Rabu, 24 Februari 2010

FanFic Bideok After Love 25

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TWENTY FIFTH SCENE
OUR BLINDFOLD
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bidam memandang Deokman dengan kerongkongan tercekat. Ia menghapus airmata gadis itu dengan punggung tangannya perlahan. ”Deokman...” panggilnya pelan, dan kini, dengan perasaan tidak yakin, ia juga merasakan sensasi berbeda saat ia menyebut nama itu.

”Aku rasa... Aku juga sering mendengar namamu.... Entah dimana... entah kapan....” ia menatap kedalaman di dalam mata gadis itu. ”Apakah aku boleh menghapus janjiku?” tanyanya getir.

Deokman memandangnya bingung, ”Janji apa?” tanyanya.

”Janji untuk... menciummu...?” tanyanya malu. Dan ia tertawa sambil memalingkan wajahnya. ”Masih banyak waktu,” ujarnya gugup. ”Yah, aku harus menyimpannya, sampai saatnya nanti...”

”Ooh...” jawab Deokman dengan perasaan tidak jelas. Ia mengangguk malu, dengan pipi memerah ia melirik Bidam, lalu memanggilnya. Saat pria itu menoleh, dengan satu gerakan cepat ia mencium pipinya. ”Apa aku pernah bilang kalau aku sangat menyayangimu?” tanyanya sambil menyenderkan kepalanya.

”Tidak pernah langsung sih,” jawab Bidam seadanya. Wajahnya ikut memerah sesaat. ”Tapi, aku rasa aku tahu itu...” jawabnya sambil ikut bersender ke kepala gadis itu.

”Hm...hm...” angguk Deokman sambil menutup matanya. Ia tidak mampu menahan senyuman di bibirnya. Saat ini, kebahagiaan mereka terasa begitu nyata. Dan anehnya, ia merasa kebahagiaannya begitu aneh, seolah ada orang lain yang juga bahagia atas kebahagiaannya, akan tetapi Deokman tidak tahu siapa orang itu. Ia hanya tahu, saat ini, bersama Bidam di sampingnya, itu lebih dari cukup.
------------------------------==========================--------------------------------------------
Beberapa saat setelah bis mereka tiba di tujuan, mereka berjalan berkeliling dareah pertokoan di sana sebelum menuju tempat kamp terakhir kali Ratu mengatasi pemberontakan sebelum meninggalnya.

”Kalau mau membeli suvenir, kurasa sebaiknya kita membelinya di dekat daerah istana... Disana lebih banyak suvenir yang lucu...” ujar Deokman sambil menarik-narik lengan baju Bidam.

”Tidak apa-apa kan kalau kita membeli beberapa dulu. Lihat, bukankah kalung giok ini lucu untuk dikenakan berpasangan?” tanyanya sambil mengangkat sebuah kalung. Entah kenapa Bidam merasakan dorongan begitu besar untuk membeli barang tersebut.

Penjual di depan mereka tersenyum ramah. ”Kalung apa yang hendak anda beli?” tanyanya sambil menatap mereka berdua. ”Semua kalung di sini merupakan kalung yang dibuat berdasarkan legenda dimana kisah cinta Ratu Shilla tidak terbalas, jadi dengan doa Ratu Shilla, kisah cinta kalian akan abadi selamanya...”

”Ooh,” Deokman menggumam mengiyakan. Lalu matanya tertumbuk ke kalung yang diangkat Bidam. ”Yang di tangannya itu harganya berapa?” ia melihat kalau kalung itu memiliki corak yang berbeda sendiri dari kalung lain di sana.

Si penjual tersenyum saat melihat kalung yang diulurkan Bidam. Namun senyumannya memudar digantikan sebuah kerutan di dahi. ”Aku tidak merasa menjual kalung corak ini...” gumamnya bingung. Deokman dan Bidam berpandangan dengan heran. ”Karena kalian menemukannya, aku akan memberikannya gratis kepada kalian. Semoga doa Ratu shilla merestui jalan kalian...” ujarnya sambil tersenyum heran. Kejadian seaneh ini baru pertama kali ia lalui.

”Kau akan langsung memakainya?” tanya Deokman saat diliriknya kalung itu sudah bertengger manis di leher Bidam.

”Ya, tentu saja!” jawab pria itu polos. “Ayo, kita segera ke makam Ratu! Dan kali ini, kalau mau pingsan, kau harus memegangku kuat-kuat,” ujarnya sambil tersenyum manis, segera setelah Deokman mengangguk, mereka mengambil rute menuju kawasan tersebut.
Sayangnya, pasangan itu tidak menyadari sedari tadi ada dua sosok pria yang mengintai mereka. Sebuah sirine bahaya berkumandang perlahan...
---------------------------============================-------------------------------------------
Bidam memandang Deokman dengan cemas. Wajah gadis itu kembali pucat seperti waktu kunjungan mereka yang pertama kalinya. Tapi Deokman tetap bungkam, dan meneruskan perjalanan seperti biasa. Tampak beberapa orang lalu lalang di sekitar mereka. Rupanya kali ini yang mengunjungi makam itu bukan hanya mereka berdua.

”Sebentar lagi kita sampai,” Bidam menunjuk gapura besar yang menandakan pintu masuk menuju pemakaman Ratu. Deokman mengangguk, berusaha tersenyum. Sedari tadi dadanya terasa begitu sakit. Entah kenapa debaran jantungnya begitu keras sehingga ia merasa jantungnya bisa lepas kapan saja.

mereka melangkah memasuki makam dan bersamaan dengan itu, Deokman merasakan hantaman kuat di dadanya. Ia nyaris jatuh kalau Bidam tidak memegang pundaknya. ”Kau ingin istirahat?” tanya Bidam gugup. ”Mau kupapah?”

”Tidak, orang-orang melihat kita,” jawab Deokman tenang. Ia tersenyum dan Bidam menatapnya dengan perasaan galau. Saat itu Deokman tampak asing sekaligus familiar di matanya. Ada karisma aneh dari diri gadis itu, entah apa.

”Baiklah,” ujar Bidam, lalu setelah matanya menangkap makam itu, ia kembali merasakan sakit di dadanya. Perasaan nyeri sekaligus pedih yang begitu menghimpit. ”Deokman... ” gumamnya. Gadis di sampingnya menoleh, namun menyadari kalau yang dipanggilnya bukan dia. Bidam memandang lurus ke atah makam yang megah itu.

”Bidam?” tanya Deokman heran. ”Kau tidak apa-apa?” tanyanya saat melihat pria itu berjalan dengan linglung ke arah makam. Ia memandang makam itu dan lagi-lagi merasakan jantungnya berderak menyakitkan. Nafasnya semakin berat saat ia menghampiri makam itu. Pria itu bahkan tidak memedulikan orang-orang yang berkerumun di dekat mereka.

”Di sini...” Deokman menyentuh permukaan makam yang terasa dingin. Dan tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh dadanya yang sakit. ”Di sini aku terbaring tanpa mengatakan apapun padamu...” suaranya terdengar begitu lirih dan syahdu. Air matanya turun saat ia mengelus makam di depannya dengan perasaan hancur. ”Dan makammu... tidak ada di sampingku...” tangisnya pecah seketika.

Bidam menatap ke samping sambil setengah mengangguk, lalu meraih tangan gadis itu. Wajahnya dipenuhi kepedihan. Dan sesaat, ia merasakan semua luka di tubuhnya, merasakan luka di hatinya. Airmatanya turun perlahan di wajahnya yang tampan. ”Seandainya aku menjadi dirimu... aku akan melakukan hal yang sama...”

”Maafkan aku...” ujar Deokman sambil menangis sesunggukan. Semakin ingin menghentikan air matanya, tangisnya semakin menjadi-jadi. Bahunya berguncang-guncang pelan saat ia bicara. ”Terimakasih karena kau menyebut namaku...”

ucapannya terputus kala sebuah teriakan keras memecah perhatian mereka. ”BIDAAAMM!! KALI INI KAU TIDAK AKAN PERNAH MENANG LAGI DARIKU!!!!” Yeomjong tertawa licik sambil menarik pistol pelatuknya. Dan bersamaan dengan itu, sebuah peluru melesat di udara.

Deokman berteriak histeris meliha pria di sampingnya rubuh. ”Bidaaaam!!!!” jeritnya. Berbagai ingatan berkecamuk di kepalanya. Dan dengan panik ia berteriak ke sekelilingnya. ”Siapapun! Tolong panggilkan ambulans!!” ia meletakkan pria itu di pangkuannya, dan dengan marah memandang Yeomjong yang secepat kilat melarikan diri.

”Aku mengingat..mu...” ujar Bidam dengan suara terputus-putus. Senyumannya terlihat rapuh dan seakan hampir menghilang. ”Aku... ingat...semuanya...” ujarnya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan ke arah makam yang terletak tidak jauh darinya.

”Nona, saya sudha menelepon ambulans!” ujar seorang pria di dekat mereka. Deokman mengangguk dan berterimakasih dengan gugup.

”Lihat, mereka sudah meneleponnya... kau harus kuat. Kau dengar aku kan? Bidam? Bidam?! Bidam!!” ia mulai emnjerit histeris ketika dilihatnya pandangan pria itu mulai kabur.

”Tidak mau...” ujar Deokman hampir putus asa. Tangan Bidam begitu dingin, dan ia tidak siap menghadapi kenyataan di depannya. ”Sama seperti dulu? Kau akan meninggalkanku? Aku tidak mau!!!” ia merasakan tangannya gemetar saat Bidam menutup matanya perlahan. ”Bidaaam!!!!!”

sirine ambulans terdengar dari kejauhan. Deokman merasakan dunianya runtuh saat mata Bidam tertutup. Ia bisa merasakan pemandangan sekitarnya berputar dan menggelap.
---------------------------------==========to be continued============---------------------------

Tidak ada komentar: