Selasa, 19 Maret 2013

Fanfic Love so Tragic 3

-------------------------------------------------------------------------------------------------
LOVE SO TRAGIC
Chapter 3
CAST:
HYUN GI
KEY
-------------------------------------------------------------------------------------------------

-Key, Seoul, 2010-

“Bagaimana malam pertama kalian?” Tanya Mamaku sambil tersenyum manis di pintu dapur, membawakan sekantong makanan untuk kami.

”Hebat,” jawab Hyun Gi sambil bergerak menyentuh lenganku, membuatku bersalah karena semalam sudah melukainya. ”Terimakasih, Ma...” jawab Hyun Gi sambil tertawa melihat Mamaku membawakan begitu banyak makanan untuk kami.

”Tanganmu kok terluka begitu, Hyun Gi?” tanya Mamaku sambil menatap lengan Hyun Gi yang ditutup plester putih.

”Ah, aku terjatuh, Ma...” jawabnya sambil tersenyum manis.

”Aku naik ke atas dulu...” ujarku, tba-tiba merasa keberadaanku tidak diinginkan di sana.

”Jangan lupa turun makan, Key!!” seru Mama dari bawah tangga.

Perasaan rendah diri mulai memenuhi diriku. Aku mencintai Hyun Gi. Tetapi aku juga tidak kuasa mengekang perasaan itu. Kenapa?



-Hyun Gi, Seoul, 2010-

”Kau tidak mau menyentuhku? Kenapa?”

”Aku tidak mau melukaimu lagi...” ujar Key dengan suara dingin.

”Tidak kok...” kususupkan lenganku ke lengannya.

Ia menoleh dengan wajah putus asa, setengah mengerang, ia berujar. ”Hentikan! Jangan memaksaku!!”

Tetapi, aku tidak bisa menahan diriku lagi. Kepalaku kutengadahkan dan meraih bibirnya. Key terkesiap kaget, namun ia tidak menghindar. Ia menerima ciumanku dengan lembut. Dan semakin lama, ciuman kami semakin intens dan menantang. Key memainkan lidahnya dengan liar, memagut bibirku dan menggigit bibir bawahku.

”Ah!!” tak urung seruan kaget terdengar keluar dari bibirku. Posisi kami sudah berpindah ke ranjang. Dan suasana sudah sangat tepat untuk malam kedua kami. Tetapi, setetes darah muncul dari bibirku yang digigit terlalu keras oleh Key.

”Kau lihat? Aku melakukannya...” sebelum ia selesai bicara, aku menahan bibirnya dengan telunjukku, dan menunjukkan senyumanku yang terbaik. Key menatapku ragu sebelum akhirnya memaksakan senyuman di bibirnya. ”Baiklah, lupakan ciuman itu...” ia menarikku dan kami melakukan malam kedua kami.


”Tanganmu kenapa lagi, Hyun Gi?” tanya tetanggaku, seorang Ibu muda yang sedikit lebih dewasa dariku.

”Kena cakar kucing, biasa....” jawabku sambil tertawa. ”Soalnya aku selalu saja tidak tahan ingin menyentuh mereka...”

”Wah, kau harus hati-hati Hyun Gi...” ujar tetanggaku ramah. Ia pun meneruskan kegiatannya menyapu halaman rumahnya.

Tanganku sekarang dipenuhi goresan-goresan panjang bekas cakaran. Tidak mungkin kalau kukatakan pada orang lain, itu perbuatan suamiku sendiri. Hadiah kenangan dari malam-malam indah kami.

Key selalu melakukan segalanya dengan lembut. pada permulaan, bahkan ia sangat berhati-hati. Namun menjelang puncak, ia semakin ganas dan liar. Tahu-tahu ia sudah menjambakku keras atau mencakar tangan atau pahaku. Akhir-akhir ini aku bahkan tidak pernah lagi mengenakan rok pendek.



-Key, Seoul, 2010-

”Kita ke dokter, ya, Key?” bujuk Hyun Gi pada suatu malam.

”Kau mengira aku sakit jiwa, kan?” tanyaku, merasakan keperihan di hatiku.

Semakin terhanyut dalam ’permainan’, otakku semakin jauh dari kendaliku. Dan lagi, beberapa goresan kutinggalkan di tubuh istriku.

”Aku hanya ingin memastikan... mungkin kau bisa menemui psikolog...” Hyun Gi meremas rok gaun tidurnya dengan cemas.

Aku memalingkan wajah, tidak berani melihat kaki Hyun Gi. Sebelumnya pahanya begitu mulus dan indah. Kini beberapa bekas luka dan memar ada di sana. Hasil perbuatanku, hasil tanganku ini! Tangan terkutuk ini!

“Kalau memang aku gila... kau harus membunuhku, Hyun Gi...” ujarku, setengah mati mencerna kata-kataku sendiri. “Aku, tidak bisa berpisah darimu...”

“Aku tahu itu... aku tahu itu...” Hyun Gi memelukku dan menepuk punggungku. Aku menunduk dan menyusupkan kepalaku di dadanya, merasakan sebagian bebanku terangkat. ”Kau tidak sakit... maafkan aku...”

”Bagaimana kalau... kita menghentikan semuanya saja... aku mungkin lebih baik tidak menyentuhmu... untuk beberapa lama...”

”Key...” Hyun Gi menahan tanganku dan menggeleng. Ia memeluk pinggangku dari belakang, membangkitkan debaran jantunku lagi.

Selalu sama. Aku selalu saja mencintainya. Dan di satu sisi, ada perasaan liar dalam diriku. Seperti monster. Monster yang jatuh cinta tanpa tahu bagaimana cara menghapus monster itu sendiri. Kalau memang demikian, apa yang harus kulakukan?


-Hyun Gi, Seoul, 2010-

“Key? Ayo makan….” Panggilku sambil memeluk pundaknya dari belakang. Ia baru saja mandi setelah pulang kantor. Aroma sabun di tubuhnya terasa menyenangkan.

Key tersenyum dan menangkap tanganku. ia membalas pelukanku dengan menggelitik leher dan pinggangku, mempererat pelukan kami. Akhirnya aku terdesak di dinding, dan di sana Key menciumiku dengan berani berkali-kali.

”Key, sudah yuk, saatnya makan…” ujarku berusaha melepaskan diri dengan nafas terengah-engah dalam pelukannya.

Tetapi Key tidak menghentikan ciumannya. Ia semakin ganas, atau mungkin disebut… buas? Key menarik rambutku dan membenturkan kepalaku ke dinding, memaksaku tetap berada di posisiku untuk membalas ciumannya.

“Key… hentikan…” seruku dengan nafas sesak.

Key tidak juga mengendurkan pelukannya. Ia menarikku lebih dalam, dan ketika menghindar, ia membenturkan kepalaku lagi, dan ciumannya begitu mendesakku.

”Key!!” seruku, akhirnya merasa putus asa. Tanganku bergerak menampar pipinya, berusaha menyadarkannya.

Key memandangku dengan gusar. ”Aku… apa yang...” ia menyentuh kepalanya dan mengerang pedih. ”Kenapa... harus begini? Kenapa aku harus terus menyakitimu baru aku merasa puas?!” ia mengerang dan berjongkok sambil memegang kepolanya.

”Key? Kau tidak apa-apa, kan? Maaf aku menamparmu...” aku berusaha memeluknya tetapi ia memberontak dan menggeliat dalam pelukanku.

”Cukup! Cukup! Cukup sudah!” ia meninju tembok berulang-ulang sampai tinjunya berdarah. “CUKUP, HYUN GI, CUKUP!! AKU SUDAH MUAK DENGAN DIRIKU SENDIRI!!!”

“Key, tunggu!! Apa yang kau maksud?” tanyaku, panik dan berusaha menangkap pergelangan tangannya.

Ia menepis tanganku dan memandangku dingin. ”Aku akan menginap di luar malam ini…” dan ia membanting pintunya tepat di depan mataku.




“Sudah ada kabar dari Key?” Tanya Mama Key dengan gelisah.

”Belum...” jawabku, tidak kalah gusar darinya.

Key sudah menghilang seminggu. Tidak ke kantor, tidak ke rumah temannya, tidak ke rumah saudaranya atau siapapun. Sama sekali tidak ada yang dikontak olehnya. Sebenarnya kenapa?

“Karena aku…” tangisku mulai pecah. ”Pasti karena aku...”

”Sssh... sudahlah Hyun Gi...” Mama Key dan Mamaku bergerak memelukku. Aku sudah menceritakan semuanya pada mereka. Soal luka-luka di tangan dan pahaku, sumber penyebab perasaan frustasi Key.

”KRINGGG!!!”

”Biar kuangkat!!” seruku sambil berlari mengangkat telepon itu.

”Dengan Keluarga Tuan Key?” Tanya suara dari seberang.

“Benar... Ada apa ya?” tanyaku bingung, jelas-jelas tidak mengenal suara itu. Entah darimana sebuah firasat buruk menggema di dadaku.

”Anda Nona Hyun Gi?” tanya suara itu lagi.

“Ya,” jawabku, merasa mulai tidak yakin. Memang ada yang tidak beres di sini. ”Kenapa?”

”Ini polisi... Ehm... kami ingin meminta Anda datang ke Grand Hilton Seoul Hotel, ada hal yang harus Anda ketahui tentang suami Anda...”

“Key? Kenapa? Ada apa dengannya!?” seruku. Mamaku dan Mama Key otomatis bergerak menghampiriku ke telepon.

”Dia ditemukan tewas bunuh diri....”

Secepat itu pula duniaku menggelap di depanku. Semua hitam dan berputar. Suara Mama terdengar jauh di telingaku, memanggil namaku.


Secarik surat terakhir kali dari Key kubaca keseratus kalinya hari itu. Tulisan tangan yang tegas dan jelas, sangat khas Key. Surat itu hanya berisi cincin kawin kami dan sebuah puisi yang ditulisnya sebelum ia mengakhiri hidupnya dengan mengiris pergelangan nadinya.

Ia meninggal di kamar hotel itu, meninggal dalam keadaan tersiksa, ditemani sebuah lagu yang diputar berulang-ulang mengiringi kematiannya.
           

This painful love story has turned my entire heart cold
I sigh at this hetic love again
The rest of my breath recedes and fades away

Girl meets boy and a painful love now begins
An indescribable love echoes and love starts again from the beginning

I loved you and
I wanted you
I looked for you
So even if you hate me
My heart cries
because it wants to say more
Sadness makes another day pass by

I'm selfish for having only loving memories of you
Now, I feel a little confused
You don’t know that you’re my only
I only look at you

That love starts again from the beginning
You don’t know me nor the love I feel for you

A painful love begins again
I can't hold back the feelings that appear whenever I meet you

I hate saying goodbye
Like a fool , I couldn’t cling on to you and stop you from leaving
By saying 'I love you'

I love you, I want to see you

(I still don't know)
I don’t know love
I don’t know goodbyes
I still don’t understand
I know that my heart wants you
Oh, my girl! Oh, my love!

There’s a cloud as pure as snow
Just knowing that we can see it together makes it beautiful
The day the cloud turns into rain, we'll no longer see it
Knowing that we really can’t avoid it, my heart stings

From thoughts of you, I cry out inside myself, “I like you”
The echoes hit back “No way”
Without you, my feelings are down
I still believe that you’ll come back

I fell so deep in love with such a girl like you
Don’t think of me as just a boy
Like a man, I want to be your lover, your love

That love starts again from the beginning
You don’t know me nor the love I feel for you

A painful love begins again
I can't hold back the feelings that appear whenever I meet you

I hate saying goodbye
Like a fool , I couldn’t cling on to you and stop you from leaving
By saying 'I love you'

I love you, I want to see you

Now I’ll say that I love you
I’ll make myself love you
We met through much difficulty
Even when you waited for me, I couldn’t grasp for you
Now my image fades away

That love starts again from the beginning
You don’t know me nor the love I feel for you

A painful love begins again
I can't hold back the feelings that appear whenever I meet you

I hate saying goodbye
Like a fool , I couldn’t cling on to you and stop you from leaving
By saying 'I love you'
I love you, I want to see you

This painful love story has turned my entire heart cold
I sigh at this hetic love again
The rest of my breath recedes and fades away

Girl meets boy and a painful love now begins
An indescribable love echoes and love starts again from the beginning
She has a lot of things she wants to say
But it doesn’t look like they’ll get across
Heartache, heartache, heartache

“Will you approach me? Lean against me?”
I stop worrying
Throw away the lingering feelings, erase them, they sting

P.S. I want to hear her voice one last time


Aku bergerak menatap jenasah Key yang terlihat tampan dalam peti matinya, dalam balutan tuxedo hitam yang membuatnya terlihat gagah. Ia terlihat seolah hanya tidur pulas, dan semuanya terlihat baik-baik saja kecuali wajahnya yang sangat pucat.

Cincin kawinnya terasa dingin dalam genggamanku. Pelan kumasukkan cincin itu ke jemarinya, tempat seharusnya ia berada.

“Aku mencintaimu, Key…” tangisku meledak seketika. Tanganku menutup mulutku dan bahuku berguncang sakit saat mengingat semua kenangan indah yang ada dulu.

Samar-samar sebuah kutipan lagu yang diputar Key dalam kematiannya bergaung berulang-ulang di kepalaku, membuat tangisku semakin dalam.


It’s not easy for me like my farewell greeting
My heart won’t become mine to control
I guess I’ll have to make an indefinite decision to forget you
So I can bear with it all

The ring I placed on your finger
Returns to my hand cold (I can’t let you go)
I received my heart back in return
My LAST GIFT
Is this separation…

Was it yesterday when things started going to amiss?
Where did it all go wrong exactly?
My heart can’t let you go…
Is it really the end?

You’re my one last love




TAMAT


Key’s letter was Translation of Shinee Song, titled: Boy Meets Girl (romeo Juliette)
Last song that Key used before he died: from Shinee song, titled: Last Gif

Tidak ada komentar: