Selasa, 19 Maret 2013

cerpen: April Accident



Salah satu cerpen yang gagal menang lomba di leutikaprio, hehe...
Hope you guys can enjoy it.
Basically, it started with a manga i made and i changed it into short story like this :)

April Accident

“Dia bakal kencan denganku!”
“Salah! Denganku, tahu! Iya, kan?” suara yang satu terdengar sengit dan tidak mau kalah.
Namaku Iris. Dan aku tidak termasuk gadis-gadis yang sedang bertengkar itu. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat. Itu saja. Ini adalah hal yang sudah biasa, sebenarnya. Dan umunya, masalah tidak akan menjadi gawat hanya karena pertengkaran mulut semacam ini.
Mataku memandang ke arah cowok yang sedang diperebutkan itu, Daniel, yang tidak lain adalah sepupuku. Umumnya masalah baru terjadi kalau ia membuka mulutnya. Dan kuharap tidak. Tapi, ‘biasanya’ sih…
“Aaahhh!! Berisik! Berisik! Berisik! Rasanya aku nggak berminat sama cewek bawel. Kalau tahu kalian sebawel ini, sekalipun aku yang pernah mengajak, maksudku… menerima ajakan kalian, tolong dilupakan saja. Oke?”
Astaga… tuh, benar kan…
“Dasar brengsek!” maki cewek yang satunya. Yang lainnya menamparnya dan pergi.
“Aaa…. nice hit…” pikirku sambil mengernyit. Tampaknya menyakitkan. Dan sebelum ketahuan, aku harus sudah pergi dari sini.
“Hei, kamu di situ kan, Ris?”
Dheg! Aduh… kenapa dia tahu siih?
 “Hei, sakit nih… Bawa sesuatu, nggak?” tanyanya sambil mengelus pipinya yang tampak merah.
“Basahi saja sapu tanganku…” ujarku sambil menyerahkan sapu tanganku ke tangannya. “Kapan sih, kamu baru mau berhenti bikin nangis cewek-cewek itu?”
“Hmp…” Daniel sedikit menarik garis bibirnya hanya untuk tersenyum sinis. “Mereka saja yang bodoh…”
“Terus, untuk apa kamu kencan melulu kayak begitu?” tanyaku, masih tidak bisa memahami jalan pikirannya.
“Siapa tahu aku bisa ‘suka’ sama salah satu dari mereka?” cowok itu mengangkat bahu. Terlihat jelas kalau ia sedang berspekulasi. Namun, sekali lagi kutangkap nada sinis dari kata ‘suka’ yang ia ucapkan.
“Bagaimana kalau salah satu dari mereka benar-benar serius suka padamu? Misalnya, gadis yang tadi menamparmu…”
“Itu tidak mungkin, Iris…” ia menjawab begitu cepatnya. “Kalau benar-benar suka padaku, mana mungkin mereka puas hanya dengan kencan sekali?”
“Hmm…” hanya itu yang mampu kuucapkan.
“Hei,” Daniel menatap mataku dalam-dalam ketika memanggil namaku. “Pernahkah kau jatuh cinta, Iris?”
Kutatap Daniel dengan pandangan sewajar mungkin. Aku menyukainya. Tapi, kurasa ia tidak menyadarinya. Daniel terlalu sibuk kencan dengan gadis-gadis lain. Aku tidak ada di matanya. Aku hanya sepupu jauhnya. Kuharap ia tidak bisa melihat perasaanku di mataku sekarang. Tidak di saat aku tidak siap.
“Mm… bagaimana denganmu?” tanyaku, mencoba mengalihkan perhatian.
“Pernah…” di luar dugaan, ia tersenyum saat menjawabku. “Sampai sekarang pun, hanya gadis itu yang kusukai. Sekalipun, aku ditampik dengan kejam…”
“Hah?” Luar biasa. Aku tidak percaya ada gadis yang pernah menampik Daniel si playboy. “Kau sangat menyukainya, ya…” gumamku. Dan gadis itu pasti sangat cantik.
“Ya, aku sangat menyukainya…” sahut Daniel. Tatapan matanya terlihat tegas saat mengucapkannya. Dadaku berdebar. Rasanya iri sekali bisa dicintai seperti itu.
♦♦♦
Siapa ya?
Siapa gadis itu?
Sejak tadi, pikiranku dipenuhi rasa penasaran akan sosok gadis yang disukai Daniel. Ia pasti gadis yang baik sehingga Daniel bisa menyukainya. Atau mungkin… sangat cantik? Sampai-sampai Daniel bahkan tetap menyukainya walaupun gadis itu pernah menampiknya.
Tapi… kenapa? Kenapa… rasanya sesakit ini?
Sambil berjalan menyusuri koridor, pikiranku mengelana entah kemana. Hhh… entah kenapa jadi sentimentil begini…
“Hei!” panggil seseorang. Karena tidak merasa dipanggil, aku terus saja berjalan. Suara itu kemudian memanggil lagi, kali ini dengan menyebut namaku.
“Hei, Iris! Boleh aku minta tolong?” gadis yang memanggilku bisa kukenali sebagai salah satu teman sekelasku.
♦♦♦
“Hei, Daniel. Ini untukmu…” ujarku, menyerahkan sepucuk surat cinta ke tangan sepupuku. Ia tampak terkejut menerimanya.
“Astaga,” gumamnya sambil membolak-balik surat itu. “Memangnya masih jaman, ya? Surat cinta?” ia tertawa sedikit sambil menatap kagum surat di tangannya.
“Hei! Jangan menghina, dong. Membuatnya kan butuh usaha juga…” cetusku, berusaha membela si pembuat surat cinta.
“Ternyata… tidak kusangka Iris ada hati juga padaku…” ia tertawa dan menyelipkan tangannya ke rambut, menyisir dengan jari-jarinya.
“Bukan, bukan aku…” sejenak, kulihat ekspresi Daniel berubah. Tawanya dengan segera menghilang. “Itu dari Sonya, teman sekelasku…”
“Dia… memintamu memberikan ini?” Daniel bertanya dengan ekspresi yang kelam. Astaga, apa aku salah bicara?
“Iya… kenapa?” tanyaku, bingung.
“Ambil lagi!” bentaknya, marah. “Aku nggak mau terima ini!”
“Eh? Kenapa?” Aku harus bilang apa ke Sonya?
“Apa sih maumu?!” kali ini Daniel menatap marah padaku.
“Daniel? Apa maksudmu?”
“Rupanya kau tidak mengerti juga?” ia menghembuskan nafas kuat-kuat ke rahangnya. Melihat gelengan kepalaku, amarahnya semakin memuncak.
“Baik, akan kukatakan!” kali ini matanya menatap tajam padaku. “Setahun lalu! Tanggal satu April! Kenapa kau tidak datang!?”
♦♦♦
Satu April… Setahun yang lalu…
Aku…
“Iris! Pulang sekolah… kutunggu di taman dekat rumah…”
“Eh?”
“Sudah ya… sampai ketemu…”
♦♦♦
“Tidak mungkin…” gumamku, merasa tidak tolol dan bodoh. Gadis itu… gadis yang ia bilang menampiknya dengan kejam… gadis itu… aku?
“Kalau kau memang tidak menyukaiku, seharusnya sejak awal kau menolakku!!” Daniel berseru dengan nada marah padaku.
“Bukan! Bukan begitu!” sergahku. “Itu karena kau mengatakannya… pada tanggal satu April…”
Aku ingat jelas perasaanku hari itu. Takut dibohongi, takut dipermainkan, dan tidak bisa berpikir jernih. Di satu sisi aku merasa senang kau mengajakku, namun di sisi lain, aku takut ini hanya sekedar permainan April Mop.
“Jadi… aku… aku…” Daniel menatapku dengan ekspresi tidak percaya. “Maaf…” tukasku, akhirnya.
“Sudahlah…” ia menyentuh bahuku dan tersenyum. “Sekarang, angkat wajahmu dan tatap aku…”
Daniel bedehem beberapa kali sebelum melanjutkan. “Hari ini bukan tanggal satu April dan aku juga sedang tidak bermaksud bercanda atau berbohong. Jadi… maukah kau kencan denganku?”
“Ya…” jawabku. Perasaan menyesal yang ada dalam dadaku mendadak menghilang digantikan kelegaan. “Dengan senang hati…” imbuhku, disambut senyuman senang di bibir Daniel.
Tampaknya, kami akan selalu mengenang April Mop hari itu sebagai April Accident. Dan hari ini, sebagai the most beautiful day, ever!

―Selesai―

Tidak ada komentar: