Rabu, 24 Februari 2010

FanFic Bideok After Love 21

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TWENTY FIRST SCENE
ONE STEP AHEAD
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bidam melirik arlojinya dan melempar tatapan pendek ke arah Wolya. “Seharusnya mereka akan tiba sebentar lagi. Kita tunggu saja kabar dari mereka, begitu ada konfirmasi, kita mulai bergerak.”

Tak lama, handphonennya bergetar, dan begitu Bidam melihat peneleponnya, ia segera memberikan anggukan isyarat. ”Ayo, kita mulai sekarang,” dan mereka melangkah ke ruangan tempat konferensi pers akan diadakan.

Bidam mengamati keadaan dan menyadari bahwa segalanya sesuai rencananya. Semua kursi terisi penuh oleh wartawan dan reporter dari berbagai media.Tapi ada satu kenyataan tidak terhindarkan. Yeomjong datang, dan ia duduk di kursi terdepan. Entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing, tapi yang jelas, untuk beberapa saat lamanya, ia dan Bidam saling melempar pandangan yang dingin.

”Aku akan mengawali konferensi pers ini dengan menjelaskan satu hal. Pertama, aku tidak pernah membawa seorang gadis pun ke hotel, pria di sampingku bisa membuktikan ini untukku...” ujar Bidam dengan tenang. Jilatan kamera blitz berulang kali menyorot wajahnya yang tetap tenang.

Chuncu maju dan membawa dua buah foto yang berbeda. ”Foto di kanan adalah foto yang palsu, dan di kiri adalah yang asli. Jelas, tampak tiga tindakan kecerobohan di sini. Pelaku pemalsu tampaknya lupa menghapus beberapa jejak penting dari foto yang diubahnya. Pertama, pintu dengan model ukiran seperti ini, di seluruh kota Seoul, hanya dimiliki satu toko, yaitu toko perhiasan emas perak di jalan distrik 10. Dan yang kedua, pelaku lupa mengganti background samping dari hotel yang dimasuki dua orang ini. Bukankah backgroundnya persis dengan background toko perhiasan ini?”

Terdengar suara ’oooh’ dan ’aah’ di mana-mana. Sementara Chuncu masih menjelaskan, Bidam tersenyum menanggapi betapa kakunya mimik Yeomjong. Dia menduga, pria itu sudah terlalu terbiasa melakukan hal hina semacam ini, sehingga jelas ia sudah cukup kebal dihadapkan pada situasi semacam ini. ”Tapi jelas, semuanya masih terlalu mudah sekarang,” pikir Bidam.
“Dan gadis itu? Siapa dia?” tanya seorang jurnalis dari senuah majalah remaja.

Bidam mengangguk dan meraih mic. Dia adalah seorang gadis yang akan segera memulai debutnya sebagai model dalam video klip singleku yang akan segera dirilis. Dan aku mencintainya, aku jatuh cinta padanya, bahkan sebelum ia diputuskan akan menjadi model video klipku. Bahkan sebelum bertemu, aku sudah mencintainya. Aku ingin minta maaf kepada semua pihak yang mungkin kecewa, tetapi, aku yakin semua fansku yang sejati akan memahami keadaanku...”

Bidam tersenyum dengan tulus sambil menatap ratusan kamera di hadapannya. ”Dan aku tidak lupa ingin berterimakasih pada semua fansku. Kalianlah yang telah mendukungku sampai tahap ini. Dan aku percaya, kalian semua mampu menilaiku lebih baik dari orang lain... bahkan mungkin lebih baik dari caraku menilai diriku sendiri. Karena itu, aku sangat berterimakasih dan mohon maaf atas pengertian kalian...” Bidam melirik ke arah pintu masuk dan tersenyum.

”Sekarang di sini, gadis yang kucintai telah datang, kurasa kita semua harus menyambutnya...” ujarnya sambil menatap ke arah pintu masuk. Sejenak pintu masuk dipenuhi sorotan lampu. Deokman melangkah masuk ditemani Jukbang dengan pakaian yang dipesan Bidam dengan terburu-buru tadi. Tapi harus diakui, selera Bidam memang sangat bagus. Pakaian itu membentuk siluet tubuhnya dengan indah. Dan ia tampak sangat cantik, walaupun wajahnya hanya dihias dengan make up minimalis dari Chenmyeong.

Bidam meraih tangan Deokman dan mereka memberikan salam bersamaan. Wartawan dan reporter bergantian menyorot mereka, memotret, dan mengucapkan selamat. Tidak sedikit yang merasa kalau ini adalah salah satu taktik penjualan agar single Bidam laris. Namun, justru pemikiran macam itulah yang diharapkan Bidam.

”Bagaimana dengan Mishil-shi? Bukankah ia Ibu kandungmu? Apakah kau tidak meminta restu darinya?” tukas Yeomjong tiba-tiba. Alcheon, Chuncu, dan Wolya menatap Yeomjong dengan terkejut, tidak mengira pria itu memiliki rencana sekeji itu.

Senyuman Deokman memudar, dan dalam sekejap, seluruh perhatian tertuju pada Yeomjong. Bidam menatap Yeomjong yang tersenyum culas dengan dingin. ”Kau tidak meminta restunya? Apakah ia tidak mau mengakui kalau kau anaknya?” desak Yeomjong sambil berjalan maju ke panggung.

Deokman menyentuh lengan Bidam dengan gugup, dan Bidam menggenggam tangannya, memberi kekuatan. ”Apa yang harus kita lakukan?” tanya Deokman panik.

”Bagaimna?” tanya Yeomjong lagi. ”Kau tidak bisa menjawabnya? Biar aku yang menjawabnya!” ujarnya sambil mengambil mic dari tangan Deokman. ”Pria ini!” ia menunjuk Bidam dengan keras. ”Pria ini adalah hasil skandal dari Mishil dengan pria biasa bernama Sadaham 29 tahun silam! Dan sekarang, Ayah angkatnyanya terbaring koma di rumah sakit karena dikeroyok belasan orang dengan benda tumpul. Sekarang ia akan bersama dengan wanita ini?” tanya Yeomjong lagi. Kali ini ia tertawa keras-keras. Namun, Bidam dengan tenang menyanggahnya.

”Kau kalah, Yeomjong...” ujarnya pelan. Sebuah senyuman kemenangan membekas di bibirnya. ”Akhirnya kau menggali kuburanmu sendiri...” lanjutnya.

Semua orang yang berdiri di sana memandang ke tengah panggung dengan bingung. Jelas-jelas posisi Bidam seharusnya terpojok, tapi mengapa ia tampak begitu tenang?

”Semua yang hadir di sini mendengarkan setiap kalimat yang ia ucapkan. Kalau perlu, kita bisa memutar rekaman kejadian hari ini karena kamera CCTV di setiap sudut ruangan ini aktif,” ujar Bidam menjelaskan. ”Pertama, aku mau tanya padamu, darimana kau tahu ayah angkatku koma? Rasanya tidak ada yang mengatakannya. Tapi baiklah, anggap ada yang mengatakannya, mengapa kau bisa begitu yakin kalau ia dikeroyok dengan benda tumpul sementara Dokter sendiri tidak berani menyimpulkan dan hanya berasumsi? Dan kenapa kau bisa tahu jumlah orang yang mengeroyok ayahku? Apakah itu jumlah orang yang kau bayar untuk mengeroyok dirinya?” tanya Bidam tajam.

Senyuman culas di wajah Yeomjong berganti dengan keterkejutan yang dalam. ”Kau bilang apa?! Aku yang melakukannya?! Jangan bercanda! Aku adalah promotion chief! Kenapa aku harus menyiksa penyanyi asuhanku sendiri?”

”Aku belum tahu apa motifmu, tentu saja. tapi, aku juga tidak bodoh. Kau pikir kau pandai dengan meneleponku menggunakan handphone omma ke nomorku yang hanya diketahui segelintir orang? Dan kaukira aku lupa, segelintir orang itu berarti termasuk kau di dalamnya?

”Aku tidak sebodoh itu! Anak macam apa yang tidak mengenali semua film yang dimainkan Ibunya? Dan satu hal penting, Omma tidak akan pernah mengakui kalau ia sakit padaku. Separah apapun itu, ia tidak akan mengatakan padaku kalau ia sakit. Apalagi hanya sakit tenggorokan. Kadang-kadang kau sangat pandai, namun adakalanya kau begitu bodoh, Yeomjong. Ketahuilah, aku sudah memikirkan satu langkah di depanmu.. dan kau sama sekali tidak menduganya, bukan?”

Kali ini Yeomjong tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia hanya mampu menatap Bidam dan semua wartawan di sana dengan kalut.

Bidam melirik arlojinya dan tersenyum. ”Rasanya rencanaku hampir tepat, sebentar lagi mobil polisi akan menjemputmu. Syukurlah, kukira aku akan menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu, ternyata tidak juga...” Bidam memandang Yeomjong dengan tatapan angkuh dan dingin. ”Sebaiknya kau mengakui motifmu dan alasanmu, serta dimana kau menyekap Mishil Omma. Karena kalau tidak, kurasa waktumu di balik jeruji besi itu akan semakin lama...”

Dari jauh, raungan sirine mobil polisi pun mulai terdengar...

--------------------------===========to be continued=============-----------------------------

Tidak ada komentar: