Jumat, 16 Juli 2010

Fanfic The Future and the Past 43

-------------------------------------------------------------------------------------------------
FORTY THIRD SCENE
*urutan dari kiri ke kanan: nama di QSD, nama asli, nama di FF)
Bidam: Kim Nam Gil (memakai nama asli di FF)
Deokman: Lee Yo Won (memakai nama asli di FF)
Ho Jae: Go Yoon Hoo (memakai nama asli di FF)
Bakui: Jang Hee Woong (memakai nama asli di FF)
Kim Yong Soo : Park Jung Chul(nama asli): Jung Yong Soo (nama di FF)
Seok Pum: Hong Kyung In (memakai nama asli di FF)
General Ga Baek: Seo Bum Shik (memakai nama asli di FF)
Yeom Jong
-------------------------------------------------------------------------------------------------
─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

“Dia sudah keterlaluan...” ujar Yong Soo sambil menghempaskan koran yang dibacanya dengan kesal.

Aku menaikkan alisku dan memandang koran itu selintas. Tentu saja aku tidak perlu lagi membacanya. Aku sudah tahu isinya. Pria itu kabur lagi, dan kali ini ia meledakkan tempatnya untuk menghilangkan jejaknya. Akibatnya, tiga nyawa penduduk sekitar yang tidak sempat meloloskan diri dalam kebakaran itu pun melayang.

”Dia sudah tidak tertolong lagi...” tukasku, kecewa.

”Dia sudah bukan manusia lagi...” tambah Yoon Hoo. Tangannya meremas koran itu. ”Ups, sorry, maaf Nam Gil, aku lupa ini koran yang baru kau beli...”

”Tidak perlu mencemaskan hal-hal kecil...” ujarku, memutar bola mataku. ”Polisi bahkan sudah memberikan iming-iming hadiah bagi mereka yang melihatnya. Di mana lagi dia bisa sembunyi?” tanyaku, berusaha memutar otakku.

“Ada yang kau lupakan...” Hee Wong muncul di pintu dengan seulas senyuman. ”Seandainya seluruh dunia memusuhinya, dia masih punya satu bawahan setia. Pria itu, kau kenal dengannya, Nam Gil...”

Selintas ingatan memenuhi otakku. ”Menurutmu dia ada di tempat Hong Kyung In?” tanyaku, nyaris tidak percaya aku telah melupakan nama itu.

Hee Wong mengedikkan bahunya pelan. ”Aku tidak tahu, tapi tidak ada salahnya kita mencoba mencarinya di sana...”

”Telepon polisi...” ujarku datar. ”Hari ini akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan...”


─Lee Yo Won, Seoul, 2008─

“Kau akan pergi?” entah keberapa kalinya kuutarakan pertanyaan itu. Dan suara di seberang, masih menanggapiku dengan sabar.

“Aku akan pergi untuk mengakhiri semua kejahatannya. Dan selanjutnya, kita berdua bisa menjalani semuanya dengan cara yang lebih baik. Lalu, kalau aku tidak pulang, tolong jaga Ibu dan adikku. Dan kemudian, jangan berbuat hal bodoh. Dan… kalau aku pulang, aku akan menemui keluargamu untuk meminta mereka menyerahkanmu padaku…”

Air mata menetes pelan dan jatuh ke punggung tanganku saat kuusap mataku pelan. “Kalau begitu, kau harus pulang. Kau harus pulang, karena kau juga sudah janji mau kencan tengah malam denganku tanggal 31 desember. Dan kita akan menghitung countdown bersama-sama…”

“Aku akan mengusahakannya Yo Won… Tentu saja aku juga ingin pulang....”

”Tidak akan terjadi apa-apa, kan?” tanyaku, mendesaknya agar mengucapkan janji untuk pulang. Aku takut mendengar semua rencananya. Aku takut tidak bisa mendengar suara ini lagi selamanya. ”Berjanjilah,” desakku.

”Aku janji aku akan berusaha keras agar bisa pulang. Aku juga masih ingin memelukmu...”;

”Kau sudah janji ya, Nam Gil...” ujarku, meletakkan tangan di mulutku dan mencegah agar tangisku tidak pecah.

Nam Gil tidak segera menjawab, lama kemudian, ia berkata dengan suara berbisik. ”Aku mencintaimu, Yo Won....”

”Tuuut... tuut... tuut....”

Begitu telepon ditutup, air mataku berderai jatuh. Aku mencintaimu Nam Gil, dan demi Tuhan, kau harus pulang....


─Kim Nam Gil, Seoul, 2008─

”Bagaimana?” tanya Yong Soo begitu aku menyusul mereka mengintip dari balik semak-semak. Tanganku meraih teropong dan meletakkannya di depan wajahku.

”Buruk,” jawabku dengan perasaan campur aduk. ”Dimana polisi?”

”Belum datang. Mungkin mereka meragukan kita...” Hee Wong menatap teropongnya dan mendesah. ”Masing-masing dari kita akan pulang, harus... aku sudah berjanji pada Ji Hyun...”

Kutatap teman-temanku dan mengangguk paham. Mereka mengalami keadaan yang sama denganku. Kami semua harus pulang hidup-hidup, tidak bisa tidak.

”Itu dia!!” desis Yoon Hoo tiba-tiba. Kami semua menatapnya kaget dan kemudian mengarahkan teropong kea rah pandangannya.

“Arah jam 3…” ujar Hee Wong. “Di lantai dua. Aku tidak yakin, tapi kurasa itu mirip dengan Yeom Jong…”

“Dia tidak terlihat persis pria pendek itu, tapi kurasa itu dia. Lihat topi dan kacamata hitam itu, terlalu mencurigakan…”

“Kita amati dulu? Bagaimana, Nam Gil?”

Kami semua mengamati rumah Hong Kyung In dengan perasaan berdebar. Di lantai dua, tempat semua pandangan kami tertuju, tampak dua sosok tubuh sedang saling berhadapan dan tampaknya, mereka sedang mendiskusikan sesuatu.

Pria yang satu jelas adalah Hong Kyung In. Dan satunya lagi, mengenakan sebuah topi dan kacamata hitam yang menyamarkan wajahnya, ia terlihat familiar. Dan sangat tidak asing. Tetapi, entah bagaimana kurasa itu bukan dia.

”Kurasa kita dijebak...” ujarku, nyaris terkejut dengan suaraku sendiri.

”Apa maksudmu?” mereka semua menatapku dengan perasaan kaget. ”Maksudmu, dia tidak berada di sini?”

”Begini, pria itu sangat licik. Dan, kurasa ia tidak sebodoh itu untuk sembunyi di rumah orang yang dengan jelas bisa dicurigai, seperti Hong Kyung In. Jadi, kurasa itu bukan dia. Dan seharusnya di tangannya masih ada luka tembak hadiah dariku sewaktu di Rusia...”

“Jadi, di mana dia...?” Yoon Hoo mendecak kesal dan kemudian terlonjak kaget. “Itu dia! Aku tahu dia di mana! Seharusnya, maksudku, mungkin...”

“Dimana?” tanyaku. “Baiklah, kalian berdua berjaga-jaga di sini untuk mencegah kemungkinan dugaanku salah. Dan aku akan bersama Yoon Hoo ke tempat yang dimaksudkannya. Dimana itu, Yoon Hoo?”

“Begini, tolong maafkan kalau analisisku salah Nam Gil, tetapi.. kau ingat, Nona Ri Chan cerita soal kejadian di restoran di mana Seo Bum Shik kelihatannya bermusuhan dengan Yeom Jong, kurasa itu titik pentingnya...”

“Ya, ya, benar!” aku menepuk pundak Yoon Hoo dengan kagum. ”Benar! Itu dia missing pointnya!! Seo Bum Shik selama ini dikenal sebagai bekingan Yeom Jong, tidak mungkin dalam sehari semalam mereka bisa bermusuhan!!”

”Syukurlah kalau memang aku benar. Ayo kita ke sana Nam Gil!!” Yoon Hoo menstarter motornya dengan penuh semangat. ”Kita akan pergi dan pulang dengan selamat!!” serunya.

”Ya, tentu saja!” seruku, terkejut dengan luapan energi tiba-tiba dari dalam diriku. ”kalian berdua, aku serahkan semuanya untuk berjaga-jaga di sini. Dan tolong telepon polisi dan Baek Do Bin untuk datang ke kediaman Seo Bum Shik!!”

Begitu kami tiba di kediaman Seo Bum Shik, tempat itu ternyata kosong melompong. Tidak lama ponselku bergetar.

”Ya, ada apa Do Bin...”

”Kabar buruk Nam Gil, lebih baik kau ke airport sekarang juga... seorang mata-mataku mengatakan kalau ada penerbangan ke Amerika atas nama Seo Bum Shik. Dugaanku bukan dia yang berangkat...”

”Aku mengerti, aku akan ke sana sekarang!” samar-samar kudengar kalau Do Bin berkata ia akan menyusul kami.

”Apa yang terjadi?” tanya Yoon Hoo. Ia menyusul motorku dengan sekejap begitu haluan kuubah secepat mungkin.

”Ada kabar kalau nama Seo Bum Shik tercantum dalam penerbangan ke Amerika...”

Yoon Hoo mengangguk panik. ”Do Bin ke sana?”

“Aku tidak yakin, tapi kurasa demikian…”

”Semuanya jadi serba sulit!” Yoon Hoo mengumpat kesal dan bersamaku meningkatkan kecepatan motornya.

”Berhenti!!” tukasku tiba-tiba. Yoon Hoo terlonjak kaget dan mengerem semampunya. Ia berjajar denganku, menatapku dengan pandangan tidak mengerti.

“Aku mengenali mobil itu….” ujarku, memastikan suaraku cukup kecil. Mobil yang sama dengan mobil yang menjemput Seo Bum Shik saat ditahan di polisi karena memukulku dulu.

Nafas kami berdua tertahan di tenggorokan. Ada dua Seo Bum Shik di sana, dan jelas salah satunya palsu. Salah seorang lantas memasuki mobil itu dengan gayanya yang angkuh. Dan dengan jelas, aku bisa melihat bekas luka bakar panjang ditangan kanannya.

”Yeom Jong...” desisku.

”Ikuti mobil itu?” tanya Yoon Hoo. Ia menelepon polisi dan memberikan nomor polisi dari mobil di depannya.

“Kita ikuti...” jawabku, berusaha mendinginkan kepalaku. Anak buah Seo Bum Shik tampak berkeliaran di sekeliling mereka. Tidak boleh ada tindakan ceroboh yang membawa kami berdua ke kematian yang sia-sia.

-to be continued-

Tidak ada komentar: