Selasa, 19 Maret 2013

Fanfic Love So Tragic 2

-------------------------------------------------------------------------------------------------
LOVE SO TRAGIC
Chapter 2
CAST:
HYUN GI
KEY
-------------------------------------------------------------------------------------------------

-Hyun Gi, Seoul, 2010-

“Bagaimana, ehm, Tante?”

Dengan malu-malu aku melangkah keluar dari balik gorden fitting room. Mamanya Key menatapku dengan seksama, di sebelahnya, Mamaku tersenyum memandangku sambil mengatupkan kedua tangannya.

“Sangat bagus,” ujar keduanya sambil tersenyum puas.

Key baru saja lulus kuliah minggu lalu dan mendapat jabatan sebagai manajer di perusahaan Papanya. Dan malam itu, setelah menerima gaji pertamanya, ia mengajakku makan di Restoran Perancis yang sudah lama kuidamkan.



“Suasananya bagus sekali, ya?” ujarku sambil mengunyah caviar yang dihidangkan pelayan.

Key tersenyum dan meletakkan gelas di bibirnya. “Bersulang untuk malam yang indah…” tukasnya.

Tak lama, musik mengalun dan sesaat kemudian terdengar pengumuman dari speaker yang terdapat di tengah ruangan. “Berikutnya adalah persembahan lagu dari Tuan Key…”

Aku menatap Key dengan wajah melongo, kaget, “Mereka nggak salah menyebut namamu?” tanyaku sambil terbatuk beberapa kali karena makananku menyangkut di tenggorokan.

“Nggak kok, nggak salah…” jawab Key sambil tersenyum dan menyerahkan minuman ke tanganku. “Hyun Gi, lihat aku baik-baik, oke?”

Tidak ada yang mampu kujawab selain anggukan. Key melambai padaku dari panggung, membuat wajahku memerah. “Lagu ini saya persembahkan untuk Hyun Gi, tunangan saya, selamat malam semuanya, dan selamat menikmati…”

don’t want a love that will evaporate away like soap bubbles
A love that will be felt without words,
That is the love I want
When you are with me,
You can’t ride in golden carriages even in your dreams
But while you are still with me
I can make you smile


Love’s way!
Love’s way!
You’re my true love

Key menutup lagunya dengan senyuman. “AKu ingin menikah denganmu, Hyun Gi, jadilah istriku…”

“Ya,” bisikku. Tidak yakin, apakah ia mampu mendengarnya.

Bersamaan dengan akhir jawabanku, gemuruh tepuk tangan membahana di seluruh ruangan itu. Key berjalan ke meja dan memelukku. Air mata masih menetes di pipiku ketika kami berciuman panjang di depan semua yang berada di sana.



“Bagian pinggangnya sudah oke, kan, Hyun Gi?” tanya calon mertuaku. Aku mengangguk dan ia menanggapinya dengan senyuman puas. “Oke. Kita ambil gaun yang ini…”

-Key, Seoul, 2010-

Kalau ini adalah mimpi, maka aku tidak ingin terbangun, sungguh!

Hyun Gi berdiri di sampingku, tampak cantik dalam balutan gaun pengantinnya. Wajahnya secerah malaikat, tidak pernah berhenti tersenyum. Dan air matanya saat menangis mengucapkan sumpah setia terlihat sangat cantik.

“Selamanya,” bisik kami sambil tersenyum. Keseluruhan acara terasa sangat panjang.. pemotongan kue pengantin, saling menyuapkan, dan wedding kiss, lalu… pelemparan buket, acara foto-foto, dan… akhirnya mobil pengantin mengantarkan kami ke hotel.

“Jadi, um…” Hyun Gi memandangku malu. “Siapa yang akan mandi lebih dulu?” tanyanya, malu.

Aku tidak bisa menahan rasa gugup dalam suaraku. “Aku duluan…” ujarku, tidak tahan untuk melepaskan pandangan dari wajahnya.

“Tenanglah Key,” batinku berulang-ulang. “Kalau kau tidak tenang, semuanya justru tambah hancur…” tapi jantungku tetap berdebam kencang di tempatnya. Acara mandi kulakukan dengan perasaan tidak menentu. Bahkan rasanya pikiranku tidak ada di tempatnya.

“Giliranku,” ujar Hyun Gi sambil melangkah masuk. Ia sudah melepaskan gaun pengantinnya dan menyampirkannya di sofa terdekat. Selama Hyun Gi mandi, aku tidak bisa mengenyahkan pikiran aneh yang berkecamuk di kepalaku.

“Um… Key?” panggil Hyun Gi pelan. Aku menoleh memandangnya dan tiba-tiba kehilangan kemampuan bernafasku. Hyun Gi mengenakan baju handuk dan menatapku resah dengan kedua matanya.

“Duduklah,” suaraku terdengar kering di tenggorokan. Hyun Gi duduk di sampingku. Kami berdua, sama-sama merasa malu, duduk di sisi tempat tidur. “Hahaha.. rasanya aneh sekali…” tawaku malah terdengar sangat kikuk.

“Ya…” sahut Hyun Gi. “Rasanya wajahku panas sekali…” ia manepukkan tangannya di pipi.

Jantungku berdetak semakin kencang. Sebelum menyadari apa yang kulakukan, tanganku sudah meremas tangannya kuat-kuat. Dan oelan, kami menggeser duduk. Aku menciumnya perlahan, tidak bermaksud membuatnya semakin gugup.

“Key…”

Hyun Gi kehilangan nafas, dan ciuman kami semakin memabukkan. Bibirku bergerak dan menekan bibirnya, bisa kurasakan desahan nafasnya di depanku, membuat ciuman kami semakin menuntut dan bergairah.

Aku memiringkan wajahku dan mengulum lalu menggigit bibir bawah Hyun Gi, menanti reaksinya dan meraih tengkuknya, merapatkan posisi tubuh kami. Ia menggeliat dan mengikuti gerakanku. Tangannya yang menyentuh punggungku membuat debaran jantungku semakin keras. Aku menginginkannya, dan dia istriku. Tanganku meraih simpul di baju handuknya dan ia juga melepaskan simpul di bajuku.

“Key,” Hyun Gi memandangku malu saat mataku tidak lepas dari tubuhnya. “Jangan memandangku seperti itu…” ujarnya, kalut.

Seulas senyuman membekas di bibirku, menyuarakan kejujuranku. “Karena kau sangat cantik,” ujarku, meraihnya dalam pelukanku.

Kutelusuri lekuk tubuhnya dengan tanganku, dan Hyun Gi mengelinjang geli merasakan sentuhanku di daerah sensitif miliknya. Lidahku bermain di tenggorokannya, dan ia membalas dengan berani.

“Kau… sangat… cantik…” suaraku terdengar parau saat bibirku menyentuh lehernya, dan melanjutkan permainan kami. Nafasku beradu dengan nafasnya dan tanganku semakin kuat mencengkeram pinggangnya. Kepalaku semakin terasa berat di tempatnya. Dan gerakanku semakin tidak terkendali.

“Key!!” seru Hyun Gi tiba-tiba. Aku terperangah kaget. Tetesan darah membekas di seprai putih itu. Dan bukan hanya berasal dari selangkangan Hyun Gi, tetapi juga dari tangannya.

“Hyun Gi, maaf, aku…” aku kehabisan kata-kata, terkejut melihat di tangannya yang putih terdapat goresan cakaran panjang dari kukuku.

Apa yang kulakukan!? Kapan aku melakukannya? Kapan aku… mencakarnya? Kepalaku terasa sakit dan bagai dihantam keras. Ini mimpi buruk! Aku telah menyakiti istriku di malam pertamanya!!!


-to be continued-

Tidak ada komentar: