Rabu, 24 Februari 2010

FanFic Bideok After Love 26

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TWENTY SIXTH SCENE
SWORD OF HAPPINESS
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bidam merasakan kegelapan memenuhi sekeliling tubuhnya. Dan ia tidak merasakan apapun kecuali rasa panas membakar di tengah dadanya. Samar-samar, nafasnya terasa semakin berat dan ia terus melangkah dengan bingung, bahkan ia tidak bisa melihat tempat dimana ia berpijak.

Dari jauh, sebuah cahaya seolah memanggilnya. Ketika ia bergerak perlahan menuju cahaya itu, sebuah tangan menariknya mundur. Dengan terkejut, Bidam menatap mata pria yang menarik tubuhnya mundur sampai terjengkang. Mata pria itu begitu hangat.

Dan ia nyaris bisa melihat begitu banyak kemiripan pria itu dengan dirinya. Bidam hendak membuka mulut, menanyakan identitas pria itu, namun hanya satu kata yang keluar dari bibir pria itu. ”Pulanglah,” ujarnya sambil mendorong Bidam mundur.

”Bukan ke sana,” ujarnya sambil lagi-lagi menahan langkah Bidam. ”Ke sana...” jemarinya menunjuk arah yang berkebalikan. Dan Bidam tidak bisa menolak. Ia menurut, dan berjalan. Anehnya, semakin berjalan, rasa nyerinya semakin menjadi-jadi. Begitu ia menoleh ke belakang lagi, pria itu telah menghilang.

Ketika Bidam memandang ke kiri dan kanan, mencari sosok pria itu, di sampingnya, ia melihat sosok yang dirindukannya duduk sendirian, merenung dalam kegelapan. ”Munno Appa!!” panggilnya, namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokkannya.
------------------------------------==============================-------------------------------
”Bagaimana keadaannya?” tanya Mishil dengan air mata yang membekas di pipinya. Sekalipun cemas, ia terlihat tenang dan mampu mengontrol emosinya.

”Dokter sedang memeriksanya...” jawab Wolya sambil melirik ke arah ruang UGD. Di sampingnya, Deokman duduk sambil menekuk lutut. Gadis itu tampak kusut, namun matanya tertutup, mendoakan keselamatan pria yang dikasihinya.

”Kau datang ke sini sejak tadi?” tanya Mishil bingung.

Wolya menggeleng. ”Aku tiba dengan penerbangan pertama. Deokman-shi meneleponku dan Alcheon. Kemungkinan besar mereka tiba sebentar lagi...” jawab Wolya sambil melirik arlojinya.

”Apakah ia...” Mishil menghentikan pertanyaannya. ”Dia akan hidup, bukan?”

”Semua tergantung keajaiban...” jawab Wolya.

”Dia akan hidup,” tegas Deokman. ”Ia tidak akan meninggalkanku lagi seperti dulu...” jawabnya tenang. Dan dengan heran, ia mencari kalung di dadanya. Aneh, kemana kalung itu pergi?

”Siapa yang begitu kejam seperti ini!!” geramnya. Namun ia mengatupkan bibirnya marah. ”Yeomjong?” tanyanya sambil mengangkat alis.

Deokman mengangguk pelan. ”Dia harus... mendekam di penjara...” gumamnya sambil menahan limpahan emosi di dadanya. Dengan kesal ia menggigit bibirnya. ”Kenapa harus Bidam?”

”Karena dengan membunuh Bidam, ia akan mencapai tujuannya, tujuan utamanya, menghancurkan hidup kita semua!” jawab Mishil. ”Deokman, aku... akan menceritakan semua padamu, kemarilah...” ajak Mishil sambil menarik tangan Deokman ke tempat yang lebih sepi.

”Semua bermula puluhan tahun lalu, ketika aku, Sadaham, Munno, dan Yeomjong, serta seorang gadis bernama Sohwa masih merupakan teman akrab....” kenang mishil. ”Aku dan Sohwa adalah sahabat yang sangat dekat, melebihi apapun. Munno dan Sohwa saling mencintai, dan begitu pula antara aku dan Sadaham.”

Deokman memandang air muka Mishil yang mengkeruh. ”Namun Sohwa sejak awal sakit-sakitan. Ia meninggal sebelum mencapai usia kedua puluh, dan kemudian, Munno menarik diri dari kami. Yeomjong ternyata mengincarku. Dan ia beberapa kali meminta Sadaham memilih antara persahabatan atau cinta. Sayangnya Sadaham memilihku, dan kemudian... hubungan persahabatan kami terpecah belah...”

”Apakah Anda... menikah dengan Sadaham?” tanya Deokman bingung.

”Kami menikah di catatan sipil,” jawab Mishil. “Saat itu, karirku sedang melesat sebagai aktris, dan Yeomjong memanfaatkan kesempatan itu untuk emngancamku agar merahasiakan hubunganku dengan Sadaham. Terutama karena jabatannya saat itu adalah juga sebagai promotion chief...”

“Bagaimana dengan Munno-shi? Kalian sama sekali tidak ada kontak?” tanya Deokman.

”Munno dan Sadaham tetap berteman, tentu saja. namun, di suatu malam, Sadaham pergi dari rumah. Katanya mau menemui seseorang, dan kemudian, keesokan paginya...” Mishil menahan airmatanya dan berusaha tersenyum. ”Kemudian Munno mengangkat Bidam menjadi anak, merawatnya, semuanya untuk mencegah timbulnya skandal atas namaku saat itu...”

Deokman emngangguk. ”Pasti... semuanya sangat berat bagi Anda...” ujar Deokman pelan. ”Apakah... Bidam sama sekali tidak mengenal Ayah kandungnya?”

”Dia hanya mengetahui namanya... Namun wajahnya?” Mishil hanya mampu menggeleng. Hatinya terasa begitu perih. ”Tapi, aku sangat bangga padanya. Dan sekarang, setelah semuanya mulai membaik, kenapa jadi begini?” keluhnya.

Deokman hendak bersuara ketika Wolya setengah berteriak menghampiri mereka berdua. ”Operasinya sukses! Ini mujizat!” ujarnya senang.

Deokman tersenyum dengan ekspresi tidak percaya. ”Benarkah? Benarkah?” tanyanya berulang-ulang. Ia berulang kali mengucap syukur sambil berlari ke ruangan tempat Bidam berada. Dari jauh dilihatnya pria itu masih setengah terbius, tempat tidurnya didorong oleh beberapa paramedis ke ruang rawat inap.

”Bidam!” serunya sambil menghampiri tempat Bidam terbaring. ”Apakah ia baik-baik saja Suster?” tanyanya gugup. Perawat di sampingnya tersenyum lega sambil mengangguk. ”Syukurlah! Syukurlah!” ujar Deokman sambil memandang wajah Bidam dengan air mata terurai.

”Apakah ini benda miliknya?” tanya perawat itu sambil mengulurkan sebuah benda. Deokman menerimanya dengan bingung, lalu tersentak kaget. Ia menatap rantai yang semual berhiaskan batu giok itu dengan cermat. Deokman yakin kalau ia tidka salah mengingat rantai itu. Tapi mengapa benda yang kini berada di kalung itu bukan lagi liontin melainkan sebuah pedang kecil?

”Benar,” jawab Deokman bingung. Namun dengan segera senyuman membekas di bibirnya. Soyopdo. Benda ini lagi-lagi menyelamatkannya. Deokman dengan segera mengingatkan dirinya untuk segera mengembalikan benda itu ke tempat dimana ia seharusnya berada.

”Benda itu mengakibatkan lukanya tidak terlalu dalam. Lihat lecet di pedang itu...” perawat itu menunjuk bagian pedang yang terlihat sedikit lecet. ”Seharusnya peluru bisa menembus tubuhnya, namun pedang itu menggagalkannya. Akibatnya peluru tidak sampai masuk terlalu dalam...”

”Ya... Aku tahu itu...” jawab Deokman sambil tersenyum dan meraih tangan Bidam. Ia meletakkan pisau kecil itu di genggaman pria itu. ”Benda ini telah banyak melindungiku. Dan kali ini, ia melindungimu juga,” batinnya sambil menatap Bidam dengan air mata bahagia.
---------------------------==========to be continued===========-----------------------------------

Tidak ada komentar: