Minggu, 14 Februari 2010

Fanfic bideok after love11

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ELEVENTH SCENE
DEOKMAN
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sepanjang malam Deokman tidak bisa tidur. Alunan seruling di luar sana seolah menarik melodi dalam jiwanya. Ia begitu terbuai, namun di satu sisi, alunan melodi itu seolah hendak menyampaikan sesuatu padanya. Akhirnya, menjelang dini hari, barulah ia tertidur. Matanya masih mengantuk ketika ChenMyeong menyibakkan gorden kamar mereka dengan senyuman di bibirnya.

“Semalam tidurmu pulas?” tanya ChenMyeong. Deokman setengah menggeleng, setengah mengangguk. “Semalaman BiDAm-shi main suling, oh, dia keren sekali ya!” puji ChenMyeong tulus.

Deokman tersenyum samar. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar aneh tiap kali ada yang menyebut nama cowok itu. Rasanya hampir mustahil menyembunyikan perasaannya. “Unni, sebenarnya, aku…”

TOK-TOK-TOK

“Ya, sebentar…” sahut ChenMyeong. “Kau mau bicara apa tadi, Deokman?” tanyanya sambil berlari-lari kecil ke arah pintu.

“Tidak jadi, unni… Coba lihat siapa itu…” ChenMyeong mengangguk dan menarik handle pintu. Begitu pintu dibuka, Deokman dan ChenMyeong nyaris berteriak karena terkejut.

“Yushin-shi!?” seru mereka berdua bersamaan. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba ke sini?!”

“Kebetulan ada sedikit urusan di sini. Dan kupikir, kenapa tidak mampir saja sebelum pulang? Lagipula, ini hari terakhir tour kalian bukan?”

Deokman terdiam mendengar kalimat itu. Hari terakhir? Rasanya ada sentakan kuat di dadanya. Setelah hari ini, apakah aku masih bisa bertemu dengannya?
-------------------------------===================================--------------------------
“Jangan pernah coba-coba mengancamku…” ujar sebuah suara. Deokman yang tengah menyusuri lorong menuju ruangan tempat mereka akan makan merasa terkejut, dan segera bersembunyi. Ia yakin itu adalah suara Wolya-shi, manajer BiDam dan Alcheon.

“Kau jangan meremehkanku. Sebagai promotion chief, aku sudah banyak memberi kontribusi. Tidak ada salahnya kalau berita ini kupublikasikan sekarang. Kalau kulakukan, pasti skandal ini akan membuat namanya semakin terkenal!” itu suara yang paling tidak disukainya. Yeomjong.

“Kau bercanda, ya? Dua puluh sembilan tahun lalu, kau menyuruh mishil untuk meninggalkan BiDam karena hal itu bisa menghancurkan karirnya. Dan kau sukses menghancurkan keluarga itu. Bahkan aku yakin, ayahnya, Munno terbaring koma juga ada sangkut pautnya denganmu. Sekarang kau meau berusaha merusak karir BiDam? Tidak kuijinkan!”

“Terserah apa katamu. Aku akan melakukannya. Cepat lambat hal itu akan terbongkar. Dengan atau tanpa bantuanku… Hahahahaha…” Yeomjong tertawa sambil terus berjalan pergi.

Deokman menahan nafas saat mendengar semua pembicaraan tadi. Ia nyaris tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Rasanya begitu sulit dipercaya, ternyata BiDam memiliki keluarga yang berada dalam situasi serba sulit.

“Sedang apa di sini?” tanya BiDam tiba-tiba. Deokman terperanjat kaget lalu buru-buru menutup mulut cowok itu. Ia mengintip ke ruangan sebelah, tetapi rupanya Wolya sudah tidak berada di sana.

“Ah, maaf!” dengan terkejut ia menyingkirkan tangannya. Kadang kala ketika spontan melakukan sesuatu, ia suka melupakan keadaannya. “Maaf, aku tidka bermaksud…”

“Tidak apa-apa…” ujar BiDam sambil nyengir lebar. Ia ganti mengintip ke ruangan sebelah. “Lagi main petak umpet? Tidak ada siapa-siapa tuh, goalnya dimana? Kubantu deh…”

“Mana mungkin aku main petak umpet, BiDam-shi ada2 saja deh, hahaha…” ia lantas memutar otak dengan cepat. “Tadi lagi mengintip apakah makanan sudah siap belum… Aku lapar..” ujarnya setengah tersenyum.

“Sejak kapan kau jadi suak bohong?” tanya BiDam sambil setengah mencibir. “Kalau nggak mau cerita juga nggak apa…” sahutnya sambil tersenyum kecil.

“Ehem..”

“Se-selamat pagi, Yushin-shi..” sahut Deokman terkejut. Ia baru ingat, seorang tourist guide tidak boleh terlalu dekat dengan tamunya. Ia lantas menjaga sikap dan jarak. “Kenalkan, BiDam-shi, ini Yushin-shi, manajerku…”

“Hai,” ujar BiDam sambil bersalaman dengan santai. Ia tersenyum singkat dan menatap Yushin dari atas sampai bawah. “Kau tampaknya sangat profesional…” pujinya tulus.

“Terimakasih, kau juga ternyata lebih rendah hati dari yang kukira.”

Tidak jauh dari sana, ChenMyeong sedang berbincang-bincang dengan Alcheon. Mereka berjalan berdua dalam jarak dekat.

“Menurutmu, aku ini bagaimana Alcheon-shi?” tanya ChenMyeong sambil melirik pria di sampingnya.

“Hmmm…” Alcheon menaikkan alisnya sedikit. “Kau cantik, baik…” ia mengutip kalimat BiDam.

“Itu saja?” pancing ChenMyeong dengan tidak sabar. “Apa aku tidak punya kelebihan lain ya?” keluhnya sambil menarik nafas.

“Memangnya kenapa sih?” balas Alcheon, ganti memancing ChenMyeong. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini, namun sebisa mungkin, ia sebenarnya ingin menghindar..

“Aku rasa… sepertinya aku tidak cukup pantas untuk menyukai orang yang kusukai sekarang. dia bahkan nggak melirikku…” keluhnya.

Alcheon menatap gadis disampingnya, lalu menarik nafas. Kau juga tidak melirikku, pikirnya. “Kau gadis yang baik dan menyenangkan, menurutku… Dan mungkin nanti akan ada pria yang bisa menjagamu.”

“Kayaknya masih lama deh…” gumamnya sambil memutar bola matanya. “Alcheon-shi semalam mimpi apa?” tanya ChenMyeong dengan antusias.

“Aku akan cerita asal kau janji tidak tertawa,” ujar Alcheon, menunggu ChenMyeong mengangguk, baru meneruskan ceritanya. “Aku emmimpikan sebuah kerajaan. Rasanya ada seorang putri yang sejak kecilnya selalu kulindungi. Dan entah kenapa, aku ingin bisa melindungi orang yang kucintai seperti itu…” ujar Alcheon dengan pandangan menerawang. “Bagaimana dengan mimpimu?”

Karena ChenMyeong diam saja, Alcheon pun menatapnya, dan ia terkejut melihat ChenMyeong menatapnya dengan mata terbelalak. “Tidak mungkin,” desis ChenMyeong, antara sadar dan tidak sadar. “Itu kan.. mimpiku! Itu mimpiku!” serunya bingung.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
to be continued
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar: