Rabu, 24 Maret 2010

Fanfic The Future and the Past 8

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
EIGHTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Young Bakui: Joo Sang Won as Wolya brother (real name: Seo Sang Won)
Yushin: Uhm Tae Wong, Kim Tae Wong as KNG brother
Alcheon: Lee Seung Hyo (memakai nama asli di FF)
Wolya: Joo Sang Wook (memakai nama asli di FF)
Kim Chun Chu: Yoo Seung Ho (memakai nama asli di FF)
Bakui: Jang Hee Woong (memakai nama asli di FF)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

─Lee Yo Won, Seoul, 2008 ─

Padahal ia baru muncul kemarin, tapi hampir semua penghuni sekolah membicarakan desas-desus kemunculan cowok aneh itu, Kim Nam Gil.

“Kau mengenalnya, Yo Won?” Tanya Kak Seung Hyo padaku. Rasanya itu pertanyaan yang sudah kujawab untuk kelima kalinya hari ini. Sebelumnya Sang Won, Kak Tae Wong, Kak Sang Wook, dan bahkan si centil Yoo Jin sudah bertanya padaku. Itu belum termasuk Ye Jin yang berulang kali menanyakan detail pertemuanku dengan Kim Nam Gil. Dan anak-anak lain yang kujawab sambil lalu.

Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin kan kujawab, aku tidak mengenalnya, hanya kebetulan bertemu dengannya di depan WC pria, dan karena ia mulai tidak sopan, aku menendang selangkangannya.

Tidak mungkin kan? Kalau kukatakan begitu, entah berapa banyak orang yang akan mengataiku cewek barbar. Cukup satu yang mengatakannya. Dan selain Kim Nam Gil, yang ─dalam waktu dekat akan kubuat berhenti─memanggilku begitu, kuharap tidak ada jumlah panggilan aneh untukku.

”Aneh sekali ya? Dia sepertinya sama sekali tidak mirip dengan Kak Tae Wong, namun, sampai saat ini Kak tae Wong juga diam saja, tidak mengatakan apapun...” gumam Kak Seung Hyo. Sebagai ketua OSIS, ia juga sangat aktif di klub karate.

”Oh ya, wakil ketua OSIS kita, Seung Ho juga mau bertemu denganmu,” ujar Kak Seung Hyo sambil menatapku dalam-dalam.

”Baiklah, aku tahu, akan kutemui ia nanti... Aku harus membantu Ye Jin mencatat skor latihan dulu...” jawabku. Begitu latihan klub selesai, rupanya adik kelasku itu sudah menungguku di depan ruang aula.

”Tidak mengganggu, bukan?” tanyanya dengan sopan. Sikapnya sangat tepelajar dan terlihat intelektual. Selain itu, wajahnya juga cukup manis untuk ukuran cowok SMA. Bisa kutebak, ia pasti tipe cowok populer.

”Tidak, ada apa?” tanyaku sambil tersenyum dan melangkah keluar. Ia mengeluarkan map dan menilik isinya, lalu menatapku.

”Apakah kau menyimpan semua data notulen rapat tahun lalu?” tanyanya sambil memandangku dengan kedua bola matanya yang serius. Aku mengangguk cepat dan dalam sekejap senyum mengembang di wajahnya. ”Kalau begitu, bisa nggak aku minta print-out rapat festival olahraga tahun lalu?” tanyanya lagi.

”Baiklah, kapan mau diambil?” tanyaku sambil mengingat-ngingat nama folder tempat dokumen itu kusimpan. Hmm, kayaknya sih masih ada, bahkan karena saat itu aku takut sekali data itu hilang, aku membuat satu CD khusus.

”Besok, saat jam istirahat...” ujarnya, dan ketika aku mengangguk menyanggupi, ia segera pergi dengan bersemangat. Oh ya, pantas saja. Iini kan tanggung jawab pertamanya. Rasanya menarik juga melihat bagaimana caranya bekerja.

”Hei, Yo Won!!” panggil seseorang. Aku menoleh dengan malas. Siapa sih anak ini? Pikirku saat melihatnya. Dan begitu ia membuka mulutnya, mengemukakan pertanyaan yang sama, dengan kesal aku menjawab.

”Aku tidak kenal dengan cowok itu! Cukup dan jangan tanyakan apapun lagi padaku!!!”” jawabku dengan ketus. Dengan kesal aku melangkah pergi dari tempat itu.

─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

”Bagaimana?” tanya Hee Wong sambil meneguk birnya. Ia tertawa melihat wajahku yang puas. “Jadi? Kau sukses menorehkan jejakmu di sana?”

“Lumayan,” jawabku. Akhir-akhir ini tiap mengingat kesuksesanku, yang kerap terbayang di benakku adalah sosok gadis barbar itu. Hah! Kenapa harus dia sih?! Pikirku gemas. Dan kilasan aneh macam apa itu? Kenapa tiba-tiba aku bias membayangkan hal seaneh itu? Rasanya film seperti itu tidak pernah kutonton sebelumnya? Aah, mungkin aku terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini…

“Nam Gil? Halloo…? Dengar suaraku tidak?” ia mengibas-ngibaskan tangannya jengkel di depanku. Aku segera tersenyum masam menanggapi caranya memanggilku.

”Menyebalkan, tahu. ” ujarku sambil memaksa tangannya bergerak turun. Ia tertawa lalu mendorong sekaleng bir ke arahku. ”Tidak, aku tidak minum...” elakku.

”Minum sedikit, kelihatannya kau banyak pikiran akhir-akhir ini...” tukasnya sambil tersenyum. Ia menghela nafas sebentar. Dan dari pandangan matanya yang menerawang, aku tahu ada sesuatu dalam pikirannya.

”Kau sendiri juga ada masalah,” ujarku sambil menerima kaleng itu dan membukanya. ”Wanita?” tebakku, dan dengan segera ia menyemburkan bir di mulutnya ke orang di samping kami.

”Uhuk-uhuk...” ia terbatuk sambil sibuk meminta maaf. Namun terlambat, wajah di samping kami terlihat sangat berang. ”aku minta maaf,” ujarnya lalu melirikku, memintaku membantunya bicara. Yah, apa boleh buat, biar bagaimana pun, aku yang membuatnya batuk seperti itu.

”Maaf, ia sedang mabuk,” ujarku bermaksud sopan. Namun orang itu tampaknya sudah kehilangan akal sehatnya. ”Jangan macam-macam,” ujarku ketika ia menarik kerah bajuku.

”Apanya?! Kau berani menantangku!? Kau kira temanmu ini tidak perlu bayar ganti rugi!? Kau tahu berapa harga bajuku?!” ia marah-marah.

Aku mengangkat daguku dan menatapnya tajam. Wajah orang ini sangat familiar untukku. Dan sikapnya yang menyebalkan ini, membuatku teringat akan Yeom Jong. Hah! Sialan! Untuk apa mengingat orang itu!

”Apapun itu, lepaskan tanganmu dari bajuku!” ujarku sambil menepis tangannya. ”Memangnya sulit menghapus noda bir dari bajumu? Rasanya tidak, dan kalaupun sulit...” aku mengeluarkan dompet dan melempar sejumlah uang ke wajahnya. ”Gunakan ini untuk biaya laundry-mu!!”

Wajah cowok itu merah padam sampai ke telinga, sementara Hee Wong pucat pasi melihat gayaku yang terlihat menantang dan angkuh. ”Brengsek!!” ia melompat dan berusaha menubrukku, secepat itu pula aku menghindar.

PRANGGGG!! PRANGG!! Ia jatuh dan menubruk beberapa meja dan menumpahkan semua yang ada di atasnya. Beberapa botol dan piring pecah berserakan. ”Hee Wong, ayo pergi,” ujarku sambil melangkah dengan cepat. ”Biar ia saja yang bertanggung jawab...”

”Nam Gil! Kurasa aku yang salah,” ujar Hee Wong sambil menatap pemilik kedai dengan iba. ”Biar kuganti kerugiannya...”

”Terserah, ” jawabku cuek. ”Kalau begitu, aku tunggu di sini saja...” ia buru-buru pergi dan memberikan uang ke si pemilik kedai.

Dari sudut mataku, aku melihat pria itu bangun dengan kepala memar. Beberapa kali ia mengusap kepalanya, dan kemudian matanya yang marah tertuju ke arah Hee Wong.

”Awas!!” seruku tepat ketika pria itu mengambil pecahan botol dan berlari kalap ke arah Hee Wong. Sekuat tenaga aku berlari untuk mencegahnya melukai sahabatku. Dan kemudian, rasa sakit yang teramat sangat menghujam bahuku.

”Nam Gil!!” seru Hee Wong.

Dalam sekilas, pemandangan sekitarku memudar, berganti menjadi sebuah lapangan tandus. Dan hari itu sore atau siang aku tidak tahu. Yang jelas, ada begitu banyak prajurit mengelilingiku. Dan ratusan anak panah terbang ke arahku. Aku meloncat dan menghindar, menggunakan tubuh seorang prajurit yang tergeletak dekatku sebagai tameng. Dan kemudian rasa sakit dan tajam akibat hujaman anak panah terasa di bahuku. Sebuah luka akibat gesekan dan tusukan sebuah anak panah.

”Nam Gil!? Kau tidak apa-apa?!” aku membuka mata dan menggeleng dengan cepat. Beberapa kali kukerjapkan mata. Rasanya kepalaku sakit dan sekaligus pusing.

”Tidak apa-apa,” jawabku sambil menatap Hee Wong. Ia menatap bahu kananku dengan ngeri.

”Bahumu!!” serunya sambil meringis.

”Tidak begitu sakit,” elakku. Kurasakan keringat dingin mengalir di pelipisku. Kilasan apa itu tadi? Kenapa rasanya begitu nyata? ”Mana pria itu?” tanyaku bingung. Suasana di depanku terlihat kacau.

”Beberapa pengunjung membantu menahannya... Gila, ia bahkan tetap menyumpah serapah dari tadi. Tapi, ngomong-ngomong, gerak refleksmu hebat sekali,” pujinya sambil berdecak kagum. ”Tidak salah Guru Jung kagum padamu...”

”Hebat bagaimana?” tanyaku bingung. Rasanya selama mengalami fase kilasan-kilasan itu, aku tidak sadar telah berbuat atau melakukan sesuatu, appaun itu.

”Begitu bahumu kau gunakan untuk menerima serangannya, tangan kirimu memutar lengannya, memiting dan menguncinya. Itu sebabnya orang-orang berhasil menahannya tadi...”

”Oh, begitu kah?” tanyaku, antara sadar dan tidak. Hee Wong lagi-lagi menatap tanganku dengan ngeri. Dengan bingung, kutatap lenganku. Hah! Pantas saja rasanya sakit, rupanya dari tadi darah terus mengalir dari bahuku, menciptakan aliran panjang, membuat lengan kemejaku yang tadinya biru kini berwarna merah kehitaman.

---to be continued--

Tidak ada komentar: