Selasa, 08 Juni 2010

Fanfic The Future and the Past 34

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
THIRY FOURTH SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Bakui: Jang Hee Woong (memakai nama asli di FF)
ChenMyeong: Park Ye Jin (Lee Ye Jin)
lady Ma Ya (King Jinyeong's wife) : Yoon Yoo Sun (Ibu dari Yo Won dan Ye Jin, memakai nama asli di FF)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Apa ini?” tanya mata itu memandangku. Tatapannya begitu bingung sekaligus ragu. Dan di matanya tersimpan pertanyaan.

“Jika Yang Mulian Ratu meninggal dunia, Hamba, Bi Dam akan meninggalkan dunia politik dan menjaga makam Yang Mulia sepanjang hidupku...”

Tidak ada keraguan sedikitpun kala bibirku bergerak mengucapkannya. Wanita itu memandangku lagi. Kali ini, wajahnya diliputi keprihatinan sekaligus simpatik. Kukatakan ketulusanku, kusuarakan hatiku. Jangan ragukan aku. Jangan pernah...

─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

“Siapa yang meragukanmu?” tanya Hee Wong sambil menepuk pundakku.

Aku terkesiap kaget dan menatapnya sambil memprotes. “Kau mengejutkanku...” gerutuku.

“Baru kali ini kulihat ada orang tidur dengan mata terbuka...” candanya sambil memakan roti bungkusnya. ”Kau sudah menjaganya seharian. Pulanglah dulu...” ujarnya pendek.

“Tidak. Aku sudah mengatakan akan menunggu sampai matanya terbuka. Dan lagi, sebentar lagi keluarganya akan datang...” sergahku.

”Kau lelah Nam Gil. Kau baru pulang dari Rusia. Kau baru kehilangan...” sadar sudah bicara terlalu banyak, Hee Wong menghentikan kalimatnya. ”Besok kita akan menghadiri acara penting bukan? Beristirahat sangat penting. Barusan saja kau tidur dengan mata terbuka...”

”Entahlah...” jawabku sambil termenung di tempatku duduk. ”Sering begitu akhir-akhir ini... Entah yang keberapa kalinya...”

”Seperti ini? Kapanpun? Wow, bukankah itu sangat mengganggu?”

”Tidak juga. Hanya saat tertentu saja... misalnya saat aku memeluk...” kalimatku berhenti begitu setiap bagian ingatanku terulang bagaikan slide show pendek. Kenapa selalu saja...

Tunggu...

Apa yang kupikirkan barusan? Benar! Itu dia kuncinya! Yo Won! Selalu ada Lee Yo Won saat kilasan aneh itu terjadi. Dan pertanyaannya adalah mengapa demikian? Mengapa harus gadis itu?

”Nam Gil? Kau sedang bermimpi lagi?” Hee Wong mengibaskan tangannya naik turun di depanku, kebingungan.

”Cukup Hee Wong...” gerutuku sambil menangkis kibasan tangannya. ”Aku sedang berpikir, bukannya bermimpi... Angkat saja teleponmu! Mungkin dari kekasihmu...”

Hee Wong berbicara sebentar di telepon dan mengangguk padaku. ”Aku harus segera pergi. Sampai jumpa besok, Nam Gil. Dan jangan lupa istirahat!!”

”Hei...” belum sempat melambai pada Hee Wong, sebuah suara sudah memanggilku. Yo Won, berdiri di depan pintu klinik, tersenyum malu sambil menatapku. ”Maaf, aku merepotkan...”

”Tidak mengapa...” kutuntun tangannya untuk duduk di sampingku. ”Sudah merasa lebih baik?” tanyaku, menatapnya dengan was-was.

”Jauh lebih baik. Syukurlah, kau sudah pulang...” suaranya sedikit bergetar saat tanganku menggenggam tangannya perlahan.

”Ya, aku sudah pulang...” kupejamkan mataku. Udara Seoul yang kurindukan. Dan kepulanganku... tanpa Sung Pil... rasanya semua begitu menusuk.

─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

“Boleh… kupinjam bahumu sebentar?” tanya Kim Nam Gil sambil menatapku. Aku mengangguk dan tersenyum pelan padanya. Ia bersender dan mengeluh pelan. ”Rasanya lelah sekali...”

”Setelah melakukan perjalanan jauh, tentu saja kau lelah...”sahutku sambil berusaha menekan debaran dadaku. Rasanya begitu aneh sekaligus menggelitik. Tapi, apa urusan yang ia lakukan sampai ia harus pergi ke Rusia?

”Aku... pergi ke Rusia bersama Kang Sung Pil... dan kembali ke Korea tanpanya....” suaranya terdengar begitu berat, seolah ada beban yang menindihku saat mendengarkan suara itu. ”Pertemuan kami belum terlalu lama... tapi, dia sahabat yang baik...”

Kuanggukkan kepala pelan. ”Ia sangat setia kawan, aku tahu itu... Dan ia... sangat menghibur...”

Bisa kuingat wajah adiknya yang begitu sedih saat mendekap guci berisi abu kakaknya. Kalau kuingat, rasanya kenanganku akan setiap keberadaan Sung Pil memang tidak pernah jauh dari keberadaan Kim Nam Gil...

”Ya... berkali-kali... aku tertawa mendengar kebiasaannya mengucapkan yoo...” Kim Nam Gil tersedak dan tertawa kecil, lalu menirukannya, dan terdiam... Lama ia terdiam sampai akhirnya ia berbisik pelan. ”Lalu.,.. kebiasaan itu... aku tidak bisa melihatnya lagi...”

Air mata menetes di pipiku. Kemudian kutegakkan dudukku dan ia menatapku lama, meletakkan kedua tangannya di bahuku, dan tersenyum. ”Kenapa selalu saja kau yang menggantikanku menangis?” omelnya pelan.

”Maaf, ya...” buru-buru kuhapus air mataku, tetapi tangannya malah menangkap pergelangan tanganku, menghentikanku.

Pelan, digerakkannya jemarinya, menyusuri pipiku dan mengusap air mataku pelan. Wajahnya begitu dekat, membuat dadaku berdesir perlahan.

”Kupikir... kalau aku bisa menjauhimu... segalanya akan lebih baik... Hidupmu bisa kembali normal... seperti sebelum kau bertemu denganku, pembawa bahaya...”

Aku tetap diam dalam tatapannya. Karena itukah ia menghindariku? Karena itukah ia selalu bersikap dingin padaku? Agar aku menjauh? Agar aku aman dari bahaya? Jadi... semuanya demi diriku?

”Tapi, Sung Pil... menyuruhku untuk... melindungi orang yang kusayangi...” ia menunduk dan lama sekali merenungkan kata itu. ”Karena itu, kupikir, aku harus menjagamu... Mulai sekarang, tetaplah di sampingku...”

Sebuah pertanyaan bodoh meluncur dari bibirku. ”Apa aku... akan menjadi beban lagi bagimu?”

”Aku yang menginginkannya...” jawabnya, mengusap kepalaku pelan. ”Aku menginginkan kebahagiaanmu, Yo Won... kau pantas mendapatkannya... Dan aku yang akan mengusahakannya... Tapi, kalau kau tidak menginginkan keberadaanku...”

Cepat kupotong kalimatnya sebelum ia melanjutkannya. ”Aku... membutuhkanmu, Kim Nam Gil...” wajahku terasa panas saat mengucapkannya. ”Dan aku... tidak keberatan dengan keberadaanmu...”

Apakah kalimatku terlalu berani? Sinyal bahaya berkedip di kepalaku, mengingatkanku untuk tidak berharap terlalu tinggi.

”Kau tidak keberatan kalau...” kalimatnya terhenti saat matanya menatap sesuatu di belakangku. ”ah, itu keluargamu...” ujarnya sambil tersenyum dan membantuku berdiri.

”Yo Won!!” Mama memelukku dengan cemas. Di sampingnya, Ye Jin berdiri sambil tersenyum sopan ke arah Kim Nam Gil.

”Sore, Tante...” ujar cowok itu ramah.

Mata Mamaku menatapnya dengan pandangan curiga. Dari atas kepala hingga ujung kaki. ”Kau putra Go Hyun Jung bukan?” tanyanya penuh selidik.

Kim Nam Gil menganggguk sopan, sementara lagi-lagi Mamaku menatapnya dengan pandangan menuduh. ”Kau mendekati putriku untuk balas dendam? Atau untuk mengorek informasi?!”

Kim Nam Gil menatapku dan kemudian menatap Mamaku., ”Maaf? Apa maksud Anda?” ia menatapku lagi, meminta penjelasan.

”Ma, cukup! Aku tidak cerita apa-apa padanya!” tukasku kesal, melepaskan diri dari pelukan Mamaku. “Sudah kukatakan bukan, Kim Nam Gil tidak bersalah atas kesalahan orang tuanya...”

Pandangan mata kami bertemu dan untuk sejenak. Kurasakan bulu kudukku meremang melihat caranya memandangku. Ia menarikku menjauh dan berkata pelan. ”Kau... mengetahui sesuatu, Yo Won?” tanyanya sambil berbisik pelan.

”Akan kuceritakan apa yang kuketahui besok...” kutatap ia dengan pandangan meminta pengertian. ”Tapi, tidak sekarang. Aku janji...”

”Baiklah, tentu saja...” dengan perlahan, ia melepaskan cengkraman tangannya dan mengantarku ke depan Ye Jin dan Mamaku. ”Sampai jumpa besok pagi...”

”Bye...”

Senyumku semakin mengembang saat melihat senyum lebarnya yang begitu tulus. Sampai jumpa besok... tiga kata yang begitu sederhana, tapi membuatku bahagia seolah akan melambungkanku. Apakah itu artinya, ia akan menjemputku besok pagi dan seterusnya?

-to be continued--

Tidak ada komentar: