 tahun Bobby hidup tidak terpisahkan dari tuannya. Tetapi pada tahun 1858 John Gray meninggal karena penyakit tbc dan dikuburkan di pekuburan di kota tsb.
Sementara Bobby sang anjing, mati 14 tahun kemudian yaitu tahun 1872.
Lantas apa istimewanya Bobby?

Selama 14 tahun sisa hidupnya setelah ditinggal mati oleh tuannya, Bobby menghabiskan 14 tahun hidupnya itu dengan duduk di makam tuannya.
14 tahun menjagai makam tuannya!!!
Bobby hanya beranjak dari kubur itu ketika akan mencari makan di restoran sekitar kubur itu atau ketika musim dingin harus mencari tempat berlindung dari salju.

Waktu bersama yang sangat singkat, hanya 2 tahun,  memberi kekuatan kepada Bobby untuk setia dekat dengan tuannya selama 14 tahun kemudian (walaupun hanya di atas kuburan tuannya).
He spent the rest of his life just to be near with his master.

Masyarakat menghargai kesetiaan Bobby.
Patung Bobby didirikan untuk mengenang kesetiaan dan kasihnya kepada tuannya yang tak lekang dimakan waktu. Sampai maut memisahkan.
Dan di atas kuburan Bobby (berlokasi dekat makam tuannya) didirikan sebuah batu granit yang bertuliskan:

GREYFRIARS BOBBY
DIED 14TH JANUARY 1872
AGED 16 YEARS
LET HIS LOYALTY AND DEVOTION BE A LESSON TO US ALL

Di sana sini banyak berita tentang kasih manusia yang mudah renggang,
tapi Bobby menunjukkan kerinduan dekat dengan tuannya yang tidak pernah sirna, sampai maut memisahkan, yang mengharukan banyak orang hingga kini.

ALL BECAUSE OF LOVE, NO MATTER WHAT THE COST

Another Bobby, seekor anjing Scotch Collie milik Frank and Elizabeth Brazier, ikut berlibur bersama majikannya dalam suatu liburan musim panas tahun 1923. Malang dalam perjalanan tersebut Bobby terpisah dari tuannya.
Pencarian seksama dilakukan tapi hasilnya nihil. Dengan sangat sedih keluarga Brazier kembali ke rumah mereka tanpa Bobby, dan tidak ada harapan akan dapat bertemu lagi.

6 bulan kemudian .... ada seekor anjing yang berdiri dalam keadaan yang sangat menyedihkan di depan pintu rumah keluarga ini. Dia adalah Bobby !!!
Bau, kudisan, kurus kering dan tampak kondisi kaki yang sangat menyedihkan karena banyak berjalan.
Bila diukur jarak dari tempat Bobby hilang hingga ke rumah keluarga Brazier, maka Bobby menempuh jarak 2,800 miles atau 4,506 kilometer untuk bisa bertemu kembali dengan keluarga tuannya.
Susah membayangkan seberapa jauh jarak 4,506 km?
Kira-kira pulang pergi Jakarta-Bandung lewat tol Cipularang sebanyak
39 kali !!!    Jalan kaki !!!

Ada pepatah untuk orang yang sedang jatuh cinta "Gunung pun akan kudaki, laut pun kuseberangi" ... tapi baru hujan sedikit udah membatalkan janji.
Tidak demikian dengan Bobby.  Dia bayar harganya, seberapapun itu, semata hanya supaya bisa bertemu lagi dengan tuannya.
Jarak sejauh itu, dan dalam waktu yang tidak singkat, .....6 bulan !!!, dengan kondisi tubuh yang semakin lemah, tidak bisa menyurutkan hasratnya untuk bisa bertemu kembali dengan tuannya.
Lewat gurun, sungai, bahkan dihadang musim dingin, Bobby berjalan terus tanpa pernah tahu kompas untuk menunjukkan jalan.

Banyak orang tidak mengerti bagaimana Bobby bisa menemukan jalan kembali dalam jarak yang sangat jauh tersebut.
Tapi semua orang setuju bahwa kompas atau penunjuk jalan Bobby adalah kasihnya kepada majikannya.
His true compass is his true love.
Sebagaimana Bobby dari Edinburgh, Bobby dari Oregon ini juga menuai perhatian dan penghargaan masyarakat.
REFUSED TO FORGET

Rasanya saat ini hampir semua mengenal dan mengetahui kisah Hachiko, seekor anjing dari Jepang yang kisah hidupnya sampai-sampai difilmkan oleh Hollywood. Masih ingat kan Hachiko the movie, dengan bintangnya Richard Gere? Film yang sangat menguras air mata.
Saya juga sudah memuat kisah Hachi jauh sebelum film tersebut dibuat, karena sangat diberkati dengan kisah kesetiaannya. (Bisa dibaca di kolom "ALL ABOUT HACHIKO: Temukanku MenantikanMu #1 dan #2")

16 bulan dilalui Hachi dengan setia mengantar dan menjemput majikannya Profesor Ueno ke stasiun kereta Shibuya sampai suatu ketika di tahun 1925 sang Profesor terkena serangan stroke fatal seusai mengikuti rapat di kampus dan meninggal seketika. Jenazahnya dibawa ke kampung halamannya dan dikebumikan di sana.
Hachi yang tidak pernah tahu bahwa majikan yang dikasihinya sudah tidak ada lagi di muka bumi ini, tetap menanti dengan setia, setiap pagi dan sore di stasiun kereta tersebut seperti yang biasa dilakukannya.

Tidak sedikit perlakuan kasar yang dialami anjing yang sudah tidak bertuan ini di stasiun tsb, tapi Hachi tetap menanti. Setelah 7 tahun menanti, kisah Hachi si anjing yang setia ini mulai diberitakan di surat kabar. Hachi menjadi terkenal, dan orang-orang mulai memberi perhatian dan menyayanginya.

Kehidupan yang berubah 180 derajat, tidak lagi diperlakukan kasar, tidak membuat Hachi melupakan tuannya. Hachi tetap setia menanti pagi dan sore hari, sampai maut memisahkan.
8 Maret 1935 Hachi mati dalam penantian.
Kehidupan bersama majikannya yang begitu singkat, hanya 16 bulan, mampu membuat Hachi menanti selama 10 tahun. He refused to forget.
Anjing yang sangat setia ini dianggap pantas untuk menyandang penghargaan "The World's Most Loyal Dog".

GOD IS SEEKING PROSKUNETES

But the hour is coming, and now is, when the true worshipers (proskunetes) will worship (proskuneo) the Father in spirit and truth; for the Father is seeking such to worship (proskuneo) Him.
(John 4:23, NKJV)

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
(Yohanes 4:23)

Father is seeking the true worshipers (Proskunetes) to worship Him.
Proskunetes adalah orang yang proskuneo.
Rasanya saya nggak perlu menjelaskan lebih detail tentang hal ini.
Teman-teman sudah baca beberapa true story tentang cinta dan kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.
Saya percaya kisah itu berbicara.

WANNA BE A TRUE WORSHIPER?
Do Proskuneo. Be a Proskunetes.

All blessing,

credit:
Julita Manik
  Http://julitamanik.blogspot.com

Senin, 01 April 2013

Kenaikan Tarif JNE April 2013

Kenaikan Tarif JNE April 2013: Perihal kenaikan tarif JNE per April 2013 ini baru  dapat tadi sore di cabang JNE tempat ane kirim kirim pesanan. Semua pemilik toko online atau yang biasa berurusan dengan JNE mungkin sudah tau mengenai informasi ini. Dalam surat edaran/pemberitahuan tersebut tertulis :
- Kenaikan tarif Reguler dan YES rata rata adalah sekitar 15% - 20%
- Tarif SS (Super Speed) adalah 30% - 40%
Kenaikan tarif ini efektif berlaku per tanggal 1 April 2013 untuk daerah Jabodetabekkar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Karawang. Sedangkan untuk daerah di luar itu akan efektif berlaku per tanggal 1 Mei 2013.
Posting tentang kenaikan tarif JNE ini sekaligus sebagai pemberitahuan untuk seluruh pelanggan blog ini Blog Jual Jam Tangan agar dapat memakluminya. Terakhir tarif JNE naik bulan April 2011, jadi menurut ane pribadi wajar rasanya jika saat ini tarif nya naik.
Dalam pemberitahuan tersebut tidak ada keterangan tentang tarif OKE (ekonomis), mungkin paket ini harga nya tidak ikut naik. Pemilik toko online pastinya mulai sekarang sudah mulai berburu tarif terbaru JNE nih :)

Fun Komik – Aplikasi pembaca Komik di BB

Fun Komik – Aplikasi pembaca Komik di BB


image
Fun Komik untuk bb
Fun Komik adalah aplikasi pembaca komik,anda bisa menemukan komik jepang,korea dan indonesia serta berbagai macam kategori seperti :

olahraga,petualangan,romantis,lucu dan masih banyak lagi.
Aplikasi Fun komik mudah digunakan,syarat untuk menjalankan fun komik adalah :
- BIS/BES ~ Memakai BBM 5++ (keatas)
- Memakai jaringan internet / Wifi
- OS 5.0++ (keatas)
kalau tertarik anda dapat,mendownload aplikasi Fun Komik,Disini
atau kunjungi Facebooknya di https://id-id.facebook.com/funkomik
sekian review aplikasi bb dari saya,Selamat Mencoba :-D

What I hate from Blackberry user

Three Things that I hate from Blackberry user
1. The user keeps smiling on Blackberry while ignoring person beside him/her
2. Too much useless broadcasted from user (product ads especially)
3. Too much hoax spreading from messenger

Minggu, 31 Maret 2013

SING OUT LOUD, LOVE 5

SING OUT LOUD, LOVE 5

by Patricia Jesica (Notes) on Thursday, September 22, 2011 at 7:31am

CHAPTER5
Cast:
Liana Wijaya as Kim Lee Ah
Kim Hyun Joong
Author as Kim Jae shi (Lee Ah’s younger sister)
Park Dae-jia (Admin Park)
Park Yoo-chun
Kim Jae-joong

―Lee Ah, Januari, 2011, Studio Foto Pak Kim―
“Baiklah, jadi kau sama sekali tidak ada pengalaman menjadi penyanyi sebelumnya?” pria itu melihatku mengangguk lalu kembali mencoret kertas di depannya.

“Apakah karena aku tidak ada pengalaman… penilaianku jadi rendah?” tanyaku, diam-diam merasa cemas. Aku tidak ingin ditolak hanya karena kurang pengalaman.

“Tidak, bukan begitu. Kau masih akan dites menyanyi jadi hasilnya belum pasti…” senyum pria itu. “Lagipula Mamamu dulu penyanyi terkenal yang kukagumi, kurasa kau akan mewarisi sebagian bakatnya…”

Sebagian bakat Ibuku… Aku tidak yakin hal itu bisa membuatku menang. Untuk menang, aku harus bisa lebih baik dari itu, bukan?

“Baiklah, data-datamu cukup sekian. Jadi, kau jangan lupa datang ya ke gedung ini nanti…” Pria itu memberikan sebuah kartu peserta bertuliskan nomor 165 ke tanganku. “Studio 2… Nanti kau akan diaudisi di sana…”

“Ya, terima kasih, Pak…” senyumku sambil memberikan salam

“Sudah dicatat kan, tanggalnya? Ingat. Sabtu nanti jam sepuluh pagi sampai selesai. Karena nomor urutmu ratusan, mungkin kau akan diuji sekitar tengah hari…”

“Baik! Terima kasih, Pak…” senyumku.

“Semoga beruntung,” ujar pria itu sebelum berlalu pergi.

―Lee Ah, Januari, 2011, Apartment―

“Wow, aku tidak percaya ini!” seru Jae-shi dengan eskpresi campur aduk. “Aku ikut senang walaupun sebenarnya aku kaget sekali!” serunya lagi.

“Doakan saja aku…” bisikku sambil menyembunyikan senyumku.

“Percaya diri saja, Kak…” Jae-shi menepuk tanganku pelan. “Kita berdua dulu pernah belajar musik sedikit dari Mama. Sampai sekarang juga kita masih sering main gitar dan piano. Suaramu bagus, aku yakin kau bisa!”

“Ahh… sekarang kau malah membuatku grogi…” tukasku. “Suaramu juga bagus. Kau kan yang sering menemaniku menyanyi dan karaoke.,..”

“Ah, tidak juga,” elak Jae-shi. Dari caranya bicara, aku tahu ini ada hubungannya dengan kisah yang belum diceritakannya padaku di pesta hari itu. Tentang rekrutmen penyanyi itu…

“Tidak ada yang mau kau ceritakan padaku?” tanyaku, memandangnya dengan mata dipicingkan.

Jae-shi bergerak mundur sedikit. “Kak, jangan memaksaku… aku kan sulit menolak…” Ia menghela nafas. “Dae-jia juga memaksaku tadi… Rasanya capek sekali…”

“Oh?” Kunaikkan alisku sedikit. “Jadi pada Dae-jia kau menceritakannya dan padaku tidak? Kau merahasiakannya dariku?”

“Aahhh…” Jae-shi mengerang putus asa. “Baiklah. Baiklah, aku kalah. Aku cerita! Biar kuceritakan padamu juga!!” serunya.

“Jangan-jangan nantinya semua orang mau dengar ceritaku…” gumamnya kesal. Aku hanya bisa menahan senyum mendengarnya.

―Jae Shi, Januari 2011, Apartment―
Kakakku menatapku dengan pandangan mata tidak percaya selama beberapa menit. “Wow,” akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutnya.

“Kan?” Kutundukkan kepalaku malu. “Sudah kubilang ini sangat memalukan…”

“Tidak, tidak…” Kak Lee-ah menggelengkan kepala tidak setuju.”Menurutku keren…”

“Tidak, tidak. Menurutku itu memalukan. Aku tahu kau dan Dae-jia bermaksud menghiburku supaya aku tidak malu, tapi… ini memalukan!!”

“Jae-shi?”

“Tidak, kak. Tetap saja ini memalukan. Terserah kau mau bilang apa…”

“Jae-shi?”

“Kak!”

“Ponselmu!” Kak Lee-ah menunjuk ke arah kamarku. “Kudengar ponselmu bunyi!” ulangnya.

“Ah, astaga, maaf, kukira masih masalah yang tadi?” Duh, kenapa akhir-akhir ini aku sangat memalukan??

Tentu saja Kak Lee-ah sangat sensitif dengan lagu itu. Kami sepakat memasang lagu Snow Prince sebagai ringtone. Buru-buru aku bangkit untuk mengambil ponselku. Astaga, karena terlalu sibuk dengan pemikiranku sendiri, aku sampai tidak mendengar dua miss-call yang pertama. Tapi… aku tidak mengenal nomor ini. Siapa yang meneleponku ini?

“Ya? Halo?” Kuputuskan untuk meminta maaf terlebih dulu. “Maaf, aku tidak mendengarnya barusan. Maaf, Anda ini siapa?”

“Hai, ini aku!” sapa suara di seberang. “Kurasa kau belum melupakanku, bukan?”

“Hah?” Rasanya memang pernah dengar, sih… “Maaf, sekarang aku sedang tidak terpikir siapa ini…”

“Ini aku!” ulang pria itu bersemangat. “Micky Yoo-chun…”

Ponselku hampir terlepas saking kagetnya. “Ti-tidak mungkin…” Tiap kali mendengar nama pria itu, yang terbayang cuma kejadian memalukan malam itu. “Bagaimana kau bisa mendapat nomorku? Jangan bohong, ya!”

“Astaga,” suara tawa pria itu terdengar. “Aku tidak bohong. Aku dapat nomormu dari Nona Dae-jia. Tidak sulit menghubungi keluarganya melalui manajer kami, karena malam itu kan kami dipekerjakan olehnya…”

“Astaga….” Dae-jia! Pintar sekali kau! “Baiklah, apa yang bisa kubantu?”

“Berikan aku alamat rumahmu!”

“Maaf, Untuk apa ya?”

“Besok aku akan menjemputmu! Sudah, percaya saja padaku, berikan alamatmu!”

“Maaf, tapi…” Tidak, tidak, lebih baik kuberikan. Dia bisa memperolehnya dari Dae-jia juga! Dan hal itu akan semakin parah. Bisa saja informasi yang Dae-jia berikan lebih dari yang dia minta. Kalau begitu habislah aku… “Baiklah, kuberikan!”

“Eh? Senang sekali kau bisa berubah pikiran secepat itu…” tukasnya senang. “Baiklah, aku sudah siap mencatatnya…”

Dengan kesal kuhela nafas panjang. Kalau kuberikan alamatku, aku adalah si bodoh. Tapi, bisa apa si bodoh itu dalam situasi terdesak begini? “Alamatku adalah….”


―Lee Ah, Januari, 2011, Apartemen―
“Kenapa wajahmu sekusut itu?” tanyaku begitu melihat Jae-shi keluar kamar dengan wajah tertekuk. “Siapa yang meneleponmu…”

“Yoo-chun…”

“Hah?! Jangan bilang yang meneleponmu Yoo-chun yang itu!” seruku sambil setengah memekik kaget.

“Memang Yoo-chun yang itu!” balasnya kesal. “Dae-jia seenaknya memberikan nomorku padanya. Aku bisa apa! Bisa gila!” Jae-shi menggaruk kepalanya kesal.

“Tadi kau sudah memberikan semangat padaku,” ujarku sambil tersenyum. “Nah, sekarang semuanya kukembalikan padamu… Kau juga pandai menyanyi, ingat itu…”

“Kakak…” Jae-shi memasang wajah memelas dan mulai berusaha membujukku. “Aku mohon sembunyikan aku besok… dan besoknya, dan besoknya lagi!”

“Tidak mungkin, besok dan besoknya kan aku kerja ke studio Pak Kim… Lalu besoknya lagi aku ikut audisi…”

“Habislah aku…” Jae-shi menggerutu sambil berjalan masuk ke kamarnya.


―Jae Shi, Januari 2011, Apartment―
“Apa sekarang kau ada di rumah?” Yoo-chun meneleponku pada pukul sebelas siang hari Sabtu.

“Ya, aku sedang menjaga rumah sekarang. Kakakku pergi…” jawabku seadanya.

“Kalau begitu bagus sekali. Aku sudah ada di depan apartemenmu… ayo turun!”

“Aku tidak mau!” Enak saja memerintahku sembarangan! “Aku mau tunggu kakakku pulang!” seruku. Aku harus jadi orang pertama yang tahu apakah kakakku diterima audisi itu atau tidak!

“Tidak akan lama, tenang saja. Atau kau mau aku yang naik dan membawamu pergi?”

“Apa?”

“Aku sedang naik lift sekarang…” pria itu menjelaskan sambil bersenandung kecil. “Kau tunggu saja yang tenang di kamarmu…”

Ini namanya pemaksaan! “Co-coba saja kalau berani!” tantangku. Tiba-tiba kenop pintuku berputar dan terbuka. Astaga! Aku lupa menguncinya!  Segera saja kurapatkan tubuhku ke pintu untuk mencegahnya terbuka.

“Aha, jangan takut begitu…” pria itu membuka pintu dengan mudahnya, walaupun aku ada di belakang pintu dan berusaha mendorongnya sampai tertutup. “Bahaya sekali, kau tidak mengunci pintu padahal sendirian di rumah…” komentarnya sambil geleng-geleng kepala.

“Apa? Tadinya tidak bahaya sampai kau tiba-tiba data….” Belum selesai aku bicara, cowok itu sudah menangkap pinggangku dan membuat posisiku tergantung di pundaknya. Dia membawaku seperti memanggul karung beras.

“Hentikan! Kau gila ya! Kau pikir aku barang dagangan? Seenaknya membawaku seperti ini! Turunkan!” pintaku sambil memukul-mukul punggungnya yang kini berada tepat di depan mataku.

“Wow, kenapa ringan sekali? Hm? Rasanya seperti ada yang memukul…” Ia membalik badan dan mencabut kunci yang tergantung di lubang pintu. Kemudian, setelah berjalan keluar, ia mengunci apartemen kami. “Kukembalikan, ini kuncimu!”

“Menyebalkan!” seruku. “Tunggu! Tunggu! Jangan begini! Aku bahkan tidak pakai sepatu!” protesku.

Yoo-chun berhenti sebentar untuk melihat kakiku. “Oh, ya, kau benar. Tapi, aku tidak mau ambil risiko dengan membiarkanmu lari lagi dan mengunci pintumu. Jadi, mendingan kau diam saja dan ikut aku…”

“Tidak…” Ini belum berakhir. “Aku tidak mau pergi denganmu…”

Cowok itu menggotongku masuk ke lift dan memerintahkan seseorang membuka pintu mobil. “Buka pintunya, aku sudah mendapatkannya…” Yoo-chun memaksaku duduk di kursi belakang dengan seorang pria.

“Astaga, ternyata kau memang memaksanya…” komentar pria itu tajam. Pria itu ternyata Jae-joong. Aku diapit di tengah-tengah di antara Jae-joong dan Yoo-chun. Di kursi depan, duduk Jun-su, anggota lain dari TVXQ.

“Chang-min dan Yun-ho sudah menunggu di studio. Kita tidak boleh terlambat…” Yoo-chun tersenyum penuh arti sambil mengedipkan mata padaku. “Tapi sebelumnya aku harus mengatur penampilanmu…”

Kusilangkan tanganku menutupi tubuh. “Kau mau apa! Aku bisa teriak panggil polisi!” ancamku.

Ketiga anggota TVXQ yang berada di dalam mobil tertawa terbahak-bahak melihatku. “Bawa dia ke salon langganan kita!” seru Yoo-chun pada manajernya. “Tuan Kim, presiden direktur SM Entertainment akan senang dengan gadis ini…”

“Kenapa kau yakin sekali…” senyum Jae-joong di sebelahku. Entah mengapa kurasa senyumnya terasa menusuk dan sinis.

“Kalau Yoo-chun seyakin itu, mungkin saja benar. Kita bisa lihat sendiri nanti…” sahut Jun-su dari kursi depan.

Kutundukkan kepalaku semakin dalam. Ini gawat! Ini kacau! Aku sudah terjebak! Bisa apa aku sekarang? Aargh…


-to be continued-