Selasa, 09 Februari 2010

Fanfic Biodeok After Love10

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TENTH SCENE
BIDAM
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Hei, aku mau tanya nih.” Ujar Alcheon sambil sibuk melepaskan kancing lengan bajunya. “Boleh?”

“Sejak kapan hyung jadi berbasa-basi begini?” tanya BiDam sembari terenyum. “Kalau mau tanya ya tanya saja…” jawabnya asal.

“Oke, aku tanya…” sahut Alcheon sambil menghembuskan nafas kuat-kuat ke rahangnya. “Sebenarnya bagaimana perasaanmu ke ChenMyeong?”

BiDam tertawa sebatas menarik garis bibir. “Kenapa aku tiba-tiba seperti dihakimi nih?” tuturnya geli. Melihat keseriusan di mata Alcheon, tawanya memudar, ia pun sibuk berdehem-dehem, berusaha memberikan kesan serius. “Yah, dia gadis yang baik, cantik…”

“Itu saja?” tanya Alcheon dengan nada tidak puas.
“Itu saja,” tegas BiDam.

“Aku kurang yakin…” tampak Alcheon berpikir sesaat. “Jadi kau tidak menyukainya?” tanyanya lagi.
“Tidak, aku tahu kok, Hyung menyukainya kan?”

“Bodoh! Siapa yang bilang begitu padamu!” sembur Alcheon dengan wajah memerah. “Jangan asal-asalan bicara dong!”

“Hyung, ternyata tebakanku benar, ya?” BiDam menggeleng-gelengkan kepalanya dengan maklum. Kedua tangannya berada di bahu Alcheon. “Tenang saja, Hyung… Selama ini belum pernah ada wanita yang menolakmu, kan? Aku yakin ratusan persen. Dia pasti juga menyukaimu…”

“Sudah kubilang jangan asal tebak…” Alcheon menyingkirkan tangan BiDAm dengan gusar. “Kau kan tidak tahu bagaimana perasaannya ChenMyeong-shi!!” Dan aku tahu, tahu kalau dia sangat menyukaimu, batin Alcheon gelisah.

“Biar gimana pun, aku merestui hubungan Hyung dengannya.”
“Iya… iya…” sahut Alcheon acuh tak acuh. Tiba-tiba sesuatu melintas di otaknya. Nyaris ia melupakan pertanyaan yang juga membuatnya penasaran itu. “Bagaimana dengan Deokman-shi?”

BiDam terdiam sejenak sebelum menjawab. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman menawan. “Kalau itu sih, lain cerita…” jawabnya sambil tertawa pelan. “Sudah malam nih, aku mau jalan-jalan dulu sebentar…” BiDam menyelipkan sesuatu di saku celananya, namun Alcheon tetap sempat melihatnya sesaat.

“Jangan main seruling malam-malam!” tegurnya. “Jangan sampai tenggorokanmu sakit nantinya…”

“Aku tahu, aku tahu,” BiDam tertawa sambil mengeluarkan serulingnya, namun tidak melepaskannya. “Aku akan memainkannya dalam ruangan. Begitu boleh, kan?”

“Nanti ular bisa datang!” goda Alcheon bermaksud menakut-nakuti.

“Hyung umur berapa sih, masih percaya begituan?” tawanya terdengar jahil saat pintu ditutupnya dalam satu gerakan cepat.
------------------------------=======================================-----------------------------“Ya, Yuhsin-shi…” samar-samar terdengar suara seorang wanita sedang bicara. BiDam memperlambat langkahnya dan mencari pemilik suara itu. Dugaannya tepat, tidak berapa jauh darinya, Deokman sedang bicara sendirian, tepatnya sedang melakukan pembicaraan telepon dengan seseorang, dan kelihatannya, pria.

“Aku baik-baik saja di sini…” jawab Deokman sambil tersenyum. “Makan malam? Oh, ya, para turis itu makan dengan baik. Eh? Aku? Ya, aku makan dengan baik juga… Begitu juga dengan ChenMyeong-shi…” Deokman mengangguk dengan senang. Dan matanya terlihat bercahaya saat bicara.

BiDam memandang gadis itu dalam diam. Selama bersamanya, gadis itu lebih banyak menangis. Sekarang, melihatnya bahagia, perasaannya menjadi lebih baik. Walaupun tidak bisa dipungkiri, sekelebat perasaan aneh bergolak di dadanya.

“Ya, Yushin-shi, selamat malam… Eh? Ya, selamat mimpi indah juga…” Dan Deokman mematikan HP-nya, lantas menarik nafas lega. “Biasanya ia kan menelepon ChenMyeong-shi” gumamnya pendek. “Aneh, nggak biasanya dia begitu baik…” begitu ia berbalik hendak pergi, ia menangkap sosok BiDam yang tengah mengamatinya dengan pandangan menerawang.

“BiDam shi?” tanyanya kaget. “Sedang apa? Ini kan sudah malam, tidak tidur?” tanyanya bingung.
“Tidak, belum bisa tidur, jadi aku jalan-jalan…” jawabnya. “Dan kau? Sedang apa sendirian di sini?” balasnya.

“Oh, tadi itu…” Deokman menunduk dengan perasaan malu. “Atasanku menelepon, ingin mengetahui bagaimana pekerjaanku hari ini…”

“Kau tidak menceritakan kalau kau pingsan kan?” Deokman menggeleng. “Baguslah kalau begitu…” sambung BiDam dengan senyuman lega.

“Kenapa malah BiDam-shi yang sepertinya merasa lega?” pancing Deokman. Senyuman tipis mengembang di bibirnya. “Aneh sekali, deh…”

“Iya, ya., kenapa aku yang lega?” canda BiDam sambil tertawa dengan groginya. “Dari kemarin, sejak tiba di Geongju, rasanya terlalu banyak hal yang aneh terjadi padaku. Mungkin akhirnya aku sendiri sudah jadi orang aneh,” tukasnya dengan mimik serius.

“Hahaha… mana mungkin, BiDam shi?” Deokman tertawa pelan. “Kalau pun kau orang aneh, pasti kau oran aneh yang punya sifat paling baik yang pernah kutemui…” ujar gadis itu dengan mata yang sejenak meredup. “Oh, maaf, bicara apa aku ini?” ia menutup mulutnya lalu buru-buru menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.

“Udaranya dingin sekali ya…” BiDam menyembunyikan tawanya yang gembira. Sejenak perasaannya mencerah setelah mendengar pujian dari Deokman. Ia melepaskan jaketnya, lalu memakaikannya ke Deokman. “Jangan sampai sakit karena kedinginan…”

Deokman menerima jaket itu dengan terkejut, namun tidak menolak. Saat jaket itu dipakainya, sebuah seruling jatuh ke tanah. Ia buru-buru memungutnya. “Seruling milikmu, BiDam-shi?”

“Oh, ya, kenapa aku pelupa sekali…” gerutu BiDam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kau mau minta sebuah lagu?”

“Jangan main seruling malam-malam, BiDam-shi…” ujar Deokman. “Nanti tenggorokanmu bisa sakit…”

“Yah, okelah, hari ini sudah dua orang yang melarangku. Sebaiknya aku menurut,” BiDam menyelipkan seruling itu di saku celananya. “Selamat malam, Deokman-shi…”

“Malam…”

“Nyaris serperti melupakan sesuatu yang penting, BiDam memutar tubuhnya lalu berkata. “Mungkin besok kita bisa membicarakan tentang saat kau pingsan. Soalnya, saat itu, aku-Alcheon-dan ChenMyeong-shi… sama-sama mengalami keanehan. Saat menatap makam itu, kami menangis. Entah apa penyebabnya…”

“Eh?”
“Itu saja, selamat malam…” BiDam lantas pergi sambil setengah ber;ari. Ia tidak pernah merasa segirang ini sebelumnya. Percakapan singkatnya dengan Deokman seolah terasa begitu membekas di hatinya.

-----------------------------------------------------------to be continued---------------------------------------------

1 komentar:

Putri Fitriananda mengatakan...

Wow,, fan fiction? Really nice.. ^-^